Assalaamu'alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh
Segala puji hanya milik Allah SWT, shalawat kita kirimkan teruntuk Rasulullah SAW.
Ingin hati ini berkisah kepada antum semua ...tentang kisah sufi teladan yang dituturkan oleh Syekh Sa'di Syirazi, karya ini disadur/diterjemahkan oleh Wahyudi dari naskah " Bustan " dari naskah Persia terbitan tahun 1286 dengan judul saduran Kisah-Kisah di Taman Bunga ( Serial Kisah-Kisah Sufi Teladan 2 ), terbitan Pustaka Progressif, Surabaya : 2003. Inilah kisahnya :
Pada suatu hari seekor anjing menggigit kaki seorang zahid dengan kejam. Karena bisa yang melekat pada giginya, maka orang tersebut tidak dapat tidur merasakan kesakitannya.
Anak perempuannya yang masih kecil mengoloknya dengan mengatakan, " Apakah bapak tidak mempunyai gigi ?"
Orang tua yang tidak beruntung itu menangis lalu menjawab sambil tersenyum, " Anakku sayang ! meski aku lebih kuat dari anjing, aku menahan amarahku. Meski ada pedang terhunus di wajahku, aku takkan menggigit kaki seekor anjing."
Anda dapat menyerang, orang lain, tetapi Anda tidak dapat bertindak seperti anjing. ( Halaman 77 ).
Berbagai macam mungkin interpretasi kita dalam memahami kisah ini, tergantung dari sudut mana kita memandangnya, jika kita coba meneropong dari perspektif perjuangan dakwah Ilallah, terkandung nilai yang begitu agung sebagai bekal semangat bagi kita untuk tetap bertahan dalam lingkaran dakwah yang semakin hari terasa semakin membutuhkan kerja keras.
Bisa jadi perspektif kita ini bukanlah demikian yang dituju oleh sang Syekh yang menuturkan kisah ini, namun setidaknya demikianlah kita dapat menangkap hikmah yang terkandung dalam kisah sarat makna tersebut.
Dalam lingkaran perjuangan dakwah, kita mungkin sering mendapatkan benturan, mungkin kita pernah merasakan disaat kita mencoba mengubah tradisi masyarakat yang telah mengakar karena bertentangan dengan nilai-nilai ajaran Islam yang sesungguhnya, disaat itu kita merasakan tantangan yang begitu dahsyat mendera, apakah itru namanya cacian, cemooh, menganggap kita sesat, menyalahi ulama terdahulu dan lain sebagainya, yang pada intinya menganggap apa yang kita perjuangkan bukanlah suatu hal yang benar. Satu hal, tantangan itu datang bukanlah dari ahli ilmu atau kelompok orang-orang yang berpikiran cerdas. Biasanya hal tersebut kita temukan di warung-warung kopi, di ruang-ruang pertemuan, pasar-pasar atau tempat berkumpulnya kelompok orang-orang yang senang mengobrol menghabiskan waktu dengan kesia-siaan. Mereka diskusikan apa yang kita lakukan dan sampaikan lalu dengan nada menjelek-jelekkan mereka menyalahkan apa yang telah kita lakukan. Terkadang membias pada bentuk tindakan, kita dikucilkan dalam pergaulan masyarakat.
Menghadapi fenomena tersebut, lantas bagaimana sikap kita ? Apakah kita akan membalas ejekan dan perlakuan mereka dengan tujuan agar mereka jera dan menyadari kesalahan mereka yang sesungguhnya ? Atau mengajak mereka berdiskusi dan mendebat mereka dengan dalil-dalil dan argumnetasi yang kita yakini kebenarannya ? Kisah diatas merupakan jawaban tepat untuk permasalahan yang seperti ini.
Ketahuilah, jika kita berupaya untuk mengadakan perlawanan terhadap mereka dengan balasan yang setimpal walaupun kita mampu untuk melakukannya, hal tersebut tidak akan membawa kepada kebaikan, malah akan membuat mereka mengadakan perlawanan yang lebih dahsyat yang berujung semakin jauhnya mereka dari kebenaran. Maka berlakulah seperti yang diajarkan oleh sang zahid, seperti jawabannya terhadap pertanyaan anaknya ; "Anakku sayang ! meski aku lebih kuat dari anjing, aku menahan amarahku. Meski ada pedang terhunus di wajahku, aku takkan menggigit kaki seekor anjing.". Artinya adalah jika kita mengadakan perlawanan yang setimpal dengan mereka berarti kita tidak ada bedanya dengan mereka, berarti kita sama dengan mereka. Jika kita sama dengan mereka, lantas mampukah kita mengadakan perbaikan terhadap kesalahan mereka ? Seperti sebuah ungkapan : " Jika kita berkelahi dengan orang gila, berarti kita adalah orang gila, " mengapa ? sudah jelas orang itu gila mengapa kita bersedia meladeninya berkelahi, apa bedanya kita dengan orang gila tersebut ?
Disinilah kejelian dalam menyusun strategi dakwah dibutuhkan, karena dakwah ditegakkan dengan kearifan dan ilmu, bukan semangat yang membabi buta tanpa metode, ini yang harus menjadi bahan pemikiran kita bersama, bagaimana kita mampu merancang strategi dakwah sehingga mampu diterima oleh masyarakat secara luas, dan mereka menerimanya dengan keterbukaan penuh keikhlasan. Seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW.
Segala puji hanya milik Allah SWT, shalawat kita kirimkan teruntuk Rasulullah SAW.
Ingin hati ini berkisah kepada antum semua ...tentang kisah sufi teladan yang dituturkan oleh Syekh Sa'di Syirazi, karya ini disadur/diterjemahkan oleh Wahyudi dari naskah " Bustan " dari naskah Persia terbitan tahun 1286 dengan judul saduran Kisah-Kisah di Taman Bunga ( Serial Kisah-Kisah Sufi Teladan 2 ), terbitan Pustaka Progressif, Surabaya : 2003. Inilah kisahnya :
Pada suatu hari seekor anjing menggigit kaki seorang zahid dengan kejam. Karena bisa yang melekat pada giginya, maka orang tersebut tidak dapat tidur merasakan kesakitannya.
Anak perempuannya yang masih kecil mengoloknya dengan mengatakan, " Apakah bapak tidak mempunyai gigi ?"
Orang tua yang tidak beruntung itu menangis lalu menjawab sambil tersenyum, " Anakku sayang ! meski aku lebih kuat dari anjing, aku menahan amarahku. Meski ada pedang terhunus di wajahku, aku takkan menggigit kaki seekor anjing."
Anda dapat menyerang, orang lain, tetapi Anda tidak dapat bertindak seperti anjing. ( Halaman 77 ).
Berbagai macam mungkin interpretasi kita dalam memahami kisah ini, tergantung dari sudut mana kita memandangnya, jika kita coba meneropong dari perspektif perjuangan dakwah Ilallah, terkandung nilai yang begitu agung sebagai bekal semangat bagi kita untuk tetap bertahan dalam lingkaran dakwah yang semakin hari terasa semakin membutuhkan kerja keras.
Bisa jadi perspektif kita ini bukanlah demikian yang dituju oleh sang Syekh yang menuturkan kisah ini, namun setidaknya demikianlah kita dapat menangkap hikmah yang terkandung dalam kisah sarat makna tersebut.
Dalam lingkaran perjuangan dakwah, kita mungkin sering mendapatkan benturan, mungkin kita pernah merasakan disaat kita mencoba mengubah tradisi masyarakat yang telah mengakar karena bertentangan dengan nilai-nilai ajaran Islam yang sesungguhnya, disaat itu kita merasakan tantangan yang begitu dahsyat mendera, apakah itru namanya cacian, cemooh, menganggap kita sesat, menyalahi ulama terdahulu dan lain sebagainya, yang pada intinya menganggap apa yang kita perjuangkan bukanlah suatu hal yang benar. Satu hal, tantangan itu datang bukanlah dari ahli ilmu atau kelompok orang-orang yang berpikiran cerdas. Biasanya hal tersebut kita temukan di warung-warung kopi, di ruang-ruang pertemuan, pasar-pasar atau tempat berkumpulnya kelompok orang-orang yang senang mengobrol menghabiskan waktu dengan kesia-siaan. Mereka diskusikan apa yang kita lakukan dan sampaikan lalu dengan nada menjelek-jelekkan mereka menyalahkan apa yang telah kita lakukan. Terkadang membias pada bentuk tindakan, kita dikucilkan dalam pergaulan masyarakat.
Menghadapi fenomena tersebut, lantas bagaimana sikap kita ? Apakah kita akan membalas ejekan dan perlakuan mereka dengan tujuan agar mereka jera dan menyadari kesalahan mereka yang sesungguhnya ? Atau mengajak mereka berdiskusi dan mendebat mereka dengan dalil-dalil dan argumnetasi yang kita yakini kebenarannya ? Kisah diatas merupakan jawaban tepat untuk permasalahan yang seperti ini.
Ketahuilah, jika kita berupaya untuk mengadakan perlawanan terhadap mereka dengan balasan yang setimpal walaupun kita mampu untuk melakukannya, hal tersebut tidak akan membawa kepada kebaikan, malah akan membuat mereka mengadakan perlawanan yang lebih dahsyat yang berujung semakin jauhnya mereka dari kebenaran. Maka berlakulah seperti yang diajarkan oleh sang zahid, seperti jawabannya terhadap pertanyaan anaknya ; "Anakku sayang ! meski aku lebih kuat dari anjing, aku menahan amarahku. Meski ada pedang terhunus di wajahku, aku takkan menggigit kaki seekor anjing.". Artinya adalah jika kita mengadakan perlawanan yang setimpal dengan mereka berarti kita tidak ada bedanya dengan mereka, berarti kita sama dengan mereka. Jika kita sama dengan mereka, lantas mampukah kita mengadakan perbaikan terhadap kesalahan mereka ? Seperti sebuah ungkapan : " Jika kita berkelahi dengan orang gila, berarti kita adalah orang gila, " mengapa ? sudah jelas orang itu gila mengapa kita bersedia meladeninya berkelahi, apa bedanya kita dengan orang gila tersebut ?
Disinilah kejelian dalam menyusun strategi dakwah dibutuhkan, karena dakwah ditegakkan dengan kearifan dan ilmu, bukan semangat yang membabi buta tanpa metode, ini yang harus menjadi bahan pemikiran kita bersama, bagaimana kita mampu merancang strategi dakwah sehingga mampu diterima oleh masyarakat secara luas, dan mereka menerimanya dengan keterbukaan penuh keikhlasan. Seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW.
Assalaamu'alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh
Tidak ada komentar:
Posting Komentar