WENDRI NALDI EL-MANINJAUI KHATIB BANDARO

WENDRI NALDI EL-MANINJAUI KHATIB BANDARO
WENDRI NALDI EL-MANINJAUI KHATIB BANDARO

Selasa, 06 Mei 2014

Kesabaran Seorang Ibu Yang Membantah Rasulullah SAW. (*)

Diriwayatkan oleh Sa’id Ibn Zarbi dari Muhammad ibn Sirin, dari Abu Hurairah r.a. yang bercerita,
Nabi s.a.w. melewati seorang wanita sedang bersimpuh di atas kuburan seraya menangis, lalu beliau bersabda kepadanya, ”Wahai ibu, bertakwalah pada Allah dan bersabarlah!”
“Wahai hamba Allah, anakku meninggal dunia,” jawab sang ibu.
Rasulullah s.a.w. bersabda lagi, “Wahai ibu, bertakwalah pada Allah dan bersabarlah!”
“Wahai hamba Allah, seandainya engkau tertimpa musibah sepertiku, niscaya engkau akan memaklumiku,” tukas sang ibu.
Rasulullah s.a.w masih bersabda, “Wahai ibu, bertakwalah pada Allah dan bersabarlah!”
“Wahai hamba Allah, engkau sudah mengatakannya. Maka enyahlah dariku!” seru sang ibu.
Rasulullah s.a.w. pun pergi meninggalkannya. Salah seorang sahabatnya mengikuti beliau, lalu menghampiri sang ibu dan bertanya kepadanya, “Apa yang dikatakan oleh orang yang telah pergi itu?”
Sang ibu menjawab, “Dia berkata kepadaku begini dan begitu, lalu aku menjawabnya begini.”
Laki-laki itu bertanya lagi kepadanya, “Tahukah engkau siapa dia?”
“Tidak, ” jawab sang ibu.
Laki-laki itu berkata, “Dia adalah Rasulullah s.a.w.”
Mendengar itu, sang ibu terperanjat dan langsung pergi menyusul Nabi s.a.w. dan berkata, “Aku bersabar, aku bersabar, wahai Rasulullah.”
Rasullah s.a.w. pun bersabda, “Yang namanya sabar itu hanyalah pada benturan pertama. Yang namanya sabar itu hanyalah pada benturan pertama.” (HR. Abu Ya’la dan Al-Bazzar, lihat Majma’ az-Zawâ’id, Vol. 3, hlm. 2)(**)
Kala kita mendapati musibah, dimanakah posisi kita saat itu? Pada posisi Rasulullah s.a.w. sebagai yang memahami kesabaran berada benturan pertama, atau pada posisi si ibu yang menyatakan,  “Wahai hamba Allah, seandainya engkau tertimpa musibah sepertiku, niscaya engkau akan memaklumiku,”?
Artinya, kala kita berada pada posisi Rasulullah s.a.w. kita mampu untuk bersabar kala kita berbenturan dengan musibah tanpa sedikitpun mengeluh semenjak dari pertama musibah itu menimpa kita, tidak menunggu beberapa waktu atau berjalannya masa. Inilah yang dimaksud sabar pada benturan pertama. Namun kala kita berada pada posisi si ibu, bisa saja kita bersabar, namun kesabaran itu muncul setelah berjalannya waktu, terjadi setelah beberapa saat setelah musibah itu menimpa kita. Pada posisi yang kedua ini, Rasulullah s.a.w. menyatakan secara mafhum mukhalafah-nya (makna sebaliknya) tidak lagi bisa dinamakan sabar, sebab kesabaran itu muncul tidak pada benturan pertama.
Mengapa demikian? Karena musibah hanya terasa berat kala pertama menimpa kita, jika ia telah berjalan beberapa saat dan ditinggalkan oleh waktu, rasa beratnya telah mulai berkurang. Dikarenakan suasana yang mengisi hati dan pikiran kita tidak lagi dipenuhi oleh musibah tersebut, tapi telah bercampur baur dengan suasana lain yang mempengaruhinya, bahkan suasana musibah itu lama kelamaan akan terkikis posisinya oleh suasana baru seiring semakin berjalannya waktu. Sehingga jangan heran kala kita mendengar seseorang memberi nasehat pada orang yang ditimpa musibah,” Tenanglah! Semuanya akan berakhir seiring perjalanan waktu.”
Itulah maknanya mengapa Rasulullah s.a.w. menyatakan bahwa yang dinamakan sabar pada benturan pertama. Bagaimana kita mampu untuk bertahan untuk tidak mengeluh, berputus asa kala ditimpa musibah yang memenuhi pikiran dan hati. Memang berat. Tapi bukankah dalam suatu yang berat itu terkandung keutamaan yang besar? Ibarat perbandingan anak sekolahan yang belajar dengan sungguh-sungguh penuh kelelahan dengan anak yang belajar hanya dengan santai. Tentulah anak yang bersungguh-sungguh tersebut mendapatkan hasil yang gemilang dibandingkan anak yang hanya belajar dengan santai.
Untuk itu, bagi kita, bagaimana menggali keutamaan kesabaran agar mampu mencapai hakikat kesabaran yang sesungguhnya, sabar pada benturan pertama.
Ketahuilah …
Segala hal yang membuat kita gelisah, sempit dan berat hakikatnya berada pada wilayah hati. Dan kesabaran sesungguhnya juga berada pada ranah hati. Bagaimana kita mampu mengkondisikan hati yang diliputi himpitan dengan kesabaran sehingga ia menjadi lapang dan bersedia menerima kenyataan tanpa berkeluh kesah. Yang perlu kita benahi untuk memupuk kesabaran adalah mengkondisikan suasana hati. Disinilah kemampuan kita mengelola hati dituntut, mengkondisikan musibah menjadi kekuatan kesabaran sehingga hati menjadi kokoh bahkan kuat dalam menghadapi hidup.
Hati itu bersih, ia cendrung pada fitrahnya yang bersih. Hati yang bersih akan melihat kepada apapun yang ditetapkan Allah s.w.t. pastilah mengandung kebaikan dan mashlahat. Karena Allah s.w.t. adalah Ilah. Allah s.w.t. pemilik alam semesta. Ia menjaga dan memelihara. Ia menciptakan segalanya, dan Dia pula yang menetapkan segala urusan. Pertanyaannya, apakah mungkin dalam tindakan Allah s.w.t. mengandung keburukan? Tentu saja tidak. Menyadari hakikat ini, yang harus ditanamkan dalam hati adalah tiada satupun yang ditetapkan oleh Allah s.w.t yang mengandung keburukan. Pasti di dalamnya terdapat kebaikan. Inilah kata kunci yang harus terpatri.
Lantas, jika memang segala ketetapan yang diberikan Allah s.w.t mengandung kebaikan, mengapa Allah s.w.t. mendatangkan musibah? Bukankah musibah adalah keburukan dan mendatangkan kesulitan, membuat hidup jadi sempit?
Musibah akan dipahami sebagai keburukan kala ia dipandang secara sekilas dan kasat mata, ia dipahami kesulitan jika hanya dinikmati saja, dan akan terasa menyempitkan kala hanya memandang apa yang terjadi saat itu. Namun kala ia dipahami dengan hikmah bahwa segala sesuatu yang ditetapkan Allah s.w.t pasti mengandung kebaikan, maka dalam keburukan yang tampak, ada kebaikan yang tersembunyi, dalam kesulitan ada kemudahan yang menjanjikan, dan dalam kesempitan ada kelapangan yang begitu luas. Dan ketahuilah …semua itu hanya mampu dibaca oleh hati, hati yang lapang, dan hati yang menyadari fitrahnya suci, cendrung memandang sesuatu dari sisi positif.
Jika kita bawakan memaknai musibah dengan hati, disinilah kesabaran akan bermakna. Hati yang lapang akan dapat menerima musibah bukan sebagai suatu keburukan, bukan suatu kesempitan, dan bukan menyempitkan hidup. Akan tetapi melahirkan puncak kesabaran yang luar biasa. Sedahsyat apapun musibah kita akan mampu bersabar tanpa menunggu waktu. Bersabar pada benturan pertama.
Pertanyaannya, bagaimana mengelola hati untuk bisa menerima musibah hingga menumbuhkan kesabaran tersebut?
Pertama, harus disadari segala yang menimpa kita adalah akibat ulah sendiri. Jika kita menanam sesuatu maka kita akan memanen hasilnya. Kala kita melakukan tindakan, kita yang akan bertanggungjawab dengan apa yang kita lakukan. Tidak terlalu rumit untuk mengambil contoh ini, jika suatu kampung dilanda longsor besar, hal tersebut akibat ulah penebangan hutan secara liar yang menyebabkan hilangnya daya tahan tanah dari tekanan air. Pelakunya bisa jadi orang kampung tersebut, dan bisa juga bukan. Jika orang kampung tersebut pelakunya, telah jelas, akibat ulah mereka sendiri sehingga kampung mereka dilanda longsor. Lalu bagaimana dengan pelaku yang tidak orang kampung tersebut? Tetap saja orang kampung tersebut memiliki andil, sebab, mengapa mereka membiarkan tanpa melakukan pencegahan? Inilah yang dimaksud dengan segala sesuatu yang menimpa kita akibat ulah tangan sendiri.
Pada keadaan ini, jika kita menyadari bahwa segala sesuatu yang menimpa kita adalah akibat dari ulah sendiri, demikian pulalah dengan musibah yang menimpa kita. Sesungguhnya apabila kita ditimpa musibah bisa jadi akibat ulah perbuatan sendiri. Jika kita telah menyadari hal ini, masih layakkah kita berkeluh kesah akan musibah yang menimpa? Selayaknya menyadarkan kita bahwa ternyata kita telah melakukan suatu kesalahan, maka Allah s.w.t. mengingatkan kita melalui akibat perbuatan kita sendiri dengan musibah. Saat kita menyadari hal ini adalah peringatan Allah s.w.t. berupa teguran melalui musibah bahwa kita telah melakukan kesalahan, bukankah ini bentuk kecintaan Allah s.w.t. dan kehendak Allah s.w.t untuk menggiring kita agar kembali pada kebaikan? Lantas apa yang lahir dari hati kita kalau tidak kesyukuran? Jika terhadap musibah saja kita telah bersyukur, apakah tidak mungkin kita untuk mampu bersabar atasnya pada benturan pertama? Sungguh Allah s.w.t sangat tepat perencanaan-Nya dan sama sekali tidak satupun luput dari Kasih Sayang-Nya. Renungkanlah hal ini, semoga kita mendapatkan keutamaan.
Kedua, terkadang apa yang menimpa kita tidak memiliki korelasi dengan tindakan kita. Artinya kala kita ditimpa musibah sama sekali bukan akibat dari ulah sendiri. Sebagai contoh seperti penebangan hutan secara liar yang menyebabkan longsor melanda kampung tadi. Pelakunya bisa saja bukan orang kampung tersebut, dan orang kampung itupun telah berupaya menjaganya dari penebang liar dari manapun, namun tetap saja terjadi penebangan liar tanpa sepengetahuan mereka. Dalam tataran ini tentu saja longsor terjadi bukan ulah orang kampung, tapi akibat dari sesuatu yang sama sekali berada diluar kemampuan mereka.
Keadaan ini berada dalam ranah ketentuan Allah s.w.t. yang berada diluar jangkauan kita. Untuk menyikapi musibah yang semacam ini kita harus mampu mengambil hikmah-hikmah yang tersirat. Yang jelas, yang harus tertanam bahwa segala sesuatu yang terjadi dan menimpa kita adalah ketentuan Allah s.w.t. yang didalamnya mengandung kebaikan. Bisa jadi sesuatu yang baik dalam pandangan kita tapi kenyataannya mengandung keburukan. Maka Allah s.w.t. berupaya menariknya dari kita dalam bentuk musibah. Seperti kisah hamba  Allah swt. dengan Nabi Musa a.s., kala sang hamba membunuh seorang anak, Nabi Musa as. berkata:”Mengapa engkau membunuh jiwa yang bersih, bukan disebabkan ia membunuh orang lain? Sesungguhnya kamu telah melakukan sesuatu yang mungkar.” (T.Q.S. Al-Kahfi : 74). Dijelaskan oleh hamba tersebut:” …anak itu maka kedua orang tuanya adalah orang-orang beriman, dan kami khawatir bahwa dia akan mendorong kedua orang tuanya itu kepada kesesatan dan kekafiran. Dan kami menghendaki, supaya Tuhan mereka mengganti bagi mereka dengan anak lain yang lebih baik kesuciannya dari anaknya itu dan lebih dalam kasih sayangnya (terhadap kedua orang tuanya).”(T.Q.S. Al-Kahfi : 80-81). Nabi Musa a.s. tidak memahami kebaikan yang terkandung terhadap apa yang dilakukan sang hamba, bahkan ia memandang suatu kemungkaran, dan memang secara kasat mata terlihat seperti kemungkaran. Padahal didalamnya mengandung kebaikan.
Untuk itu, kata kunci memahami segala musibah yang menimpa kita tiada lain dengan menanamkan kesadaran penuh dan keyakinan yang kuat bahwa segala sesuatunya berada dalam ruang lingkup kebaikan yang dipancarkan Allah swt. melalui cara-cara yang harus kita sikapi dengan selalu berprsangka baik terhadap ketentuan Allah swt, insya Allah kita akan mendapati makna dan mampu menunaikan kesabaran pada benturan pertama.

Keterangan :

(*) Judul berdasarkan kisah
(**)Lihat Kisah tersebut dalam Ibnul Qayyim al-Jauziyyah, diterjemahkan dari ‘Uddah ash-Shâbirîn wa Dzakhîrah asy-Syâkirîn oleh Iman Firdaus, Lc., Q.Dpl dengan judul ‘Uddatush Shâbirîn: Bekal Untuk Orang-Orang yang Sabar (Jakarta: Qisthi Press, 2010), Cet. 1, h. 117-118

Rabu, 30 April 2014

Catatan Kenangan Study Tour Ke Tanah Siak Jilid II, PK MAN Maninjau - Generasi Ash-Haby

Assalaamu'alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh
Puji syukur kepada Allah swt. Shalawat buat Rasulullah saw.


Sabtu, 26 Jumadil Akhir 1435 H, hingga senin, 28 Jumadil Akhir 1435 H merupakan hari bersejarah bagi kami, keluarga besar PK MAN Maninjau – Generasi Ash-Haby (T.P. 2013-1014). Hari yang menjadi momentum bukan hanya sebatas menunaikan tugas pembelajaran, tapi mengembang dan mekar menjadi hari untuk merekat kekuatan ukhuwah, merajut simpulan kebersamaan dalam bingkai kecintaan keluarga besar Program Keagamaan (PK) MAN Maninjau.
Itulah masa-masa yang insya Allah menjadi kenangan yang begitu indah, sebuah catatan prasasti sejarah dalam memori yang mungkin kelak akan menjadi oase dalam menemori perjalanan hidup yang panjang dan terkadang melelahkan dengan tuntutan beban hidup yang berat. Itulah torehan kenangan yang semoga menjadi pemicu semangat bagi generasi kami selanjutnya bahwa berjuang dalam sebuah barisan panjang kafilah penempuh ilmu agama Islam bukanlah sepi dari keindahan, tapi mengandung pernah pernik yang mengharu biru, dahsyat luar biasa.
Hari bersejarah itu, hakikatnya adalah mata rantai dari apa yang telah ditempuh para pendahulu kami, hanya tempat dan atau waktu saja yang berbeda. Yakni Study Tour untuk mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam (SKI). Memang materi inti Study Tour mata pelajaran SKI, namun dalam perjalanannya penuh dengan nuansa ukhuwah, kebersamaan dan kecintaan yang kami bangun dalam sebuah keluarga besar PK MAN Maninjau.
Tahun ini, Study Tour ke Kesultanan Siak Sri Indrapura Riau, merupakan Study Tour yang kedua dari beberapa generasi sebelumnya untuk lokasi yang sama. Hingga bolehlah kami sebut Study Tour tahun ini Study Tour Ke Tanah Siak Jilid II, Generasi Ash-Haby. Sedangkan yang pertama ditunaikan generasi kami sebelumnya, Generasi Haraki (PK T.P. 2012-2013) atau kalau boleh disebut dengan istilah Study Tour Ke Tanah Siak Jilid I.
Pagi itu, Sabtu, 26 Jumadil Akhir 1435 H, perjalananpun dimulai, ba’da dilepas kepala sekolah dilapangan MAN Maninjau, cuaca menunjukkan jiwa bershahabat, semburat cahaya pagi terasa menyegarkan tubuh seakan mengiringi keberangkatan kami dengan suhunya yang menyejukkan, sesejuk jiwa kami yang diluapi nuansa kebahagiaan. Lajunya kendaraan yang kami tumpangi kala menaiki kelok 44 membawa kami pada suasana yang kelak mengantarkan pada suatu kenyataan bahwa, kami dalam PK MAN Maninjau adalah keluarga besar yang penuh dengan ukhuwah, dilimpahi nikmatnya kebersamaan.
Perjalanan yang membutuhkan waktu cukup panjang itu, menyuguhkan pemandangan lukisan alam memukau, jalan berkelok dan bergelombang, suasana tata cara hidup masyarakat yang beragam, harmonisasi hutan dengan segala asesorisnya membuat kami ta’jub dan mengantarkan pada suatu kesimpulan bahwa alam dengan seisinya berada dalam pengaturan yang tidak serampangan.

Siapa yang tidak mengenal kelok 9? Kelok berliku pendek, mengancam dengan marabahaya itu? Namun dibalik itu terpampang keindahan pemandangan alam memukau. Itulah suguhan diantara jalan-jalan panjang yang kami nikmati. Apalagi kala kami berada di atas ketinggian, jalan bak jembatan panjang berliku disekitar kelok 9 itu menjadi pemandangan penuh sensasi.
Menjelang sore, kami sampai di sebuah prasasti sejarah, Candi Muara Takus. Candi yang masih tampak jauh dari campur tangan orang-orang belakangan itu berdiri kokoh meninggalkan kesan tentang kelihaian orang-orang dahulu dalam membangun peradaban. Karena layaknya candi bukanlah simbol dari Islam yang kami kenal, maka candi hakikatnya bukanlah tujuan utama kami, tapi hanyalah bagian dari perjalanan Study Tour yang tentunya hanya dapat dijadikan pelajaran berharga sebagai pengetahuan belaka. Setidaknya kami mendapat nilai pembelajaran dari hidup orang-orang terdahulu tentang corak mereka.

Perjalanan panjang menuju Siak memang menggiurkan, pada salah satu lintasan jembatan yang cukup panjang, kami mencoba menikmati suasana alam yang begitu indah, kala itu sore, sudah mendekati maghrib. Di atas jembatan panjang itu, kami saksikan semacam danau yang begitu luas, nun jauh di ujung danau, pandangan dibenturkan dengan perbukitan hijau yang tidak begitu tinggi, indah menakjubkan.
Luapan kegembiraan memancar dari wajah-wajah kami yang sudah kelelahan, rasa kebersamaan terasa semakin kuat dan indahnya persaudaraan semakin mempertajam keyakinan kami akan makna pentingnya sebuah ukhuwah dalam sebuah komunitas besar PK MAN Maninjau. Harus dikaui, terkadang kita butuh momen-momen tertentu yang dapat dijadikan sebagai batu loncatan untuk menumbuhkan kebersamaan dan rasa saling mencintai.

Beginilah cara kami membangun mozaik-mozaik kehidupan kami, garis-garis hidup yang harus kami lalui, jalan-jalan panjang yang harus kami semai dengan kekuatan rasa saling menghargai dan saling memahami. Disanalah keegoan akan luntur, disanalah jiwa individualisme terkikis, pupus dan bahkan akan terbang menjadi serbuk, dihembus angin kebajikan yang memancar dari jiwa-jiwa kami.

Tak terasa, perjalanan satu hari itu telah mengantarkan kami pada kesan hidup yang berharga. Malampun menjelang, mentari telah enggan beraktifitas disekitar kami, kembali keperaduannya. Malam bangkit dari tidur, melaksanakan tugas agung, menyelimuti bumi dengan cahaya gemerlap bintang dari langit. Cuacapun beralih, suhu berubah peran. Dan kami menikmati malam dengan segala keindahannya, menunggu esok, melanjutkan perjalanan menuntaskan nawaitu yang telah tertanam, menuju Siak.

Minggu, 27 Jumadil Akhir 1435, dengan kesegaran baru, perjalananpun dilanjutkan, memasuki Siak membawa kami pada suasana lain dari apa yang sering kami temukan, jalan panjang luas sesekali bergelombang seakan tak berujung itu, serta hamparan perkebunan sawit yang menghijau, luasnya bukan main, plus lepasnya jarak pandang kami hingga seakan melihat kaki langit, sekonyong-konyong mengantarkan kami pada suasana alam lain yang begitu menggemparkan. Ya, seakan kami dibawa pada alam padang mashsyar yang luas tak berujung. Tempat dikumpulkannya manusia menunggu pengadilan yang Maha Adil dari pemilik segala apa yang ada dilangit dan di bumi. Jika di dunia saja kita mampu menyaksikan kondisi alam yang luas dan lapang seakan tak berujung itu, lalu apakah yang membuat kita ragu atas keberadaan padang mashyar yang dijanjikan? Sungguh Allah SWT. Maha Bijaksana dalam mengenalkan ajaran-Nya pada umat manusia. Lantas siapa lagi yang masih enggan untuk mengambil pelajaran? Hanya orang-orang bodoh dan tertutup mata hatinya saja yang masih saja engkar kepada Allah swt.

Siak, Masya Allah, begitu indahnya, sunga-sungai yang panjang dan luas, tatanan bangunan yang begitu mempesona dengan segala kekayaannya yang melimpah, merupakan suasana yang bagi siapapun memiliki keinginan untuk menyaksikan akan sebuah tanah yang kaya dan mempesona layak untuk datang ke sana. Lebih dari itu ada hal menarik yang tak terbantahkan, nuansa Islami sangat kental dari peradaban yang dibangun. Goresan-goresan tulisan Arab Melayu menghiasi jalan-jalan yang tertata rapi. Lantunan zikir ba’da shalat berkumandang. Corak bangunan masjid dibangun dengan ukiran tangan-tangan seni tingkat luar biasa. Aduhai…, sungguh sebuah tanah yang syi’ar Islamnya terasa kental dalam sebuah wilayah yang dulunya berada dalam pengaruh kekuasaan Islam Kesultanan Siak Sri Indrapura, RIAU.

Akhirnya, kami sampai pada tujuan yang dijanjikan, Lokasi istana Kesultanan Siak Sri Indrapura, Riau. Sesampainya di sana, kami disuguhi taman-taman indah semerbak, tertata rapi dihiasi jalan-jalan yang terjaga kebersihannnya. Istana Kesultanan Siak Sri Indrapura berdiri kokoh, tidak jauh dari sana, terdapat kumpulan makam-makam yang dulunya memilki pengaruh besar pada Kesultanan Siak Sri Indrapura, dan sebuah masjid megah dengan sarana yang aduhai.

Kondisi ini mengingatkan akan masa-masa`kejayaan Islam periode klasik, terutama dalam bidang arsitektur dan taman-tamannya. Baik dari corak istana, masjid, taman-taman dan pengairan, seakan membawa kami pada sejarah silam kegemilangan Islam masa Dinasti Umayyah, Abbasiyah dan kegemilangan Islam Andalusia. Ternyata dinegri kami, tak kalah dahsyatnya kemegahan arsitektur tersebut.
Kemegahan Istana Siak Sri Indrapura tersebut diselingi dengan pesona hamparan sungai yang begitu luas dan panjang, di sana melintas kapal-kapal. Sungguh kami sangat menikmati keadaan alam diseputaran Istana.


Dalam pelaksanaan Study Tour, Generasi Ash-Haby, mencoba untuk menggali informasi hal-hal yang berkaitan dengan Kesultanan Siak Sri Indrapura, baik melalui wawancara dengan nara sumber, maupun melalui prasasti-prasasti yang terdapat dalam istana ataupun pada makam yang mana di sana terdapat keterangan-keterangan tentang keberadaan prasasti masing-masing. Antusiasme  dalam melaksanakan kegiatan ini sangat tinggi, apalagi nara sumber yang memberi keterangan bersikap ramah dan kooperatif terhadap Generasi Ash-Haby. Mereka, para nara sumber, tampaknya sangat bersemangat sekali memberikan informasi-informasi berharga bagi Generasi Ash-Haby, sehingga proses pelaksanaan Study Tour dalam menggali hal-hal yang berkaitan dengan Kesultanan Siak Sri Indrapura berjalan dengan lancar, tentunya menyenangkan.







Sulit, rasanya untuk menggambarkan keindahan-keindahan yang kami dapatkan dalam kegiatan berkaitan erat dengan Study Tour ini, keindahan sepanjang jalan, kenikmatan melaksanakan shalat dari masjid ke masjid sepanjang perjalanan, keramahan nara sumber di Kesultanan Siak Sri Indrapura, Riau, serta kondisi alam yang mempesona, dan kondisi masyarakat yang bershahabat menjadi suatu hal yang harus kami akui, bahwa perjalanan dan kegiatan Study Tour Ke Siak, MENYENANGKAN, INDAH DAN BERKESAN. Alhamdulillaahirabbil’aalamiin.



Assalaamu'alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh

(Ash-Haby Generation - PK MAN Maninjau - Dalam memori terindah penuh kenangan ukhuwah - Study Tour Ke Tanah Siak - 1435 H )

Jumat, 25 April 2014

Mozaik Generasi Haraki PK MAN Maninjau

Assalaamu'alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh
Puji syukur kepada Allah swt., shalawat buat Rasulullah saw.



Seiring perputaran waktu, harus diakui bagaimanapun  kita dalam jejak-jejak hidup selalu mencoba untuk bersatu, suatu saat perpisahan akan menyambangi, namun ini bukan berarti putusnya mata rantai ukhuwah Islamiyah, sebab dalam Ukhuwah Islamiyah yang menyatukan kita adalah hati. Memang terasa berat kala kita harus dicerai beraikan oleh jarak yang tak penting untuk diukur. Kita dibatasi tembok yang tak perlu dibayangkan bentuknya. Sekali lagi itu hanyalah kondisi yang sama sekali tidak merusak tatanan Ukhuwah Islamiyah, karena lagi-lagi hati tak bisa dipisahkan.



Bermula dari suatu harapan besar, agar menjadi generasi penggerak dan  terlibat dalam gerakan Islam, sehingga dalam rentang waktu yang relatif singkat masa-masa pendidikan di MAN Maninjau, tahun pejaran 2012-2013 disemai sebuah harapan dahsyat, hebat dan menggetarkan, yakni menjadi  Generasi Haraki. Berbagai kenangan indah tertanam bak mutiara indah yang memancarkan cahaya berpendar dalam etelase agung kebajikan jiwa. Dan semoga kelak ….apa yang dirasakan dalam jiwa selama dalam kebersamaan ukhuwah akan menjadi prasasti keluhuran budi, membawa kebaikan dan menebar semerbak keseantero jagad raya dalam bingkai peradaban yang menjulang tinggi.

Jika selama ini baru menanam dan menempuh jalan cita-cita, sekarang… adalah langkah untuk berkarya dalam menorehkan pesan-pesan dan peta kosnsep mengikuti mozaik-mozaik takdir kehidupan masing-masing. Tapi …ada satu hal yang harus dipancangkan, dan ini suatu pemahaman yang hendaknya menjadi pemahaman bersama, bahwa segala karya yang dicoba untuk melukiskan dalam mengambil andil membangun kegemilangan peradaban Islam, berupayalah untuk saling menguatkan dan saling berbagi hingga kelak dipertemukan lagi dalam suatu muara cita-cita besar seluruh keluarga besar PK MAN Maninjau.

Assalaamu'alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh

Senin, 10 Maret 2014

Nawaitu Dalam Cita-Cita Besar : SMPN 1 Tanjung Raya Membangun Mushalla/Masjid, Mungkinkah Terwujud ???

               
Pembangunan Mushalla/Masjid SMPN 1 Tanjung Raya

Keterangan gambar (*)


·         Lokasi pembangunan   :
Sebelah Utara SMPN 1 Tanjung Raya

·       No. Rekening :
5433-01-011256-53-3
(BRI Unit Maninjau Bukittinggi)
Mushalla SMPN 1 Tanjung Raya

·       Alamat  : 
Muara Pisang – Maninjau  Telp. ( 0752 ) 61005
Kode Pos.  2647

Kepala Sekolah : Maspirba. AR, S.Pd
Ketua Komite     : Harfi Dt. Rajo Mangkuto, SE

·       Panitia Pembangunan Mushalla :

Ketua              : Wendri Naldi Khatib Bandaro, S.Pd.I
Wakil               : Yasril, SP
Sekretaris :
                        1. Wenneti
                        2. Deniati, S.Pd
Bendahara     : Rina Nurhafni, S.Si

Seksi
Perencanaan :
                        1. R. DT.Tunaro
                        2. Apriwandi Arlius, ST, MT
Seksi Dana      :
                        1. Efrinaldi Dt. Panghulu Basa
                        2. Zulfiyandri Dt. Putiah, S.Pd
                        3. Irwati Rivai, BA
                        4. Wilda Ismail
·       Estimator         : Miftahuddin, S.Pd. M. Eng.

 MUQADDIMAH

Puji syukur hanya milik Allah swt. Shalawat teruntuk Rasulullah saw. 

Kok takana dimaso nan lamo
Kito bakumpua basanak sudaro
Di sikola kononnyu sikola nan tuo
Di SMP Maninjau kato urang tuo-tuo kito

Lai kolah takana di kawan sadonyo
Maso kutiko diulang curito
Kito diaja akhlak budi bahaso
Dek guru kito nan kini tantulah tuo

Kok dulu kito baribadah di ruang tuo
Manuruik kaba di aula zaman Bulando
Kini yo baitu  baru juo
Basasak-sasak manuju sarugo

Tapi dek cadiak urang kito
Aka panjang budi baik pulo
Lah dapek tanah untuak baagamo
Untuak mushalla/musajik sikola kito


A. SMPN 1 Tanjung Raya, Sekolah Umum Bernuansa Spiritual.

Boleh saja sebagian orang menganggap SMP merupakan lembaga pendidikan yang berpola pendidikan umum yang tidak bercirikan khas keagamaan, karena memang realitanya materi pendidikan yang diberikan lebih didominasi materi-materi secara umum, dalam artian tidak seimbang dengan muatan materi keagamaan. Tapi itu bukan berarti setiap SMP berpola demikian. Walaupun hakikatnya SMP bukanlah sekolah bercirikan agama, namun bukankah warganya orang-orang yang beragama ? Bukankah pelaku pendidikan di dalamnya adalah orang-orang yang hidup dipermukaan bumi yang juga punya kewajiban yang sama, yakni untuk mengabdi kepada Allah swt.? Maka tak dapat disangkal lagi, kebutuhan fitrah tersebut harus di wadahi dan diberikan ruang seluas-luasnya agar terkspresi walaupun pada sekolah umum seperti SMP.

Ada semacam keinginan dari kami, keluarga besar SMPN 1 Tanjung Raya, bagaimana membangun lembaga pendidikan yang berpola umum ini namun tetap bernuansa  ruh spiritual ke-Islaman. Apalagi mengingat kenyataan SMPN 1 Tanjung Raya berada dalam ranah Adat Basandi Syara’, Syara’ Basandi Kitabullah. Untuk mewujudkan upaya tersebut, beberapa program telah kami gulirkan termasuk di dalamnya bagian dari program pemerintah, yakni :

1.   Penerapan program pemerintah kabupaten Agam  berupa Madrasah Diniyah Wustha (MDW) dengan mata pelajaran al-Qur’an Hadits, Akidah Akhlak, dan Adat Basandi Syara’, Syara’ Basandi Kitabullah.

2.   Dalam rangka membangun karakter akhlakul karimah dan membangun jiwa beramar ma’ruf nahi mungkar, telah berjalan kegiatan dakwah sekolah dalam bentuk Rohis (Rohani Islam) dengan nama Bina Remaja Islam.

3.   Tahfizhul Qur’an merupaka program yang digadang-gadangkan untuk membangun kecintaan akan al-Qur’an dan menumbuhkan jiwa-jiwa Rabbani. Program ini telah bergulir beberapa tahun dan alhamdulillaah hasilnya cukup memuaskan walaupun masih membutuhkan upaya yang sungguh-sungguh untuk perbaikan ke depan.

4.   Program Malam Bina Iman dan Taqwa (MABIT)  berjalan dalam bentuk pembangunan karakter kecintaan akan penggemaran beribadah dan pembentukan akhlak yang mulia

5.   Pesantren Kilat terealisasi dengan bermacam materi-materi pendalaman akan pentingnya memahami Islam dengan ilmu dan upaya kearah kecintaan akan pengamalan nilai-nilai yang dikandung oleh Islam itu sendiri.

6.   Kegiatan dakwah jum’at pagi, shalat berjama’ah dilingkungan sekolah, memahami ajaran-ajaran Islam melalui pembacaan buku-buku Islami merupakan agenda yang bisa dikatakan telah menjadi rutinitas.

Beberapa hal tersebut kiranya sudah cukup menjadi bukti, bahwa kami memang punya nawaitu untuk mewujudkan pola pendidikan yang mengedepankan keseimbangan IPTEK dengan IMPTAQ.

Pertanyaanya, apakah semua itu akan mencapai keberhasilan jika hanya berpegang pada semangat tapi tidak diwadahi ? Hal ini perlu menjadi renungan dan bahan pemikiran bagi berbagai kalangan, bagaimana pola ini menjadi suatu cita-cita bersama. Tentunya bagi kalangan yang memiliki cita-cita besar untuk membangun sebuah peradaban Islami, penuh dengan ruh akhlakul karimah dan memiliki landasan syari’at serta aturan yang jelas sebagaimana yang telah digariskan al-Qur’an dan Sunnah. 

B.  Pentingnya Mushalla/Masjid sebagai Implementasi Nilai-Nilai Islam di Lingkungan SMPN 1 Tanjung Raya (Merujuk pada bagian-bagian proposal pembangunan Mushalla SMPN 1 Tanjung Raya)
                                                                              
1.   Mengapa Harus Membangun Mushalla/Masjid di Lingkungan SMPN 1 Tanjung Raya ?
Masjid sebagaimana dipahami merupakan tempat ibadah umat Islam. Secara historis masjid elemen penting dalam pertumbuhan Islam yang pertama sekali dibangun Rasulullah saw. Dalam perkembangannya, walaupun masjid secara umum dipahami sebagai tempat beribadah. Tapi secara aplikatif masjid lebih luas difungsikan sebagai tempat mengatur kehidupan umat, termasuk didalamnya pelaksanaan proses pendidikan.
Menyadari sepenuhnya, SMPN 1 Tanjung Raya yang berada pada wilayah administratif lingkungan masyarakat Adat Basandi Syara’, Syara’ Basandi Kitabullah, yang tentunya terdiri dari masyarakat sekolah mayoritas muslim, maka menjadi suatu kebutuhan  akan pemenuhan masjid sebagai tempat ibadah. Sesuai dengan tuntutan standar kompetensi lulusan dalam indikator sekolah berdasarkan standar nasional pendidikan sekolah menengah pertama, bahwa diantara aspek dari kompenen standar kompetensi lulusan yang harus dicapai suatu lembaga pendidikan sekolah menengah pertama adalah adanya pemenuhan aspek pembentukan akhlak mulia, dengan arahan pencapaian indikator peserta didik haruslah mendapatkan pengalaman belajar dalam pembentukan akhlak mulia (**). Sesuai dengan perannya, masjid merupakan institusi pembentukan karakter umat Islam, secara langsung mengejewantah untuk mengambil peran dalam pembentukan akhlak mulia. Semakin jelas nampak akan kebutuhan ini jika dikorelasikan dengan prinsip pelaksanaan kurikulum yang menuntut tegaknya pilar-pilar, diantaranya belajar untuk beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa(***).
Deskripsi ini menjadi landasan pemikiran bagi keluarga besar SMPN 1 Tanjung Raya bagaimana sekolah mampu memfasilitasi terlaksananya semua hal tersebut. Bagi siswa SMPN 1 Tanjung Raya yang mayoritas muslim tentulah pilar tersebut diantaranya berada pada masjid.
Mengingat skala masjid merupakan skala besar, dan membutuhkan waktu yang panjang untuk membangunnya. Untuk saat ini kami berupaya dalam bentuk membangun mushalla yang mana secara peran dan fungsinya tidak berbeda dengan masjid. Dan bisa saja kelak, insya Allah akan beralih mengarah pada pembangunan masjid.

2.   Sejarah Perkembangan Mushalla SMPN 1 Tangjung Raya
SMPN 1 Tanjung Raya merupakan SMP tertua di kecamatan Tanjung Raya, dengan jumlah siswa yang begitu banyak datang dari berbagai daerah. Saat ini untuk melaksanakan ibadah bagi siswa mayoritas muslim di lingkungan sekolah secara nyaman dan kontinue terkendala tidak dimilikinya sarana tempat ibadah yang memadai.
Pernah diupayakan untuk memfungsikan satu bangunan untuk pelaksanaan tempat ibadah dalam bentuk mushalla. Namun kapasitas daya tampungnya hanya mencukupi untuk dua rombel. Sementara rombel yang ada di lingkungan SMPN 1 Tanjung Raya lebih dari pada itu. Hal ini menyebabkan tidak efektifnya bangunan mushalla yang ada untuk memenuhi kebutuhan peserta didik secara kolektif.
Untuk menanggulangi hal tersebut, maka  difungsikanlah ruangan aula yang selama ini berfungsi sebagai ruangan multi fungsi  untuk pelaksanaan ibadah terutama shalat berjama’ah. Karena aula bersifat multifungsi  menyebabkan proses pelaksanaan ibadah sering mengalami gangguan. Apalagi didukung kenyataan kapasitas ruanganpun tidak mencukupi untuk menampung seluruh warga sekolah.
Hal ini menimbulkan pemikiran bagi tokoh masyarakat, komite sekolah dan tentunya bagi warga sekolah sendiri. Bagaimana mewujudkan pelaksanaan ibadah dan segala kegiatan keagamaaan siswa yang berporos pada rumah ibadah terealisasi hendaknya.
Alhamdulillaah, atas kerjasama pihak sekolah dan komite dengan tokoh  masyarakat, akhirnya SMPN 1 Tanjung Raya mendapatkan hibah tanah yang cukup luas untuk pembangunan tempat ibadah. Pada tanah inilah diupayakan untuk pembangunan Mushalla SMPN 1 Tanjung Raya.

3.   Tujuan
Tujuan didirikannya Mushalla SMPN 1 Tanjung Raya  adalah :

1.   Agar terwujudnya proses pendidikan yang menyelaraskan antara pemenuhan Iman dan Taqwa (IMTAQ) dengan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK)
2.   Terwujudnya pola pendidikan bernuansa ruh Adat Basandi Syara’, Syara’ Basandi Kitabullah
3.   Terwujudnya pola pembinaan mental dan sipiritual umat melalui lembaga pendidikan

4. Fungsi/Kegunaan

Adapun fungsi/kegunaan dibangunnya Mushalla SMPN 1 Tanjung Raya adalah :

1.   Menjadi pusat peribadatan warga sekolah SMPN 1 Tanjung Raya, dan tidak tertutup kemungkinan juga difungsikan masyarakat sekitar untuk beribadah
2.   Menjadi tempat untuk melaksanakan segala kegiatan-kegiatan keagamaan termasuk didalamnya proses pendidikan keagamaan

C. Perkembangan Pembangunan Mushalla/Masjid SMPN 1 Tanjung Raya.

Untuk saat ini telah dimulai pembangunan Mushalla/Masjid SMPN 1 Tanjung Raya yang baru berjalan pada tahap pondasi. Dapat digambarkan perkembangan pembangunan yang telah berjalan (dokumentasi berdasarkan proposal pembangunan mushalla SMPN 1 tanjung Raya) :

Keterangan Gambar : 
Kedalaman yang membutuhkan timbunan

Keterangan gambar :
Proses pelaksanaan pembangunan


D. Renungan

1.   Mungkinkah sebuah cita-cita yang tertanam dari nawaitu mengharap ridha Allah swt. akan terwujud hanya dengan seketika tanpa ada upaya yang sungguh-sungguh dan supali dari berbagai pihak ? Tentu saja tidak. Karena sesungguhnya Allah swt. tidak akan memberikan sesuatu secara cuma-cuma tanpa adanya ikhtiar dan kerja keras.

2.   Pembangunan tempat ibadah berupa masjid/mushalla kewajiban siapa ? Tentu saja kewajiban selaku umat yang mengaku muslim dan ia benar-benar menyadari dirinya sebagai muslim.

3.   Jika kelak berdirinya sebuah mushalla/masjid di SMPN 1 Tanjung Raya, siapakah yang akan menikmatinya ? Tentu saja pelajar-pelajar muslim, generasi-generasi muslim, dan mereka adalah generasi yang akan melanjutkan peradaban Islam dimasa yang akan datang.

4.   Kala kita melihat suatu kegemilangan dalam Islam, pertanyaannya, apa yang terasa dalam pikiran dan sanubari kita ? Apakah kita merasa puas hanya menjadi tukang komentar dan melihat-lihat dari jauh ? Atau kita merasa`puas kala kita menjadi pemain peran dari kegemilangan tersebut ? Jawabannya berada dalam pikiran dan sanubari kita masing-masing.


(Ditulis : Wendri Naldi Khatib Bandaro, S.Pd.I - Alumni SMPN 1 Tanjung Raya, tamatan tahun 1997, sekarang sebagai guru Madrasah Diniyah Wustha (MDW) di SMPN 1 Tanjung Raya) 
-----
Keterangan : 

(*)Dibuat melalui : Software Quran In Word Ver. 3, Created By Mohamad Taufiq. Dan Paint, Microsoft Windows Version 6.1 (Build 7601: Service Pack 1) Copyright © 2009 Microsoft Corporation. All rights reserved

(**) Lihat Indikator Sekolah Berdasarkan Standar Nasional Pendidikan Sekolah Menengah Pertama, Kementerian Pendidikan Nasional dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Pertama, Jakarta, Tahun 2010, page 11

(***)Lihat Perangkat Akreditasi SMP/MTs, Petunjuk Teknis Pengisian Instrumen Akreditasi SMP/MTs, Badan Akreditasi Nasional Sekolah/Madrasah 2009, h. 2



Senin, 03 Maret 2014

Percikan Tinta W. Khatib Bandaro : Mengapa Kemaksiatan Merajalela ???

Mendengar suatu ulasan dari tausyiah Al-Ustadz Angku S. Khatib Sati di Masjid Raya Maninjau, pada tanggal 26 Rabiul Awwal 1435, sungguh menghentak dan menyadarkan pusat kesadaran. “ Jika kita pahami dari tiga sifat Allah swt. yang dua puluh saja, niscaya akan selamat hidup kita ini, Yakni ‘Ilmun, Sama’,Bashar” Demikian intisari paparan beliau.

Subhaanallaah !

” Sesungguhnya aktifitas kita dalam hidup ini tiada lain niat, ucapan dan gerakan. Niat kita diketahui Allah swt (‘ilmun), ucapan kita didengar oleh Allah swt (sama’), gerakan perbuatan kita tak luput dari pantauan Allah swt (bashar)”. Itulah muatan-muatan kesimpulan yang beliau tanamkan.

Aduhai …jika seluruh manusia menyakini dan menyadari tiga sifat Allah swt. tidak akan kita temukan segala macam kemaksiatan, penipuan, dan kezhaliman. Bukankah segala keangkara murkaan diakibatkan kesombongan dari dalam hati yang tidak menyadari Allah swt. mengetahui yang tersirat dihati dan tertanam di dalamnya ? Berpangkal dari lisan yang selalu mengeluarkan kata-kata nista yang merusak tatanan ? Berwujud dalam bentuk tingkah laku yang menganggap apapun yang dilakukan adalah urusan gue, yang penting orang lain tidak melihat.

Penindasan terhadap kaum lemah, korupsi, kolusi dan nepotisme serta merajalelanya kemaksiatan ditengah masyarakat tiada lain karena tiadanya aplikasi tiga sifat Allah swt. tersebut dalam kehidupan.

Siapa yang tidak tahu dengan tiga sifat tersebut ? Siapa yang tidak pernah mendengar pesan-pesan yang dikandung tiga sifat tersebut ? Bahkan mungkin tiga sifat tersebut lancar dalam lidah, mengerti maknanya, namun pertanyaannya, berapa yang betul “mengamalkan” tiga sifat tersebut dalam kehidupan ?

Maka merugilah orang-orang yang masa bodoh dengan kebenaran, ia tahu, tapi ketahuannya itu hanya sampai pada akalnya semata, ia berilmu tapi ilmunya sama sekali tidak lebih untuk mencapai jabatan dan kekuasaan duniawi, ia berakal tapi akalnya ia gunakan untuk mengakali orang lain.

Saksikanlah ! Bahwa kemaksiatan, apapun bentuknya lebih didominasi oleh orang-orang yang memiliki kecerdasan, orang-orang yang diberi anugrah ilmu yang dalam. Inilah kelompok kelak yang akan menyesal dengan segala kenikmatan yang diberikan padanya, tapi ia tidak mensyukuri akan nikmat itu, sungguh nikmat telah menjadi cobaan baginya, dan malah kenikmatan itu mengantarkannya pada kenistaan kelak yang tiada berguna penyesalan.


“Ya Allah, lindungilah kami dari terjatuhnya pada penyakit umat yang seperti ini ”