WENDRI NALDI EL-MANINJAUI KHATIB BANDARO

WENDRI NALDI EL-MANINJAUI KHATIB BANDARO
WENDRI NALDI EL-MANINJAUI KHATIB BANDARO

Selasa, 21 April 2015

Catatan Untuk Istriku Yang Tercinta (Laila Nisa) : Istriku, Namamu Laila Nisa

Istriku ….kudapati namamu Laila Nisa …

Itulah pemberian nama dari orang tuamu. Jika sekilas orang mungkin heran, kenapa namamu Laila Nisa ? Ternyata engkaupun pernah mengadukan hal itu kepadaku, pengaduan tentang dirimu yang dianggap namamu itu kata orang maknanya kurang baik, perempuan malam, demikian kata mereka. Tunggu dulu istriku …jangan cepat-cepat kau maknai pandangan orang tersebut negatif. Apakah makna perempuan  malam selalu negatif? Sesungguhnya segala sesuatu itu sangat ditentukan dari sudut mana kita memandang. Jika kita selalu memandang sesuatu itu dari sudut negatif, maka negatif itulah yang tampak. Namun jika sebaliknya,  kala segala sesuatu kita pandang secara positif, segalanya akan termaknai secara positif. Demikianlah hakikatnya, mengapa agama kita mengajarkan agar kita selalu berprasangka baik. Agar energi kebaikan itu selalu menjalari tubuh dan sikap kita, sehingga apapun pandangan kita akan berbuah pada ha-hal yang positif.

Mari …mari kita mulai memaknai namamu dengan kacamata positif, disana engkau akan temukan nilai-nilai yang begitu dahsyat dari namamu. Yang jelas, namamu adalah suatu pemberian berharga dari orang tuamu. Pertanyaannya, apa kira-kira yang terlintas dan menjadi nawaitu dari orang tuamu untuk memilih nama itu? Mungkin secara sederhana jawabannya, karena engkau lahir diwaktu malam, maka diberilah nama Laila, dan karena engkau perempuan maka disemat Nisa, sehingga disebutlah kau perempuan malam, tepatnya perempuan yang lahir di waktu malam. Jika dari memaknai secara sederhana ini saja telah ditemukan tidak ada satupun makna negatif di dalamnya, lalu apa alasan untuk memaknai Laila Nisa sebagai perempuan malam yang dipahami sebagai sesuatu yang negatif ? Ini yang pertama.

Apakah seringkas itu tujuan orang tuamu memberi nama? Yang tahu jawaban pasti tentulah mereka. Tapi bukankah nama itu do’a atau hasrat keinginan mengandung harapan ? Lantas, apakah dengan memberi nama itu orang tuamu tidak punya pengharapan ? Yang jelas orang tuamu punya harapan kepadamu sebagai anaknya.

Terlepas dari apa pengharapan orang tuamu, jika engkau bersedia untuk mencoba mengambil pemakaian lafaz namamu; Laila dan Nisa, dari mana asal kata itu? Dari mana asal Bahasa itu? Ya …kata dan bahasa itu adalah Bahasa Arab, bahasanya Al-Qur’an, wajib bagi seorang muslim mempelajarinya. Jika dari bahasanya al-Qur’an diambil penggunaan namamu, bukankah itu isyarat orang tuamu ingin memberikan nama untuk putrinya yang tercinta dengan bahasa yang digunakan al-Qur’an? Jika bahasa al-Qur’an yang digunakan untuk sebuah nama yang didalamnya mengandung harapan, apakah mungkin aura negatif ada didalamnya?

Oooo…jika ada yang menyatakan namamu menyalahi kaedah ketatabahasaan untuk meletakkan makna namamu pada makna positif, maka ketahuilah wahai istriku …segala sesuatu itu terletak pada niat, niat itulah yang akan menyampaikannya pada tujuan, maka maknai namamu dengan niat apa orang tuamu memberi nama untukmu. Pahamilah …tak ada satupun niat negatif yang lahir untuk anaknya, apalagi untuk sebuah nama. Ini yang kedua.

