Assalaamu'alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh
Bersyukur kita kepada Allah SWT yang telah menuntun kita pada jalan kebenaran, Shalawat teruntuk Rasulullah SAW yang telah memberikan kita ruang-ruang motivasi untuk bersemangat dalam memperjuangkan Islam.
Ahmad Zairofi AM, dalam bukunya " Lelaki Pendek, Hitam dan Lebih Jelek dari Untanya ", terbitan Tarbawi Press, 2006, dengan gaya bahasa yang menyentuh menuturkan sebuah kisah inspiratif :
" Nama lelaki itu mudah dikenal, Yahya ibnu Yahya. Nun jauh dari Andalusia ia berasal. Ia pergi menuntut ilmu ke Madinah. Berguru pada Imam Malik. Andalusia-Madinah adalah jarak yang teramat jauh. ...
Hari-hari menimba ilmu pun ia lalui di Madinah yang tenang. Hingga suatu hari, saat tengah berada di majelis bersama murid-murid yang lain, tiba-tiba ada rombongan orang-orang entah dari mana. Mereka datang sambil membawa gajah. Murid-murid Imam Malik berhamburan keluar ingin melihat gajah. Di jazirah Arab, makhluk besar berbelalai itu saat itu memang tergolong asing. Maka orang-orang pun keluar ingin melihat lebih dekat. Begitupun murid-murid Imam Malik.
Semua beranjak, kecuali Yahya bin Yahya. Hingga semua keluar Yahya tetap duduk di majelis itu. Melihat itu Imam Malik mendekat. " Mengapa engkau tidak keluar juga untuk melihat gajah ?" tanya Imam Malik. Yahya menjawab, " Aku jauh-jauh datang dari Andalusia untuk menuntut ilmu, bukan untuk melihat gajah." Imam Malik sangat kagum dengan keteguhan Yahya. Setelah itu Imam Malik pun menggelarinya ' aqilu Andalus (lelaki berakal dari Andalusia )".( Halaman 87-88 ).
Kita kutip kisah ini sebagai bahan intropeksi bagi kita yang bercita-cita besar untuk membangun kejayaan Islam, belajar dari keteguhan Yahya bin Yahya, bercerita tentang sebuah nawaitu.
Lihatlah bagaimana Yahya bin Yahya mewujudkan kesungguhan niatnya dalam menuntut ilmu yang diwujudkan dalam amal nyata, niatnya satu-satunya datang jauh-jauh dari Andalusia ke Madinah yang memiliki jarak tempuh yang begitu jauh hanya untuk menggali ilmu dari Imam Malik, bukan untuk yang lain. Maka ia pancangkan cita-cita tersebut dengan tetap istiqamah tanpa berpaling kepada apapun, walaupun ada halangan dan rintangan serta godaan yang menari-nari di depan mata.
Dalam persepektif kita yang memiliki cita-cita nawaitu ikhlas untuk memperjuangkan Dakwah Ilalallah, keistiqamahan dalam mewujudkan sebuah nawaitu merupakan sebuah keniscayaan, karena disinilah cita-cita itu akan mencapai puncaknya, disaat sesuatu yang dirancang dan diusahakan berjalan dengan konsep yang tidak berubah-ubah ( istiqamah ).
Banyak hal-hal yang menggoda untuk membuat kita membelokkan arah nawaitu dalam memperjuangkan risalah Islam ini, beratnya beban dakwah yang harus dipikul, terjalnya jalan yang harus ditelusuri dan tingginya benteng yang menghadang terkadang membuat kita mulai ragu akan hasil sebauah perjuangan. Belum lagi rintangan yang mencuat muncul dari dalam diri kita, sifat ananiyah ( egoisme ), merasa benar sendiri, semakin memperkeruh nawaitu yang telah ditancapkan.
Oleh karena itu, tiada lain, intropeksi dalam artian memuhasabahi diri dalam meniti jalan perjuangan dengan selalu mengoreksi nawaitu menjadi suatu keharusan. Semua itu diantaranya belajarlah dari orang-orang shaleh, pejuang-pejuang, ulama-ulama terdahulu, dari mereka terpancar nilai-nilai keagungan sarat makna yang layak kita jadikan i'tibar. Semakin kita belajar dari mereka, semakin menyadarkan kita, bahwa perjuangan yang kita lakukan selama ini untuk Islam, yang mungkin kita anggap sebuah perjuangan yang besar ternyata seberat dzarrahpun belum mampu menyamai mereka. Disisi lain hal tersebut akan menjadi cemeti bagi kita untuk lebih menguatkan azzam perjuangan dengan selalu menjaga konsistensi akan sebuah nawaitu. Bukankah Allah SWT mengukur apa yang kita lakukan berdasarkan nawaitu ?.
Assalaamu'alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh
Bersyukur kita kepada Allah SWT yang telah menuntun kita pada jalan kebenaran, Shalawat teruntuk Rasulullah SAW yang telah memberikan kita ruang-ruang motivasi untuk bersemangat dalam memperjuangkan Islam.
Ahmad Zairofi AM, dalam bukunya " Lelaki Pendek, Hitam dan Lebih Jelek dari Untanya ", terbitan Tarbawi Press, 2006, dengan gaya bahasa yang menyentuh menuturkan sebuah kisah inspiratif :
" Nama lelaki itu mudah dikenal, Yahya ibnu Yahya. Nun jauh dari Andalusia ia berasal. Ia pergi menuntut ilmu ke Madinah. Berguru pada Imam Malik. Andalusia-Madinah adalah jarak yang teramat jauh. ...
Hari-hari menimba ilmu pun ia lalui di Madinah yang tenang. Hingga suatu hari, saat tengah berada di majelis bersama murid-murid yang lain, tiba-tiba ada rombongan orang-orang entah dari mana. Mereka datang sambil membawa gajah. Murid-murid Imam Malik berhamburan keluar ingin melihat gajah. Di jazirah Arab, makhluk besar berbelalai itu saat itu memang tergolong asing. Maka orang-orang pun keluar ingin melihat lebih dekat. Begitupun murid-murid Imam Malik.
Semua beranjak, kecuali Yahya bin Yahya. Hingga semua keluar Yahya tetap duduk di majelis itu. Melihat itu Imam Malik mendekat. " Mengapa engkau tidak keluar juga untuk melihat gajah ?" tanya Imam Malik. Yahya menjawab, " Aku jauh-jauh datang dari Andalusia untuk menuntut ilmu, bukan untuk melihat gajah." Imam Malik sangat kagum dengan keteguhan Yahya. Setelah itu Imam Malik pun menggelarinya ' aqilu Andalus (lelaki berakal dari Andalusia )".( Halaman 87-88 ).
Kita kutip kisah ini sebagai bahan intropeksi bagi kita yang bercita-cita besar untuk membangun kejayaan Islam, belajar dari keteguhan Yahya bin Yahya, bercerita tentang sebuah nawaitu.
Lihatlah bagaimana Yahya bin Yahya mewujudkan kesungguhan niatnya dalam menuntut ilmu yang diwujudkan dalam amal nyata, niatnya satu-satunya datang jauh-jauh dari Andalusia ke Madinah yang memiliki jarak tempuh yang begitu jauh hanya untuk menggali ilmu dari Imam Malik, bukan untuk yang lain. Maka ia pancangkan cita-cita tersebut dengan tetap istiqamah tanpa berpaling kepada apapun, walaupun ada halangan dan rintangan serta godaan yang menari-nari di depan mata.
Dalam persepektif kita yang memiliki cita-cita nawaitu ikhlas untuk memperjuangkan Dakwah Ilalallah, keistiqamahan dalam mewujudkan sebuah nawaitu merupakan sebuah keniscayaan, karena disinilah cita-cita itu akan mencapai puncaknya, disaat sesuatu yang dirancang dan diusahakan berjalan dengan konsep yang tidak berubah-ubah ( istiqamah ).
Banyak hal-hal yang menggoda untuk membuat kita membelokkan arah nawaitu dalam memperjuangkan risalah Islam ini, beratnya beban dakwah yang harus dipikul, terjalnya jalan yang harus ditelusuri dan tingginya benteng yang menghadang terkadang membuat kita mulai ragu akan hasil sebauah perjuangan. Belum lagi rintangan yang mencuat muncul dari dalam diri kita, sifat ananiyah ( egoisme ), merasa benar sendiri, semakin memperkeruh nawaitu yang telah ditancapkan.
Oleh karena itu, tiada lain, intropeksi dalam artian memuhasabahi diri dalam meniti jalan perjuangan dengan selalu mengoreksi nawaitu menjadi suatu keharusan. Semua itu diantaranya belajarlah dari orang-orang shaleh, pejuang-pejuang, ulama-ulama terdahulu, dari mereka terpancar nilai-nilai keagungan sarat makna yang layak kita jadikan i'tibar. Semakin kita belajar dari mereka, semakin menyadarkan kita, bahwa perjuangan yang kita lakukan selama ini untuk Islam, yang mungkin kita anggap sebuah perjuangan yang besar ternyata seberat dzarrahpun belum mampu menyamai mereka. Disisi lain hal tersebut akan menjadi cemeti bagi kita untuk lebih menguatkan azzam perjuangan dengan selalu menjaga konsistensi akan sebuah nawaitu. Bukankah Allah SWT mengukur apa yang kita lakukan berdasarkan nawaitu ?.
Assalaamu'alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh
Tidak ada komentar:
Posting Komentar