WENDRI NALDI EL-MANINJAUI KHATIB BANDARO

WENDRI NALDI EL-MANINJAUI KHATIB BANDARO
WENDRI NALDI EL-MANINJAUI KHATIB BANDARO

Rabu, 23 November 2011

Mengukur Keberhasilan Dakwah


Assalaamu'alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh

Puji syukur kepada Allah swt, shalawat buat Rasulullah saw.

Suatu hari Hasan Bashri menghampiri Rabi’ah al-‘Adawiyah yang saat itu sedang duduk-duduk diantara sekumpulan para tokoh sufi. Hasan berkata kepadanya: ” Aku memiliki kemampuan untuk berjalan di atas air. Wahai Rabiah, mari kita berdua pergi ke kolam air itu, duduk bersama di sana dan berdiskusi spititual di atasnya.”

Rabi’ah, sufi agung wanita sekaligus musafir cinta di jalan Allah, menjawab: “ Jika engkau ingin memisahkan dirimu sendiri dari orang-orang yang penuh kebesaran ini, mengapa engkau tidak bergabung denganku saja, sehingga kita bisa terbang ke udara dan duduk di sana sambil bercakap-cakap ?”

Hasan Bashri menolak: ” Aku tidak mampu melakukan hal itu, karena kekuatan yang engkau sebutkan bukanlah kekuatan yang aku punyai.”

Rabi’ah pun berkata: “ Wahai Hasan, ketahuilah, kehebatanmu berdiam diri di dalam air adalah sama dengan kehebatan yang dimiliki oleh seekor ikan. Kekuatanku terbang melayang di udara, dapat dilakukan seekor lalat. Kemampuan kita ini bukanlah bagian dari kebenaran sejati. Kesemuanya itu bisa saja menjadi dasar kebanggaan diri, dan persaingan, bukan sipiritualitas.”
( Dikutip dari karya Zaprul Khan dengan judul “ Kisah-Kisah Penuh Hikmah Yang Sanggup Menumbuhkan IQ, SQ, Dan EQ ” terbitan Mitra Pustaka, Yogyakarta, cetakan pertama, Juli 2006, halaman 323 – 324. Kisah yang didapatkan oleh Zaprul Khan dari Idries Shah, guru sufi kontemporer dalam karyanya Sang Guru Zaman ( Thinker of The East ))

Jika Zaprul Khan mengupas kisah ini dalam kacamata sufistik sesuai dengan jabaran beliau dalam karyanya tersebut, maka kita mencoba menganalisis dalam kaca mata dakwah sebagai pengambilan i’tibar.
Sungguh, terdapat nilai agung dari kisah ini untuk dijadikan bahan renungan dalam meniti jalan dakwah, jalan yang telah Allah swt tetapkan untuk orang-orang yang hanya ikhlas dan jujur dalam menerima amanah ini, jalan yang akan mengantarkan para pengusungnya kepada kedudukan yang mulia disisi Allah swt, walau terkadang harus tertatih dan terjerambab dalam menyusurinya.

Bagaimana perasaan kita dikala melihat dakwah yang kita cita-citakan ternyata seakan-akan mendapat sambutan hangat dari berbagai lapisan,  hingga terkadang kita mendapat kemuliaan disisi manusia karena dianggap mafhum dengan urusan agama, berbondong-bondong mereka meminta petuah dan nasehat, diberikan posisi-posisi penting dalam urusan agama, para penguasa dan orang-orang penting sampai-sampai memposisikan kita pada posisi yang mengagumkan, kebaikan kita disebut-sebut, kehadiran kita begitu dinanti-nantikan, kita laksana purnama yang ditunggu-tunggu cahayanya. Sampai-sampai hanya untuk bersalaman dengan kita orang rela menempuh jarak yang jauh, karena begitu cintanya mereka akan diri kita yang dianggap sebagai pembawa pencerahan, suluh penerang dalam kegelapan.

Mungkin saat itu yang terbersit dalam jiwa kita, kita memang layak untuk mendapat kedudukan tersebut, bahkan dengan berbagai macam dalil al-Qur’an dan sunnah kita jadikan landasan untuk pembenaran. Namun, sebelum jauh-jauh kita meyakini akan kebenaran yang terbersit dalam jiwa kita, maka disini kisah diatas perlu kiranya menjadi peringatan keras akan kemuliaan yang kita dapatkan, seperti kata Rabi’ah di atas : “ Wahai Hasan, ketahuilah, kehebatanmu berdiam diri di dalam air adalah sama dengan kehebatan yang dimiliki oleh seekor ikan. Kekuatanku terbang melayang di udara, dapat dilakukan seekor lalat. Kemampuan kita ini bukanlah bagian dari kebenaran sejati. Kesemuanya itu bisa saja menjadi dasar kebanggaan diri, dan persaingan, bukan sipiritualitas.” Pembelajaran pertama dari kisah di atas yang layak kita renungkan.

Aduhai, benarkah kemuliaan yang kita peroleh hasil dari prosesi dakwah yang kita lakukan, atau jangan-jangan semua itu adalah jalan-jalan setan yang terbentang luas, tampaknya indah di depan mata, namun fatamorgana belaka. Mengapa demikian ? Ketahuilah, setan dalam bentuk apapun tidak akan rela prosesi dakwah mencapai suatu keberhasilan yang gemilang, maka berbagai upaya akan dilakukan, mulai dengan cara yang kasar, hingga cara terhalus sekalipun, jika ia gagal dalam satu jalan, ia akan mencari jalan lain, disaat ia gagal dalam menghasut objek dakwah agar tidak menerima hakikat dakwah yang sesungguhnya, maka ia mencoba menelusuri jalan  menghancurkan sumber dakwah itu sendiri, sumber itu adalah juru dakwah, maka sadarilah godaan bagi para juru dakwah itu begitu besar, karena upaya setan dalam menggelimpangkan para juru dakwah ini upaya skala prioritas dari panji-panji setan, disebabkan dari sinilah jalan dakwah itu mengalir, maka setan akan berupaya memutus jalan dakwah ini hingga ke pangkalnya.

Ketahuilah, jalan-jalan yang ditempuh setan untuk melumpuhkan para juru dakwah bukanlah jalan yang biasa, tapi jalan yang samar dan membingungkan, hingga tanpa disadari siapa saja yang terperosok pada jalan itu sulit untuk keluar sementara ia tidak merasakan ia telah terperangkap. Dianatara bentuk jalan yang dihamparkan setan tersebut membisikkan perasaan berbangga diri akan prestasi dakwah yang kita tunaikan hingga kita merasa puas dengan apa yang kita lakukan, merasa puas demikianlah yang dikejar oleh setan hingga kita tetap bertahan dan enggan untuk berkarya dalam urusan dakwah.

Lihatlah, betapa banyak kita temukan dalam lapangan dakwah, orang-orang yang hanya merasa puas dengan prestasi dakwah yang diperoleh, disaat dakwah diakui oleh kekuasaan dengan mendapat perlindungan dari penguasa misalnya, lantas kita merasa puas sampai disana, lalu enggan untuk menyampaikan dakwah pada penguasa yang memberi kekuasaan dengan alasan “ Jangan sampai gara-gara kita berharap penguasa mendapat sentuhan dakwah, malah kekuasaan dakwah kita dicabut oleh penguasa tersebut, cukuplah kita pada tahap ini agar dakwah tetap berjalan, ” Akhirnya penguasa tersebut tidak mendapat ruh dari nilai-nilai dakwah yang kita usung. Sungguh, kita telah tertipu, sangat tertipu, telah terjerambab pada bentangan jalan-jalan setan. Mengapa dikatakan tertipu ? Karena urusan dakwah adalah urusan universal, bukan untuk segelintir orang, tapi merambah keseluruh aspek kehidupan, seluruh penghuni bumi ini harus mendapatkan sentuhan dakwah, hingga tiada yang disembah kecuali hanya Allah swt.

Pada konteks ini layakkah perasaan merasa puas itu bercokol dihati ? Sangat tidak layak, kepuasan baru bisa dirasakan dikala apa yang dicita-citakan telah mencapai ranah kesempurnaan, dalam artian dakwah telah benar-benar diterima secara luas, penerimaan itupun benar-benar  secara hakikat, bukan kamuflase, bukti diterimanya dakwah secara sempurna tergambar dari aspek kehidupan yang mengedepankan urusan perintah Allah swt dalam segala aspek kehidupan dengan segala ketundukan. Jika belum, berarti perjalanan ini masih panjang, masih jauh yang akan ditempuh, masih banyak rintangan yang harus dihadang, masih terpancang akar-akar duri yang setiap saat tumbuh dan menusuk proses menuju kesempurnaan itu.

Kapan kita akan mencapai kesempurnaan ? Mungkin ada yang bertanya demikian, yang terpenting bukan masalah tercapainya kesempurnaan, namun bagaimana upaya kita dan sejauh mana mujahadah kita dalam menggapainya, urusan tercapainya keberhasilan kesempurnaan sepenuhnya berada dalam genggaman Allah swt, yang terpenting jangan pernah merasa puas dengan apa yang telah kita gapai karena bisa jadi sesuatu yang menurut kita suatu keberhasilan yang spektakuler, namun disisi Allah swt merupakan hal yang belum bernilai apa-apa, sebab apa yang kita lakukan bisa jadi baru sebatas kita telah merasa bersungguh-sungguh dalam urusan dakwah, padahal jika dibandingkan dengan sepercik nilai perjuangan yang dilakukan para pendahulu kitapun belum layak untuk diperbandingkan. Sebab bisa jadi apa yang kita gapai baru merasa berhasil, bukan suatu keberhasilan yang sesungguhnya. Kembali kita rujuk kata-kata Rabi’ah di atas: “ Wahai Hasan, ketahuilah, kehebatanmu berdiam diri di dalam air adalah sama dengan kehebatan yang dimiliki oleh seekor ikan. Kekuatanku terbang melayang di udara, dapat dilakukan seekor lalat. Kemampuan kita ini bukanlah bagian dari kebenaran sejati. Kesemuanya itu bisa saja menjadi dasar kebanggaan diri, dan persaingan, bukan sipiritualitas.”
Renungkanlah ! Sungguh maknanya begitu dalam, sebagai pembelajaran kedua dari kisah di atas.


Assalaamu'alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh   

Tidak ada komentar:

Posting Komentar