Mahfuzhat :
اَلصِّدْقُ مُنْجٍ
( Ucapan Benar Menyelamatkan )
Penjelasan :
Ucapan lahir dari lidah yang bolak balik, namun lahirnya ucapan sebenarnya bukan kehendak lidah, tapi kehendak hati, maka apa yang terucap oleh lisan, demikianlah hati seseorang. Saat seseorang berkata dengan benar dan jujur, saat itu pula sebenarnya hati seseorang itu hati yang benar dan jujur. Saat lisan seseorang berkata dusta, sesungguhnya hatinyalah yang dusta, namun ia bawa lisannya untuk terlibat dalam kedustaan.
Mungkin ada yang bertanya, jika demikian adanya, bagaimana dengan lisan yang terucap, sementara ucapan tersebut tidak sesuai dengan hatinya ? Artinya, hatinya mengetahui sesuatu hal yang lain, tapi lisannya menyampaikan pula hal yang lain. Ketahuilah, itulan lisan yang berdusta, dan sesungguhnya hatinya sebenarnya juga berdusta. Mengapa demikian ? Mengapa ia biarkan lisannya berkata dusta, padahal ia bisa mencegah dengan hatinya. Sebab hati itu pusat kendali dari segala anggota tubuh. Segala sesuatu dari tubuh tidak akan mampu melakukan sesuatu jika tidak mendapat izin dari hati. Inilah makna, mengapa dalam beribadah prioritas utama dalam menunaikannya adalah niat, dan niat itu berada pada hati.
Maka apa yang terucap oleh lisan yang bolak-balik adalah ucapan hati, jika ucapannya baik, menunjukkan hatinya adalah baik, sehingga ucapannya dapat diterima oleh orang lain, saat ucapan dapat diterima oleh orang lain, ia ia akan diterima dalam hati manusia, sehingga manusia senang akan dirinya dan rindu dengan ucapan-ucapannya, kala manusia telah rindu dengan ucapannya, dengan mudah ia akan membawa manusia ke jalan yang baik dengan ucapannya, hal ini akan membawa kebaikan kepada dirinya, dengan potensi untuk berbuat kebaikan dengan lisannya.
Namun jika sebaliknya, saat lisan yang terucap adalah kedustaan, maka hati akan gelisah. Karena kecendrungan hati itu pada kebaikan, sementara lisan bersebrangan dengan hati, dan hati itu sendiri membiarkan penyimpangan lisan. Kegelisahan itu menyesakkan dan membinasakan hati, yang menyebabkan muka muram, dihantui rasa takut akan kedustaan yang terbongkar. Saat itu hati menjadi lemah. Kondisi rawan tersebut menjadi jalan potensial bagi setan untuk masuk. Setan membisikkan hal-hal yang tampak menyenangkan agar keluar dari kegelisahan, maka masuklah bisikan setan yang mengatakan, “sudahlah jangan dirisaukan, setiap manusia itu memiliki kesalahan, “. Kuatnya bisikan setan pada hati yang lemah, menyebabkan hati menerima pembenaran dari bisikan setan tersebut, akhirnya hati memaafkan kesalahan yang dilakukan dengan alasan setiap manusia memiliki kesalahan. Lambat laun, karena telah diawali memaafkan sebuah kesalahan, akhirnya kesalahan itu dianggap biasa. Jika telah dianggap biasa, hati tidak lagi merasa gelisah melakukan kesalahan, walau kesalahan itu dilakukan berulang-ulang. Ini akibat pertama dari ucapan yang tidak benar (dusta) .
Jika kedustaan itu dihubungkan dengan interaksi sosial sesama manusia ( halumminannas ), hati akan merasa gelisah kalau-kalau kedustaan yang dilakukan terhadap manusia akan terbongkar, tahap inipun jalan yang sangat rawan bagi setan untuk melancarkan misinya dengan bisikan, “ Engkau harus bertahan dengan apa yang engkau ucapkan, walaupun dusta, jika tidak, engkau akan dicap pendusta oleh manusia ,sehingga kedudukanmu akan hina dan ucapanmu tidak akan pernah didengarkan.” Bisikan itu akan membuat hati menjadi tertekan, dalam keadaan tertekan hati akan mengikuti bisikan tersebut, karena tidak lagi mampu menimbang dan menilai suatu kebaikan, yang terpenting kala itu bagaimana menyelamatkan diri dari kehancuran, akhirnya bisikan itu dianggap jalan terbaik. Maka langgenglah kedustaan dengan alasan menjaga martabat diri. Ini akibat kedua dari ucapan yang tidak benar ( dusta ).
Kedua-duanya membinasakan, membinasakan untuk diri, dan membinasakan dalam hubungan sesama manusia. Jika ini telah menimpa manusia, sungguh dusta telah menjadi tabiat dan akhlaknya. Saat itu manusia tersebut benar-benar pendusta.
Satu hal yang perlu dipahami, sampai dimana manusia akan mampu bertahan untuk menyelamatkan dirinya dengan kedustaan ? karena setiap perbuatan yang dilakukan manusia akan ditampakkan pada dirinya akibatnya, baik secara langsung maupun tidak langsung. Banyak cara Allah swt untuk membalas perbuatan tersebut. Jika Allah swt menjanjikan balasan kebaikan bagi orang yang berbuat baik, tentunya adil pula jika keburukan itu mendapat balasan yang setimpal, agar manusia menyadari bahwa yang dilakukan selalu berada dalam pengawasan Allah swt.
Kala hati menyadari hal ini, kegelisahan yang paling berat akan membebani , ia menyadari bahwa sebenarnya ia telah berdusta, mendustai diri sendiri dan mendustai orang lain, dan semua itu akan mendapatkan balasan. Bagaimanapun hati tidak akan mampu didustai, ia akan menyesak untuk selalu berada dalam kebaikan. Perang dalam hati ini yang membuat manusia berada dalam puncak kegelisahan. Bisa jadi ada upaya untuk menebusnya, tapi karena telah terjatuh pada jurang bisikan setan yang begitu dalam sehingga sulit untuk mendakinya. Hanya orang-orang yang benar-benar punya azzam yang kuatlah yang mampu melakukannya.
Menyaksikan beratnya tanggungan yang menimpa atas kedustaan, maka berhati-hatilah, sebelum terjatuh. Jangan pernah memulainya. Maka kata kuncinya, yang akan menyelamatkan memang ucapan yang benar, inilah kiranya maksud dari mahfuzhat tersebut.
Kebenaran hanya milik Allah swt.
Keterangan :
Sumber Mahfuzhat : K.H. Aslam Zakaria dan Abd. Halim Manaf B.A, Buku Pelajaran Mahfuzhat I (Bandung: C.V Sulita, 1971 ), Cet. Ke-2
Penulisan Format Tulisan Arab : Freeware Arabic Unicode text editor ©2007 by Ebta Setiawan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar