Dengarlah …dengar …pasang telingamu … dengan
hati, hati yang bersih, dengar kalimat berikut : “ Jika kau golongan Hawa, apa
yang kau lihat dari sosok seorang laki-laki yang membuat kau terpesona, jika
kau golongan Adam, apa pula yang menarik bagimu bagi kaum perempuan.” Jawablah
dengan jujur, jangan dustai dirimu sendiri. Bukankah kau merasa perih kala kau
mengetahui kau didustai orang lain, lalu bagaimana perihnya jika mendustai diri
sendiri ? Maka jujurlah, jawab pertanyaan tersebut, agar kau mampu mengukur
kekuatan hatimu yang sesungguhnya.
Jika
sekilas kau menyaksikannya maka jawabanmu sudah dapat diterka, fisiknya. Namun
jika kau lebih dituntut untuk menjawab lebih lanjut setelah mengenal orang
tersebut, mungkin akan muncul jawaban barumu, sikapnya. Dan jika terus kau
dituntut dengan lebih diberi kesempatan untuk lebih mengenalnya maka jawabanmu
akan berbeda-beda, sejauhmana kau mengenalnya, sedalam itu pulalah perasaannmu
kepadanya.
Ketahuilah …perasaan yang lahir itulah
cinta, cintamu akan tumbuh sebatas
puncak pengenalanmu pada sesuatu. Maka berbedalah cinta seseorang yang mengenal
suatu benda dengan cinta orang lain terhadap benda yang sama. Kala kau telah
terlanjur melabuhkan cinta pada sesuatu ternyata tempat labuhan tersebut kau
baru sedikit mengenalnya, maka kau akan kecewa, percayalah …! Mengapa ? Sebab kala
kau sudah bertambah mengenalnya kau baru menyadari bahwa ternyata kau tidak
mencintainya. Sederhana logikanya, jika kau kaum Hawa, kau terbuai oleh
keindahan fisik seorang laki-laki, namun kau enggan mengenalnya lebih lanjut,
tapi kau telah menghentikan pengenalanmu sampai disana, lalu kau labuhkan cinta
padanya, kala cinta kau telah berlabuh,
ia sulit untuk ditarik (hati jika telah terikat dengan sesuatu maka sulit untuk
mengurainya), namun ternyata secara tidak langsung dalam labuhan cintamu yang
telah terhunjam, kau semakin mengenalnya, bukan lagi sebatas fisiknya,
ternyata, ia memiliki suatu hal yang tidak membuat kau mencintainya, malah
sesuatu yang kau benci, saat itulah duhai hati, betapa malangnya nasibmu, kau
telah tertipu, kau telah terpedaya, apa muara dari semua itu kalau tidak
kekecewaan, apa dampaknya kalau tidak penyesalan ? Kala hati telah kecewa, saat
hati telah menyesal adakah keperihan yang melebihi hal ini ?
Untuk itu ketahuilah duhai hati … menapak jalan
menuju cinta bukan semata soal suka dan kesenangan, bukan soal memuaskan
keinginan, bukan semata menyenangkan hati. Tapi menapak jalan mencapai suatu
puncak kebahagiaan. Dan ketahuilah tak ada puncak yang tinggi dapat didaki
dengan cara yang mudah, bahayanya berat, rintangannya bukan main-main, selama
perjalanan banyak keindahan yang menipu. Bukankah ketinggian itu kemuliaan ? Ketinggian
itu derajat yang mengangkat keutamaan ? Apakah mungkin kemuliaan dan keutamaan
dapat diperoleh dengan cara yang mudah ? Jika mungkin, tidak perlu ada
janji-janji tentang keutamaan kemuliaan, toh semua orang juga mampu melakukannya. Namun karena tidak
semua yang mampu melakukannya, hanya jiwa-jiwa tangguh yang berupaya
mengejarnya pantang menyerah, maka diberikan janji. Janji itu harapan, harapan
itulah yang membakar semangat, dan harapan itulah yang akan menyampaikan pada
keutamaan.
Maka pengenalanmu pada sesuatu hendaklah jangan
hanya sebatas tahu, jangan hanya sebatas pernah melihat, jangan hanya sebatas
kau terbuai, tapi telitilah, pelajarilah, dalamilah. Demikianlah hakikat cinta yang
harus kau pahami, saat kau merasakan desiran lembut cinta yang membakar jiwamu,
jangan terlalu cepat kau labuhkan, pelajarilah makna cinta itu, mengapa cinta
itu tumbuh, apa itu cinta yang telah tumbuh, mengapa ia harus hadir dalam
kondisi demikian ? Banyak yang harus kau pahami, banyak yang harus kau
telusuri. Siapa pemilik cinta itu ? Siapa yang telah menghembuskannya dalam
jiwamu ? Jika kau bersedia menelusuri hal ini, maka kau telah mulai mencoba
menelusuri tangga-tangga awal dalam menggapai cinta, yakni jalan untuk sampai
pada hakikat cinta hakiki yang akan membawa kedamaian dalam hidup dan kau takkan
mencari lagi cinta-cinta yang lain. Inilah bagian yang harus kau tancapkan
dalam ilmu mengenal dan mengejar hakikat cinta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar