Konon guru itu telah puluhan tahun menjadi
menjadi tenaga pengajar pada sekolah yang sudah tua tersebut, berbagai macam
ilmu ia kuasai; mantiq, hadits, fiqh, tafsir hingga ilmu akhlak. Tak terkecuali
ilmu hayat, astronomi dan ilmu bumi dan seabrekm keilmuan lainnya. Sehingga ia menjadi
guru yang paling disegani, sebab selain sarat dengan pengalaman juga
dikarenakan kedalaman ilmunya. Namun ada satu sifat beliau yang terkenal kurang
menyenangkan, merasa selalu benar dan pantang disalahkan jika berbicara masalah
keilmuan. Suatu perilaku yang tidak layak disandang ahli imu.
Suatu ketika, “ Guru, apakah tidak salah
letak baris huruf tersebut ? Bukankah barisnya kasrah, bukan fathah sebagaimana
yang guru tulis ? ” Salah seorang muridnya protes kala menyaksikan tulisan
sang Guru di papan tulis yang memberi baris fathah ( di atas ) pada
salah satu huruf ayat al-Qur’an saat ia memberi pelajaran tafsir, padahal
seharusnya memang kasrah ( di bawah).
“ Ooo …iya, memang itu maksud saya ! ”
Kata beliau tanpa merasa bersalah. “Saya hanya bermaksud menguji kalian,
apakah kalian jeli atau tidak ? ” Ujarnya membela diri. Benar-benar merasa
benar sendiri, pantang sekali untuk disalahkan, walau telah nyata-nyata
terbukti salah.
Tak lama berselang, saat beliau menjelaskan
makna ayat demi ayat, lalu sang guru mencoba mengkorelasikan pelajaran yang
beliau terangkan dengan pelajaran yang telah diajarkan minggu lalu. Saat itu
topik pembelajaran tafsiran ayat surat al-Ankabut ayat 45, mengenai shalat yang
dapat mencegah perbuatan keji dan mungkar. Tentunya shalat berkaitan erat
dengan wudhu’. Tafsiran ayat tentang wudhu’ telah dijabarkan minggu lalu.
Beliau mencoba untuk kembali menguji muridnya apakah pelajaran minggu lalu
masih berbekas bagi muridnya,
“ Shalat
tidak akan sah tanpa berwudhu’, minggu lalu kita telah pelajari surat
al-Maidah ayat enam, bagaimana tata cara wudhu’ yang diajarkan al-Qur’an.
Apabila hendak shalat maka cucilah wajahmu, siapa yang bisa melafazkan redaksi
ayat yang menjelaskan hal tersebut ? ”
“ Wamsahuu biru uu sikum, ” Teriak salah
seorang murid dari bagian belakang.
“ Salah ! ” Teriak sang guru. “ Baru
minggu lalu dipelajari kalian telah lupa dengan materi pelajaran, bagaimana
kalian ini ? Dasar murid bodoh ! ” Sang Guru mencak-mencak.
“ Apa yang benarnya ? ” Beliau kembali
memberikan pertanyaan.
Tidak ada satupun yang menjawab, seluruh murid
tampak ketakutan, sebab jika salah jawab siap-siap saja kena gebrak.
“ Faghsiluu wujuu hakum ! Itu yang
benar ! ”. Akhirnya beliau sendiri yang menjawab.
“Ooo …iya itu maksud saya guru ! ” Teriak
murid yang tadi memberikan jawaban salah
dan dicap bodoh oleh beliau.
Sang guru terlongo. Kemarahannya naik pada
puncak tertinggi, ia merasa telah
dipermainkan, namun kemarahan itu tak terlampiaskan, saat menyadari, jawaban
itu sama dengan jawaban yang ia berikan saat muridnya meluruskan kesalahannya
dalam pemberian baris salah satu ayat al-Qur’an.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar