Duhai hati … kau mungkin dalam kebimbangan
dengan yang kumaksud (lihat tulisan bagian 4), bukankah cinta yang tumbuh dalam
jiwa langsung dapat dirasakan, mengapa harus menggalinya lagi kearah yang lebih
dalam, mengapa harus mencarinya lagi dengan cara yang rumit, jika dengan cara
yang mudah sudah dapat dipahami, mengapa harus memperumit diri ? Bukankah
banyak tanya semakin menyulitkan jiwa untuk menunaikannya ? Seperti umat Musa
yang selalu mempertanyakan tentang suatu perintah, yang akhirnya menyulitkan
mereka ? Biar kujawab: Ooo… jiwa-jiwa
yang rindu akan hakikat cinta … kau benar adanya, tak ada yang salah dari
alasanmu … hanya saja aku tak ingin kau tertipu, apakah kau langsung percaya
saat menyaksikan genangan air ditengah teriknya mentari ? Jika memang kau
percaya, sungguh dangkal sekali azzammu untuk menggapai hakikat, tak usahlah
kau berbicara lagi tentang pencarian cinta, tak perlu kau merindui cinta
hakiki, sebab kau sebenarnya tak lebih dari pada jiwa yang tak punya tempat
bagi Pemilik cinta hakiki.
Mengapa ? Sebab saat meilhat genangan air
tersebut kau sudah terpesona, padahal akal yang dangkal sekalipun tak bisa
menerimanya, mana bisa air menggenang ditengah teriknya mentari ? Lantas engkau
? Malah percaya dengan sesuatu hingga terpesona tanpa punya keinginan untuk
melihat dan meneliti lebih jauh apakah benar apa yang kau lihat. Seandainya kau
coba untuk mendekat pada air yang mempesona itu, benarkah air yang engkau
dapatkan ? Tidak, itulah fatamorgana, air itu sebenarnya tidak ada, tapi ia
akan menipu orang-orang yang tidak pernah mencoba mengetahuinya lebih dekat.
Inilah yang kumaksud dangkalnya azzammu untuk mengenal hakikat, kau hanya
terpesona melihat yang sekilas tapi enggan memahami secara mendalam. Pada tahap
ini apakah kau bisa menerima pernyataanku tadi, tak usahlah kau berbicara lagi
tentang pencarian cinta, tak perlu kau merindui cinta hakiki, sebab kau
sebenarnya tak lebih dari pada jiwa yang tak punya tempat bagi Pemilik cinta
hakiki. Mengapa ? Karena kau tak punya azzam untuk mereguk cinta hakiki itu
sendiri. Apakah mungkin cinta hakiki itu diberikan kepada jiwa-jiwa yang sama
sekali sebenarnya tidak merindui cinta hakiki tersebut ?
Untuk itu, janganlah kau ragu dan bimbang akan
pencarian cinta yang harus dikejar dengan kelelahan, ini bukanlah masalah
memperumit diri, ini bukan masalah banyak tanya, tapi ini masalah pencarian
hakikat dan mengeluarkan diri dari ketertipuan. Maka dalam hal ini ingin
kuungkapkan padamu wahai jiwa … tentang pengajaran Jalaludin Rumi, simaklah,
renungkan dan resapi maknanya dalam-dalam secara perlahan-lahan :
Rumi berkata : Siapapun yang
dicintai adalah cantik, tetapi tidak semua yang cantik dicintai. “Ada gadis
yang lebih cantik dari Laila,” mereka selalu berkata kepada Majnun “ Biarkan
kami membawa beberapa kepadamu.”
Majnunpun menjawab “Aku tidak mencintai
Laila karena bentuknya, ia seperti sebuah piala ditanganKu. Aku minum anggur
dari piala itu. Aku jatuh cinta kepada anggur itu. Kalian hanya mengetahui
piala itu, tetapi kalian tidak mengenal anggur itu. Sebuah piala emas
bertaburan batu-batu mulia, tetapi hanya hanya mengandung cuaka, apa gunanya
bagiku ? Sebuah labu pecah tua dengan anggur lebih baik dimataku ketimbang
seratus piala emas.
Hal ini serupa dengan seseorang yang
sedang lapar, yang belum makan selama sepuluh hari, dan seorang yang lainnya
telah makan lima kali dalam sehari. Lalu keduanya melihat seiris roti. Orang
yang kenyang hanya melihat semata-mata hanya seonggok makanan, sedangkan orang
yang lapar tentu melihat seiris roti tersebut bagaikan melihat kehidupan itu
sendiri.
Bagi orang lapar tersebut, roti ini
adalah sebuah piala, dan kehidupan dibawanya tersebut adalah anggurnya. Anggur
tersebut memang tidak akan diketahui
kecuali melalui rasa lapar dan kerinduan. Dapat selera makan ini …! Agar kamu
tidak hanya melihat penampakan bentuk, melainkan menemukan Sang Kekasih
dimana-mana.
Bentuk dunia ini adalah piala-piala.
Ilmu pengetahuan, seni dan pengetahuan lainnnya merupakan tulisan-tulisan diatas
tubuh piala. Tapi ketika piala itu pecah, maka tulisan tersebut pun pasti
menghilang. Oleh karena itu, mereka yang minum anggur melihat “ realitas abadi,
perbuatan-perbuatan kesucian.(1)
Ya, kejarlah anggur itu, jangan kau terpesona
dengan pialanya, kejarlah ma’rifat itu jangan kau berhenti pada awal jalan,
hati-hati dalam ketertipuan, waspadalah, dan lanjutkan pencarianmu. Kuingatkan
kembali, sebagaimana telah kuingatkan sebelumnya (lihat bagian 4), harus dengan
ilmu.
----------
Referensi :
(1) Dikutip dari karya Iqbal M. Ambara,
Jalaludin Rumi Sang Sufi Humanis, (Yogyakarta: Lukita, 2010), Cet. 1, halaman :
50-51.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar