WENDRI NALDI EL-MANINJAUI KHATIB BANDARO

WENDRI NALDI EL-MANINJAUI KHATIB BANDARO
WENDRI NALDI EL-MANINJAUI KHATIB BANDARO

Sabtu, 03 Desember 2011

Dikala Kemuliaan Itu Menimpa Kita Dalam Dakwah


Assalaamu’alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh 

Puji syukur kepada Allah swt, shalawat buat Rasulullah saw.

Mengenai kecerdikan para ulama, Ibnu Al-Jauzi mengisahkan dalam karyanya “ Ahla al-Hikayat min Kitabi al-Adzkira’ ” diterjemahkan oleh Abdurrahim Ahmad dengan judul “ Humor Cerdas Ala Orang-Orang Cerdik ( Jakarta : Qisthi Press, 2007 ) tentang Abu Hanifah r.a. disebutkan;  Ibnu Mubarak 
memberitahukan kepada kami seperti ini :

Saya pernah menjumpai Abu Hanifah bersama sekumpulan orang di salah satu jalan di kota Mekah. Setelah menyembelih unta-unta muda dan membakarnya, mereka tampak ingin sekali segera menyantapnya dengan cuka. Namun mereka tidak mendapatkan tempat yang bisa untuk menuang cuka. Mereka pun kebingungan.
Beberapa saat kemudian, aku melihat Abu Hanifah menggali pasir dan menghamparkan kain dari kulit diatasnya. Kemudian dia menuangkan cuka itu ditempat tersebut. Berkat ide Abu Hanifah itu, akhirnya mereka bisa menyantap daging bakar itu dengan cuka. Dan karenanya, salah seorang dari mereka berkata kepadanya, “ Kamu memang pandai dalam segala hal.”

Maka Abu Hanifah menjawab, “ Hendaknya kamu bersyukur. Sebab, ide itu adalah ilham dari Alllah yang diilhamkan kepadaku untuk kalian.” ( Halaman 104 )

Saudaraku se-Iman

Aduhai, apa kira-kira yang terbayang dalam pikiran antum dikala memahami kisah ini disaat kita korelasikan dengan gerakan dakwah yang kita geluti ? Adakah kiranya hikmah yang dapat dijadikan penyemangat ataupun sebagai bahan tausyiah terhadap gelora jiwa kita yang ingin mempersembahkan hidup untuk dakwah ?

Sekelumit kita gali hikmah tersebut dengan membawakan posisi Abu Hanifah ke dalam diri kita. Setiap kita mungkin mengenal siapa Abu Hanifah, ulama Mazhab diantara Imam Mazhab yang empat dalam literatur Fiqh. Keampuhan dan pemahaman Islam dalam jiwa beliau tak dapat disangkal dan diragukan, dialah Imam Besar yang memiliki pengikut yang luar biasa banyak, Hanafiyah.

Tapi lihat, dikala tersemat pujian atas kecerdasannya dalam mengambil sebuah keputusan dan memberi solusi atas sebuah permasalahan, beliau menjawab, “ Hendaknya kamu bersyukur. Sebab, ide itu adalah ilham dari Alllah yang diilhamkan kepadaku untuk kalian.”  Sungguh sebuah jawaban yang lahir dari nurani keikhlasan, hidup yang betul-betul dipersembahkan hanya untuk sebuah pengabdian yang tulus. Suatu indikasi jiwa-jiwa kesombongan dan keangkuhan serta merasa diri besar sangat jauh dari perikehidupan beliau yang diberi anugerah oleh Allah swt kecerdasan yang begitu luar biasa. Ini merupakan sekelumit tentang keteladanan bagaimana orang-orang shaleh terdahulu menyikapi sebuah hakikat hidup, dengan sebuah keyakinan bahwa hidup dan segala desahan nafas, tingkah laku, serta seluruh aktifitas yang dilakukan berada dalam pantauan dan kekuasaan Allah swt.

Kita mungkin pernah mengalami keadaan yang sama seperti yang dialami Imam Abu Hanifah r.a. walau dalam ruang lingkup kecil dan situasi yang berbeda, namun dalam hal ini kita mengukur bukan dari kadar keadaan, tapi dalam kadar menyikapi keadaan yang menimpa. Seperti, mungkin kita pernah melakukan suatu hal dalam urusan dakwah hingga kita mendapatkan kedudukan di mata manusia, bisa jadi karena kemampuan kita beretorika dalam berkhutbah, menafsirkan beberapa potongan ayat atau hadits, atau mengisahkan sekelumit kisah-kisah inspiratif para shalafusshaleh hingga membuat orang termangu-mangu, terkagum-kagum sampai menyebut-nyebut kita dalam segala tempat dan situasi. Pertanyaannya bagaimana perasaan kita dikala itu ? Hanya kita sendiri yang mengetahui, lintasan-lintasan hati yang menggoda untuk mencari pembenaran akan sanjungan orang akan saling berpacu dalam hati kita, akhirnya bermuara pada satu kesimpulan, kita layak mendapatkan keagungan tersebut.

Ketahuilah, jika perasaan ini yang menimpa kita, maka berhati-hatilah, sesungguhnya kita telah jauh dari hakikat perjuangan dakwah yang sebenarnya, tergelincir ranjau-ranjau bisikan syetan yang kasat mata, dengan sekonyong-konyong kita merasa diri kita shaleh, padahal kala itu kita adalah golongan orang-orang yang termasuk barisan panjang yang  akan dilemparkan kedalam neraka, sayangnya kita tidak menyadari, sementara yang kita sadari kita menganggap kita orang shaleh. Na’udzubillah min Dzalik

Sebagai bahan renungan, layak kita kutip  ungkapan Imam Al-Ghazali dalam karya Monumentalnya “ Ihya ‘ ‘ Ulumiddin ” :

Mereka mengerti bahwa akhlak segi batin tercela menurut hukum agama, hanya karena bersifat ‘ujub ( berbangga diri ) pada dirinya, lalu menyangka bahwa mereka terlepas dari ‘ujub …Kemudian apabila telah tampak pada mereka, tanda-tanda kesombongan, ambisi untuk menjadi pemimpin, mencari ketinggian dan kemuliaan, lalu mereka mengatakan: “ Ini, tidaklah sombong, sesungguhnya hanyalah mencari kemuliaan agama, menampakkan kemuliaan ilmu, menolong agama Allah, menghinakan kekerasan orang-orang yang menentang dari orang-orang yang berbuat bid’ah. …

Orang yang terpedaya itu rupanya lupa, bahwa musuhnya, dimana ia harus berhati-hati daripadanya, ialah kekasihnya, yaitu syetan. Dan syetanlah yang bergembira dengan apa yang diperbuatnya  dan yang telah menundukkannya. Ia lupa, bahwa Nabi saw dengan apa beliau memperjuangkan agama? Dengan apa yang beliau meremehkan orang-orang kafir? Ia lupa, apa yang telah diriwayatkan dari para shahabat, tentang rendah diri, suka memberi, berbuat qana’ah (merasa cukup ) dengan kepapaan dan kemiskinan. Sehingga Umar r.a. disindir orang tentang buruknya pakaian, ketika ia datang ke negeri Syam. Kemudian Umar r.a. berkata: “ Kami adalah suatu kaum, yang telah dimuliakan oleh Allah dengan Islam, maka kami tidak mencari kemuliaan yang lainnya.” ( Imam Al-Ghazali, judul terjemahan “ Terjemah Ihya’ ‘Ulumiddin Jilid VII oleh Moh. Zuhri, Dipl. TAFL, dkk, Terbitan C.V. Asy-Syifa’ Semarang, cetakan 2003, halaman 51-52 ).

Aduhai …

Sungguh mengerikan kebinasaan ini, untuk itu berhati-hatilah dikala kemasyhuran itu menimpa kita, semua itu dapat kita tunaikan dikala kita memahami hidup seperti yang dicontohkan oleh Imam Abu Hanifah r.a, memahami bahwa segala kebajikan yang kita lakukan dalam bentuk apapun sesungguhnya berada dalam genggaman Allah swt, Allah swt lah yang menanamkan itu ke dalam lubuk kecerdasan dan hati kita, Allah swt yang menancapkan hidayah itu hingga kita menunaikannya dengan baik, dan karena izin Allah swt pulalah kita mampu menyampaikan hakekat-hakekat dakwah kepada umat manusia, dan jika dakwah kita diterima, hal itu bukan berarti kita sosok luar biasa yang mampu mengubah perikehidupan manusia, tapi karena dari Allh swt menancapkan hidayah kepada golongan yang menerima dakwah kita, semuanya milik, dari, untuk Allah swt, kita hanyalah hamba yang ditugaskan menjalankan amanah dakwah tersebut, bukan pemilik dakwah yang hakiki.

Maka untuk itu, disaat kita mendapatkan sebuah kemuliaan dimata manusia karena suatu upaya yang kita lakukan dalam dakwah, dan dikala dakwah yang kita upayakan mendapat pengaruh luar biasa bagi perkembangan dakwah. Sering-seringlah untuk menasehati diri sendiri dengan perkataan Imam Abu Hanifah r.a, “ Hendaknya kamu bersyukur. Sebab, ide itu adalah ilham dari Allah yang diilhamkan kepadaku untuk kalian.”

Renungkanlah saudaraku … sungguh hal ini suatu yang sangat dalam.

Assalaamu’alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar