Assalaamu’alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh
Segala puji hanya milik Allah swt, Allahumma shalli
‘ala Muhammad wa ‘ala ali Muhammad
Menarik hikmah dari kecerdasan seseorang terkadang
mampu membuat kita cerdas, malah melahirkan kecerdasan yang berlipat ganda,
karena bisa jadi dari satu kecerdasan itu melahirkan ide-ide kecerdasan lain
yang bercabang-cabang banyaknya.
Kita kutip sebuah kisah kecerdasan dalam rangka
menumbuhkan kecerdasan dalam mengarungi bahtera dakwah yang bergelombang. Ya,
sebuah kecerdasan Iyas bin Mu’awiyah, seorang ulama tabi’in pernah belajar
matematika di sebuah sekolah milik Yahudi ahli dzimmah, kisah ini dituturkan
oleh Hamzah dalam majalah Majalah Islam Sabili Meniti Jalan Menuju Mardhotillah,
nomor 15 tahun XIII, 9 Februari 2006/10 Muharram 1427, dalam kolom Oase, dengan
judul “ Kecerdasan Iyas ”.
Suatu hari berkumpullah kawan-kawannya dari kalangan
Yahudi itu. Mereka asyik membicarakan masalah agama tanpa menyadari bahwa Iyas
turut mendengarkannya.
Berkata Mu’alim kepada sahabat-sahabatnya, “ Tidakkah
kalian heran dengan kaum muslimin itu ? Mereka berkata bahwa siapa yang makan
di surga, dia tidak akan buang air.”
“ Bolehkah aku ikut bicara, ya Mu’alim?” Tanya Iyas.
“ Boleh,” jawab sang Mu’alim.
“ Apakah semua yang dimakan di dunia ini keluar
menjadi kotoran ?”
“ Tidak. ”
“ Lalu kemana keluarnya yang tidak keluar itu ? ”
“ Pergi sebagai makanan jasmani ( diserap tubuh )”
“ Lantas kenapa kalian mengingkari? Makanan yang kita
makan di dunia saja sebagian hilang diserap oleh tubuh, maka tidak mustahil di
surga seluruhnya diserap oleh tubuh dan menjadi makanan jasmani.”
Mu’alim ( sambil mencubit Iyas ) berkata, ” Engkau
memang terlalu pintar.” ( Halaman 32 )
Secara kasat mata kisah ini kelihatan biasa dan
mungkin kita sering menemukan kisah yang senada, tentang kepiawaian seseorang
dalam mendebat suatu perkara secara bijak tanpa terkesan menggurui, namun
pernahkah kita mencoba menggali nilai-nilai spiritual dalam kisah demikian yang
mampu melahirkan suatu keteladanan bagi diri kita dalam berproses melakukan
suatu tindakan?.
Dalam lingkup dakwah kita, kisah tersebut mampu
menjadi inspirator dan spirit perjuangan dalam mewujudkan dakwah yang dapat
diterima kalangan tertentu. Kalau bolehlah kita mengklasifikasikannya,
peristiwa tersebut menggiring kita pada suatu pembelajaran bagaimana mewujudkan
metode dakwah pada lapisan golongan orang-orang bukan sembarangan, orang-orang
bukan sembarangan dalam artian mereka adalah orang-orang yang mampu untuk
menganalisis pesan-pesan yang kita bawa hingga tidak secara langsung
menerimanya tanpa penelitian yang mendalam. Proses analisis dan penelitian akan
melahirkan kelak apakah mereka akan menerima dakwah atau menolak bahkan malah
menjadi penentang.
Menghadapi golongan seperti ini membutuhkan strategi
dan perencanaan yang matang, sebab jika tidak cukup modal, bisa jadi kita
selaku pengusung panji-panji dakwah akan kebablasan ,malah mendapat perlakuan
yang memalukan dikarenakan kurang matangnya suatu proses yang dijalankan, lebih
luas posisi dakwah akan terancam kedudukannya bahkan berimbas pada pelecehan
terhadap nilai dakwah itu sendiri, berakibat ruh dakwah tercampakkan dikarenakan
ulah kita yang sembrono.
Kecerdasan Iyas bin Muawiyah dalam memberikan argumentasi
yang mengena untuk menjelaskan suatu hakikat kebenaran merupakan suatu ibrah bagi kita yang bergerak dalam
barisan dakwah agar mampu menjelaskan hakikat dari substansi-substansi dakwah
dengan kemampuan yang benar-benar mumpuni, dalam hal ini kecerdasan, kecerdasan
untuk memahami konsep-konsep dakwah yang kita tebarkan, dan kecerdasan untuk
menyampaikannya kepada objek dakwah, bukan dengan kemampuan modal semangat
belaka. Karena modal semangat tanpa diiringi dengan kecerdasan yang dua
tersebut hanya akan melahirkan dakwah yang disebarkan dengan cara membabi buta,
sehingga dikala perjalanan dakwah itu diserang kita tidak mampu menahannya
karena memang kita tidak memiliki modal untuk itu.
Ketahuilah, semangat memang sangat dibutuhkan, tapi
semangat yang sesungguhnya adalah semangat yang lahir dari kemampuan, bukan
semangat yang lahir dari modal nekat, semangat yang tidak diiringi dengan
kemampuan hanya akan melahirkan kerancuan proses jalannya dakwah, banyak kita
temukan dilapangan hal seperti ini, betapa banyak orang yang bicara dan
berjuang atas nama dakwah, namun karena
hanya modal semangat belaka tanpa adanya kemampuan pemahaman yang diusung,
dikala apa yang diusungnya mendapat tantangan ia tidak mampu secara bijak mengatasinya.
Sehingga dengan membabi buta pula ia salahkan orang yang mempertanyakan gerakan
dakwahnya, karena memang ia sendiri tidak paham, kecuali hanya mengutip dan
berpijak pada pendapat orang lain, tanpa mengetahui dan memahami apa yang ia
kutip. Seandainya ia berhadapan dengan golongan seperti golongan yang dihadapi
oleh Iyas bin Muawiyah, maka hal ini akan berakibat buruk bagi perkembangan
dakwah.
Untuk itu, disini kita renungkan kalamullah yang
termaktub dalam al-Qur’an sebagai petunjuk arah dan jalan kita dalam merancang
strategi dan menyusun program serta menerapkan metode dakwah dalam menghadapi
berbagai kalangan yang memiliki latar berbeda, agar dakwah dapat menjangkau
seluruh elemen dan kita mampu mengatasinya dikala kita mendapatkan tantangan,
surat an-Nahl ayat 125 :
“ Serulah manusia kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah
dan mau’izhah (pengajaran ) yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan
cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang
sesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui siapa yang mendapat
petunjuk. ”
Kecerdasan memahami dan kecerdasan menyampaikan dakwah
terangkum dalam hikmah, mau’izhah ( pengajaran ) yang baik dan berdebat dengan
cara yang baik, tergantung pada posisi mana objek dakwah berada, maka Allah swt
telah menggariskan tiga jalan yang bisa ditempuh untuk menyampaikan pesan
dakwah pada mereka.
Berangkat dari sini, ambillah keputusan, kecerdasan dakwah manakah kiranya yang layak kita jadikan motor penggerak bagi kalangan yang kita anggap bukan kalangan biasa. Renungkanlah.
Assalaamu’alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh
Tidak ada komentar:
Posting Komentar