WENDRI NALDI EL-MANINJAUI KHATIB BANDARO

WENDRI NALDI EL-MANINJAUI KHATIB BANDARO
WENDRI NALDI EL-MANINJAUI KHATIB BANDARO

Senin, 20 April 2015

Catatan Untuk Istriku Yang Tercinta (Laila Nisa) : Mitsaqan Ghaliza

Demikianlah serpihan-serpihan hidup kita mulai membentuk sebuah bongkahan cinta yang terukir indah laksana dipahat dipuncak bukit kemuliaan … Inilah jalan-jalan kemuliaan kita yang mengantarkan pada puncak kebahagiaan hakiki …

Jujuu…r, sebelumnya, aku tak pernah mengenalmu …bahkan mendengar namamupun tak pernah, sama sekali tak pernah … tapi bukankah kita meyakini bahwa jodoh berada dalam catatan lauh mahfuzh yang tak terbantahkan. Dan …akhirnya jodoh itu menggeliat dan menampakkan keagungannya dengan dipertemukan kita dalam sebuah proses yang bernama ta’aruf, yang jelas tak ada hubungan tanpa status diantara kita, apalagi konsep pacaran yang digembor-gemborkan kaum hedonis …Kita mulai dengan cara yang baik …dan lihatlah kebaikan yang kita rasakan.

Hanya sekali, ya…cukup sekali dalam ta’arufan yang mengesankan itu …maka terjadilah apa yang telah terjadi… sangat singkat sekali,  akhirnya kita disatukan dalam sebuah ikatan suci nan agung, mitsaqan ghalizha, pernikahan yang mempesona, menunaikan Sunnatullah dan Sunnah Rasulullah saw, maka sempurnalah separo agama kita. Disaksikan oleh orang-orang yang kita cintai, kerabat, saudara bahkan shahabat-shahabat kita, perjanjian yang terikrar di depan penghulu menggelegar dahsyat dalam kehidupan kita, bahwa kita telah halal untuk hidup secara bersama, menempuh hidup penuh cinta dan kasih sayang  dalam istana cinta yang berpendar cahaya-cahaya kristal kemuliaan iman.  Subhaanallaah ! Sungguh rencana Allah swt. adalah suatu rencana terbaik.

Fabiayyi aalaa irabbbikumaa tukadzdzibaan ! (T.Q.S. Ar-Rahman : 61)
Saat itu,  kala engkau telah halal untukku, aku layak mengatakan kepadamu, duhai pujaan hatiku : “Aku mencintaimu karena Allah swt”. Sungguh ungkapan yang membuat aku merasa sempurna dan sekaligus untuk membuktikan kepada murid-muridku, orang-orang banyak, bahwa ungkapan tersebut adalah ungkapan terindah yang layak diucapkan seorang muslim dan hamba yang menyadari bahwa hidup adalah untuk ibadah.

Dan …


Inilah yang kurasakan …dalam kebersamaan denganmu … dirimu begitu mulia dan mempesona …Subhaanallaah, engkau laksana bidadari yang begitu membuat aku lebih gila dari pada Qais si Majnun yang dilukiskan Nizami. Jika Majnun harus kandas mahligai cinta yang diperjuangkannya di dunia ini, maka aku, dengan azzam terpatri insya Allah akan membuktikan bahwa cinta dibawah naungan panji Ilahi yang kita bangun akan berbuah keindahan surga dunia yang kelak juga hendaknya mengantarkan pada surga yang abadi.   

Tidak ada komentar:

Posting Komentar