WENDRI NALDI EL-MANINJAUI KHATIB BANDARO

WENDRI NALDI EL-MANINJAUI KHATIB BANDARO
WENDRI NALDI EL-MANINJAUI KHATIB BANDARO

Rabu, 27 Februari 2013

Balanjuang Ukhuwah " Kolak Labu " PK MAN Maninjau


Assalaamu'alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh

Puji syukur pada kepada Allah SWT.
Shalawat teruntuk Rasulullah SAW.

Bukankah pembelajaran bukan hanya berkutat dengan rumus-rumus rumit dan analisis-analisis dalam kelas dalam sebuah PBM. Kehidupan dan apa yang kita lakukan merupakan sebuah pembelajaran hidup. Belajar untuk memahami watak dan kebiasaan orang lain, termasuk pendapatnya. Belajar untuk menyadari bahwa kehidupan ini terikat dengan kebutuhan-kebutuhan orang lain. Belajar untuk menyadari bahwa bukan hanya kita saja yang menghuni planet bumi ini.

Semakin kuat kemampuan kita untuk menggali hikmah kehidupan, mengambil intisari akan setiap keadaan, menarik ibrah dari setiap peristiwa, maka akan lembutlah jiwa itu, kikislah segala kesombongan, pupuslah segala keangkuhan, hingga berubah menjadi cinta, kasih sayang, saling menghargai, disanalah makna persaudaraan akan bermakna. Persaudaraan yang telah Islam ajarkan, persaudaraan yang disana kami memupuknya dalam komunitas keluarga besar PK MAN Maninjau.

Senin, 14 R. Akhir 1434 H melalui sebuah momen penting penuh keindahan, kami rajut rasa ukhuwah itu dalam “ Balanjuang Kolak Labu ”. Balanjuang dalam tradisi kami erat kaitannya dengan kebersamaan, persaudaraan, dan aplikasi nilai-nilai Islam dalam sebuah komunitas jama’ah. Suatu media bagi kami menyemai benih-benih kebajikan, menyuburkannya dalam kehidupan kami sebuah kekeluargaan. Kekeluargaan yang kami coba tanam sebagai manifestasi bahwa kami adalah bersaudara.

Kami menyadari, bahwa kami butuh dengan Islam, dan Islam itu akan bangkit dalam sebuah kekuatan jama’ah, kekuatan yang dibangun atas dasar kebersamaan. Kami sepenuhnya mengetahui bahwa kami adalah seorang muslim, ada kewajiban yang harus kami tunaikan, belajar tentang ke-Islaman kami, memperjuangkannya, hingga membanggakannnya. Semua ini bukan untuk berbangga diri, bukan juga sebuah utopia akan kebangkitan Islam dalam usaha kami. Namun dengan sebuah keyakinan yang terhunjam dalam relung hati terdalam, bahwa Alla SWT tidak akan menyia-nyiakan  perjuangan hamba-Nya kala ditunaikan dengan nawaitu ikhlas dan tujuan akhir dari semua itu pengabdian.

( Keluarga Besar PK MAN Maninjau)

Assalaamu'alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh

Jumat, 15 Februari 2013

Catatan Perjalanan Study Tour XI PK MAN Maninjau T.P. 2012/2013, Ke Kesultanan Siak Sri Indrapura, Riau, 1434 H


Assalaamu'alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh.
Puji syukur kepada Allah SWT, shalawat teruntuk Rasulullah SAW.


Suatu cita-cita dan harapan jika ditanam dengan kesungguhan dan nawaitu yang ikhlas hanya mengharap Ridha Allah SWT, insya Allah, Allah SWT akan membuka jalan dan memberi kemudahan urusan. Inilah suatu kenikmatan dan anugrah terindah yang kami rasakan.

Akhirnya, segala cita-cita dan harapan, Study Tour ke Kesultanan Siak Sri Indrapura, Kabupaten Siak, Riau oleh Keluarga besar XI PK MAN Maninjau tahun pelajaran 2012/2013 terwujud. Dalam waktu yang relatif singkat, berangkat Sabtu pagi 28 Rabi’ul Awwal hingga Senin pagi 30 Rabi’ul Awwal 1434 H,  banyak hal yang kami peroleh. Menikmati indahnya lukisan alam, pancaran sinar mentari, dihiasi gerimis hujan, sepanjang perjalanan yang penuh pesona dan i’tibar, kami memperoleh kenikmatan yang luar biasa. Indahnya berbagi, kebersamaan, persaudaraan, suguhan pesona alam yang memukau membuat perjalanan ini penuh kenangan yang begitu berharga. Kenangan yang semoga menjadi catatan sejarah, bahwa PK MAN Maninjau pernah menoreh suatu prestasi yang gemilang.

Memang, hakikat yang dituju dalam perjalanan ini Istana Siak Sri Indrapura. Namun sepanjang perjalanan, kami mencoba mengambil manfaat. Setiap momen yang dianggap penting kami sambangi. Seperti singgah di Candi Muara Takus. Dengan harapan dapat memahami kepercayaan-kepercayaan umat terdahulu terutama menggali informasi melalui peninggalan mereka, dalam hal ini Candi. 


Tak lupa, indahnya panorama Danau Buatan, walau dalam kondisi gerimis, kamipun mencoba untuk menikmatinya. Juga dengan harapan hal ini menjadi suatu pembelajaran penting tentang peradaban yang ditoreh umat manusia.





Perjalanan ke Tanah Siak memang terasa cukup jauh, jalan yang dihiasi hamparan ladang sawit sejauh mata memandang, bergelombang dan berliku, melewati jembatan-jembatan panjang, namun tidak meruntuhkan semangat kami untuk sampai ke tanah yang diimpikan untuk menikmati dan menggali pelajaran dari Sejarah Peradaban di tanah yang didominasi tulisan-tulisan Arab Melayu memukau.




Minggu, 29 Rabi’ul Awwal 1434 H sekitar waktu shalat Zhuhur kami sampai di tanah Istana Siak. Suatu lokasi yang begitu indah, bersih, tertata dan menarik jiwa-jiwa pencinta ilmu untuk menggali apa yang terkandung dalam sejarah yang telah tertanam di wilayah ini. Ba’da menunaikan shalat zhuhur dan dengan segala persiapan, kami menuju Istana Siak Sri Indrapura. Istana yang kami temui berlantai dua itu terasa tidak terlalu besar, namun memiliki hamparan halaman yang begitu luas, dihiasi keindahan taman bunga dan rerumputan yang menghijau. Para siswa kelas XI PK MAN Maninjau mulai melancarkan misi, menggali informasi tentang keberadaan Kesultanan Siak Sri Indrapura, baik melalui wawancara dengan petugas maupun dengan melihat langsung keterangan-keterangan yang nemang tersebar diberbagai tempat dalam lokasi Istana. Tak lupa kami mengunjungi makam-makam yang jumlahnya begitu banyak.





Semoga semua ini menjadi suatu keberkahan, dan lebih menguatkan para kader-kader Islam XI PK MAN Maninjau, bahwa menjadi anak jurusan agama bukanlah pilihan yang salah. Tapi pilihan yang semakin memantapkan hati mereka bahwa mereka tidak salah dalam memilih jurusan. Insya Allah.

      
Assalaamu'alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh

Jumat, 08 Februari 2013

Keindahan Berbagi Alumni ROHIS Bina Remaja Islam MAN Maninjau


Assalaamu'alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh

Puji syukur pada Allah SWT, shalawat buat Rasulullah SAW.

Hari ini, ROHIS Bina Remaja Islam MAN Maninjau, dihadiri kader-kader Bina Remaja Islam yang sekarang telah menjadi alumni, alhamdulillaah, pergerakan dakwah mereka semakin maju, banyak diantara mereka yang melanjutkan perjuangan dalam gerakan dakwah kampus. Adakah kenikmatan dan kemuliaan yang melebihi hal ini. Kala hati dan jiwa telah tertambat dalam dakwah, maka segala jalan akan Allah SWT bukakan untuk selalu bernaung di bawah panji dakwah yang semakin disadari bahwa dakwah merupakan suatu keharusan. Maka lihatlah keterikatan hati mereka dengan dakwah, mereka rela jauh-jauh datang menghadiri gerakan dakwah sekolah ROHIS Bina Remaja Islam MAN  Maninjau, tempat mereka dulu meraup dan menikmati indahnya ilmu dalam dakwah.

Mereka hadir, bukan sekedar hadir, tapi dengan harapan kehadiran mereka menjadi support bagi adik-adik mereka yang tergabung dalam ROHIS Bina Remaja Islam MAN Maninjau. Banyak hal yang mereka sampaikan, tanpa terkecuali diantara mereka juga berperan sebagai pemateri dalam Liqa’ (pertemuan) mingguan yang digelar Jum’at ini. Fadli dan Eva ( Mahasiswa IAIN Imam Bonjol Padang), Dahlia, Ira, Liza, Alan dan Rahmat (Mahasiswa STAIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi). Itulah mereka yang hadir dari sekian Alumni ROHIS Bina Remaja Islam MAN Maninjau yang sekarang tersebar dibeberapa perguruan tinggi.

Banyak hal yang mereka bagi, mengenai gerakan dakwah kampus yang menggurita, baik KSI Ulil Albab IAIN Imam Bonjol Padang, maupun UKMD ‘Azzamul ‘Iffah STAIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi. Subhaanallaah. Suatu pembuktian mereka begitu mengenal urgensi dakwah dan hal ini mengindikasikan bahwa mereka adalah aktifis yang memiliki nawaitu yang kuat untuk membangun kelangsungan dakwah.
Hanya orang-orang yang memiliki pemikiran cemerlanglah yang mampu memahami bahwa dakwah adalah keharusan, hanya orang-orang yang istiqamah yang mampu melewati jalan dakwah yang penuh rintangan dan berliku sarat onak dan duri. Dan hanya orang-orang yang menyadari dirinya muslimlah yang akan memperjuangkan kelangsungan dakwah yang telah dirintis Rasulullah SAW.

Assalaamu'alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh


Minggu, 27 Januari 2013

Rohis Kecamatan Tanjung Raya, Gelar Silaturrahim di MAN Maninjau


Pagi itu, di seputaran Maninjau,  cahaya mentari telah menyembul diufuk timur, cahayanya yang kekuning-kuningan berpendar menyeruak menerpa tanah-tanah basah dan tumpukan pasir berkerikil dan bebatuan yang tak beraturan, hasil dari olahan air hujan yang memang lebat semalam. Hari itu Minggu, tanggal 15 Rabi’ul Awwal 1434 H. Seperti biasanya jadwal libur anak sekolahan, mungkin diantara mereka ada yang menggunakan kesempatan tersebut untuk ngenet, kumpul-kumpul sama teman, atau bertamasya ke tempat-tempat indah penuh sensasi sekedar melepas lelah dan mengencerkan otak yang dalam enam hari berturut-turut sebelumnya telah disesaki berbagai macam muatan ilmu, baik teori maupun praktek.

Namun tidak untuk beberapa orang pelajar Islam yang pada saat itu berkumpul di lingkungan sebuah institusi pendidikan keagamaan  tepatnya di tepian Danau Maninjau itu, yakni MAN Maninjau. Tak ada acaran ngenet-ngenetan, apalagi ngumpul-ngumpul sekedar ngerumpi, tentunya tidak juga untuk tamasya ria. Mereka berkumpul untuk satu tujuan, bergabung dalam sebuah komunitas jaringan para kafilah dakwah yang terdiri dari para remaja yang memiliki pemikiran yang layak dibanggakan selaku muslim. Ya, disana sedang digelar sebuah acara akbar, pertemuan para aktifis pelajar Islam, dalam suatu wadah yang mereka kenal dengan sebutan Rohis. Kegiatan yang dirancang secara bulanan oleh Forum Rohis se Kecamatan Tanjung Raya itu mengagendakan silaturrahim antar pelajar Islam se-kecamatan Tanjung Raya yang pada waktu itu Rohis MAN Maninjau baik dari kelompok Rohis Bina Remaja Islam maupun Rohis Forum Annisa’ bergabung sebagai tuan rumah (panitia pelaksana).

Begitu banyak para pelajar Islam yang hadir, seandainya kalau sekiranya ada orang-orang yang menganggap Rohis sebagai kegiatan yang tidak bermanfaat dan tidak menarik, mungkin jika mereka menyaksikan kegiatan yang digelar oleh pelajar Islam tersebut akan berubah pikiran. Bahwa ternyata kegiatan Rohis diminati oleh pelajar, dan mereka memiliki kesungguhan atas itu. Buktinya, hanya bermodal snack dan satu minuman kecil, mereka mampu bertahan dalam waktu yang lama mengikuti kegiatan hingga usai. Subhaanallaah !


Dalam kegiatan tersebut, hadir pemateri yang memberikan tausyiah oleh Afni Lindra, S.Pd.I dan pemberian untaian-untaian problematika remaja Islam serta pentingnya mengikuti kegiatan Rohis oleh ketua Rohis Bina Remaja Islam MAN Maninjau, Hendriko. Dengan protokol Sukmayeti (sekretaris Rohis Bina Remaja Islam MAN Maninjau), pembacaan ayat suci al-Qur'an oleh Abrar Kurniawan (departemen Syi'ar Rohis Bina Remaja Islam MAN Maninjau), sepatah kata dari Sepriyanto (ketua Forum Rohis se-Kecematan Tanjung Raya, siswa SMKN 1 Tanjung Raya), kata sambutan dari instansi keluarga besar MAN Maninjau (diwakili Bapak Noval Amri Hilal, S.Pd) selaku yang menyediakan tempat, dan ditutup dengan do'a oleh Febri Ramadhan (anggota Rohis Bina Remaja Islam MAN Maninjau), banyak hal-hal kebajikan yang dapat dipetik dari kegiatan tersebut. Maka merugilah pelajar yang mengaku muslim, sementara mereka mengetahui ada wadah yang mempersatukan mereka, namun jangankan peduli, melirikpun tidak. Dan beruntunglah pelajar Islam yang telah menggunakan potensi dirinya untuk kebajikan, berupaya bermenshalehkan diri dan bercita-cita untuk meshalehkan orang lain.

Yang terpenting, yang ingin diungkapkan disini, bahwa kehadiran mereka, para pelajar Islam di seputaran Tanjung Raya tersebut, merupakan suatu pembuktian, bahwa masih ada harapan kekuatan Islam itu akan tersemai indah melalui tangan-tangan mereka, masih ada harapan bahwa pelajar hari ini bisa diharapkan menjadi pelopor kebangkitan umat, kekuatan umat yang kokoh, sebagaimana para pendahulun mereka telah membuktikannya. Hal ini cukup menjadi sebuah pembuktian, bahwa jika yakin akan suatu upaya yang dilakukan dengan kesungguhan, Insya Allah harapan itu akan selalu ada. Sungguh yang paling merugi dalam hidup ini adalah, kala ada orang-orang yang menyemai kebajikan dalam bentuk apapun, tapi ternyata kita tidak tergabung dalam barisan itu, kita hanya menjadi penonton yang pesimis, setelah itu akan terkurung dalam ketidakberdayaan, saat menyaksikan orang-orang telah jauh melampaui kita dari segi potensi menggunakan kesempatan hidup yang fana ini.
     

Jumat, 25 Januari 2013

Materi LDKS : Sirah Nabawiyah



Kegiatan :
LDKS MAN Maninjau T.P. 2012/2013

Materi :
Sirah Nabawiyah

Hari/Tanggal :
Jum’at, 13 Rabi’ul Awwal 1434 H/25 Januari 2013.

