WENDRI NALDI EL-MANINJAUI KHATIB BANDARO

WENDRI NALDI EL-MANINJAUI KHATIB BANDARO
WENDRI NALDI EL-MANINJAUI KHATIB BANDARO

Rabu, 08 Agustus 2012

SMPN 1 Tanjung Raya Programkan Kegiatan Musabaqah Materi Ke-Islaman antar siswa pada Ramadhan 1433 H


Assalaamu’alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh

Puji syukur kepada Allah swt, shalawat buat Rasulullah saw

Mengakhiri kegiatan pemebelajaran di bulan Ramadhan 1433 H, SMPN 1 Tanjung Raya, Agam, Sumatera Barat, lahirkan program kegiatan Musabaqah keagamaan, seperti musabaqah shalat jenazah, hafalan ayat-ayat pendek pada juz ‘amma, adzan dan jawabannya serta do’a ba’da adzan, dzikir dan do’a ba’da shalat, etc. 

SMPN 1 Tanjung Raya merupakan salah satu sekolah yang mendapat proyek penerapan pendidikan keagamaan yang melebihi SMPN lainnya di kecamatan Tanjung Raya dalam bentuk MDW ( Madrasah Diniyah Wustha ) terdiri dari tiga mata pelajaran berupa al-Quran Hadits, Aqidah Akhlak, dan Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah ( ABS-SBK ). MDW ini merupakan program Pemda Agam  yang penerapannya baru pada setiap SMPN 1 yang ada di Kabupaten Agam.

Untuk itu, wajar kiranya, jika SMPN 1 Tanjung Raya harus mampu menggelar kegiatan-kegiatan berbasis keagamaan lebih ekstra dibanding SMPN lainnya yang ada di kecamatan Tanjung Raya. Diantara kegiatan yang menonjol dibidang keagamaan  baik yang telah maupun sedang berjalan adalah Shalat Berjamaah di sekolah, pesantren kilat, Malam Bina Iman dan Taqwa dengan mengambil lokasi masjid dan mushalla  yang ada di sekitar Maninjau, kultum, serta rohani Islam dalam bentuk Bina Remaja Islam, termasuk didalamnya penerbitan Buletin Bina Remaja Islam.

Sesungguhnya jalan untuk menegakkan risalah Islam itu banyak dan sangat luas, hanya tergantung bagaimana cara kita menelusurinya dan menyiapkan bekal mengarunginya. Semua kegiatan keagamaan SMPN 1 Tanjung Raya tersebut, tidak akan terlaksana jika hanya ditunaikan oleh beberapa orang guru agama dan guru MDW, tapi karena kerjasama, dan bekerjasamalah cita-cita itu dapat dibangun. Sungguh benar janji Allah swt, siapa yang menolong agama-Nya, niscaya Ia akan menolong hamba-Nya dan menguatkan  pijakan kakinya ( Lihat Q.s. Muhammad ayat 7 ).

Assalaamu’alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh

Selasa, 07 Agustus 2012

Ifthar Jama'i ( Buka Bersama ) PK MAN Maninjau : Kebersamaan dalam Karupuak Ndak Badaruak


Assalaamu’alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh

Catatan Bersama orang-orang yang ana cintai di jalan Dakwah

Puji syukur kepada Allah swt, shalawat teruntuk Rasulullah saw.

Hari itu diseputaran MAN Maninjau, cuaca siang terasa panas menyengat, dalam suasana Ramadhan ke- 18  tahun 1433 H, terasa sekali haus dan lapar cukup menggoda iman. Mungkin menurut standar ukurannya, jika panas cukup kuat disiang hari, sore akan dihiasi dengan cahaya keemasan sinar sang surya, tampak  indah kala menerpa riak-riak air Danau Maninjau tepat disebelah Barat bangunan pendidikan yang telah melahirkan diantaranya sosok –sosok ulama. Namun sore ini agak lain. Beranjak sore hujan turun cukup deras, Madrasah Aliyah Negri ( MAN ) Maninjau tampak agak memutih disirami curahan hujan, bagaikan bangunan bersejarah dihinggapi bulir-bulir salju, beberapa sosok tampak sangat serius dibeberapa lokasi, sibuk dengan aktifitas masing-masing.


Yo, hari itu adalah hari membangun sebuah peradaban, membangun keberasamaan atas dasar iman, membangun cita-cita dalam satu konsep ukhuwah. Kegiatannya biasa, tapi nilai yang hendak dicapai, disanalah kedahsyatannya. Ya, hari itu keluarga besar Program Keagamaan ( PK ) MAN Maninjau kelas XI dan XII menggelar hajatan Ukhuwah, “ IFTHAR JAMA’I “ atau buka bersama ala PK. Kala waktu mulai beranjak sore, mereka telah sibuk dengan segala persiapan.

Subhaanallaah !, sungguh Islam itu sangat indah mengajarkan rasa cinta sesama muslim, karupuak yang sudah tidak lagi badaruak tidak menjadi alasan untuk kegiatan ini tidak menjadi nikmat, karena disanalah rasa kebersamaan itu terasa indah, kala sesuatu yang terasa tidak nyaman, tapi dengan kebersamaan semua terasa menjadi enjoy, melalui karupuak ndak badaruak  mudah-mudahan menjadi alarm ( pengingat ) dimasa yang akan datang, bahwa hakikatnya Keluarga Besar PK MAN Maninjau yang merupakan generasi penerus dari IAI dan PK sebelumnya, masih mampu melanjutkan perjuangan meniti Islam dalam sebuah ikatan kebersamaan yang terikat dalam Ukhuwah Islamiyah yang tentunya terorganisir dengan rapi.
Ketahuilah, Ifthar Jama’i kali ini memiliki kesan yang mendalam, sebagaimana tahun-tahun lalu juga memiliki kesan tersendiri, kesan Ifthar Jama’I kali ini adalah : Sungguh rasa cinta sesama mereka anak-anak PK MAN Maninjau dalam sebuah keluarga besar  yang terikat karena mereka merasa bersaudara patut daicungi jempol. Subhaaanallaah !


Assalaamu’alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh

Jumat, 06 Juli 2012

Pelajaran Mahfuzhat : Kesopanan Itu Mulia


Mahfuzhat :

اَلْاَدَبُ شَرَفٌ

( Kesopanan Itu Mulia )

Penjelasan :

Tidak ada yang layak dibanggakan dalam hidup ini, kecuali akhlak yang mulia, inilah kesopanan. Kemegahan harta, keindahan fisik, banyaknya keturunan semua itu hanyalah bersifat relatif dan sementara. Harta hanya akan bertahan kemegahannya paling lama sampai ajal menjemput , setelah itu ia akan kita tinggalkan, dan akan diambil alih oleh orang sesudah kita. Jika dikelola dengan baik, alhamdulillaah, harta kita menjadi kebaikan bagi orang-orang sesudah kita, namun bagaimana jika malah menjadi lahan sengketa ? Harta kita malah menjadi ajang pertikaian dan memicu putusnya hubungan silaturrahim.  Kemuliaan harta hanya berada ditangan orang-orang yang mulia, ditangan orang-orang yang memperolehnya dengan cara yang mulia, dan membelanjakannyapun dengan cara yang mulia, maka jika kita mampu untuk mencapai tahap ini, silahkan peroleh harta, silahkan dicari harta, tapi tetap dalam koridor sewajarnya, karena tiada kemuliaan pada hal yang berlebihan.

Begitu juga dengan keindahan fisik, dan banyaknya keturunan, seiring perjalanan waktu akan memuai dan hilang tak berbekas. Pertambahan umur akan menyebabkan pudarnya pesona fisik, bahkan terkadang sampai, jangankan orang bersedia untuk berdekatan dengan kita, melirikpun mereka merasa jijik. Lantas apa yang hendak dibanggakan dari keindahan fisik, apalagi hendak mencari kemuliaan dengan keindahan fisik, toh Allah swt tidak melihat seseorang dari fisiknya, tapi dari hatinya. Bukankah demikian Rasulullah saw mengajarkan kita ?
Ooo…kita mungkin sering membanggakan garis keturunan, garis keturunan kiyai, ulama, syekh. Ketahuilah kemuliaan seseorang tidak didapat melalui siapa bapaknya, atau neneknya, tapi kemuliaan itu memancar dari dalam diri setiap pribadi. Tidak ada sedikitpun andil kharisma orang-orang disekitar kita dalam mencapai kemuliaan. Apakah karena bapak kita syekh, lalu dengan serta merta kita juga jadi syekh ? Tidak, karena kemuliaan bukan didapat melalui keturunan. Kalaupun tetap ingin memasukkan peran mereka, tiada lain peran mereka hanyalah berupaya membuat kita menjadi mulia, sedangkan mulia atau tidaknya kita, kita yang memilih jalan itu, dan kita yang menentukan pilihannya. Jika tidak ada upaya dari diri kita untuk mencapai kemuliaan, jangan berharap kemuliaan akan kita peroleh kalau hanya berpijak pada kemuliaan orang-orang sebelum kita dikarenakan kita satu keturunan.

Termasuk dalam hal ini ilmu yang tinggi, bukanlah syarat mutlak untuk mencapai kemuliaan, memang kita temukan ada ayat al-Quran yang menyatakan bahwa ditinggikan derajat orang berilmu beberapa derajat ( Surat al-Mujadalah ayat 11 ). Namun orang yang berilmu yang bagaimana ? Ada kategori orang berilmu yang ditinggikan derajatnya. Yakni ilmu yang sesuai dengan tuntutan syari’at, dan dengan ilmu itu ia capai kemuliaan yang telah digariskan oleh syari’at, untuk menunaikan pengabdian kepada Allah swt. Sehingga ilmu itu bukan hanya sekedar ilmu, tapi ilmu itu membawa dirinya pada pengenalan siapa dirinya yang sesungguhnya, untuk apa ia diciptakan, dan apa tugasnya selaku yang diciptakan ( makhluk ). Sungguh yang takut pada Allah itu adalah ulama ( orang yang berilmu ) demikian Allah swt mensinyalir dalam surat Fathir ayat 28.

Harta, fisik, keturunan, dan ilmu, semua itu akan mencapai derajat kemuliaan kala disandingkan dengan kesopanan atau akhlak yang baik, disanalah derajat kemuliaan itu dapat digapai. Orang berharta yang berakhlak mulia akan menjadikan hartanya untuk sebuah pengabdian, kala ia membayar zakat, dengan cara yang ikhlas dan tidak membuat sakit hati mustahik ( penerima zakat ), bahkan mustahik dengan senang hati mendo’akannya. Kala ia bersedekah ia tidak menyebut-nyebut pemberiannya, ia berupaya agar orang yang diberinya tidak mengetahui bahwa ia telah bersedekah untuk menjaga dirinya jatuh pada lembah ria. Keindahan fisik bagi orang yang berkahlak mulia tidak menjadikan ia angkuh dan sombong serta merendahkan orang lain, malah baginya terasa berat karena membutuhkan upaya untuk menjaga diri dari penyakit hati tersebut. Ia jadikan keindahan fisik sebagai lahan dakwah, fisiknya yang kuat dengan sekuat tenaga ia serahkan pada jihad fii sabilillaah, ia habiskan waktunya untuk berkelana dan bermusafir menebar amar ma’ruf nahi mungkar. Keturunan yang mulia tidak serta merta ia jadikan sebagai ajang gengsi, tapi sebagai pemicu semangat dalam jiwanya untuk lebih membangun keturunan yang lebih mulia, karena pada pundaknya tertanggung beban bahwa terlahirnya ia pada garis keturunan yang mulia berarti ia harus melanjutkan tongkat estafet tersebut agar jangan putus kemuliaannya. Sampai-sampai ia berupaya pula menanamkan pada anak cucunya agar tetap mempertahankan kemuliaan yang telah dibangun oleh para pendahulunya. Alangkah indahnya jika kemuliaan seperti ini yang diwariskan, dari pada mewariskan kemegahan yang hanya mengundang sengketa orang belakangan. Apalagi terhadap ilmu. Ilmu bagi orang yang memiliki adab kesopanan atau akhlak yang mulia menjadikan ia semakin merasa dirinya kecil, lemah dan sedikit pemahaman. Sebab ilmu semakin digali, semakin terasa bahwa banyak yang belum diketahui. Bagi orang berilmu yang berakhlak mulia, ilmu yang diperoleh membuat ia semakin takut dengan Allah swt, membuat ia semakin merasa seorang hamba yang tidak mengetahui apa-apa jika Allah swt tidak membuka pintu-pintu pengetahuan sehingga ia mengetahui apa yang belum diketahuinya. Menyadari hal tersebut menyebabkan ia jauh dari keangkuhan dan kesombongan dengan ilmu yang dimilikinya, tapi ia jadikan ilmu itu untuk sebuah pengabdian. Bagi orang berilmu yang berakhlak mulia, ia mengetahui adab-adab kesopanan ilmu, fungsi ilmu, dan kegunaan ilmu itu pada tempatnya. Maka tidak ada istilah ilmuwan yang pintar mengakali orang lain, tidak ada penemuan senjata perang untuk membunuh manusia yang tidak bersalah, tidak ada penemuan bahan-bahan peledak. Kalaupun ada, semua itu hanya untuk alasan keamanan, tidak lebih.

Duhai, demikian dahsyatnya pengaruh adab atau akhlak yang mulia bagi kehidupan, ia membawa pada kemuliaan. Untuk itu hal ini harus dibiasakan oleh tiap pribadi dan dimasyarakatkan dalam setiap pergaulan umat manusia. Ooo… sungguh indah, kala kita mendapati terdapatnya para penguasa yang beradab kesopanan mulia, para buruh beradab kesopanan mulia, para pengusaha, ilmuwan, orang-orang kaya, orang-orang miskin, pekerja kasar, dokter, pejabat negara, guru, pelajar, mahasiswa, orang tua, anak-anak dan seluruh lini masyarakat menerapkan adab kesopanan atau akhlak yang mulia. Tidak akan ada perang, permusuhan, sengketa, caci maki. Yang ada kasih sayang, saling menyebut kebaikan, tolong menolong. Subhhaanallaah.
Sungguh benar mahfuzhat yang mengatakan kesopanan itu mulia, camkanlah, renungkanlah, dan amalkanlah.
Kebenaran hanya milik Allah swt.

Keterangan :

Sumber Mahfuzhat : K.H. Aslam Zakaria dan Abd. Halim Manaf B.A, Buku Pelajaran Mahfuzhat I (Bandung: C.V Sulita, 1971 ), Cet. Ke-2

Penulisan Format Tulisan Arab : Freeware Arabic Unicode text editor ©2007 by Ebta Setiawan

Kamis, 05 Juli 2012

Pelajaran Mahfuzhat : Ucapan Benar Menyelamatkan



Mahfuzhat :

اَلصِّدْقُ مُنْجٍ

( Ucapan Benar Menyelamatkan )

Penjelasan :

Ucapan lahir dari lidah yang bolak balik, namun lahirnya ucapan sebenarnya bukan kehendak lidah, tapi kehendak hati, maka apa yang terucap oleh lisan, demikianlah hati seseorang. Saat seseorang berkata dengan benar dan jujur, saat itu pula sebenarnya hati seseorang itu hati yang benar dan jujur. Saat lisan seseorang berkata dusta, sesungguhnya hatinyalah yang dusta, namun ia bawa lisannya untuk terlibat dalam kedustaan.

Mungkin ada yang bertanya, jika demikian adanya, bagaimana dengan lisan yang terucap, sementara ucapan tersebut tidak sesuai dengan hatinya ? Artinya, hatinya mengetahui sesuatu hal yang lain, tapi lisannya menyampaikan pula hal yang lain.  Ketahuilah, itulan lisan yang berdusta, dan sesungguhnya hatinya sebenarnya juga berdusta. Mengapa demikian ? Mengapa ia biarkan lisannya berkata dusta, padahal ia bisa mencegah dengan hatinya. Sebab hati itu pusat kendali dari segala anggota tubuh. Segala sesuatu dari tubuh tidak akan mampu melakukan sesuatu jika tidak mendapat izin dari hati. Inilah makna, mengapa dalam beribadah prioritas utama dalam menunaikannya adalah niat, dan niat itu berada pada hati.

Maka apa yang terucap oleh lisan yang bolak-balik adalah ucapan hati, jika ucapannya baik, menunjukkan hatinya adalah baik, sehingga ucapannya dapat diterima oleh orang lain, saat ucapan dapat diterima oleh orang lain, ia ia akan diterima dalam hati manusia, sehingga manusia senang akan dirinya dan rindu dengan ucapan-ucapannya, kala manusia telah rindu dengan ucapannya, dengan mudah ia akan membawa manusia ke jalan yang baik dengan ucapannya, hal ini akan membawa kebaikan kepada dirinya, dengan potensi untuk berbuat kebaikan dengan lisannya.

Namun jika sebaliknya, saat lisan yang terucap adalah kedustaan, maka hati akan gelisah. Karena kecendrungan hati itu pada kebaikan, sementara lisan bersebrangan dengan hati, dan hati itu sendiri membiarkan penyimpangan lisan. Kegelisahan itu menyesakkan dan membinasakan hati, yang menyebabkan muka muram, dihantui rasa takut akan kedustaan yang terbongkar. Saat itu hati menjadi lemah. Kondisi rawan tersebut menjadi jalan potensial bagi setan untuk masuk. Setan membisikkan hal-hal yang tampak menyenangkan agar keluar dari kegelisahan, maka masuklah bisikan setan yang mengatakan, “sudahlah jangan dirisaukan, setiap manusia itu memiliki kesalahan, “. Kuatnya bisikan setan pada hati yang lemah, menyebabkan hati menerima pembenaran dari bisikan setan tersebut, akhirnya hati memaafkan kesalahan yang dilakukan dengan alasan setiap manusia memiliki kesalahan.  Lambat laun, karena telah diawali memaafkan sebuah kesalahan, akhirnya kesalahan itu dianggap biasa. Jika telah dianggap biasa, hati tidak lagi merasa gelisah melakukan kesalahan, walau kesalahan itu dilakukan berulang-ulang.  Ini akibat pertama dari ucapan yang tidak benar (dusta) .

Jika kedustaan itu dihubungkan dengan interaksi sosial sesama manusia ( halumminannas ), hati akan merasa gelisah kalau-kalau kedustaan yang dilakukan terhadap manusia akan terbongkar, tahap inipun jalan yang sangat rawan bagi setan untuk melancarkan misinya dengan bisikan, “ Engkau harus bertahan dengan apa yang engkau ucapkan, walaupun dusta, jika tidak, engkau akan dicap pendusta oleh manusia ,sehingga kedudukanmu akan hina dan ucapanmu tidak akan pernah didengarkan.” Bisikan itu akan membuat hati menjadi tertekan, dalam keadaan tertekan hati akan mengikuti bisikan tersebut, karena tidak lagi mampu menimbang dan menilai suatu kebaikan, yang terpenting kala itu bagaimana menyelamatkan diri dari kehancuran, akhirnya bisikan itu dianggap jalan terbaik. Maka langgenglah kedustaan dengan alasan menjaga martabat diri. Ini akibat kedua dari ucapan yang tidak benar ( dusta ).

Kedua-duanya membinasakan, membinasakan untuk diri, dan membinasakan dalam hubungan sesama manusia. Jika ini telah menimpa manusia, sungguh dusta telah menjadi tabiat dan akhlaknya. Saat itu manusia tersebut benar-benar pendusta.

Satu hal yang perlu dipahami, sampai dimana manusia akan mampu bertahan untuk menyelamatkan dirinya dengan kedustaan ? karena setiap perbuatan yang dilakukan manusia akan ditampakkan pada dirinya akibatnya, baik secara langsung maupun tidak langsung. Banyak cara Allah swt untuk membalas perbuatan tersebut. Jika Allah swt menjanjikan balasan kebaikan bagi orang yang berbuat baik, tentunya adil pula jika keburukan itu mendapat balasan yang setimpal, agar manusia menyadari bahwa yang dilakukan selalu berada dalam pengawasan  Allah swt.

Kala hati menyadari hal ini, kegelisahan yang paling berat akan membebani , ia menyadari bahwa sebenarnya ia telah berdusta, mendustai diri sendiri dan mendustai orang lain, dan semua itu akan mendapatkan balasan. Bagaimanapun hati tidak akan mampu didustai, ia akan menyesak untuk selalu berada dalam kebaikan. Perang dalam hati ini yang membuat manusia berada dalam puncak kegelisahan. Bisa jadi ada upaya untuk menebusnya, tapi karena telah terjatuh pada jurang bisikan setan yang begitu dalam sehingga sulit untuk mendakinya. Hanya orang-orang yang benar-benar punya azzam yang kuatlah yang mampu melakukannya.

Menyaksikan beratnya tanggungan yang menimpa atas kedustaan, maka berhati-hatilah, sebelum terjatuh. Jangan pernah memulainya. Maka kata kuncinya, yang akan menyelamatkan memang ucapan yang benar, inilah kiranya maksud dari mahfuzhat tersebut. 

Kebenaran hanya milik Allah swt.

Keterangan :

Sumber Mahfuzhat : K.H. Aslam Zakaria dan Abd. Halim Manaf B.A, Buku Pelajaran Mahfuzhat I (Bandung: C.V Sulita, 1971 ), Cet. Ke-2

Penulisan Format Tulisan Arab : Freeware Arabic Unicode text editor ©2007 by Ebta Setiawan

Senin, 06 Februari 2012

Mati, Jalan Perindu Bertemu dengan Yang Dicintai


Assaalaamu'alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh

Puji syukur kepada Allah swt, shalawat buat Rasulullah saw 

Mati, rangkaian huruf bermakna ketakutan bagi sebagian orang, mungkin kebanyakan, mati merupakan sebuah kebinasaan, berakhir, dan tamatlah satu urusan, berbagai macam ungkapan mati yang bermakna pada satu poros tidak ada lagi harapan. Kecendrungan kita adalah harapan, tapi mati menghapus semua harapan, maka semua kosakata yang berhubungan dengan mati, adalah kosakata yang menunjukkan sesuatu yang tidak bisa diharapkan lagi, mati sudah harapanku, hatinya telah mati, sampai mati akan kupertahankan.

Tapi kita selaku muslim, ada ranah mati yang perlu kita pahami secara seksama. Mati dalam Islam adalah kebalikan dari segala penyebutan di atas, bahkan mati adalah awal dari segalanya, bukan akhir segalanya. Mati dalam Islam merupakan suatu keharusan, bahkan kebutuhan yang mendesak, karena dengan mati itu proses penyempurnaan terjadi. 

Dunia adalah jembatan untuk sampai pada kematian, semakin bertambah umur seseorang, hakikatnya semakin dekat kematian itu menjalar. Bukannya panjang umur sebagaimana yang dilantunkan dalam nyanyian penipuan dalam pesta ulang tahun.

Saudaraku …

Kecemasan akan menghadapi kematian, mungkin pernah kita rasakan, cemas dalam menghadapi pedihnya sakaratul maut, apalagi dikala kita mendengar penuturan melalui nasehat-nasehat ulama bahwa sakaratul maut yang merupakan proses terdekat dalam menghadapi kematian sangat menyakitkan. Semua itu semakin membuat kita resah akan kematian yang akan segera datang.

Setiap kita yakin akan adanya kematian, karena kita memang sering melihat orang yang mengalami kematian. Hanya saja, kita entah terlalu kurang berusaha memahami esensi mati, sehingga yang terbayang dalam pelupuk mata kita, ngerinya menghadapi saat-saat kematian. Termasuk dalam hal ini, ada semacam ketidakrelaan hanya untuk membayangkan saja jika terjadi kematian terhadap orang-orang disekitar kita, orang yang amat kita cintai dan kasihani, yang selalu kita harapkan tetap bersama kita. Namun mengetahui kematian pasti datang, maka kecemasan akan peristiwa kematian begitu menghantui.

Ketahuilah …

Siapa yang menciptakan kita ? Allah swt, kita tahu itu jawabannya, selaku muslim, kita sadar akan hal itu, dengan iman yang telah terpatri kita tidak akan ragu, namun pernah kita bertanya  ? Untuk apa kita diciptakan ? Mungkin tidak seluruhnya kita mampu menjawabnya. Tapi jawabannya sudah jelas, untuk mengabdi kepada Allah swt. Pertanyaan ini pernahkah kita tanyakan ? Jika kita untuk mengabdi kepada Allah swt, untuk apa pengabdian tersebut ? Bukankah Allah swt Maha Sempurna, tidak membutuhkan sesuatu dari makhluk-Nya, lantas untuk apa pengabdian kita disisi Allah swt ?

Ilustrasinya begini, saudaraku se-Iman.

Antum pernah menyaksikan orang tua yang marah kepada anaknya dikala anaknya enggan berangkat ke sekolah untuk belajar ? Mungkin pernah, bahkan bisa jadi antum sendiri yang merasakan, tapi apakah kemarahan orang tua terhadap anaknya yang enggan belajar itu dikarenakan orang tuanya berharap kelak anaknya membalas jasanya yang telah membesarkann anaknya ? Jawaban ini kita jawab idealnya, terlepas dari kasuistik, secara ideal tidak ada harapan satupun dari orang tua untuk mengharap balasan dari anaknya atas apa yang ia lakukan terhadap anaknya, karena kebahagiaan terbesar bagi orang tua yang ikhlas adalah bagaimana ia mampu menjadikan anaknya menjadi anak yang baik kehidupannya, dengan menyadari anak adalah amanah yang pengelolaannya dipertanggungjawabkan kelak. Lalu untuk apa susah payah orang tua menyekolahkan anaknya, marah orang tua dikala anaknya enggan belajar,  sementara ia tidak mengharap balas jasa terhadap anaknya. Tiada lain agar anaknya kelak tidak terjerumus pada hal-hal yang membinasakan dirinya, agar anaknya kelak tidak menyesal akibat dari perbuatannya yang tidak layak, agar anaknya kelak merasakan manisnya hidup yang sesungguhnya. Jadi segala yang dilakukan  dan tuntutan orang tua terhadap anaknya tiada lain untuk kebaikan anak itu sendiri, bukan untuk mencapai keinginan orang tuanya.

Saudaraku …

Dalam pengabdian yang kita pertanyakan tadi, demikianlah kiranya bagi Allah swt terhadap pengabdian kita, Allah swt tidak butuh pengabdian kita, semua itu tidak mempengaruhi sedikitpun posisi Allah swt sebagai sembahan yang layak dijadikan Tuhan. Lalu mengapa kita harus mengabdi ? Karena pengabdian itu untuk diri kita sendiri, dalam artian urgensi pengabdian itu kembali kepada diri kita sendiri, jika kita bersedia mengabdi dengan ikhlas, maka kita akan mendapatkan manfaat pengabdian kita itu, itulah pahala yang dijanjikan, dan diakhirat kelak, pahala itulah yang akan dipetik sebagai tiket untuk masuk ke dalam surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya. Ini yang pertama.

Yang kedua, Kita dilepaskan oleh Allah swt, berarti sebelumnya kita milik Allah swt, apakah dikala dilepaskan kita benar-benar lepas ? Ooo tidak, jika benar-benar lepas, berarti kita merusak Ke-Maha Kuasaan Allah swt terhadap makhluk-Nya. Tak ada satupun yang lepas dari genggaman Allah swt. Karena kita terikat dengan Allah swt berarti kita tetap pada posisi milik Allah swt, bukan hanya kita, seluruh makhluk, yakni yang diciptakan merupakan milik Allah swt, maka jangan heran kalau kita mendengar nasehat, semua yang kita miliki hanyalah titipan Allah swt, ini karena bermakna bahwa tidak ada satupun yang memiliki di dunia ini kecuali Allah swt.

Sesuatu yang dilepaskan pemiliknya, sementara masih berstatus kepemilikan, tentunya akan kembali kepada pemiliknya tersebut, dalam hal ini, kita sebagai bagian dari kepemilikan tersebut akan kembali kepada pemilik, Dialah Allah swt. Karena kita dilepaskan dalam keadaan suci, tentunya kembalinya juga harus dalam suci. Apakah kita rela dikala kita memiliki kepemilikan suatu barang, lalu dipinjam oleh orang lain, ternyata saat barang itu dikembalikan dalam keadaan tidak baik ? Tentu saja tidak, bahkan kita meminta ganti rugi atas kekurangan barang tersebut.

Saudaraku …

Karena kita suatu saat akan kembali kepada Allah swt sebagai pemilik, bagaimana perasaan kita dikala akan kembali ? Tentunya kita akan rindu, seperti kita dilepaskan berangkat dari kampung halaman yang kita cintai merantau kenegri orang, suatu saat kita berniat akan kembali ke kampung halaman, bagaimana perasaan kita dikala kita memiliki rasa untuk kembali tersebut ? Tentunya ada rasa rindu yang membuncah dalam dada untuk secepatnya kembali ke kampung halaman, karena kita adalah milik kampung halaman kita. Pulang keperaduan, makhluk apapun akan rindu. Burung-burung akan rindu pulang kesarangnya, orang-orang yang bekerja seharian akan rindu pulang kerumahnya untuk istirahat, walau terkadang tempat ia bekerja menyediakan tempat untuk istirahat, tapi ia merasakan, bahwa kepemilikan dirinya bukan tempat ia bekerja, namun rumahnya. Maka lihatlah, mengapa anak kecil yang merasa ketakutan ibunya yang ia cari, karena ia merasa dirinya adalah kepemilikan ibunya, sehingga ia merasa nyaman dikala berada pada pemiliknya.

Menyadari kita adalah milik Allah swt, adanya kerinduan untuk kembali kembali kepada Allah swt, jalan satu-satunya adalah kematian, karena dengan kematian itulah kita akan bertemu kembali dengan pemilik kita. Memahami hal ini masihkah kematian suatu hal yang menakutkan ? Sesungguhnya kematian adalah kebutuhan  yang mendesak bagi seorang muslim, tentunya muslim yang memahami hakekat kemuslimannya, muslim yang menyadari tugasnya selaku hamba.


Dan (ingatlah), dikala Tuhan engkau mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka ( Ia berkata): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Benar (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi." (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat engkau tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)",  ( T.Q.S. Al-A’raaf [ 7 ] : 172 )



Assaalaamu'alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh 

Ketahuilah beban hidup, Aku memiliki Allah swt tempat mengadu


Assalaamu'alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh

Puji syukur kepada Allah swt, shalawat buat Rasulullah saw

Beban pikiran, galau, resah, rasa cemas akan beban hidup yang terasa menghimpit,  adalah luka hati yang mendera, pilu dan menyesak dalam dada, terkadang beban tersebut membuat pikiran kacau, hati berdebar tak karuan, ada sesuatu yang terasa berat dalam dada, sampai-sampai hal tersebut membuat kehidupan terasa kacau dan meresahkan, dalam setiap bayang-bayang langkah kita beban itu menghantui , dalam shalat, dalam tidur hingga terbawa mimpi. Dikala melihat anak kecil riang gembira tanpa beban, ingin rasanya kita seperti mereka dikala beban hidup menghimpit kita. Disaat menyaksikan orang-orang tertawa dengan segala keriangan mereka, malah beban itu terasa semakin menusuk. Disaat-saat tertentu, kala kita berada dalam kegembiraan, hati riang karena beban hidup terlupakan, namun ditengah keriangan tersebut, menyusup kembali beban hidup tersebut, saat itu spontan hati kita langsung anjlok pada titik nadir, keresahan menjalar keseluruh tubuh, dengan sekejab, kegembiraan yang kita rasakan sebelumnya musnah, bagaikan debu yang ditiup angin, tanpa bekas, sehingga nikmat kegembiraan seakan-akan tidak pernah kita rasakan.

Ya, dalam bentuk apapun, beban tetaplah beban, yang namanya beban tentunya berat untuk dipikul, saat itu sulit hati ini menerima nasehat dari siapapun, dunia terasa sempit, kita selalu merasa dikejar-kejar, bagaimanapun orang-orang menghibur kita, tak lebih hanya sekedar basa-basi dalam pandangan kita. Karena bagi kita, beban tersebut hanya kita yang merasakan, sementara orang yang menghibur kita sama sekali tidak merasakan. Keinginan kita yang tertinggi kala itu, tiada lain, solusi yang benar-benar nyata dan dapat kita rasakan langsung, baru hati kita akan tenang, baru beban itu akan terasa lepas. Sungguh beban hidup terkadang membuat kita tidak lagi berpikir realistis, bahkan kita  sangat berharap dengan sesuatu yang instan, serba cepat, bagaimana beban itu cepat keluar dari kehidupan kita.

Saudaraku …

Berat memang beban hidup, tapi bagaimanapun, berat bukan berarti tidak harus dipikul, engganpun kita memikul toh tetap beban itu tetap membuat kita harus memikulnya, pada pondasi ini, yang kita butuhkan adalah menata hati, sembari tetap mencari jalan keluar dari beban hidup yang kita tanggung. Menata hati bukanlah perkara yang mudah, namun Insya Allah dengan mencoba mengikhlaskan segala apa yang dilakukan, apa yang kita harapkan terwujud. Sekali lagi hal ini bukan hal yang mudah, namun yakinlah Allah swt akan menguatkan kita, jika kita bersedia untuk melakukannya, bukankah kita punya Allah swt tempat kita menggantungkan segala permasalahan.

Aduhai … alangkah indahnya … jika hati ini bersedia memahami …

Pertama, Beban hidup yang terasa berat, rasakanlah semua itu sebagai tempat untuk melatih diri menghadapi  sesuatu yang berat, bisa jadi beban yang diberikan Allah swt yang terasa berat untuk kita sebagai wadah untuk melatih kita dalam melakukan hal-hal berat dalam urusan kehidupan selanjutnya, kita mungkin telah dirancang oleh Allah swt untuk memikul beban-beban yang tidak mampu dipikul oleh seluruh orang, hanya orang-orang tertentu yang bisa memikulnya, bisa jadi kita adalah orang-orang tertentu tersebut yang dipersiapkan oleh Allah swt untuk memikul beban-beban tersebut, jika memang benar hal yang demikian, berarti kita bukanlah orang kebanyakan, tapi orang-orang pilihan, bukankah pilihan adalah bibit unggul yang dibanggakan, tidak bersediakah kita menjadi pilihan tersebut ? Dalam tahap ini, ajaklah hati untuk berdamai, bersyukurlah, semoga kita menjadi orang pilihan tersebut.

Kedua, selama beban itu berkaitan masalah keduniaan, seperti sulitnya mencari nafkah, cemas akan kezaliman orang lain, takut akan ketidakadilan, dan segaal hal yang membuat kita terbebani dalam urusan yang tidak menyangkut agama kita, maka … duhai  hati, kuatlah, karena semua itu akan berakhir didunia ini, dikala nyawa telah melepaskan diri dari jasad, semua itu akan ikut lepas dan tidak akan membawa sisa untuk kehidupan selanjutnya. Memang berat, hidup mungkin terasa lama dengan beban itu, tapi sadarkah engkau wahai hati, terasa lama hanya karena ia terasa sangat menghimpit, biarkan saja himpitan itu, sibukkan diri kita dengan selalu mengelola hati dan pikiran agar terfokus pada urusan agama, urusan agama yang akan membuat hati diliputi rasa tenang, puas dan harapan akan keselamatan hidup, baik didunia maupun diakhirat. Hidup di dunia ini misteri, tak ada yang tahu apa yang akan terjadi esok akan lusa, semuanya berada dalam genggaman Allah swt, sesuatu yang kita cemaskan belum tentu terjadi, walaupun pengalaman telah membuktikan, karena pengalaman adalah masa lalu yang belum tentu akan sama dimasa yang akan datang, walaupun telah menimpa orang lain, namun bukan berarti akan menimpa kita. Satu hal yang perlu kita tanamkan dalam hati, hujamkan ke dasar yang paling dalam, bukankah kita memiliki Allah swt yang selalu menolong hamba-Nya, dikala hamba-Nya patuh akan ketentuan yang Ia tetapkan. 

" Karena sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan
Sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan ”
( T.Q.S. Al-Insyirah [ 94 ] : 5-6 )

Assalaamu'alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh

Layakkah Kita Mendapatkan Cinta Ilahi


Assalaamu'laikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh

Puji syukur kepada Allah swt, shalawat buat Rasululullah saw

Cinta, ungkapan yang mebuat jiwa bergetar karena aromanya. Cinta, bahasa hati yang membuat siapa saja akan mendongakkan kepalanya dikala mendengar kalimat itu terlontarkan. Cinta, kata yang selalu ingin dimiliki oleh setiap makhluk. Namun disisi lain, cinta malah bumerang yang membuat hati merana. Cinta merupakan bahasa yang sangat dibenci  oleh orang-orang yang nestapa. Cinta adalah pengkhianatan hidup bagi orang yang tersakiti. Cinta adalah racun mematikan yang mampu membuat orang bunuh diri. Cinta, membuat rasa malu hilang ditelan nafsu. Cinta mengubah rasa menjadi kasar.

Demikianlah cinta itu menunjukkan eksistensinya, ia menjadi raja dan menguasai makhluk dengan sekehendaknya, tidak toleran dan membabi buta. Keangkuhannya sulit untuk dibendung, kekuatannya tak terkalahkan, pengaruhnya begitu menyentak tak terperikan.

Setiap insan memiliki cinta, dan rindu sekaligus membenci cinta. Cinta bagian hidup yang tak terpisahkan. Sehingga bermunculan istilah-istilah cinta yang mendera; cinta buta, jatuh cinta, putus cinta, rasa cinta, gejolak cinta, kekasih tercinta, yang tercinta, hingga  aduhai… aku mencintaimu sepenuh jiwa.

Bagi seorang muslim, cinta merupakan rasa terindah dari anugrah yang Allah swt titipkan ke dalam jiwa, dengan cinta Allah swt tanamkan rasa saling mencintai sesama saudara seiman, dengan cinta Allah swt bakar semangat jihad hingga menumbuhkan rasa perindu akan kesyahidan. Dengan cinta kedengkian orang lain dapat dimaafkan. Bahkan dengan cintalah tegaknya kalimat Allah swt dipermukaan bumi.

Namun terkadang cinta bagi seorang muslim juga mampu memunculkan hal-hal yang dilematis, dikala cinta akan dunia harus mengalami pertaruhan dengan cinta akan kebahagiaan akhirat yang hakiki. Cinta ini berada dalam medan tempur antara pertarungan akal dan nafsu, maka hatilah yang akan mengejewantahkannya menjadi perilaku. Dikala akal dikalahkan oleh nafsu dalam pertarungan memperebutkan cinta, maka jatuhlah manusia pada cinta buta yang membinasakan. Itulah cinta akan harta, tahta dan keindahan fatamorgana. Cinta yang akan membuat manusia lupa untuk apa ia diciptakan, cinta yang melahirkan pengkhianatan akan janji yang telah diikrarkan dikala ruh akan ditiupkan  kealam rahim. Cinta yang akan menumpulkan rasa akan bahaya dosa. Inilah cinta yang dipropagandakan oleh tentara syetan. Jatuhlah manusia pada barisan kafilah syetan. Maka engkau jangan heran, dikala menemukan betapa banyak orang-orang yang melakukan kemaksiatan, namun sama sekali ia seakan-akan tidak merasakan sedikitpun bahwa yang ia lakukan adalah maksiat, malah ia merasa nikmat dikala melakukannya, tanpa beban, tanpa ada rasa takut akan bahaya yang menimpanya, karena memang cinta telah membuat ia buta. Bukankah syetan itu menunjukkan sesuatu yang jelek indah dipandang mata ?

Saudaraku … !

Sebagai seorang muslim, ketika hati telah dibakar gelora api cinta, kita mungkin punya keinginan bagaimana kobaran api itu berlabuh pada kodratnya yang mulia, mencari sang pemberi cinta itu, yakni Allah swt. Kita berharap, bahkan kita pancangkan nawaitu yang tulus bahwa api cinta yang bergelora ini, jika toh harus terpatri pada kecintaan akan ciptaan-Nya hendaknya tetaplah dalam rangka pencarian akan cinta-Nya yang hakiki. Dalam artian cinta kita akan cipataan-Nya tetap bermuara pada karena kecintaan kita pada Sang Pemilik cinta tersebut. Inilah basaha cinta kita yang disebut, “ Mencintai sesuatu karena Allah swt ”, puitis memang bahasanya, namun semua itu bukanlah hal mudah, karena seperti yang dikatakan tadi, ada pertarungan alot antara akal dan nafsu yang menentukannya, bahayanya jika kecendrungan pada nafsu lebih mendominasi jiwa kita dari pada kecendrungan pada kekuatan akal. Maka disinilah kekuatan iman itu dipertaruhkan. Hanya imanlah yang mampu menetralisir semua itu hingga cinta menjadi sebuah kenikmatan yang akan mengantarkan kita pada cahaya hidayah Allah swt.

Saudaraku …

Duri-duri untuk mempertahankan keimanan ini sangat tajam, begitu tajam dan menyakitkan. Hanya jiwa-jiwa yang sabar dan pemberani yang dilumuri dengan keikhlasan yang mampu melaluinya. Duri itu adalah cobaan, sebagai pengukur kadar sejauhmana kekuatan iman itu terpancang. Pernahkah antum merasakan, dikala mencoba membangun mahligai cinta terhadap ciptaan Allah swt dengan segala kekuatan agar cinta yang dibangun dengan pondasi iman mampu mengantarkan cinta pada kecintaan terhadap Allah swt ? Dikala antum mencintai seseorang misalnya, antum mencoba untuk mencintai sosok itu dikarenakan bukan harta, jabatan dan keduniaanya, tapi karena keshalehannya, keta’atannya, akhlak terpujinya, yakni mencintainya karena ia mencintai Allah swt, tapi ternyata sosok itu tidak mencintai antum, bahkan tidak peduli dengan cinta antum, dan tidak mau tahu dengan kecintaan antum yang tulus. Pada titik ini bagaimana perasaan antum ?

Disinilah ujian iman itu dipertanyakan ? Masihkah kita bertahan dengan kondisi keimanan kita untuk bertahan dengan prinsip bahwa kita mencintainya karena Allah swt dikala cinta kita ditolak, bahkan untuk dikasihanipun tidak oleh orang yang kita cintai, yang menurut kita cinta kita berdasarkan iman yang kokoh.

Ooooh !!! Sungguh suatu hal yang sangat berat untuk menetapkan sebuah keputusan, jika hati kita merasa marah, sakit, tersakiti, karena ketulusan kita sama sekali tidak mendapat tempat, hingga berujung pada asumsi, dan mempertanyakan, mengapa cinta yang telah dibangun dengan ketulusan iman, tapi berujung pada kekecewaan ? Sekali lagi, jika hal ini yang kita pertanyakan, ketahuilah kita telah tertusuk oleh duri-duri keimanan yang tajam, kita telah jatuh pada cinta yang dikuasai oleh nafsu. Pada saat itu, layakkah kita mengaku, bahwa kita berharap cinta hanya kepada Allah swt ? Jawabannya kita telah tahu, dan sangat mengetahui, ternyata kita masih jauh untuk layak mendapat cinta dari Allah swt. Karena kita sebenarnya, baru layak untuk dikasihani, bukan untuk dicintai. Renungkanlah … Sungguh ini sangat bermanfaat untuk hati kita yang dirundung cinta, hati yang rindu akan cinta Ilahi.

Assalaamu'laikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh