WENDRI NALDI EL-MANINJAUI KHATIB BANDARO

WENDRI NALDI EL-MANINJAUI KHATIB BANDARO
WENDRI NALDI EL-MANINJAUI KHATIB BANDARO

Rabu, 23 November 2011

Tidak Ada Alasan Untuk Berputus Asa Dalam Dakwah


Assalaamu'alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh

Kesyukuran hanya milik Allah swt, shalawat teruntuk Rasulullah saw.

Kisah ini Ana tarik dari tulisan Mohammad Sobary, dalam “ Moralitas Kaum Pinggiran. ” ( Bandung :Mizan Khazanah Ilmu Ilmu Islam, 1994, cet-1 ) :

Abdullah bin Mubarak itu seorang Sufi. Pernah dulu, seperti diceritakan oleh Fariduddin Al-Attar dalam Warisan Para Awliya, dalam tidurnya ia mendengar dua malaikat berdialog tentang para jamaah haji yang baru saja menunaikan ibadah di Tanah Suci.

“ Berapa orang yang datang tahun ini?”
“ Enam ratus ribu.”
“ Dan berapa yang ibadahnya diterima Tuhan?”
“ Tak satu pun.”

Abdullah terperanjat. Ia bangun dengan tubuh gemetar. Ia sendiri termasuk salah seorang jamaah yang baru saja selesai naik haji itu.

“ Apa tak ada yang diterima?” teriaknya. “ Mereka yang telah susah payah datang dari jauh dan melintasi padang pasir itu hanya untuk memetik sebuah kesia-siaan?” seru Abdullah lagi.

“ Meskipun begitu,” jawab malaikat, “ada tukang sapu di Damaskus yang tinggal di rumah tapi hajinya diterima.”

Abdullah makin heran demi mendengar penuturan itu. “Ngendon di rumah, tapi hajinya diterima Tuhan? Apa pula ini? Dan apa memangnya kelebihan ruhani si tukang sepatu itu?” Abdullah penasaran.
Diam-diam lalu Abdullah lalu menyelidik ke Damaskus. Tukang sepatu itu ternyata Ali bin Muwaffak, orang biasa. Tapi, tapi telah tiga puluh tahun ia menabung buat naik haji.
Ketika tiba saatnya, ia menemukan seorang tetangganya yang tampak hidup nelongso. Keluarga itu dalam kesulitan serius. Sudah tiga hari anak-beranak dalam keluarga itu tidak makan sesuatupun. Ali kaget. Tetanggaku, saudaraku sesama Muslim tak bisa makan dan aku mau bermewah diri naik haji? Ia pun pulang ke rumah.

“ Ini tabungan yang aku simpan tiga puluh tahun untuk naik haji. Terimalah dan gunakan uang ini bagi hidupmu sekeluarga. Itula hajiku,” katanya. ( Halaman 23-24 )

Kisah sufi, memang, terkadang membuat kita termenung-menung, kisah yang lebih menghentak kesadaran untuk menyadari betapa kita memiliki Tuhan Yang Maha Pemurah, Allah Azza Wa Jalla. Tidak luput satupun yang kita lakukan lepas dari pantauan Allah swt, semuanya berujung pada kesan; setiap yang terjadi terkandung hikmah yang begitu dahsyat.

Diantara mutiara hikmah yang dapat kita tarik dari kisah tersebut, merupakan suatu support bagi kita yang meniti jalan dakwah ini dengan kesungguhan. Penyemangat dikala kita lemah dan memberi harapan dikala kita merasa apa yang kita lakukan tidak bernilai apa-apa.

Ketahuilah, bagi Allah swt urusan agama adalah urusan perasaan, urusan ruhani, semua itu terletak pada hati, inilah yang terangkum dalam satu konsep, niat. Perbuatan kita sangat ditentukan oleh niat.
Secara mendalam ulama sufi kawakan Imam Al-Ghazali dalam karyanya “ Ihya ‘Ulumiddin “ mengurai penafsiran hadits tentang : “ Niat orang mukmin lebih bagus daripada amalnya.” (H.R. Ath Thabrani dari Hadits Sahl bin Sa’ad dan dari Hadits An Nawas bin Sam’an ). Arti hadits adalah bahwa setiap taat itu tersusun dengan niat dan amal, dan niat itu termasuk sejumlah kebaikan, tetapi niat dari jumlah bahwa taat itu lebih baik daripada amal.

Maksudnya adalah masing-masing dari niat dan amal itu mempunyai pengaruh pada maksud, dan pengaruh niat itu lebih banyak daripada pengaruh amal.
Maka arti hadits adalah niat orang mu’min dari jumlah keta’atannya itu lebih baik daripada amalnya yang ia termasuk jumlah keta’atannya. Maksudnya bahwa hamba itu mempunyai kemauan pada niat dan amal. Keduanya adalah amal perbuatan, dan niat itu dari jumlah adalah paling baik diantara keduanya. Inilah artinya. ( Diterjemahkan oleh Moh. Zuri, Dipl. TAFL, dkk, dengan judul terjemahan Terjemah Ihya’ ‘Ulumiddin Jilid IX, Semarang: Terbitan CV. Asy-Syifa’, cet-Tahun 2003, h. 19-21 ).

Inilah hendaknya yang menjadi perhatian kita disaat melangkah menyusun strategi dakwah yang semakin kompleks permasalahannya. Kecendrungan kita dalam menggapai suatu urusan bagaimana mampu melihat hasil yang kita cita-citakan secara kasat mata. Sehingga kita merasa puas dikala apa yang kita tanam menghasilkan buah dan dapat kita petik hasilnya. Namun, dampak negatif dari kecendrungan ini mampu membuat kita berputus asa dikala yang kita dambakan tidak sesuai dengan apa yang kita cita-citakan.

Dalam urusan dakwah hal ini sering kita temukan,  disaat kita mencoba dengan kesungguhan mengajak, merancang strategi, menyusun kekuatan, melahirkan ide-ide bagaimana prosesi dakwah yang kita lakukan dapat diterima oleh objek dakwah secara matang, namun kenyataannya yang kita temukan malah sebaliknya. Segala yang kita perjuangkan kandas ditengah jalan atau malah dipermulaan jalan. Tentunya hal ini merupakan pukulan berat yang dapat melemahkan semangat kita, bahkan  melumpuhkan ruh dakwah yang menyala-nyala hingga berakibat padam.

Pada titik ini, agar kita tidak terjatuh pada ruang-ruang keputus asaan, kita perlu untuk memahami konsep niat dalam setiap aktifitas dakwah, ketahuilah … merujuk pada kisah Abdullah bin Mubarak dan pengajaran Imam al-Ghazali, yang terpenting dalam sebuah tindakan adalah gerakan hati yang mendorong untuk melakukan sesuatu. Keberhasilan akan tercapainya suatu urusan merupakan urusan lain yang berada dalam genggaman Allah swt, tidak ada satupun kita selaku insan yang lemah mengetahui apa yang akan terjadi esok atau lusa. Keberhasilan dan kegagalan merupakan titik yang kita dapatkan ketika Allah swt memberikan ganjaran terhadap apa yang kita lakukan, dan setiap ganjaran itu bernilai kebaikan,  karena Allah swt tidak akan mendatangkan kemudharatan kepada hamba-Nya.

Disaat kita memperoleh suatu keberhasilan terhadap kebaikan yang kita cita-citakan, hal tersebut merupakan suatu anugrah dari Allah swt. Itu merupakan suatu kebaikan, namun disaat kita memperoleh suatu kegagalan terhadap apa yang kita upayakan, sesungguhnya hal tersebut juga anugrah dari Allah swt, dan juga itu merupakan kebaikan. Karena bisa jadi kegagalan yang kita peroleh menjadi penghalang bagi kita dari bencana yang kita dapatkan dikala kita memperoleh keberhasilan. Sebab, siapa menyangka dengan keberhasilan yang kita peroleh akan dapat melahirkan kesombongan dan keangkuhan pada diri kita yang memang sarat menggerogoti orang-orang yang mendapat keberhasilan. Sungguh hal ini sangat dalam, renungkanlah.

Selanjutnya, kaitannya dalam urusan dakwah ini, disini kita dapat menilik, jika kita terhalang mencapai keberhasilan dakwah yang telah kita tunaikan, itu bukan berarti keburukan yang kita dapatkan, tetap suatu kebaikan, ada hal-hal yang perlu kita intropeksi terhadap gerakan yang telah kita tunaikan, benarkah kita telah bersungguh-sungguh, benarkah yang kita lakukan dengan cara yang dibenarkan, satu lagi benarkan yang kita lakukan ikhlas karena Allah swt. Jika  ternyata memang benar yang kita lakukan demikian, peran niat telah dapat kita petik. Niat itulah yang akan menjadi catatan kebaikan yang kita tunaikan, semua ini tidak nampak hasilnya, namun dapat kita rasakan dalam jiwa, bahwa kita telah melakukan sesuatu, namun Allah swt belum mengizinkan akan sebuah keberhasilan kasat mata, tapi Allah swt telah memberikan hasil yang setimpal dari niat yang kita tancapkan.

Berpegang pada prinsip ini, berlakulah hukum tawakkal, dikala kita tidak memperoleh apa yang kita upayakan, niat kita telah memberikan kontribusi terbaik untuk kita, sesungguhnya kita telah mencapai sebuah keberhasilan, keberhasilan dalam pandangan Allah swt, untuk urusan kasat mata yang tidak tampak keberhasilannya, serahkan urusan itu kepada Allah swt. Hal ini bukan berarti kita berhenti berjuang di jalan dakwah dikala dakwah mendapatkan hambatan, sama sekali bukan, dakwah harus tetap berjalan, akan tetapi untuk memberi kesadaran akan diri kita, tidak ada satupun yang kita lakukan dalam urusan dakwah berakhir dengan kesia-siaan, maka tidak ada alasan untuk berputus asa.



Assalaamu'alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh   

Tidak ada komentar:

Posting Komentar