WENDRI NALDI EL-MANINJAUI KHATIB BANDARO

WENDRI NALDI EL-MANINJAUI KHATIB BANDARO
WENDRI NALDI EL-MANINJAUI KHATIB BANDARO

Minggu, 04 Januari 2015

Balanjuang PESI dalam Rinai Siang; PK MAN Maninjau

Puji syukur kepada Allah swt.
Shalawat buat Rasulullah saw.
  
Cita-cita itu tak sesulit yang dibayangkan untuk menggapainya jika kita berupaya meniti jalan menggapainya. Dan… harapan itu akan selalu berarti jika kita selalu menanamnya di jalan kebaikan.

Memang harus diakui …hidup tak selamanya datar, kadang terasa membosankan … tapi ia akan memuai dengan sendirinya kala ia kita tepis dengan momen yang kita buat sendiri, cita-cita yang kita bangun dengan kebersamaan, dan harapan yang selalu kita tancapkan dalam azzam yang menggelora.

Yah …, itulah kita …dalam kebersamaan keluarga besar PK MAN Maninjau. Kita selalu punya momen yang kita buat sendiri, bukan mencari waktu adanya momen, kita punya cita-cita, dan kita punya harapan. Disanalah kita terbangun dalam simpul yang kokoh, cinta dan persaudaraan menyatu dalam kebersamaan yang terjaga.


Balanjuang Pesi …keren …siapa yang punya ide ini ??? Dashyat bukan?! Mungkin kelihatannya biasa saja, tapi itu menjadi luar biasa kala ditunaikan dalam simpul ukhuwah. Seperti itulah kita … dalam keluarga besar PK MAN Maninjau, balanjuang adalah bagian dari proses menjalin cinta dan ukhuwah.

Siang itu … setelah selesai segala prosesi pembelajaran semester I tahun pelajaran 2014-2015 kita tutup dengan BALANJUANG PESI. Bukankah ini sesuatu yang luar biasa ???

Yaaa…


Memang …yang punya hajat X PK (sekarang mantan - sebab adanya perubahan kurikulum) yang mencoba membangun diri menjadi Generasi Hadhari, generasi beradab. Tapi ini PK. PK yang tak dibatasi ruang lingkup batasan kelas dan  tingkat. PK adalah kesatuan, bersatu dalam persaudaraan yang kokoh, apakah kelas X PK, atau XI PK dengan upaya menjadi Generasi Wira’i, Generasi yang berupaya untuk mewujudkan kehati-hatian dalam segala tindakan, atau XII PK yang mencoba jadi Generasi Ash-Haby (generasi pelanjut tongkat estafetnya para shahabat Rasululullah saw). Maka boleh saja yang punya hajat X PK (Generasi Hadhari), namun nyatanya mengejewantah dalam hajat besar keluarga besar PK MAN Maninjau, bersama Generasi Wira’i (XI PK) dan Generasi Ash-Haby (XII PK ).

Subhaanallaah !

PK memang Dashyat ! Luar biasa !

(Catatan Memori Balanjung PESI Generasi Hadhari, Wira’i, dan Ash-Haby PK MAN Maninjau; ditengah rinai hujan siang menjelang liburan semesteran)   

Jumat, 05 September 2014

Catatan Memori Hiking Ukhuwah PK MAN Maninjau Tiga Generasi

Assalaamu'alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh
Puji syukur kepada Allah swt. Shalawat teruntuk Rasulullah saw.



Tak ada satupun yang luput dari penjagaan Allah swt. Selama suatu proses pijakan dan landasan hidup tertanam dalam bentuk azzam yang menggelora yang hanya mengharap ridha-Nya, insya Allah semuanya akan berakhir dengan suatu kenyataan yang menggembirakan.
Sesungguhnya masa lalu adalah sesuatu yang tak akan terulang, ia merekam jejak langkah kita dan menjadi saksi sejarah yang telah ditanam. Kala ia berbuah suatu prestasi kebajikan maka beruntunglah orang-orang yang mendapatkan cahayanya yang berpendar. Sebab selama bumi masih terkembang, ia menjadi prasasti kebajikan yang menjadi keteladanan orang-orang sesudahnya, mengalirlah amal kebajikan itu dari pancaran mata airnya yang bening laksana air terjun berkilau atas terpaan mentari pagi yang menyegarkan.
Dan,
Masa depan di dunia ini adalah suatu hal yang jauh dari pikiran dan imajinasi, misteri hidup yang tak terukur, entah dapat diraih atau tidak. Sesungguhnya masa depan tak terkalahkan adalah masa depan akhirat, disana terbentang keadilan dan segala macam bentuk akibat dari apa yang ditanam hari di dunia.
Jelas sudah, hari ini, itulah hari kita yang menentukan. Menentukan pilihan hidup, apakah akan menjadi orang beruntung, atau memilih menjadi orang yang menyesal. Hari inilah kita menanam apa yang bisa kita tanam, agar kelak hasilnya dapat diraih pada waktu yang telah ditentukan.
Siapa yang tidak pernah mengambil bagian dari kehidupan yang terindah, niscaya ia takkan merasakan keindahan abadi kelak di akhirat.
Sungguh !
Keindahan ukhuwah, kebersamaan, berbagi, dalam relung-relung jiwa saudara seperjuangan dalam iman adalah keindahan yang begitu dahsyat. Ia dapat meluluhlantakkan keegoan dan fanatisme, membungkam jiwa-jiwa para pendengki walau hanya untuk sekedar mengucapkan satu kata, menghancurkan tembok-tembok penghalang sekeras karang sekalipun, dan ketahuilah …ia merupakan suatu kekuatan yang sejarah telah membuktikan dapat menghancurkan keangkaramurkaan yang dibisikkan para Iblis la’natullah.
Untuk kita kawan,
Tidakkah engkau merasakan keindahan hidup telah menjalar dalam jiwa-jiwa kita ? Dalam komunitas besar yang kita bangun dari generasi-generasi. Ya, komunitas keluarga besar PK MAN Maninjau. Dalam simpul akidah yang begitu kokoh, belajar tentang Islam agar kita menjadi penuntut ilmu yang benar-benar mengamalkan petunjuk Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah  saw. Belajar untuk saling mencintai dan saling menghargai, dan segala macam permasalahan kita atasi dengan dasar ukhuwah.
Tidakkah engkau merasakan kawan?
Bahwa, ternyata kita telah besar, jumlah kita semakin banyak, dan telah banyak diantara kita yang membuktikan bahwa kita layak menjadi yang terbaik, karena memang kita layak untuk itu. Layak karena kita telah berjuang, karena kita memang berjuang, dan karena kita yakin akan makna sebuah perjuangan. Satu hal, karena kita yakin bahwa kita berada dalam perjuangan titian yang benar, berjuang atas ridha yang Allah swt. berikan pada orang-orang yang bersedia meniti jalan-Nya. 
Hari ini, ….
Kisah kita terekam, jejak kitapun terukir, mata rantai sejarah kita semakin panjang, dalam memori yang begitu indah, dalam kenangan yang mengharu biru, dalam decak kagum menyaksikan keindahan ciptaan Allah swt, dalam derai tawa ditengah peluh dan keringat yang membasahi badan, hiking di seputaran Dama Gadang, 31 Agustus 2014 ini adalah mata rantai mozaik kebersamaan kita yang terukir dalam pahatan-pahatan sejarah, dalam ukiran-ukiran dinding batu ukhuwah.
Tak tanggung-tanggung, tahun ini (1435 H), tiga generasi PK MAN Maninjau menyatu, menyatunya hati kita. Generasi yang kita sematkan sebagai bentuk upaya nawaitu agar kita mampu menjadi apa yang kita sematkan pada diri kita; Generasi Hadhari (X PK), Generasi Wira’i (XI PK), dan Generasi Ash-Haby (XII PK).




Kenanglah …!!!
Pagi itu, Minggu, 31 Agustus 2014, hujan megguyuri bumi, adakah keraguan dihati kita kawan? Untuk menuntaskan nawaitu yang telah kita bangun ? Nawaitu untuk menyusuri hutan dan perkampungan Dama Gadang hanya dengan berjalan kaki, Hiking . Yang jelas, keraguan tidak akan dapat mengalahkan tekad, dan kita memilih tekad itu.




Kesudahannya, kala tekad kita telah bulat, jiwa kita telah kokoh, dan kita yakin bahwa yang kita lakukan adalah suatu kebajikan, lihat bagaimana Allah swt. mengatur urusan kita. Boleh saja pagi itu hujan, boleh saja keadaaan menghimpit  menuntut membatalkan nawaitu. Tapi kita punya Allah swt. yang mengatur segala urusan. Dan kita yakin urusan yang ditetapkan Allah swt. terhadap kita tepat.
Dan kitapun berangkat. Para kafilah tiga generasi dengan segala macam kegembiraan, menuju hutan dan perkampungan Dama Gadang yang begitu asri. Jalan-jalan yang berliku, berkelok, mendaki, terkadang menurun, dipayungi langit yang begitu damai tak menyengat, menghadiahi kita perjalanan yang begitu indah sarat kenangan.




Dimana hujan  tadi ???
Ia seakan raib dihisab nawaitu kita yang menggelora, ia menyingkir dari cita-cita kita, karena sesungguhnya ia patuh pada aturan Allah swt. yang telah memberi kita izin untuk menuntaskan misi yang begitu hebat, merajut ukhuwah dalam ikatan yang kokoh melalui agenda besar. Subhaanallaah !!! Indahnya jalan hidup ini kala kita sikapi penuh kesyukuran.




Shahabat,
Seperti itulah kita, diajarkan membangun kebersamaan, membangun cinta dan ukhuwah, melalui alam sebagai bagian dari ayat-ayat Allah swt. Apa yang kita bangun dalam perjalanan Hiking, saling tolong menolong, saling peduli, saling menasehati, dan merasa kita satu bangunan yang kokoh, akan mampu membentuk kita menjadi pribadi yang kuat, baik secara individual, maupun secara sosial.




Inilah kita keluarga besar PK MAN Maninjau. Kita bersaudara, kita se-Iman, kita seperjuangan. Apa yang hendak kita raih dalam jama’ah ini jelas, ilmu yang hendak kita peroleh nyata, dan apa tujuan kita menjadi bagian ini tak diragukan.



Sahabat,
Kita diciptakan untuk beribadah, bukankah demikian Allah swt. mengajarkannya (Lihat Q.s. Adz-Dzariyat : 6). Kita mengemban misi sebagai khalifah dipermukaan bumi, pemegang amanah. Lantas dimana kita akan meraihnya kalau bukan pada komunitas jama’ah yang mengajarkan untuk itu? Dan kita sadar, segala tujuan kita diciptakan, misi kita, dan amanah yang kita emban berada dalam doktrin yang begitu sempurna yakni Al-Qur’an dan Sunnah. Kenyataannya dalam komunitas ini, dalam keluarga besar PK MAN Maninjau,  itulah yang kita gali, kita pelajari, dan kita amalkan. Siapa yang berani membantah kebenaran ini?
Kebersamaan dalam hiking ukhuwah inipun bagian dari pembelajaran kita, bahwa kala hati kita disatukan, maka segala sekat dan pernak-pernik yang menjadi batu penghalang akan luluh dan lebur menjadi debu. Dalam Hiking kita rasakan indahnya kekuatan kebersamaan, kala lemah kita merasakan kelemahan itu bersama-sama dengan saling menguatkan, kegembiraan kita nikmati bersama, tidak ada kita yang lebih hebat, namun kita menjadi hebat dengan kebersamaan kita. Inilah jama’ah, inilah komunitas, dan inilah konsep perjuangan, karena sesungguhnya perjuangan itu dibangun secara berjama’ah.
(Catatan memori hiking ukhuwah keluarga besar PK MAN Maninjau, 31 Agustus 2014 di seputaran Dama Gadang)

Assalaamu'alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh  




Rabu, 06 Agustus 2014

Wasiat Untuk Remaja Islam (13) : Jangan Tasyabbuh, Tunjukkan Dirimu Sebagai Muslim


Ketahuilah …!

Tasyabbuh atau menyerupai orang-orang kafir adalah tindakan orang-orang yang paling bodoh, tindakan orang-orang yang lemah dan tidak menyadari kemuliaan Islam. Sesungguhnya orang-orang Arab jahiliyah itu menjadi hina karena kejahilan akidah dan akhlak yang tercermin dari gaya hidup mereka. Mereka bukan orang bodoh yang tidak berilmu pengetahuan. Mereka kaum cerdas yang memiliki tingkat daya fikir yang begitu tinggi, ahli sya’ir dan memiliki keteguhan jiwa dalam perjuangan hidup. Namun mereka menjadi hina dikarenakan akidah dan akhlak mereka yang menyimpang dari fitrah. Kala Islam datang, mereka menjadi mulia, kedudukan kaum perempuan mendapat tempat, bahkan dari mereka lahir-lahir sosok hebat yang dahsyat luar biasa hingga melahirkan peradaban yang memancar ke penjuru dunia. Mereka menjadi bangsa yang dihargai dan dimuliakan, mereka menjadi kekuatan super power di bawah nilai-nilai Islam, berabad-abad lamanya, dan wilayah yang mendapatkan pengaruh merekapun menjadi mulia dengannya.

Untuk itu, apa alasan untuk mencari jalan lain selain Islam untuk mencapai kemuliaan? Islam telah mengajarkan sistem hidup yang mulia, menanamkan nilai-nilai konsep hidup yang sesungguhnya. Mengenalkan kita pada Sang Pencipta, untuk apa kita hidup, dan mengatur interaksi antar sesama, bahkan dengan alam semesta.

Maka, tidak ada alasan bagimu wahaaa…iii generasi Islam !, untuk mencari dan menerapkan gaya hidup yang dipertontonkan musuh-musuhmu, cara-cara hidup kaum kafir yang hendak memalingkan nilai-nilai ajaran agamamu yang luhur. Sesungguhnya hal itu tidak lebih dari cara-cara mereka yang hendak memalingkanmu dari ajaran keluhuran Islam sebagai agamamu. Bahkan betapa banyak dari kalangan yang tidak se-akidah dan tidak seagama denganmu yang meniru dan menerapkan keluhuran ajaran agamamu, pertanda mereka mengakui kesempurnaan ajaran agamamu.

Tasyabbuh dengan Meniru-niru gaya hidup orang-orang kafir merupakan kesalahan fatal bagimu yang menunjukkan kedangkalan pemahamanmu tentang Islam. Dan Ketahuilah …, hal itu hanya akan menjerumuskanmu pada jurang-jurang kejahiliyahan.

Aduhai …, ketahuilah … !

Bangsa Arab jahiliyah menjadi mulia dengan Islam seperti yang kau anut. Jika kau memilih cara-cara hidup musuh-musuhmu dari kaum kafir, sesungguhnya engkau ingin mengembalikan dirimu pada kejahiliyahan, dan itu artinya engkau hendak menghinakan dirimu. Kebodohan apa yang melebihi kebodohan ini? Renungkanlah …pikirkanlah dengan pemikiran yang sehat, gunakan akalmu sebelum kemuliaannya dicabut dari dirimu.

Jangan engkau mencari-cari alasan, bahwa engkau meniru-niru gaya hidup mereka hanya dalam urusan keduniaan, bukan dalam urusan agama. Tahukah engkau, bahwa gaya hidup yang mereka pertontonkan adalah gaya hidup ajaran agama. Apa yang engkau lihat dari gaya hidup mereka adalah ajaran-ajaran yang dilarang dalam Islam. Hati-hatilah engkau dalam hal ini, jangan engkau sampai terpedaya dengan hal-hal yang kelihatannya remeh, tapi menjatuhkanmu.

Mungkin saja engkau akan temukan dari gaya hidup musuhmu dari kalangan orang-orang kafir cara hidup yang tidak bertentangan dengan nilai-nilai kebenaran. Tapi ketahuilah, jika sesuatu itu benar, dan ia menjadi sendi-sendi dari nilai-nilai agama, tentu saja Islam mengajarkannya, Rasulullah saw. akan mengajarkan, maka engkau tak perlu mencari jalan selain dari Islam ini.

Cukupkan dirimu pada Islam dengan kesempurnaannya. Yakinlah ! Allah swt.Maha Sempurna, takkan luput baginya segala kesempurnaan. Maka, tidak ada alasan bagimu untuk mencari kesempurnaan selain dari Islam. Tunjukkan dirimu sebagai orang Islam. Berbuatlah bagaimana Islam mengajarkannya. Tunjukkan dirimu bahwa engkau benar-benar muslim.

Camkanlah ! Sungguh ini penting bagimu ! 

Wasiat Untuk Remaja Islam (12) : Tutur Katamu, peliharalah !

Tutur kata lahir dari lidah yang tak bertulang, ia bolak balik keatas dan kebawah, dan ketahuilah …kala ia telah keluar menjadi suatu kata yang terangkai dalam kalimat, ia akan menunjukkan siapa dirimu yang sesungguhnya, itulah ucapan. Seseorang bisa diukur dari apa yang ia ucapkan. Dan yang menjadi pegangan adalah ucapan pertama yang terlontar.

Sesungguhnya, menahan kata-kata itu berat, tapi menarik kata-kata yang telah keluar lebih berat. Untuk itu peliharalah tutur katamu, agar kau tidak terjerambab pada hal-hal yang dapat membinasakan dirimu sendiri akibat dari tutur katamu. Agar kau tidak menyesali terhadap apa yang kau tuturkan.
Belajar untuk berkata-kata, belajar untuk berucap, tidak perlu pelatihan atau pendidikan khusus. Ia lahir dari kondisi hati. Kala hati dalam keadaan galau, tutur kata akan mewakilinya untuk menunjukkan kegalauan hati. Demikian sebaliknya, kala hati dalam suasana sumringah, kata-katapun akan mewakilkan untuk menampakkan keadaan tersebut. Inilah yang dimaksud, seseorang dapat diukur dari apa yang ia ucapkan. Sebab ucapan itu merupakan cerminan hati.

Engkau bisa saja menipu atau mendustai orang lain dari ucapan yang keluar dari lisanmu, namun apakah kau mampu menipu dirimu sendiri kala kau mengeluarkan kata-kata itu ? Dari nadanya, logat, irama serta lantunan yang keluar dari lisanmu berupa kata-kata itu, bagaimanapun kau mendramatisirnya, akan tetap berbeda dengan keadaan yang mana kau mengeluarkannya tanpa ada indikasi terselubung di dalamnya. Demikianlah dahsyatnya tutur kata, ia tidak bisa ditipu, walau ia dapat dibolak-balikkan.

Oleh karena itu, bertuturlah dengan baik, peliharalah ia pada jalannya, jangan kau paksa ia untuk melakukan hal-hal yang bertentangan dengan keinginannya. Jika kau tidak mampu untuk itu dalam beberapa keadaan, diam bagimu adalah lebih baik. Lebih menyelamatkanmu dibandingkan kau tetap memaksakan diri untuk bertutur kata.

Saudaraku …!

Sesungguhnya tutur kata merupakan alat komunikasi, alat interaksi dalam menempuh kehidupan, terutama diantara kita sesama insan. Jika alat ini rusak, dan yang keluar dari padanya tidak dapat membuat orang lain menjadi tenang kala mendengarnya, ketahuilah …hubunganmu antar sesama akan rusak. Dapatlah kau ketahui, mengapa memelihara tutur kata begitu penting ? Sebab  berkaitan erat sekali dalam menjaga hubungan antar sesama.


Alangkah indahnya, kala segala tutur katamu kau keluarkan untuk kebajikan, alangkah indahnya kala lisanmu yang cendrung bertutur kata dihiasi lantunann zikir dan madah do’a baik untuk dirimu, keluarga ataupun kaum muslimin. Alangkah mulianya melalui lisanmu seseorang mendapatkan hidayah.

Wasiat Untuk Remaja Islam (11) : Tutuplah Auratmu, Sebab Itu Kewajiban !

Saudaraku !

Apa yang engkau ketahui tentang aurat ? Hakikatnya aurat adalah sesuatu dari anggota tubuhmu yang engkau malu apabila diketahui oleh orang lain tentang sesuatu yang menjadi rahasiamu. Ia merupakan aib yang harus kau tutup rapat-rapat. 

Ia merupakan rahasia dirimu yang tidak berhak diketahui orang lain. Jika kau mengumbarnya, berarti kau telah mengumbar apa yang menjadi rahasia dirimu.  Sungguh aneh jika kau menganggap remeh hal ini. Bukankah kau marah kala rahasiamu diumbar orang lain?Lantas mengapa kau tidak merasa berat untuk mengumbar rahasiamu sendiri ? Adakah kebodohan melebihi hal ini ?

Sudah nyata, aurat perempuan adalah selain muka dan telapak tangan, dan aurat laki-laki adalah batasan antara pusar dan lutut. Tutuplah yang seharusnya kau tutup dan tampakkanlah yang seharusnya kau tampakkan. Ingat ! Tetap jagalah kesopanan. Memang benar bahwa aurat laki-laki adalah sebatas pusar dan lutut, lalu sopankah jika kau berpakaian hanya sebatas itu ? Inilah yang dimaksud menjaga adab dalam menutup aurat, bahwa rusak adabmu jika kau hanya menutup bagian auratmu saja, tanpa memperhatikan adab-adab kesopanan.

Ketahuilah … Saudaraku !

Menutup aurat bukan sekedar menutup anggota tubuh lalu usai begitu saja. Menutup aurat artinya kau tidak  menampakkan bagian auratmu walaupun ia tertutup oleh sesuatu. Jika masih memperlihatkan bentuk tubuhmu yang tergolong aurat walaupun kau menutupnya, sungguh kau belum dikatakan menurut aurat, bahkan agama mengatakan berpakaian tapi telanjang, na’udzubillah.

Sesungguhnya keharusan menutup aurat ini merupakan suatu ajaran luhur dari Islam, agama yang kau anut ini. Ajaran yang bertujuan menjagamu dari segala macam marabahaya, baik marabahaya secara lahir, batin dan hakikat. Yang dimaksud menjaga marabahaya secara lahir, dapat menjaga suhu tubuhmu agar stabil, menjaga dari serangan penyakit, menjaga dari panas dan dingin. Sedangkan menjaga marabahaya secara batin, menjagamu dari kesombongan jiwa bahwa milikmu yang paling berharga bukan untuk dipamerkan. Dan menjaga marabahaya secara hakikat, bahwa dengan menutup aurat kau akan terjaga dari gangguan orang-orang jahat, hal ini akan nampak sekali pengaruhnya bagi kaum perempuan.

Secara hakikat menutup aurat adalah suatu identitas, ia pembeda antara mukmin dan kafir, ia menjadi kehormatan dan meninggikan derajat. Maka camkanlah hal ini. Karena sesungguhnya dampak dari kewajiban menutup aurat merupakan kemashlahatan untuk dirimu sendiri.

Takutlah kau akan ancaman bagi orang-orang yang enggan menutup aurat. Belajarlah dari akibat dan dampak yang kau saksikan dari orang-orang yang telah melanggar aturan ini. Ambillah i’tibar bagaimana para orang-orang shaleh terdahulu memahami tentang pentingnya menutup aurat, bagaimana mereka bersegera melaksanakan kewajiban menutup aurat kala perintah menutup aurat itu datang. 


Karena aurat adalah aib, maka kau tidak perlu mencari alasan-alasan yang mengada-ada untuk melegalkan tidak menutup aurat dalam kondisi tertentu. Seperti enggan menutup aurat dalam cuaca panas. Enggan menutup aurat karena belum terbuka hatimu untuk menunaikannya. Aduhai …alasan apapun yang kau berikan, tidak akan merubah makna kewajiban menutup aurat. Yang perlu kau pahami, menutup aurat adalah kewajiban.

Wasiat Untuk Remaja Islam (10) : Carilah Pasangan Hidup Yang Mengokohkanmu di Jalan Iman

Saudaraku …

Jangan kau mencari-cari alasan, bahwa kau memilih orang yang jelek akhlaknya sebagai pasangan hidupmu dengan tujuan memperbaiki akhlaknya.  Sesungguhnya hal itu hanyalah alasanmu untuk mencapai keinginan syahwatmu yang lebih memandang seseorang itu berdasarkan nafsu belaka.

Pentingnya memilih pasangan merupakan kebutuhan akan tumbuhnya keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah. Muaranya akan lahir generasi yang shaleh. Berlanjut keturunan yang shaleh. Dan ketahuilah …semua itu bermula dari kemampuan memilih pasangan hidup.

Memilih pasangan yang mengokohkanmu di jalan iman, demikianlah yang harus kau lakukan. Tentunya yang kau cari adalah pasangan yang selalu berupaya mengokohkan imannya. Karena tidak mungkin ia akan mengokohkanmu jika ia sendiri tidak berupaya mengokoh imannya.

Bersatunya ikatan hati dalam pernikahan suci, terbentuknya sebuah keluarga merupakan sunnah Rasulullah saw., maka tanamkanlah nawaitumu untuk membangun keluarga dengan tujuan mengamalkan sunnah. Bagaimana sunnah mengajarkan untuk mencari pasangan, demikianlah hendaknya kau tunaikan.

Sudah jelas bahwa yang paling mulia dari segalanya adalah memilih pasangan berdasarkan agamanya. Berdasarkan agama tentu saja yang beriman. Dengan iman itulah ia akan mengokohkanmu.

Tak terlalu rumit untuk mengetahui seseorang itu beriman atau tidak, saksikan perilaku kesehariannya, karena iman itu nampak dari perilaku. Jika bertentangan dengan ketetapan syari’at, akhlakul karimah, dan segala rambu-rambu yang telah digariskan syara’, sungguh ia tidak beriman.

Waspadalah ! 

Tidak ada jaminan, seseorang yang tampak bagimu rajin datang ke masjid, atau melakukan gerakan shalat lantas ia disebut orang beriman. Dan tidak dijamin pula seseorang yang tampak menggunakan pakaian yang menunjukkan keshalehan seperti perempuan yang menggunakan jilbab lalu ia menjadi orang shaleh.

Bukti iman dan keshalehan terpatri dari akhlak yang tercermin dari kesehariannya. Jika kau hendak mengetahui akidah seseorang, benar atau tidak, maka saksikanlah pandangannya terhadap syari’at, apakah dia patuh, ketakutannya akan maksiat apakah benar-benar ia tinggalkan, cara dia menyikapi permasalahan hidup, kemana ia menggantungkan urusan.

Engkau bisa menyaksikan dari keluh kesahnya, sikapnya, serta bentuk perilakunya. Jika ia orang yang sering mengeluh, sungguh ia hakikatnya bukanlah orang yang beriman dengan sebenar-benar beriman. Jika ia tampak bagimu menutup aurat tapi perilakunya tidak mencerminkan dari pakaian yang ia pakai, sungguh imannya perlu dipertanyakan. Jika ia tampak bagimu seakan seperti ahli ibadah, rajin shalat, rajin puasa sunnah, tapi perilakunya tidak lepas dari menyakiti orang lain, menyebut kejelekan saudaranya dan lain sebagainya, lantas dimana imannya ?

Selektiflah ! 

Engkau harus mampu memilah dan memilih, istikharah penting bagimu. Jangan kau terjebak dalam bisikan-bisikan syetan untuk menyegerakan pernikahan lalu kau dengan serampangan mencari pasangan dengan alasan umurmu telah terlalu lewat dan terlambat untuk menikah, sehingga kau terlalu ceroboh dan tergesa-gesa untuk menyegerakannya.

Memang menyegerakan pernikahan itu penting, sebab penyegeraan itu akan menjagamu dari bencana yang besar. Tapi jika kau ceroboh, bencana lebih besarpun akan menimpamu.

Memang tidak ada manusia yang sempurna, dengan pernikahanlah kesempurnaan akan diperoleh, karena adanya saling mengisi kekurangan. Tapi ini bukan berarti engkau harus memilih pasanganmu yang lemah kesempurnaannya. Kau harus berupaya mencari titik-titik yang dapat mencapai kesempurnaan itu.

Dan titik itu, itulah yang mengokohkan iman. Ini juga bukan berarti kau harus mencari pasangan yang telah sempurna keimanannya, sebab itu kemungkinan besar tidak mungkin kau temukan, walaupun tetap saja mungkin. Tapi yang dimaksud, carilah pasangan yang dapat mengokohkanmu di jalan iman. Keberadaannya bukan melemahkan imanmu, tapi semakin membuat ghirahmu semakin menggebubu untuk mencapai kesempurnaan iman. Semua itu tidak akan kau dapat jika kau tidak selektif, dan tidak akan kau temukan jika kau sendiri tidak paham dengan makna iman itu sendiri.

Sabtu, 02 Agustus 2014

Beginilah Jama'ah Mendidik Kita

“Dan berpegang teguhlah kamu semuanya dengan tali (agama) Allah, dan janganlah bercerai berai …”
(T.Q.S. Ali Imran : 103)

Jama’ah, itulah yang membuat kita tegar. Jama’ah, disanalah kekuatan jiwa tertempa. Dan Jama’ah, disana mekar taman-taman cinta penuh gelora ukhuwah. Karena dalam jama’ah kita bertemu banyak orang, bukan sembarang orang, tapi kumpulan orang yang memiliki komitmen dalam satu nawaitu yang begitu dahsyat, sama-sama mencari ridha Allah swt. Disanalah jiwa yang asing mendapat keramaian, kegalauan pupus dihembus angin saling mengingatkan, kefuturan luluh lantak dalam semangat ukhuwah, dan iman yang menurun secara cepat menanjak naik dengan lesatan yang begitu memukau. Itulah jama’ah, disanalah keutamaannya.
Dalam pergerakan Islam ataupun membangun kekuatan dan tataran nilai-nilai Islami, jama’ah merupakan suatu keharusan, ia menjadi pemicu bangkitnya semangat untuk bergerak. Jangan kita mengira apa yang kita lakukan akan mampu menyelesaikan perkara dengan dalamnya ilmu kita tanpa adanya kekuatan jama’ah. Mungkin saja ilmu kita luas dan pemahaman kita mumpuni dalam hal materi dakwah ataupun pergerakan, tapi itu bukan berarti kita bisa bergerak sendiri tanpa adanya jama’ah.
Apakah kita lupa, bahwa terkadang semangat itu terkadang naik dan terkadang datar, malah terkadang menurun. Kala ia menurun maka jama’ahlah yang menguatkannya. Pertemuan dengan saudara dalam jama’ah bagaikan amunisi yang kembali menghidupkan ghirah. Tahukah kita segala kekurangan diri hanya akan dapat ditambal oleh jama’ah. Artinya bisa saja kita memiliki banyak kemampuan, tapi ada yang tidak kita miliki, namun dimiliki anggota jama’ah, maka jama’ahlah yang akan menyempurnakannya. Yang perlu diingat  tak ada kita yang sempurna, kesempurnaan hanya akan terbentuk dengan menyatukan serpihan-serpihan yang terserak-serak hingga membentuk satu kesatuan, jama’ah adalah wadahnya.
Kesadaran inilah yang membuat kita merasa butuh dengan jama’ah, membuat kita merasa memiliki, membuat kita merasa bahwa hidup bukanlah sendiri. Hingga hal tersebut menumbuhkan suatu rasa bahwa hidup berjama’ah merupakan suatu keharusan.
Maka perhatikanlah bagaimana Islam menanamkan indahnya konsep jama’ah dalam shalat berjama’ah. Mulai dari fadhilah yang menjanjikan dua puluh derajat nilainya dibandingkan shalat sendirian, hingga nilai-nilai penerapannya. Jama’ah yang dibangun dengan satu kepemimpinan, dan dilarang membentuk jama’ah tandingan dalam waktu dan tempat yang bersamaan suatu isyarat bahwa kita harus bersatu dalam satu komando kepemimpinan. Kepatuhan akan pemimpin menjadi syarat diterima shalatnya berjama’ah, tak dibenarkan mendahului imam (pemimpin) walau sekecil apapun bentuk tindakannya, ancamannya, siapa yang melanggar kelak diakhirat akan dibangkitkan kepalanya diganti dengan himar. Aduhai …apakah gambaran binatang yang lebih bodoh dari pada himar?
Dalam jama’ah, kita dibina saling mengingatkan, dan saling menghargai. Bukankah kala sang imam (pemimpin) salah, menjadi keharusan bagi ma’mum untuk meluruskannya. Ini berarti orang atau sosok yang kita didahulukan dan yang memimpin sekalipun ada kemungkinan melakukan kesalahan, dan walaupun ia pemimpin jika salah tetap salah, harus diluruskan. Subhaanallaah ! Begitu dahsyatnya jama’ah.
Adakah yang melebihi seseorang dalam shalat berjama’ah? Ya, ketaqwaannnya dan kefahamannya akan agama, maka yang lebih itu berhak menjadi imam. Demikianlan jama’ah mengajarkan bahwa seseorang yang layak dimuliakan hanyalah berdasarkan ketaqwaannya dan kefahamannya akan agama, bukan berdasarkan kekayaan atau keindahan fisik. Dan lihatlah pancaran shalat jama’ah itu dalam shaf-shaf para makmum yang mengikuti imam. Bagaikan pasukan yang tersusun rapi dalam satu komando yang teratur, tak ada yang saling mendahului, sama-sama terikat dengan arahan sang imam. Bahu mereka saling bersentuhan, serentak rukuk dan sujud, mereka berlomba berebut shaf terdepan, semuanya punya hak mendapatkan keutamaan, tak ada yang harus didahulukan karena kedudukannya di dunia.

Sungguh…, demikianlah jama’ah, yang membuat hati lapang bersamanya, membuat jiwa terbang kealam keindahan  penuh pesona, alam yang membuat kita merasa hidup terasa indah. Alam yang memupus strata sosial, mengikis keangkuhan pribadi dan arogansi jiwa. Alam yang menyatukan hati untuk tunduk pada satu poros pengabdian hanya untuk Allah swt. Beruntunglah orang-orang  yang mengambil keutamaan jama’ah, dan  kerugian besar akan menimpa orang-orang yang memisahkan diri dari jama’ah.