WENDRI NALDI EL-MANINJAUI KHATIB BANDARO

WENDRI NALDI EL-MANINJAUI KHATIB BANDARO
WENDRI NALDI EL-MANINJAUI KHATIB BANDARO

Senin, 06 Februari 2012

Ketahuilah beban hidup, Aku memiliki Allah swt tempat mengadu


Assalaamu'alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh

Puji syukur kepada Allah swt, shalawat buat Rasulullah saw

Beban pikiran, galau, resah, rasa cemas akan beban hidup yang terasa menghimpit,  adalah luka hati yang mendera, pilu dan menyesak dalam dada, terkadang beban tersebut membuat pikiran kacau, hati berdebar tak karuan, ada sesuatu yang terasa berat dalam dada, sampai-sampai hal tersebut membuat kehidupan terasa kacau dan meresahkan, dalam setiap bayang-bayang langkah kita beban itu menghantui , dalam shalat, dalam tidur hingga terbawa mimpi. Dikala melihat anak kecil riang gembira tanpa beban, ingin rasanya kita seperti mereka dikala beban hidup menghimpit kita. Disaat menyaksikan orang-orang tertawa dengan segala keriangan mereka, malah beban itu terasa semakin menusuk. Disaat-saat tertentu, kala kita berada dalam kegembiraan, hati riang karena beban hidup terlupakan, namun ditengah keriangan tersebut, menyusup kembali beban hidup tersebut, saat itu spontan hati kita langsung anjlok pada titik nadir, keresahan menjalar keseluruh tubuh, dengan sekejab, kegembiraan yang kita rasakan sebelumnya musnah, bagaikan debu yang ditiup angin, tanpa bekas, sehingga nikmat kegembiraan seakan-akan tidak pernah kita rasakan.

Ya, dalam bentuk apapun, beban tetaplah beban, yang namanya beban tentunya berat untuk dipikul, saat itu sulit hati ini menerima nasehat dari siapapun, dunia terasa sempit, kita selalu merasa dikejar-kejar, bagaimanapun orang-orang menghibur kita, tak lebih hanya sekedar basa-basi dalam pandangan kita. Karena bagi kita, beban tersebut hanya kita yang merasakan, sementara orang yang menghibur kita sama sekali tidak merasakan. Keinginan kita yang tertinggi kala itu, tiada lain, solusi yang benar-benar nyata dan dapat kita rasakan langsung, baru hati kita akan tenang, baru beban itu akan terasa lepas. Sungguh beban hidup terkadang membuat kita tidak lagi berpikir realistis, bahkan kita  sangat berharap dengan sesuatu yang instan, serba cepat, bagaimana beban itu cepat keluar dari kehidupan kita.

Saudaraku …

Berat memang beban hidup, tapi bagaimanapun, berat bukan berarti tidak harus dipikul, engganpun kita memikul toh tetap beban itu tetap membuat kita harus memikulnya, pada pondasi ini, yang kita butuhkan adalah menata hati, sembari tetap mencari jalan keluar dari beban hidup yang kita tanggung. Menata hati bukanlah perkara yang mudah, namun Insya Allah dengan mencoba mengikhlaskan segala apa yang dilakukan, apa yang kita harapkan terwujud. Sekali lagi hal ini bukan hal yang mudah, namun yakinlah Allah swt akan menguatkan kita, jika kita bersedia untuk melakukannya, bukankah kita punya Allah swt tempat kita menggantungkan segala permasalahan.

Aduhai … alangkah indahnya … jika hati ini bersedia memahami …

Pertama, Beban hidup yang terasa berat, rasakanlah semua itu sebagai tempat untuk melatih diri menghadapi  sesuatu yang berat, bisa jadi beban yang diberikan Allah swt yang terasa berat untuk kita sebagai wadah untuk melatih kita dalam melakukan hal-hal berat dalam urusan kehidupan selanjutnya, kita mungkin telah dirancang oleh Allah swt untuk memikul beban-beban yang tidak mampu dipikul oleh seluruh orang, hanya orang-orang tertentu yang bisa memikulnya, bisa jadi kita adalah orang-orang tertentu tersebut yang dipersiapkan oleh Allah swt untuk memikul beban-beban tersebut, jika memang benar hal yang demikian, berarti kita bukanlah orang kebanyakan, tapi orang-orang pilihan, bukankah pilihan adalah bibit unggul yang dibanggakan, tidak bersediakah kita menjadi pilihan tersebut ? Dalam tahap ini, ajaklah hati untuk berdamai, bersyukurlah, semoga kita menjadi orang pilihan tersebut.

Kedua, selama beban itu berkaitan masalah keduniaan, seperti sulitnya mencari nafkah, cemas akan kezaliman orang lain, takut akan ketidakadilan, dan segaal hal yang membuat kita terbebani dalam urusan yang tidak menyangkut agama kita, maka … duhai  hati, kuatlah, karena semua itu akan berakhir didunia ini, dikala nyawa telah melepaskan diri dari jasad, semua itu akan ikut lepas dan tidak akan membawa sisa untuk kehidupan selanjutnya. Memang berat, hidup mungkin terasa lama dengan beban itu, tapi sadarkah engkau wahai hati, terasa lama hanya karena ia terasa sangat menghimpit, biarkan saja himpitan itu, sibukkan diri kita dengan selalu mengelola hati dan pikiran agar terfokus pada urusan agama, urusan agama yang akan membuat hati diliputi rasa tenang, puas dan harapan akan keselamatan hidup, baik didunia maupun diakhirat. Hidup di dunia ini misteri, tak ada yang tahu apa yang akan terjadi esok akan lusa, semuanya berada dalam genggaman Allah swt, sesuatu yang kita cemaskan belum tentu terjadi, walaupun pengalaman telah membuktikan, karena pengalaman adalah masa lalu yang belum tentu akan sama dimasa yang akan datang, walaupun telah menimpa orang lain, namun bukan berarti akan menimpa kita. Satu hal yang perlu kita tanamkan dalam hati, hujamkan ke dasar yang paling dalam, bukankah kita memiliki Allah swt yang selalu menolong hamba-Nya, dikala hamba-Nya patuh akan ketentuan yang Ia tetapkan. 

" Karena sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan
Sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan ”
( T.Q.S. Al-Insyirah [ 94 ] : 5-6 )

Assalaamu'alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh

Tidak ada komentar:

Posting Komentar