Mendengar suatu ulasan dari tausyiah Al-Ustadz
Angku S. Khatib Sati di Masjid Raya Maninjau, pada tanggal 26 Rabiul Awwal 1435,
sungguh menghentak dan menyadarkan pusat kesadaran. “ Jika kita pahami dari
tiga sifat Allah swt. yang dua puluh saja, niscaya akan selamat hidup kita ini,
Yakni ‘Ilmun, Sama’,Bashar” Demikian intisari paparan beliau.
Subhaanallaah !
” Sesungguhnya aktifitas kita dalam hidup ini
tiada lain niat, ucapan dan gerakan. Niat kita diketahui Allah swt (‘ilmun),
ucapan kita didengar oleh Allah swt (sama’), gerakan perbuatan kita tak luput
dari pantauan Allah swt (bashar)”. Itulah muatan-muatan kesimpulan yang beliau
tanamkan.
Aduhai …jika seluruh manusia menyakini dan menyadari
tiga sifat Allah swt. tidak akan kita temukan segala macam kemaksiatan,
penipuan, dan kezhaliman. Bukankah segala keangkara murkaan diakibatkan
kesombongan dari dalam hati yang tidak menyadari Allah swt. mengetahui yang
tersirat dihati dan tertanam di dalamnya ? Berpangkal dari lisan yang selalu
mengeluarkan kata-kata nista yang merusak tatanan ? Berwujud dalam bentuk
tingkah laku yang menganggap apapun yang dilakukan adalah urusan gue, yang
penting orang lain tidak melihat.
Penindasan terhadap kaum lemah, korupsi, kolusi
dan nepotisme serta merajalelanya kemaksiatan ditengah masyarakat tiada lain
karena tiadanya aplikasi tiga sifat Allah swt. tersebut dalam kehidupan.
Siapa yang tidak tahu dengan tiga sifat tersebut
? Siapa yang tidak pernah mendengar pesan-pesan yang dikandung tiga sifat
tersebut ? Bahkan mungkin tiga sifat tersebut lancar dalam lidah, mengerti
maknanya, namun pertanyaannya, berapa yang betul “mengamalkan” tiga sifat
tersebut dalam kehidupan ?
Maka merugilah orang-orang yang masa bodoh
dengan kebenaran, ia tahu, tapi ketahuannya itu hanya sampai pada akalnya
semata, ia berilmu tapi ilmunya sama sekali tidak lebih untuk mencapai jabatan
dan kekuasaan duniawi, ia berakal tapi akalnya ia gunakan untuk mengakali orang
lain.
Saksikanlah ! Bahwa kemaksiatan, apapun
bentuknya lebih didominasi oleh orang-orang yang memiliki kecerdasan, orang-orang
yang diberi anugrah ilmu yang dalam. Inilah kelompok kelak yang akan menyesal
dengan segala kenikmatan yang diberikan padanya, tapi ia tidak mensyukuri akan
nikmat itu, sungguh nikmat telah menjadi cobaan baginya, dan malah kenikmatan
itu mengantarkannya pada kenistaan kelak yang tiada berguna penyesalan.
“Ya Allah, lindungilah kami dari terjatuhnya
pada penyakit umat yang seperti ini ”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar