Ooo… jiwa yang
rindu akan cinta hakiki, rindu akan
cinta yang takkan pernah berujung pada kemeranaan … rindu akan cinta yang dapat melabuhkan kehausan jiwa yang terasa semakin kering kerontang,
jiwa yang berharap percikan-percikan kasih yang mempesona.
Ketahuilah … cinta
itu memang ada, dan ketahuilah, ia berada dekat
dalam dirimu, dalam jiwamu, yang kau bawa dalam naluri kehidupanmu,
hanya saja kau belum mampu menggalinya. Engkau mungkin sudah tak sabar menggapainya.
Mungkin sudah kau tempuh jalan yang panjang, berliku dan melelahkan, namun kau
mungkin merasa semakin gersang.
Aduhai … ketahuilah
tangga-tangga untuk menggapai cinta sedahsyat itu tak mudah wahai hati. Jurangnya dalam,
ranjaunya tak terduga, godaannya tak biasa. Hanya nawaitu, pemahaman, mujahadah
(kesungguhan) dan riyadhah (latihan) yang akan dapat mengantarkannya, dan semua
itu bermuara pada tawakkal. Pancangkanlah dalam jiwamu bahwa engkau siap untuk
menyerahkan jiwamu untuk memperoleh cinta itu, jika memang engkau
mendambakannya. Siap bukan hanya dengan semangat, tapi diiringi dengan azzam (tekad),
maka bersiaplah, rintangan yang akan kau lalui beribu-ribu, jalan yang akan kau
tempuh tak cukup ukuran mil, disana kau akan dihadang, dicerca, dimaki, dirayu,
dijatuhkan, tersungkur bahkan hingga terkubur, jika kau sanggup untuk berupaya
bangkit, bangkit, dan bangkit, maka kau mungkin akan jatuh lagi.
Apa yang hendak kau
persiapkan ? Ilmu, Ilmu,dan Ilmu. Bukankah
kau mengetahui bahwa ayat yang pertama dihamparkan kepermukaan bumi adalah
perintah menuntut ilmu, Iqra’, bacalah, bismirrabbikalladziikhalaq, dengan nama
Tuhanmu yang menciptakan. Berangkatlah dari tempat asalmu, arungi samudra luas
yang entah dimana tepinya, dakilah gunung berbatu, bertanjak dan licin, carilah
kesudut-sudut dan hamparan yang luas, walau hanya sebesar zarrah keutamaan ilmu
tersebut, namun ingat, semua itu haruslah dalam rangka
bismirabbikalladziikhalaq, ilmu yang kau cari, haruslah ilmu yang
mengantarkanmu pada pemahahaman akan tujuan kau diciptakan, “ dan tidaklah aku
ciptakan jin dan manusia kecuali hanya untuk mengabdi padaku (T.Q.S.
Adz-Dzariyat:56). Ya ilmu untuk pengabdian itulah yang harus kau jajaki, kau
gali, kau analisa, kau tanya pada ahlinya, hingga kau sampai pada penghujung.
Duhai hati, perdalamlah
pemahahamanmu tentang sumber cinta itu, Dialah sang pemilik cinta sejati. Cinta
yang takkan usang dimakan zaman, cinta yang takkan pernah kecewa, cinta yang
takkan kenal perselingkuhan, cinta yang membawa kenikmatan di atas kenikmatan,
Allah Sang Pemilik Cinta. Dengan cinta engkau diciptakan, dengan cinta kau
diberi kekuatan untuk hidup, dengan cinta dilimpahkan rezki padamu, dengan
cinta mulia kehidupanmu. Dengan cinta pula kau mendambakan cinta yang hakiki.
Jika memang kau
mencari-cari cinta hakiki itu, jika kau tak rela kecewa pada cinta yang kau
dambakan, jika kau ingin mereguk manisnya cinta, nawaitu kesungguhanmu yang
dipertanyakan, nawaitu untuk mengenal cinta itu dan memahaminya, benarkah kau
rindu dengan cinta hakiki tersebut, dan semuanya kembali pada konsep kau harus
berilmu tentang itu, kau harus mengerti seluk beluknya, kau harus paham
hakikatnya. Maka carilah ilmu itu, perdalamlah, resapilah, dan amalkanlah, niscaya
kau akan menggapai jalan permulaan untuk menggapai kerinduanmu akan memperoleh
hakikat cinta yang takkan pernah mengecewakanmu. Itulah ilmu ma’rifatullah,
ilmu mengenal siapa sesungguhnya Allah Sang Pemilik Cinta. Ilmu yang akan
mengantarkan kau pada kemuliaan cinta yang sesungguhnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar