WENDRI NALDI EL-MANINJAUI KHATIB BANDARO

WENDRI NALDI EL-MANINJAUI KHATIB BANDARO
WENDRI NALDI EL-MANINJAUI KHATIB BANDARO

Senin, 30 Januari 2012

Duhai Hati, Mengapa Engkau Enggan Menerima Nasehat


Assalaamu'alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh

Puji syukur kepada Allah swt, shalwat buat Rasulullah saw.

Nasehat kebajikan, merupakan pancaran cahaya yang hendak dimasukkan ke dalam hati manusia, berharap dengan nasehat orang-orang yang mendapatkan nasehat dapat merubah cara pandang hidupnya kearah jalan kebaikan. Para ulama terdahulu, penguasa-penguasa muslim yang ta’at, kita temukan dalam sejarah, mereka banyak yang mencintai nasehat, nasehat dari para ulama, atau kaum sufi, sehingga para ulama atau kaum sufi berada pada kedudukan yang mulia. Bagi orang-orang shaleh terdahulu, mereka biasa saja dikala berbicara dengan saudaranya seiman, “ Saudaraku, nasehatilah aku ”. Walau terkadang bisa jadi orang yang memberi nasehat tingkat keilmuannya berada dibawah orang yang diberi nasehat. Namun jiwa haus akan nasehat itulah yang membuat mereka selalu merasa butuh untuk dinasehati.

Dalam tataran kehidupan kita hari ini, bagaimana kita menyikapi nasehat ? Apalagi jika yang memberi nasehat itu orang-orang yang berada dibawah kita kedudukannya dalam berbagai hal. Bagaimana kita menyikapi nasehat dikala anak kita mencoba memberi nasehat kepada kita ? Bagaimana kesan kita dikala orang miskin yang memberi nasehat kepada kita, sementara kita orang kaya ? Bagaimana tanggapan kita jika murid kita memberi nasehat kepada kita selaku guru ? Bagaimaan perasaan kita jika kita seorang pemimpin diberikan nasehat oleh rakyat ? Bagaimana reaksi kita dikala kita mendapatkan nasehat dari orang biasa, sementara kita seorang ulama dan paham akan hakikat nasehat ? Semuanya berpulang kepada hati kita masing-masing.
Nasehat, dalam bentuk apapun, dari sumber manapun, dengan cara apapun selama berupa pancaran kebajikan yang mengalir dari ruh tataran al-Qur’an dan Sunnah hakekatnya tetap bermakna nasehat, karena nasehat tidak akan mengalami perubahan makna jika diberikan oleh anak kepada orang tua, orang miskin kepada orang kaya, murid kepada guru, rakyat kepada pemerintah, orang biasa kepada ulama. Inti nasehat bukanlah pada kedudukan keduniaan sang pemberi nasehat, tapi sejauhmana pemahaman sang pemberi nasehat akan nasehat yang ia sampaikan.

Saudaraku …

Ketahuilah … penyebab gersang dan kerasnya hati dikarenakan hati ini jarang dialiri nasehat, hati ini selalu diliputi oleh rasa merasa diri lebih dari segalanya, sehingga tak ada yang melembabkan dan melunakkannya. Terkadang nasehat itu ada, tapi karena merasa diri lebih yang menyebabkan nasehat tak bergeming. Bagaimana nasehat akan bergeming dikala, misalnya, kita seorang guru, lalu ada seorang murid yang memberi nasehat tentang kesalahan kita, lantas karena ia murid, kita enggan menerima nasehat darinya secara kedudukan kita sebagai guru, maka dengan berbagai macam dalih dan alasan kita lontarkan kepada sang murid tentang kesalahan kita yang intinya kita tidak bisa menerima nasehat dari sang murid, dengan satu alasan dia murid kita, tak layak memberi nasehat kepada kita sebagai guru. 

Begitu juga dikala kita sebagai orang tua yang mendapat nasehat dari sang anak, paling-paling tanggapan kita, “ Orang tua pula kau ajari,  dasar anak durhaka ”. Padahal kita yang durhaka pada nasehat yang disampaikannya. Hal itu sebenarnya karena itu tadi, merasa diri lebih, sehingga nasehat tak mampu menembusnya.

Untuk itu saudaraku …

Agar jiwa yang gersang dan keras ini luluh dengan kebaikan, mampu menerima pancaran nasehat, maka bukalah benteng-benteng penghalangnya, bukalah belenggu-belenggunya, cabutlah ranjau-ranjaunya, apakah gerangan ? Ya, hapuslah dalam jiwamu perasaan merasa diri lebih, karena tidak ada yang melebihi manusia di dunia ini dimata Allah swt kecuali tingkat ketaqwaannya. Dikala kita mendapatkan nasehat dari manapun sumbernya, hakikatnya ia mengajarkan kita untuk mencapai derajat ketinggian dalam pandangan Allah swt. Maka berterima kasihlah kepada orang-orang yang telah bersedia memberi nasehat kepada kita, walau dari anak kita, dari murid kita, dari orang miskin dari kita, dari rakyat, dari segala apapun yang mungkin selama ini kita anggap tidak layak memberi nasehat, padahal layak dari sisi hakekat nasehat. Ketahuilah … semua itu bentuk kepedulian dan rasa cinta … ternyata masih banyak orang yang bersedia menasehati kita … berarti masih banyak orang yang tidak ingin membiarkan kita berkubang kesalahan … dan berarti masih banyak orang yang berharap kita berada pada jalan kebaikan. 

Syukurilah semua itu … sebelum kesempatan bersyukur itu dicabut oleh Allah swt. Terimalah nasehat dari manapun … selama nasehat tersebut berdasarkan tuntutanan al-Qur’an dan Sunnah.

Assalaamu'alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh

Tidak ada komentar:

Posting Komentar