Penyaji/Pemateri :
M. Nur Akhiar, S.Ag, ( Kepala KUA Kecamatan Tanjung Raya ), Tempat/Tanggal Lahir : Koto Malintang/17 Januari 1978, Pendidikan : Ushuluddin, Aqidah Filsafat

Intisari Materi (ini berdasarkan hal yang ditangkap dari pemaparan penyaji ) :

Rasulullah saw  sosok yang luar biasa, beliau dibesarkan  oleh alam, berbeda dengan pemimpin-pemimpin dunia yang terkenal, Alexander Yang Agung misalnya, tokoh yang begitu terkenal namun ia dibesarkan oleh didikan Aristoteles, ada sosok yang membesarkannya. Sementara Rasulullah saw tidak ada sosok yang membesarkan, tapi alam yang membesarkan, dalam artian beliau dihidupkan oleh Allah SWT dalam keadaan kehidupan alam yang sulit . Saat dalam kandungan ayah beliau telah meninggal, saat kecil diasuh sang kakek, dididik sebagai pengembala. Demikianlah cara Allah SWT mendidik Nabi SAW dengan cara hidup yang keras. Pelajaran pertama yang dapat diambil :

“ Biasakanlah hidup keras, hidup yang sulit, karena hidup itu memang memiliki tantangan yang keras “

Rasulullah saw hidup dengan tantangan yang besar. Namun Allah SWT telah menggariskan, Allah SWT tidak akan memberi beban sesuatu yang tidak mampu kita memikulnya (lihat Q.s al-Baqarah : 286). Sebagaimana sejarah menggambarkan bagaimana Rasulullah SAW menghadapi kejamnya Abu Lahab, Abu Jahal, Abu Sofyan dan berbagai tantangan. Namun dalam tantangan itu, sikap Nabi SAW membuat orang hormat, sebab dalam menyikapi semua itu, Rasulullah SAW selalu memaafkan. Membalas boleh dalam Islam, tapi dengan yang setimpal, namun lebih diutamakan memaafkan. Jika menyangkut masalalah pribadi, Rasulullah SAW lebih memilih memaafkan, namun tidak berlaku dalam masalah Aqidah, Rasulullah SAW tegas jika aqidah dilecehkan, begitu juga jika masalah syari’a, jika fathimah yang berbuat kesalahan, beliau siap menerapkan hukuman, disini tidak berlaku kemaafan. Pelajaran kedua yang dapat diambil :

“Berjiwa pemaaflah”

Rasulullah SAW sangat rendah hati (tawadhu’), jika bertemu dengan anak kecil, beliau dulu yang menyapa. Rendah hati inilah yang membuat baik dan banyak hubungan kita dengan orang lain. Jika kita merasa lebi dari orang lain maka hal ini akan menimbulkan jarak antara kita dengan orang lain. Rendah hati yang ditonjolkan Rasulullah SAW menyebabkan siapa saja bisa bersahabat dengan beliau. Seandainya beliau ingin sombong hal itu mudah saja, bukankah beliau Nabi, dosa beliau diampuni, namun beliau tidak menunjukkan sikap sombong. Maka pelajaran yang ketiga :

“Rendah hatilah !”

Hendaklah mampu menunda kesenangan sesaat yang diinginkan untuk masa depan yang datang, itulah kesabaran. Disinilah keunggulan Rasulullah SAW.. Jika beliau sebenarnya ingin mendapatkan kesenangan, beliau bisa saja hidup bersama pamannya beliau yang kaya, yakni Abbas, namun beliau malah memilih pamannya yang miskin. Maka pelajaran yang keempat :

“ Hendaklah mampu menunda kesenangan sesaat“



Kamis, 24 Januari 2013

PK MAN Maninjau Gelar Kegiatan MABIT


Alhamdulillaah, shalawat teruntuk Rasulullah saw. Akhirnya sebuah cita-cita yang telah tertanam dengan azzam yang kuat, pelaksanaan pembinaan mental spiritual pelajar MAN Maninjau Program Keagamaan (PK) kelas XI dan XII akhirnya terwujud. Kegiatan yang populer dengan sebutan MABIT ( Malam Bina Iman dan Taqwa) tersebut terkesan sangat luar biasa. Dikatakan luar biasa, karena mulai dari perencanaan hingga usai walau dalam waktu yang relatif singkat, kesan yang di dapat sangat menimbulkan bekas. Yang jelas, hal ini bagi kami keluarga besar PK MAN Maninjau lebih dapat merekatkan jalinan ukhuwah dan rasa saling mencintai semoga karena Allah SWT, sebagaimana yang telah kami tanam secara turun temurun dengan harapan dapat membentuk sebuah komunitas besar kelompok orang-orang yang berjuang untuk tegaknya ‘Izzah Islam wal Muslimin.

Pelaksanaan kegiatan dimulai hari Rabu tepatnya 11 Rabi’ul Awwal 1434 , mulai waktu shalat maghrib hingga berakhir hari Kamis pagi, 12 Rabi’ul Awwal 1434 H dengan agenda kegiatan yang begitu padat, seperti Shalat berjama’ah, berdo’a dan zikir, tilawah al-Qur’an, tausyiah, muzakarah, Quiz Game, Qiyaumulullail, kultum, pembelajaran do’a dan zikir al-Ma’tsurat. Kegiatan yang dihadiri oleh Kepala Sekolah bapak Erman Rahman, S.Ag dan Wakil Kepala Bidang Kesiswaan, Bapak Taufiq, S.Pd.I, dengan guru pembimbing Bapak Wendri Naldi, S.Pd.I selaku wali kelas kelas XI Program Keagamaan (PK) dan Bapak Zulfiyandri, S.Pd, dan tausyiah serta muzakarah oleh Ustadz Ridmu Hendri, S.H.I, yang berlokasi di Mushalla dekat MTs S Maninjau berjalan dengan khidmat.


Kegiatan ini lebih mengedepankan aspek amaliah dalam menggemarkan diri untuk beribadah, menyadari hakikat ilmu bukanlah untuk diketahui semata tapi lebih menuntut pengamalan yang sungguh-sungguh. Betapa banyak orang-orang yang paham akan ilmu tapi belum tentu mereka mampu mengamalkannya. Maka merugilah orang-orang yang berilmu tapi ilmunya sama sekali tidak teraplikasi nyata dalam kehidupan. Apalagi ilmu tersebut tidak membawa pengaruh pada aspek perilaku. Sungguh …sungguh … sangat tertipu orang tersebut dengan ilmunya.


Kami tahu, dan kami menyadari, jalan yang kami tempuh adalah jalan berliku, jalan yang sangat sulit ditembus kecuali dengan kekuatan kesabaran dan mujahadah. Tapi kami diajarkan, kala semua itu diupayakan dengan sungguh-sungguh dan dilaksanakan secara berjama’ah, insya Allah seberat apapun rintangan yang mencoba menggoyahkan azzam kami, semuanya akan berguguran dan hancur lebur. Kami sangat yakin dengan pertolongan Allah SWT, kami begitu yakin janji Allah SWT, bahwa Allah SWT akan menolong hamba-Nya, jika sang hamba menolong agama-Nya.

Bagi kami yang terpenting hari ini, tanamkan azzam, kuatkan tekad, jalin persaudaraan yang kokoh, bergerak secara bersama-sama, maka hasilnya, lihat saja nanti, tak penting apakah kami akan memanen hasilnya, atau kami menyaksikan keberhasilan apa yang telah kami usahakan, tapi yang terpenting bagi kami, berbuat, bertindak, dan buktikan dengan perilaku bahwa belajar tentang Islam, memperjuangkan Islam, merupakan keharusan bagi kami yang mengaku Islam sebagai agama kami. Kami akan membela, kami akan berjuang, kami akan buktikan, inilah agama kami, inilah jalan hidup kami, inilah petunjuk hidup kami, dan inilah kami, bahwa kami adalah “ SEORANG MUSLIM ”  

Sang Guru Kena Batunya


Konon guru itu telah puluhan tahun menjadi menjadi tenaga pengajar pada sekolah yang sudah tua tersebut, berbagai macam ilmu ia kuasai; mantiq, hadits, fiqh, tafsir hingga ilmu akhlak. Tak terkecuali ilmu hayat, astronomi dan ilmu bumi dan seabrekm keilmuan lainnya. Sehingga ia menjadi guru yang paling disegani, sebab selain sarat dengan pengalaman juga dikarenakan kedalaman ilmunya. Namun ada satu sifat beliau yang terkenal kurang menyenangkan, merasa selalu benar dan pantang disalahkan jika berbicara masalah keilmuan. Suatu perilaku yang tidak layak disandang ahli imu.

Suatu ketika, “ Guru, apakah tidak salah letak baris huruf tersebut ? Bukankah barisnya kasrah, bukan fathah sebagaimana yang guru tulis ? ” Salah seorang muridnya protes kala menyaksikan tulisan sang Guru di papan tulis yang memberi baris fathah ( di atas ) pada salah satu huruf ayat al-Qur’an saat ia memberi pelajaran tafsir, padahal seharusnya memang kasrah ( di bawah).

Ooo …iya, memang itu maksud saya ! ” Kata beliau tanpa merasa bersalah. “Saya hanya bermaksud menguji kalian, apakah kalian jeli atau tidak ? ” Ujarnya membela diri. Benar-benar merasa benar sendiri, pantang sekali untuk disalahkan, walau telah nyata-nyata terbukti salah.

Tak lama berselang, saat beliau menjelaskan makna ayat demi ayat, lalu sang guru mencoba mengkorelasikan pelajaran yang beliau terangkan dengan pelajaran yang telah diajarkan minggu lalu. Saat itu topik pembelajaran tafsiran ayat surat al-Ankabut ayat 45, mengenai shalat yang dapat mencegah perbuatan keji dan mungkar. Tentunya shalat berkaitan erat dengan wudhu’. Tafsiran ayat tentang wudhu’ telah dijabarkan minggu lalu. Beliau mencoba untuk kembali menguji muridnya apakah pelajaran minggu lalu masih berbekas bagi muridnya,
Shalat  tidak akan sah tanpa berwudhu’, minggu lalu kita telah pelajari surat al-Maidah ayat enam, bagaimana tata cara wudhu’ yang diajarkan al-Qur’an. Apabila hendak shalat maka cucilah wajahmu, siapa yang bisa melafazkan redaksi ayat yang menjelaskan hal tersebut ?

Wamsahuu biru uu sikum, ” Teriak salah seorang murid dari bagian belakang.

Salah ! ” Teriak sang guru. “ Baru minggu lalu dipelajari kalian telah lupa dengan materi pelajaran, bagaimana kalian ini ? Dasar murid bodoh ! ”  Sang Guru mencak-mencak.

Apa yang benarnya ? ” Beliau kembali memberikan pertanyaan.

Tidak ada satupun yang menjawab, seluruh murid tampak ketakutan, sebab jika salah jawab siap-siap saja kena gebrak.

Faghsiluu wujuu hakum ! Itu yang benar ! ”. Akhirnya beliau sendiri yang menjawab.

Ooo …iya itu maksud saya guru ! ” Teriak murid yang tadi memberikan jawaban  salah dan dicap bodoh oleh beliau.

Sang guru terlongo. Kemarahannya naik pada puncak tertinggi, ia merasa  telah dipermainkan, namun kemarahan itu tak terlampiaskan, saat menyadari, jawaban itu sama dengan jawaban yang ia berikan saat muridnya meluruskan kesalahannya dalam pemberian baris salah satu ayat al-Qur’an.