Assalaamu'laikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh
Puji syukur kepada Allah swt, shalawat buat Rasululullah saw
Cinta,
ungkapan yang mebuat jiwa bergetar karena aromanya. Cinta, bahasa hati yang
membuat siapa saja akan mendongakkan kepalanya dikala mendengar kalimat itu
terlontarkan. Cinta, kata yang selalu ingin dimiliki oleh setiap makhluk. Namun
disisi lain, cinta malah bumerang yang membuat hati merana. Cinta merupakan
bahasa yang sangat dibenci oleh
orang-orang yang nestapa. Cinta adalah pengkhianatan hidup bagi orang yang
tersakiti. Cinta adalah racun mematikan yang mampu membuat orang bunuh diri.
Cinta, membuat rasa malu hilang ditelan nafsu. Cinta mengubah rasa menjadi
kasar.
Demikianlah
cinta itu menunjukkan eksistensinya, ia menjadi raja dan menguasai makhluk
dengan sekehendaknya, tidak toleran dan membabi buta. Keangkuhannya sulit untuk
dibendung, kekuatannya tak terkalahkan, pengaruhnya begitu menyentak tak
terperikan.
Setiap
insan memiliki cinta, dan rindu sekaligus membenci cinta. Cinta bagian hidup
yang tak terpisahkan. Sehingga bermunculan istilah-istilah cinta yang mendera;
cinta buta, jatuh cinta, putus cinta, rasa cinta, gejolak cinta, kekasih
tercinta, yang tercinta, hingga aduhai…
aku mencintaimu sepenuh jiwa.
Bagi
seorang muslim, cinta merupakan rasa terindah dari anugrah yang Allah swt
titipkan ke dalam jiwa, dengan cinta Allah swt tanamkan rasa saling mencintai
sesama saudara seiman, dengan cinta Allah swt bakar semangat jihad hingga
menumbuhkan rasa perindu akan kesyahidan. Dengan cinta kedengkian orang lain
dapat dimaafkan. Bahkan dengan cintalah tegaknya kalimat Allah swt dipermukaan
bumi.
Namun
terkadang cinta bagi seorang muslim juga mampu memunculkan hal-hal yang
dilematis, dikala cinta akan dunia harus mengalami pertaruhan dengan cinta akan
kebahagiaan akhirat yang hakiki. Cinta ini berada dalam medan tempur antara
pertarungan akal dan nafsu, maka hatilah yang akan mengejewantahkannya menjadi
perilaku. Dikala akal dikalahkan oleh nafsu dalam pertarungan memperebutkan
cinta, maka jatuhlah manusia pada cinta buta yang membinasakan. Itulah cinta
akan harta, tahta dan keindahan fatamorgana. Cinta yang akan membuat manusia
lupa untuk apa ia diciptakan, cinta yang melahirkan pengkhianatan akan janji
yang telah diikrarkan dikala ruh akan ditiupkan
kealam rahim. Cinta yang akan menumpulkan rasa akan bahaya dosa. Inilah
cinta yang dipropagandakan oleh tentara syetan. Jatuhlah manusia pada barisan
kafilah syetan. Maka engkau jangan heran, dikala menemukan betapa banyak
orang-orang yang melakukan kemaksiatan, namun sama sekali ia seakan-akan tidak
merasakan sedikitpun bahwa yang ia lakukan adalah maksiat, malah ia merasa
nikmat dikala melakukannya, tanpa beban, tanpa ada rasa takut akan bahaya yang
menimpanya, karena memang cinta telah membuat ia buta. Bukankah syetan itu
menunjukkan sesuatu yang jelek indah dipandang mata ?
Saudaraku
… !
Sebagai
seorang muslim, ketika hati telah dibakar gelora api cinta, kita mungkin punya
keinginan bagaimana kobaran api itu berlabuh pada kodratnya yang mulia, mencari
sang pemberi cinta itu, yakni Allah swt. Kita berharap, bahkan kita pancangkan
nawaitu yang tulus bahwa api cinta yang bergelora ini, jika toh harus terpatri
pada kecintaan akan ciptaan-Nya hendaknya tetaplah dalam rangka pencarian akan
cinta-Nya yang hakiki. Dalam artian cinta kita akan cipataan-Nya tetap bermuara
pada karena kecintaan kita pada Sang Pemilik cinta tersebut. Inilah basaha cinta
kita yang disebut, “ Mencintai sesuatu karena Allah swt ”, puitis memang
bahasanya, namun semua itu bukanlah hal mudah, karena seperti yang dikatakan
tadi, ada pertarungan alot antara akal dan nafsu yang menentukannya, bahayanya jika kecendrungan pada nafsu lebih mendominasi jiwa kita dari pada
kecendrungan pada kekuatan akal. Maka disinilah kekuatan iman itu
dipertaruhkan. Hanya imanlah yang mampu menetralisir semua itu hingga cinta
menjadi sebuah kenikmatan yang akan mengantarkan kita pada cahaya hidayah Allah
swt.
Saudaraku
…
Duri-duri
untuk mempertahankan keimanan ini sangat tajam, begitu tajam dan menyakitkan.
Hanya jiwa-jiwa yang sabar dan pemberani yang dilumuri dengan keikhlasan yang
mampu melaluinya. Duri itu adalah cobaan, sebagai pengukur kadar sejauhmana
kekuatan iman itu terpancang. Pernahkah antum merasakan, dikala mencoba
membangun mahligai cinta terhadap ciptaan Allah swt dengan segala kekuatan agar
cinta yang dibangun dengan pondasi iman mampu mengantarkan cinta pada kecintaan
terhadap Allah swt ? Dikala antum mencintai seseorang misalnya, antum mencoba
untuk mencintai sosok itu dikarenakan bukan harta, jabatan dan keduniaanya,
tapi karena keshalehannya, keta’atannya, akhlak terpujinya, yakni mencintainya
karena ia mencintai Allah swt, tapi ternyata sosok itu tidak mencintai antum,
bahkan tidak peduli dengan cinta antum, dan tidak mau tahu dengan kecintaan
antum yang tulus. Pada titik ini bagaimana perasaan antum ?
Disinilah
ujian iman itu dipertanyakan ? Masihkah kita bertahan dengan kondisi keimanan
kita untuk bertahan dengan prinsip bahwa kita mencintainya karena Allah swt
dikala cinta kita ditolak, bahkan untuk dikasihanipun tidak oleh orang yang
kita cintai, yang menurut kita cinta kita berdasarkan iman yang kokoh.
Ooooh
!!! Sungguh suatu hal yang sangat berat untuk menetapkan sebuah keputusan, jika
hati kita merasa marah, sakit, tersakiti, karena ketulusan kita sama sekali
tidak mendapat tempat, hingga berujung pada asumsi, dan mempertanyakan, mengapa
cinta yang telah dibangun dengan ketulusan iman, tapi berujung pada kekecewaan
? Sekali lagi, jika hal ini yang kita pertanyakan, ketahuilah kita telah
tertusuk oleh duri-duri keimanan yang tajam, kita telah jatuh pada cinta yang
dikuasai oleh nafsu. Pada saat itu, layakkah kita mengaku, bahwa kita berharap
cinta hanya kepada Allah swt ? Jawabannya kita telah tahu, dan sangat
mengetahui, ternyata kita masih jauh untuk layak mendapat cinta dari Allah swt.
Karena kita sebenarnya, baru layak untuk dikasihani, bukan untuk dicintai.
Renungkanlah … Sungguh ini sangat bermanfaat untuk hati kita yang dirundung
cinta, hati yang rindu akan cinta Ilahi.
Assalaamu'laikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh
Tidak ada komentar:
Posting Komentar