WENDRI NALDI EL-MANINJAUI KHATIB BANDARO

WENDRI NALDI EL-MANINJAUI KHATIB BANDARO
WENDRI NALDI EL-MANINJAUI KHATIB BANDARO

Senin, 18 Maret 2013

Cinta di Atas Cinta ( Bagian 5 )


Duhai hati … kau mungkin dalam kebimbangan dengan yang kumaksud (lihat tulisan bagian 4), bukankah cinta yang tumbuh dalam jiwa langsung dapat dirasakan, mengapa harus menggalinya lagi kearah yang lebih dalam, mengapa harus mencarinya lagi dengan cara yang rumit, jika dengan cara yang mudah sudah dapat dipahami, mengapa harus memperumit diri ? Bukankah banyak tanya semakin menyulitkan jiwa untuk menunaikannya ? Seperti umat Musa yang selalu mempertanyakan tentang suatu perintah, yang akhirnya menyulitkan mereka ? Biar kujawab:  Ooo… jiwa-jiwa yang rindu akan hakikat cinta … kau benar adanya, tak ada yang salah dari alasanmu … hanya saja aku tak ingin kau tertipu, apakah kau langsung percaya saat menyaksikan genangan air ditengah teriknya mentari ? Jika memang kau percaya, sungguh dangkal sekali azzammu untuk menggapai hakikat, tak usahlah kau berbicara lagi tentang pencarian cinta, tak perlu kau merindui cinta hakiki, sebab kau sebenarnya tak lebih dari pada jiwa yang tak punya tempat bagi Pemilik cinta hakiki.

Mengapa ? Sebab saat meilhat genangan air tersebut kau sudah terpesona, padahal akal yang dangkal sekalipun tak bisa menerimanya, mana bisa air menggenang ditengah teriknya mentari ? Lantas engkau ? Malah percaya dengan sesuatu hingga terpesona tanpa punya keinginan untuk melihat dan meneliti lebih jauh apakah benar apa yang kau lihat. Seandainya kau coba untuk mendekat pada air yang mempesona itu, benarkah air yang engkau dapatkan ? Tidak, itulah fatamorgana, air itu sebenarnya tidak ada, tapi ia akan menipu orang-orang yang tidak pernah mencoba mengetahuinya lebih dekat. Inilah yang kumaksud dangkalnya azzammu untuk mengenal hakikat, kau hanya terpesona melihat yang sekilas tapi enggan memahami secara mendalam. Pada tahap ini apakah kau bisa menerima pernyataanku tadi, tak usahlah kau berbicara lagi tentang pencarian cinta, tak perlu kau merindui cinta hakiki, sebab kau sebenarnya tak lebih dari pada jiwa yang tak punya tempat bagi Pemilik cinta hakiki. Mengapa ? Karena kau tak punya azzam untuk mereguk cinta hakiki itu sendiri. Apakah mungkin cinta hakiki itu diberikan kepada jiwa-jiwa yang sama sekali sebenarnya tidak merindui cinta hakiki tersebut ?

Untuk itu, janganlah kau ragu dan bimbang akan pencarian cinta yang harus dikejar dengan kelelahan, ini bukanlah masalah memperumit diri, ini bukan masalah banyak tanya, tapi ini masalah pencarian hakikat dan mengeluarkan diri dari ketertipuan. Maka dalam hal ini ingin kuungkapkan padamu wahai jiwa … tentang pengajaran Jalaludin Rumi, simaklah, renungkan dan resapi maknanya dalam-dalam secara perlahan-lahan :

Rumi berkata : Siapapun yang dicintai adalah cantik, tetapi tidak semua yang cantik dicintai. “Ada gadis yang lebih cantik dari Laila,” mereka selalu berkata kepada Majnun “ Biarkan kami membawa beberapa kepadamu.”

Majnunpun menjawab “Aku tidak mencintai Laila karena bentuknya, ia seperti sebuah piala ditanganKu. Aku minum anggur dari piala itu. Aku jatuh cinta kepada anggur itu. Kalian hanya mengetahui piala itu, tetapi kalian tidak mengenal anggur itu. Sebuah piala emas bertaburan batu-batu mulia, tetapi hanya hanya mengandung cuaka, apa gunanya bagiku ? Sebuah labu pecah tua dengan anggur lebih baik dimataku ketimbang seratus piala emas.

Hal ini serupa dengan seseorang yang sedang lapar, yang belum makan selama sepuluh hari, dan seorang yang lainnya telah makan lima kali dalam sehari. Lalu keduanya melihat seiris roti. Orang yang kenyang hanya melihat semata-mata hanya seonggok makanan, sedangkan orang yang lapar tentu melihat seiris roti tersebut bagaikan melihat kehidupan itu sendiri.

Bagi orang lapar tersebut, roti ini adalah sebuah piala, dan kehidupan dibawanya tersebut adalah anggurnya. Anggur tersebut memang  tidak akan diketahui kecuali melalui rasa lapar dan kerinduan. Dapat selera makan ini …! Agar kamu tidak hanya melihat penampakan bentuk, melainkan menemukan Sang Kekasih dimana-mana.

Bentuk dunia ini adalah piala-piala. Ilmu pengetahuan, seni dan pengetahuan lainnnya merupakan tulisan-tulisan diatas tubuh piala. Tapi ketika piala itu pecah, maka tulisan tersebut pun pasti menghilang. Oleh karena itu, mereka yang minum anggur melihat “ realitas abadi, perbuatan-perbuatan kesucian.(1)

Ya, kejarlah anggur itu, jangan kau terpesona dengan pialanya, kejarlah ma’rifat itu jangan kau berhenti pada awal jalan, hati-hati dalam ketertipuan, waspadalah, dan lanjutkan pencarianmu. Kuingatkan kembali, sebagaimana telah kuingatkan sebelumnya (lihat bagian 4), harus dengan ilmu.
----------
Referensi :
(1) Dikutip dari karya Iqbal M. Ambara, Jalaludin Rumi Sang Sufi Humanis, (Yogyakarta: Lukita, 2010), Cet. 1, halaman : 50-51.   

Tidak ada komentar:

Posting Komentar