Assalaamu'alikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh
Puji syukur hanya milik Allah SWT, shalawat tercurah buat Rasulullah SAW.
Hati saya bergetar disaat membaca tulisan Herry Nurdi, dalam karyanya yang berjudul The Secret of Heaven, terbitan PT. Lingkar Pena Kreativa, 2009, disaat menuturkan tentang prosesi pemilihan pemimpin yang ditunaikan oleh Muhammad al-Fatih ( sang pembebas Konstantinopel ), saya kutipkan disini tulisan tersebut :
" Saya teringat kisah tentang Muhammad Al-Fatih ketika masuk dan menaklukkan kota Konstantinopel, atau kini yang lebih kita kenal dengan sebutan Istanbul. Pertempuran selesai dan reda, pada hari Rabu saat itu. Setelah cukup beristirahat, Muhammad Al-Fatih mengumpulkan seluruh pasukannya di tanah lapang pada keesokan harinya.
Hari kamis, Muhammad Al-Fatih mengumpulkan pasukannya hanya untuk satu tujuan : memilih imam untuk shalat Jumat, besok hari. Seluruh pasukan berkumpul di tanah lapang, dan Muhammad Al-Fatih mulai mengajukan tiga pertanyaan.
Pertanyaan pertama, " Barangsiapa sejak akil balig sampai hari ini, pernah meninggalkan shalat fardhu, meski sekali silakan duduk !"
Ketika pertanyaan pertama diajukan, jawabannya sungguh luar biasa. Tak seorangpun dari pasukannya yang duduk. Artinya, tak seorangpun dari pasukannya pernah meninggalkan shalat fardhu. Duhai, betapa haibat-haibat kualitas keimanan pasukan Muhammad Al-Fatih ini.
Pertanyaan kedua, " Barangsiapa sejak akil balig sampai hari ini, pernah meninggalkan shalat sunnah rawatib, meski sekali, silakan duduk !"
Ketika pertanyaan kedua diajukan, setengah dari pasukannya duduk. Artinya, secara jujur mereka mengakui bahwa setengah dari pasukan pernah meninggalkan shalat sunnah rawatib. Itupun sungguh luar biasa, menjaga shalat sunnnah rawatib. Siapa yang pernah memikirkannya seserius ini.
Pertanyaan ketiga, " Barangsiapa sejak akil balig sampai hari ini, pernah meninggalkan qiyamul lail, meski hanya semalam, silakan duduk !"
Ketika pertanyaan ketiga diajukan, semua pasukan terduduk dan hanya menyisakan Muhammad Al-Fatih sendiri yang berdiri. Artinya dari semua orang yang hadir, hampir semuanya pernah meninggalkan qiyamul lail dan hanya Muhammad Al-Fatih sendiri yang tak pernah meninggalkan." ( Halaman 116 - 117 )
Subhaaanallaah !
Melihat fenomena ini jelas sudah, jika dilihat dari perspektif kekuatan ruhiyah, keberhasilan dan kemenangan dalam memperjuangkan panji-panji kebenaran Islam hanya akan digapai disaat perjuangan tersebut dipegang oleh pemimpin dan pasukan yang ahli ibadah, dan tentunya dipegang oleh komunitas yang jujur dan ikhlas.
Ada beberapa nilai penting yang dapat kita gali dari peristiwa yang sarat dengan i'tibar dan ibrah ini :
Pertama, Metode pemilihan pimpinan yang ditetapkan Muhammad Al-Fatih untuk memimpin shalat Jumat, kelihatannya sederhana, namun terkandung nilai-nilai agung yang hanya mampu digali oleh hati kita yang penuh ketundukan akan sebuah pengabdian terhadap Allah SWT. Ukuran seseorang yang layak untuk dimanahi sebagai imam adalah kesalehan pribadi yang teraplikasi dalam amal nyata. Bukan berdasarkan penampilan lahiriyah dan kemampuan beretorika.
Kedua, Mungkin muncul pertanyaan meggelitik dalam kalbu kita, bisa jadi diantara pasukan Muhammad Al-Fatih ada yang tidak jujur, dalam artian bisa saja ada diantara mereka yang pernah meninggalkan shalat fardhu, namun karena malu maka mereka enggan untuk mengakuinya. Na'udzubillah ! jika hal tesebut terbetik dalam kalbu kita, apakah mungkin Allah SWT akan memberikan pertolongan kepada suatu pasukan, sementara di dalamnya terdapat golongan orang-orang munafik ? Karena hanya orang-orang munafik yang sudi berbuat hal yang demikian, toh jika pun seandainya ada yang berbuat demikian, lantas mengapa pada saat pertanyaan yang ketiga mereka semuanya mengakui bahwa mereka pernah meninggalkan qiyaumul lail ?, Pertanyaan ini tentunya tidak akan memuaskan bagi kita yang dirasuki oleh penyakit hati yang penuh dengan prasangka buruk.
Ketiga, Torehan sejarah ini mengajarkan kepada kita, bahwa kemenangan akan sebuah perjuangan haruslah dilandasi oleh amal-amal nyata dan ibadah rutin yang istiqamah, jadi salah besar jika ada diantara kita yang cendrung memilah-milah proses pergerakan dalam membangun kejayaan Islam dengan memfokuskan hanya pada satu bidang ajaran ke-Islaman saja, seperti hanya memfokuskan pada penanaman nilai akidah, namun mengabaikan nilai ibadah dan akhlak dengan dalih semua itu hanyalah bagian dari perluasan pemaknaan akidah dan bersifat furu'iyah. Ketahuilah Islam adalah agama yang kaffah ( menyeluruh ), dan seluruh nilai-nilai ajaran Islam harus terwujud dalam setiap aspek kehidupan, maka tancapkan akidah secara mendalam, gemarkan diri dengan ibadah, dan pancarkan akhlakul karimah, memang demikian Rasulullah SAW mencontohkan pada kita.
Puji syukur hanya milik Allah SWT, shalawat tercurah buat Rasulullah SAW.
Hati saya bergetar disaat membaca tulisan Herry Nurdi, dalam karyanya yang berjudul The Secret of Heaven, terbitan PT. Lingkar Pena Kreativa, 2009, disaat menuturkan tentang prosesi pemilihan pemimpin yang ditunaikan oleh Muhammad al-Fatih ( sang pembebas Konstantinopel ), saya kutipkan disini tulisan tersebut :
" Saya teringat kisah tentang Muhammad Al-Fatih ketika masuk dan menaklukkan kota Konstantinopel, atau kini yang lebih kita kenal dengan sebutan Istanbul. Pertempuran selesai dan reda, pada hari Rabu saat itu. Setelah cukup beristirahat, Muhammad Al-Fatih mengumpulkan seluruh pasukannya di tanah lapang pada keesokan harinya.
Hari kamis, Muhammad Al-Fatih mengumpulkan pasukannya hanya untuk satu tujuan : memilih imam untuk shalat Jumat, besok hari. Seluruh pasukan berkumpul di tanah lapang, dan Muhammad Al-Fatih mulai mengajukan tiga pertanyaan.
Pertanyaan pertama, " Barangsiapa sejak akil balig sampai hari ini, pernah meninggalkan shalat fardhu, meski sekali silakan duduk !"
Ketika pertanyaan pertama diajukan, jawabannya sungguh luar biasa. Tak seorangpun dari pasukannya yang duduk. Artinya, tak seorangpun dari pasukannya pernah meninggalkan shalat fardhu. Duhai, betapa haibat-haibat kualitas keimanan pasukan Muhammad Al-Fatih ini.
Pertanyaan kedua, " Barangsiapa sejak akil balig sampai hari ini, pernah meninggalkan shalat sunnah rawatib, meski sekali, silakan duduk !"
Ketika pertanyaan kedua diajukan, setengah dari pasukannya duduk. Artinya, secara jujur mereka mengakui bahwa setengah dari pasukan pernah meninggalkan shalat sunnah rawatib. Itupun sungguh luar biasa, menjaga shalat sunnnah rawatib. Siapa yang pernah memikirkannya seserius ini.
Pertanyaan ketiga, " Barangsiapa sejak akil balig sampai hari ini, pernah meninggalkan qiyamul lail, meski hanya semalam, silakan duduk !"
Ketika pertanyaan ketiga diajukan, semua pasukan terduduk dan hanya menyisakan Muhammad Al-Fatih sendiri yang berdiri. Artinya dari semua orang yang hadir, hampir semuanya pernah meninggalkan qiyamul lail dan hanya Muhammad Al-Fatih sendiri yang tak pernah meninggalkan." ( Halaman 116 - 117 )
Subhaaanallaah !
Melihat fenomena ini jelas sudah, jika dilihat dari perspektif kekuatan ruhiyah, keberhasilan dan kemenangan dalam memperjuangkan panji-panji kebenaran Islam hanya akan digapai disaat perjuangan tersebut dipegang oleh pemimpin dan pasukan yang ahli ibadah, dan tentunya dipegang oleh komunitas yang jujur dan ikhlas.
Ada beberapa nilai penting yang dapat kita gali dari peristiwa yang sarat dengan i'tibar dan ibrah ini :
Pertama, Metode pemilihan pimpinan yang ditetapkan Muhammad Al-Fatih untuk memimpin shalat Jumat, kelihatannya sederhana, namun terkandung nilai-nilai agung yang hanya mampu digali oleh hati kita yang penuh ketundukan akan sebuah pengabdian terhadap Allah SWT. Ukuran seseorang yang layak untuk dimanahi sebagai imam adalah kesalehan pribadi yang teraplikasi dalam amal nyata. Bukan berdasarkan penampilan lahiriyah dan kemampuan beretorika.
Kedua, Mungkin muncul pertanyaan meggelitik dalam kalbu kita, bisa jadi diantara pasukan Muhammad Al-Fatih ada yang tidak jujur, dalam artian bisa saja ada diantara mereka yang pernah meninggalkan shalat fardhu, namun karena malu maka mereka enggan untuk mengakuinya. Na'udzubillah ! jika hal tesebut terbetik dalam kalbu kita, apakah mungkin Allah SWT akan memberikan pertolongan kepada suatu pasukan, sementara di dalamnya terdapat golongan orang-orang munafik ? Karena hanya orang-orang munafik yang sudi berbuat hal yang demikian, toh jika pun seandainya ada yang berbuat demikian, lantas mengapa pada saat pertanyaan yang ketiga mereka semuanya mengakui bahwa mereka pernah meninggalkan qiyaumul lail ?, Pertanyaan ini tentunya tidak akan memuaskan bagi kita yang dirasuki oleh penyakit hati yang penuh dengan prasangka buruk.
Ketiga, Torehan sejarah ini mengajarkan kepada kita, bahwa kemenangan akan sebuah perjuangan haruslah dilandasi oleh amal-amal nyata dan ibadah rutin yang istiqamah, jadi salah besar jika ada diantara kita yang cendrung memilah-milah proses pergerakan dalam membangun kejayaan Islam dengan memfokuskan hanya pada satu bidang ajaran ke-Islaman saja, seperti hanya memfokuskan pada penanaman nilai akidah, namun mengabaikan nilai ibadah dan akhlak dengan dalih semua itu hanyalah bagian dari perluasan pemaknaan akidah dan bersifat furu'iyah. Ketahuilah Islam adalah agama yang kaffah ( menyeluruh ), dan seluruh nilai-nilai ajaran Islam harus terwujud dalam setiap aspek kehidupan, maka tancapkan akidah secara mendalam, gemarkan diri dengan ibadah, dan pancarkan akhlakul karimah, memang demikian Rasulullah SAW mencontohkan pada kita.
Assalaamu'alikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh
Tidak ada komentar:
Posting Komentar