WENDRI NALDI EL-MANINJAUI KHATIB BANDARO

WENDRI NALDI EL-MANINJAUI KHATIB BANDARO
WENDRI NALDI EL-MANINJAUI KHATIB BANDARO

Senin, 20 April 2015

Cattan Untuk Istriku Yang Tercinta (Laila Nisa) : Aku dengan Segala Kekuranganku

Isitriku …, ada yang mengatakan indah dan manisnya pernikahan itu hanya diawal-awal, tapi aku tak begitu yakin dengan ucapan itu. Bukankah pernikahan itu membuat kita tenang, dan itu adalah janji dari Allah swt. yang tak mungkin diragukan. Memang …kita mungkin sama-sama menyadari tak selamanya hidup itu datar, ia bergelombang, ibarat iman yang terkadang menanjak naik dan suatu saat jatuh menurun.

Dalam bahtera hidup yang kita bangun atas dasar iman ini, mungkin saja kita akan menghadapi badai, gelombang yang membuat kita terombang-ambing, tapi, janji Allah swt. akan ketenangan yang dijanjikan dalam pernikahan cukup menjadi landasan dan perisai bagi kita untuk bertahan dalam mewujudkan kehidupan penuh cinta dan kasih sayang yang diridhai Allah swt.

Aku begitu percaya, dan sangat optimis, kala mendapati kenyataan tentang dirimu, kau yang diawal-awal kukenal sebagai sosok perempuan mulia …hingga pernikahan yang kita jalani ini tetap kau sosok mulia, akan mamahami apa yang kumaksud dan kuyakini tentang ketenangan pernikahan yang dijanjikan Allah swt.  Ketenangan itu akan dapat kita reguk, ya…sakinah, sebagaimana do’a-do’a orang yang telah meridhai kita menempuh hidup bersama. Tentunya kala kita menyatukan  hati dengan cita-cita yang kuat bahwa kita memang berniat pernikahan ini hanyalah untuk ibadah.

Istriku …

Sakinah itu akan terwujud kala kita mampu untuk memahami bahwa kita bukanlah makhluk sempurna, kita saling membutuhkan, dan yang terpenting dari itu kita mampu menghargai sebuah kekurangan.
Boleh saja alasanmu untuk bisa menerimaku sebagai pendampingmu karena urusan agama yang menjadi prioritas untuk menentukan pilihan hidup hingga berani menempuh kehidupan berumah tangga, berharap bagi seorang perempuan mendapatkan laki-laki yang shaleh dan tha’at agama. Tapi apakah dipungkiri, bahwa keinginan perempuan selain hal tersebut tentu saja memiliki suami yang mapan secara finansial dan fisik mempesona sebagai naluriah manusia akan kecintaan pada keindahan ? Dan jika engkaupun menginginkan dua hal terakhir terebut, sama sekali tidak salah.

Jujuuu…r, ini bukan aku tidak menerima takdir tentang diriku, dan juga bukan karena aku meratapi nasib. Hanya saja aku menyadari sepenuhnya tentang diriku, sebagai takdir yang Allah swt. tetapkan bagi diriku bahwa untuk dua yang terakhir (finansial dan fisik yang didambakan) yang menjadi kebutuhan kaummu bagi diriku hal tersebut cukup jauh dari yang didambakan manusia umumnya. Aku mungkin lemah dalam hal tersebut, setidaknya dalam pandangan sebagia  orang,  dan aku sama sekali tidak menyalahkan tentang diriku ini, karena aku yakin Allah swt. punya rencana yang terindah untukku.

Dengan segala kekuranganku ini, yang mungkin bisa membuat seseorang berfikir ulang untuk menempuh kehidupan berumah tangga,  dengan keteguhan hati, aku bawa kekurangan ini mempersuntingmu menjadi permaisuriku, biarlah Allah swt. kelak yang akan memberikan takdir kehidupan kita.

Subhaanallaah ! Ternyata …disanalah kutemukan mutiara kemuliaan jiwamu berpendar …kau mampu menerima aku apa adanya, lebih dari itu ….kau malah menguatkanku sehingga aku semakin kokoh dengan keyakinanku bahwa kala pernikahan ditempuh dengan niat ikhlas karena Allah swt. maka segala yang membuat jiwa ini berat akan terbang dan hilang dengan sendirinya.

Aku merasa berada dalam lingkaran hidup yang menanjak naik pada puncak keindahan istana kemegahan cinta, dengan menara dan gedung-gedung tinggi menjulang yang ditata dengan pernak-pernik pualam berkilau, jiwaku terbang pada tingkat ketinggian, aku merasa tersanjung, yang melahirkan kesyukuran, hingga tersingkapnya hijab yang selama ini belum aku pahami, mengapa Allah swt. mentakdirkan kekurangan itu untukku. Ternyata kekurangan itu yang membuat aku merasa memiliki kelebihan, didalamnya ada anugrah, di dalamnya keindahan, di dalamnya ada pesona, di dalamnya ada cinta, ya cinta yang lahir dari seorang perempuan yang begitu aku cintai dan mencintaiku dengan kebersihan jiwa, cinta dari seorang perempuan yang membalikkan kekurangan diriku menjadi sebuah kelebihan. Maka pantas jika aku lebih gila dari pada Majnun dalam lukisan kata Nizami. Aku telah tergila-gila kepada Lailaku, yang memiliki jiwa laksana kaca bening memancarkan cahaya dahsyat memukau berkilku. Kilauan itu Allah swt. takdirkan untukku, agar aku lebih menyadari bahwa Allah swt. ingin memberikan yang terbaik bagi diriku melalui segala kekurangan yang aku rasakan.
Biarkan aku menggubah beberapa penggalan rangkaian kalimat untukmu :

Sungguh jiwamu bijak laksana sufi
Memancar aroma atasi minyak bidadari
Jiwaku terbakar bak sulutan api
Api cinta nan suci penuh sensasi




Tidak ada komentar:

Posting Komentar