Kegiatan :
LDKS MAN Maninjau T.P. 2012/2013
Materi :
Sirah Nabawiyah
Hari/Tanggal :
Jum’at, 13 Rabi’ul Awwal 1434 H/25 Januari 2013.
Penyaji/Pemateri :
M. Nur Akhiar, S.Ag, ( Kepala KUA Kecamatan Tanjung Raya ), Tempat/Tanggal Lahir : Koto Malintang/17 Januari 1978, Pendidikan : Ushuluddin, Aqidah Filsafat
Intisari
Materi (ini berdasarkan hal yang ditangkap dari pemaparan penyaji ) :
Rasulullah
saw sosok yang luar biasa, beliau
dibesarkan oleh alam, berbeda dengan
pemimpin-pemimpin dunia yang terkenal, Alexander Yang Agung misalnya, tokoh
yang begitu terkenal namun ia dibesarkan oleh didikan Aristoteles, ada sosok
yang membesarkannya. Sementara Rasulullah saw tidak ada sosok yang membesarkan,
tapi alam yang membesarkan, dalam artian beliau dihidupkan oleh Allah SWT dalam
keadaan kehidupan alam yang sulit . Saat dalam kandungan ayah beliau telah
meninggal, saat kecil diasuh sang kakek, dididik sebagai pengembala.
Demikianlah cara Allah SWT mendidik Nabi SAW dengan cara hidup yang keras. Pelajaran
pertama yang dapat diambil :
“ Biasakanlah hidup keras, hidup
yang sulit, karena hidup itu memang memiliki tantangan yang keras “
Rasulullah
saw hidup dengan tantangan yang besar. Namun Allah SWT telah menggariskan,
Allah SWT tidak akan memberi beban sesuatu yang tidak mampu kita memikulnya
(lihat Q.s al-Baqarah : 286). Sebagaimana sejarah menggambarkan bagaimana Rasulullah
SAW menghadapi kejamnya Abu Lahab, Abu Jahal, Abu Sofyan dan berbagai tantangan.
Namun dalam tantangan itu, sikap Nabi SAW membuat orang hormat, sebab dalam menyikapi
semua itu, Rasulullah SAW selalu memaafkan. Membalas boleh dalam Islam, tapi
dengan yang setimpal, namun lebih diutamakan memaafkan. Jika menyangkut
masalalah pribadi, Rasulullah SAW lebih memilih memaafkan, namun tidak berlaku
dalam masalah Aqidah, Rasulullah SAW tegas jika aqidah dilecehkan, begitu juga
jika masalah syari’a, jika fathimah yang berbuat kesalahan, beliau siap
menerapkan hukuman, disini tidak berlaku kemaafan. Pelajaran kedua yang dapat
diambil :
“Berjiwa pemaaflah”
Rasulullah
SAW sangat rendah hati (tawadhu’), jika bertemu dengan anak kecil, beliau dulu
yang menyapa. Rendah hati inilah yang membuat baik dan banyak hubungan kita
dengan orang lain. Jika kita merasa lebi dari orang lain maka hal ini akan menimbulkan
jarak antara kita dengan orang lain. Rendah hati yang ditonjolkan Rasulullah
SAW menyebabkan siapa saja bisa bersahabat dengan beliau. Seandainya beliau
ingin sombong hal itu mudah saja, bukankah beliau Nabi, dosa beliau diampuni,
namun beliau tidak menunjukkan sikap sombong. Maka pelajaran yang ketiga :
“Rendah hatilah !”
Hendaklah
mampu menunda kesenangan sesaat yang diinginkan untuk masa depan yang datang,
itulah kesabaran. Disinilah keunggulan Rasulullah SAW.. Jika beliau sebenarnya
ingin mendapatkan kesenangan, beliau bisa saja hidup bersama pamannya beliau
yang kaya, yakni Abbas, namun beliau malah memilih pamannya yang miskin. Maka
pelajaran yang keempat :
“ Hendaklah mampu menunda kesenangan
sesaat“

Tidak ada komentar:
Posting Komentar