Yang ketiga, izinkan aku memaknai namamu sesuai dengan apa yang kudapati tentang dirimu semenjak aku hidup bersamamu. Laila, yang bermakna malam. Mari …marilah kita pahami makna ini. Malam adalah waktu-waktu yang indah dan menakjubkan untuk beribadah, shalat malam disepertiga malam terakhir begitu besar keutamaannya, waktu malam adalah waktu keheningan dan ketenangan, do’a terasa nikmat dan khusyu’ di tengah malam nan sunyi, malam diciptakan agar kita bisa melepaskan kepenatan dan kelelahan di siang hari karena disibukkan dengan aktifitas, waktu istirahat yang ditunggu-tunggu adalah malam, yang berarti setiap manusia butuh dengan malam. Para sufipun menjadi malam sebagai waktu yang begitu indah untuk mencapai derajat ketinggian disisi Allah swt.

Sekarang, malam menjadi namamu.  Aduhai …apa yang kutemukan dari dirimu malamku? Kau benar-benar menjadi malamku yang terindah, Lailaku, yang membawa ketenangan pada relung-relung hatiku, yang membuat aku terpesona dengan keindahan yang engkau persembahkan untukku. Betapa tidak …kehadiranmu disisiku sebagai istriku menjadi penyejuk hati, aku merasa tenang berada didekatmu, dan kalau jauh engkau begitu kurindui. Ketenangan itu lahir kala aku menyaksikan apa yang kudapati dari dirimu …engkau hadir kala hatiku merindui yang sangat aku cintai …aku mencintai dan berharap pendamping hidup yang teguh dengan agamanya, shalehah, dan tha’at dalam beribadah, ternyata semua itu kau hadiahkan untukku. Engkau kudapati sebagai perempuan yang lurus agamanya, shalehah, dan Subhaanalllaah ! ternyata engkau ahli ibadah. Hal ini membuat aku  terlepas dari suatu kewajiban besar, bahwa tugas seorang suami adalah mendidik dan menshalehkan istrinya. Kenyataannya, sebelum engkau dididik dan  dishalehkan, engkau telah hadir sebagai perempuan terdidik yang shalehah disisiku. Ini bukan berarti aku tidak lagi punya amanah terhadapmu, lalu berlepas diri dari tanggungjawab. Tidak …sama sekali tidak. Tapi ini adalah kesyukuranku bahwa aku telah diberi anugrah oleh Allah swt. dengan anugrah yang begitu mulia yang seandainya diberikan kepadaku segunung emas dan melimpahnya harta kekayaan sama sekali sangat tidak bisa dibandingkan dengan kemuliaanmu. Gunung emas dan harta kekayaan itu sangat tidak berharga dan pupus godaannya disebabkan kemuliaanmu nan memukau.

Sungguh engkau malamku, engkau Laila-ku, penyejuk hatiku.
Dan …kemuliaan itu semakin tampak kala namamu tidak cukup dengan kata Laila, tapi juga nisa. Anisa artinya jinak atau tidak liar, yang berarti bisa mengendalikan diri dan dikendalikan, itulah secara luas yang dapat digambarkan dari makna ini. Makhluk yang patuh dan mampu mengendalikan serta dikendalikan akan selamat. Sebab ia berada dalam koridor aturan yang telah digariskan yang apabila menyimpang akan menimbulkan  kekacauan serta membinasakan diri sendiri. Bukankah penyebab kesesatan dan kekacauan disebabkan tidak adanya kepatuhan dan keluar dari ketentuan?

Laila-ku …

Untuk kepatuhan itulah kita diciptakan kepermukaan bumi ini, patuh untuk mengabdi kepada Allah swt. Dan …kita dikatakan patuh kala kita mengikuti aturan yang telah digariskan oleh Sang Pencipta. Kepatuhan itu akan mengantarkan kita menjadi hamba yang shaleh, kelak dijanjikan dengan kemuliaan di akhirat, yang mana kala itu setinggi apapun kemuliaan yang bersifat keduniaan yang kita saksikan hari ini tidak bermanfaat sedikitpun.

Namamu memang Nisa, bukan Anisa. Aku kira maksud orang tuamu maknanya kepada Anisa. Yakni perempuan yang patuh. Dan …kenyataannya, makna Anisa (Nisa) itu mewujud dalam kehidupanmu …ini menurut apa yang kulihat, rasakan dan perhatikan sebagai suamimu. Engkau kutemui sebagai sosok yang patuh, tha’at pada suami dan mampu memposisikan diri sebagai istri,  serta mengerti beban amanah. Engkau istri yang begitu memahami bahwa kala menjadi istri seseorang maka engkau punya kewajiban baru untuk melayani suami, dan engkau wujudkan hal tersebut semua itu sebagai bukti kepatuhan. Sungguh …engkau perempuan yang mulia.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar