Assalaamu'alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh
Puji syukur kepada Allah swt, shalawat buat Rasulullah saw
Beban
pikiran, galau, resah, rasa cemas akan beban hidup yang terasa menghimpit, adalah luka hati yang mendera, pilu dan
menyesak dalam dada, terkadang beban tersebut membuat pikiran kacau, hati
berdebar tak karuan, ada sesuatu yang terasa berat dalam dada, sampai-sampai
hal tersebut membuat kehidupan terasa kacau dan meresahkan, dalam setiap
bayang-bayang langkah kita beban itu menghantui , dalam shalat, dalam tidur
hingga terbawa mimpi. Dikala melihat anak kecil riang gembira tanpa beban,
ingin rasanya kita seperti mereka dikala beban hidup menghimpit kita. Disaat
menyaksikan orang-orang tertawa dengan segala keriangan mereka, malah beban itu
terasa semakin menusuk. Disaat-saat tertentu, kala kita berada dalam
kegembiraan, hati riang karena beban hidup terlupakan, namun ditengah keriangan
tersebut, menyusup kembali beban hidup tersebut, saat itu spontan hati kita
langsung anjlok pada titik nadir, keresahan menjalar keseluruh tubuh, dengan
sekejab, kegembiraan yang kita rasakan sebelumnya musnah, bagaikan debu yang
ditiup angin, tanpa bekas, sehingga nikmat kegembiraan seakan-akan tidak pernah
kita rasakan.
Ya,
dalam bentuk apapun, beban tetaplah beban, yang namanya beban tentunya berat
untuk dipikul, saat itu sulit hati ini menerima nasehat dari siapapun, dunia
terasa sempit, kita selalu merasa dikejar-kejar, bagaimanapun orang-orang
menghibur kita, tak lebih hanya sekedar basa-basi dalam pandangan kita. Karena
bagi kita, beban tersebut hanya kita yang merasakan, sementara orang yang
menghibur kita sama sekali tidak merasakan. Keinginan
kita yang tertinggi kala itu, tiada lain, solusi yang benar-benar nyata dan
dapat kita rasakan langsung, baru hati kita akan tenang, baru beban itu akan
terasa lepas. Sungguh beban hidup terkadang membuat kita tidak lagi berpikir
realistis, bahkan kita sangat berharap
dengan sesuatu yang instan, serba cepat, bagaimana beban itu cepat keluar dari
kehidupan kita.
Saudaraku
…
Berat
memang beban hidup, tapi bagaimanapun, berat bukan berarti tidak harus dipikul,
engganpun kita memikul toh tetap beban itu tetap membuat kita harus memikulnya,
pada pondasi ini, yang kita butuhkan adalah menata hati, sembari tetap mencari
jalan keluar dari beban hidup yang kita tanggung. Menata hati bukanlah perkara
yang mudah, namun Insya Allah dengan mencoba mengikhlaskan segala apa yang
dilakukan, apa yang kita harapkan terwujud. Sekali lagi hal ini bukan hal yang
mudah, namun yakinlah Allah swt akan menguatkan kita, jika kita bersedia untuk
melakukannya, bukankah kita punya Allah swt tempat kita menggantungkan segala
permasalahan.
Aduhai
… alangkah indahnya … jika hati ini bersedia memahami …
Pertama,
Beban hidup yang terasa berat, rasakanlah semua itu sebagai tempat untuk
melatih diri menghadapi sesuatu yang
berat, bisa jadi beban yang diberikan Allah swt yang terasa berat untuk kita
sebagai wadah untuk melatih kita dalam melakukan hal-hal berat dalam urusan
kehidupan selanjutnya, kita mungkin telah dirancang oleh Allah swt untuk
memikul beban-beban yang tidak mampu dipikul oleh seluruh orang, hanya
orang-orang tertentu yang bisa memikulnya, bisa jadi kita adalah orang-orang
tertentu tersebut yang dipersiapkan oleh Allah swt untuk memikul beban-beban
tersebut, jika memang benar hal yang demikian, berarti kita bukanlah orang
kebanyakan, tapi orang-orang pilihan, bukankah pilihan adalah bibit unggul yang
dibanggakan, tidak bersediakah kita menjadi pilihan tersebut ? Dalam tahap ini,
ajaklah hati untuk berdamai, bersyukurlah, semoga kita menjadi orang pilihan
tersebut.
Kedua,
selama beban itu berkaitan masalah keduniaan, seperti sulitnya mencari nafkah, cemas
akan kezaliman orang lain, takut akan ketidakadilan, dan segaal hal yang
membuat kita terbebani dalam urusan yang tidak menyangkut agama kita, maka …
duhai hati, kuatlah, karena semua itu
akan berakhir didunia ini, dikala nyawa telah melepaskan diri dari jasad, semua
itu akan ikut lepas dan tidak akan membawa sisa untuk kehidupan selanjutnya.
Memang berat, hidup mungkin terasa lama dengan beban itu, tapi sadarkah engkau
wahai hati, terasa lama hanya karena ia terasa sangat menghimpit, biarkan saja
himpitan itu, sibukkan diri kita dengan selalu mengelola hati dan pikiran agar
terfokus pada urusan agama, urusan agama yang akan membuat hati diliputi rasa
tenang, puas dan harapan akan keselamatan hidup, baik didunia maupun diakhirat.
Hidup di dunia ini misteri, tak ada yang tahu apa yang akan terjadi esok akan
lusa, semuanya berada dalam genggaman Allah swt, sesuatu yang kita cemaskan
belum tentu terjadi, walaupun pengalaman telah membuktikan, karena pengalaman
adalah masa lalu yang belum tentu akan sama dimasa yang akan datang, walaupun
telah menimpa orang lain, namun bukan berarti akan menimpa kita. Satu hal yang
perlu kita tanamkan dalam hati, hujamkan ke dasar yang paling dalam, bukankah
kita memiliki Allah swt yang selalu menolong hamba-Nya, dikala hamba-Nya patuh akan
ketentuan yang Ia tetapkan.
" Karena sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan
Sesungguhnya
bersama kesulitan itu ada kemudahan ”
( T.Q.S. Al-Insyirah [
94 ] : 5-6 )
Assalaamu'alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh
Tidak ada komentar:
Posting Komentar