WENDRI NALDI EL-MANINJAUI KHATIB BANDARO

WENDRI NALDI EL-MANINJAUI KHATIB BANDARO
WENDRI NALDI EL-MANINJAUI KHATIB BANDARO

Minggu, 17 Maret 2013

Cinta di Atas Cinta ( Bagian 4 )


Dengarlah …dengar …pasang telingamu … dengan hati, hati yang bersih, dengar kalimat berikut : “ Jika kau golongan Hawa, apa yang kau lihat dari sosok seorang laki-laki yang membuat kau terpesona, jika kau golongan Adam, apa pula yang menarik bagimu bagi kaum perempuan.” Jawablah dengan jujur, jangan dustai dirimu sendiri. Bukankah kau merasa perih kala kau mengetahui kau didustai orang lain, lalu bagaimana perihnya jika mendustai diri sendiri ? Maka jujurlah, jawab pertanyaan tersebut, agar kau mampu mengukur kekuatan hatimu yang sesungguhnya.

Jika sekilas kau menyaksikannya maka jawabanmu sudah dapat diterka, fisiknya. Namun jika kau lebih dituntut untuk menjawab lebih lanjut setelah mengenal orang tersebut, mungkin akan muncul jawaban barumu, sikapnya. Dan jika terus kau dituntut dengan lebih diberi kesempatan untuk lebih mengenalnya maka jawabanmu akan berbeda-beda, sejauhmana kau mengenalnya, sedalam itu pulalah perasaannmu kepadanya.

Ketahuilah …perasaan yang lahir itulah cinta,  cintamu akan tumbuh sebatas puncak pengenalanmu pada sesuatu. Maka berbedalah cinta seseorang yang mengenal suatu benda dengan cinta orang lain terhadap benda yang sama. Kala kau telah terlanjur melabuhkan cinta pada sesuatu ternyata tempat labuhan tersebut kau baru sedikit mengenalnya, maka kau akan kecewa, percayalah …! Mengapa ? Sebab kala kau sudah bertambah mengenalnya kau baru menyadari bahwa ternyata kau tidak mencintainya. Sederhana logikanya, jika kau kaum Hawa, kau terbuai oleh keindahan fisik seorang laki-laki, namun kau enggan mengenalnya lebih lanjut, tapi kau telah menghentikan pengenalanmu sampai disana, lalu kau labuhkan cinta padanya,  kala cinta kau telah berlabuh, ia sulit untuk ditarik (hati jika telah terikat dengan sesuatu maka sulit untuk mengurainya), namun ternyata secara tidak langsung dalam labuhan cintamu yang telah terhunjam, kau semakin mengenalnya, bukan lagi sebatas fisiknya, ternyata, ia memiliki suatu hal yang tidak membuat kau mencintainya, malah sesuatu yang kau benci, saat itulah duhai hati, betapa malangnya nasibmu, kau telah tertipu, kau telah terpedaya, apa muara dari semua itu kalau tidak kekecewaan, apa dampaknya kalau tidak penyesalan ? Kala hati telah kecewa, saat hati telah menyesal adakah keperihan yang melebihi hal ini ?

Untuk itu ketahuilah duhai hati … menapak jalan menuju cinta bukan semata soal suka dan kesenangan, bukan soal memuaskan keinginan, bukan semata menyenangkan hati. Tapi menapak jalan mencapai suatu puncak kebahagiaan. Dan ketahuilah tak ada puncak yang tinggi dapat didaki dengan cara yang mudah, bahayanya berat, rintangannya bukan main-main, selama perjalanan banyak keindahan yang menipu. Bukankah ketinggian itu kemuliaan ? Ketinggian itu derajat yang mengangkat keutamaan ? Apakah mungkin kemuliaan dan keutamaan dapat diperoleh dengan cara yang mudah ? Jika mungkin, tidak perlu ada janji-janji tentang keutamaan kemuliaan, toh semua orang  juga mampu melakukannya. Namun karena tidak semua yang mampu melakukannya, hanya jiwa-jiwa tangguh yang berupaya mengejarnya pantang menyerah, maka diberikan janji. Janji itu harapan, harapan itulah yang membakar semangat, dan harapan itulah yang akan menyampaikan pada keutamaan.

Maka pengenalanmu pada sesuatu hendaklah jangan hanya sebatas tahu, jangan hanya sebatas pernah melihat, jangan hanya sebatas kau terbuai, tapi telitilah, pelajarilah, dalamilah. Demikianlah hakikat cinta yang harus kau pahami, saat kau merasakan desiran lembut cinta yang membakar jiwamu, jangan terlalu cepat kau labuhkan, pelajarilah makna cinta itu, mengapa cinta itu tumbuh, apa itu cinta yang telah tumbuh, mengapa ia harus hadir dalam kondisi demikian ? Banyak yang harus kau pahami, banyak yang harus kau telusuri. Siapa pemilik cinta itu ? Siapa yang telah menghembuskannya dalam jiwamu ? Jika kau bersedia menelusuri hal ini, maka kau telah mulai mencoba menelusuri tangga-tangga awal dalam menggapai cinta, yakni jalan untuk sampai pada hakikat cinta hakiki yang akan membawa kedamaian dalam hidup dan kau takkan mencari lagi cinta-cinta yang lain. Inilah bagian yang harus kau tancapkan dalam ilmu mengenal dan mengejar hakikat cinta.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar