Assalaamu’alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh
Puji syukur kepada Allah swt, shalawat buat Rasulullah
saw.
Mengenai kecerdikan para ulama, Ibnu Al-Jauzi
mengisahkan dalam karyanya “ Ahla al-Hikayat min Kitabi al-Adzkira’ ”
diterjemahkan oleh Abdurrahim Ahmad dengan judul “ Humor Cerdas Ala Orang-Orang
Cerdik ( Jakarta : Qisthi Press, 2007 ) tentang Abu Hanifah r.a.
disebutkan; Ibnu Mubarak
memberitahukan
kepada kami seperti ini :
Saya pernah menjumpai Abu Hanifah bersama sekumpulan orang
di salah satu jalan di kota Mekah. Setelah menyembelih unta-unta muda dan
membakarnya, mereka tampak ingin sekali segera menyantapnya dengan cuka. Namun
mereka tidak mendapatkan tempat yang bisa untuk menuang cuka. Mereka pun
kebingungan.
Beberapa saat kemudian, aku melihat Abu Hanifah
menggali pasir dan menghamparkan kain dari kulit diatasnya. Kemudian dia
menuangkan cuka itu ditempat tersebut. Berkat ide Abu Hanifah itu, akhirnya
mereka bisa menyantap daging bakar itu dengan cuka. Dan karenanya, salah
seorang dari mereka berkata kepadanya, “ Kamu memang pandai dalam segala hal.”
Maka Abu Hanifah menjawab, “ Hendaknya kamu bersyukur.
Sebab, ide itu adalah ilham dari Alllah yang diilhamkan kepadaku untuk kalian.”
( Halaman 104 )
Saudaraku se-Iman
Aduhai, apa kira-kira yang terbayang dalam pikiran antum dikala memahami kisah ini disaat
kita korelasikan dengan gerakan dakwah yang kita geluti ? Adakah kiranya hikmah
yang dapat dijadikan penyemangat ataupun sebagai bahan tausyiah terhadap gelora
jiwa kita yang ingin mempersembahkan hidup untuk dakwah ?
Sekelumit kita gali hikmah tersebut dengan membawakan
posisi Abu Hanifah ke dalam diri kita. Setiap kita mungkin mengenal siapa Abu
Hanifah, ulama Mazhab diantara Imam Mazhab yang empat dalam literatur Fiqh.
Keampuhan dan pemahaman Islam dalam jiwa beliau tak dapat disangkal dan
diragukan, dialah Imam Besar yang memiliki pengikut yang luar biasa banyak,
Hanafiyah.
Tapi lihat, dikala tersemat pujian atas kecerdasannya
dalam mengambil sebuah keputusan dan memberi solusi atas sebuah permasalahan,
beliau menjawab, “ Hendaknya kamu bersyukur. Sebab, ide itu adalah ilham dari
Alllah yang diilhamkan kepadaku untuk kalian.”
Sungguh sebuah jawaban yang lahir dari nurani keikhlasan, hidup yang
betul-betul dipersembahkan hanya untuk sebuah pengabdian yang tulus. Suatu
indikasi jiwa-jiwa kesombongan dan keangkuhan serta merasa diri besar sangat
jauh dari perikehidupan beliau yang diberi anugerah oleh Allah swt kecerdasan
yang begitu luar biasa. Ini merupakan sekelumit tentang keteladanan bagaimana
orang-orang shaleh terdahulu menyikapi sebuah hakikat hidup, dengan sebuah
keyakinan bahwa hidup dan segala desahan nafas, tingkah laku, serta seluruh
aktifitas yang dilakukan berada dalam pantauan dan kekuasaan Allah swt.
Kita mungkin pernah mengalami keadaan yang sama
seperti yang dialami Imam Abu Hanifah r.a. walau dalam ruang lingkup kecil dan
situasi yang berbeda, namun dalam hal ini kita mengukur bukan dari kadar
keadaan, tapi dalam kadar menyikapi keadaan yang menimpa. Seperti, mungkin kita
pernah melakukan suatu hal dalam urusan dakwah hingga kita mendapatkan
kedudukan di mata manusia, bisa jadi karena kemampuan kita beretorika dalam
berkhutbah, menafsirkan beberapa potongan ayat atau hadits, atau mengisahkan
sekelumit kisah-kisah inspiratif para shalafusshaleh hingga membuat orang
termangu-mangu, terkagum-kagum sampai menyebut-nyebut kita dalam segala tempat
dan situasi. Pertanyaannya bagaimana perasaan kita dikala itu ? Hanya kita
sendiri yang mengetahui, lintasan-lintasan hati yang menggoda untuk mencari
pembenaran akan sanjungan orang akan saling berpacu dalam hati kita, akhirnya
bermuara pada satu kesimpulan, kita layak mendapatkan keagungan tersebut.
Ketahuilah, jika perasaan ini yang menimpa kita, maka
berhati-hatilah, sesungguhnya kita telah jauh dari hakikat perjuangan dakwah
yang sebenarnya, tergelincir ranjau-ranjau bisikan syetan yang kasat mata,
dengan sekonyong-konyong kita merasa diri kita shaleh, padahal kala itu kita
adalah golongan orang-orang yang termasuk barisan panjang yang akan dilemparkan kedalam neraka, sayangnya
kita tidak menyadari, sementara yang kita sadari kita menganggap kita orang
shaleh. Na’udzubillah min Dzalik
Sebagai bahan renungan, layak kita kutip ungkapan Imam Al-Ghazali
dalam karya Monumentalnya “ Ihya ‘ ‘ Ulumiddin ” :
Mereka mengerti bahwa akhlak segi batin tercela
menurut hukum agama, hanya karena bersifat ‘ujub ( berbangga diri ) pada
dirinya, lalu menyangka bahwa mereka terlepas dari ‘ujub …Kemudian apabila
telah tampak pada mereka, tanda-tanda kesombongan, ambisi untuk menjadi
pemimpin, mencari ketinggian dan kemuliaan, lalu mereka mengatakan: “ Ini,
tidaklah sombong, sesungguhnya hanyalah mencari kemuliaan agama, menampakkan
kemuliaan ilmu, menolong agama Allah, menghinakan kekerasan orang-orang yang menentang
dari orang-orang yang berbuat bid’ah. …
Orang yang terpedaya itu rupanya lupa, bahwa musuhnya,
dimana ia harus berhati-hati daripadanya, ialah kekasihnya, yaitu syetan. Dan
syetanlah yang bergembira dengan apa yang diperbuatnya dan yang telah menundukkannya. Ia lupa, bahwa
Nabi saw dengan apa beliau memperjuangkan agama? Dengan apa yang beliau
meremehkan orang-orang kafir? Ia lupa, apa yang telah diriwayatkan dari para
shahabat, tentang rendah diri, suka memberi, berbuat qana’ah (merasa cukup )
dengan kepapaan dan kemiskinan. Sehingga Umar r.a. disindir orang tentang
buruknya pakaian, ketika ia datang ke negeri Syam. Kemudian Umar r.a. berkata:
“ Kami adalah suatu kaum, yang telah dimuliakan oleh Allah dengan Islam, maka
kami tidak mencari kemuliaan yang lainnya.” ( Imam Al-Ghazali, judul terjemahan
“ Terjemah Ihya’ ‘Ulumiddin Jilid VII oleh Moh. Zuhri, Dipl. TAFL, dkk,
Terbitan C.V. Asy-Syifa’ Semarang, cetakan 2003, halaman 51-52 ).
Aduhai …
Sungguh mengerikan kebinasaan ini, untuk itu
berhati-hatilah dikala kemasyhuran itu menimpa kita, semua itu dapat kita
tunaikan dikala kita memahami hidup seperti yang dicontohkan oleh Imam Abu
Hanifah r.a, memahami bahwa segala kebajikan yang kita lakukan dalam bentuk
apapun sesungguhnya berada dalam genggaman Allah swt, Allah swt lah yang
menanamkan itu ke dalam lubuk kecerdasan dan hati kita, Allah swt yang
menancapkan hidayah itu hingga kita menunaikannya dengan baik, dan karena izin
Allah swt pulalah kita mampu menyampaikan hakekat-hakekat dakwah kepada umat
manusia, dan jika dakwah kita diterima, hal itu bukan berarti kita sosok luar
biasa yang mampu mengubah perikehidupan manusia, tapi karena dari Allh swt
menancapkan hidayah kepada golongan yang menerima dakwah kita, semuanya milik,
dari, untuk Allah swt, kita hanyalah hamba yang ditugaskan menjalankan amanah
dakwah tersebut, bukan pemilik dakwah yang hakiki.
Maka untuk itu, disaat kita mendapatkan sebuah
kemuliaan dimata manusia karena suatu upaya yang kita lakukan dalam dakwah, dan
dikala dakwah yang kita upayakan mendapat pengaruh luar biasa bagi perkembangan
dakwah. Sering-seringlah untuk menasehati diri sendiri dengan perkataan Imam
Abu Hanifah r.a, “ Hendaknya kamu bersyukur. Sebab, ide itu adalah ilham dari
Allah yang diilhamkan kepadaku untuk kalian.”
Renungkanlah saudaraku … sungguh hal ini suatu yang
sangat dalam.
Assalaamu’alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh
Tidak ada komentar:
Posting Komentar