Ketahuilah …orang tuamu adalah sosok yang paling
berjasa dalam hidupmu. Sosok yang paling dekat dan paling banyak tahu tentang
dirimu. Sosok yang tak kau temui cinta
yang melebihi dari mereka. Sosok yang rela bersusah payah, banting tulang,
hingga hancur luluh diri mereka ditelan beratnya badai kehidupan untuk
menghidupimu. Namun mereka tetap tegar dan selalu berupaya untuk tangguh.
Kehadiranmu dalam kehidupan mereka suatu anugrah
yang menjadikan mereka merasa hidup ini bermakna. Kecintaan mereka padamu
dengan apapun takkan sanggup kau membalasnya. Walau sepanjang umurmu kau
gunakan untuk berupaya membalas jasanya katamu, takkan terbalas seperempatpun
dari muatan cinta mereka untukmu.
Siapa yang mengandungmu dalam keadaan susah yang
bertambah-tambah selama sembilan bulan ? Siapa yang merawatmu semenjak kecil,
dari tidak tahu apa-apa hingga kau seperti ini adanya ? Siapa yang
mendekapmu kala malam menjelang seiring dinginnya semilir angin malam yang
mulai menghembus menusuk pada tulang-tulang ? Siapa yang merasakan kesedihan dan kepiluan hati
kala menyaksikan dirimu ditimpa sesuatu yang membuatmu berat ? Itulah ibumu
yang selalu merawatmu sejak kecil mulai dari kandungan hingga kau seperti ini.
Dialah ayahmu yang tak kenal lelah mencari nafkah walau terkadang harus
berurusan dengan hal-hal tersulit yang jika dihadapkan padamu kau tidak akan
sanggup.
Berbaktilah pada orang tuamu, posisikanlah
kecintaanmu kepada mereka dibawah kecintaanmu kepada Allah swt. rasul-Nya dan
berjihad dijalan-Nya. Tinggikanlah ia dalam hatimu di atas insan-insan umumnya
di permukaan bumi ini. Selama mereka mengajakmu pada keta’atan, maka
kedurhakaan besar bagimu jika kau melanggar perintah mereka. Jangan kau
menzhalimi mereka, mengucapkan kata-kata
yang dapat menyinggung mereka saja akan berdampak besar bagi kehidupanmu,
dampak yang akan membinasakanmu.
Berharaplah akan ridha orang tuamu, karena Ridha Allah swt. terletak pada ridha orang
tuamu, dan kemurkaan Allah swt. terletak pada kemurkaan orang tuamu (H.R.
Tirmidzi dan Hakim).
Jadilah anak shaleh yang selalu mendo’akan
mereka, baik kala mereka masih hidup maupun telah meninggal. Kewajibanmu tidak
terbatas ruang dan waktu. Hanya tercerabutnya nyawa dari badanmulah yang
menjadi batas untuk berbakti kepada orang tuamu. Selama hembusan nafasmu masih
ada, kau wajib berbakti pada mereka. Asuh dan berlaku baiklah dihari tua
mereka, berdo’alah untuk mereka disetiap untaian do’a-do’amu yang panjang.
Ketahuilah …orang tuamu, semakin bertambah
usianya, semakin sensitif jiwanya, kelak kau akan temui hal-hal yang membuat
kau tidak menyenangi akan apa yang mereka lakukan, mereka akan kembali pada
jiwa kekanak-kanakan, ingatan merekapun tak sempurna, kondisi mereka payah,
saat itulah kau akan diuji, apakah kau mampu berbuat kebajikan pada mereka
dalam kondisi sulit itu sebagai bukti baktimu pada mereka.
Kala mereka wafat, keharusan bagimu untuk
mengurus jenazah mereka, jangan kau serahkan pada orang lain, kecuali jika
peran orang lain hanya sebagai pembantumu sebagai manifestasi fardhu kifayah.
Jika kau serahkan segala urusan jenzah orang tuamu pada orang lain, sungguh kau
anak yang tidak berguna. Apakah kau lupa setiap hari kau dimandikan kala kau
kecil, namun hanya untuk memandikan
jenazahnya yang satu kali itu kau menyatakan tidak mampu, sungguh suatu kebodohan
jika hal ini menimpamu. Apalagi jika kau tidak mampu menyalatkan jenazah
mereka. Apakah kau berharap do’a orang lain untuk orang tuamu. Sementara do’a
yang tidak terhijab itu adalah do’a dari anak yang shaleh. Maka kau harus
shaleh, kau harus menjadin anak yang mampu mendo’akan kedua orang tuamu, dan
kau harus berupaya agar do’amu diijabah oleh Allah swt.
Namun, jika mereka mengajakmu pada kemaksiatan,
maka tiada kewajiban bagimu untuk mengikuti dan patuh pada mereka. Tapi
hendaklah kau menyadarkan mereka. Dan jika mereka tetap pada pendirian mereka.
Kau harus tetap berlaku baik pada mereka. Berlaku baik dalam artian bukan berarti kau harus patuh pada kemaksiatan
mereka.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar