WENDRI NALDI EL-MANINJAUI KHATIB BANDARO

WENDRI NALDI EL-MANINJAUI KHATIB BANDARO
WENDRI NALDI EL-MANINJAUI KHATIB BANDARO

Kamis, 24 Januari 2013

Sang Guru Kena Batunya


Konon guru itu telah puluhan tahun menjadi menjadi tenaga pengajar pada sekolah yang sudah tua tersebut, berbagai macam ilmu ia kuasai; mantiq, hadits, fiqh, tafsir hingga ilmu akhlak. Tak terkecuali ilmu hayat, astronomi dan ilmu bumi dan seabrekm keilmuan lainnya. Sehingga ia menjadi guru yang paling disegani, sebab selain sarat dengan pengalaman juga dikarenakan kedalaman ilmunya. Namun ada satu sifat beliau yang terkenal kurang menyenangkan, merasa selalu benar dan pantang disalahkan jika berbicara masalah keilmuan. Suatu perilaku yang tidak layak disandang ahli imu.

Suatu ketika, “ Guru, apakah tidak salah letak baris huruf tersebut ? Bukankah barisnya kasrah, bukan fathah sebagaimana yang guru tulis ? ” Salah seorang muridnya protes kala menyaksikan tulisan sang Guru di papan tulis yang memberi baris fathah ( di atas ) pada salah satu huruf ayat al-Qur’an saat ia memberi pelajaran tafsir, padahal seharusnya memang kasrah ( di bawah).

Ooo …iya, memang itu maksud saya ! ” Kata beliau tanpa merasa bersalah. “Saya hanya bermaksud menguji kalian, apakah kalian jeli atau tidak ? ” Ujarnya membela diri. Benar-benar merasa benar sendiri, pantang sekali untuk disalahkan, walau telah nyata-nyata terbukti salah.

Tak lama berselang, saat beliau menjelaskan makna ayat demi ayat, lalu sang guru mencoba mengkorelasikan pelajaran yang beliau terangkan dengan pelajaran yang telah diajarkan minggu lalu. Saat itu topik pembelajaran tafsiran ayat surat al-Ankabut ayat 45, mengenai shalat yang dapat mencegah perbuatan keji dan mungkar. Tentunya shalat berkaitan erat dengan wudhu’. Tafsiran ayat tentang wudhu’ telah dijabarkan minggu lalu. Beliau mencoba untuk kembali menguji muridnya apakah pelajaran minggu lalu masih berbekas bagi muridnya,
Shalat  tidak akan sah tanpa berwudhu’, minggu lalu kita telah pelajari surat al-Maidah ayat enam, bagaimana tata cara wudhu’ yang diajarkan al-Qur’an. Apabila hendak shalat maka cucilah wajahmu, siapa yang bisa melafazkan redaksi ayat yang menjelaskan hal tersebut ?

Wamsahuu biru uu sikum, ” Teriak salah seorang murid dari bagian belakang.

Salah ! ” Teriak sang guru. “ Baru minggu lalu dipelajari kalian telah lupa dengan materi pelajaran, bagaimana kalian ini ? Dasar murid bodoh ! ”  Sang Guru mencak-mencak.

Apa yang benarnya ? ” Beliau kembali memberikan pertanyaan.

Tidak ada satupun yang menjawab, seluruh murid tampak ketakutan, sebab jika salah jawab siap-siap saja kena gebrak.

Faghsiluu wujuu hakum ! Itu yang benar ! ”. Akhirnya beliau sendiri yang menjawab.

Ooo …iya itu maksud saya guru ! ” Teriak murid yang tadi memberikan jawaban  salah dan dicap bodoh oleh beliau.

Sang guru terlongo. Kemarahannya naik pada puncak tertinggi, ia merasa  telah dipermainkan, namun kemarahan itu tak terlampiaskan, saat menyadari, jawaban itu sama dengan jawaban yang ia berikan saat muridnya meluruskan kesalahannya dalam pemberian baris salah satu ayat al-Qur’an.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar