WENDRI NALDI EL-MANINJAUI KHATIB BANDARO

WENDRI NALDI EL-MANINJAUI KHATIB BANDARO
WENDRI NALDI EL-MANINJAUI KHATIB BANDARO
Tampilkan postingan dengan label Pelajaran Mahfuzhat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pelajaran Mahfuzhat. Tampilkan semua postingan

Rabu, 28 November 2012

Pelajaran Mahfuzhat : Pemeliharaan Itu Diharapkan


Mahfuzhat :

اَلْحِمْيَةُ مَطْلُوْبَةٌ

( Pemeliharaan Itu Diharapkan )
Penjelasan :

Pemeliharaan, kata kunci dalam hal segala yang kita miliki, memelihara amanah (kepercayaan), memelihara lisan agar mengeluarkan kata-kata yang baik, memelihara mata dari memandang kemaksiatan, memelihara telinga untuk tidak mendengarkan kalimat-kalimat mengandung dosa (ghibah, fitnah, adu domba, dan sebangsanya), memelihara perut agar tidak diisi dengan makanan dan minuman yang haram, memelihara kaki agar tetap berjalan pada jalan-jalan yang diridhai Allah swt. Intinya memelihara anggota tubuh dan perilaku agar berada pada rel-rel kebajikan dan tidak membelot pada jalur-jalur kesesatan. Inilah pemeliharaan secara umum dalam menempuh kehidupan yang memiliki jalan pilihan yang bercabang dan beranting-ranting. Kala pemeliharaan ini musnah, atau kita lalai melakukannya, maka lihatlah kesudahannya, kesesatan demi kesesatan, dosa demi dosa akan menggunung.

Lihat dan saksikanlah, kesudahan orang-orang yang tidak memelihara amanah, seumur-umur orang tidak akan percaya padanya, orang akan ragu memilkulkan amanah untuk dirinya, maka jadilah ia terseok-seok dalam kubangan lumpur kesendirian. Bagaimana pula kesudahan orang-orang yang tidak mampu memelihara lisannya, apakah dengan dusta, ghibah, adu domba, mengumpat, mencaci dan anak cucunya, ia memilkiki banyak musuh, ucapannya tak bermakna, perkataannya tak di dengar, ucapannya tak lebih mata pisau yang membinasakan sehingga terkesan orang enggan untuk berkomunikasi dengannya. Aduhai …apakah yang lebih mengerikan dalam hidup ini kala ucapan tak lagi didengar, perkataan tak dapat mempengaruhi orang lain, dan segala apa yang keluar dari lisan tak lebih bagi orang lain sebagai omong kosong. Padahal lisan yang melahirkan ucapan, itulah alat komnunikasi yang begitu ampuh. Lisan mampu mengubah perilaku manusia yang biadab menjadi beradab, lisan mampu mengubah sikap antipati orang lain menjadi simpati. Tapi kala lisan tak lagi bermakna, karena kelalaian dalam pemeliharaannya, lihatlah, lihatlah kesudahannya, sungguh mengerikan. Na’udzubillah.

Begitu pula dengan mata yang tidak terpelihara dari pandangan kemaksiatan. Segala apa yang masuk ke dalam hati yang  tak bisa didengar, tak bisa diraba, yang bersumber dari luar diri ditangkap oleh mata. Mata yang menyaksikan, maka hati yang merasakan, lisan yang terperdaya, dan pikiran terkontaminasi. Tidakkah kau rasakan, kala kau melihat keindahan yang ada di depanmu, lalu hatimu terkagum-kagum, lidahmu berdecak, pikiranmu diselubungi keindahan. Kala kemaksiatan yang diliput oleh mata, maka ia akan tumbuh bersemi mekar di taman hati. Maka kacaulah hati tersebut, keseleolah lidah, dan pikiran berkecamuk. Pernahkah kau melihat orang jatuh cinta, cinta yang lahir dari pandangan pertama, lalu hati menjadi resah, lisan kelu untuk berucap, pikiran keluar dari fitrah rasionalitas. Demikian pulalah kala maksiat telah menyelebunginya, akibat dari pandangan mata yang tidak terpelihara.

Tak lebih, telinga juga akan mengalami hal yang sama, pemeliharaan yang tidak hati-hati akan membuat telinga ini senang mendengarkan irama-irama maksiat. Tidakkah kau merasakan, kala kau mendengarkan ghibah, maka telingamu ingin untuk mengetahui muatan ghibah tersebut dengan sempurna, apalagi jika muatan ghibah tersebut berkaitan erat dengan kepentingan hawa nafsumu, artinya kala orang yang dighibahkan itu adalah sainganmu, maka hatimu akan tersenyum dan merasa menang. Sehingga kau berupaya untuk bertahan mengikuti ghibah tersebut hingga sampai melakukan pembenaran. Tiada lain ini adalah akibat pemeliharaan yang menganggap remeh akan telinga.
Juga di dalamya urusan perut. Urusan perut adalah urusan substansi, manusia rela melakukan apa saja hanya untuk memuaskan keinginan perut. Kita bisa hidup, bergerak, beraktifitas, beribadah dan melakukan  segala apapun kala perut telah terisi. Kondisi ini mengakibatkan nafsu perut sangat kuat mempengaruhi. Pada jalan ini pemeliharaan akan perut agar terjaga dari materi-materi yang haram suatu keniscayaan yang tak terbantahkan. Lihat, saksikan, dengar, perhatikan, apa yang dikejar oleh kaum penipu jika bukan karena urusan perut, ia tipu negara dengan korupsi, ia tipu masyarakat dengan segala iming-iming agar diangkat jadi pemimpin,  dengan kepemimpinan itu ia bisa memuaskan keinginan nafsu perutnya. Ia lakukan hal-hal yang terkadang menjatuhkan harga dirinya, apakah dengan meminta-minta walau fisiknya kuat untuk bekerja. Apa saja, dimana saja, kapan saja, akan ia lakukan untuk urusan perut. Pada jalan ini halal haram tak lagi menjadi rambu-rambu, petunjuk tak lagi berada di depan. Maka bercampurlah yang haq dengan yang bathil. Inilah kedahsyatan dan bahaya yang harus diperhatikan dalam urusan perut agar kita mampu memeliharanya, sebab pemeliharaan ini suatu keniscayaan.

Apalagi pemeliharaan kaki. Kaki adalah media penyampai urusan. Secara umum kita tidak akan sampai pada tujuan yang hendak dicapai kala kaki enggan untuk melangkah kearahnya. Maka kaki adalah media utama untuk jatuhnya kita pada lubang-lubang maksiat. Kaki yang melangkah pada tempat maksiat, maka sesampainya disana baru lisan bekerja untuk melakukan kemaksiatan, apakah dusta, ghibah dan lainnnya, telinga ikut bekerja sama dalam hal mendengarkan kemaksiatan. Termasuk untuk mengejar urusan nafsu perut, kakilah sang mediator ulung. Maka pemeliharaan kaki agar tidak melangkah pada tempat kemaksiatan suatu hal yang penuh tantangan dan butuh usaha yang sungguh-sungguh. Bisa saja niat tidak tertanam untuk melakukan maksiat, tapi kala kaki telah mengantarkannya pada tempat maksiat tersebut, pintu-pintu maksiat terbuka lebar menyambutnya.

Ketahuilah memelihara adalah urusan rumit, dalam hidup ini tugas kita memelihara, tak ada satupun yang merupakan milik kita, tapi seluruhnya milik Allah swt. yang diamanahkan kepada kita untuk memelihara. Ketidakmampuan memelihara apakah dikarenakan kelalaian ataupun karena ketidakpedulian seluruhnya akan dipertanggungjawabkan kelak di akhirat, tempatnya neraka yang apinya tak terlintas dalam pikiran kedahsyatannya. Maka peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka ( intisari Q.s. At-Tahrim ayat 6 ).
Benarlah apa yang dikatakan mahfuzhat : Pemeliharaan Itu Diharapkan.

Keterangan :

Sumber Mahfuzhat : K.H. Aslam Zakaria dan Abd. Halim Manaf B.A, Buku Pelajaran Mahfuzhat I (Bandung: C.V Sulita, 1971 ), Cet. Ke-2

Penulisan Format Tulisan Arab : Freeware Arabic Unicode text editor ©2007 by Ebta Setiawan


Kamis, 06 September 2012

Pelajaran Mahfuzhat : Tulus Hati Adalah Indah


Mahfuzhat :

اَلْاِخْلَاصُ جَمِيْلٌ

( Tulus Hati Adalah Indah )
Penjelasan :

Akibat dari perbuatan yang kita lakukan, hanya kita yang merasakan. Kegelisahan, kekalutan, kegembiraan, kesenangan yang kita rasakan kala telah melakukan suatu perbuatan merupakan hasil dari sejauhmana pengaruh perbuatan itu terhadap diri kita. Bukankah engkau pernah melihat orang sangat bergembira kala selesai melakukan suatu aktifitas, walau terkadang ia tampak kelelahan, tapi kelelahannya itu seakan tak bermakna kala seulas senyum menghiasi bibirnya. Itulah kepuasan. Kepuasan yang dimunculkan dari hati, yang sama sekali tak dapat dirasakan oleh orang lain.

Hati yang puas adalah hati yang tidak terbebani kala telah selesai melakukan suatu perbuatan. Jika masih ada yang mengganjal dalam hati kala telah melakukan perbuatan, seperti merasa cemas terhadap perbuatan yang telah dilakukan, maka kepuasan hakikatnya belum tercapai. Logikanya begini, disaat kita melakukan suatu perbuatan, lalu kita cemas terhadap dampak  perbuatan kita tersebut, maka saat itu kepuasan tidak akan tercapai. Seperti pelaku pencuri yang sebenarnya ia telah sukses dalam melakukan pencurian, namun ia diliputi kecemasan kalau-kalau perbuatannya tersebut terbongkar kelak. Sugguh, hal ini jauh dari kepuasan.

Ketahuilah …

Kepuasan hati hanya akan dicapai kala perbuatan ditunaikan dengan ketulusan hati, ketulusan dalam artian benar-benar yang dilakukan itu berpangkal dari kesucian hati tanpa ada satupun yang menodainya, Islam menyebutnya Ikhlas. Orang yang tulus hatinya tidak terpengaruh dengan keadaan apapun disekitarnya dalam melakukan tindakan, ia fokus pada tindakan tersebut hingga pada tujuannya. Sejak mulai ia memancangkan niat, melaksanakan aktifitas hingga mengakhirinya, sampai kepada setelah melakukannya, kondisi hatinya tidak berubah semenjak keadaannya semula. Inilah yang disebut kemurnian hati, kemurnian itu adalah sebuah ketulusan. Sebagai contoh, kala kita bersedekah pada orang lain, niat yang kita tanam adalah menanam amal kebajikan yang mendapat ridha dari Allah swt, maka mulai dari niat, lalu mengeluarkan sedekah, sampai setelah mengeluarkan sedekah kita tetap bertahan pada niat semula menanam amal kebajikan dengan harapan mendapat ridha dari Allah swt. Seandainya saat melakukan aktifitas sedekah tersebut, kita tidak mendapat ucapan terimakasih dari orang yang diberi sedekah, maka tidak muncul perasaan jengkel, tidak akan keluar kata-kata : “ dasar tak tahu terima kasih ” . Inilah ketulusan hati. Duhai… sungguh indah sekali ketulusan itu.

Apa yang kita rasakan kala mencapai puncak kemuliaan ini ? Sungguh sangat indah dan menawan, hati akan tenang dan sangat puas. Mengapa ? Sebab jika terjadi peralihan dari pada ketulusan semula, maka hati akan mengalami kegelisahan, saat peralihan ketulusan itu tidak mencapai yang diinginkan. Seperti contoh tadi, jika muncul perasaan jengkel kala orang yang diberi sedekah tidak mengucapkan terimakasih, puncak kegelisahan yang akan menyelimuti hati kita. Aduhai … sungguh sangat memberatkan.

Untuk itu sadarilah ….

Hanya ketulusan hatilah yang membuat hidup ini indah. Disaat ketulusan hati telah menjadi perhiasan dalam hidup, bagaimana dan apapun yang menimpa kita akibat dari ulah perbuatan  yang kita lakukan tidak akan membuat kita terbebani dan menyesali perbuatan yang telah ditunaikan, karena secara nawaitu yang penuh ketuludan apa yang kita inginkan telah tercapai. Tentunya perbuatan yang kita lakukan adalah perbuatan yang benar-benar bermakna ketulusan. Artinya perbuatan yang berlandaskan nawaitu yang benar dan tidak menentang fitrah.

Sederhana contohnya, seperti tadi, kala kita bersedekah, mendapatkan ucapan terimakasih dari orang yang menerimanya atau tidak kondisi hati kita akan tetap mencapai kepuasan, karena yang kita harapkan bukan itu, tapi menanam amal kebajikan berharap ridha Allah swt., yang merupakan ketentuan syari’at semestinya dijalankan. Demikianlah Islam mengajarkan kita. Subhaanallaah, sungguh begitu indah pengajaran Islam terhadap kita. Inilah kiranya yang dimaksud oleh mahfuzhat : Tulus hati adalah indah.

Keterangan :

Sumber Mahfuzhat : K.H. Aslam Zakaria dan Abd. Halim Manaf B.A, Buku Pelajaran Mahfuzhat I (Bandung: C.V Sulita, 1971 ), Cet. Ke-2

Penulisan Format Tulisan Arab : Freeware Arabic Unicode text editor ©2007 by Ebta Setiawan

Selasa, 04 September 2012

Pelajaran Mahfuzhat : Ketenangan Itu Sifat Berani


Mahfuzhat :

اَلشَّبَاتُ مُقْدِمٌ

( Ketenangan Itu Sifat Berani )
Penjelasan :

Ketenangan merupakan pancaran jiwa yang damai, sebaliknya kegelisahan merupakan pancaran jiwa yang kalut. Orang yang tenang hidupnya adalah orang yang mampu menyikapi permasalahan hidup secara bijak, walau terkadang beban hidup terasa berat, kegelisahan terus mencoba untuk menghimpit, tapi ia selalu mencoba menyikapinya dengan melihat sisi-sisi positif dari semua itu tanpa berkeluh kesah. Sederhananya begini, kala ia dicaci oleh orang lain, ia tidak cepat-cepat menyikapi cacian itu dengan membalasnya atau sakit hati, tapi ia mencoba menelusuri apa yang menyebabkan orang tersebut melahirkan cacian, jangan-jangan akibat ulahnya yang memang melakukan kekeliruann sehingga mengundang orang melahirkan cacian. Jika seseorang sampai pada tahap ini dalam memahami masalah, insya Allah yang lahir dari lubuk hati bukanlah kegelisahan, tapi ketenangan jiwa yang lebih banyak melakukan intropeksi terhadap diri.

Ketahuilah …

Jiwa itu cendrung pada kemenangan dan pantang diremehkan, maka segala sesuatu yang terasa bersifat penindasan terhadapnya ia akan bergejolak dan melakukan pemberontakan dalam bentuk perlawanan. Dalam hakikat jiwa kemanusiaan, inilah yang disebut harga diri. Demi menjaga harga diri agar tidak terhinakan maka perlawanan jiwa akan selalu berkobar. Selemah apapun orangnya, jika harga dirinya yang diusik maka ia tidak akan terima, akan mengadakan pembelaan dalam bentuk apapun.

Saudaraku …

Tidak salah memang, dan hal itu suatu kewajiban kita untuk memperjuangkannya, karena harga diri adalah harga kita selaku manusia, jika kemanusiaan kita dihinakan secara otomatis kita telah dijatuhkan pada tingkat dibawahnya, hina dina. Kehinaan dalam bentuk apapun tidak boleh dimiliki oleh diri, ia harus dikikis dan dibuang, termasuk dalam hal ini menghinakan diri. Maka berjuang dalam memperjuangkan harga diri adalah fitrah kita selaku manusia yang dikarunia kelebihan dibandingkan binatang. Hanya saja dalam menyikapi hal ini terkadang kita terlalu gegabah, jiwa sensitif lebih mendominasi dari pada akal sehat, sehingga kala harga diri kita diusik oleh seseorang, sensifitas kitalah yang lebih dominan menonjol dibandingkan akal sehat dan kontrol nurani. Kala kita terjatuh pada lembah ini, nafsu kemarahan akan menjadi raja. Kala nafsu kemarahan yang menjadi raja berarti kita telah masuk pada bentangan-bentangan pintu syetan yang telah terbuka lebar.

Maka lihatlah saudaraku …

Seseorang yang dengan alasan menjaga dan memperjuangkan harga diri, ia rela melakukan tindakan-tindakan yang pada hakikatnya menjatuhkan harga dirinya sendiri. Seperti tindakan kriminal yang bertebaran dengan alasan menjaga harga diri dan memperjuangkan. Memang harga diri harus diperjuangkan, tapi perjuangan tersebut harus dalam rangka benar-benar berada pada koridor yang ditentukan.  
Artinya adalah, menyikapi suatu persoalan dalam bentuk apapun haruslah disikapi dengan jiwa yang penuh perhitungan, berpegang pada kontrol akal dan kekuatan hati yang suci. Bawalah akal untuk bermusyawarah dan serahkan pada keputusan hati untuk melakukan tindakan. Hati itu dilingkupi fitrah. Ia akan selalu memberikan ide-ide pemecahan yang cemerlang, maka hati merupakan hakim yang paling bijak dalam diri. Jangan pernah melawan apa yang dikehendaki hati, sebab itu jalan kebinasaan. Kala keputusan bijak hati yang kita gunakan, dan kita tak mencoba melawan kesucian hati, disanalah ketenangan akan diperoleh.

Jika diri ini telah tenang, maka lihatlah, apapun yang akan dilakukan dapat dipikirkan secara matang, sebab jauh dari ketergesa-gesaan, muaranya segala yang dilakukan berada pada ranah perhitungan, baik dan buruk dapat diketahui secara bijak, yang akan menjadi landasan untuk melakukan tindakan. Itulah pikiran yang cemerlang, sehingga setiap apapun yang dilakukan, jika berasal dari pikiran yang cemerlang ia tidak akan takut akan resiko yang menimpa, sebab resiko itupun telah dipikirkan jalan pemecahannya dan jalan untuk menanggulanginya. Disanalah nilai berani nampak dan memiliki peran. Tidakkah engkau melihat orang-orang yang berani dalam memperjuangkan kebenaran, walaupun ia tahu resiko yang akan ia hadapi sangat besar.

Benar keberanian itu membawa bahaya bagi dirinya, tapi ia lebih memahami bahwa bahaya itu bukan berarti ia hendak membahayakan dirinya, tapi lebih dari pada sunnatullah yang tak bisa dihindari.  Karena suatu urusan yang hendak dicapai tidak akan diperoleh dengan cara yang sederahana, tapi penuh dengan bahaya. Bahaya itupun hakikatnya hanyalah cobaan, karena dibalik bahaya itu terkandung nilai berharga. Seperti orang-orang yang gugur di medan jihad, sebagai syahid, bukankah berbahaya upayanya melakukan peperangan, berbahaya untuk jiwanya, tapi apabila bahaya itu tetap menimpanya hakikat sebenarnya bukan bahaya, tapi kemuliaan yang ia capai, gelar syuhada akan ia sandang,  tujuh puluh bidadari surga ganjarannya, dan dicabut nyawanya dengan cara yang sangat tidak menyakitkan. Subhaanallaah, begitu indahnya bagaimana Allah swt menetap urusan dalam hidup ini.
Ketahuilah …

Semua itu berpangkal dari ketenangan, ketenangan penuh perhitungan, ketenangan yang lahir dari pikiran cemerlang dan hati yang suci, pada hati yang mendapatkan bimbingan hidayah dari Allah swt. Benarlah mahfuzhat : Ketenangan Itu Sifat Berani

Keterangan :

Sumber Mahfuzhat : K.H. Aslam Zakaria dan Abd. Halim Manaf B.A, Buku Pelajaran Mahfuzhat I (Bandung: C.V Sulita, 1971 ), Cet. Ke-2

Penulisan Format Tulisan Arab : Freeware Arabic Unicode text editor ©2007 by Ebta Setiawan

Senin, 03 September 2012

Pelajaran Mahfuzhat : Hemat Itu Berguna


Mahfuzhat :

اْلِاقْتِصَادُ مُفِيْدٌ
( Hemat Itu Berguna )
Penjelasan :

Dalam bahasa ekonomis, hemat adalah upaya bagaimana mengendalikan harta pada hal-hal yang sesuai dengan kebutuhan, apabila berlebihan Islam mencap sebagai mubazir, dan jika cendrung menyimpan dan enggan berbagi pada orang lain maka jatuh pada kikir. Maka hemat merupakan jalan tengah diantara berlebihan mengeluarkannya dan terlalu menyimpannya.

Namun  dalam keseharian kita, perilaku yang cendrung kita tunaikan malah terbalik dari pemaknaan tersebut, kita lebih cendrung menahan harta kita untuk dikeluarkan dan berbagi dengan orang lain dengan alasan hemat, dan disisi lain kala kita menghambur-hamburkan harta pada jalan yang berlebihan, malah kita merasa apa yang kita lakukan merupakan sebuah kebutuhan yang harus ditunaikan. Pemaknaan yang salah kaprah inilah yang menyebabkan, mengapa muncul golongan orang kaya yang kikir. Ia dianggap kaya karena memiliki harta yan melimpah, namun ia sama sekali tak pernah berbagi harta tersebut dengan orang yang membutuhkan, sementara ia belanjakan hartanya pada hal-hal yang bersifat bermegah-megahan.

Ketahuilah …

Dalam perspekstif ilmu hati, hemat bukan sekedar kemampuan mengendalikan harta, tapi ada nilai mendalam yang terkandung didalamnya. Orang yang hemat adalah orang yang menyadari bahwa harta sepenuhnya adalah titipan Allah swt, maka ia belanjakan harta itu untuk kepentingan Sang Penitip. Ia tidak ragu membelanjakan hartanya kala perbelanjaan itu bertujuan untuk menunaikan tugas pengabdiannya. Seperti ia beli kendaraan bermotor yang berharga mahal, dikala tanpa kendaraan itu ia tidak mampu menunaikan tugas dakwah, seperti ia akan sulit mencapai medan dakwah tanpa kendaraan bermotor tersebut. Atau yang lebih sederhana, ia beli makanan yang dapat menguatkan tubuhnya agar ia mampu menunaikan ibadah dengan jumlah yang banyak.

Ini hanya sekelumit contoh, bahwa hemat dalam perspektif ilmu hati bukan berarti menahan harta atau cukup memiliki harta yang sedikit. Ketahuilah … harta adalah media untuk penyampai pada cita-cita pengabdian, tanpa harta pengabdian tidak akan dapat dilakukan. Dan juga harus kita pahami, harta termasuk bagian dari ciptaan Allah swt yang dibolehkan kita mengambil manfaat darinya. Jadi salah besar jika ada yang menganggap harta tidaklah dibutuhkan dalam hidup. Sederhananya, bagaimana kita akan mampu menutup aurat dalam shalat jika tidak punya harta ? Bagaimana kita akan mampu membela agama jika tidak punya harta ? Bagaimana akan mampu berjuang di medan jihad tanpa harta, dalam jihad itu membutuhkan senjata, dan senjata hanya diperoleh dengan harta, termasuk senjata itu sendiri adalah bagian dari harta. Ini bukan berarti kita mengadakan pembelaan terhadap orang-orang yang hidupnya mengejar harta. Tapi untuk lebih mendudukkan posisi, bahwa harta adalah  elemen yang termasuk dari bagian pencapaian pelaksanaan pengabdian. Maka agar harta menjadi nilai sebuah pengabdian, harta harus dijalankan sesuai dengan tuntutan amanah untuk apa harta itu diberikan. Kala amanah harta tersebut tertunaikan, sungguh kala itu kita telah berlaku hemat terhadap harta.

Inilah hakikat hemat yang sesungguhnya, jadi walaupun kita mengeluarkan harta yang banyak, tapi untuk sebuah pengabdian, maka itulah sifat kemuliaan, dan sama sekali jauh dari sifat mubazir. Namun kala kita mengeluarkan harta yang sedikit, namun sama sekali tidak untuk sebuah pengabdian, sungguh perbuatan kita itu sia-sia, sekali lagi sekalipun harta itu sedikit. Mengapa ? Dikala harta tidak ditunaikan untuk sebuah pengabdian, maka kala itu kita telah terjatuh pada konsep berlebih-lebihan, bukankah kelebihan itu tidak berguna dari sisi hitung-hitungan, dan harta bagian dari hitung-hitungan. Konsepnya adalah, harta berkaitan erat dengan kegunaan, sementara kegunaan itu berada dalam aturan Sang Pemberi harta, Dialah Allah swt yang telah menitipkan harta itu kepada kita. Jika dikeluarkan tidak berdasarkan kegunaan, maka jatuh pada mubazir. Tiada lain semua itu jalannya hanyalah dengan kehematan. Benarlah mahfuzhat : Hemat Itu Berguna.

Keterangan :
Sumber Mahfuzhat : K.H. Aslam Zakaria dan Abd. Halim Manaf B.A, Buku Pelajaran Mahfuzhat I (Bandung: C.V Sulita, 1971 ), Cet. Ke-2

Penulisan Format Tulisan Arab : Freeware Arabic Unicode text editor ©2007 by Ebta Setiawan

Pelajaran Mahfuzhat : Keberanian Itu Mulia


Mahfuzhat :

اَلشَّجَاعَةُ عِزٌّ
( Keberanian Itu Mulia )
Penjelasan :

Kala mendengar istilah berani, yang terbayang bagi kita mungkin adalah keperkasaan, ketangguhan dan jiwa-jiwa ksatria secara kasat mata, tak salah memang, karena keberanian berkaitan erat dengan hal yang demikian. Tapi terlalu sempit jika kita memahami keberanian hanya milik mereka yang punya kesempatan untuk meraih keperkasaan, ketangguhan dan jiwa ksatria secara kasat mata. Sebab ranah berani bukan berada pada ranah tertentu, ia berada pada setiap jiwa insan, hanya saja terkadang jiwa itu tidak terpupuk sehingga ia terpendam begitu dalam. Apalagi tiada upaya menggalinya, bagaikan mutiara dalam lumpur yang tidak dikenali hakikatnya oleh orang-orang yang tidak pernah menggalinya.

Untuk itu saudaraku …

Kita coba menilik berani dalam perspektif yang lebih spesifik, sesuai dengan kebutuhan fitrah kita, dan keberanian yang hendak kita gali ini bahkan melebihi dari pada keberanian yang kita ungkapkan diatas. Ya, apalagi kalau tidak keberanian jiwa yang mampu berani terhadap diri sendiri. Berani berbuat untuk jiwa sendiri, berani melakukan pembenahan terhadap diri, berani mengakui kelemahan diri, dan berani menyadari diri, bahwa kita hanyalah hamba yang memiliki tugas sebuah pengabdian agung terhadap Sang Khalik.
Aneh kedengarannya, memangnya ada orang yang takut pada diri sendiri ? Mungkin itu pertanyaan yang muncul dalam pikiran kita kala mendapatkan ungkapan  di atas. Memang aneh kedengarannya, namun pada keanehan itulah yang membuat kita lupa hingga tidak meyadari, bahwa berani terhadap diri sendiri merupakan fundamen dasar dalam membangun jiwa menuju arah yang dapat menyelamatkan diri dan pengabdian yang setulusnya terhadap Allah swt.

Lihatlah orang-orang yang takut dengan dirinya, ia dikuasai oleh syahwat, sehingga apapun keinginan syahwat itu ia perturutkan, ia rela menentang nuraninya sendiri untuk melakukan hal-hal yang sama sekali bertentangan dengan fitrahnya. Kita sendiri mungkin pernah merasakan, kala kita melakukan suatu kesalahan, dan kita tahu itu salah,apa yang kita rasakan saat melakukan perbuatan tersebut ? Jiwa ini bergetar hebat, darah seakan mengalir begitu cepatnya, bukankah itu sebagi pertanda, fitrah kita sebenarnya menolak, namun karena kita tidak berani untuk melawannya, maka kalahlah fitrah dengan ambisi syahwat, sehingga kala kita selesai melakukan sesuatu yang bertolak belakang dengan fitrah kita, kegelisahan meliputi. Kegelisahan demi kegelisahan menghantui kita, tapi terkadang kita tetap mengulang kesalahan yang sama terhadap pelanggaran fitrah tersebut. Apa sebabnya ? Tiada lain, karena kita tidak berani terhadap diri sendiri. Kita takut dengan diri kita yang telah dikuasai syahwat. Inilah yang dimaksud dengan kita tidak berani dengan diri sendiri.

Ketahuilah saudaraku …

Keberanian akan diri, itulah yang menyelamatkan kita, yakni keberanian untuk mengendalikan diri agar tetap berada dalam koridor syari’at, keberanian menahan diri agar tidak tergiur dengan indahnya gemerlap dunia yang menipu, keberanian untuk memaksa diri agar tunduk pada aturan-aturan baku yang telah menjadi doktrin agama kita, yakni Al-Quran dan Sunnah, dan keberanian pada diri untuk tidak mencari petunjuk lain selain dari dua perintah tersebut.

Inilah keberanian yang hakiki, pada jalan ini pulalah syetan dan balatentaranya memasang perangkap, karena mereka tahu, jalan ini adalah jalan yang paling berbahaya bagi mereka, sebaliknya jalan keselamatan bagi kita. Jika kita mampu untuk berani terhadap diri sendiri, maka cahayanya akan memancar dan melahirkan canbang-cabang keberanian terhadap perilaku yang kita munculkan. Jika kita mampu berani pada diri sendiri, lantas apakah kita tidak akan mampu lebih berani terhadap apa yang ada diluar diri kita ? Musuh yang terbesar pada diri kita sebenarnya adalah diri kita sendiri, karena ia berada dalam diri dan kekuasaannya berada ditangan kita. Kala kita lemah ia akan memberontak, namun kala kita kuat ia akan tunduk. Maka berani terhadap diri sendiri adalah berani menguasai diri dan mengendalikan diri untuk tetap berada pada fitrah kita yang tentunya dalam rangka menggapai penunaian amanah selaku hamba, mengabdi kepada Sang Khalik.

Keberanian akan dirilah yang mengantarkan kita mencapai derajat ketinggian, karena orang yang mulia adalah orang-orang yang mampu melahirkan perbuatan terpuji dan perbuatannya tersebut menjadi keteladanan bagi orang lain, sehingga ia dihormati dan dihargai serta dicintai hati manusia. Tidak bisa tidak, perbuatan terpuji itu lahir dari diri yang terkendali. Terkendalinya diri karena kita berani terhadap diri sendiri. Benarlah mahfuzhat  : Keberanian Itu Mulia


Keterangan :

Sumber Mahfuzhat : K.H. Aslam Zakaria dan Abd. Halim Manaf B.A, Buku Pelajaran Mahfuzhat I (Bandung: C.V Sulita, 1971 ), Cet. Ke-2

Penulisan Format Tulisan Arab :
Freeware Arabic Unicode text editor ©2007 by Ebta Setiawan

Minggu, 02 September 2012

Pelajaran Mahfuzhat : Sabar Itu Terpuji


Mahfuzhat :

اَلْحَلِمُ مَحْمُوْدٌ

( Sabar Itu Terpuji )

Penjelasan :

Sabar, istilah yang tidak begitu asing bagi kita, bahkan mungkin terlalu sering lisan ini mengucapkannya, terutama sekali kala menyaksikan orang-orang sekitar kita mendapatkan musibah atau sesuatu hal yang menuntut mereka harus bersabar, maka kita berupaya menguatkan mereka untuk bersabar sebagai bentuk kasih sayang dan rasa simpati. Namun ada pada umumnya, hakikat sabar yang melekat dalam pemahaman kita lebih berorientasi pada sabar kala ditimpa musibah, selain itu banyak yang terabaikan, padahal ruang lingkup sabar tidak sesederhana dan sekecil itu. Dalam segala aspek kehidupan ada tuntutan sabar di dalamnya. Namun belum begitu membumi bagi kita. Sehingga sikap itu tidak begitu menjadi akhlak perilku keseharian kita.

Ketahuilah ….!!!

Memang, yang berat kita rasakan dalam hidup ini secara lahiriyah adalah kala kita ditimpa musibah atau cobaan dalam kondisi-kondisi yang rumit, sehingga sabar perisai yang ampuh untuk menanggulanginya, agar kita tetap bertahan dan tegar menghadapinya. Tapi apakah kita lupa, sabar dalam melaksanakan keta’atan, atau sabar dalam menjaga diri dari berbuat maksiat juga merupakan hal yang berat ? Bahkan disini kita banyak yang terjatuh. Seperti perintah menunaikan  shalat, kala azan berkumandang, bagaimana cara kita menyikapinya, apakah kita telah bersabar untuk berupaya meninggalkan segala aktifitas keduniaan kita untuk menyegerakan diri menunaikan panggilan shalat tersebut, atau mungkin kita berdalih, ah, waktu shalat masih panjang, nanti sajalah. Memang, secara kajian ilmu fiqh, selama shalat ditunaikan dalam waktunya, maka tertunailah kewajiban tersebut. Tapi disini yang kita garis bawahi bukan masalah sah atau tidaknya, tapi keinginan hati untuk tunduk dan pasrah akan sebuah aturan syari’at, sehingga lebih kita utamakan dari pada aktifitas-aktifitas lain, walaupun aktifitas itu masih dalam konteks dibolehkan ( mubah ). Disinilah tuntutan sabar itu nampak, bagaimana kita dituntut untuk sabar dalam menunaikan keta’atan dengan berupaya menepis dalih-dalih yang dibisikkan syetan. Sekali lagi, hal ini kita sering lupa akan hakikat sabar seperti ini.

Begitu juga sabar dalam menjaga diri dari kemaksiatan, bersabar untuk tidak terjerumus pada kehancuran diri, seperti bersabarnya kita untuk menahan diri agar tidak mengumbar aurat. Untuk yang satu ini, macam-macam dalih kita keluarkan. Terutama kaum Hawa yang lebih terpesona dengan kecantikan dan keindahan diri. Kala ditanyakan mengapa tidak memakai Jilbab ? Malah ia balik bertanya; mana yang lebih baik, orang yang hatinya bersih tapi tidak memakai jilbab, dengan orang yang memakai jilbab tapi hatinya kotor ? Perkataannya ini hanyalah pembelaan terhadap dirinya yang berupaya berdalih dari kenyataan syari’at yang berat baginya untuk menunaikannya. Kalaupun toh ditanya hatinya, apakah dia yakin hatinya benar-benar bersih ? Dia sendiripun mungkin ragu. Yang tepatnya bukan ragu, memang hatinya sebenarnya tidak bersih. Mengapa ? Perkataannya tersebut telah menunjukkan ketidakbersihan hatinya, karena tidak lebih dari pada dalih untuk menyelamatkan diri yang memang telah tersesat. Maka ia tutup kesesatannya dengan alasan-alasan yang dia sendiri sebenarnya tidak paham dengan alasan tersebut. Apakah ia tidak menyadari, bahwa yang lahir itu menunjukkan yang batin ? Hati yang bersih melahirkan perbuatan yang bersih, lantas bisakah diterima ungkapan, walaupun kita tidak berjilbab, yang penting hati kita bersih. Ooo… sangat jauh pemahaman tersebut, keengganan berjilbab menunjukkan keengganan menunaikan syari’at, itu menunjukkan hatinya tidak bersih, sangat tidak bersih, lalu dimana istilah hati bersih itu ia pahami ? Sangat tertipulah orang-orang yang memahami konsep yang demikian itu.

Ketahuilah, mengapa semua itu terjadi, kembali pada konsep sabar tadi, sebenarnya hati ini belum sabar untuk berupaya menahan diri agar tidak terjatuh pada kemaksiatan. Selama penyakit itu bercokol dalam hati, maka selama itu pula syetan akan menampakkan jalan untuk mencari dalih pembenaran akan kemaksiatan yang dilakukan. Berhati-hatilah saudaraku ….

Jika demikian adanya,

Ternyata, berat sekali penunaian sabar ini dalam kehidupan. Memang berat, tapi dalam berat itulah terkandung keutamaan. Sesuatu yang diperoleh dengan cara yang berat maka hasilnya juga akan berat, artinya hasil yang diperoleh sangat memuaskan, sementara sesuatu yang diperoleh dengan cara yang ringan, hasilnyapun ringan ( sedikit ). Maka berpayah-payah dalam mencapai sesuatu merupakan konsep ikhtiar yang diajarkan dalam Islam. Balasan sesuai dengan tingkat usaha, apakah sama balasan yang diperoleh orang-orang yang bersungguh-sungguh dengan orang yang lalai dalam kesungguhan ? Jelas tidak. Tidak akan sama sama tingkat keilmuan seseorang yang belajar siang malam dengan ketekunan, dengan keilmuan seseorang yang hanya belajar apa adanya penuh dengan kesantaian. 

Renungkanlah, sungguh makna ini mengandung hikmah yang begitu dalam. Ingatlah sebuah nasehat agung yang ditanamkan Rasulullah saw : “ Pada kesabaran atas apa yang tidak kamu sukai terdapat kebaikan yang banyak.” ( Hadits Riwayat Ath-Thurmidzi dari Hadits Ibnu Abbas ), Hadits ini dapat ditemukan dalam Ihya’ ’Ulumiddin karya Imam al-Ghazali.

Saudaraku …

Kelalaian pemahaman konsep sabar yang mungkin kita juga lupa memahaminya adalah kita mungkin telah menganggap diri kita orang yang sabar, kala ditimpa suatu urusan yang tidak menyenangkan. Namun  kesabaran itu muncul seiringnya perjalanan waktu, artinya, kala kita ditimpa hal yang tidak diinginkan, awalnya terasa perih dan menyakitkan, kala itu hati ini belum mampu menerimanya tapi seiring perputaran waktu dan berjalannya hari, mulai tumbuh rela menerima keadaan tersebut, lantas dengan hal tersebut kita menganggap kerelaan kita akan penerimaan urusan yang awalnya tidak kita senangi itu telah menganggap diri kita orang yang sabar.

Ketahuilah ...

Perputaran waktu adalah proses yang menyebabkan kita banyak melupakan hal, beban yang berat seiring perputaran waktu dihimpit oleh beban yang lain, sehingga yang telah berlalu lambat laun terhapus, setidaknya terlupakan. Jika demikian adanya, jelas kita akan mampu bersabar akan sesuatu yang tidak menyenangkan karena telah pupus dengan beban-beban lain dan jauhnya beban itu meninggalkan kita oleh waktu. Kalau demikian adanya, pantas saja kita bersabar. Ini bukan berarti kita menolak kalau hal tersebut masih dikatakan sabar, hanya saja kita ingin menekankan disini bahwa sabar itu kemampuan menguasai diri kala sesuatu yang tidak menyenangkan itu menimpa, tepat saat peristiwa itu terjadi.

Ulasan tentang semua kesabaran ini dapat kita pahami secara mendalam yang merupakan makna dari ungkapan Ibnu Abbas ra. sebagaimana dituangkan oleh Imam al-Ghazali dalam kitab fenomenalnya Ihya’ ‘Ulumiddin. Ibnu Abbas ra. Berkata :

“ Sabar di dalam al-Qur’an itu ada tiga macam yaitu : sabar dalam menunaikan kewajiban-kewajiban yang diwajibkan Allah ta’ala, maka bagi sabar ini memperoleh tiga ratus derajat, dan sabar dari apa saja yang diharamkan Allah, maka bagi sabar ini memperoleh enam ratus derajat dan sabar atas mushibat pada pukulan pertama, maka bagi sabar ini memperoleh sembilan ratus derajat. Sesungguhnya tingkat ini dilebihkan, padahal ia termasuk amal-amal yang wajib karena setiap orang mu’min itu mampu sabar dari perkara-perkara yang haram.”

Untuk itu saudaraku pencari jalan kesabaran …

Sekilas tampak sabar itu sulit ditunaikan, tapi ketahulilah, kala hati telah berazzam, semangat telah ditancapkan, maka kemuliaan sabar tidak akan rumit menggapainya. Semoga ini menjadi bahan intropeksi diri, bahwa urusan sabar sebenarnya bukan urusan sederhana, tapi urusan yang hendaknya lebih membuat kita menyadari bahwa ternyata kita belum apa-apa dalam beramal untuk agama ini, apalagi telah menganggap diri kita orang shaleh yang memiliki kedekatan yang luar biasa dengan Allah swt. Disisi lain semoga menjadi pemicu semangat pula bagi kita untuk mencapai ketinggian derajat sabar. Bukankah Rasulullah saw telah menjanjikan pada hadits tadi : “ Pada kesabaran atas apa yang tidak kamu sukai terdapat kebaikan yang banyak.”  Benarlah Mahfuzhat : “ Sabar itu terpuji ”.

Keterangan dan Referensi :

1). “ Terjemah Ihya’ ‘Ulumiddin Jilid VII ” dari Karya Imam al-Ghazali, dialih bahasakan oleh Drs. H.Moh Zuhri, Dipl. TAFL., H. Muqoffin Mochtar, LC,  H. Muqorrobin Misbah, diterbitkan CV. Asy Syifa’ Semarang, cetakan tahun 2003)  
2). Sumber Mahfuzhat : K.H. Aslam Zakaria dan Abd. Halim Manaf B.A, Buku Pelajaran Mahfuzhat I (Bandung: C.V Sulita, 1971 ), Cet. Ke-2
3). Penulisan Format Tulisan Arab : Freeware Arabic Unicode text editor ©2007 by Ebta Setiawan

Sabtu, 25 Agustus 2012

Pelajaran Mahfuzhat : Kesungguh-sungguhan Itu Bermanfaat


Mahfuzhat :

اَلْاِجْتِهَادُ مُفِيْدٌ
(Kesungguh-sungguhan itu bermanfaat )

Penjelasan :

Hidup di dunia ini penuh dengan  tantangan dan rintangan, semakin kuat kita berjuang menghadapi nya  semakin kuat pula tantangan dan rintangan itu menghadang, hanya orang-orang yang bersungguh-sungguhlah yang akan mampu melaluinya.

Ketahuilah, akankah Allah swt akan membagi secara rata tentang apa yang diinginkan manusia ? Tidak, tapi apapun yang diinginkan oleh manusia hanya akan diberikan kepada orang-orang yang bersungguh-sungguh memperolehnya. Disanalah letak keadilan Allah swt, yakni kemampuan Allah swt meletakkan sesuatu pada tempatnya secara adil. Tidak akan sama rezki yang didapat manusia yang bersungguh-sungguh mencarinya, dengan rezki manusia yang hanya bermalas-malasan dan berharap belas kasih orang lain. Memang rezki itu telah tercatat di Lauh Mahfuz, namun upaya pencapaian rezki itu berada dalam ikhtiar manusia, sejauhmana kesungguhan ia menggapainya, maka sejauh itulah yang ia dapat. Ini hanya sekelumit  contoh tentang makna kesungguhan. Untuk hal ini setiap kita mungkin paham, jadi tak perlu diperpanjang penjelasannya.

Namun, ada hal penting tentang kesungguhan yang sering terlupakan, dalam hal mengejar dan menghadapi kerasnya hidup di dunia, kita mampu mewujudkan kesungguhan untuk menaklukkan keduniaan kita. Banting tulang mencari nafkah, siang malam belajar menuntut ilmu, namun semua itu hanya untuk keduniaan semata. Mencari nafkah tak lebih dari pada menumpuk –numpuk harta dan berbangga-bangga dengan manusia, menuntut ilmu hanya untuk mendapatkan kedudukan dan kemuliaan dimata manusia. Ketahuilah, sungguh, kesungguhan tersebut hanyalah akan membuat diri payah, sementara harta yang ditumpuk tidak pernah merasa cukup, ilmu yang dituntut tidak akan mendapatkan kemuliaan. Sebab, baik harta maupun ilmu, jika tidak ditujukan untuk fungsinya untuk apa Allah swt menciptakan, maka kecelakaanlah bagi yang menggunakannya.

Sadarilah, bukan kesungguhan demikian yang dituntut dalam hidup, tapi kesungguhan untuk mengenali diri, hingga mampu mengenali siapa yang menciptakan diri, dan untuk apa diri ini diciptakan. Semua itu hanya dapat diperoleh dengan ilmu, maka tujuan menuntut ilmu hendaklah untuk mengenali diri, mengenali siapa yang menciptakan diri dan untuk apa diri ini diciptakan. Jika menuntut ilmu itu tidak bisa diperoleh kecuali dengan perjalanan jauh, mendatangi tempat-tempat yang membutuhkan harta untuk mencapainya, maka untuk itulah harta dicari, karena harta itu alat untuk mencapai tujuan. Kesungguhan mencari harta dalam tataran ini, merupakan jalan kemuliaan.

Berpayah-payah dalam urusan kesungguhan mencapai kebenaran hakiki dalam hidup, mengenali diri, mengenali siapa yang menciptakan diri, dan untuk apa diri ini diciptakan, akan dapat mendatangkan manfaat yang begitu dahsyat pada diri. Tujuan hidup akan jelas, apa yang akan dilakukan tidak ngambang, upaya-upaya yang dilakukan memiliki orientasi yang pasti. Disaat dipahami apa tindakan yang harus dilakukan dalam hidup, jelas arah dan tujuannya, saat itu, setiap tindakan yang akan dilakukan terasa nikmat dan mudah, karena jelas petunjuk arahnya. Bukankah yang memotivasi kita untuk melakukan tindakan adalah kala tindakan yang akan kita tunaikan memiliki orientasi yang jelas ?

Seperti saat hendak wudhu’, bagi orang-orang yang tidak memahami  hakikat yang terkandung dalam wudhu’, saat melaksanakan wudhu’ tidak ada terbetik sedikitpun semangat dan perasaan yang bergelora untuk menunaikan, tak lebih hanya sekedar karena wudhu’ itu wajib jika hendak mendirikan shalat, maka jadilah wudhu’ hanya ritual rutin belaka tanpa nilai dan kenikmatan rasa yang diraih. Akankah kita rindu dengan wudhu’ jika wudhu’ hanya dipahami sebatas ini ? Sama sekali tidak, bisa jadi wudhu’ malah dianggap beban. Ujungnya, karena terasa beban bermuara pada pelaksanaan wudhu’ tidak dengan kesungguhan, asal-asalan, asal beban telah tertunaikan. Hilanglah hakikat wudhu’, sama sekali tidak terasa manfaatnya. Ini adalah akibat dari tidak adanya kesungguhan mengenali hakikat hidup yang menyebabkan hilangnya manfaat.

Tapi, bagi orang-orang yang bersungguh-sungguh memahami hakikat hidup, kala hendak berwudhu’, ia berupaya bersungguh-sungguh memahami hakikat wudhu’, bahwa wudhu’ bukan sekedar ritual cuci muka , tangan, mengusap kepala, dan cuci kaki. Tapi ada petunjuk syari’at yang menjelaskan, bahwa dalam ritual tersebut terkandung suatu makna pembersiha n jiwa. Sebagaimana yang diajarkan Rasulullah saw, bahwa air wudhu’ bukan sekedar mencuci lahirnya fisik, tapi juga mencuci bathin dengan mensucikannya dari dosa-dosa. Seperti air yang mengalir pada tangan dapat mencuci atau menggggugurkan dosa-dosa yang dilakukan pada tangan. Jika kita memahami hal ini, tentulah wudhu’ akan terasa nikmatnya, sehingga wudhu’ akan dilaksanakan dengan khusyu’ penuh kesungguhan. Sebab kita mengetahui besarnya manfaat  yang diperoleh dari wudhu’.

Jadi, semua itu berpangkal dari kesungguhan.  Karena kesungguhan itulah yang akan mendatangkan manfaat pada diri. Jangan heran, jika engkau melihat mengapa ada orang yang mampu menunaikan ibadah siang dan malam tanpa sedikitpu merasa terbebani ?Aapalagi kalau bukan karena kesungguhan ? Mengapa para ulama-ulama terdahulu mampu menembus luasnya dunia untuk menuntut ilmu sehingga kita orang belakangan dapat mereguk kenikmatan ilmu tersebut ? Tiada lain itu karena kesungguhan.  Mengapa kita temukan adanya orang-orang yang mampu hidup secara fakir, namun tak pernah mengeluh, malah bersyukur ditengah-tengah kefakirannya ? Ya, jelas karena kesungguhan. Kok, kebanyakan orang-orang miskin yang kita temukan, dalam sebuah keluarga yang bahkan berada di bawah standar kecukupan, tapi masih mampu tertawa, bercengkrama dengan keluarga dalam segala kekurangannya. Sekali lagi, semua itu karena kesungguhan memaknai hidup.   

Benarlah mahfuzhat : “ Kesungguh-sungguhan itu bermanfaat “. Dengan kesungguhanlah kita akan mencapai manfaat yang hakiki. Renungkan saudaraku.

Keterangan :
Sumber Mahfuzhat : K.H. Aslam Zakaria dan Abd. Halim Manaf B.A, Buku Pelajaran Mahfuzhat I (Bandung: C.V Sulita, 1971 ), Cet. Ke-2

Penulisan Format Tulisan Arab : Freeware Arabic Unicode text editor ©2007 by Ebta Setiawan


Pelajaran Mahfuzhat : Murah Hati Itu Terpuji


Mahfuzhat :

اَلْحَلِمُ مَحمُوْدٌ

( Murah Hati Itu Terpuji )
Penjelasan :

Kita diberikan nafas untuk hidup, diberikan panca indra untuk melangsungkan tugas di permukaan bumi sebagai khalifah, diberikan akal untuk mencerna apa yang harus dilakukan, di utus Rasul sebagai penunjuk jalan, pada Rasul itu diberikan pedoman hidup berupa al-Quran.  Siklus hidup kita berputar diantara hal tersebut dan semuanya terletak pada hati.

Kala nafas dihembuskan, panca  indra berjalan normal, akal telah sempurna (baligh), telah sampai risalah Rasul, maka jatuhlah beban hidup pada kita. Setiap pelaksanaan beban melahirkan konsekwensi ( akibat ), segala tingkah laku akan dinilai, hasil nilai akan mendapatkan balasan, surga yang dibawahnya mengalir sungai-sungai ataukah neraka yang apinya menyala-nyala.

Ketahuilah semua itu berporos pada hati. Setiap yang dilakukan berpangkal dari hati. Kala seseorang bertindak, berbuat dan melakukan segala aktifitas hakikatnya adalah akibat dari perintah hatinya. Kecuali hal dilakukan tanpa sengaja, maka hati berlepas diri dari padanya. Jika perbuatan seseorang itu baik, pertanda hatinya baik, namun jika sebaliknya, demikianlah hatinya.

Dapatlah kita pahami, dalam konsep hablumminannas ( merajut hubungan sesama manusia ), kedudukan manusia dimata manusia yang lain berada pada hatinya, walaupun hati itu sendiri tidak tampak, tapi orang bisa menilai hati seseorang melalui perbuatannya, sebab perbuatan itu lahir dari perintah hati. Sehingga ada ungkapan yang sering kita dengar “ orang tersebut baik hati ”, padahal orang yang berbicara tidak mampu melihat hati orang yang diibicarakannnya. Ini bukti bahwa hati manusia itu dapat diketahui melalui perbuatannya.

Untuk membuktikannya, rasakan saja pada diri kita sendiri, kala kita hendak melakukan sesuatu apa yang pertama kali menggerakkan perintahkan perbuatan kita tersebut ? Jelas, hatilah yang memerintahkannya. Makanya kala kita tidak hendak melakukan sesuatu namun dipaksa oleh sesuatu hal, maka terasa sakit dalam hati kita, karena hakikatnya hati kita tidak hendak melakukannya, namun dilakukannya juga, sehingga terasa sakit.

Ini pengertian makna hati secara sederhana dan normal, diluar itu, bukan disini pembahasan yang kita maksud, seperti adanya orang yang lain dihati, lain pula dimulut. Butuh pembahasan tersendiri masalah ini. Cukup kita ambil pengertian secara normal tadi.

Mengingat hati seseorang itu dapat diketahui melalui perbuatannya, maka bersihkanlah hati dari segala keinginan yang tidak baik, agar melahirkan perbuatan yang baik, kala perbuatan itu baik, maka akan diterima hati itu dihati manusia, kala hati memiliki kedudukan di hati manusia, maka manusia itu akan menjadi terpuji dalam lingkungannya, kala terpuji dalam lingkungan manusia, berarti kita telah mewujudkan konsep hablumminannas ( hubungan sesama manusia ) dengan baik, sebagai konsep ajaran Islam yang begitu mulia. Inilah kiranya makna Mahfuzhat “ MURAH HATI ITU TERPUJI ”


Keterangan :
Sumber Mahfuzhat : K.H. Aslam Zakaria dan Abd. Halim Manaf B.A, Buku Pelajaran Mahfuzhat I (Bandung: C.V Sulita, 1971 ), Cet. Ke-2

Penulisan Format Tulisan Arab : Freeware Arabic Unicode text editor ©2007 by Ebta Setiawan

Jumat, 06 Juli 2012

Pelajaran Mahfuzhat : Kesopanan Itu Mulia


Mahfuzhat :

اَلْاَدَبُ شَرَفٌ

( Kesopanan Itu Mulia )

Penjelasan :

Tidak ada yang layak dibanggakan dalam hidup ini, kecuali akhlak yang mulia, inilah kesopanan. Kemegahan harta, keindahan fisik, banyaknya keturunan semua itu hanyalah bersifat relatif dan sementara. Harta hanya akan bertahan kemegahannya paling lama sampai ajal menjemput , setelah itu ia akan kita tinggalkan, dan akan diambil alih oleh orang sesudah kita. Jika dikelola dengan baik, alhamdulillaah, harta kita menjadi kebaikan bagi orang-orang sesudah kita, namun bagaimana jika malah menjadi lahan sengketa ? Harta kita malah menjadi ajang pertikaian dan memicu putusnya hubungan silaturrahim.  Kemuliaan harta hanya berada ditangan orang-orang yang mulia, ditangan orang-orang yang memperolehnya dengan cara yang mulia, dan membelanjakannyapun dengan cara yang mulia, maka jika kita mampu untuk mencapai tahap ini, silahkan peroleh harta, silahkan dicari harta, tapi tetap dalam koridor sewajarnya, karena tiada kemuliaan pada hal yang berlebihan.

Begitu juga dengan keindahan fisik, dan banyaknya keturunan, seiring perjalanan waktu akan memuai dan hilang tak berbekas. Pertambahan umur akan menyebabkan pudarnya pesona fisik, bahkan terkadang sampai, jangankan orang bersedia untuk berdekatan dengan kita, melirikpun mereka merasa jijik. Lantas apa yang hendak dibanggakan dari keindahan fisik, apalagi hendak mencari kemuliaan dengan keindahan fisik, toh Allah swt tidak melihat seseorang dari fisiknya, tapi dari hatinya. Bukankah demikian Rasulullah saw mengajarkan kita ?
Ooo…kita mungkin sering membanggakan garis keturunan, garis keturunan kiyai, ulama, syekh. Ketahuilah kemuliaan seseorang tidak didapat melalui siapa bapaknya, atau neneknya, tapi kemuliaan itu memancar dari dalam diri setiap pribadi. Tidak ada sedikitpun andil kharisma orang-orang disekitar kita dalam mencapai kemuliaan. Apakah karena bapak kita syekh, lalu dengan serta merta kita juga jadi syekh ? Tidak, karena kemuliaan bukan didapat melalui keturunan. Kalaupun tetap ingin memasukkan peran mereka, tiada lain peran mereka hanyalah berupaya membuat kita menjadi mulia, sedangkan mulia atau tidaknya kita, kita yang memilih jalan itu, dan kita yang menentukan pilihannya. Jika tidak ada upaya dari diri kita untuk mencapai kemuliaan, jangan berharap kemuliaan akan kita peroleh kalau hanya berpijak pada kemuliaan orang-orang sebelum kita dikarenakan kita satu keturunan.

Termasuk dalam hal ini ilmu yang tinggi, bukanlah syarat mutlak untuk mencapai kemuliaan, memang kita temukan ada ayat al-Quran yang menyatakan bahwa ditinggikan derajat orang berilmu beberapa derajat ( Surat al-Mujadalah ayat 11 ). Namun orang yang berilmu yang bagaimana ? Ada kategori orang berilmu yang ditinggikan derajatnya. Yakni ilmu yang sesuai dengan tuntutan syari’at, dan dengan ilmu itu ia capai kemuliaan yang telah digariskan oleh syari’at, untuk menunaikan pengabdian kepada Allah swt. Sehingga ilmu itu bukan hanya sekedar ilmu, tapi ilmu itu membawa dirinya pada pengenalan siapa dirinya yang sesungguhnya, untuk apa ia diciptakan, dan apa tugasnya selaku yang diciptakan ( makhluk ). Sungguh yang takut pada Allah itu adalah ulama ( orang yang berilmu ) demikian Allah swt mensinyalir dalam surat Fathir ayat 28.

Harta, fisik, keturunan, dan ilmu, semua itu akan mencapai derajat kemuliaan kala disandingkan dengan kesopanan atau akhlak yang baik, disanalah derajat kemuliaan itu dapat digapai. Orang berharta yang berakhlak mulia akan menjadikan hartanya untuk sebuah pengabdian, kala ia membayar zakat, dengan cara yang ikhlas dan tidak membuat sakit hati mustahik ( penerima zakat ), bahkan mustahik dengan senang hati mendo’akannya. Kala ia bersedekah ia tidak menyebut-nyebut pemberiannya, ia berupaya agar orang yang diberinya tidak mengetahui bahwa ia telah bersedekah untuk menjaga dirinya jatuh pada lembah ria. Keindahan fisik bagi orang yang berkahlak mulia tidak menjadikan ia angkuh dan sombong serta merendahkan orang lain, malah baginya terasa berat karena membutuhkan upaya untuk menjaga diri dari penyakit hati tersebut. Ia jadikan keindahan fisik sebagai lahan dakwah, fisiknya yang kuat dengan sekuat tenaga ia serahkan pada jihad fii sabilillaah, ia habiskan waktunya untuk berkelana dan bermusafir menebar amar ma’ruf nahi mungkar. Keturunan yang mulia tidak serta merta ia jadikan sebagai ajang gengsi, tapi sebagai pemicu semangat dalam jiwanya untuk lebih membangun keturunan yang lebih mulia, karena pada pundaknya tertanggung beban bahwa terlahirnya ia pada garis keturunan yang mulia berarti ia harus melanjutkan tongkat estafet tersebut agar jangan putus kemuliaannya. Sampai-sampai ia berupaya pula menanamkan pada anak cucunya agar tetap mempertahankan kemuliaan yang telah dibangun oleh para pendahulunya. Alangkah indahnya jika kemuliaan seperti ini yang diwariskan, dari pada mewariskan kemegahan yang hanya mengundang sengketa orang belakangan. Apalagi terhadap ilmu. Ilmu bagi orang yang memiliki adab kesopanan atau akhlak yang mulia menjadikan ia semakin merasa dirinya kecil, lemah dan sedikit pemahaman. Sebab ilmu semakin digali, semakin terasa bahwa banyak yang belum diketahui. Bagi orang berilmu yang berakhlak mulia, ilmu yang diperoleh membuat ia semakin takut dengan Allah swt, membuat ia semakin merasa seorang hamba yang tidak mengetahui apa-apa jika Allah swt tidak membuka pintu-pintu pengetahuan sehingga ia mengetahui apa yang belum diketahuinya. Menyadari hal tersebut menyebabkan ia jauh dari keangkuhan dan kesombongan dengan ilmu yang dimilikinya, tapi ia jadikan ilmu itu untuk sebuah pengabdian. Bagi orang berilmu yang berakhlak mulia, ia mengetahui adab-adab kesopanan ilmu, fungsi ilmu, dan kegunaan ilmu itu pada tempatnya. Maka tidak ada istilah ilmuwan yang pintar mengakali orang lain, tidak ada penemuan senjata perang untuk membunuh manusia yang tidak bersalah, tidak ada penemuan bahan-bahan peledak. Kalaupun ada, semua itu hanya untuk alasan keamanan, tidak lebih.

Duhai, demikian dahsyatnya pengaruh adab atau akhlak yang mulia bagi kehidupan, ia membawa pada kemuliaan. Untuk itu hal ini harus dibiasakan oleh tiap pribadi dan dimasyarakatkan dalam setiap pergaulan umat manusia. Ooo… sungguh indah, kala kita mendapati terdapatnya para penguasa yang beradab kesopanan mulia, para buruh beradab kesopanan mulia, para pengusaha, ilmuwan, orang-orang kaya, orang-orang miskin, pekerja kasar, dokter, pejabat negara, guru, pelajar, mahasiswa, orang tua, anak-anak dan seluruh lini masyarakat menerapkan adab kesopanan atau akhlak yang mulia. Tidak akan ada perang, permusuhan, sengketa, caci maki. Yang ada kasih sayang, saling menyebut kebaikan, tolong menolong. Subhhaanallaah.
Sungguh benar mahfuzhat yang mengatakan kesopanan itu mulia, camkanlah, renungkanlah, dan amalkanlah.
Kebenaran hanya milik Allah swt.

Keterangan :

Sumber Mahfuzhat : K.H. Aslam Zakaria dan Abd. Halim Manaf B.A, Buku Pelajaran Mahfuzhat I (Bandung: C.V Sulita, 1971 ), Cet. Ke-2

Penulisan Format Tulisan Arab : Freeware Arabic Unicode text editor ©2007 by Ebta Setiawan