WENDRI NALDI EL-MANINJAUI KHATIB BANDARO

WENDRI NALDI EL-MANINJAUI KHATIB BANDARO
WENDRI NALDI EL-MANINJAUI KHATIB BANDARO

Sabtu, 05 September 2015

Kultum W. Khatib Bandaro : Mari Menjaga Diri Dengan Shalat

Materi Kultum Wendri Naldi Khatib Bandaro :

“ MARI MENJAGA DIRI DENGAN SHALAT ”

Kaum muslimin/muslimat Rahimakumullah !

Shalat terkadang tetap terasa berat bagi kita untuk melakukannya, terkadang rasa malas muncul untuk menunaikannya, walau akhirnya kita tunaikan dalam keadaan tentunya setengah terpaksa. Atau terkadang kita telah berupaya untuk shalat secara khusyu’, tapi tetap saja rasa khusyu’ kita itu buyar ditengah-tengah shalat kita. Dan masih banyak problem lain yang kita rasakan dalam shalat, intinya shalat kita seakan-akan tidak sempurna dan kita tidak begitu benar-benar merasakan nikmatnay shalat. Ketahuilah ! Inilah gangguan syetan, dan menunjukkan bahwa ternyata memang gangguan syetan itu berat, sangat berat.
Mengapa gangguan syetan lebih besar terasa dalam shalat? Dan mengapa pula begitu beratnya bagi kita untuk mengatasi gangguan syetan dalam shalat?

Kaum muslimin/muslimat Rahimakumullah !

Shalat sesungguhnya pangkal dari segala urusan kita diciptakan ke permukaan bumi ini, yakni untuk beribadah kepada Allah swt. Dari shalat inilah memancar ibadah-ibadah yang lain. Shalat membentuk jiwa kepatuhan seseorang sehingga jika ia telah terbina melalui shalat, maka akan mudahlah baginya untuk menunaikan keta’atan yang lain. Perhatikanlah bacaan-bacaan shalat, gerakan-gerakan shalat, semuanya bermuara pada ketundukan yang menunjukkan kepatuhan. Bacaan shalat dengan munajat do’a-do’a penuh ketawadhua’an, gerakan shalat yang mengikis kesombongan diri seperti sujud. bukankah semua itu bentuk dari kepatuhan sebagai muara dari ketundukan?
Ini baru dalam tahap antara kita dengan Allah swt. atau Hablumminallah yang diajarkan dalam shalat. Sementara dalam konsep hablumminannas semuanya juga berpangkal dari shalat. Seseorang yang shalatnya baik, maka ia hidup bergaul dengan manusia dengan cara baik, berbuat yang ma’ruf dan mencegah dirinya dari berbuat kemungkaran. Allah swt. telah menyatakan, sebagaimana tertulis dalam al-Qur’an surat al-Ankabut ayat 45  yang bermaksud: “Sesungguhnya shalat itu dapat mencegah perbuatan keji dan mungkar”. Bahkan dalam surat al-Ma’un dijelaskan, bahwa tanda-tanda orang yang celaka dalam shalatnya adalah orang-orang yang enggan memberikan bantuan terhadap saudaranya yang mukmin dengan barang yang berguna. Lihatlah makna surat tersebut, tepatnya korelasi ayat 4 dengan ayat 7. Dalam ayat 4 disebutkan : "fawaylullilmushalliina",  maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat. Kemudian pada ayat 7 golongan yang celaka itu dijelaskan:"wayamna'uunalmaa'uuna",  dan enggan memberikan bantuan dengan barang yang berguna.
Konsepnya adalah, shalat sumber dari segala sumber utama dari aktifitas kita dipermukaan bumi ini, dan menjadi penentu kedudukan kita di sisi Allah swt. baik di dunia apalagi diakhirat kelak.
Dari sini terjawab pertanyaan tadi; mengapa gangguan syetan lebih besar terasa dalam shalat? Dan mengapa pula begitu beratnya bagi kita untuk mengatasi gangguan syetan dalam shalat? Karena syetan hendak menjerumuskan kita dari pokok kehidupan kita, hendak menjerumuskan kita dari tujuan apa kita diciptakan.Sesuai dengan makna syetan itu artinya menjauhkan kita dari Allah swt.
Mengapa begitu besarnya keinginan syaithan menjerumuskan kita? Agar kelak kita dapat bersama-sama mereka menempati kedudukan yang hina, karena mereka telah dicap dengan kehinaan di dunia dan di akhirat, maka mereka hendak mencari pengikut-pengikut untuk sama-sama menjadi hina. Mereka tidak rela menjadi golongan yang hina tanpa manusia juga menjadi golongan yang hina. Maka sekeras dan sekuat apapun kita berjuang untuk menjadi mulia, maka sekeras dan sekuat itu pula mereka hendak menjerusmukan kita pada kehinaan.
Maka, jagalah diri wahai kaum muslimin/muslimat rahimakumullah ! Bentengi diri dengan shalat, dan jadikanlah shalat sebagai perisai yang tangguh untuk menjaga diri hidup di permukaan bumi ini, serta untuk menyelamatkan diri di akhirat kelak.
Mari kita bertanya pada diri kita, sejauhmana baru shalat kita hari ini? Hanya kita yang tahu. Perbaharuilah selalu shalat kita agar hari demi hari shalat kita semakin baik. Pelajarilah shalat seumur hidup, dan amalkan sesuai dengan tingkat sejauhmana kita paham. Kuncinya, jangan pernah tinggalkan  shalat, apalagi menganggap remeh urusan shalat. Renungkanlah !


     

Kultum W. Khatib Bandaro : Mari Kita Bangun Rasa Ukhuwah Islamiyah

Materi Kultum Wendri Naldi Khatib Bandaro :

“MARI KITA BANGUN RASA UKHUWAH ISLAMIYAH ”

Kaum Muslimin/Muslimat Rahimakumullah !

Apa yang terasa dalam sanubari kita kala menyaksikan kaum muslimin dan orang-orang beriman dibelahan bumi lain dizhalimi? Negri mereka dicaplok, darah mereka ditumpahkan? Seperti yang dialami kaum muslimin  dan orang-orang beriman di Palestina?  Secara naluriah kemanusiaan, kita akan mengatakan; ikut berduka cita.
Apakah cukup demikian?
Jika sebatas itu. Orang-orang yang tidak seakidah dan seagama dengan kita juga merasakannya. Lantas apa bedanya kita dengan mereka yang tidak seakidah dan seagama dengan kita itu? Apa makna kita mukmin dan mereka kafir? Dan apa pula hakikat dari keimanan kita dibandingkan mereka yang kita cap tidak beriman? Sementara kita tahu Allah swt. telah menyatakan orang beriman itu bersaudara, sebagaimana terdapat dalam surat al-Hujurat ayat 10 :"innamalmukminuuna ikhwatun ...", sesungguhnya orang beriman itu bersaudara ...", lantas mana rasa`persaudaraan kita itu?

Kaum muslimin/muslimat Rahimakumullah !

Disini, letak keimanan kita dipertanyakan. Jangan kita menyangka kala kita telah mengaku beriman, rajin sujud dengan dzikir yang panjang, ahli ibadah, sedekah yang banyak lalu kita telah merasa cukup dengan itu, sementara kita mengetahui kondisi umat Islam dan kaum beriman yang juga sama akidahnya dengan kita berada dalam ketertindasan dan himpitan kezhaliman, tapi kita tidak melakukan apa-apapun sebagai bentuk rasa keberimanan kita. Rasulullah saw. dengan ancaman yang keras telah mengingatkan,sebagaimana diriwayatkan Bukhari dan Muslim :“Tidak beriman diantara kamu sehingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri”.
Perhatikanlah ancaman ini wahaaa…iii orang-orang yang mengaku beriman ! Ini adalah peringatan keras terhadap jiwa-jiwa kalian yang mengaku beriman. Jangan kalian mengada-ada untuk memalingkan makna ini, yang intinya kalian lalai dalam hak-hak persaudaraan. Jangan kalian gadaikan keimananan kalian dikarenakan kebodohan kalian akan hakikat persaudaraan dalam Islam, sehingga kalian membuat hal-hal yang menjatuhkan diri kalian sendiri pada kehinaan dan kelemahan, dengan mencari-cari alasan untuk tidak peduli dengan saudara kalian, seperti menyatakan; ah, itu urusan politik bukan urusan kita, itu urusan perebutan wilayah bukan masalah kita, atau itu permasalahan dalan negri orang lain jangan ikut campur.
Aduhaaa…iii ! Ketahuilah wahaaa….i kaum muslimin/muslimat yang mengaku beriman ! Keimanan tidak mengenal wilayah, ia berada dalan lingkaran kalimat Tauhid dan kesatuan akidah. Selama seseorang itu berada dalam panji Laailaaha Illallaah, Muhammadarrasuulullaah, ber-Tuhankan Allah dan Muhammad adalah Rasul Allah maka ia orang beriman dan saudara orang beriman lainya, tak peduli dibelahan bumi manapun ia berada. Maka pantaskah kalian mengatakan ini urusan suatu wilayah yang mana tidak ada urusan bagi wilayah yang lainnya, sementara kalian memiliki tauhid yang sama? Renungkanlah sungguh ini suatu peringatan yang keras untuk kalian agar kalian jangan menganggap remeh urusan ini.

Kaum muslimin/muslimat Rahimakumullah !
Mengapa hal ini penting diketengahkan, dan harus selalu diingatkan dalam kehidupan kita? Sebab, disinilah kelemahan dan penyebab kemunduran kita umat Islam, kita telah begitu jauh dari nilai-nilai persaudaraan sehingga retaknya hubungan, bahkan putus. Jiwa kita telah dijangkiti penyakit individualisme, mementingkan diri sendiri, sampai-sampai mungkin ada diantara kita yang sama sekali tidak mau tahu dengan keadaan saudaranya. Na’udzubillah min dzaalik.
Maka saksikanlah hari ini, jumlah kita banyak, tapi kala darah kaum muslimin dan orang beriman tertumpah, mana pembelaan yang nyata pada mereka? Atau mereka tak lebih dari berjuang sendiri-sendiri? Seakan mereka tidak punya saudara? Aduhaaa…iii ! Sungguh memilukan kondisi kita.
Untuk itu, marilah ! Marilah kita berbenah, mari kita bangkitkan Ukhuwah Islamiyah, persaudaraan Islam, mari kita selamatkan saudara-saudara kita yang membutuhkan rasa`persaudaraan dari kita, dalam bentuk apapun yang kita bisa, minimal dalam do’a-do’a kita, maka do’akanlah suadara kita. Sesungguhnya do’a mukmin terhadap saudara mukmin lainnya manakala saudara yang dido’akan itu tidak mengetahui makbul, demikian janji Rasulullah saw. dalam riwayat Muslim.

“Ya Allah Ya Tuhan kami, berikanlah pertolongan dan kemenangan bagi saudara-saudara kami yang terzhalimi, kapanpun dan dimanapun mereka mereka”. Amiin Yaa Rababbal ‘aalamiin.

Kultum W. Khatib Bandaro : Mari Memperteguh Ke-Islaman Kita

Materi Kultum Wendri Naldi Khatib Bandaro :

“MARI MEMPERTEGUH KE-ISLAMAN KITA”

Kaum muslimin/muslimat Rahimakumullah !
Allah swt telah mengingatkan, sebagaimana termaktub dalam surat Al-Baqarah ayat 120 : "walantardhaa ankalyahuudu walannashaaraa hattaa tattabi'aa millatahum", Dan tidak akan pernah ridha orang-orang Yahudi dan Nahsrani hingga kamu mengikuti millah mereka …”
Artinya, orang-orang Yahudi dan Nashrani tidak akan ridha kepadamu wahai umat Islam sebelum kamu mengikuti apa yang menjadi ajaran-ajaran agama ataupun  pemikiran mereka. Ayat ini merupakan peringatan keras kepada kita semua yang mengaku muslim agar berhati-hati terhadap upaya kaum Yahudi dan Nashrani yang hendak memalingkan kita dari Islam. Ini bukan perkara phobia terhadap kaum Yahudi dan Nashrani. Dan juga bukan perkara menanamkan kebencian.Tapi ini perkara membentengi diri bagi seseorang yang mengaku muslim agar teguh dengan kemuslimannya.
Ketahuilah !
Setiap penganut agama menginginkan agar umat manusia mengikuti ajaran agamanya. Maka kita selaku muslim tentunya juga harus berjuang penuh dengan agama kita, disinilah maknanya kita harus menjaga kemusliman kita. Jadi ,yang kita gembor-gemborkan bukan masalah upaya kaum Yahudi dan Nashrani yang tidak ridha dengan agama kita. Tapi bagaimana kita menjaga ke-Islaman kita agar tidak terpedaya dengan upaya mereka untuk memalingkan kita dari Islam dan mengikuti ajaran mereka. Berhati-hati, demikianlah konsepnya.
Ketahuilah kaum muslimin/muslimat Rahimakumullah !
Dalam Islam segalanya telah cukup dan sempurna, kita tidak lagi membutuhkan petunjuk selain Islam. Maka cukupkan diri kita belajar tentang Islam, memahami Islam, dan mengamalkannya dengan keikhlasan. Ini artinya cukupkan diri kita dengan aturan-aturan Islam, jangan tasyabbuh atau meniru-meniru ajaran agama lain, seperti Yahudi dan Nashrani. Tentunya yang dimaksud jangan sekali-kali mengikuti cara-cara hidup mereka, sebab dengan mengikuti cara-cara hidup mereka menunjukkan kita ridha dengan agama mereka, yang berarti kita mengakui agama mereka sebagai agama yang benar. Padahal Allah swt. telah mengingatkan dalam al-Qur’an surat Ali Imran ayat 19 :" innaddiina 'indallaahilislamu", sesungguhnya agama yang diridhai disisi Allah hanyalah Islam.”. Berarti selain Islam bathil.
Maka, Wahaaa…i kaum muslimin/ muslimat Rahimakumullah !

Tugas kita terhadap ke-Islaman kita adalah; perteguh keislaman, tunjukkan bagaimana sikap seseorang yang mengaku Islam, dan sebarkan Islam dengan penuh kedamaian. Dengan demikian apapun upaya kaum Yahudi dan Nashrani untuk membawamu pada ajaran mereka tidak akan bergeming, walau sampai kapanpun mereka tidak akan ridha.

Kultum W. Khatib Bandaro : Mari Membangun Kejujuran

Materi Kultum Wendri Naldi Khatib Bandaro :

“MARI MEMBANGUN KEJUJURAN”

Kaum Muslimin/Muslimat Rahimakumullah !

Kita sering meneriakkan slogan-slogan untuk jujur, keutamaan jujur, dan menyerukan untuk berperilaku jujur. Seperti kantin jujur, buku jujur untuk anak sekolah, atau dalam Ujian Nasional untuk berlaku jujur. Kejujuran itu indah. Hanya saja keindahannya sama sekali tidak mampu menarik orang untuk berlaku jujur. Kebanyakan jujur hanya menjadi buah bibir. Setiap kita mencintai kejujuran. Tapi kita sering tergoda dan tidak mampu untuk berlaku jujur. Jujur itu, mengucapkannya mudah, mengamalkannya berat.
Perhatikanlah, dimana-mana bertebaran ketidakjujuran; Oknum pejabat tidak jujur kepada rakyat, kala kampanye janji-janji diumbar, namun setelah menjabat, janji tinggal janji, tidak jujur. Oknum di sekolah guru tidak jujur,  korupsi waktu mengajar, atau memberikan contekan kunci Ujian Nasional pada anak dengan alasan orang lain juga melakukan demikian, sangat tidak jujur. Oknum anak-anak sekolah mencontek dalam ujian, lagi-lagi tidak jujur. Oknum orang tua tidak jujur pada anaknya, okmun anak tidak jujur pada orang tuanya. Di pasar-pasar, oknum pedagang menipu timbangan, menjual barang cacat tanpa dijelaskan. Dan bermacam ketidakjujuran dipertontonkan di sekitar kita.
Mirisnya, pelaku ketidakjujuran orang-orang yang berakal, diberi kecerdasan untuk memilah dan memilih mana yang benar dan yang salah, bahkan yang berpendidikan. Tidak salah jika tindak kejahatan didominasi orang-orang cerdas. Dengan akalnya ia akali orang lain, “cadiak buruak” kata orang Minang.

Kaum muslimin/muslimat Rahimamukumullah !

Mengapa begitu sulitnya kejujuran dalam kehidupan?

Lemahnya Iman pada yang ghaib, ini yang pertama.

Memang, untuk meyakini dan memahami yang ghaib itu berat. Sebab kita dituntut memahami sesuatu yang tidak nampak. Untuk itulah ranah yang dibutuhkan bukan akal, tapi iman. Dengan iman semuanya mudah. Orang yang yakin dengan adanya yang ghaib, yakin perbuatannya diawasi oleh yang Maha Ghaib walaupun ia tidak mengetahuinya, maka ia akan berhati-hati sehingga kejujuran menghiasi kehidupannya. Kejujuran itu mudah baginya. Namun sebaliknya, orang yang tidak yakin dengan adanya yang ghaib, ia hanya berpandangan pada lahiriyah semata, maka dengan leluasa ia melanggar kejujuran karena kejujuran itu tidak dapat dideteksi secara kasat mata. Ia merasa aman dari pengawasan, karena ketiadaan imannya pada yang ghaib. Inilah yang menyebabkan ketidakjujuran merajalela, sayangnya kelompok yang kedua ini banyak.
Renungkanlah apa yang Allah katakan, sebagaiman terdapat dalam surat Al-Baqarah ayat 2 dan 3 :" Dzaalikal kitaabu laa raybafiihi hudallilmuttaqiin (2) Alladziinayukmunuuna bilghaibi (3)", “Itulah Kitab (Al-Qur’an) yang tidak ada keraguan didalamnya, petunjuk bagi orang-orang yang bertaqwa, yaitu orang-orang yang beriman pada yang ghaib …”

Yang Kedua, mengapa begitu sulitnya kejujuran dalam kehidupan? Karena telah begitu banyaknya ketidakjujuran sehingga telah menjadi hukum yang dianggap biasa.
Artinya, karena telah begitu banyaknya orang-orang yang tidak jujur, dimana-mana ketidakjujuran dipertontonkan, akhirnya ketidakjujuran dianggap suatu hal yang lumrah dan menjadi biasa, sudah zamannya, kata mereka yang melegalkan ketidakjujuran. Maka orang-orang yang berupaya untuk berlaku jujur suaranya tidak akan didengar, keberadaannya tidak dianggap, malah di sematkan kata bodoh dengan  kejujurannya, dianggap aneh. Inilah yang menyebabkan kejujuran sulit untuk ditegakkan dan menunjukkan eksistensinya.

Kaum muslimin/muslimat yang dirahmati Allah !
Jika demikian kondisinya, apakah kita hanya akan berdiam diri dan pasrah pada keadaan dengan alasan ini sudah zamannya? Lalu kitapun akan menghalalkan ketidakjujuran dengan alasan ini sudah zamannya? Ooo…tidak ! Katakan sekali lagi tidak !
Zaman adalah milik kita, kita yang mengendalikan dan mengaturnya, dan kitalah yang membentuk zaman. Jangan kita sampai digilas oleh zaman yang dibentuk oleh orang-orang yang tidak jujur. Jika orang-orang yang tidak jujur itu mampu membentuk zaman dengan ketidakjujuran, apakah kita yang berada dalam nawaitu kebaikan untuk menegakkkan kejujuran tidak akan mampu pula menegakkan kejujuran? Memang, ini bukan perkara sederhana, tapi membutuhkan kesungguhan, dan segalanya harus dimulai dari diri sendiri. Camkanlah apa yang diwasiatkan oleh Rasulullah saw, sebagaimana Muslim meriwayatkan : “Kalian harus jujur, karena sesungguhnya jujur itu menunjukkan pada kebaikan dan kebaikan itu menunjukkan pada surga. Seseorang selalu jujur dan berupaya untuk jujur sehingga ditulis disisi Allah sebagai orang jujur. Dan jauhilah oleh kalian dusta, karena sesungguhnya dusta itu menunjukkan pada keburukan dan keburukan itu menunjukkan pada neraka. Seseorang selalu dusta dan berupaya untuk dusta sehingga ditulis disisi Allah sebagai seorang pendusta”.

Marilah ! Marilah membangun kejujuran dalam kondisi apapun, kalaupun semua orang memandang kita hina dengan kejujuran kita, itu lebih baik, dari pada kita dipandang mulia dengan ketidakjujuran kita. Sadarilah ! Hati itu cendrung kepada kebaikan, dan jujur itu kebaikan, maka ia akan tenang kala ia jujur walaupun ia tidak mendapatkan kedudukan dalam pandangan manusia. Dan hati itu akan gelisah kala ia bertentangan dengan kebaikan, sesungguhnya ketidakjujuran itu adalah penentangan pada kebaikan, maka ketidakjujuran akan membuat hati gelisah, walaupun manusia memandangnya mulia. Lalu apa yang kita harapkan dari hidup ini, kala kita dalam pandangan manusia mulia, tapi kita berada dalam kegelisan hati? Renungkanlah ! 

Kultum W.Khatib Bandaro : Mari Kita Jaga Diri dari Kedengkian

Materi Kultum Wendri Naldi Khatib Bandaro :

“MARI KITA JAGA DIRI DARI KEDENGKIAN”

Kaum muslimin/muslimat Rahimakumullah !

Apa yang menyebabkan Iblis enggan sujud kepada Nabi Adam a.s? Atau apa yang menyebabkan Abdullan bin Saba’ memprovokasi umat Islam yang lemah imannya untuk mengadakan huru hara hingga terpecahnya umat Islam? Ya, kedengkian. Itulah penyakit  yang berbahaya, sangat berbahaya. Kedengkian lahir dari hati yang merasa tidak senang atas keunggulan pihak lain. Iblis enggan sujud pada Nabi Adam a.s karena ia dengki dengan kemuliaan yang diberikan kepada Nabi Adam a.s. Tak terkecuali Abdullan bin Saba’, kedengkian yang lahir dari sosok yang berasal dari agama Yahudi terhadap Islam, sehingga memprovokasi umat Islam untuk saling membunuh dan menyerang saudaranya sendiri.

Kaum muslimin/muslimat Rahimakumullah !

Sungguh, kedengkian melahirkan perbuatan-perbuatan yang membahayakan. Kedengkian dapat dikatakan pangkal dari segala kejahatan dan keangkaramurkaan, menimbulkan permusuhan dan rusaknya tatanan hidup bermasyarakat. Ia lahir dari hati yang tidak merasa puas dengan apa yang ada, selalu melihat kelebihan yang dimiliki pihak lain dengan pandangan negatif dan kebencian, dan merasa bahwa kelebihan itu merupakan hal yang layak untuk dirinya.

Aduhai …kaum muslimin/muslimat Rahimakumullah !

Jika demikian berbahayanya kedengkian, bagaimana jika kedengkian itu bercokol diantara kita sesama yang mengaku Islam dan sama-sama beriman? Inilah bahaya besar. Betapa tidak? Tidakkah kita saksikan buah dari kedengkian – kedengkian yang dipertontonkan sebagian orang kepada kita - ? Ulama yang satu dengki dengan ulama yang lainnya, dengki karena kelebihan ilmunya, dengki karena besar pengaruhnya ditengah-tengah umat, sehingga muncul budaya saling menjatuhkan, ulama menjelekkan ulama, fatwa disalahkan dengan fatwa, tata cara ibadah dikritik dengan menggembor-gemborkan ini bid’ah, hanya karena berbeda dalam memahami masalah furu’  sebagai cabang-cabang agama. Muncullah firqah-firqah yang saling menyesatkan, saling merasa diri benar, saling merasa kami adalah pejuang sunnah, sementara kelompok-kelompok yang dianggap bersebrangan dengannya dianggap musuh.
Apa muara dari semua itu?
Kita sesama umat Islam,sama-sama mengaku beriman pada Allah swt. dan Rasul-Nya tapi memiliki permusuhan dalam hati. Terkadang secara kasat mata, lahiriyah, kita seakan-akan memiliki satu kesatuan, ditengah-tengah umat kita menunjukkan saling menghargai, saling mencintai, tapi dalam hati kita tertanam subur kebencian dan permusuhan yang lahir dari kedengkian. Antara satu kelompok dengan kelompok lain jika dalam keadaan bersama menunjukkan rasa`persatuan, namun dibelakang, mereka saling menjelek-jelekkan, menghujat hingga menjatuhkan fitnah, na’udzubillah. Sungguh besar bahaya kedengkian ini.
Mana rasa Ukhuwah Islamiyah yang kita dengung-dengungkan? Mana makna perbedaan pendapat yang kita anggap suatu hal yang lumrah? Mana makna hendaklah kita berlomba-lomba dalam kebaikan? Atau semua itu hanya slogan-slogan kamuflase yang sama sekali tidak menyentuh hati kita?
Wahaaa…iii kaum muslimin/muslimat Rahimakumullah ! Sadarlah ! Ini nampaknya zaman fitnah, ini zaman dimana kita berada dalam kungkungan dan lingkaran-lingkaran musuh-musuh Islam yang hendak menghancurkan kita dengan program adu domba. Bagi mereka, inilah metode yang paling ampuh untuk membinasakan umat Islam, dikarenakan bisa jadi mereka telah merasa tidak mampu menyerang kita secara fisik. Maka mereka serang kita secara pemikiran dan mental. Adu domba akan berhasil dengan baik kala dalam hati kita bersarang penyakit dengki. . Sebaliknya, adu domba hanya upaya yang bagaikan debu ditiup angin kala dalam diri kita jauh dari sifat kedengkian. Nyata sudah, kedengkian adalah jalan-jalan bagi musuh Islam untuk meloloskan program adu domba mereka.

Akhirnya, segalanya berpulang pada kita. Jika kita membuka jalan-jalan dari musuh-musuh kita yang hendak menghancurkan kita, mereka akan leluasa menyeringaikan taring-taringnya, namun jika kita memutus jalan-jalan itu, mereka akan berputus asa. Untuk itu, mari kita saling menjaga diri dan umat ini, dengan menumbuhkan sikap saling mencintai, dan ingatlah pesan Rasulullah saw dalam  hadits Mutafaqun Alaih :  ÙˆَلاَتحَسَدُÙˆْا, dan janganlah kamu saling mendengki, juga dikatakan dalam hadits yang sama :" wakuunuu ‘ibaadallaahi ikhwaanaa", “dan jadilah kamu hamba Allah yang bersaudara. Semoga.

Kultum W. Kh. Bandaro ; Mari Buktikan Ke-Islaman Kita

Materi Kultum Wendri Naldi Khatib Bandaro :

MARI BUKTIKAN KE-ISLAMAN KITA

 Kaum muslimin/muslimat Rahimakumullah !

Kita tahu, Islam itu artinya selamat. Artinya apa ? kala kita mengaku umat Islam berarti kita harus membawa keselamatan bagi umat manusia. Tapi, mengapa kit saksikan seolah-olah tindak kejahatan terindikasi banyak dilakukan oleh umat Islam? Kemungkaran terjadi dikalangan umat Islam? Korbannyapun umat Islam. Sederhana contohnya, siapa yang mencuri sandal di masjid? Atau membuat kotak infak raib? Apakah mungkin yang melakukannya umat non muslim yang jelas-jelas tidak pernah menginjakkan kakinya di masjid? Siapa lagi kalau bukan bukan terindikasi umat Islam pelakunya? Sekali lagi ini hanya indikasi, namun setidaknya menjadi bahan renungan akan kondisi kita selaku umat Islam hari ini, mengapa indikasi itu muncul.
Jika demikian apa maknanya kala kita bangga mengaku sebagai muslim? Dalam KTP kita, ditulis agama kita Islam, bahkan kita marah kala ke-Islaman kita dipertanyakan. Tapi  nilai-nilai ke-Islaman yang membawa keselamatan tidak membumi dalam kehidupan kita. Umat Islam yang satu terancam kedudukannya oleh umat Islam. Umat Islam yang lain merasa tidak aman dengan umat Islam yang lainnya pula.
Inilah fenomena penting yang perlu menjadi bahan renungan kita bersama, di dalam komunitas kita yang sesama Islam saja, kita tidak mampu mempertontonkan dan menunjukkan Islam sebagai agama keselamatan, lantas apakah mungkin kita akan mampu menunjukkan kepada seluruh dunia tentang kedamaian Islam sebagai Rahmatalil’aalamiin ?

Kaum muslimin/muslimat Rahimakumullah !

Apa yang menjadi penyebab utama dari semua ini?

Tiada lain, bisa jadi karena kita ber-Islam tak lebih hanya sekedar beragama belaka, kita tidak tahu mengapa harus menganut agama Islam, yang kita tahu agama Islam adalah agama yang dianut orang-orang sekitar kita, orang tua kita Islam, maka secara otomatis kitapun menjadi umat Islam, dengan sebutan muslim. Setelah itu ? Tidak ada.
Sehingga nilai-nilai Islam tidak menjadi karakter kita selaku umat Islam. Kita tak lebih telah merasa cukup mengaku Islam, yang tidak memiliki keinginan untuk menjadi umat Islam yang sesungguhnya. Hal tersebut dibuktikan dari sikap dan tindakan kita terhadap ke-Islaman kita yang sama sekali tidak menunjukkan sikap yang Islami.

Ketahuilah !

Seseorang yang benar-benar menjadikan Islam sebagai agamanya, akan tampak dalam amalan-amalan nyata. Sebab Islam itu tak sekedar diucapkan dan diteriak-teriakkan. Islam butuh pembuktian.
Tak syak lagi, seseorang hanya akan mencapai derajat ke-Islaman yang sesungguhnya kala ia memiliki keilmuan dan berpengetahuan tentang Islam, sebab dengan ilmu pengetahuan Islam itulah ia mampu untuk beramal. Dengan pemahaman akan keilmuan Islam ia akan mampu melaksanakan perintah dan meninggalkan larangan, mampu menunaikan keta’atan dan menjauhi segala larangan. Disanalah proses ke-Islaman itu nampak, memahami Islam dengan mempelajarinya, mengamalkan Islam, sehingga perilaku Islami nampak membumi ditengah-tengah kehidupan.

Apa yang kita lihat hari ini ?

Berapa persentase umat Islam yang bersedia mengecap pendidikan ke-Islaman, jika dibandingkan dengan keilmuan lain yang sifatnya umum? Ini bukan membedakan antara pendidikan Islam dengan umum, karena hakikatnya dalam Islam, setiap pendidikan yang mendatangkan manfaat merupakan karakter dari pendidikan Islam. Tapi yang perlu menjadi bahan intropeksi disini, berapa persentase umat Islam yang lebih cendrung pada pendidikan keduniaan mereka dibandingkan pada pendidikan ke-Islam-an mereka yang berorienatasi dunia akhirat? Dari jawabannya, demikianlah baru kadar ke-Islaman kita.
Jika demikian, maka jangan heran, jika Islam sebagai agama kedamaian, Rahmatallil’aalamiin, tidak dapat kita rasakan dari umat Islam sendiri, karena sebagian dari kalangan umat Islam itu sendiri hakikatnya tidak memahami mengapa ia harus menjadi umat Islam.

Untuk itu, wahaaa…iii kaum muslimin/muslimat Rahimakumullah !
Marilah kita berbenah !
Jika kita memang mengaku Islam, renungkanlah apa yang Allah swt. peringatkan, sebagaimana terdapat dalam al-Qur’an surat Ali Imran ayat 102 : walaatamuu tunna illaa waantummuslimuun, “ dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan menganut Islam”.
 Artinya; matilah, jika kamu telah benar-benar menjadi Islam; matilah dengan ber-Islam yang benar, amalan Islam yang benar, dan perilaku umat Islam yang Islami. Maka, syarat utama yang harus ditunaikan, kita selaku umat Islam harus berilmu tentang Islam, pelajarilah Islam, pahamilah makna dan  hakikat serta tuntutannya, dan amalkanlah dalam kehidupan, hingga jiwa dan perilku benar-benar Islami.
Fa’tabiru Ya Ulil Abshar La’allakum Turhamun

Selasa, 21 April 2015

Catatan Untuk Istriku Yang Tercinta (Laila Nisa) : Romantisme Kisah Cinta Kita

Istriku …

Ternyata segala sesuatu keindahan yang kita lihat dalam dunia ini, yang mungkin keindahan itu berada dalam ranah ide-ide atau dalam cerita dongeng, terutama tentang kisah-kisah romantisme, sekali lagi …ternyata, bukan kisah tak bermakna yang tak bisa diwujudkan apalagi dirasakan.

Jika …
Selama ini aku mungkin lebih banyak menemukan keindahan-keindahan kisah cinta yang bergelora dalam pahatan-pahatan kata para sastrawan ataupun penyair yang bisa jadi menurut sebagian hanyalah suatu khayalan imajinasi yang sulit diwujudkan dalam dunia nyata. Tapi …duhai…istriku …coba engkau dengar dan perhatikan apa yang hendak kuungkapkan padamu, tentang perasaan yang bergelora dalam kalbuku yang terdalam.  Aku ingin mengatakan padamu kisah romantisme itu ada dalam kehidupan kita, kehidupan kita yang seiring berjalannya waktu diluapi keindahan asmara yang begitu indah memukau.  Jiwaku merasa tenang kala berada didekatmu, kepulanganku untuk menemuimu adalah perasaan yang begitu indah, kerinduanku kala berada jauh darimu adalah mozaik-mozaik kehidupanku yang membuat aku merasakan buah pernikahan kita adalah buah terindah yang semoga bermaniskan taqwa.
Ketahuilah …godaan hidup bagi seorang laki-laki adalah kala dihadirkan kepadanya sosok perempuan yang cantik dan memukau, sehingga membawa pikiran dan jiwanya terbang pada angan-angan semu, jika tak sanggup menahan godaan itu, pikirannya akan terpedaya, hatinya akan rusak dan saksikanlah kesudahan orang-orang yang terpedaya dengan hal tersebut. Sungguh senjata ampuh bagi syetan untuk memperdayakan kaum lelaki adalah melalui pengaruh kaum hawa, karena memang dalam diri kaum hawa gambaran tentang keindahan begitu banyak dan memang sangat memperdaya.

Dan …
Aku laki-laki, dan tak mungkin akupun akan diperdaya oleh godaan itu, aku manusia yang tentunya juga menjadi musuh syetan. Tapi …duhai istriku …engkau telah melemahkan segala godaan itu, engkau telah menguatkan pondasi hidupku, bahkan engkau telah menjadi terdepan yang ikut meluluhlantakkan godaan tersebut hingga hancur berkeping-keping. Ya, kau hancurkan godaan itu dengan sikap dan caramu yang membuat aku tak tergoda dengan perempuan manapun, kau hadir dalam kehidupanku sebagai sosok istri yang begitu membuat aku harus mengakui engkau adalah perempuan terbaik yang memiliki harga diri yang takkan sanggup perempuan manapun untuk bercokol dalam hatiku.  Dengan demikian, engkau telah menjagaku dari godaan besar dalam hidup.

Duhaaa…iii…Lailaku…hanya engkau yang memenuhi relung-relung kalbuku, kau bangun kisah cinta kita layaknya kisah cinta dalam dunia sastra, kau goreskan tinta-tinta asmara kita dalam sastra keindahan kehidupan kita yang selalu membuat aku terkagum-kagum dengan dirimu.  Tak berlebihan jika aku memberikan contoh bagaimana kau begitu memukau diriku hingga tak mampu membuat aku terpedaya dengan perempuan manapun. Kala aku pulang, kau sambut dengan senyuman, kau ambil alih peralatan yang kubawa, sedikitpun, tak tampak dari rona wajahmu rasa berat untuk melakukannya bahkan pancaran keikhlasan yang menghiasi wajahmu yang memang harus aku akui, sangat cantik. Bukankah semua itu mungkin sering kita temukan dalam cerita-cerita dongeng atau novel yang jarang kita temukan dalam dunia nyata? Tapi kau telah mewujudkannya untukku.

Lalu, jika pulang adalah tempat aku mendapatkan kebahagiaan, jika istriku adalah puncak kebahagiaan, dan rumah tempat kita berteduh penuh dengan kedamaian, bermanfaatkah segala godaan diluar sana? Bermanfaatkah jarring-jaring syetan serapat apapun untuk memperangkapku?

Pesonamu Laila-ku membumbung ke awan
Tinggi pada puncak ketinggian kemuliaan
Malamku adalah kerlipan bintang yang kau taburkan
Menghiasi keindahan munajat pada Tuhan Pemilik Alam