WENDRI NALDI EL-MANINJAUI KHATIB BANDARO

WENDRI NALDI EL-MANINJAUI KHATIB BANDARO
WENDRI NALDI EL-MANINJAUI KHATIB BANDARO

Selasa, 06 Mei 2014

Kesabaran Seorang Ibu Yang Membantah Rasulullah SAW. (*)

Diriwayatkan oleh Sa’id Ibn Zarbi dari Muhammad ibn Sirin, dari Abu Hurairah r.a. yang bercerita,
Nabi s.a.w. melewati seorang wanita sedang bersimpuh di atas kuburan seraya menangis, lalu beliau bersabda kepadanya, ”Wahai ibu, bertakwalah pada Allah dan bersabarlah!”
“Wahai hamba Allah, anakku meninggal dunia,” jawab sang ibu.
Rasulullah s.a.w. bersabda lagi, “Wahai ibu, bertakwalah pada Allah dan bersabarlah!”
“Wahai hamba Allah, seandainya engkau tertimpa musibah sepertiku, niscaya engkau akan memaklumiku,” tukas sang ibu.
Rasulullah s.a.w masih bersabda, “Wahai ibu, bertakwalah pada Allah dan bersabarlah!”
“Wahai hamba Allah, engkau sudah mengatakannya. Maka enyahlah dariku!” seru sang ibu.
Rasulullah s.a.w. pun pergi meninggalkannya. Salah seorang sahabatnya mengikuti beliau, lalu menghampiri sang ibu dan bertanya kepadanya, “Apa yang dikatakan oleh orang yang telah pergi itu?”
Sang ibu menjawab, “Dia berkata kepadaku begini dan begitu, lalu aku menjawabnya begini.”
Laki-laki itu bertanya lagi kepadanya, “Tahukah engkau siapa dia?”
“Tidak, ” jawab sang ibu.
Laki-laki itu berkata, “Dia adalah Rasulullah s.a.w.”
Mendengar itu, sang ibu terperanjat dan langsung pergi menyusul Nabi s.a.w. dan berkata, “Aku bersabar, aku bersabar, wahai Rasulullah.”
Rasullah s.a.w. pun bersabda, “Yang namanya sabar itu hanyalah pada benturan pertama. Yang namanya sabar itu hanyalah pada benturan pertama.” (HR. Abu Ya’la dan Al-Bazzar, lihat Majma’ az-Zawâ’id, Vol. 3, hlm. 2)(**)
Kala kita mendapati musibah, dimanakah posisi kita saat itu? Pada posisi Rasulullah s.a.w. sebagai yang memahami kesabaran berada benturan pertama, atau pada posisi si ibu yang menyatakan,  “Wahai hamba Allah, seandainya engkau tertimpa musibah sepertiku, niscaya engkau akan memaklumiku,”?
Artinya, kala kita berada pada posisi Rasulullah s.a.w. kita mampu untuk bersabar kala kita berbenturan dengan musibah tanpa sedikitpun mengeluh semenjak dari pertama musibah itu menimpa kita, tidak menunggu beberapa waktu atau berjalannya masa. Inilah yang dimaksud sabar pada benturan pertama. Namun kala kita berada pada posisi si ibu, bisa saja kita bersabar, namun kesabaran itu muncul setelah berjalannya waktu, terjadi setelah beberapa saat setelah musibah itu menimpa kita. Pada posisi yang kedua ini, Rasulullah s.a.w. menyatakan secara mafhum mukhalafah-nya (makna sebaliknya) tidak lagi bisa dinamakan sabar, sebab kesabaran itu muncul tidak pada benturan pertama.
Mengapa demikian? Karena musibah hanya terasa berat kala pertama menimpa kita, jika ia telah berjalan beberapa saat dan ditinggalkan oleh waktu, rasa beratnya telah mulai berkurang. Dikarenakan suasana yang mengisi hati dan pikiran kita tidak lagi dipenuhi oleh musibah tersebut, tapi telah bercampur baur dengan suasana lain yang mempengaruhinya, bahkan suasana musibah itu lama kelamaan akan terkikis posisinya oleh suasana baru seiring semakin berjalannya waktu. Sehingga jangan heran kala kita mendengar seseorang memberi nasehat pada orang yang ditimpa musibah,” Tenanglah! Semuanya akan berakhir seiring perjalanan waktu.”
Itulah maknanya mengapa Rasulullah s.a.w. menyatakan bahwa yang dinamakan sabar pada benturan pertama. Bagaimana kita mampu untuk bertahan untuk tidak mengeluh, berputus asa kala ditimpa musibah yang memenuhi pikiran dan hati. Memang berat. Tapi bukankah dalam suatu yang berat itu terkandung keutamaan yang besar? Ibarat perbandingan anak sekolahan yang belajar dengan sungguh-sungguh penuh kelelahan dengan anak yang belajar hanya dengan santai. Tentulah anak yang bersungguh-sungguh tersebut mendapatkan hasil yang gemilang dibandingkan anak yang hanya belajar dengan santai.
Untuk itu, bagi kita, bagaimana menggali keutamaan kesabaran agar mampu mencapai hakikat kesabaran yang sesungguhnya, sabar pada benturan pertama.
Ketahuilah …
Segala hal yang membuat kita gelisah, sempit dan berat hakikatnya berada pada wilayah hati. Dan kesabaran sesungguhnya juga berada pada ranah hati. Bagaimana kita mampu mengkondisikan hati yang diliputi himpitan dengan kesabaran sehingga ia menjadi lapang dan bersedia menerima kenyataan tanpa berkeluh kesah. Yang perlu kita benahi untuk memupuk kesabaran adalah mengkondisikan suasana hati. Disinilah kemampuan kita mengelola hati dituntut, mengkondisikan musibah menjadi kekuatan kesabaran sehingga hati menjadi kokoh bahkan kuat dalam menghadapi hidup.
Hati itu bersih, ia cendrung pada fitrahnya yang bersih. Hati yang bersih akan melihat kepada apapun yang ditetapkan Allah s.w.t. pastilah mengandung kebaikan dan mashlahat. Karena Allah s.w.t. adalah Ilah. Allah s.w.t. pemilik alam semesta. Ia menjaga dan memelihara. Ia menciptakan segalanya, dan Dia pula yang menetapkan segala urusan. Pertanyaannya, apakah mungkin dalam tindakan Allah s.w.t. mengandung keburukan? Tentu saja tidak. Menyadari hakikat ini, yang harus ditanamkan dalam hati adalah tiada satupun yang ditetapkan oleh Allah s.w.t yang mengandung keburukan. Pasti di dalamnya terdapat kebaikan. Inilah kata kunci yang harus terpatri.
Lantas, jika memang segala ketetapan yang diberikan Allah s.w.t mengandung kebaikan, mengapa Allah s.w.t. mendatangkan musibah? Bukankah musibah adalah keburukan dan mendatangkan kesulitan, membuat hidup jadi sempit?
Musibah akan dipahami sebagai keburukan kala ia dipandang secara sekilas dan kasat mata, ia dipahami kesulitan jika hanya dinikmati saja, dan akan terasa menyempitkan kala hanya memandang apa yang terjadi saat itu. Namun kala ia dipahami dengan hikmah bahwa segala sesuatu yang ditetapkan Allah s.w.t pasti mengandung kebaikan, maka dalam keburukan yang tampak, ada kebaikan yang tersembunyi, dalam kesulitan ada kemudahan yang menjanjikan, dan dalam kesempitan ada kelapangan yang begitu luas. Dan ketahuilah …semua itu hanya mampu dibaca oleh hati, hati yang lapang, dan hati yang menyadari fitrahnya suci, cendrung memandang sesuatu dari sisi positif.
Jika kita bawakan memaknai musibah dengan hati, disinilah kesabaran akan bermakna. Hati yang lapang akan dapat menerima musibah bukan sebagai suatu keburukan, bukan suatu kesempitan, dan bukan menyempitkan hidup. Akan tetapi melahirkan puncak kesabaran yang luar biasa. Sedahsyat apapun musibah kita akan mampu bersabar tanpa menunggu waktu. Bersabar pada benturan pertama.
Pertanyaannya, bagaimana mengelola hati untuk bisa menerima musibah hingga menumbuhkan kesabaran tersebut?
Pertama, harus disadari segala yang menimpa kita adalah akibat ulah sendiri. Jika kita menanam sesuatu maka kita akan memanen hasilnya. Kala kita melakukan tindakan, kita yang akan bertanggungjawab dengan apa yang kita lakukan. Tidak terlalu rumit untuk mengambil contoh ini, jika suatu kampung dilanda longsor besar, hal tersebut akibat ulah penebangan hutan secara liar yang menyebabkan hilangnya daya tahan tanah dari tekanan air. Pelakunya bisa jadi orang kampung tersebut, dan bisa juga bukan. Jika orang kampung tersebut pelakunya, telah jelas, akibat ulah mereka sendiri sehingga kampung mereka dilanda longsor. Lalu bagaimana dengan pelaku yang tidak orang kampung tersebut? Tetap saja orang kampung tersebut memiliki andil, sebab, mengapa mereka membiarkan tanpa melakukan pencegahan? Inilah yang dimaksud dengan segala sesuatu yang menimpa kita akibat ulah tangan sendiri.
Pada keadaan ini, jika kita menyadari bahwa segala sesuatu yang menimpa kita adalah akibat dari ulah sendiri, demikian pulalah dengan musibah yang menimpa kita. Sesungguhnya apabila kita ditimpa musibah bisa jadi akibat ulah perbuatan sendiri. Jika kita telah menyadari hal ini, masih layakkah kita berkeluh kesah akan musibah yang menimpa? Selayaknya menyadarkan kita bahwa ternyata kita telah melakukan suatu kesalahan, maka Allah s.w.t. mengingatkan kita melalui akibat perbuatan kita sendiri dengan musibah. Saat kita menyadari hal ini adalah peringatan Allah s.w.t. berupa teguran melalui musibah bahwa kita telah melakukan kesalahan, bukankah ini bentuk kecintaan Allah s.w.t. dan kehendak Allah s.w.t untuk menggiring kita agar kembali pada kebaikan? Lantas apa yang lahir dari hati kita kalau tidak kesyukuran? Jika terhadap musibah saja kita telah bersyukur, apakah tidak mungkin kita untuk mampu bersabar atasnya pada benturan pertama? Sungguh Allah s.w.t sangat tepat perencanaan-Nya dan sama sekali tidak satupun luput dari Kasih Sayang-Nya. Renungkanlah hal ini, semoga kita mendapatkan keutamaan.
Kedua, terkadang apa yang menimpa kita tidak memiliki korelasi dengan tindakan kita. Artinya kala kita ditimpa musibah sama sekali bukan akibat dari ulah sendiri. Sebagai contoh seperti penebangan hutan secara liar yang menyebabkan longsor melanda kampung tadi. Pelakunya bisa saja bukan orang kampung tersebut, dan orang kampung itupun telah berupaya menjaganya dari penebang liar dari manapun, namun tetap saja terjadi penebangan liar tanpa sepengetahuan mereka. Dalam tataran ini tentu saja longsor terjadi bukan ulah orang kampung, tapi akibat dari sesuatu yang sama sekali berada diluar kemampuan mereka.
Keadaan ini berada dalam ranah ketentuan Allah s.w.t. yang berada diluar jangkauan kita. Untuk menyikapi musibah yang semacam ini kita harus mampu mengambil hikmah-hikmah yang tersirat. Yang jelas, yang harus tertanam bahwa segala sesuatu yang terjadi dan menimpa kita adalah ketentuan Allah s.w.t. yang didalamnya mengandung kebaikan. Bisa jadi sesuatu yang baik dalam pandangan kita tapi kenyataannya mengandung keburukan. Maka Allah s.w.t. berupaya menariknya dari kita dalam bentuk musibah. Seperti kisah hamba  Allah swt. dengan Nabi Musa a.s., kala sang hamba membunuh seorang anak, Nabi Musa as. berkata:”Mengapa engkau membunuh jiwa yang bersih, bukan disebabkan ia membunuh orang lain? Sesungguhnya kamu telah melakukan sesuatu yang mungkar.” (T.Q.S. Al-Kahfi : 74). Dijelaskan oleh hamba tersebut:” …anak itu maka kedua orang tuanya adalah orang-orang beriman, dan kami khawatir bahwa dia akan mendorong kedua orang tuanya itu kepada kesesatan dan kekafiran. Dan kami menghendaki, supaya Tuhan mereka mengganti bagi mereka dengan anak lain yang lebih baik kesuciannya dari anaknya itu dan lebih dalam kasih sayangnya (terhadap kedua orang tuanya).”(T.Q.S. Al-Kahfi : 80-81). Nabi Musa a.s. tidak memahami kebaikan yang terkandung terhadap apa yang dilakukan sang hamba, bahkan ia memandang suatu kemungkaran, dan memang secara kasat mata terlihat seperti kemungkaran. Padahal didalamnya mengandung kebaikan.
Untuk itu, kata kunci memahami segala musibah yang menimpa kita tiada lain dengan menanamkan kesadaran penuh dan keyakinan yang kuat bahwa segala sesuatunya berada dalam ruang lingkup kebaikan yang dipancarkan Allah swt. melalui cara-cara yang harus kita sikapi dengan selalu berprsangka baik terhadap ketentuan Allah swt, insya Allah kita akan mendapati makna dan mampu menunaikan kesabaran pada benturan pertama.

Keterangan :

(*) Judul berdasarkan kisah
(**)Lihat Kisah tersebut dalam Ibnul Qayyim al-Jauziyyah, diterjemahkan dari ‘Uddah ash-Shâbirîn wa Dzakhîrah asy-Syâkirîn oleh Iman Firdaus, Lc., Q.Dpl dengan judul ‘Uddatush Shâbirîn: Bekal Untuk Orang-Orang yang Sabar (Jakarta: Qisthi Press, 2010), Cet. 1, h. 117-118

Tidak ada komentar:

Posting Komentar