WENDRI NALDI EL-MANINJAUI KHATIB BANDARO

WENDRI NALDI EL-MANINJAUI KHATIB BANDARO
WENDRI NALDI EL-MANINJAUI KHATIB BANDARO

Selasa, 29 November 2011

Membangun Kecerdasan Dalam Dakwah


Assalaamu’alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh

Segala puji hanya milik Allah swt, Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa ‘ala ali Muhammad

Menarik hikmah dari kecerdasan seseorang terkadang mampu membuat kita cerdas, malah melahirkan kecerdasan yang berlipat ganda, karena bisa jadi dari satu kecerdasan itu melahirkan ide-ide kecerdasan lain yang bercabang-cabang banyaknya.

Kita kutip sebuah kisah kecerdasan dalam rangka menumbuhkan kecerdasan dalam mengarungi bahtera dakwah yang bergelombang. Ya, sebuah kecerdasan Iyas bin Mu’awiyah, seorang ulama tabi’in pernah belajar matematika di sebuah sekolah milik Yahudi ahli dzimmah, kisah ini dituturkan oleh Hamzah dalam majalah Majalah Islam Sabili Meniti Jalan Menuju Mardhotillah, nomor 15 tahun XIII, 9 Februari 2006/10 Muharram 1427, dalam kolom Oase, dengan judul “ Kecerdasan Iyas ”.

Suatu hari berkumpullah kawan-kawannya dari kalangan Yahudi itu. Mereka asyik membicarakan masalah agama tanpa menyadari bahwa Iyas turut mendengarkannya.

Berkata Mu’alim kepada sahabat-sahabatnya, “ Tidakkah kalian heran dengan kaum muslimin itu ? Mereka berkata bahwa siapa yang makan di surga, dia tidak akan buang air.”

“ Bolehkah aku ikut bicara, ya Mu’alim?” Tanya Iyas.

“ Boleh,” jawab sang Mu’alim.

“ Apakah semua yang dimakan di dunia ini keluar menjadi kotoran ?”

“ Tidak. ”

“ Lalu kemana keluarnya yang tidak keluar itu ? ”

“ Pergi sebagai makanan jasmani ( diserap tubuh )”

“ Lantas kenapa kalian mengingkari? Makanan yang kita makan di dunia saja sebagian hilang diserap oleh tubuh, maka tidak mustahil di surga seluruhnya diserap oleh tubuh dan menjadi makanan jasmani.”
Mu’alim ( sambil mencubit Iyas ) berkata, ” Engkau memang terlalu pintar.” ( Halaman 32 )

Secara kasat mata kisah ini kelihatan biasa dan mungkin kita sering menemukan kisah yang senada, tentang kepiawaian seseorang dalam mendebat suatu perkara secara bijak tanpa terkesan menggurui, namun pernahkah kita mencoba menggali nilai-nilai spiritual dalam kisah demikian yang mampu melahirkan suatu keteladanan bagi diri kita dalam berproses melakukan suatu tindakan?.

Dalam lingkup dakwah kita, kisah tersebut mampu menjadi inspirator dan spirit perjuangan dalam mewujudkan dakwah yang dapat diterima kalangan tertentu. Kalau bolehlah kita mengklasifikasikannya, peristiwa tersebut menggiring kita pada suatu pembelajaran bagaimana mewujudkan metode dakwah pada lapisan golongan orang-orang bukan sembarangan, orang-orang bukan sembarangan dalam artian mereka adalah orang-orang yang mampu untuk menganalisis pesan-pesan yang kita bawa hingga tidak secara langsung menerimanya tanpa penelitian yang mendalam. Proses analisis dan penelitian akan melahirkan kelak apakah mereka akan menerima dakwah atau menolak bahkan malah menjadi penentang.

Menghadapi golongan seperti ini membutuhkan strategi dan perencanaan yang matang, sebab jika tidak cukup modal, bisa jadi kita selaku pengusung panji-panji dakwah akan kebablasan ,malah mendapat perlakuan yang memalukan dikarenakan kurang matangnya suatu proses yang dijalankan, lebih luas posisi dakwah akan terancam kedudukannya bahkan berimbas pada pelecehan terhadap nilai dakwah itu sendiri, berakibat ruh dakwah tercampakkan dikarenakan ulah kita yang sembrono.

Kecerdasan Iyas bin Muawiyah dalam memberikan argumentasi yang mengena untuk menjelaskan suatu hakikat kebenaran merupakan suatu ibrah bagi kita yang bergerak dalam barisan dakwah agar mampu menjelaskan hakikat dari substansi-substansi dakwah dengan kemampuan yang benar-benar mumpuni, dalam hal ini kecerdasan, kecerdasan untuk memahami konsep-konsep dakwah yang kita tebarkan, dan kecerdasan untuk menyampaikannya kepada objek dakwah, bukan dengan kemampuan modal semangat belaka. Karena modal semangat tanpa diiringi dengan kecerdasan yang dua tersebut hanya akan melahirkan dakwah yang disebarkan dengan cara membabi buta, sehingga dikala perjalanan dakwah itu diserang kita tidak mampu menahannya karena memang kita tidak memiliki modal untuk itu.

Ketahuilah, semangat memang sangat dibutuhkan, tapi semangat yang sesungguhnya adalah semangat yang lahir dari kemampuan, bukan semangat yang lahir dari modal nekat, semangat yang tidak diiringi dengan kemampuan hanya akan melahirkan kerancuan proses jalannya dakwah, banyak kita temukan dilapangan hal seperti ini, betapa banyak orang yang bicara dan berjuang  atas nama dakwah, namun karena hanya modal semangat belaka tanpa adanya kemampuan pemahaman yang diusung, dikala apa yang diusungnya mendapat tantangan ia tidak mampu secara bijak mengatasinya. Sehingga dengan membabi buta pula ia salahkan orang yang mempertanyakan gerakan dakwahnya, karena memang ia sendiri tidak paham, kecuali hanya mengutip dan berpijak pada pendapat orang lain, tanpa mengetahui dan memahami apa yang ia kutip. Seandainya ia berhadapan dengan golongan seperti golongan yang dihadapi oleh Iyas bin Muawiyah, maka hal ini akan berakibat buruk bagi perkembangan dakwah.

Untuk itu, disini kita renungkan kalamullah yang termaktub dalam al-Qur’an sebagai petunjuk arah dan jalan kita dalam merancang strategi dan menyusun program serta menerapkan metode dakwah dalam menghadapi berbagai kalangan yang memiliki latar berbeda, agar dakwah dapat menjangkau seluruh elemen dan kita mampu mengatasinya dikala kita mendapatkan tantangan, surat an-Nahl ayat 125 :

“ Serulah manusia kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan mau’izhah (pengajaran ) yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk. ”

Kecerdasan memahami dan kecerdasan menyampaikan dakwah terangkum dalam hikmah, mau’izhah ( pengajaran ) yang baik dan berdebat dengan cara yang baik, tergantung pada posisi mana objek dakwah berada, maka Allah swt telah menggariskan tiga jalan yang bisa ditempuh untuk menyampaikan pesan dakwah pada mereka.


Berangkat dari sini, ambillah keputusan, kecerdasan dakwah manakah kiranya yang layak kita jadikan motor penggerak bagi kalangan yang kita anggap bukan kalangan biasa. Renungkanlah.



Assalaamu’alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar