Demikianlah serpihan-serpihan hidup kita mulai
membentuk sebuah bongkahan cinta yang terukir indah laksana dipahat dipuncak
bukit kemuliaan … Inilah jalan-jalan kemuliaan kita yang mengantarkan pada
puncak kebahagiaan hakiki …
Jujuu…r, sebelumnya, aku tak pernah mengenalmu …bahkan
mendengar namamupun tak pernah, sama sekali tak pernah … tapi bukankah kita
meyakini bahwa jodoh berada dalam catatan lauh
mahfuzh yang tak terbantahkan. Dan …akhirnya jodoh itu menggeliat dan
menampakkan keagungannya dengan dipertemukan kita dalam sebuah proses yang
bernama ta’aruf, yang jelas tak ada hubungan tanpa status diantara kita,
apalagi konsep pacaran yang digembor-gemborkan kaum hedonis …Kita mulai dengan
cara yang baik …dan lihatlah kebaikan yang kita rasakan.
Hanya sekali, ya…cukup sekali dalam ta’arufan yang
mengesankan itu …maka terjadilah apa yang telah terjadi… sangat singkat
sekali, akhirnya kita disatukan dalam
sebuah ikatan suci nan agung, mitsaqan
ghalizha, pernikahan yang mempesona, menunaikan Sunnatullah dan Sunnah
Rasulullah saw, maka sempurnalah separo agama kita. Disaksikan oleh orang-orang
yang kita cintai, kerabat, saudara bahkan shahabat-shahabat kita, perjanjian
yang terikrar di depan penghulu menggelegar dahsyat dalam kehidupan kita, bahwa
kita telah halal untuk hidup secara bersama, menempuh hidup penuh cinta dan
kasih sayang dalam istana cinta yang
berpendar cahaya-cahaya kristal kemuliaan iman.
Subhaanallaah ! Sungguh rencana
Allah swt. adalah suatu rencana terbaik.
Fabiayyi aalaa irabbbikumaa tukadzdzibaan ! (T.Q.S.
Ar-Rahman : 61)
Saat itu, kala
engkau telah halal untukku, aku layak mengatakan kepadamu, duhai pujaan hatiku
: “Aku mencintaimu karena Allah swt”. Sungguh ungkapan yang membuat aku merasa
sempurna dan sekaligus untuk membuktikan kepada murid-muridku, orang-orang
banyak, bahwa ungkapan tersebut adalah ungkapan terindah yang layak diucapkan
seorang muslim dan hamba yang menyadari bahwa hidup adalah untuk ibadah.
Dan …
Inilah yang kurasakan …dalam kebersamaan denganmu …
dirimu begitu mulia dan mempesona …Subhaanallaah,
engkau laksana bidadari yang begitu membuat aku lebih gila dari pada Qais si
Majnun yang dilukiskan Nizami. Jika Majnun harus kandas mahligai cinta yang
diperjuangkannya di dunia ini, maka aku, dengan azzam terpatri insya Allah akan
membuktikan bahwa cinta dibawah naungan panji Ilahi yang kita bangun akan
berbuah keindahan surga dunia yang kelak juga hendaknya mengantarkan pada surga
yang abadi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar