Diriwayatkan oleh Sa’id Ibn Zarbi
dari Muhammad ibn Sirin, dari Abu Hurairah r.a. yang bercerita,
Nabi s.a.w. melewati seorang wanita
sedang bersimpuh di atas kuburan seraya menangis, lalu beliau bersabda
kepadanya, ”Wahai ibu, bertakwalah pada Allah dan bersabarlah!”
“Wahai hamba Allah, anakku meninggal
dunia,” jawab sang ibu.
Rasulullah s.a.w. bersabda lagi,
“Wahai ibu, bertakwalah pada Allah dan bersabarlah!”
“Wahai hamba Allah, seandainya engkau
tertimpa musibah sepertiku, niscaya engkau akan memaklumiku,” tukas sang ibu.
Rasulullah s.a.w masih bersabda,
“Wahai ibu, bertakwalah pada Allah dan bersabarlah!”
“Wahai hamba Allah, engkau sudah
mengatakannya. Maka enyahlah dariku!” seru sang ibu.
Rasulullah s.a.w. pun pergi
meninggalkannya. Salah seorang sahabatnya mengikuti beliau, lalu menghampiri
sang ibu dan bertanya kepadanya, “Apa yang dikatakan oleh orang yang telah
pergi itu?”
Sang ibu menjawab, “Dia berkata
kepadaku begini dan begitu, lalu aku menjawabnya begini.”
Laki-laki itu bertanya lagi
kepadanya, “Tahukah engkau siapa dia?”
“Tidak, ” jawab sang ibu.
Laki-laki itu berkata, “Dia adalah
Rasulullah s.a.w.”
Mendengar itu, sang ibu terperanjat
dan langsung pergi menyusul Nabi s.a.w. dan berkata, “Aku bersabar, aku
bersabar, wahai Rasulullah.”
Rasullah s.a.w. pun bersabda, “Yang
namanya sabar itu hanyalah pada benturan pertama. Yang namanya sabar itu
hanyalah pada benturan pertama.” (HR. Abu Ya’la dan Al-Bazzar, lihat Majma’
az-Zawâ’id, Vol. 3, hlm. 2)(**)
Kala kita mendapati musibah,
dimanakah posisi kita saat itu? Pada posisi Rasulullah s.a.w. sebagai yang
memahami kesabaran berada benturan pertama, atau pada posisi si ibu yang
menyatakan, “Wahai hamba Allah,
seandainya engkau tertimpa musibah sepertiku, niscaya engkau akan
memaklumiku,”?
Artinya, kala kita berada pada
posisi Rasulullah s.a.w. kita mampu untuk bersabar kala kita berbenturan dengan
musibah tanpa sedikitpun mengeluh semenjak dari pertama musibah itu menimpa
kita, tidak menunggu beberapa waktu atau berjalannya masa. Inilah yang dimaksud
sabar pada benturan pertama. Namun kala kita berada pada posisi si ibu, bisa
saja kita bersabar, namun kesabaran itu muncul setelah berjalannya waktu,
terjadi setelah beberapa saat setelah musibah itu menimpa kita. Pada posisi
yang kedua ini, Rasulullah s.a.w. menyatakan secara mafhum mukhalafah-nya
(makna sebaliknya) tidak lagi bisa dinamakan sabar, sebab kesabaran itu muncul
tidak pada benturan pertama.
Mengapa demikian? Karena musibah
hanya terasa berat kala pertama menimpa kita, jika ia telah berjalan beberapa
saat dan ditinggalkan oleh waktu, rasa beratnya telah mulai berkurang.
Dikarenakan suasana yang mengisi hati dan pikiran kita tidak lagi dipenuhi oleh
musibah tersebut, tapi telah bercampur baur dengan suasana lain yang
mempengaruhinya, bahkan suasana musibah itu lama kelamaan akan terkikis
posisinya oleh suasana baru seiring semakin berjalannya waktu. Sehingga jangan
heran kala kita mendengar seseorang memberi nasehat pada orang yang ditimpa
musibah,” Tenanglah! Semuanya akan berakhir seiring perjalanan waktu.”
Itulah maknanya mengapa Rasulullah
s.a.w. menyatakan bahwa yang dinamakan sabar pada benturan pertama. Bagaimana
kita mampu untuk bertahan untuk tidak mengeluh, berputus asa kala ditimpa
musibah yang memenuhi pikiran dan hati. Memang berat. Tapi bukankah dalam suatu
yang berat itu terkandung keutamaan yang besar? Ibarat perbandingan anak
sekolahan yang belajar dengan sungguh-sungguh penuh kelelahan dengan anak yang
belajar hanya dengan santai. Tentulah anak yang bersungguh-sungguh tersebut
mendapatkan hasil yang gemilang dibandingkan anak yang hanya belajar dengan
santai.
Untuk itu, bagi kita, bagaimana
menggali keutamaan kesabaran agar mampu mencapai hakikat kesabaran yang sesungguhnya,
sabar pada benturan pertama.
Ketahuilah …
Segala hal yang membuat kita
gelisah, sempit dan berat hakikatnya berada pada wilayah hati. Dan kesabaran
sesungguhnya juga berada pada ranah hati. Bagaimana kita mampu mengkondisikan
hati yang diliputi himpitan dengan kesabaran sehingga ia menjadi lapang dan
bersedia menerima kenyataan tanpa berkeluh kesah. Yang perlu kita benahi untuk
memupuk kesabaran adalah mengkondisikan suasana hati. Disinilah kemampuan kita
mengelola hati dituntut, mengkondisikan musibah menjadi kekuatan kesabaran
sehingga hati menjadi kokoh bahkan kuat dalam menghadapi hidup.
Hati itu bersih, ia cendrung pada
fitrahnya yang bersih. Hati yang bersih akan melihat kepada apapun yang
ditetapkan Allah s.w.t. pastilah mengandung kebaikan dan mashlahat. Karena
Allah s.w.t. adalah Ilah. Allah s.w.t. pemilik alam semesta. Ia menjaga
dan memelihara. Ia menciptakan segalanya, dan Dia pula yang menetapkan segala
urusan. Pertanyaannya, apakah mungkin dalam tindakan Allah s.w.t. mengandung
keburukan? Tentu saja tidak. Menyadari hakikat ini, yang harus ditanamkan dalam
hati adalah tiada satupun yang ditetapkan oleh Allah s.w.t yang mengandung
keburukan. Pasti di dalamnya terdapat kebaikan. Inilah kata kunci yang harus terpatri.
Lantas, jika memang segala ketetapan
yang diberikan Allah s.w.t mengandung kebaikan, mengapa Allah s.w.t.
mendatangkan musibah? Bukankah musibah adalah keburukan dan mendatangkan
kesulitan, membuat hidup jadi sempit?
Musibah akan dipahami sebagai
keburukan kala ia dipandang secara sekilas dan kasat mata, ia dipahami
kesulitan jika hanya dinikmati saja, dan akan terasa menyempitkan kala hanya
memandang apa yang terjadi saat itu. Namun kala ia dipahami dengan hikmah bahwa
segala sesuatu yang ditetapkan Allah s.w.t pasti mengandung kebaikan, maka
dalam keburukan yang tampak, ada kebaikan yang tersembunyi, dalam kesulitan ada
kemudahan yang menjanjikan, dan dalam kesempitan ada kelapangan yang begitu
luas. Dan ketahuilah …semua itu hanya mampu dibaca oleh hati, hati yang lapang,
dan hati yang menyadari fitrahnya suci, cendrung memandang sesuatu dari sisi
positif.
Jika kita bawakan memaknai musibah
dengan hati, disinilah kesabaran akan bermakna. Hati yang lapang akan dapat
menerima musibah bukan sebagai suatu keburukan, bukan suatu kesempitan, dan
bukan menyempitkan hidup. Akan tetapi melahirkan puncak kesabaran yang luar
biasa. Sedahsyat apapun musibah kita akan mampu bersabar tanpa menunggu waktu. Bersabar
pada benturan pertama.
Pertanyaannya, bagaimana mengelola
hati untuk bisa menerima musibah hingga menumbuhkan kesabaran tersebut?
Pertama, harus disadari segala yang
menimpa kita adalah akibat ulah sendiri. Jika kita menanam sesuatu maka kita
akan memanen hasilnya. Kala kita melakukan tindakan, kita yang akan
bertanggungjawab dengan apa yang kita lakukan. Tidak terlalu rumit untuk
mengambil contoh ini, jika suatu kampung dilanda longsor besar, hal tersebut
akibat ulah penebangan hutan secara liar yang menyebabkan hilangnya daya tahan
tanah dari tekanan air. Pelakunya bisa jadi orang kampung tersebut, dan bisa
juga bukan. Jika orang kampung tersebut pelakunya, telah jelas, akibat ulah
mereka sendiri sehingga kampung mereka dilanda longsor. Lalu bagaimana dengan
pelaku yang tidak orang kampung tersebut? Tetap saja orang kampung tersebut
memiliki andil, sebab, mengapa mereka membiarkan tanpa melakukan pencegahan?
Inilah yang dimaksud dengan segala sesuatu yang menimpa kita akibat ulah tangan
sendiri.
Pada keadaan ini, jika kita
menyadari bahwa segala sesuatu yang menimpa kita adalah akibat dari ulah sendiri,
demikian pulalah dengan musibah yang menimpa kita. Sesungguhnya apabila kita
ditimpa musibah bisa jadi akibat ulah perbuatan sendiri. Jika kita telah
menyadari hal ini, masih layakkah kita berkeluh kesah akan musibah yang
menimpa? Selayaknya menyadarkan kita bahwa ternyata kita telah melakukan suatu
kesalahan, maka Allah s.w.t. mengingatkan kita melalui akibat perbuatan kita
sendiri dengan musibah. Saat kita menyadari hal ini adalah peringatan Allah s.w.t.
berupa teguran melalui musibah bahwa kita telah melakukan kesalahan, bukankah
ini bentuk kecintaan Allah s.w.t. dan kehendak Allah s.w.t untuk menggiring
kita agar kembali pada kebaikan? Lantas apa yang lahir dari hati kita kalau
tidak kesyukuran? Jika terhadap musibah saja kita telah bersyukur, apakah tidak
mungkin kita untuk mampu bersabar atasnya pada benturan pertama? Sungguh Allah
s.w.t sangat tepat perencanaan-Nya dan sama sekali tidak satupun luput dari
Kasih Sayang-Nya. Renungkanlah hal ini, semoga kita mendapatkan keutamaan.
Kedua, terkadang apa yang menimpa
kita tidak memiliki korelasi dengan tindakan kita. Artinya kala kita ditimpa
musibah sama sekali bukan akibat dari ulah sendiri. Sebagai contoh seperti
penebangan hutan secara liar yang menyebabkan longsor melanda kampung tadi.
Pelakunya bisa saja bukan orang kampung tersebut, dan orang kampung itupun
telah berupaya menjaganya dari penebang liar dari manapun, namun tetap saja
terjadi penebangan liar tanpa sepengetahuan mereka. Dalam tataran ini tentu
saja longsor terjadi bukan ulah orang kampung, tapi akibat dari sesuatu yang
sama sekali berada diluar kemampuan mereka.
Keadaan ini berada dalam ranah
ketentuan Allah s.w.t. yang berada diluar jangkauan kita. Untuk menyikapi
musibah yang semacam ini kita harus mampu mengambil hikmah-hikmah yang
tersirat. Yang jelas, yang harus tertanam bahwa segala sesuatu yang terjadi dan
menimpa kita adalah ketentuan Allah s.w.t. yang didalamnya mengandung kebaikan.
Bisa jadi sesuatu yang baik dalam pandangan kita tapi kenyataannya mengandung
keburukan. Maka Allah s.w.t. berupaya menariknya dari kita dalam bentuk
musibah. Seperti kisah hamba Allah swt.
dengan Nabi Musa a.s., kala sang hamba membunuh seorang anak, Nabi Musa as.
berkata:”Mengapa engkau membunuh jiwa yang bersih, bukan disebabkan ia
membunuh orang lain? Sesungguhnya kamu telah melakukan sesuatu yang mungkar.”
(T.Q.S. Al-Kahfi : 74). Dijelaskan oleh hamba tersebut:” …anak itu maka
kedua orang tuanya adalah orang-orang beriman, dan kami khawatir bahwa dia akan
mendorong kedua orang tuanya itu kepada kesesatan dan kekafiran. Dan kami
menghendaki, supaya Tuhan mereka mengganti bagi mereka dengan anak lain yang
lebih baik kesuciannya dari anaknya itu dan lebih dalam kasih sayangnya
(terhadap kedua orang tuanya).”(T.Q.S. Al-Kahfi : 80-81). Nabi Musa a.s.
tidak memahami kebaikan yang terkandung terhadap apa yang dilakukan sang hamba,
bahkan ia memandang suatu kemungkaran, dan memang secara kasat mata terlihat
seperti kemungkaran. Padahal didalamnya mengandung kebaikan.
Untuk itu, kata kunci memahami
segala musibah yang menimpa kita tiada lain dengan menanamkan kesadaran penuh
dan keyakinan yang kuat bahwa segala sesuatunya berada dalam ruang lingkup
kebaikan yang dipancarkan Allah swt. melalui cara-cara yang harus kita sikapi
dengan selalu berprsangka baik terhadap ketentuan Allah swt, insya Allah kita
akan mendapati makna dan mampu menunaikan kesabaran pada benturan pertama.
Keterangan
:
(*) Judul
berdasarkan kisah
(**)Lihat Kisah tersebut dalam Ibnul Qayyim al-Jauziyyah, diterjemahkan dari
‘Uddah ash-Shâbirîn wa Dzakhîrah asy-Syâkirîn oleh Iman Firdaus, Lc., Q.Dpl dengan judul
‘Uddatush Shâbirîn: Bekal Untuk Orang-Orang yang Sabar (Jakarta:
Qisthi Press, 2010), Cet. 1, h. 117-118
Tidak ada komentar:
Posting Komentar