WENDRI NALDI EL-MANINJAUI KHATIB BANDARO

WENDRI NALDI EL-MANINJAUI KHATIB BANDARO
WENDRI NALDI EL-MANINJAUI KHATIB BANDARO

Rabu, 06 Agustus 2014

Wasiat Untuk Remaja Islam (10) : Carilah Pasangan Hidup Yang Mengokohkanmu di Jalan Iman

Saudaraku …

Jangan kau mencari-cari alasan, bahwa kau memilih orang yang jelek akhlaknya sebagai pasangan hidupmu dengan tujuan memperbaiki akhlaknya.  Sesungguhnya hal itu hanyalah alasanmu untuk mencapai keinginan syahwatmu yang lebih memandang seseorang itu berdasarkan nafsu belaka.

Pentingnya memilih pasangan merupakan kebutuhan akan tumbuhnya keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah. Muaranya akan lahir generasi yang shaleh. Berlanjut keturunan yang shaleh. Dan ketahuilah …semua itu bermula dari kemampuan memilih pasangan hidup.

Memilih pasangan yang mengokohkanmu di jalan iman, demikianlah yang harus kau lakukan. Tentunya yang kau cari adalah pasangan yang selalu berupaya mengokohkan imannya. Karena tidak mungkin ia akan mengokohkanmu jika ia sendiri tidak berupaya mengokoh imannya.

Bersatunya ikatan hati dalam pernikahan suci, terbentuknya sebuah keluarga merupakan sunnah Rasulullah saw., maka tanamkanlah nawaitumu untuk membangun keluarga dengan tujuan mengamalkan sunnah. Bagaimana sunnah mengajarkan untuk mencari pasangan, demikianlah hendaknya kau tunaikan.

Sudah jelas bahwa yang paling mulia dari segalanya adalah memilih pasangan berdasarkan agamanya. Berdasarkan agama tentu saja yang beriman. Dengan iman itulah ia akan mengokohkanmu.

Tak terlalu rumit untuk mengetahui seseorang itu beriman atau tidak, saksikan perilaku kesehariannya, karena iman itu nampak dari perilaku. Jika bertentangan dengan ketetapan syari’at, akhlakul karimah, dan segala rambu-rambu yang telah digariskan syara’, sungguh ia tidak beriman.

Waspadalah ! 

Tidak ada jaminan, seseorang yang tampak bagimu rajin datang ke masjid, atau melakukan gerakan shalat lantas ia disebut orang beriman. Dan tidak dijamin pula seseorang yang tampak menggunakan pakaian yang menunjukkan keshalehan seperti perempuan yang menggunakan jilbab lalu ia menjadi orang shaleh.

Bukti iman dan keshalehan terpatri dari akhlak yang tercermin dari kesehariannya. Jika kau hendak mengetahui akidah seseorang, benar atau tidak, maka saksikanlah pandangannya terhadap syari’at, apakah dia patuh, ketakutannya akan maksiat apakah benar-benar ia tinggalkan, cara dia menyikapi permasalahan hidup, kemana ia menggantungkan urusan.

Engkau bisa menyaksikan dari keluh kesahnya, sikapnya, serta bentuk perilakunya. Jika ia orang yang sering mengeluh, sungguh ia hakikatnya bukanlah orang yang beriman dengan sebenar-benar beriman. Jika ia tampak bagimu menutup aurat tapi perilakunya tidak mencerminkan dari pakaian yang ia pakai, sungguh imannya perlu dipertanyakan. Jika ia tampak bagimu seakan seperti ahli ibadah, rajin shalat, rajin puasa sunnah, tapi perilakunya tidak lepas dari menyakiti orang lain, menyebut kejelekan saudaranya dan lain sebagainya, lantas dimana imannya ?

Selektiflah ! 

Engkau harus mampu memilah dan memilih, istikharah penting bagimu. Jangan kau terjebak dalam bisikan-bisikan syetan untuk menyegerakan pernikahan lalu kau dengan serampangan mencari pasangan dengan alasan umurmu telah terlalu lewat dan terlambat untuk menikah, sehingga kau terlalu ceroboh dan tergesa-gesa untuk menyegerakannya.

Memang menyegerakan pernikahan itu penting, sebab penyegeraan itu akan menjagamu dari bencana yang besar. Tapi jika kau ceroboh, bencana lebih besarpun akan menimpamu.

Memang tidak ada manusia yang sempurna, dengan pernikahanlah kesempurnaan akan diperoleh, karena adanya saling mengisi kekurangan. Tapi ini bukan berarti engkau harus memilih pasanganmu yang lemah kesempurnaannya. Kau harus berupaya mencari titik-titik yang dapat mencapai kesempurnaan itu.

Dan titik itu, itulah yang mengokohkan iman. Ini juga bukan berarti kau harus mencari pasangan yang telah sempurna keimanannya, sebab itu kemungkinan besar tidak mungkin kau temukan, walaupun tetap saja mungkin. Tapi yang dimaksud, carilah pasangan yang dapat mengokohkanmu di jalan iman. Keberadaannya bukan melemahkan imanmu, tapi semakin membuat ghirahmu semakin menggebubu untuk mencapai kesempurnaan iman. Semua itu tidak akan kau dapat jika kau tidak selektif, dan tidak akan kau temukan jika kau sendiri tidak paham dengan makna iman itu sendiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar