WENDRI NALDI EL-MANINJAUI KHATIB BANDARO

WENDRI NALDI EL-MANINJAUI KHATIB BANDARO
WENDRI NALDI EL-MANINJAUI KHATIB BANDARO

Jumat, 10 Juni 2011

Membangun Optimisme Dalam Dakwah

Assalaamu'laikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh


Alhamdulillaahirabbil'aalamiin, Shalawat tercurah buat Rasulullah SAW.


Pada suatu malam seorang penduduk desa tidak bisa tidur karena sakit. Seorang dokter berkata, " Rasa sakit ini disebabkan karena ia telah memakan daun-daun anggur. Aku akan kagum seandainya ia bisa bertahan sampai pagi tiba, karena lebih baik tertusuk anak panah serdadu Tartar dari pada memakan makanan yang tidak bisa dicerna itu."


Malam itu si dokter meninggal. Empat puluh tahun sudah berlalu dan penduduk desa masih hidup.( Halaman 99 )


Bagaimana perasaan kita disaat memahami kisah yang dituturkan Syekh Sa'di Syirazi yang disadur dan diterjemahkan oleh Wahyudi dari naskah " Bustan" ( dari naskah Persia terbitan tahun 1286 ), dengan judul Kisah-kisah di Taman Bunga ( Serial Kisah-Kisah Sufi Teladan 2 ), terbitan Pustaka Progressif, surabaya,2003. Secara kasat mata kisah ini kelihatan sepele, suatu hal yang mungkin saja sering kita mengalami dan melihatnya disekitar kehidupan. Namun untuk sejenak, pernahkah kita mencoba menggali nilai-nilai spiritual yang terkandung dalam kisah tersebut ?


Bagi kita yang telah berusaha dan mencoba untuk bergabung dalam barisan kafilah dakwah hal ini perlu kiranya kita bawakan dalam literatur ruh perjuangan dakwah yang kita tempuh. Di dalamnya sarat dengan nuansa spirit dakwah yang penuh dengan harapan dan tantangan.


Disaat kita mencoba berbicara tentang kejayaan Islam, penerapan syari'at secara kaffah, keshalehan para khalifah, kehebatan para panglima perang Islam di zaman keeemasan Islam, mungkin kita pernah mendapat komentar dari objek dakwah : " Alaaa ...h itu kan dulu ? tidak perlulah engkau berbangga-bangga dengan masa kejayaan masa lalu, semua itu hanyalah nostalgia belaka, jangan pikir yang macam-macam, penegakan syari'at hanyalah sebuah utopia di zaman sekarang ini ... yang penting urus sajalah diri kita sendiri agar kelak kita nanti dapat menyelamatkan diri dari kobaran api neraka, ". Jawaban tersebut tidak jauh beda dengan perkataan seorang dokter dalam kisah di atas : " Rasa sakit ini disebabkan karena ia telah memakan daun-daun anggur. Aku akan kagum seandainya ia bisa bertahan sampai pagi tiba, karena lebih baik tertusuk anak panah serdadu Tartar dari pada memakan makanan yang tidak bisa dicerna itu." Namun lihat peristiwa kunci dari kisah tersebut, Malam itu si dokter meninggal. Empat puluh tahun sudah berlalu dan penduduk desa masih hidup. 


Disini kita diajak untuk merenung ... adakah yang mengetahui apa yang akan terjadi esok atau lusa ?, walaupun sesuatu yang dikaji akan terjadi telah bersepakat para tokoh yang mengaku ahli dibidangnya, namun semuanya berada dalam genggaman Allah SWT. 


Disinilah hikmahnya, mengapa Allah SWT tidak memberi tahukan kepada kita apa yang akan terjadi dimasa yang akan datang, agar tumbuh jiwa optimisme dalam hidup dan harapan-harapan yang akan diperjuangkan tetap bertahan dalam cita-cita yang telah ditancapkan.


Begitu pula dalam urusan dakwah ini, walaupun bagi sebagian orang upaya kita dalam menegakkan izzah islam wal muslimin hanyalah suatu utopia belaka, tapi yakinlah itu hanyalah ungkapan pesimisme yang lahir dari hati yang bercokol jiwa-jiwa pemalas dan pengecut. Hati mereka telah ditutup oleh kabut tebal sehingga tidak mampu lagi memahami makna sebuah perjuangan, untuk apa kita diciptakan dan mau kemana kita setelah hidup ini.


Ketahuilah ... Rasulullah SAW sebagai suri tauladan kita, telah memberikan contoh agung yang begitu banyak tentang sebuah optimisme dalam perjuangan, cobalah gali kembali sirah nabawiyah, hadits-hadits beliau yang menuntun agar kita tetap optimis, duhai ... tidak akan cukup jari ini untuk mengumpulkannya. Dalam konsep ilmu hadits, dikenal istilah hadits Hammiyah, yakni hadits yang merupakan cita-cita Nabi, ini merupakan sebuah pengajaran bahwa dalam hidup kita harus menancapkan harapan dan cita-cita, terlepas apakah cita-cita itu tergapai atau tidak, dan bisa jadi bukan kita yang menunaikan cita-cita tersebut, namun generasi sesudah kita yang mewujudkannya.


Untuk itu, kembali kepada perspektif perjuangan dakwah kita, jangan dirisaukan dan diragukan tentang keberhasilan perjuangan dakwah yang kita perjuangkan, karena sesungguhnya Allah SWT telah memberikan janji bagi siapa yang menolong agama-Nya, maka Allah akan menguatkan-Nya ( Baca surat Muhammad ayat 7 ). Disaat kita yakin dengan keberhasilan akan sebuah perjuangn menegakkan risalah Islam, dan kita ikut berjuang di dalamnya, ternyata Allah SWT tidak memberikan kesempatan bagi kita untuk mereguk hasilnya, maka jangan bersedih, karena yang terpenting dalam urusan dakwah bukan berhasil atau tidaknya kita dalam berjuang, tapi yang terpenting sejauh mana peran kita dalam menanamkan saham menuju kejayaan yang dicita-citakan.


Yang kita cemaskan, jika kita tergolong pada golongan kelompok yang menganggap perjuangan ini sebuah utopia, namun ternyata disaat perjuangan ini menggapai keberhasilan, Na'udzubillah, ternyata kita tidak memiliki peran apa-apa, bagaimana perasaan kita disaat itu ???



Assalaamu'laikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh




  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar