“Dan berpegang teguhlah kamu semuanya dengan tali
(agama) Allah, dan janganlah bercerai berai …”
(T.Q.S. Ali Imran : 103)
Jama’ah, itulah yang membuat kita tegar.
Jama’ah, disanalah kekuatan jiwa tertempa. Dan Jama’ah, disana mekar taman-taman
cinta penuh gelora ukhuwah. Karena dalam jama’ah kita bertemu banyak orang,
bukan sembarang orang, tapi kumpulan orang yang memiliki komitmen dalam satu
nawaitu yang begitu dahsyat, sama-sama mencari ridha Allah swt. Disanalah jiwa
yang asing mendapat keramaian, kegalauan pupus dihembus angin saling
mengingatkan, kefuturan luluh lantak dalam semangat ukhuwah, dan iman yang
menurun secara cepat menanjak naik dengan lesatan yang begitu memukau. Itulah
jama’ah, disanalah keutamaannya.
Dalam pergerakan Islam ataupun membangun
kekuatan dan tataran nilai-nilai Islami, jama’ah merupakan suatu keharusan, ia
menjadi pemicu bangkitnya semangat untuk bergerak. Jangan kita mengira apa yang
kita lakukan akan mampu menyelesaikan perkara dengan dalamnya ilmu kita tanpa
adanya kekuatan jama’ah. Mungkin saja ilmu kita luas dan pemahaman kita mumpuni
dalam hal materi dakwah ataupun pergerakan, tapi itu bukan berarti kita bisa
bergerak sendiri tanpa adanya jama’ah.
Apakah kita lupa, bahwa terkadang semangat
itu terkadang naik dan terkadang datar, malah terkadang menurun. Kala ia
menurun maka jama’ahlah yang menguatkannya. Pertemuan dengan saudara dalam
jama’ah bagaikan amunisi yang kembali menghidupkan ghirah. Tahukah kita segala
kekurangan diri hanya akan dapat ditambal oleh jama’ah. Artinya bisa saja kita memiliki
banyak kemampuan, tapi ada yang tidak kita miliki, namun dimiliki anggota
jama’ah, maka jama’ahlah yang akan menyempurnakannya. Yang perlu diingat tak ada kita yang sempurna, kesempurnaan hanya
akan terbentuk dengan menyatukan serpihan-serpihan yang terserak-serak hingga
membentuk satu kesatuan, jama’ah adalah wadahnya.
Kesadaran inilah yang membuat kita merasa
butuh dengan jama’ah, membuat kita merasa memiliki, membuat kita merasa bahwa
hidup bukanlah sendiri. Hingga hal tersebut menumbuhkan suatu rasa bahwa hidup
berjama’ah merupakan suatu keharusan.
Maka perhatikanlah bagaimana Islam
menanamkan indahnya konsep jama’ah dalam shalat berjama’ah. Mulai dari fadhilah
yang menjanjikan dua puluh derajat nilainya dibandingkan shalat sendirian,
hingga nilai-nilai penerapannya. Jama’ah yang dibangun dengan satu
kepemimpinan, dan dilarang membentuk jama’ah tandingan dalam waktu dan tempat
yang bersamaan suatu isyarat bahwa kita harus bersatu dalam satu komando kepemimpinan.
Kepatuhan akan pemimpin menjadi syarat diterima shalatnya berjama’ah, tak
dibenarkan mendahului imam (pemimpin) walau sekecil apapun bentuk tindakannya,
ancamannya, siapa yang melanggar kelak diakhirat akan dibangkitkan kepalanya
diganti dengan himar. Aduhai …apakah gambaran binatang yang lebih bodoh dari
pada himar?
Dalam jama’ah, kita dibina saling
mengingatkan, dan saling menghargai. Bukankah kala sang imam (pemimpin) salah,
menjadi keharusan bagi ma’mum untuk meluruskannya. Ini berarti orang atau sosok
yang kita didahulukan dan yang memimpin sekalipun ada kemungkinan melakukan
kesalahan, dan walaupun ia pemimpin jika salah tetap salah, harus diluruskan. Subhaanallaah
! Begitu dahsyatnya jama’ah.
Adakah yang melebihi seseorang dalam shalat
berjama’ah? Ya, ketaqwaannnya dan kefahamannya akan agama, maka yang lebih itu
berhak menjadi imam. Demikianlan jama’ah mengajarkan bahwa seseorang yang layak
dimuliakan hanyalah berdasarkan ketaqwaannya dan kefahamannya akan agama, bukan
berdasarkan kekayaan atau keindahan fisik. Dan lihatlah pancaran shalat jama’ah
itu dalam shaf-shaf para makmum yang mengikuti imam. Bagaikan pasukan yang
tersusun rapi dalam satu komando yang teratur, tak ada yang saling mendahului,
sama-sama terikat dengan arahan sang imam. Bahu mereka saling bersentuhan,
serentak rukuk dan sujud, mereka berlomba berebut shaf terdepan, semuanya punya
hak mendapatkan keutamaan, tak ada yang harus didahulukan karena kedudukannya
di dunia.
Sungguh…, demikianlah jama’ah, yang membuat
hati lapang bersamanya, membuat jiwa terbang kealam keindahan penuh pesona, alam yang membuat kita merasa
hidup terasa indah. Alam yang memupus strata sosial, mengikis keangkuhan
pribadi dan arogansi jiwa. Alam yang menyatukan hati untuk tunduk pada satu
poros pengabdian hanya untuk Allah swt. Beruntunglah orang-orang yang mengambil keutamaan jama’ah, dan kerugian besar akan menimpa orang-orang yang
memisahkan diri dari jama’ah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar