Ketahuilah …seseorang sangat dipengaruhi dengan
siapa ia bershahabat, shahabat itulah yang akan mewarnainya. Suatu keharusan
bagi engkau untuk memilah dan memilih siapa yang layak engkau jadikan shahabat.
Jangan kau terpedaya dengan ucapan-ucapan atau
anggapan-anggapan dengan selubung yang menyatakan bahwa dalam hidup ini tidak
boleh pilih kasih terhadap manusia, lantas diharuskan bershahahat dengan siapa
saja.
Ooo …tidak, kau harus memilih siapa yang akan menjadi shahabatmu. Kau
harus menentukan siapa shahabat yang layak membawamu pada kebaikan, dan itu
hanya diperoleh dengan pilihan.
Bershahabatlah dengan orang-orang shaleh, ahli
ibadah, dan para penegak amar ma’ruf nahi mungkar. Dengan keshalehannya akan
membawa dirimu menjadi orang shaleh, dengan ibadahnya akan menimbulkan
kegemaran pada dirimu untuk bersemangat menunaikan ibadah, dan dengan kekuatan
azzamnya dan ketangguhan dalam beramar am’ruf nahi mungkar menjadi keteladanan
bagimu bahwa perjuangan menegakkan Izzah Islam wal Muslimin suatu keharusan.
Cukup kau jadikan pelajaran, kala kau
menyaksikan betapa seseorang semenjak kecilnya kala dibina dan ditempa dengan
cara yang baik oleh orang tuanya, namun kala ia menemukan shahabat yang jahat,
iapun berubah menjadi jahat. Dan bisa pula kau jadikan i’tibar (pelajaran),
kala kau menyaksikan orang yang tidak tampak tanda-tanda kebaikan dalam perilakunya, namun kala ia bersentuhan
dengan orang baik ia berubah menjadi baik.
Shahabat yang baik bukanlah shahabat yang selalu
memujimu, atau yang selalu memberi sesuatu padamu. Bukan pula shahabat yang
baik adalah shahabat yang selalu membelamu dalam keadaan apapun walaupun kau
melakukan kesalahan, namun ia selalu memberi pembenaran akan tindakanmu, dengan
alasan karena ia menjaga pershahabatan. Sungguh shahabat yang demikian adalah
shahabat yang celaka, hindarilah bershahabat dengan golongan ini.
Ketahuilah …, shahabat yang baik adalah shahabat
yang menegurmu kala kau salah, dan ia menjelaskan kesalahan itu padamu walau
kau akan marah dengannya. Shahabat yang baik adalah shahabat yang menjaga aibmu
dan termasuk keluargamu serta kerabatmu. Shahabat yang baik adalah shahabat
yang tidak merasa apa yang dimilikinya itu adalah milik pribadinya, tapi ia
berupaya membagi denganmu. Shahabat yang baik tidak bermanis-manisan padamu,
caranya bergaul tidak berlebihan dengan dirimu, tapi ia menunjukkan kecintaan
padamu. Ia selalu menjaga harga dirimu, ia marah kalau kau dicela, dan iapun
marah padamu kala mendapati kau suka mencela saudara se-iman. Itulah golongan
orang-orang shaleh, ahli ibadah dan penyeru pada kebaikan.
Maka bergaullah dengan mereka, contohlah apa
yang mereka lakukan, ikuti apa yang mereka lakukan, niscaya kau akan merasakan
makna bahwa seseorang itu akan dipengaruhi dengan siapa ia bershahabat.
Jika kau tidak menemukan seseorang yang layak
dijadikan shahabat, menyendiri bagimu lebih baik dari pada bergaul dengan
pelaku keburukan. Kau dicela lebih baik dari pada kau diseret pada kehinaan,
kau disingkirkan dalam pergaulan dunia lebih baik dari pada kelak di akhirat
kau disingkirkan dari golongan barisan panjang orang-orang shaleh.
Camkanlah
hal ini !
Tidak ada komentar:
Posting Komentar