Jika engkau dituntut untuk mencari shahabat yang
dapat menyelamatkanmu, kau juga harus mampu membawa keselamatan bagi
shahabatmu, tidak layak jika kau mencari shahabat yang baik, sementara dirimu
sendiri tidak menjadi shahabat yang baik bagi orang lain.
Bergaullah sesama manusia dengan akhlak yang
baik (H.R. Turmidzi), demikian petuah Rasulullah saw. Berlaku baiklah pada
shahabatmu, jangan kau pernah membuat ia tersakiti sekecil apapun, jangan
pernah kau membiarkan ia teraniaya dan terzhalimi, walau kau hanya mampu membantu
dalam untaian do’a. Jika ia membutuhkan bantuanmu dari segi harta, maka
bantulah sebisamu, jika ia sakit jenguklah, jika ia kesulitan maka permudahlah
urusannya. Kewajibanmu pada shahabatmu hendaknya seperti kau mencintai dan
kewajibamu bagi dirimu sendiri.
Yang dimaksud shahabatmu disinilah tentulah yang
seakidah denganmu, orang yang beriman, maka perlakukanlah ia sebagaimana
Rasulullah saw. telah mencontohkan bagaimana memperlakukan shahabat beliau.
Sebagaiman para shahabat Rasulullah saw. bersikap dalam bershahabat diantara
mereka. Tidak saling mencaci, tidak saling menyalahkan dan tidak saling
menjatuhkan. Tapi saling mencintai karena Allah swt., saling mengingatkan kala
salah, dan saling memperkokoh keimanan.
Jangan kau selalu ingin menjadi yang lebih
unggul dibanding shahabatmu hingga kau berupaya menjatuhkannya, berupayalah
untuk ber-fastabiqul khairat dalam menuju puncak ketaqwaan. Jika kau
berupaya menjadi orang bertaqwa, maka berupayalah membantu shahabatmu agar
iapun menjadi taqwa.
Kala kau mendapatkan kenikmatan hidup, dalam
bentuk apapun, berupayalah agar shahabatmu juga mendapatkan kenikmatan yang
engkau dapatkan. Paling kurang kau berbagi dengannya dengan kenikmatan yang ada
padamu. Satu kenikmatan terbagi lebih baik dari pada kenikmatan yang hanya
dimiliki secara penuh tapi dibawah kenikmatan itu shahabatmu menderita.
Terhadap seseorang yang tidak menjadi
shahabatmu, karena kejelekan akhlaknya, hingga engkau tidak memilihnya,
tetaplah berlaku baik padanya, jangan kau membenci dan memusuhinya. Memang kita
harus untuk memilih siapa yang hendak menjadi shahabat, tapi itu bukan berarti
kita harus membeda-bedakan antara satu orang dengan lainnya. Ini dalam artian jangan
kau jauhi orang yang tidak menjadi shahabatmu karena memang ia tidak layak
menjadi shahabatmu, tapi jangan pula kau jadikan shahabat, jadikanlah ia objek
yang hendak kau bawa pada jalan yang benar hingga kau kelak berharap dapat
merangkulnya menjadi shahabatmu.
Tapi jalan ini berbahaya dan penuh rintangan,
kau harus berhati-hati. Sebab, bisa jadi nawaitumu baik, hendak merangkulnya ke
jalan yang kamu kehendaki, namun karena kecerobohan malah kau yang terseret dan
dirangkulnya. Untuk itu hati-hati, kau harus tahu rambu-rambu yang harus
ditempuh dalam pershahabatan, dan rambu-rambu memperlakukan seseorang yang telah
jadi shahabat serta rambu-rambu seseorang yang hendak dijadikan shahabat.
Rambu itu jelas, nyata dan telah digariskan.
Cukup kau jadikan pemahaman pershahabatan yang telah -perkehidupan Rasulullah
saw., dalami Sirah Nabawiyah. Pahamilah kehidupan para shahabat dalam
menunaikan hak pershahabatan, bacalah kitab-kitab ulama yang menjelaskan
panjang lebar dalam hal ini.
Jangan kau berpegang pada prinsip pershahabatan
yang tidak memiliki landasan yang jelas, atau kau berpedoman pada prinsip
pershahabatan yang diajarkan dalam dongeng –dongeng penuh mitos, apalagi hanya
merujuk pada perilaku yang umum dilakukan manusia. Sebab semua itu tidak
menjadi jaminan akan hakikat pershahabatan yang sesungguhnya.
Ketahuilah …, kau punya contoh, kau punya keteladanan,
kau punya warisan mutiara yang berharga dalam meniti pershahabatan, cukup kau
berpegang padanya. Itulah keteladanan Rasulullah saw., para shahabat beliau,
hingga catatan pena dan tintanya ulama.
Disana kau akan temukan, bagaimana cara
memperlakukan seorang yang beriman dalam pershabatan. Disana kau akan
terkagum-kagum bagaimana hebatnya keutamaan memperlakukan orang beriman dalam
pershahabatan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar