WENDRI NALDI EL-MANINJAUI KHATIB BANDARO

WENDRI NALDI EL-MANINJAUI KHATIB BANDARO
WENDRI NALDI EL-MANINJAUI KHATIB BANDARO

Senin, 06 Februari 2012

Layakkah Kita Mendapatkan Cinta Ilahi


Assalaamu'laikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh

Puji syukur kepada Allah swt, shalawat buat Rasululullah saw

Cinta, ungkapan yang mebuat jiwa bergetar karena aromanya. Cinta, bahasa hati yang membuat siapa saja akan mendongakkan kepalanya dikala mendengar kalimat itu terlontarkan. Cinta, kata yang selalu ingin dimiliki oleh setiap makhluk. Namun disisi lain, cinta malah bumerang yang membuat hati merana. Cinta merupakan bahasa yang sangat dibenci  oleh orang-orang yang nestapa. Cinta adalah pengkhianatan hidup bagi orang yang tersakiti. Cinta adalah racun mematikan yang mampu membuat orang bunuh diri. Cinta, membuat rasa malu hilang ditelan nafsu. Cinta mengubah rasa menjadi kasar.

Demikianlah cinta itu menunjukkan eksistensinya, ia menjadi raja dan menguasai makhluk dengan sekehendaknya, tidak toleran dan membabi buta. Keangkuhannya sulit untuk dibendung, kekuatannya tak terkalahkan, pengaruhnya begitu menyentak tak terperikan.

Setiap insan memiliki cinta, dan rindu sekaligus membenci cinta. Cinta bagian hidup yang tak terpisahkan. Sehingga bermunculan istilah-istilah cinta yang mendera; cinta buta, jatuh cinta, putus cinta, rasa cinta, gejolak cinta, kekasih tercinta, yang tercinta, hingga  aduhai… aku mencintaimu sepenuh jiwa.

Bagi seorang muslim, cinta merupakan rasa terindah dari anugrah yang Allah swt titipkan ke dalam jiwa, dengan cinta Allah swt tanamkan rasa saling mencintai sesama saudara seiman, dengan cinta Allah swt bakar semangat jihad hingga menumbuhkan rasa perindu akan kesyahidan. Dengan cinta kedengkian orang lain dapat dimaafkan. Bahkan dengan cintalah tegaknya kalimat Allah swt dipermukaan bumi.

Namun terkadang cinta bagi seorang muslim juga mampu memunculkan hal-hal yang dilematis, dikala cinta akan dunia harus mengalami pertaruhan dengan cinta akan kebahagiaan akhirat yang hakiki. Cinta ini berada dalam medan tempur antara pertarungan akal dan nafsu, maka hatilah yang akan mengejewantahkannya menjadi perilaku. Dikala akal dikalahkan oleh nafsu dalam pertarungan memperebutkan cinta, maka jatuhlah manusia pada cinta buta yang membinasakan. Itulah cinta akan harta, tahta dan keindahan fatamorgana. Cinta yang akan membuat manusia lupa untuk apa ia diciptakan, cinta yang melahirkan pengkhianatan akan janji yang telah diikrarkan dikala ruh akan ditiupkan  kealam rahim. Cinta yang akan menumpulkan rasa akan bahaya dosa. Inilah cinta yang dipropagandakan oleh tentara syetan. Jatuhlah manusia pada barisan kafilah syetan. Maka engkau jangan heran, dikala menemukan betapa banyak orang-orang yang melakukan kemaksiatan, namun sama sekali ia seakan-akan tidak merasakan sedikitpun bahwa yang ia lakukan adalah maksiat, malah ia merasa nikmat dikala melakukannya, tanpa beban, tanpa ada rasa takut akan bahaya yang menimpanya, karena memang cinta telah membuat ia buta. Bukankah syetan itu menunjukkan sesuatu yang jelek indah dipandang mata ?

Saudaraku … !

Sebagai seorang muslim, ketika hati telah dibakar gelora api cinta, kita mungkin punya keinginan bagaimana kobaran api itu berlabuh pada kodratnya yang mulia, mencari sang pemberi cinta itu, yakni Allah swt. Kita berharap, bahkan kita pancangkan nawaitu yang tulus bahwa api cinta yang bergelora ini, jika toh harus terpatri pada kecintaan akan ciptaan-Nya hendaknya tetaplah dalam rangka pencarian akan cinta-Nya yang hakiki. Dalam artian cinta kita akan cipataan-Nya tetap bermuara pada karena kecintaan kita pada Sang Pemilik cinta tersebut. Inilah basaha cinta kita yang disebut, “ Mencintai sesuatu karena Allah swt ”, puitis memang bahasanya, namun semua itu bukanlah hal mudah, karena seperti yang dikatakan tadi, ada pertarungan alot antara akal dan nafsu yang menentukannya, bahayanya jika kecendrungan pada nafsu lebih mendominasi jiwa kita dari pada kecendrungan pada kekuatan akal. Maka disinilah kekuatan iman itu dipertaruhkan. Hanya imanlah yang mampu menetralisir semua itu hingga cinta menjadi sebuah kenikmatan yang akan mengantarkan kita pada cahaya hidayah Allah swt.

Saudaraku …

Duri-duri untuk mempertahankan keimanan ini sangat tajam, begitu tajam dan menyakitkan. Hanya jiwa-jiwa yang sabar dan pemberani yang dilumuri dengan keikhlasan yang mampu melaluinya. Duri itu adalah cobaan, sebagai pengukur kadar sejauhmana kekuatan iman itu terpancang. Pernahkah antum merasakan, dikala mencoba membangun mahligai cinta terhadap ciptaan Allah swt dengan segala kekuatan agar cinta yang dibangun dengan pondasi iman mampu mengantarkan cinta pada kecintaan terhadap Allah swt ? Dikala antum mencintai seseorang misalnya, antum mencoba untuk mencintai sosok itu dikarenakan bukan harta, jabatan dan keduniaanya, tapi karena keshalehannya, keta’atannya, akhlak terpujinya, yakni mencintainya karena ia mencintai Allah swt, tapi ternyata sosok itu tidak mencintai antum, bahkan tidak peduli dengan cinta antum, dan tidak mau tahu dengan kecintaan antum yang tulus. Pada titik ini bagaimana perasaan antum ?

Disinilah ujian iman itu dipertanyakan ? Masihkah kita bertahan dengan kondisi keimanan kita untuk bertahan dengan prinsip bahwa kita mencintainya karena Allah swt dikala cinta kita ditolak, bahkan untuk dikasihanipun tidak oleh orang yang kita cintai, yang menurut kita cinta kita berdasarkan iman yang kokoh.

Ooooh !!! Sungguh suatu hal yang sangat berat untuk menetapkan sebuah keputusan, jika hati kita merasa marah, sakit, tersakiti, karena ketulusan kita sama sekali tidak mendapat tempat, hingga berujung pada asumsi, dan mempertanyakan, mengapa cinta yang telah dibangun dengan ketulusan iman, tapi berujung pada kekecewaan ? Sekali lagi, jika hal ini yang kita pertanyakan, ketahuilah kita telah tertusuk oleh duri-duri keimanan yang tajam, kita telah jatuh pada cinta yang dikuasai oleh nafsu. Pada saat itu, layakkah kita mengaku, bahwa kita berharap cinta hanya kepada Allah swt ? Jawabannya kita telah tahu, dan sangat mengetahui, ternyata kita masih jauh untuk layak mendapat cinta dari Allah swt. Karena kita sebenarnya, baru layak untuk dikasihani, bukan untuk dicintai. Renungkanlah … Sungguh ini sangat bermanfaat untuk hati kita yang dirundung cinta, hati yang rindu akan cinta Ilahi.

Assalaamu'laikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh

Tidak ada komentar:

Posting Komentar