Assalaamu'alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh
Puji syukur kepada Allah swt, shalawat buat Rasulullah saw.
Suatu hari Hasan Bashri menghampiri Rabi’ah
al-‘Adawiyah yang saat itu sedang duduk-duduk diantara sekumpulan para tokoh
sufi. Hasan berkata kepadanya: ” Aku memiliki kemampuan untuk berjalan di atas
air. Wahai Rabiah, mari kita berdua pergi ke kolam air itu, duduk bersama di
sana dan berdiskusi spititual di atasnya.”
Rabi’ah, sufi agung wanita sekaligus musafir cinta di
jalan Allah, menjawab: “ Jika engkau ingin memisahkan dirimu sendiri dari
orang-orang yang penuh kebesaran ini, mengapa engkau tidak bergabung denganku
saja, sehingga kita bisa terbang ke udara dan duduk di sana sambil
bercakap-cakap ?”
Hasan Bashri menolak: ” Aku tidak mampu melakukan hal
itu, karena kekuatan yang engkau sebutkan bukanlah kekuatan yang aku punyai.”
Rabi’ah pun berkata: “ Wahai Hasan, ketahuilah,
kehebatanmu berdiam diri di dalam air adalah sama dengan kehebatan yang
dimiliki oleh seekor ikan. Kekuatanku terbang melayang di udara, dapat
dilakukan seekor lalat. Kemampuan kita ini bukanlah bagian dari kebenaran
sejati. Kesemuanya itu bisa saja menjadi dasar kebanggaan diri, dan persaingan,
bukan sipiritualitas.”
( Dikutip dari karya Zaprul Khan dengan judul “
Kisah-Kisah Penuh Hikmah Yang Sanggup Menumbuhkan IQ, SQ, Dan EQ ” terbitan
Mitra Pustaka, Yogyakarta, cetakan pertama, Juli 2006, halaman 323 – 324. Kisah
yang didapatkan oleh Zaprul Khan dari Idries Shah, guru sufi kontemporer dalam
karyanya Sang Guru Zaman ( Thinker of The East ))
Jika Zaprul Khan mengupas kisah ini dalam kacamata
sufistik sesuai dengan jabaran beliau dalam karyanya tersebut, maka kita
mencoba menganalisis dalam kaca mata dakwah sebagai pengambilan i’tibar.
Sungguh, terdapat nilai agung dari kisah ini untuk
dijadikan bahan renungan dalam meniti jalan dakwah, jalan yang telah Allah swt
tetapkan untuk orang-orang yang hanya ikhlas dan jujur dalam menerima amanah
ini, jalan yang akan mengantarkan para pengusungnya kepada kedudukan yang mulia
disisi Allah swt, walau terkadang harus tertatih dan terjerambab dalam
menyusurinya.
Bagaimana perasaan kita dikala melihat dakwah yang
kita cita-citakan ternyata seakan-akan mendapat sambutan hangat dari berbagai
lapisan, hingga terkadang kita mendapat
kemuliaan disisi manusia karena dianggap mafhum dengan urusan agama,
berbondong-bondong mereka meminta petuah dan nasehat, diberikan posisi-posisi
penting dalam urusan agama, para penguasa dan orang-orang penting sampai-sampai
memposisikan kita pada posisi yang mengagumkan, kebaikan kita disebut-sebut,
kehadiran kita begitu dinanti-nantikan, kita laksana purnama yang
ditunggu-tunggu cahayanya. Sampai-sampai hanya untuk bersalaman dengan kita
orang rela menempuh jarak yang jauh, karena begitu cintanya mereka akan diri
kita yang dianggap sebagai pembawa pencerahan, suluh penerang dalam kegelapan.
Mungkin saat itu yang terbersit dalam jiwa kita, kita
memang layak untuk mendapat kedudukan tersebut, bahkan dengan berbagai macam
dalil al-Qur’an dan sunnah kita jadikan landasan untuk pembenaran. Namun,
sebelum jauh-jauh kita meyakini akan kebenaran yang terbersit dalam jiwa kita,
maka disini kisah diatas perlu kiranya menjadi peringatan keras akan kemuliaan
yang kita dapatkan, seperti kata Rabi’ah di atas : “ Wahai Hasan, ketahuilah,
kehebatanmu berdiam diri di dalam air adalah sama dengan kehebatan yang
dimiliki oleh seekor ikan. Kekuatanku terbang melayang di udara, dapat
dilakukan seekor lalat. Kemampuan kita ini bukanlah bagian dari kebenaran
sejati. Kesemuanya itu bisa saja menjadi dasar kebanggaan diri, dan persaingan,
bukan sipiritualitas.” Pembelajaran pertama dari kisah di atas yang layak kita
renungkan.
Aduhai, benarkah kemuliaan yang kita peroleh hasil
dari prosesi dakwah yang kita lakukan, atau jangan-jangan semua itu adalah
jalan-jalan setan yang terbentang luas, tampaknya indah di depan mata, namun
fatamorgana belaka. Mengapa demikian ? Ketahuilah, setan dalam bentuk apapun
tidak akan rela prosesi dakwah mencapai suatu keberhasilan yang gemilang, maka
berbagai upaya akan dilakukan, mulai dengan cara yang kasar, hingga cara
terhalus sekalipun, jika ia gagal dalam satu jalan, ia akan mencari jalan lain,
disaat ia gagal dalam menghasut objek dakwah agar tidak menerima hakikat dakwah
yang sesungguhnya, maka ia mencoba menelusuri jalan menghancurkan sumber dakwah itu sendiri,
sumber itu adalah juru dakwah, maka sadarilah godaan bagi para juru dakwah itu
begitu besar, karena upaya setan dalam menggelimpangkan para juru dakwah ini
upaya skala prioritas dari panji-panji setan, disebabkan dari sinilah jalan
dakwah itu mengalir, maka setan akan berupaya memutus jalan dakwah ini hingga
ke pangkalnya.
Ketahuilah, jalan-jalan yang ditempuh setan untuk
melumpuhkan para juru dakwah bukanlah jalan yang biasa, tapi jalan yang samar
dan membingungkan, hingga tanpa disadari siapa saja yang terperosok pada jalan
itu sulit untuk keluar sementara ia tidak merasakan ia telah terperangkap. Dianatara
bentuk jalan yang dihamparkan setan tersebut membisikkan perasaan berbangga
diri akan prestasi dakwah yang kita tunaikan hingga kita merasa puas dengan apa
yang kita lakukan, merasa puas demikianlah yang dikejar oleh setan hingga kita
tetap bertahan dan enggan untuk berkarya dalam urusan dakwah.
Lihatlah, betapa banyak kita temukan dalam lapangan
dakwah, orang-orang yang hanya merasa puas dengan prestasi dakwah yang
diperoleh, disaat dakwah diakui oleh kekuasaan dengan mendapat perlindungan
dari penguasa misalnya, lantas kita merasa puas sampai disana, lalu enggan
untuk menyampaikan dakwah pada penguasa yang memberi kekuasaan dengan alasan “
Jangan sampai gara-gara kita berharap penguasa mendapat sentuhan dakwah, malah
kekuasaan dakwah kita dicabut oleh penguasa tersebut, cukuplah kita pada tahap
ini agar dakwah tetap berjalan, ” Akhirnya penguasa tersebut tidak mendapat ruh
dari nilai-nilai dakwah yang kita usung. Sungguh, kita telah tertipu, sangat
tertipu, telah terjerambab pada bentangan jalan-jalan setan. Mengapa dikatakan
tertipu ? Karena urusan dakwah adalah urusan universal, bukan untuk segelintir
orang, tapi merambah keseluruh aspek kehidupan, seluruh penghuni bumi ini harus
mendapatkan sentuhan dakwah, hingga tiada yang disembah kecuali hanya Allah swt.
Pada konteks ini layakkah perasaan merasa puas itu
bercokol dihati ? Sangat tidak layak, kepuasan baru bisa dirasakan dikala apa
yang dicita-citakan telah mencapai ranah kesempurnaan, dalam artian dakwah
telah benar-benar diterima secara luas, penerimaan itupun benar-benar secara hakikat, bukan kamuflase, bukti
diterimanya dakwah secara sempurna tergambar dari aspek kehidupan yang
mengedepankan urusan perintah Allah swt dalam segala aspek kehidupan dengan
segala ketundukan. Jika belum, berarti perjalanan ini masih panjang, masih jauh
yang akan ditempuh, masih banyak rintangan yang harus dihadang, masih
terpancang akar-akar duri yang setiap saat tumbuh dan menusuk proses menuju
kesempurnaan itu.
Kapan kita akan mencapai kesempurnaan ? Mungkin ada
yang bertanya demikian, yang terpenting bukan masalah tercapainya kesempurnaan,
namun bagaimana upaya kita dan sejauh mana mujahadah kita dalam menggapainya,
urusan tercapainya keberhasilan kesempurnaan sepenuhnya berada dalam genggaman
Allah swt, yang terpenting jangan pernah merasa puas dengan apa yang telah kita
gapai karena bisa jadi sesuatu yang menurut kita suatu keberhasilan yang
spektakuler, namun disisi Allah swt merupakan hal yang belum bernilai apa-apa,
sebab apa yang kita lakukan bisa jadi baru sebatas kita telah merasa
bersungguh-sungguh dalam urusan dakwah, padahal jika dibandingkan dengan sepercik
nilai perjuangan yang dilakukan para pendahulu kitapun belum layak untuk
diperbandingkan. Sebab bisa jadi apa yang kita gapai baru merasa berhasil,
bukan suatu keberhasilan yang sesungguhnya. Kembali kita rujuk kata-kata
Rabi’ah di atas: “ Wahai Hasan, ketahuilah, kehebatanmu berdiam diri di dalam
air adalah sama dengan kehebatan yang dimiliki oleh seekor ikan. Kekuatanku
terbang melayang di udara, dapat dilakukan seekor lalat. Kemampuan kita ini
bukanlah bagian dari kebenaran sejati. Kesemuanya itu bisa saja menjadi dasar
kebanggaan diri, dan persaingan, bukan sipiritualitas.”
Renungkanlah
! Sungguh maknanya begitu dalam, sebagai pembelajaran kedua dari kisah di atas.Assalaamu'alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh
Tidak ada komentar:
Posting Komentar