Assalaamu'laikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh
Alhamdulillaahirabbil'aaalamiin, sebagai tanda rasa syukur kita kepada Allah SWT yang telah menumbuhkan jiwa kita dalam cahaya hidayah Islam. Shalawat tercurah teruntuk Rassulullah SAW.
Tausiyah ini ana peruntukkan buat adik-adik yang berstatus pelajar muslim, yang berniat belajar untuk memahami ... memahami untuk diamalkan. Ketahuilah ... mengapa orang tua kita menyerahkan kita pada dunia pendidikan melalui sebuah lembaga yang bernama madrasah atau sekolah, karena hal tersebut merupakan manifestasi dari ketidakmampuan mereka untuk mendidik kita di rumah yang disebabkan mereka memiliki tuntutan lain untuk mejalani kehidupan yakni mencari nafkah. Apakah mereka salah karena mengalihkan tanggungjawab ini kepada pihak lain ? Sama sekali tidak, karena mereka menunaikan tanggungjawablah maka mereka menyerahkan kita pada lembaga pendidikan.
Sadarilah ..., harapan mereka begitu besar terhadap kita ... agar kelak kita kelak memiliki bekal hidup berupa ilmu pengetahuan ... agar kita kelak menjadi ahli ilmu yang membawa manfaat untuk diri dan umat, pertanyaannya sudahkah kita ikhlas dalam menunaikan semua amanah ini ? Keikhlasan itu akan tampak dari sikap kita dalam menjalaninya. Apa yang kita lakukan selama dalam proses pendidikan merupakan manifestasi ukuran kadar keikhlasan kita.
Ukurlah keikhlasan kita disaat kita menyikapi ilmu pengetahuan, sejauh mana kecintaan kita terhadap ilmu tersebut maka sebesar itu pulalah kadar keikhlasan kita. Bagaiman cara kita menyelesaikan tugas-tugas yang dibebankan guru, bagaimana cara kita menghargai guru, bagaimana sikap kita dalam mengahadapi ilmu yang memiliki tingkat kesulitan yang tinggi, semuanya dikembalikan pada kondisi hati kita dalam memposisikannya.
Kita lebih mengetahui kondisi hati kita, bisa jadi tidak akan sama dengan kondisi hati saudara kita yang lain. Perlu kita pahami jika dalam kondisi apapun hati ini merasa tenang, semangat dan penuh dengan harapan terhadap ilmu, maka bersyukurlah kepada Allah SWT karena disaat itu hati kita benar-benar berada dalam keikhlasan, namun jika hati ini penuh dengan kagalaun, ragam-ragam ilmu terasa memberatkan, proses pendidikan terasa menghimpit perasaan, maka ketahuilah ... saat itu hati kita dirundung oleh rasa keterpaksaan, merupakan konsep yang bertolak belakang dari keikhlasan.
Untuk itu tuntutlah ilmu itu dengan hati yang ikhlas, oleh karenanya, modal yang terpenting dalam proses menuntut ilmu adalah mengkondisikan hati pada keikhlasan, belajarlah dengan hati, berjuanglah dengan hati, semua itu akan menemukan titik temu dengan amanah yang dibebankan orang tua kita pada kita, karena mereka berharap kita menjadi pelajar yang berhasil juga dengan hati, dan memang Allah SWT akan meilhat kita dari hati.
Alhamdulillaahirabbil'aaalamiin, sebagai tanda rasa syukur kita kepada Allah SWT yang telah menumbuhkan jiwa kita dalam cahaya hidayah Islam. Shalawat tercurah teruntuk Rassulullah SAW.
Tausiyah ini ana peruntukkan buat adik-adik yang berstatus pelajar muslim, yang berniat belajar untuk memahami ... memahami untuk diamalkan. Ketahuilah ... mengapa orang tua kita menyerahkan kita pada dunia pendidikan melalui sebuah lembaga yang bernama madrasah atau sekolah, karena hal tersebut merupakan manifestasi dari ketidakmampuan mereka untuk mendidik kita di rumah yang disebabkan mereka memiliki tuntutan lain untuk mejalani kehidupan yakni mencari nafkah. Apakah mereka salah karena mengalihkan tanggungjawab ini kepada pihak lain ? Sama sekali tidak, karena mereka menunaikan tanggungjawablah maka mereka menyerahkan kita pada lembaga pendidikan.
Sadarilah ..., harapan mereka begitu besar terhadap kita ... agar kelak kita kelak memiliki bekal hidup berupa ilmu pengetahuan ... agar kita kelak menjadi ahli ilmu yang membawa manfaat untuk diri dan umat, pertanyaannya sudahkah kita ikhlas dalam menunaikan semua amanah ini ? Keikhlasan itu akan tampak dari sikap kita dalam menjalaninya. Apa yang kita lakukan selama dalam proses pendidikan merupakan manifestasi ukuran kadar keikhlasan kita.
Ukurlah keikhlasan kita disaat kita menyikapi ilmu pengetahuan, sejauh mana kecintaan kita terhadap ilmu tersebut maka sebesar itu pulalah kadar keikhlasan kita. Bagaiman cara kita menyelesaikan tugas-tugas yang dibebankan guru, bagaimana cara kita menghargai guru, bagaimana sikap kita dalam mengahadapi ilmu yang memiliki tingkat kesulitan yang tinggi, semuanya dikembalikan pada kondisi hati kita dalam memposisikannya.
Kita lebih mengetahui kondisi hati kita, bisa jadi tidak akan sama dengan kondisi hati saudara kita yang lain. Perlu kita pahami jika dalam kondisi apapun hati ini merasa tenang, semangat dan penuh dengan harapan terhadap ilmu, maka bersyukurlah kepada Allah SWT karena disaat itu hati kita benar-benar berada dalam keikhlasan, namun jika hati ini penuh dengan kagalaun, ragam-ragam ilmu terasa memberatkan, proses pendidikan terasa menghimpit perasaan, maka ketahuilah ... saat itu hati kita dirundung oleh rasa keterpaksaan, merupakan konsep yang bertolak belakang dari keikhlasan.
Untuk itu tuntutlah ilmu itu dengan hati yang ikhlas, oleh karenanya, modal yang terpenting dalam proses menuntut ilmu adalah mengkondisikan hati pada keikhlasan, belajarlah dengan hati, berjuanglah dengan hati, semua itu akan menemukan titik temu dengan amanah yang dibebankan orang tua kita pada kita, karena mereka berharap kita menjadi pelajar yang berhasil juga dengan hati, dan memang Allah SWT akan meilhat kita dari hati.
Assalaamu'laikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh
Tidak ada komentar:
Posting Komentar