WENDRI NALDI EL-MANINJAUI KHATIB BANDARO

WENDRI NALDI EL-MANINJAUI KHATIB BANDARO
WENDRI NALDI EL-MANINJAUI KHATIB BANDARO

Sabtu, 16 Maret 2013

Cinta di Atas Cinta ( Bagian 3 )


Ooo… jiwa yang rindu akan cinta hakiki,  rindu akan cinta yang takkan pernah berujung pada kemeranaan … rindu  akan cinta yang dapat melabuhkan kehausan  jiwa yang terasa semakin kering kerontang, jiwa yang berharap percikan-percikan kasih yang mempesona.

Ketahuilah … cinta itu memang ada, dan ketahuilah, ia berada dekat  dalam dirimu, dalam jiwamu, yang kau bawa dalam naluri kehidupanmu, hanya saja kau belum mampu menggalinya. Engkau mungkin sudah tak sabar menggapainya. Mungkin sudah kau tempuh jalan yang panjang, berliku dan melelahkan, namun kau mungkin merasa semakin gersang.

Aduhai … ketahuilah tangga-tangga untuk menggapai cinta sedahsyat  itu tak mudah wahai hati. Jurangnya dalam, ranjaunya tak terduga, godaannya tak biasa. Hanya nawaitu, pemahaman, mujahadah (kesungguhan) dan riyadhah (latihan) yang akan dapat mengantarkannya, dan semua itu bermuara pada tawakkal. Pancangkanlah dalam jiwamu bahwa engkau siap untuk menyerahkan jiwamu untuk memperoleh cinta itu, jika memang engkau mendambakannya. Siap bukan hanya dengan semangat, tapi diiringi dengan azzam (tekad), maka bersiaplah, rintangan yang akan kau lalui beribu-ribu, jalan yang akan kau tempuh tak cukup ukuran mil, disana kau akan dihadang, dicerca, dimaki, dirayu, dijatuhkan, tersungkur bahkan hingga terkubur, jika kau sanggup untuk berupaya bangkit, bangkit, dan bangkit, maka kau mungkin akan jatuh lagi.

Apa yang hendak kau persiapkan ? Ilmu, Ilmu,dan  Ilmu. Bukankah kau mengetahui bahwa ayat yang pertama dihamparkan kepermukaan bumi adalah perintah menuntut ilmu, Iqra’, bacalah, bismirrabbikalladziikhalaq, dengan nama Tuhanmu yang menciptakan. Berangkatlah dari tempat asalmu, arungi samudra luas yang entah dimana tepinya, dakilah gunung berbatu, bertanjak dan licin, carilah kesudut-sudut dan hamparan yang luas, walau hanya sebesar zarrah keutamaan ilmu tersebut, namun ingat, semua itu haruslah dalam rangka bismirabbikalladziikhalaq, ilmu yang kau cari, haruslah ilmu yang mengantarkanmu pada pemahahaman akan tujuan kau diciptakan, “ dan tidaklah aku ciptakan jin dan manusia kecuali hanya untuk mengabdi padaku (T.Q.S. Adz-Dzariyat:56). Ya ilmu untuk pengabdian itulah yang harus kau jajaki, kau gali, kau analisa, kau tanya pada ahlinya, hingga kau sampai pada penghujung.

Duhai hati, perdalamlah pemahahamanmu tentang sumber cinta itu, Dialah sang pemilik cinta sejati. Cinta yang takkan usang dimakan zaman, cinta yang takkan pernah kecewa, cinta yang takkan kenal perselingkuhan, cinta yang membawa kenikmatan di atas kenikmatan, Allah Sang Pemilik Cinta. Dengan cinta engkau diciptakan, dengan cinta kau diberi kekuatan untuk hidup, dengan cinta dilimpahkan rezki padamu, dengan cinta mulia kehidupanmu. Dengan cinta pula kau mendambakan cinta yang hakiki.

Jika memang kau mencari-cari cinta hakiki itu, jika kau tak rela kecewa pada cinta yang kau dambakan, jika kau ingin mereguk manisnya cinta, nawaitu kesungguhanmu yang dipertanyakan, nawaitu untuk mengenal cinta itu dan memahaminya, benarkah kau rindu dengan cinta hakiki tersebut, dan semuanya kembali pada konsep kau harus berilmu tentang itu, kau harus mengerti seluk beluknya, kau harus paham hakikatnya. Maka carilah ilmu itu, perdalamlah, resapilah, dan amalkanlah, niscaya kau akan menggapai jalan permulaan untuk menggapai kerinduanmu akan memperoleh hakikat cinta yang takkan pernah mengecewakanmu. Itulah ilmu ma’rifatullah, ilmu mengenal siapa sesungguhnya Allah Sang Pemilik Cinta. Ilmu yang akan mengantarkan kau pada kemuliaan cinta yang sesungguhnya. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar