Istriku ….kudapati namamu Laila Nisa …
Itulah pemberian nama dari orang tuamu. Jika sekilas
orang mungkin heran, kenapa namamu Laila Nisa ? Ternyata engkaupun pernah
mengadukan hal itu kepadaku, pengaduan tentang dirimu yang dianggap namamu itu
kata orang maknanya kurang baik, perempuan malam, demikian kata mereka. Tunggu
dulu istriku …jangan cepat-cepat kau maknai pandangan orang tersebut negatif.
Apakah makna perempuan malam selalu
negatif? Sesungguhnya segala sesuatu itu sangat ditentukan dari sudut mana kita
memandang. Jika kita selalu memandang sesuatu itu dari sudut negatif, maka
negatif itulah yang tampak. Namun jika sebaliknya, kala segala sesuatu kita pandang secara
positif, segalanya akan termaknai secara positif. Demikianlah hakikatnya,
mengapa agama kita mengajarkan agar kita selalu berprasangka baik. Agar energi
kebaikan itu selalu menjalari tubuh dan sikap kita, sehingga apapun pandangan
kita akan berbuah pada ha-hal yang positif.
Mari …mari kita mulai memaknai namamu dengan kacamata
positif, disana engkau akan temukan nilai-nilai yang begitu dahsyat dari
namamu. Yang jelas, namamu adalah suatu pemberian berharga dari orang tuamu.
Pertanyaannya, apa kira-kira yang terlintas dan menjadi nawaitu dari orang
tuamu untuk memilih nama itu? Mungkin secara sederhana jawabannya, karena
engkau lahir diwaktu malam, maka diberilah nama Laila, dan karena engkau
perempuan maka disemat Nisa, sehingga disebutlah kau perempuan malam, tepatnya
perempuan yang lahir di waktu malam. Jika dari memaknai secara sederhana ini
saja telah ditemukan tidak ada satupun makna negatif di dalamnya, lalu apa
alasan untuk memaknai Laila Nisa sebagai perempuan malam yang dipahami sebagai
sesuatu yang negatif ? Ini yang pertama.
Apakah seringkas itu tujuan orang tuamu memberi nama?
Yang tahu jawaban pasti tentulah mereka. Tapi bukankah nama itu do’a atau
hasrat keinginan mengandung harapan ? Lantas, apakah dengan memberi nama itu
orang tuamu tidak punya pengharapan ? Yang jelas orang tuamu punya harapan
kepadamu sebagai anaknya.
Terlepas dari apa pengharapan orang tuamu, jika engkau
bersedia untuk mencoba mengambil pemakaian lafaz namamu; Laila dan Nisa, dari
mana asal kata itu? Dari mana asal Bahasa itu? Ya …kata dan bahasa itu adalah
Bahasa Arab, bahasanya Al-Qur’an, wajib bagi seorang muslim mempelajarinya.
Jika dari bahasanya al-Qur’an diambil penggunaan namamu, bukankah itu isyarat
orang tuamu ingin memberikan nama untuk putrinya yang tercinta dengan bahasa
yang digunakan al-Qur’an? Jika bahasa al-Qur’an yang digunakan untuk sebuah
nama yang didalamnya mengandung harapan, apakah mungkin aura negatif ada
didalamnya?
Oooo…jika ada yang menyatakan namamu menyalahi kaedah
ketatabahasaan untuk meletakkan makna namamu pada makna positif, maka
ketahuilah wahai istriku …segala sesuatu itu terletak pada niat, niat itulah
yang akan menyampaikannya pada tujuan, maka maknai namamu dengan niat apa orang
tuamu memberi nama untukmu. Pahamilah …tak ada satupun niat negatif yang lahir
untuk anaknya, apalagi untuk sebuah nama. Ini yang kedua.
Yang ketiga, izinkan aku memaknai namamu sesuai dengan
apa yang kudapati tentang dirimu semenjak aku hidup bersamamu. Laila, yang
bermakna malam. Mari …marilah kita pahami makna ini. Malam adalah waktu-waktu
yang indah dan menakjubkan untuk beribadah, shalat malam disepertiga malam
terakhir begitu besar keutamaannya, waktu malam adalah waktu keheningan dan
ketenangan, do’a terasa nikmat dan khusyu’ di tengah malam nan sunyi, malam
diciptakan agar kita bisa melepaskan kepenatan dan kelelahan di siang hari
karena disibukkan dengan aktifitas, waktu istirahat yang ditunggu-tunggu adalah
malam, yang berarti setiap manusia butuh dengan malam. Para sufipun menjadi
malam sebagai waktu yang begitu indah untuk mencapai derajat ketinggian disisi
Allah swt.
Sekarang, malam menjadi namamu. Aduhai …apa yang kutemukan dari dirimu
malamku? Kau benar-benar menjadi malamku yang terindah, Lailaku, yang membawa
ketenangan pada relung-relung hatiku, yang membuat aku terpesona dengan
keindahan yang engkau persembahkan untukku. Betapa tidak …kehadiranmu disisiku
sebagai istriku menjadi penyejuk hati, aku merasa tenang berada didekatmu, dan
kalau jauh engkau begitu kurindui. Ketenangan itu lahir kala aku menyaksikan
apa yang kudapati dari dirimu …engkau hadir kala hatiku merindui yang sangat
aku cintai …aku mencintai dan berharap pendamping hidup yang teguh dengan
agamanya, shalehah, dan tha’at dalam beribadah, ternyata semua itu kau
hadiahkan untukku. Engkau kudapati sebagai perempuan yang lurus agamanya,
shalehah, dan Subhaanalllaah ! ternyata engkau ahli ibadah. Hal ini membuat
aku terlepas dari suatu kewajiban besar,
bahwa tugas seorang suami adalah mendidik dan menshalehkan istrinya.
Kenyataannya, sebelum engkau dididik dan
dishalehkan, engkau telah hadir sebagai perempuan terdidik yang shalehah
disisiku. Ini bukan berarti aku tidak lagi punya amanah terhadapmu, lalu
berlepas diri dari tanggungjawab. Tidak …sama sekali tidak. Tapi ini adalah
kesyukuranku bahwa aku telah diberi anugrah oleh Allah swt. dengan anugrah yang
begitu mulia yang seandainya diberikan kepadaku segunung emas dan melimpahnya
harta kekayaan sama sekali sangat tidak bisa dibandingkan dengan kemuliaanmu.
Gunung emas dan harta kekayaan itu sangat tidak berharga dan pupus godaannya
disebabkan kemuliaanmu nan memukau.
Sungguh engkau malamku, engkau Laila-ku, penyejuk
hatiku.
Dan …kemuliaan itu semakin tampak kala namamu tidak
cukup dengan kata Laila, tapi juga nisa. Anisa artinya jinak atau tidak liar, yang
berarti bisa mengendalikan diri dan dikendalikan, itulah secara luas yang dapat
digambarkan dari makna ini. Makhluk yang patuh dan mampu mengendalikan serta
dikendalikan akan selamat. Sebab ia berada dalam koridor aturan yang telah
digariskan yang apabila menyimpang akan menimbulkan kekacauan serta membinasakan diri sendiri.
Bukankah penyebab kesesatan dan kekacauan disebabkan tidak adanya kepatuhan dan
keluar dari ketentuan?
Laila-ku …
Untuk kepatuhan itulah kita diciptakan kepermukaan bumi
ini, patuh untuk mengabdi kepada Allah swt. Dan …kita dikatakan patuh kala kita
mengikuti aturan yang telah digariskan oleh Sang Pencipta. Kepatuhan itu akan
mengantarkan kita menjadi hamba yang shaleh, kelak dijanjikan dengan kemuliaan
di akhirat, yang mana kala itu setinggi apapun kemuliaan yang bersifat
keduniaan yang kita saksikan hari ini tidak bermanfaat sedikitpun.
Namamu memang Nisa, bukan Anisa. Aku kira maksud orang
tuamu maknanya kepada Anisa. Yakni perempuan yang patuh. Dan …kenyataannya,
makna Anisa (Nisa) itu mewujud dalam kehidupanmu …ini menurut apa yang kulihat,
rasakan dan perhatikan sebagai suamimu. Engkau kutemui sebagai sosok yang
patuh, tha’at pada suami dan mampu memposisikan diri sebagai istri, serta mengerti beban amanah. Engkau istri
yang begitu memahami bahwa kala menjadi istri seseorang maka engkau punya
kewajiban baru untuk melayani suami, dan engkau wujudkan hal tersebut semua itu
sebagai bukti kepatuhan. Sungguh …engkau perempuan yang mulia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar