WENDRI NALDI EL-MANINJAUI KHATIB BANDARO

WENDRI NALDI EL-MANINJAUI KHATIB BANDARO
WENDRI NALDI EL-MANINJAUI KHATIB BANDARO

Selasa, 21 April 2015

Catatan Untuk Istriku Yang Tercinta (Laila Nisa) : Istriku, Namamu Laila Nisa

Istriku ….kudapati namamu Laila Nisa …

Itulah pemberian nama dari orang tuamu. Jika sekilas orang mungkin heran, kenapa namamu Laila Nisa ? Ternyata engkaupun pernah mengadukan hal itu kepadaku, pengaduan tentang dirimu yang dianggap namamu itu kata orang maknanya kurang baik, perempuan malam, demikian kata mereka. Tunggu dulu istriku …jangan cepat-cepat kau maknai pandangan orang tersebut negatif. Apakah makna perempuan  malam selalu negatif? Sesungguhnya segala sesuatu itu sangat ditentukan dari sudut mana kita memandang. Jika kita selalu memandang sesuatu itu dari sudut negatif, maka negatif itulah yang tampak. Namun jika sebaliknya,  kala segala sesuatu kita pandang secara positif, segalanya akan termaknai secara positif. Demikianlah hakikatnya, mengapa agama kita mengajarkan agar kita selalu berprasangka baik. Agar energi kebaikan itu selalu menjalari tubuh dan sikap kita, sehingga apapun pandangan kita akan berbuah pada ha-hal yang positif.

Mari …mari kita mulai memaknai namamu dengan kacamata positif, disana engkau akan temukan nilai-nilai yang begitu dahsyat dari namamu. Yang jelas, namamu adalah suatu pemberian berharga dari orang tuamu. Pertanyaannya, apa kira-kira yang terlintas dan menjadi nawaitu dari orang tuamu untuk memilih nama itu? Mungkin secara sederhana jawabannya, karena engkau lahir diwaktu malam, maka diberilah nama Laila, dan karena engkau perempuan maka disemat Nisa, sehingga disebutlah kau perempuan malam, tepatnya perempuan yang lahir di waktu malam. Jika dari memaknai secara sederhana ini saja telah ditemukan tidak ada satupun makna negatif di dalamnya, lalu apa alasan untuk memaknai Laila Nisa sebagai perempuan malam yang dipahami sebagai sesuatu yang negatif ? Ini yang pertama.

Apakah seringkas itu tujuan orang tuamu memberi nama? Yang tahu jawaban pasti tentulah mereka. Tapi bukankah nama itu do’a atau hasrat keinginan mengandung harapan ? Lantas, apakah dengan memberi nama itu orang tuamu tidak punya pengharapan ? Yang jelas orang tuamu punya harapan kepadamu sebagai anaknya.

Terlepas dari apa pengharapan orang tuamu, jika engkau bersedia untuk mencoba mengambil pemakaian lafaz namamu; Laila dan Nisa, dari mana asal kata itu? Dari mana asal Bahasa itu? Ya …kata dan bahasa itu adalah Bahasa Arab, bahasanya Al-Qur’an, wajib bagi seorang muslim mempelajarinya. Jika dari bahasanya al-Qur’an diambil penggunaan namamu, bukankah itu isyarat orang tuamu ingin memberikan nama untuk putrinya yang tercinta dengan bahasa yang digunakan al-Qur’an? Jika bahasa al-Qur’an yang digunakan untuk sebuah nama yang didalamnya mengandung harapan, apakah mungkin aura negatif ada didalamnya?

Oooo…jika ada yang menyatakan namamu menyalahi kaedah ketatabahasaan untuk meletakkan makna namamu pada makna positif, maka ketahuilah wahai istriku …segala sesuatu itu terletak pada niat, niat itulah yang akan menyampaikannya pada tujuan, maka maknai namamu dengan niat apa orang tuamu memberi nama untukmu. Pahamilah …tak ada satupun niat negatif yang lahir untuk anaknya, apalagi untuk sebuah nama. Ini yang kedua.

Yang ketiga, izinkan aku memaknai namamu sesuai dengan apa yang kudapati tentang dirimu semenjak aku hidup bersamamu. Laila, yang bermakna malam. Mari …marilah kita pahami makna ini. Malam adalah waktu-waktu yang indah dan menakjubkan untuk beribadah, shalat malam disepertiga malam terakhir begitu besar keutamaannya, waktu malam adalah waktu keheningan dan ketenangan, do’a terasa nikmat dan khusyu’ di tengah malam nan sunyi, malam diciptakan agar kita bisa melepaskan kepenatan dan kelelahan di siang hari karena disibukkan dengan aktifitas, waktu istirahat yang ditunggu-tunggu adalah malam, yang berarti setiap manusia butuh dengan malam. Para sufipun menjadi malam sebagai waktu yang begitu indah untuk mencapai derajat ketinggian disisi Allah swt.

Sekarang, malam menjadi namamu.  Aduhai …apa yang kutemukan dari dirimu malamku? Kau benar-benar menjadi malamku yang terindah, Lailaku, yang membawa ketenangan pada relung-relung hatiku, yang membuat aku terpesona dengan keindahan yang engkau persembahkan untukku. Betapa tidak …kehadiranmu disisiku sebagai istriku menjadi penyejuk hati, aku merasa tenang berada didekatmu, dan kalau jauh engkau begitu kurindui. Ketenangan itu lahir kala aku menyaksikan apa yang kudapati dari dirimu …engkau hadir kala hatiku merindui yang sangat aku cintai …aku mencintai dan berharap pendamping hidup yang teguh dengan agamanya, shalehah, dan tha’at dalam beribadah, ternyata semua itu kau hadiahkan untukku. Engkau kudapati sebagai perempuan yang lurus agamanya, shalehah, dan Subhaanalllaah ! ternyata engkau ahli ibadah. Hal ini membuat aku  terlepas dari suatu kewajiban besar, bahwa tugas seorang suami adalah mendidik dan menshalehkan istrinya. Kenyataannya, sebelum engkau dididik dan  dishalehkan, engkau telah hadir sebagai perempuan terdidik yang shalehah disisiku. Ini bukan berarti aku tidak lagi punya amanah terhadapmu, lalu berlepas diri dari tanggungjawab. Tidak …sama sekali tidak. Tapi ini adalah kesyukuranku bahwa aku telah diberi anugrah oleh Allah swt. dengan anugrah yang begitu mulia yang seandainya diberikan kepadaku segunung emas dan melimpahnya harta kekayaan sama sekali sangat tidak bisa dibandingkan dengan kemuliaanmu. Gunung emas dan harta kekayaan itu sangat tidak berharga dan pupus godaannya disebabkan kemuliaanmu nan memukau.

Sungguh engkau malamku, engkau Laila-ku, penyejuk hatiku.
Dan …kemuliaan itu semakin tampak kala namamu tidak cukup dengan kata Laila, tapi juga nisa. Anisa artinya jinak atau tidak liar, yang berarti bisa mengendalikan diri dan dikendalikan, itulah secara luas yang dapat digambarkan dari makna ini. Makhluk yang patuh dan mampu mengendalikan serta dikendalikan akan selamat. Sebab ia berada dalam koridor aturan yang telah digariskan yang apabila menyimpang akan menimbulkan  kekacauan serta membinasakan diri sendiri. Bukankah penyebab kesesatan dan kekacauan disebabkan tidak adanya kepatuhan dan keluar dari ketentuan?

Laila-ku …

Untuk kepatuhan itulah kita diciptakan kepermukaan bumi ini, patuh untuk mengabdi kepada Allah swt. Dan …kita dikatakan patuh kala kita mengikuti aturan yang telah digariskan oleh Sang Pencipta. Kepatuhan itu akan mengantarkan kita menjadi hamba yang shaleh, kelak dijanjikan dengan kemuliaan di akhirat, yang mana kala itu setinggi apapun kemuliaan yang bersifat keduniaan yang kita saksikan hari ini tidak bermanfaat sedikitpun.

Namamu memang Nisa, bukan Anisa. Aku kira maksud orang tuamu maknanya kepada Anisa. Yakni perempuan yang patuh. Dan …kenyataannya, makna Anisa (Nisa) itu mewujud dalam kehidupanmu …ini menurut apa yang kulihat, rasakan dan perhatikan sebagai suamimu. Engkau kutemui sebagai sosok yang patuh, tha’at pada suami dan mampu memposisikan diri sebagai istri,  serta mengerti beban amanah. Engkau istri yang begitu memahami bahwa kala menjadi istri seseorang maka engkau punya kewajiban baru untuk melayani suami, dan engkau wujudkan hal tersebut semua itu sebagai bukti kepatuhan. Sungguh …engkau perempuan yang mulia.


Senin, 20 April 2015

Cattan Untuk Istriku Yang Tercinta (Laila Nisa) : Aku dengan Segala Kekuranganku

Isitriku …, ada yang mengatakan indah dan manisnya pernikahan itu hanya diawal-awal, tapi aku tak begitu yakin dengan ucapan itu. Bukankah pernikahan itu membuat kita tenang, dan itu adalah janji dari Allah swt. yang tak mungkin diragukan. Memang …kita mungkin sama-sama menyadari tak selamanya hidup itu datar, ia bergelombang, ibarat iman yang terkadang menanjak naik dan suatu saat jatuh menurun.

Dalam bahtera hidup yang kita bangun atas dasar iman ini, mungkin saja kita akan menghadapi badai, gelombang yang membuat kita terombang-ambing, tapi, janji Allah swt. akan ketenangan yang dijanjikan dalam pernikahan cukup menjadi landasan dan perisai bagi kita untuk bertahan dalam mewujudkan kehidupan penuh cinta dan kasih sayang yang diridhai Allah swt.

Aku begitu percaya, dan sangat optimis, kala mendapati kenyataan tentang dirimu, kau yang diawal-awal kukenal sebagai sosok perempuan mulia …hingga pernikahan yang kita jalani ini tetap kau sosok mulia, akan mamahami apa yang kumaksud dan kuyakini tentang ketenangan pernikahan yang dijanjikan Allah swt.  Ketenangan itu akan dapat kita reguk, ya…sakinah, sebagaimana do’a-do’a orang yang telah meridhai kita menempuh hidup bersama. Tentunya kala kita menyatukan  hati dengan cita-cita yang kuat bahwa kita memang berniat pernikahan ini hanyalah untuk ibadah.

Istriku …

Sakinah itu akan terwujud kala kita mampu untuk memahami bahwa kita bukanlah makhluk sempurna, kita saling membutuhkan, dan yang terpenting dari itu kita mampu menghargai sebuah kekurangan.
Boleh saja alasanmu untuk bisa menerimaku sebagai pendampingmu karena urusan agama yang menjadi prioritas untuk menentukan pilihan hidup hingga berani menempuh kehidupan berumah tangga, berharap bagi seorang perempuan mendapatkan laki-laki yang shaleh dan tha’at agama. Tapi apakah dipungkiri, bahwa keinginan perempuan selain hal tersebut tentu saja memiliki suami yang mapan secara finansial dan fisik mempesona sebagai naluriah manusia akan kecintaan pada keindahan ? Dan jika engkaupun menginginkan dua hal terakhir terebut, sama sekali tidak salah.

Jujuuu…r, ini bukan aku tidak menerima takdir tentang diriku, dan juga bukan karena aku meratapi nasib. Hanya saja aku menyadari sepenuhnya tentang diriku, sebagai takdir yang Allah swt. tetapkan bagi diriku bahwa untuk dua yang terakhir (finansial dan fisik yang didambakan) yang menjadi kebutuhan kaummu bagi diriku hal tersebut cukup jauh dari yang didambakan manusia umumnya. Aku mungkin lemah dalam hal tersebut, setidaknya dalam pandangan sebagia  orang,  dan aku sama sekali tidak menyalahkan tentang diriku ini, karena aku yakin Allah swt. punya rencana yang terindah untukku.

Dengan segala kekuranganku ini, yang mungkin bisa membuat seseorang berfikir ulang untuk menempuh kehidupan berumah tangga,  dengan keteguhan hati, aku bawa kekurangan ini mempersuntingmu menjadi permaisuriku, biarlah Allah swt. kelak yang akan memberikan takdir kehidupan kita.

Subhaanallaah ! Ternyata …disanalah kutemukan mutiara kemuliaan jiwamu berpendar …kau mampu menerima aku apa adanya, lebih dari itu ….kau malah menguatkanku sehingga aku semakin kokoh dengan keyakinanku bahwa kala pernikahan ditempuh dengan niat ikhlas karena Allah swt. maka segala yang membuat jiwa ini berat akan terbang dan hilang dengan sendirinya.

Aku merasa berada dalam lingkaran hidup yang menanjak naik pada puncak keindahan istana kemegahan cinta, dengan menara dan gedung-gedung tinggi menjulang yang ditata dengan pernak-pernik pualam berkilau, jiwaku terbang pada tingkat ketinggian, aku merasa tersanjung, yang melahirkan kesyukuran, hingga tersingkapnya hijab yang selama ini belum aku pahami, mengapa Allah swt. mentakdirkan kekurangan itu untukku. Ternyata kekurangan itu yang membuat aku merasa memiliki kelebihan, didalamnya ada anugrah, di dalamnya keindahan, di dalamnya ada pesona, di dalamnya ada cinta, ya cinta yang lahir dari seorang perempuan yang begitu aku cintai dan mencintaiku dengan kebersihan jiwa, cinta dari seorang perempuan yang membalikkan kekurangan diriku menjadi sebuah kelebihan. Maka pantas jika aku lebih gila dari pada Majnun dalam lukisan kata Nizami. Aku telah tergila-gila kepada Lailaku, yang memiliki jiwa laksana kaca bening memancarkan cahaya dahsyat memukau berkilku. Kilauan itu Allah swt. takdirkan untukku, agar aku lebih menyadari bahwa Allah swt. ingin memberikan yang terbaik bagi diriku melalui segala kekurangan yang aku rasakan.
Biarkan aku menggubah beberapa penggalan rangkaian kalimat untukmu :

Sungguh jiwamu bijak laksana sufi
Memancar aroma atasi minyak bidadari
Jiwaku terbakar bak sulutan api
Api cinta nan suci penuh sensasi




Catatan Untuk Istriku Yang Tercinta (Laila Nisa) : Mitsaqan Ghaliza

Demikianlah serpihan-serpihan hidup kita mulai membentuk sebuah bongkahan cinta yang terukir indah laksana dipahat dipuncak bukit kemuliaan … Inilah jalan-jalan kemuliaan kita yang mengantarkan pada puncak kebahagiaan hakiki …

Jujuu…r, sebelumnya, aku tak pernah mengenalmu …bahkan mendengar namamupun tak pernah, sama sekali tak pernah … tapi bukankah kita meyakini bahwa jodoh berada dalam catatan lauh mahfuzh yang tak terbantahkan. Dan …akhirnya jodoh itu menggeliat dan menampakkan keagungannya dengan dipertemukan kita dalam sebuah proses yang bernama ta’aruf, yang jelas tak ada hubungan tanpa status diantara kita, apalagi konsep pacaran yang digembor-gemborkan kaum hedonis …Kita mulai dengan cara yang baik …dan lihatlah kebaikan yang kita rasakan.

Hanya sekali, ya…cukup sekali dalam ta’arufan yang mengesankan itu …maka terjadilah apa yang telah terjadi… sangat singkat sekali,  akhirnya kita disatukan dalam sebuah ikatan suci nan agung, mitsaqan ghalizha, pernikahan yang mempesona, menunaikan Sunnatullah dan Sunnah Rasulullah saw, maka sempurnalah separo agama kita. Disaksikan oleh orang-orang yang kita cintai, kerabat, saudara bahkan shahabat-shahabat kita, perjanjian yang terikrar di depan penghulu menggelegar dahsyat dalam kehidupan kita, bahwa kita telah halal untuk hidup secara bersama, menempuh hidup penuh cinta dan kasih sayang  dalam istana cinta yang berpendar cahaya-cahaya kristal kemuliaan iman.  Subhaanallaah ! Sungguh rencana Allah swt. adalah suatu rencana terbaik.

Fabiayyi aalaa irabbbikumaa tukadzdzibaan ! (T.Q.S. Ar-Rahman : 61)
Saat itu,  kala engkau telah halal untukku, aku layak mengatakan kepadamu, duhai pujaan hatiku : “Aku mencintaimu karena Allah swt”. Sungguh ungkapan yang membuat aku merasa sempurna dan sekaligus untuk membuktikan kepada murid-muridku, orang-orang banyak, bahwa ungkapan tersebut adalah ungkapan terindah yang layak diucapkan seorang muslim dan hamba yang menyadari bahwa hidup adalah untuk ibadah.

Dan …


Inilah yang kurasakan …dalam kebersamaan denganmu … dirimu begitu mulia dan mempesona …Subhaanallaah, engkau laksana bidadari yang begitu membuat aku lebih gila dari pada Qais si Majnun yang dilukiskan Nizami. Jika Majnun harus kandas mahligai cinta yang diperjuangkannya di dunia ini, maka aku, dengan azzam terpatri insya Allah akan membuktikan bahwa cinta dibawah naungan panji Ilahi yang kita bangun akan berbuah keindahan surga dunia yang kelak juga hendaknya mengantarkan pada surga yang abadi.   

Selasa, 31 Maret 2015

Catatan Kenangan Berbagi Alumni Bina Remaja Islam MAN Maninjau (Liza dan Nur)


Siapa yang menyangka dan siapa pula yang menduga, tak ada yang tahu apa yang akan terjadi esok dan esok. Sebab ia berada dalam garis takdir genggaman Allah swt. Yang terpenting apa yang kita perbuat hari ini…kelak kita akan menuai hasilnya.

Alhamdulillaahirabbil’aalamiin …demikianlah jalan-jalan yang kami tempuh yang pada akhirnya membuat kami tersenyum …senyum yang menyemburat dari jiwa-jiwa kami kala menyaksikan dan memperoleh apa yang telah kami tanam, sekarang kamipun menuainya …

Hari bersejarah yang membuat kami tersenyum itu; Jum’at , 27 Maret 2015. Rohis Bina Remaja Islam MAN Maninjau disambangi oleh dua sosok yang menjadi sentral perhatian para jama’ah dakwah sekolah tersebut. Hari itu kami menyaksikan suatu pencapaian hasil yang gemilang, ternyata apa yang kami tanam selama ini, bertahun, hari itu kami memetik hasilnya.

Yap, dua sosok itulah hasilnya, mereka adalah para alumni Rohis Bina Remaja Islam MAN Maninjau yang sekarang menggeliatkan diri dalam kancah dahsyatnya mereguk ilmu ke-Islaman di perguruan tinggi negri IAIN Bukittinggi, dan Jum’at itu mereka datang menyambangi Rohis Bina Remaja Islam MAN Maninjau bukan untuk sebagai peserta sebagaimana dulu mereka lakoni saat menjadi pelajar MAN Maninjau. Tapi datang sebagai pemberi pencerahan, membuka cakrawala berfikir dan seakan mengumandangkan serta mengajak bahwa dakwah harus dilanjutkan, dakwah harus tetap dipertahankan dan jangan pernah berhenti untuk dakwah.

Hari itu mereka memberi tausyiah, wejangan, nasehat dan semangat dengan untaian materi yang menitikberatkan bagaimana pentingnya membangun dan menjaga Ukhuwah Islamiyah, dengan maraaji’ O.Solihin. Landasan yang mereka gunakan untuk menyerukan pentingnya Ukhuwah Islamiyah diantaranya adalah surat al-Hujurat ayat 10 yang menyatakan orang mukmin bersaudara. Dalam tausyiahnya digambarkan bagaimana fenomena-fenomena gerakan dakwah yang jauh dari Ukhuwah Islamiyah, perang dingin antar aktivis dakwah, hingga suatu harapan akan bersatunya para aktivis dakwah.

Inilah yang kami maksud kami memetik hasilnya. Mereka adalah bukti sejarah tentang eksistensi Rohis Bina Remaja Islam yang tak terbantahkan. Bahwa sekarang mereka, alumni itu, telah paham dengan dakwah, dan berjuang di dalamnya, bukankah itu hasil dari apa yang ditanam selama ini dalam Rohis Bina Remaja Islam MAN Maninjau?

Saksikanlah … mereka menelurkan dan memperjuangkan dakwah untuk generasi selanjutnya. Sekarang mereka datang tidak lagi sebagai peserta dakwah yang menerima nutrisi dakwah sebagaimana dulu, tapi telah meniti tangga sebagai pejuang dakwah serta mengajak pada dakwah. Inilah mata  rantai dakwah yang seharusnya, dan inilah hakikat dakwah, yakni dakwah membutuhkan mata rantai yang tidak boleh putus.


Kaderisasi, demikianlah konsepnya. Mereka adalah hasil kaderisasi, itulah mereka Liza Fitriyani dan Nur’aini, dua sosok yang telah membuktikan bahwa Rohis Bina Remaja Islam MAN Maninjau bukanlah sekedar kegiatan ekstrakurikuler belaka, namun aktifitas jama’ah Islam yang berjuang untuk menanamkan Islam, mengamalkan Islam dan mendakwahkannya. Sekarang ….mereka telah berada pada tangga mendakwahkan …siapa yang menyusul ???

Minggu, 22 Maret 2015

Catatan Perjalanan Study Tour Ke Tanah Siak Jilid III (Generasi Wira'i - PK MAN Maninjau)

Assalaaamu'alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh
Puji syukur kepada Allah swt. Shalawat buat panutan kita Rasulullah saw.


Dan … sejarah itu mengalir begitu cepatnya …membentuk mata rantai prasasti yang begitu kokoh …dalam sebuah asa jalinan cinta, ukhuwah, perjuangan serta menanam azzam keluarga besar PK MAN Maninjau.

Maka saksikanlah …mata rantai sejarah itu telah menunjukkan cahayanya yang gemerlapan …kemilaunya berpendar  memenuhi ruangan-ruangan catatan prestasi kami keluarga besar PK MAN Maninjau yang dibangun  atas dasar konsep menegakkan Izzah Islam wal Muslimin.

Sebagaimana telah berlalunya para generasi  kami menoreh tinta emas peradaban …Sekarang …generasi kami yang bercita-cita menjadi umat yang wara' yang kami sebut sebagai Generasi Wira’i (XI PK MAN Maninjau) telah membuktikan bahwa perjuangan itu harus dilanjutkan. Study Tour ke Tanah Siak Sri Indrapura Riau pun berlanjut. Boleh dikatakan untuk Study Tour ke wilayah yang sama ini merupakan kali yang ketiga setelah dua generasi sebelumnya menempuhnya (Generasi yang diharapkan berjuang untuk pergerakan Islam - Generasi Haraki dan Generasi yang diharapkan menjadi pelanjut generasi shahabat Rasulullah saw- Generasi Ash-Haby), maka kami namakan Study Tour ini sebagai Study Tour Ke Tanah Siak Jilid III (Generasi Wira’i - PK MAN Maninjau)
Subhaanallaah !

Sungguh …keindahan itu menyatu, kebersamaan itu menguat dan ukhuwah mencuat laksana gunung karang yang tak bergeming diterpa ombak. Hati kami telah disatukan …gelora jiwa kami tersemai indah dalam lubuk hati nan penuh cinta dan kasih sayang karena Allah swt. Karena memang demikianlah cara kami membangun kebersamaan ini. Kami tanam apa yang menjadi cita-cita kami, dan kami tebarkan dalam konsep bahwa segalanya kala ditunaikan secara berjama’ah, saling menghargai dan saling mencintai karena Allah swt. apapun rintangan dan badai yang menghalangi, semua itu tak lebih hanyalah kesan-kesan kecil dari makna hidup, dan sesungguhnya disanalah hidup itu akan terasa  nikmat, tidak datar dan tidak membosankan.

Jum’at pagi, 29 Jumadil Awwal 1436 H (20 Maret 2015 M) perjalanan  pun dimulai. Pagi yang indah itu seakan memberi pesan pada kami : “berangkatlah kalian dengan cita-cita dan cinta, kejarlah apa yang menjadi asa kalian dalam kebersamaan, jiwa kalian adalah satu, maka rekatlah dalam bingkai ukhuwah yang bergelora, hadapi segala apapun secara berjama’ah, insya Allah kalian kelak akan menanam suatu prestasi sejarah yang gemilang…”

Kita akan merasakan hakikat hidup kala kita mampu melihat suguhan alam dan warna-warni yang dihidangkannya tentunya kala kita mampu mengambil pelajaran darinya …demikian kata orang bijak. Dan perjalanan itu …telah mengajarkan pada kami …apa yang kami lihat, dengar dan rasakan sepanjang perjalanan telah mengajarkan kepada kami banyak hal tentang hidup …bukankah kita menyaksikan  indahnya pemandangan alam, bangunan-bangunan hasil karya tangan manusia hingga pola kehidupan masyarakat yang bermacam ragam? Dan bukankah disana banyak pelajaran ? Aduhai …begitu banyak pelajaran yang dapat diambil,  dan sungguh Allah swt. begitu hebatnya cara mengajari tentang hidup. Maka ambillah pelajaran wahai orang-orang yang memiliki pikiran dan mata hati.

Sore …kami sampai di Candi Muara Takus, wiayah Kampar. Kami saksikan bagaimana manusia telah mengukir kehidupan dengan caranya sendiri …entah apa kepercayaan yang mereka anut, yang jelas akibat dari apa yang mereka toreh telah disaksikan oleh kami dari generasi belakangan … Ini suatu pelajaran penting bagi kami …apa yang kita tanam akan menjadi pelajaran bagi orang-orang sesudahnya …Maka berhati-hatilah untuk mengukir sejarah …jika kita mampu mengukir sejarah yang baik …generasi kita akan mendapatkan kebaikannya …namun jika sejarah keburukan yang kita tanam, berarti kita telah menanam keburukan bagi generasi kita, na’udzubillah, bukankah hal ini mengerikan?



Sabtu, 21 Maret 1436 H (30 Jumadil Awwal 1436 H) Tanak Siak yang begitu indah akhirnya dapat kami jajaki, mungkin untuk kami generasi Wira’i, sebelumnya Tanah Siak hanya suatu cerita yang membuat jiwa rindu untuk menyambanginya, cerita dari generasi sebelumnya yang dengan kepuasan hati menggambarkan keindahan tentang Tanah Siak. Namun, Sabtu itu, Generasi Wira’i benar-benar menyaksikannya, bahkan menginjak Tanah itu. Dan kelak mungkin kami pula yang akan menjadi referensi tentang cerita  keindahan tanah Siak. Subhaanallaah. Tertunai sudah sebuah kerinduan …tertancap sudah suatu asa …dan tertorehlah catatan sejarah …bahwa kami Generasi Wira’i bukanlah para  pemimpi yang penuh angan-angan …tapi kami para pemimpi yang penuh gelora cita-cita …Kesudahannya, mimpi kami menjadi kenyataan.



Istana Kesultanan Siak Sri Indrapura  di Riau…itulah lokasi tujuan utama dari program Study Tour jilid III   ini. Istana dan segala hal yang behubungan dengannya, telah meninggalkan catatan-catatan indah bahwa Islam dulunya pernah memiliki prestasi gemilang dalam penyebaran dan ajarannya yang tidak hanya dianut oleh kalangan masyarakat umum, tapi menjadi pegangan para elit pemegang kekuasaan. Sebagai pertanda bahwa Islam adalah milik semua orang dan semua orang berhak menganutnya, sangat universal.

Seolah peninggalan yang kami saksikan dari Kesultanan Siak Sri Indrapura menyatakan : ”Inilah prestasi yang ditoreh para pendahulu kalian, sekarang kalian menyaksikan jejak kemegahan kami , dan ketahuilah bahwa kami adalah pembangun peradaban Islam …ambillah pelajaran olehmu…. dan untuk sekarang apa yang prestasi yang telah kalian tanam untuk peradaban Islam dan umatnya ???”

Berakhir sudah perjalan yang mengesankan ini, Minggu 22 Maret 1436 H (1 Jumadil Akhir 1436 H), kami telah menanam kenangan berharga, catatan sejarah kami anak PK MAN Maninjau. Catatan kami tentang cinta, ukhuwah, perjuangan, dan cita-cita membangun Islam.

(Catatan Kenangan Study Tour Generasi Wira'i PK MAN Maninjau ke Tanah Siak - 29 Jumadil Awwal - 1 Jumadil Akhir 1435 H, dalam luapan ukhuwah penuh cinta karena Allah swt.)

Assalaamu'alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh

Minggu, 04 Januari 2015

Balanjuang PESI dalam Rinai Siang; PK MAN Maninjau

Puji syukur kepada Allah swt.
Shalawat buat Rasulullah saw.
  
Cita-cita itu tak sesulit yang dibayangkan untuk menggapainya jika kita berupaya meniti jalan menggapainya. Dan… harapan itu akan selalu berarti jika kita selalu menanamnya di jalan kebaikan.

Memang harus diakui …hidup tak selamanya datar, kadang terasa membosankan … tapi ia akan memuai dengan sendirinya kala ia kita tepis dengan momen yang kita buat sendiri, cita-cita yang kita bangun dengan kebersamaan, dan harapan yang selalu kita tancapkan dalam azzam yang menggelora.

Yah …, itulah kita …dalam kebersamaan keluarga besar PK MAN Maninjau. Kita selalu punya momen yang kita buat sendiri, bukan mencari waktu adanya momen, kita punya cita-cita, dan kita punya harapan. Disanalah kita terbangun dalam simpul yang kokoh, cinta dan persaudaraan menyatu dalam kebersamaan yang terjaga.


Balanjuang Pesi …keren …siapa yang punya ide ini ??? Dashyat bukan?! Mungkin kelihatannya biasa saja, tapi itu menjadi luar biasa kala ditunaikan dalam simpul ukhuwah. Seperti itulah kita … dalam keluarga besar PK MAN Maninjau, balanjuang adalah bagian dari proses menjalin cinta dan ukhuwah.

Siang itu … setelah selesai segala prosesi pembelajaran semester I tahun pelajaran 2014-2015 kita tutup dengan BALANJUANG PESI. Bukankah ini sesuatu yang luar biasa ???

Yaaa…


Memang …yang punya hajat X PK (sekarang mantan - sebab adanya perubahan kurikulum) yang mencoba membangun diri menjadi Generasi Hadhari, generasi beradab. Tapi ini PK. PK yang tak dibatasi ruang lingkup batasan kelas dan  tingkat. PK adalah kesatuan, bersatu dalam persaudaraan yang kokoh, apakah kelas X PK, atau XI PK dengan upaya menjadi Generasi Wira’i, Generasi yang berupaya untuk mewujudkan kehati-hatian dalam segala tindakan, atau XII PK yang mencoba jadi Generasi Ash-Haby (generasi pelanjut tongkat estafetnya para shahabat Rasululullah saw). Maka boleh saja yang punya hajat X PK (Generasi Hadhari), namun nyatanya mengejewantah dalam hajat besar keluarga besar PK MAN Maninjau, bersama Generasi Wira’i (XI PK) dan Generasi Ash-Haby (XII PK ).

Subhaanallaah !

PK memang Dashyat ! Luar biasa !

(Catatan Memori Balanjung PESI Generasi Hadhari, Wira’i, dan Ash-Haby PK MAN Maninjau; ditengah rinai hujan siang menjelang liburan semesteran)   

Jumat, 05 September 2014

Catatan Memori Hiking Ukhuwah PK MAN Maninjau Tiga Generasi

Assalaamu'alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh
Puji syukur kepada Allah swt. Shalawat teruntuk Rasulullah saw.



Tak ada satupun yang luput dari penjagaan Allah swt. Selama suatu proses pijakan dan landasan hidup tertanam dalam bentuk azzam yang menggelora yang hanya mengharap ridha-Nya, insya Allah semuanya akan berakhir dengan suatu kenyataan yang menggembirakan.
Sesungguhnya masa lalu adalah sesuatu yang tak akan terulang, ia merekam jejak langkah kita dan menjadi saksi sejarah yang telah ditanam. Kala ia berbuah suatu prestasi kebajikan maka beruntunglah orang-orang yang mendapatkan cahayanya yang berpendar. Sebab selama bumi masih terkembang, ia menjadi prasasti kebajikan yang menjadi keteladanan orang-orang sesudahnya, mengalirlah amal kebajikan itu dari pancaran mata airnya yang bening laksana air terjun berkilau atas terpaan mentari pagi yang menyegarkan.
Dan,
Masa depan di dunia ini adalah suatu hal yang jauh dari pikiran dan imajinasi, misteri hidup yang tak terukur, entah dapat diraih atau tidak. Sesungguhnya masa depan tak terkalahkan adalah masa depan akhirat, disana terbentang keadilan dan segala macam bentuk akibat dari apa yang ditanam hari di dunia.
Jelas sudah, hari ini, itulah hari kita yang menentukan. Menentukan pilihan hidup, apakah akan menjadi orang beruntung, atau memilih menjadi orang yang menyesal. Hari inilah kita menanam apa yang bisa kita tanam, agar kelak hasilnya dapat diraih pada waktu yang telah ditentukan.
Siapa yang tidak pernah mengambil bagian dari kehidupan yang terindah, niscaya ia takkan merasakan keindahan abadi kelak di akhirat.
Sungguh !
Keindahan ukhuwah, kebersamaan, berbagi, dalam relung-relung jiwa saudara seperjuangan dalam iman adalah keindahan yang begitu dahsyat. Ia dapat meluluhlantakkan keegoan dan fanatisme, membungkam jiwa-jiwa para pendengki walau hanya untuk sekedar mengucapkan satu kata, menghancurkan tembok-tembok penghalang sekeras karang sekalipun, dan ketahuilah …ia merupakan suatu kekuatan yang sejarah telah membuktikan dapat menghancurkan keangkaramurkaan yang dibisikkan para Iblis la’natullah.
Untuk kita kawan,
Tidakkah engkau merasakan keindahan hidup telah menjalar dalam jiwa-jiwa kita ? Dalam komunitas besar yang kita bangun dari generasi-generasi. Ya, komunitas keluarga besar PK MAN Maninjau. Dalam simpul akidah yang begitu kokoh, belajar tentang Islam agar kita menjadi penuntut ilmu yang benar-benar mengamalkan petunjuk Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah  saw. Belajar untuk saling mencintai dan saling menghargai, dan segala macam permasalahan kita atasi dengan dasar ukhuwah.
Tidakkah engkau merasakan kawan?
Bahwa, ternyata kita telah besar, jumlah kita semakin banyak, dan telah banyak diantara kita yang membuktikan bahwa kita layak menjadi yang terbaik, karena memang kita layak untuk itu. Layak karena kita telah berjuang, karena kita memang berjuang, dan karena kita yakin akan makna sebuah perjuangan. Satu hal, karena kita yakin bahwa kita berada dalam perjuangan titian yang benar, berjuang atas ridha yang Allah swt. berikan pada orang-orang yang bersedia meniti jalan-Nya. 
Hari ini, ….
Kisah kita terekam, jejak kitapun terukir, mata rantai sejarah kita semakin panjang, dalam memori yang begitu indah, dalam kenangan yang mengharu biru, dalam decak kagum menyaksikan keindahan ciptaan Allah swt, dalam derai tawa ditengah peluh dan keringat yang membasahi badan, hiking di seputaran Dama Gadang, 31 Agustus 2014 ini adalah mata rantai mozaik kebersamaan kita yang terukir dalam pahatan-pahatan sejarah, dalam ukiran-ukiran dinding batu ukhuwah.
Tak tanggung-tanggung, tahun ini (1435 H), tiga generasi PK MAN Maninjau menyatu, menyatunya hati kita. Generasi yang kita sematkan sebagai bentuk upaya nawaitu agar kita mampu menjadi apa yang kita sematkan pada diri kita; Generasi Hadhari (X PK), Generasi Wira’i (XI PK), dan Generasi Ash-Haby (XII PK).




Kenanglah …!!!
Pagi itu, Minggu, 31 Agustus 2014, hujan megguyuri bumi, adakah keraguan dihati kita kawan? Untuk menuntaskan nawaitu yang telah kita bangun ? Nawaitu untuk menyusuri hutan dan perkampungan Dama Gadang hanya dengan berjalan kaki, Hiking . Yang jelas, keraguan tidak akan dapat mengalahkan tekad, dan kita memilih tekad itu.




Kesudahannya, kala tekad kita telah bulat, jiwa kita telah kokoh, dan kita yakin bahwa yang kita lakukan adalah suatu kebajikan, lihat bagaimana Allah swt. mengatur urusan kita. Boleh saja pagi itu hujan, boleh saja keadaaan menghimpit  menuntut membatalkan nawaitu. Tapi kita punya Allah swt. yang mengatur segala urusan. Dan kita yakin urusan yang ditetapkan Allah swt. terhadap kita tepat.
Dan kitapun berangkat. Para kafilah tiga generasi dengan segala macam kegembiraan, menuju hutan dan perkampungan Dama Gadang yang begitu asri. Jalan-jalan yang berliku, berkelok, mendaki, terkadang menurun, dipayungi langit yang begitu damai tak menyengat, menghadiahi kita perjalanan yang begitu indah sarat kenangan.




Dimana hujan  tadi ???
Ia seakan raib dihisab nawaitu kita yang menggelora, ia menyingkir dari cita-cita kita, karena sesungguhnya ia patuh pada aturan Allah swt. yang telah memberi kita izin untuk menuntaskan misi yang begitu hebat, merajut ukhuwah dalam ikatan yang kokoh melalui agenda besar. Subhaanallaah !!! Indahnya jalan hidup ini kala kita sikapi penuh kesyukuran.




Shahabat,
Seperti itulah kita, diajarkan membangun kebersamaan, membangun cinta dan ukhuwah, melalui alam sebagai bagian dari ayat-ayat Allah swt. Apa yang kita bangun dalam perjalanan Hiking, saling tolong menolong, saling peduli, saling menasehati, dan merasa kita satu bangunan yang kokoh, akan mampu membentuk kita menjadi pribadi yang kuat, baik secara individual, maupun secara sosial.




Inilah kita keluarga besar PK MAN Maninjau. Kita bersaudara, kita se-Iman, kita seperjuangan. Apa yang hendak kita raih dalam jama’ah ini jelas, ilmu yang hendak kita peroleh nyata, dan apa tujuan kita menjadi bagian ini tak diragukan.



Sahabat,
Kita diciptakan untuk beribadah, bukankah demikian Allah swt. mengajarkannya (Lihat Q.s. Adz-Dzariyat : 6). Kita mengemban misi sebagai khalifah dipermukaan bumi, pemegang amanah. Lantas dimana kita akan meraihnya kalau bukan pada komunitas jama’ah yang mengajarkan untuk itu? Dan kita sadar, segala tujuan kita diciptakan, misi kita, dan amanah yang kita emban berada dalam doktrin yang begitu sempurna yakni Al-Qur’an dan Sunnah. Kenyataannya dalam komunitas ini, dalam keluarga besar PK MAN Maninjau,  itulah yang kita gali, kita pelajari, dan kita amalkan. Siapa yang berani membantah kebenaran ini?
Kebersamaan dalam hiking ukhuwah inipun bagian dari pembelajaran kita, bahwa kala hati kita disatukan, maka segala sekat dan pernak-pernik yang menjadi batu penghalang akan luluh dan lebur menjadi debu. Dalam Hiking kita rasakan indahnya kekuatan kebersamaan, kala lemah kita merasakan kelemahan itu bersama-sama dengan saling menguatkan, kegembiraan kita nikmati bersama, tidak ada kita yang lebih hebat, namun kita menjadi hebat dengan kebersamaan kita. Inilah jama’ah, inilah komunitas, dan inilah konsep perjuangan, karena sesungguhnya perjuangan itu dibangun secara berjama’ah.
(Catatan memori hiking ukhuwah keluarga besar PK MAN Maninjau, 31 Agustus 2014 di seputaran Dama Gadang)

Assalaamu'alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh