WENDRI NALDI EL-MANINJAUI KHATIB BANDARO

WENDRI NALDI EL-MANINJAUI KHATIB BANDARO
WENDRI NALDI EL-MANINJAUI KHATIB BANDARO

Senin, 18 Maret 2013

Cinta di Atas Cinta ( Bagian 5 )


Duhai hati … kau mungkin dalam kebimbangan dengan yang kumaksud (lihat tulisan bagian 4), bukankah cinta yang tumbuh dalam jiwa langsung dapat dirasakan, mengapa harus menggalinya lagi kearah yang lebih dalam, mengapa harus mencarinya lagi dengan cara yang rumit, jika dengan cara yang mudah sudah dapat dipahami, mengapa harus memperumit diri ? Bukankah banyak tanya semakin menyulitkan jiwa untuk menunaikannya ? Seperti umat Musa yang selalu mempertanyakan tentang suatu perintah, yang akhirnya menyulitkan mereka ? Biar kujawab:  Ooo… jiwa-jiwa yang rindu akan hakikat cinta … kau benar adanya, tak ada yang salah dari alasanmu … hanya saja aku tak ingin kau tertipu, apakah kau langsung percaya saat menyaksikan genangan air ditengah teriknya mentari ? Jika memang kau percaya, sungguh dangkal sekali azzammu untuk menggapai hakikat, tak usahlah kau berbicara lagi tentang pencarian cinta, tak perlu kau merindui cinta hakiki, sebab kau sebenarnya tak lebih dari pada jiwa yang tak punya tempat bagi Pemilik cinta hakiki.

Mengapa ? Sebab saat meilhat genangan air tersebut kau sudah terpesona, padahal akal yang dangkal sekalipun tak bisa menerimanya, mana bisa air menggenang ditengah teriknya mentari ? Lantas engkau ? Malah percaya dengan sesuatu hingga terpesona tanpa punya keinginan untuk melihat dan meneliti lebih jauh apakah benar apa yang kau lihat. Seandainya kau coba untuk mendekat pada air yang mempesona itu, benarkah air yang engkau dapatkan ? Tidak, itulah fatamorgana, air itu sebenarnya tidak ada, tapi ia akan menipu orang-orang yang tidak pernah mencoba mengetahuinya lebih dekat. Inilah yang kumaksud dangkalnya azzammu untuk mengenal hakikat, kau hanya terpesona melihat yang sekilas tapi enggan memahami secara mendalam. Pada tahap ini apakah kau bisa menerima pernyataanku tadi, tak usahlah kau berbicara lagi tentang pencarian cinta, tak perlu kau merindui cinta hakiki, sebab kau sebenarnya tak lebih dari pada jiwa yang tak punya tempat bagi Pemilik cinta hakiki. Mengapa ? Karena kau tak punya azzam untuk mereguk cinta hakiki itu sendiri. Apakah mungkin cinta hakiki itu diberikan kepada jiwa-jiwa yang sama sekali sebenarnya tidak merindui cinta hakiki tersebut ?

Untuk itu, janganlah kau ragu dan bimbang akan pencarian cinta yang harus dikejar dengan kelelahan, ini bukanlah masalah memperumit diri, ini bukan masalah banyak tanya, tapi ini masalah pencarian hakikat dan mengeluarkan diri dari ketertipuan. Maka dalam hal ini ingin kuungkapkan padamu wahai jiwa … tentang pengajaran Jalaludin Rumi, simaklah, renungkan dan resapi maknanya dalam-dalam secara perlahan-lahan :

Rumi berkata : Siapapun yang dicintai adalah cantik, tetapi tidak semua yang cantik dicintai. “Ada gadis yang lebih cantik dari Laila,” mereka selalu berkata kepada Majnun “ Biarkan kami membawa beberapa kepadamu.”

Majnunpun menjawab “Aku tidak mencintai Laila karena bentuknya, ia seperti sebuah piala ditanganKu. Aku minum anggur dari piala itu. Aku jatuh cinta kepada anggur itu. Kalian hanya mengetahui piala itu, tetapi kalian tidak mengenal anggur itu. Sebuah piala emas bertaburan batu-batu mulia, tetapi hanya hanya mengandung cuaka, apa gunanya bagiku ? Sebuah labu pecah tua dengan anggur lebih baik dimataku ketimbang seratus piala emas.

Hal ini serupa dengan seseorang yang sedang lapar, yang belum makan selama sepuluh hari, dan seorang yang lainnya telah makan lima kali dalam sehari. Lalu keduanya melihat seiris roti. Orang yang kenyang hanya melihat semata-mata hanya seonggok makanan, sedangkan orang yang lapar tentu melihat seiris roti tersebut bagaikan melihat kehidupan itu sendiri.

Bagi orang lapar tersebut, roti ini adalah sebuah piala, dan kehidupan dibawanya tersebut adalah anggurnya. Anggur tersebut memang  tidak akan diketahui kecuali melalui rasa lapar dan kerinduan. Dapat selera makan ini …! Agar kamu tidak hanya melihat penampakan bentuk, melainkan menemukan Sang Kekasih dimana-mana.

Bentuk dunia ini adalah piala-piala. Ilmu pengetahuan, seni dan pengetahuan lainnnya merupakan tulisan-tulisan diatas tubuh piala. Tapi ketika piala itu pecah, maka tulisan tersebut pun pasti menghilang. Oleh karena itu, mereka yang minum anggur melihat “ realitas abadi, perbuatan-perbuatan kesucian.(1)

Ya, kejarlah anggur itu, jangan kau terpesona dengan pialanya, kejarlah ma’rifat itu jangan kau berhenti pada awal jalan, hati-hati dalam ketertipuan, waspadalah, dan lanjutkan pencarianmu. Kuingatkan kembali, sebagaimana telah kuingatkan sebelumnya (lihat bagian 4), harus dengan ilmu.
----------
Referensi :
(1) Dikutip dari karya Iqbal M. Ambara, Jalaludin Rumi Sang Sufi Humanis, (Yogyakarta: Lukita, 2010), Cet. 1, halaman : 50-51.   

Minggu, 17 Maret 2013

SMPN 1 Tanjung Raya gelar MABIT dalam Rangka Pembinaan Mental Spiritual


Assalaamu’alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh

Segala puji hanya milik Allah swt, shalawat buat Rasulullah saw.

Subhaanallaah ! Allah swt telah membuka hati manusia, memberi kekuatan menunaikan  sebuah nawaitu agung, dalam rangka pembinaan mental spiritual generasi penerus risalah Islam, yakni kegiatan keagamaan yang populer dengan istilah MABIT, Malam Bina Iman dan Taqwa. Dikala mungkin  ada diantara generasi-generasi di bumi ini terlelap dalam mimpi, terbuai angan-angan dunia, menghabiskan umur dalam urusan dunia yang tak kunjung memberi kepuasan, namun Alhamdulillaah, beberapa siswa laki-laki SMPN 1 Tanjung Raya, Agam, Sumatera Barat, Indonesia menyerahkan diri mereka untuk agamanya, berkorban dan menanam  tekad, mengejar asa yang terhunjam, menepis segala iming-iming dunia yang melenakan, mencoba menyibak dan merobek-robek gemerlapnya indah malam minggu. Mereka menundukkan diri, menyerahkan jiwa untuk urusan akhirat mereka, berupaya menggemarkan diri untuk beribadah, mendengar tausyiah, mencoba mengalirkan nasehat kedalam jiwa, menggali ilmu hikmah dan keutamaan, disebuah masjid yang berdiri kokoh menjulang membelah senyapnya malam, Masjid Ummil Qura Bancah,  mulai Sabtu Maghrib, 04  Jumadil Awwal 1434 H hingga ba’da Shubuh, Minggu 05 Jumadil Awwal 1434 H.

Dinginnya malam, sepertinya tak menjadi halangan mereka, beratnya mata yang dibuai rayuan syetan untuk lebih mencintai berlayar kepulau mimpi sama sekali tak membuat mereka terbuai. Dalam rentang waktu yang panjang, dengan berbagai materi ke-Islaman  yang disampaikan pemateri, tentang pentingnya berbuat kebaikan yang disampaikan oleh Aktivis Rohis MAN Maninjau yang sekarang duduk dibangku pendidikan kelas XII Program Keagamaan (PK), Abrar Kurniawan. Tentang akidah, kengerian neraka, yang disampaikan  Wendri Naldi Khatib Bandaro, S.Pd.I, guru Madrasah Diniyah Wustha (MDW) SMPN 1 Tanjung Raya, pembina Rohis SMPN 1 Tanjung Raya, MAN Maninjau dan MTsS Maninjau, dan Tentang akhlak yang disampaikan oleh Zulfiyandri, S.Pd, guru Bahasa Indonesia SMPN 1 Tanjung Raya dan sekaligus pembina Rohis SMPN 1 Tanjung Raya, guru Bahasa Indonesia MAN Maninjau dan MTsS Maninjau, mereka peserta MABIT , mampu bertahan walau dalam keadaan yang mungkin terasa sulit.

Duhai …jiwa-jiwa yang lemah
Perkuatlah ikatan jiwamu pada kebajikan
Apa yang kau harapkan dari harta yang melimpah …
Harta yang bisa jadi menjadi silang sengketa generasi sepeninggalmu
Harta yang malah sering membuatmu lalai dalam keta’atan
Harta yang membuatmu tak mampu lagi membedakan antara halal dan haram
Ooo… jiwa yang gersang,
Berbenahlah dari keterpurukanmu yang telah dalam …
Selagi kesempatan itu masih ada
Selagi harapan itu masih terbentang luas
Masihkah kau tak merasa takut
Kala nyawa telah berada dipengujungnya
Kala taubat tak lagi bermakna
Sementara kau masih menunggu-nunggu masa untuk memperbaiki diri
Sungguh … sungguh malang jiwamu
Namun apakah kemalangan ini akan menyelamatkanmu ???
Aduhai …takutlah … takutlah ….

Semoga hal ini menjadi suatu kenyataan sejarah dan tercatat sebagai amal kebajikan, bahwa yang dilakukan bukanlah suatu hal yang biasa, tapi luar biasa yang akan dapat dipetik hasilnya diakhirat. Bagi  jiwa yang tertaut hatinya pada kebajikan ada sebuah asa yang tertanam, dan sebuah keyakinan yang terhunjam dalam jiwa, serta keyakinan yang tak tergoyahkan, bahwa kala mencoba melakukan sesuatu kebaikan, Allah swt tidak akan menyia-nyiakan urusan tersebut. Hanya kepada Allahlah tempat menyerahkan segalanya.

Assalaamu’alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh


Cinta di Atas Cinta ( Bagian 4 )


Dengarlah …dengar …pasang telingamu … dengan hati, hati yang bersih, dengar kalimat berikut : “ Jika kau golongan Hawa, apa yang kau lihat dari sosok seorang laki-laki yang membuat kau terpesona, jika kau golongan Adam, apa pula yang menarik bagimu bagi kaum perempuan.” Jawablah dengan jujur, jangan dustai dirimu sendiri. Bukankah kau merasa perih kala kau mengetahui kau didustai orang lain, lalu bagaimana perihnya jika mendustai diri sendiri ? Maka jujurlah, jawab pertanyaan tersebut, agar kau mampu mengukur kekuatan hatimu yang sesungguhnya.

Jika sekilas kau menyaksikannya maka jawabanmu sudah dapat diterka, fisiknya. Namun jika kau lebih dituntut untuk menjawab lebih lanjut setelah mengenal orang tersebut, mungkin akan muncul jawaban barumu, sikapnya. Dan jika terus kau dituntut dengan lebih diberi kesempatan untuk lebih mengenalnya maka jawabanmu akan berbeda-beda, sejauhmana kau mengenalnya, sedalam itu pulalah perasaannmu kepadanya.

Ketahuilah …perasaan yang lahir itulah cinta,  cintamu akan tumbuh sebatas puncak pengenalanmu pada sesuatu. Maka berbedalah cinta seseorang yang mengenal suatu benda dengan cinta orang lain terhadap benda yang sama. Kala kau telah terlanjur melabuhkan cinta pada sesuatu ternyata tempat labuhan tersebut kau baru sedikit mengenalnya, maka kau akan kecewa, percayalah …! Mengapa ? Sebab kala kau sudah bertambah mengenalnya kau baru menyadari bahwa ternyata kau tidak mencintainya. Sederhana logikanya, jika kau kaum Hawa, kau terbuai oleh keindahan fisik seorang laki-laki, namun kau enggan mengenalnya lebih lanjut, tapi kau telah menghentikan pengenalanmu sampai disana, lalu kau labuhkan cinta padanya,  kala cinta kau telah berlabuh, ia sulit untuk ditarik (hati jika telah terikat dengan sesuatu maka sulit untuk mengurainya), namun ternyata secara tidak langsung dalam labuhan cintamu yang telah terhunjam, kau semakin mengenalnya, bukan lagi sebatas fisiknya, ternyata, ia memiliki suatu hal yang tidak membuat kau mencintainya, malah sesuatu yang kau benci, saat itulah duhai hati, betapa malangnya nasibmu, kau telah tertipu, kau telah terpedaya, apa muara dari semua itu kalau tidak kekecewaan, apa dampaknya kalau tidak penyesalan ? Kala hati telah kecewa, saat hati telah menyesal adakah keperihan yang melebihi hal ini ?

Untuk itu ketahuilah duhai hati … menapak jalan menuju cinta bukan semata soal suka dan kesenangan, bukan soal memuaskan keinginan, bukan semata menyenangkan hati. Tapi menapak jalan mencapai suatu puncak kebahagiaan. Dan ketahuilah tak ada puncak yang tinggi dapat didaki dengan cara yang mudah, bahayanya berat, rintangannya bukan main-main, selama perjalanan banyak keindahan yang menipu. Bukankah ketinggian itu kemuliaan ? Ketinggian itu derajat yang mengangkat keutamaan ? Apakah mungkin kemuliaan dan keutamaan dapat diperoleh dengan cara yang mudah ? Jika mungkin, tidak perlu ada janji-janji tentang keutamaan kemuliaan, toh semua orang  juga mampu melakukannya. Namun karena tidak semua yang mampu melakukannya, hanya jiwa-jiwa tangguh yang berupaya mengejarnya pantang menyerah, maka diberikan janji. Janji itu harapan, harapan itulah yang membakar semangat, dan harapan itulah yang akan menyampaikan pada keutamaan.

Maka pengenalanmu pada sesuatu hendaklah jangan hanya sebatas tahu, jangan hanya sebatas pernah melihat, jangan hanya sebatas kau terbuai, tapi telitilah, pelajarilah, dalamilah. Demikianlah hakikat cinta yang harus kau pahami, saat kau merasakan desiran lembut cinta yang membakar jiwamu, jangan terlalu cepat kau labuhkan, pelajarilah makna cinta itu, mengapa cinta itu tumbuh, apa itu cinta yang telah tumbuh, mengapa ia harus hadir dalam kondisi demikian ? Banyak yang harus kau pahami, banyak yang harus kau telusuri. Siapa pemilik cinta itu ? Siapa yang telah menghembuskannya dalam jiwamu ? Jika kau bersedia menelusuri hal ini, maka kau telah mulai mencoba menelusuri tangga-tangga awal dalam menggapai cinta, yakni jalan untuk sampai pada hakikat cinta hakiki yang akan membawa kedamaian dalam hidup dan kau takkan mencari lagi cinta-cinta yang lain. Inilah bagian yang harus kau tancapkan dalam ilmu mengenal dan mengejar hakikat cinta.


Sabtu, 16 Maret 2013

Cinta di Atas Cinta ( Bagian 3 )


Ooo… jiwa yang rindu akan cinta hakiki,  rindu akan cinta yang takkan pernah berujung pada kemeranaan … rindu  akan cinta yang dapat melabuhkan kehausan  jiwa yang terasa semakin kering kerontang, jiwa yang berharap percikan-percikan kasih yang mempesona.

Ketahuilah … cinta itu memang ada, dan ketahuilah, ia berada dekat  dalam dirimu, dalam jiwamu, yang kau bawa dalam naluri kehidupanmu, hanya saja kau belum mampu menggalinya. Engkau mungkin sudah tak sabar menggapainya. Mungkin sudah kau tempuh jalan yang panjang, berliku dan melelahkan, namun kau mungkin merasa semakin gersang.

Aduhai … ketahuilah tangga-tangga untuk menggapai cinta sedahsyat  itu tak mudah wahai hati. Jurangnya dalam, ranjaunya tak terduga, godaannya tak biasa. Hanya nawaitu, pemahaman, mujahadah (kesungguhan) dan riyadhah (latihan) yang akan dapat mengantarkannya, dan semua itu bermuara pada tawakkal. Pancangkanlah dalam jiwamu bahwa engkau siap untuk menyerahkan jiwamu untuk memperoleh cinta itu, jika memang engkau mendambakannya. Siap bukan hanya dengan semangat, tapi diiringi dengan azzam (tekad), maka bersiaplah, rintangan yang akan kau lalui beribu-ribu, jalan yang akan kau tempuh tak cukup ukuran mil, disana kau akan dihadang, dicerca, dimaki, dirayu, dijatuhkan, tersungkur bahkan hingga terkubur, jika kau sanggup untuk berupaya bangkit, bangkit, dan bangkit, maka kau mungkin akan jatuh lagi.

Apa yang hendak kau persiapkan ? Ilmu, Ilmu,dan  Ilmu. Bukankah kau mengetahui bahwa ayat yang pertama dihamparkan kepermukaan bumi adalah perintah menuntut ilmu, Iqra’, bacalah, bismirrabbikalladziikhalaq, dengan nama Tuhanmu yang menciptakan. Berangkatlah dari tempat asalmu, arungi samudra luas yang entah dimana tepinya, dakilah gunung berbatu, bertanjak dan licin, carilah kesudut-sudut dan hamparan yang luas, walau hanya sebesar zarrah keutamaan ilmu tersebut, namun ingat, semua itu haruslah dalam rangka bismirabbikalladziikhalaq, ilmu yang kau cari, haruslah ilmu yang mengantarkanmu pada pemahahaman akan tujuan kau diciptakan, “ dan tidaklah aku ciptakan jin dan manusia kecuali hanya untuk mengabdi padaku (T.Q.S. Adz-Dzariyat:56). Ya ilmu untuk pengabdian itulah yang harus kau jajaki, kau gali, kau analisa, kau tanya pada ahlinya, hingga kau sampai pada penghujung.

Duhai hati, perdalamlah pemahahamanmu tentang sumber cinta itu, Dialah sang pemilik cinta sejati. Cinta yang takkan usang dimakan zaman, cinta yang takkan pernah kecewa, cinta yang takkan kenal perselingkuhan, cinta yang membawa kenikmatan di atas kenikmatan, Allah Sang Pemilik Cinta. Dengan cinta engkau diciptakan, dengan cinta kau diberi kekuatan untuk hidup, dengan cinta dilimpahkan rezki padamu, dengan cinta mulia kehidupanmu. Dengan cinta pula kau mendambakan cinta yang hakiki.

Jika memang kau mencari-cari cinta hakiki itu, jika kau tak rela kecewa pada cinta yang kau dambakan, jika kau ingin mereguk manisnya cinta, nawaitu kesungguhanmu yang dipertanyakan, nawaitu untuk mengenal cinta itu dan memahaminya, benarkah kau rindu dengan cinta hakiki tersebut, dan semuanya kembali pada konsep kau harus berilmu tentang itu, kau harus mengerti seluk beluknya, kau harus paham hakikatnya. Maka carilah ilmu itu, perdalamlah, resapilah, dan amalkanlah, niscaya kau akan menggapai jalan permulaan untuk menggapai kerinduanmu akan memperoleh hakikat cinta yang takkan pernah mengecewakanmu. Itulah ilmu ma’rifatullah, ilmu mengenal siapa sesungguhnya Allah Sang Pemilik Cinta. Ilmu yang akan mengantarkan kau pada kemuliaan cinta yang sesungguhnya. 

Rabu, 27 Februari 2013

Balanjuang Ukhuwah " Kolak Labu " PK MAN Maninjau


Assalaamu'alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh

Puji syukur pada kepada Allah SWT.
Shalawat teruntuk Rasulullah SAW.

Bukankah pembelajaran bukan hanya berkutat dengan rumus-rumus rumit dan analisis-analisis dalam kelas dalam sebuah PBM. Kehidupan dan apa yang kita lakukan merupakan sebuah pembelajaran hidup. Belajar untuk memahami watak dan kebiasaan orang lain, termasuk pendapatnya. Belajar untuk menyadari bahwa kehidupan ini terikat dengan kebutuhan-kebutuhan orang lain. Belajar untuk menyadari bahwa bukan hanya kita saja yang menghuni planet bumi ini.

Semakin kuat kemampuan kita untuk menggali hikmah kehidupan, mengambil intisari akan setiap keadaan, menarik ibrah dari setiap peristiwa, maka akan lembutlah jiwa itu, kikislah segala kesombongan, pupuslah segala keangkuhan, hingga berubah menjadi cinta, kasih sayang, saling menghargai, disanalah makna persaudaraan akan bermakna. Persaudaraan yang telah Islam ajarkan, persaudaraan yang disana kami memupuknya dalam komunitas keluarga besar PK MAN Maninjau.

Senin, 14 R. Akhir 1434 H melalui sebuah momen penting penuh keindahan, kami rajut rasa ukhuwah itu dalam “ Balanjuang Kolak Labu ”. Balanjuang dalam tradisi kami erat kaitannya dengan kebersamaan, persaudaraan, dan aplikasi nilai-nilai Islam dalam sebuah komunitas jama’ah. Suatu media bagi kami menyemai benih-benih kebajikan, menyuburkannya dalam kehidupan kami sebuah kekeluargaan. Kekeluargaan yang kami coba tanam sebagai manifestasi bahwa kami adalah bersaudara.

Kami menyadari, bahwa kami butuh dengan Islam, dan Islam itu akan bangkit dalam sebuah kekuatan jama’ah, kekuatan yang dibangun atas dasar kebersamaan. Kami sepenuhnya mengetahui bahwa kami adalah seorang muslim, ada kewajiban yang harus kami tunaikan, belajar tentang ke-Islaman kami, memperjuangkannya, hingga membanggakannnya. Semua ini bukan untuk berbangga diri, bukan juga sebuah utopia akan kebangkitan Islam dalam usaha kami. Namun dengan sebuah keyakinan yang terhunjam dalam relung hati terdalam, bahwa Alla SWT tidak akan menyia-nyiakan  perjuangan hamba-Nya kala ditunaikan dengan nawaitu ikhlas dan tujuan akhir dari semua itu pengabdian.

( Keluarga Besar PK MAN Maninjau)

Assalaamu'alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh

Jumat, 15 Februari 2013

Catatan Perjalanan Study Tour XI PK MAN Maninjau T.P. 2012/2013, Ke Kesultanan Siak Sri Indrapura, Riau, 1434 H


Assalaamu'alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh.
Puji syukur kepada Allah SWT, shalawat teruntuk Rasulullah SAW.


Suatu cita-cita dan harapan jika ditanam dengan kesungguhan dan nawaitu yang ikhlas hanya mengharap Ridha Allah SWT, insya Allah, Allah SWT akan membuka jalan dan memberi kemudahan urusan. Inilah suatu kenikmatan dan anugrah terindah yang kami rasakan.

Akhirnya, segala cita-cita dan harapan, Study Tour ke Kesultanan Siak Sri Indrapura, Kabupaten Siak, Riau oleh Keluarga besar XI PK MAN Maninjau tahun pelajaran 2012/2013 terwujud. Dalam waktu yang relatif singkat, berangkat Sabtu pagi 28 Rabi’ul Awwal hingga Senin pagi 30 Rabi’ul Awwal 1434 H,  banyak hal yang kami peroleh. Menikmati indahnya lukisan alam, pancaran sinar mentari, dihiasi gerimis hujan, sepanjang perjalanan yang penuh pesona dan i’tibar, kami memperoleh kenikmatan yang luar biasa. Indahnya berbagi, kebersamaan, persaudaraan, suguhan pesona alam yang memukau membuat perjalanan ini penuh kenangan yang begitu berharga. Kenangan yang semoga menjadi catatan sejarah, bahwa PK MAN Maninjau pernah menoreh suatu prestasi yang gemilang.

Memang, hakikat yang dituju dalam perjalanan ini Istana Siak Sri Indrapura. Namun sepanjang perjalanan, kami mencoba mengambil manfaat. Setiap momen yang dianggap penting kami sambangi. Seperti singgah di Candi Muara Takus. Dengan harapan dapat memahami kepercayaan-kepercayaan umat terdahulu terutama menggali informasi melalui peninggalan mereka, dalam hal ini Candi. 


Tak lupa, indahnya panorama Danau Buatan, walau dalam kondisi gerimis, kamipun mencoba untuk menikmatinya. Juga dengan harapan hal ini menjadi suatu pembelajaran penting tentang peradaban yang ditoreh umat manusia.





Perjalanan ke Tanah Siak memang terasa cukup jauh, jalan yang dihiasi hamparan ladang sawit sejauh mata memandang, bergelombang dan berliku, melewati jembatan-jembatan panjang, namun tidak meruntuhkan semangat kami untuk sampai ke tanah yang diimpikan untuk menikmati dan menggali pelajaran dari Sejarah Peradaban di tanah yang didominasi tulisan-tulisan Arab Melayu memukau.




Minggu, 29 Rabi’ul Awwal 1434 H sekitar waktu shalat Zhuhur kami sampai di tanah Istana Siak. Suatu lokasi yang begitu indah, bersih, tertata dan menarik jiwa-jiwa pencinta ilmu untuk menggali apa yang terkandung dalam sejarah yang telah tertanam di wilayah ini. Ba’da menunaikan shalat zhuhur dan dengan segala persiapan, kami menuju Istana Siak Sri Indrapura. Istana yang kami temui berlantai dua itu terasa tidak terlalu besar, namun memiliki hamparan halaman yang begitu luas, dihiasi keindahan taman bunga dan rerumputan yang menghijau. Para siswa kelas XI PK MAN Maninjau mulai melancarkan misi, menggali informasi tentang keberadaan Kesultanan Siak Sri Indrapura, baik melalui wawancara dengan petugas maupun dengan melihat langsung keterangan-keterangan yang nemang tersebar diberbagai tempat dalam lokasi Istana. Tak lupa kami mengunjungi makam-makam yang jumlahnya begitu banyak.





Semoga semua ini menjadi suatu keberkahan, dan lebih menguatkan para kader-kader Islam XI PK MAN Maninjau, bahwa menjadi anak jurusan agama bukanlah pilihan yang salah. Tapi pilihan yang semakin memantapkan hati mereka bahwa mereka tidak salah dalam memilih jurusan. Insya Allah.

      
Assalaamu'alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh

Jumat, 08 Februari 2013

Keindahan Berbagi Alumni ROHIS Bina Remaja Islam MAN Maninjau


Assalaamu'alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh

Puji syukur pada Allah SWT, shalawat buat Rasulullah SAW.

Hari ini, ROHIS Bina Remaja Islam MAN Maninjau, dihadiri kader-kader Bina Remaja Islam yang sekarang telah menjadi alumni, alhamdulillaah, pergerakan dakwah mereka semakin maju, banyak diantara mereka yang melanjutkan perjuangan dalam gerakan dakwah kampus. Adakah kenikmatan dan kemuliaan yang melebihi hal ini. Kala hati dan jiwa telah tertambat dalam dakwah, maka segala jalan akan Allah SWT bukakan untuk selalu bernaung di bawah panji dakwah yang semakin disadari bahwa dakwah merupakan suatu keharusan. Maka lihatlah keterikatan hati mereka dengan dakwah, mereka rela jauh-jauh datang menghadiri gerakan dakwah sekolah ROHIS Bina Remaja Islam MAN  Maninjau, tempat mereka dulu meraup dan menikmati indahnya ilmu dalam dakwah.

Mereka hadir, bukan sekedar hadir, tapi dengan harapan kehadiran mereka menjadi support bagi adik-adik mereka yang tergabung dalam ROHIS Bina Remaja Islam MAN Maninjau. Banyak hal yang mereka sampaikan, tanpa terkecuali diantara mereka juga berperan sebagai pemateri dalam Liqa’ (pertemuan) mingguan yang digelar Jum’at ini. Fadli dan Eva ( Mahasiswa IAIN Imam Bonjol Padang), Dahlia, Ira, Liza, Alan dan Rahmat (Mahasiswa STAIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi). Itulah mereka yang hadir dari sekian Alumni ROHIS Bina Remaja Islam MAN Maninjau yang sekarang tersebar dibeberapa perguruan tinggi.

Banyak hal yang mereka bagi, mengenai gerakan dakwah kampus yang menggurita, baik KSI Ulil Albab IAIN Imam Bonjol Padang, maupun UKMD ‘Azzamul ‘Iffah STAIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi. Subhaanallaah. Suatu pembuktian mereka begitu mengenal urgensi dakwah dan hal ini mengindikasikan bahwa mereka adalah aktifis yang memiliki nawaitu yang kuat untuk membangun kelangsungan dakwah.
Hanya orang-orang yang memiliki pemikiran cemerlanglah yang mampu memahami bahwa dakwah adalah keharusan, hanya orang-orang yang istiqamah yang mampu melewati jalan dakwah yang penuh rintangan dan berliku sarat onak dan duri. Dan hanya orang-orang yang menyadari dirinya muslimlah yang akan memperjuangkan kelangsungan dakwah yang telah dirintis Rasulullah SAW.

Assalaamu'alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh