WENDRI NALDI EL-MANINJAUI KHATIB BANDARO

WENDRI NALDI EL-MANINJAUI KHATIB BANDARO
WENDRI NALDI EL-MANINJAUI KHATIB BANDARO

Sabtu, 02 Agustus 2014

Beginilah Jama'ah Mendidik Kita

“Dan berpegang teguhlah kamu semuanya dengan tali (agama) Allah, dan janganlah bercerai berai …”
(T.Q.S. Ali Imran : 103)

Jama’ah, itulah yang membuat kita tegar. Jama’ah, disanalah kekuatan jiwa tertempa. Dan Jama’ah, disana mekar taman-taman cinta penuh gelora ukhuwah. Karena dalam jama’ah kita bertemu banyak orang, bukan sembarang orang, tapi kumpulan orang yang memiliki komitmen dalam satu nawaitu yang begitu dahsyat, sama-sama mencari ridha Allah swt. Disanalah jiwa yang asing mendapat keramaian, kegalauan pupus dihembus angin saling mengingatkan, kefuturan luluh lantak dalam semangat ukhuwah, dan iman yang menurun secara cepat menanjak naik dengan lesatan yang begitu memukau. Itulah jama’ah, disanalah keutamaannya.
Dalam pergerakan Islam ataupun membangun kekuatan dan tataran nilai-nilai Islami, jama’ah merupakan suatu keharusan, ia menjadi pemicu bangkitnya semangat untuk bergerak. Jangan kita mengira apa yang kita lakukan akan mampu menyelesaikan perkara dengan dalamnya ilmu kita tanpa adanya kekuatan jama’ah. Mungkin saja ilmu kita luas dan pemahaman kita mumpuni dalam hal materi dakwah ataupun pergerakan, tapi itu bukan berarti kita bisa bergerak sendiri tanpa adanya jama’ah.
Apakah kita lupa, bahwa terkadang semangat itu terkadang naik dan terkadang datar, malah terkadang menurun. Kala ia menurun maka jama’ahlah yang menguatkannya. Pertemuan dengan saudara dalam jama’ah bagaikan amunisi yang kembali menghidupkan ghirah. Tahukah kita segala kekurangan diri hanya akan dapat ditambal oleh jama’ah. Artinya bisa saja kita memiliki banyak kemampuan, tapi ada yang tidak kita miliki, namun dimiliki anggota jama’ah, maka jama’ahlah yang akan menyempurnakannya. Yang perlu diingat  tak ada kita yang sempurna, kesempurnaan hanya akan terbentuk dengan menyatukan serpihan-serpihan yang terserak-serak hingga membentuk satu kesatuan, jama’ah adalah wadahnya.
Kesadaran inilah yang membuat kita merasa butuh dengan jama’ah, membuat kita merasa memiliki, membuat kita merasa bahwa hidup bukanlah sendiri. Hingga hal tersebut menumbuhkan suatu rasa bahwa hidup berjama’ah merupakan suatu keharusan.
Maka perhatikanlah bagaimana Islam menanamkan indahnya konsep jama’ah dalam shalat berjama’ah. Mulai dari fadhilah yang menjanjikan dua puluh derajat nilainya dibandingkan shalat sendirian, hingga nilai-nilai penerapannya. Jama’ah yang dibangun dengan satu kepemimpinan, dan dilarang membentuk jama’ah tandingan dalam waktu dan tempat yang bersamaan suatu isyarat bahwa kita harus bersatu dalam satu komando kepemimpinan. Kepatuhan akan pemimpin menjadi syarat diterima shalatnya berjama’ah, tak dibenarkan mendahului imam (pemimpin) walau sekecil apapun bentuk tindakannya, ancamannya, siapa yang melanggar kelak diakhirat akan dibangkitkan kepalanya diganti dengan himar. Aduhai …apakah gambaran binatang yang lebih bodoh dari pada himar?
Dalam jama’ah, kita dibina saling mengingatkan, dan saling menghargai. Bukankah kala sang imam (pemimpin) salah, menjadi keharusan bagi ma’mum untuk meluruskannya. Ini berarti orang atau sosok yang kita didahulukan dan yang memimpin sekalipun ada kemungkinan melakukan kesalahan, dan walaupun ia pemimpin jika salah tetap salah, harus diluruskan. Subhaanallaah ! Begitu dahsyatnya jama’ah.
Adakah yang melebihi seseorang dalam shalat berjama’ah? Ya, ketaqwaannnya dan kefahamannya akan agama, maka yang lebih itu berhak menjadi imam. Demikianlan jama’ah mengajarkan bahwa seseorang yang layak dimuliakan hanyalah berdasarkan ketaqwaannya dan kefahamannya akan agama, bukan berdasarkan kekayaan atau keindahan fisik. Dan lihatlah pancaran shalat jama’ah itu dalam shaf-shaf para makmum yang mengikuti imam. Bagaikan pasukan yang tersusun rapi dalam satu komando yang teratur, tak ada yang saling mendahului, sama-sama terikat dengan arahan sang imam. Bahu mereka saling bersentuhan, serentak rukuk dan sujud, mereka berlomba berebut shaf terdepan, semuanya punya hak mendapatkan keutamaan, tak ada yang harus didahulukan karena kedudukannya di dunia.

Sungguh…, demikianlah jama’ah, yang membuat hati lapang bersamanya, membuat jiwa terbang kealam keindahan  penuh pesona, alam yang membuat kita merasa hidup terasa indah. Alam yang memupus strata sosial, mengikis keangkuhan pribadi dan arogansi jiwa. Alam yang menyatukan hati untuk tunduk pada satu poros pengabdian hanya untuk Allah swt. Beruntunglah orang-orang  yang mengambil keutamaan jama’ah, dan  kerugian besar akan menimpa orang-orang yang memisahkan diri dari jama’ah. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar