WENDRI NALDI EL-MANINJAUI KHATIB BANDARO

WENDRI NALDI EL-MANINJAUI KHATIB BANDARO
WENDRI NALDI EL-MANINJAUI KHATIB BANDARO

Selasa, 29 November 2011

Sedekahkan Duniamu Untuk Dakwah


Assalaamu’alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh

Syukur Alhamdullihirabbil’aalamiin, kita ucapkan kepada Allah ‘Azza wa Jalla, yang telah menancapkan cahaya hidayah ke dalam relung kehidupan kita, shalawat teruntuk Rasulullah saw.

Membaca tulisan Diyah Kusumawardhani dalam Majalah Islam Sabili Meniti Jalan Menuju Mardhotillah, kolom Oase ( eL-Ka )nomor 13 Tahun XVIII 17 Februari 2011/13 Shafar 1432 dengan judul Sedekahkan Kebun Karena Lalaikan Shalat mampu membuat kita tercenung-cenung, bahkan bisa membuat rona wajah kita berubah karena takut yang begitu dahsyat, apakah gerangan tulisan tersebut ? Kita kutipkan disini :

Diriwayatkan Malik dari Abdullah bin Abi Bakr dalam kitab al-Muwaththa’, 1-119. Bahwa pernah seorang laki-laki Anshar memiliki sebuah kebun kurma. Kebun kurma itu sedang berbuah dengan sangat lebatnya. Ia melakukan shalat di dalam kebun kurmanya itu.

Sang pemilik kebun merasa sangat kagum dengan hasil tanamannya yang berlimpah ruah. Sebentar kemudian ia melanjutkan shalatnya, namun tiba-tiba ia lupa berapa rakaat shalat yang dilakukannya.
Ketika itu ia berkata, “ Buah kurma ini telah mengganggu ketenanganku dalam shalat.”

Kemudian ia mendatangi Utsman bin Affan. Ia menceritakan kejadian tersebut kepada Utsman. Bahwa konsentrasi shalatnya terganggu akibat rasa kagumnya kepada hasil tanamannya yang melimpah ruah.
Utsman mendengarkan dengan seksama. Lalu Utsman pun berkata, “ Sedekahkan saja kebun itu, fisabilillah.” Utsman kemudian membeli kebun tersebut dengan harga lima puluh ribu ( dinar ). ( Halaman 32 )

Aduhai, begitu bijak orang-orang shaleh terdahulu menasehati kita tentang arti hidup yang sesungguhnya, lihatlah bagaiman cara mereka menyikapi suatu ibadah, sungguh begitu agung hati mereka, hati yang terpancar dari cahaya iman yang terang benderang, terbimbing oleh hidayah suci, bernaung dibawah kekuatan ruh al-Qur’an dan Sunnah, karena memang jiwa-jiwa mereka, telah mereka belenggukan dengan erat kepada dua pedoman hidup tersebut, tiada sedikitpun keraguan.

Diantara pesan dari kisah di atas yang dapat kita petik, dunia pada hakikatnya begitu besar godaan, rayuan yang selalu datang tanpa pada arah yang diduga-duga. Kebun kurma, demikianlah dunia yang digambarkan dalam kisah tersebut, maka kejelian Utsman bin Affan dalam menyikapi permasalahan melahirkan solusi, kebun itun harus disedekahkan. Jika memang kita ingin membuktikan kesungguhan kita dalam sebuah pengabdian, maka kita harus menjauhkan dunia dalam kehidupan kita, demikianlah kiranya pesan yang tersirat.

Lantas apakah kita hanya akan memikirkan kehidupan akhirat semata ? Ya, tapi kita harus ingat, kita hidup di dunia, dunia harus ditempuh, karena akhirat itu belum kita temui, kemudian dunia adalah tempat atau alat yang akan menyampaikan kita pada akhirat, alat sangat menentukan keberhasilan suatu tindakan, sederhana analoginya, seperti kita ingin menebang kayu jika menggunakan alat pemotong yang tajam, maka kayu akan mudah ditumbangkan, namun jika sebaliknya maka kayu tidak akan bergeming. Jadi dunia itu tetap penting, dengan dua alasan tadi, namun dunia itu hanya sebagai jembatan, ladang untuk menanam amal shaleh agar kelak diakhirat nanti kita panen hasilnya. Inilah yang diistilahkan secara sederhana dari definisi zuhud yang diajarkan kaum sufi.

Dalam perspektif Utsman bin Affan dengan jawaban filosofisnya, “ Sedekahkan saja kebun itu, fisabilillah.” Mengandung makna yang begitu luar biasa. Sedekahkan duniamu di jalan Allah swt, atau dalam kata lain jadikan dunia ini sebagai tempat untuk menanam kebaikan, dunia sebagai tempat fisabilillah.

Untuk rambu-rambu dakwah kita, hal ini patut dijadikan pegangan yang fundamental, dunia dakwah bukan berarti terlepas dari godaan dan rayuan, hanya saja kebun kurma dakwah itu terkadang lebih liat dan tidak terasa, tapi secara perlahan  telah melalaikan para pejuang di dalamnya hingga tidak menyadari ternyata kita telah jauh terperosok pada jurang yang begitu dalam hingga sulit untuk keluar dari padanya.

Apakah gerangan kebun kurma dakwah ini ? Sangat banyak, namun cukup kita ambil satu contoh sebagai sampel. Kita mungkin sering berbicara dan memahami dengan sungguh-sungguh bagaimana para orang-orang shaleh terdahulu sangat jauh hati mereka dari pandangan manusia. Ibadah, ketaatan, perjuangan semata-mata ikhlas karena Allah swt, bukan karena ingin mendapatkan kedudukan dihati manusia. Sehingga tidak heran kala kita sering menemukan dalam lembaran sejarah, mereka orang-orang shaleh sangat jauh dari kekuasaan, karena kekuasaan adalah kedudukan, kedudukan membuat orang merasa besar hingga melupakan Yang Maha Besar. Dalam dakwah ini, kekuasaan itulah yang sangat rentan merayu dan memberikan iming-iming, dengan berbagai macam alasan akan kita lontarkan untuk melegalkan bahwa dakwah butuh kekuasaan, tanpa kekuasaan dakwah tidak akan berjalan dengan baik, karena kekuasaan itu adalah kekuatan, kekuatan merupakan amunisi dakwah agar dakwah tidak mudah dihancurkan. Bukankah Rasulullah saw pernah berdo’a memohon pada Allah swt agar diantara salah satu Umar diantara dua Umar di Makkah masuk Islam, agar Islam memiliki kekuatan, disebabkan dua Umar di Makkah sosok yang memiliki kekuatan pengaruh luar biasa kala itu. Ternyata takdir Allah swt memancar pada Umar bin Khattab r.a, hingga percikan hidayah merayap dalam dadanya. Lihatlah setelah itu, Islam betul-betul memiliki kekuatan yang luar biasa semenjak Islamnya Umar bin Khattab r.a. Tidak main-main, pada masa pemerintahannya kelak, masa Khulafaurrasyidin, dua imperium besar yang mengguncang Jazirah Arab sebelumnya harus tunduk pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab r.a.

Kita tidak menyangkal alasan tersebut, dan bahkan kitapun mungkin sepakat bahwa memang dakwah itu butuh kekuatan, namun pertanyaannya bukan disana. Tapi mampukah kita bertahan di jalan dakwah yang telah digariskan dikala kekuasaan itu telah kita pegang dan kita memiliki kekuatan penuh untuk mengendalikannya ? Inilah yang dimaksud dengan kebun kurma dakwah itu, betapa banyak kita sering menemukan segelintir orang-orang yang berbicara tentang dakwah, memberikan nasehat pada penguasa, memberikan kritikan atas suatu kekuasaan yang dianggap melanggar syari’at, namun ternyata dikala kekuasaan itu diberikan kepada mereka, malah mereka menyeleweng dari ucapan, dan bahkan apa yang mereka perbuat lebih hina dari orang-orang yang pernah mereka persalahkan.

Disinilah kita mengambil sebuah korelasi dari pelajaran kisah di atas, dengan menyadari kekuasaan begitu penting sebagai sarana untuk melanggengkan urusan dakwah ini, namun  rujuklah bagaimana Utsman bin Affan memberikan solusi, sedekahkan di jalan Allah. Silahkan raih kekuasaan untuk membangun kekuatan dakwah, tapi betul-betul fungsikan dengan menyedekahkan di jalan Allah swt.

Kata kuncinya, sedekahkah duniamu untuk dakwah. Tentunya pahami sedekah disini dalam arti yang luas.

Assalaamu’alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh

Tidak ada komentar:

Posting Komentar