Isitriku …, ada yang mengatakan indah dan manisnya
pernikahan itu hanya diawal-awal, tapi aku tak begitu yakin dengan ucapan itu.
Bukankah pernikahan itu membuat kita tenang, dan itu adalah janji dari Allah
swt. yang tak mungkin diragukan. Memang …kita mungkin sama-sama menyadari tak selamanya
hidup itu datar, ia bergelombang, ibarat iman yang terkadang menanjak naik dan
suatu saat jatuh menurun.
Dalam bahtera hidup yang kita bangun atas dasar iman
ini, mungkin saja kita akan menghadapi badai, gelombang yang membuat kita
terombang-ambing, tapi, janji Allah swt. akan ketenangan yang dijanjikan dalam
pernikahan cukup menjadi landasan dan perisai bagi kita untuk bertahan dalam
mewujudkan kehidupan penuh cinta dan kasih sayang yang diridhai Allah swt.
Aku begitu percaya, dan sangat optimis, kala mendapati
kenyataan tentang dirimu, kau yang diawal-awal kukenal sebagai sosok perempuan
mulia …hingga pernikahan yang kita jalani ini tetap kau sosok mulia, akan
mamahami apa yang kumaksud dan kuyakini tentang ketenangan pernikahan yang
dijanjikan Allah swt. Ketenangan itu
akan dapat kita reguk, ya…sakinah, sebagaimana do’a-do’a orang yang telah
meridhai kita menempuh hidup bersama. Tentunya kala kita menyatukan hati dengan cita-cita yang kuat bahwa kita
memang berniat pernikahan ini hanyalah untuk ibadah.
Istriku …
Sakinah itu akan terwujud kala kita mampu untuk
memahami bahwa kita bukanlah makhluk sempurna, kita saling membutuhkan, dan
yang terpenting dari itu kita mampu menghargai sebuah kekurangan.
Boleh saja alasanmu untuk bisa menerimaku sebagai
pendampingmu karena urusan agama yang menjadi prioritas untuk menentukan
pilihan hidup hingga berani menempuh kehidupan berumah tangga, berharap bagi
seorang perempuan mendapatkan laki-laki yang shaleh dan tha’at agama. Tapi
apakah dipungkiri, bahwa keinginan perempuan selain hal tersebut tentu saja
memiliki suami yang mapan secara finansial dan fisik mempesona sebagai naluriah
manusia akan kecintaan pada keindahan ? Dan jika engkaupun menginginkan dua hal
terakhir terebut, sama sekali tidak salah.
Jujuuu…r, ini bukan aku tidak menerima takdir tentang
diriku, dan juga bukan karena aku meratapi nasib. Hanya saja aku menyadari
sepenuhnya tentang diriku, sebagai takdir yang Allah swt. tetapkan bagi diriku
bahwa untuk dua yang terakhir (finansial dan fisik yang didambakan) yang
menjadi kebutuhan kaummu bagi diriku hal tersebut cukup jauh dari yang
didambakan manusia umumnya. Aku mungkin lemah dalam hal tersebut, setidaknya
dalam pandangan sebagia orang, dan aku sama sekali tidak menyalahkan tentang
diriku ini, karena aku yakin Allah swt. punya rencana yang terindah untukku.
Dengan segala kekuranganku ini, yang mungkin bisa
membuat seseorang berfikir ulang untuk menempuh kehidupan berumah tangga, dengan keteguhan hati, aku bawa kekurangan
ini mempersuntingmu menjadi permaisuriku, biarlah Allah swt. kelak yang akan
memberikan takdir kehidupan kita.
Subhaanallaah ! Ternyata …disanalah kutemukan mutiara
kemuliaan jiwamu berpendar …kau mampu menerima aku apa adanya, lebih dari itu
….kau malah menguatkanku sehingga aku semakin kokoh dengan keyakinanku bahwa
kala pernikahan ditempuh dengan niat ikhlas karena Allah swt. maka segala yang
membuat jiwa ini berat akan terbang dan hilang dengan sendirinya.
Aku merasa berada dalam
lingkaran hidup yang menanjak naik pada puncak keindahan istana kemegahan
cinta, dengan menara dan gedung-gedung tinggi menjulang yang ditata dengan
pernak-pernik pualam berkilau, jiwaku terbang pada tingkat ketinggian, aku
merasa tersanjung, yang melahirkan kesyukuran, hingga tersingkapnya hijab yang
selama ini belum aku pahami, mengapa Allah swt. mentakdirkan kekurangan itu
untukku. Ternyata kekurangan itu yang membuat aku merasa memiliki kelebihan,
didalamnya ada anugrah, di dalamnya keindahan, di dalamnya ada pesona, di
dalamnya ada cinta, ya cinta yang lahir dari seorang perempuan yang begitu aku
cintai dan mencintaiku dengan kebersihan jiwa, cinta dari seorang perempuan
yang membalikkan kekurangan diriku menjadi sebuah kelebihan. Maka pantas jika
aku lebih gila dari pada Majnun dalam lukisan kata Nizami. Aku telah tergila-gila
kepada Lailaku, yang memiliki jiwa laksana kaca bening memancarkan cahaya
dahsyat memukau berkilku. Kilauan itu Allah swt. takdirkan untukku, agar aku
lebih menyadari bahwa Allah swt. ingin memberikan yang terbaik bagi diriku
melalui segala kekurangan yang aku rasakan.
Biarkan aku menggubah beberapa penggalan rangkaian
kalimat untukmu :
Sungguh jiwamu bijak laksana sufi
Memancar aroma atasi minyak bidadari
Jiwaku terbakar bak sulutan api
Api cinta nan suci penuh sensasi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar