Assalaamu'alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh
Kesyukuran hanya milik Allah swt, shalawat teruntuk Rasulullah saw.
Kisah ini Ana
tarik dari tulisan Mohammad Sobary, dalam “ Moralitas Kaum Pinggiran. ” (
Bandung :Mizan Khazanah Ilmu Ilmu Islam, 1994, cet-1 ) :
Abdullah bin Mubarak itu seorang Sufi. Pernah dulu,
seperti diceritakan oleh Fariduddin Al-Attar dalam Warisan Para Awliya, dalam tidurnya ia mendengar dua malaikat
berdialog tentang para jamaah haji yang baru saja menunaikan ibadah di Tanah
Suci.
“ Berapa orang yang datang tahun ini?”
“ Enam ratus ribu.”
“ Dan berapa yang ibadahnya diterima Tuhan?”
“ Tak satu pun.”
Abdullah terperanjat. Ia bangun dengan tubuh gemetar.
Ia sendiri termasuk salah seorang jamaah yang baru saja selesai naik haji itu.
“ Apa tak ada yang diterima?” teriaknya. “ Mereka yang
telah susah payah datang dari jauh dan melintasi padang pasir itu hanya untuk
memetik sebuah kesia-siaan?” seru Abdullah lagi.
“ Meskipun begitu,” jawab malaikat, “ada tukang sapu
di Damaskus yang tinggal di rumah tapi hajinya diterima.”
Abdullah makin heran demi mendengar penuturan itu. “Ngendon di rumah, tapi hajinya diterima Tuhan?
Apa pula ini? Dan apa memangnya kelebihan ruhani si tukang sepatu itu?”
Abdullah penasaran.
Diam-diam lalu Abdullah lalu menyelidik ke Damaskus.
Tukang sepatu itu ternyata Ali bin Muwaffak, orang biasa. Tapi, tapi telah tiga
puluh tahun ia menabung buat naik haji.
Ketika tiba saatnya, ia menemukan seorang tetangganya
yang tampak hidup nelongso. Keluarga
itu dalam kesulitan serius. Sudah tiga hari anak-beranak dalam keluarga itu
tidak makan sesuatupun. Ali kaget. Tetanggaku, saudaraku sesama Muslim tak bisa
makan dan aku mau bermewah diri naik haji? Ia pun pulang ke rumah.
“ Ini tabungan yang aku simpan tiga puluh tahun untuk
naik haji. Terimalah dan gunakan uang ini bagi hidupmu sekeluarga. Itula
hajiku,” katanya. ( Halaman 23-24 )
Kisah sufi, memang, terkadang membuat kita
termenung-menung, kisah yang lebih menghentak kesadaran untuk menyadari betapa
kita memiliki Tuhan Yang Maha Pemurah, Allah Azza Wa Jalla. Tidak luput satupun
yang kita lakukan lepas dari pantauan Allah swt, semuanya berujung pada kesan;
setiap yang terjadi terkandung hikmah yang begitu dahsyat.
Diantara mutiara hikmah yang dapat kita tarik dari
kisah tersebut, merupakan suatu support bagi
kita yang meniti jalan dakwah ini dengan kesungguhan. Penyemangat dikala kita
lemah dan memberi harapan dikala kita merasa apa yang kita lakukan tidak
bernilai apa-apa.
Ketahuilah, bagi Allah swt urusan agama adalah urusan
perasaan, urusan ruhani, semua itu terletak pada hati, inilah yang terangkum
dalam satu konsep, niat. Perbuatan kita sangat ditentukan oleh niat.
Secara mendalam ulama sufi kawakan Imam Al-Ghazali
dalam karyanya “ Ihya ‘Ulumiddin “ mengurai penafsiran hadits tentang : “ Niat
orang mukmin lebih bagus daripada amalnya.” (H.R. Ath Thabrani dari Hadits Sahl
bin Sa’ad dan dari Hadits An Nawas bin Sam’an ). Arti hadits adalah bahwa
setiap taat itu tersusun dengan niat dan amal, dan niat itu termasuk sejumlah
kebaikan, tetapi niat dari jumlah bahwa taat itu lebih baik daripada amal.
Maksudnya adalah masing-masing dari niat dan amal itu
mempunyai pengaruh pada maksud, dan pengaruh niat itu lebih banyak daripada
pengaruh amal.
Maka arti hadits adalah niat orang mu’min dari jumlah
keta’atannya itu lebih baik daripada amalnya yang ia termasuk jumlah
keta’atannya. Maksudnya bahwa hamba itu mempunyai kemauan pada niat dan amal.
Keduanya adalah amal perbuatan, dan niat itu dari jumlah adalah paling baik diantara
keduanya. Inilah artinya. ( Diterjemahkan oleh Moh. Zuri, Dipl. TAFL, dkk,
dengan judul terjemahan Terjemah Ihya’ ‘Ulumiddin Jilid IX, Semarang: Terbitan
CV. Asy-Syifa’, cet-Tahun 2003, h. 19-21 ).
Inilah hendaknya yang menjadi perhatian kita disaat
melangkah menyusun strategi dakwah yang semakin kompleks permasalahannya.
Kecendrungan kita dalam menggapai suatu urusan bagaimana mampu melihat hasil
yang kita cita-citakan secara kasat mata. Sehingga kita merasa puas dikala apa
yang kita tanam menghasilkan buah dan dapat kita petik hasilnya. Namun, dampak
negatif dari kecendrungan ini mampu membuat kita berputus asa dikala yang kita
dambakan tidak sesuai dengan apa yang kita cita-citakan.
Dalam urusan dakwah hal ini sering kita temukan, disaat kita mencoba dengan kesungguhan
mengajak, merancang strategi, menyusun kekuatan, melahirkan ide-ide bagaimana
prosesi dakwah yang kita lakukan dapat diterima oleh objek dakwah secara
matang, namun kenyataannya yang kita temukan malah sebaliknya. Segala yang kita
perjuangkan kandas ditengah jalan atau malah dipermulaan jalan. Tentunya hal
ini merupakan pukulan berat yang dapat melemahkan semangat kita, bahkan melumpuhkan ruh dakwah yang menyala-nyala
hingga berakibat padam.
Pada titik ini, agar kita tidak terjatuh pada
ruang-ruang keputus asaan, kita perlu untuk memahami konsep niat dalam setiap
aktifitas dakwah, ketahuilah … merujuk pada kisah Abdullah bin Mubarak dan
pengajaran Imam al-Ghazali, yang terpenting dalam sebuah tindakan adalah
gerakan hati yang mendorong untuk melakukan sesuatu. Keberhasilan akan
tercapainya suatu urusan merupakan urusan lain yang berada dalam genggaman
Allah swt, tidak ada satupun kita selaku insan yang lemah mengetahui apa yang
akan terjadi esok atau lusa. Keberhasilan dan kegagalan merupakan titik yang
kita dapatkan ketika Allah swt memberikan ganjaran terhadap apa yang kita
lakukan, dan setiap ganjaran itu bernilai kebaikan, karena Allah swt tidak akan mendatangkan
kemudharatan kepada hamba-Nya.
Disaat kita memperoleh suatu keberhasilan terhadap
kebaikan yang kita cita-citakan, hal tersebut merupakan suatu anugrah dari
Allah swt. Itu merupakan suatu kebaikan, namun disaat kita memperoleh suatu
kegagalan terhadap apa yang kita upayakan, sesungguhnya hal tersebut juga
anugrah dari Allah swt, dan juga itu merupakan kebaikan. Karena bisa jadi kegagalan
yang kita peroleh menjadi penghalang bagi kita dari bencana yang kita dapatkan
dikala kita memperoleh keberhasilan. Sebab, siapa menyangka dengan keberhasilan
yang kita peroleh akan dapat melahirkan kesombongan dan keangkuhan pada diri
kita yang memang sarat menggerogoti orang-orang yang mendapat keberhasilan.
Sungguh hal ini sangat dalam, renungkanlah.
Selanjutnya, kaitannya dalam urusan dakwah ini, disini
kita dapat menilik, jika kita terhalang mencapai keberhasilan dakwah yang telah
kita tunaikan, itu bukan berarti keburukan yang kita dapatkan, tetap suatu
kebaikan, ada hal-hal yang perlu kita intropeksi terhadap gerakan yang telah
kita tunaikan, benarkah kita telah bersungguh-sungguh, benarkah yang kita
lakukan dengan cara yang dibenarkan, satu lagi benarkan yang kita lakukan
ikhlas karena Allah swt. Jika ternyata
memang benar yang kita lakukan demikian, peran niat telah dapat kita petik.
Niat itulah yang akan menjadi catatan kebaikan yang kita tunaikan, semua ini
tidak nampak hasilnya, namun dapat kita rasakan dalam jiwa, bahwa kita telah
melakukan sesuatu, namun Allah swt belum mengizinkan akan sebuah keberhasilan
kasat mata, tapi Allah swt telah memberikan hasil yang setimpal dari niat yang
kita tancapkan.
Berpegang pada prinsip ini, berlakulah hukum tawakkal, dikala kita tidak memperoleh apa yang kita upayakan, niat kita telah memberikan kontribusi terbaik untuk kita, sesungguhnya kita telah mencapai sebuah keberhasilan, keberhasilan dalam pandangan Allah swt, untuk urusan kasat mata yang tidak tampak keberhasilannya, serahkan urusan itu kepada Allah swt. Hal ini bukan berarti kita berhenti berjuang di jalan dakwah dikala dakwah mendapatkan hambatan, sama sekali bukan, dakwah harus tetap berjalan, akan tetapi untuk memberi kesadaran akan diri kita, tidak ada satupun yang kita lakukan dalam urusan dakwah berakhir dengan kesia-siaan, maka tidak ada alasan untuk berputus asa.
Assalaamu'alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh
Tidak ada komentar:
Posting Komentar