Assalaamu’alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh
Syukur Alhamdullihirabbil’aalamiin, kita ucapkan
kepada Allah ‘Azza wa Jalla, yang telah menancapkan cahaya hidayah ke dalam
relung kehidupan kita, shalawat teruntuk Rasulullah saw.
Membaca tulisan Diyah Kusumawardhani dalam Majalah
Islam Sabili Meniti Jalan Menuju Mardhotillah, kolom Oase ( eL-Ka )nomor 13
Tahun XVIII 17 Februari 2011/13 Shafar 1432 dengan judul Sedekahkan Kebun Karena
Lalaikan Shalat mampu membuat kita tercenung-cenung, bahkan bisa membuat rona
wajah kita berubah karena takut yang begitu dahsyat, apakah gerangan tulisan
tersebut ? Kita kutipkan disini :
Diriwayatkan Malik dari Abdullah bin Abi Bakr dalam
kitab al-Muwaththa’, 1-119. Bahwa
pernah seorang laki-laki Anshar memiliki sebuah kebun kurma. Kebun kurma itu
sedang berbuah dengan sangat lebatnya. Ia melakukan shalat di dalam kebun
kurmanya itu.
Sang pemilik kebun merasa sangat kagum dengan hasil
tanamannya yang berlimpah ruah. Sebentar kemudian ia melanjutkan shalatnya,
namun tiba-tiba ia lupa berapa rakaat shalat yang dilakukannya.
Ketika itu ia berkata, “ Buah kurma ini telah
mengganggu ketenanganku dalam shalat.”
Kemudian ia mendatangi Utsman bin Affan. Ia menceritakan
kejadian tersebut kepada Utsman. Bahwa konsentrasi shalatnya terganggu akibat
rasa kagumnya kepada hasil tanamannya yang melimpah ruah.
Utsman mendengarkan dengan seksama. Lalu Utsman pun
berkata, “ Sedekahkan saja kebun itu, fisabilillah.”
Utsman kemudian membeli kebun tersebut dengan harga lima puluh ribu ( dinar ).
( Halaman 32 )
Aduhai, begitu bijak orang-orang shaleh terdahulu
menasehati kita tentang arti hidup yang sesungguhnya, lihatlah bagaiman cara
mereka menyikapi suatu ibadah, sungguh begitu agung hati mereka, hati yang
terpancar dari cahaya iman yang terang benderang, terbimbing oleh hidayah suci,
bernaung dibawah kekuatan ruh al-Qur’an dan Sunnah, karena memang jiwa-jiwa
mereka, telah mereka belenggukan dengan erat kepada dua pedoman hidup tersebut,
tiada sedikitpun keraguan.
Diantara pesan dari kisah di atas yang dapat kita
petik, dunia pada hakikatnya begitu besar godaan, rayuan yang selalu datang
tanpa pada arah yang diduga-duga. Kebun kurma, demikianlah dunia yang
digambarkan dalam kisah tersebut, maka kejelian Utsman bin Affan dalam
menyikapi permasalahan melahirkan solusi, kebun itun harus disedekahkan. Jika
memang kita ingin membuktikan kesungguhan kita dalam sebuah pengabdian, maka
kita harus menjauhkan dunia dalam kehidupan kita, demikianlah kiranya pesan
yang tersirat.
Lantas apakah kita hanya akan memikirkan kehidupan
akhirat semata ? Ya, tapi kita harus ingat, kita hidup di dunia, dunia harus
ditempuh, karena akhirat itu belum kita temui, kemudian dunia adalah tempat atau
alat yang akan menyampaikan kita pada akhirat, alat sangat menentukan
keberhasilan suatu tindakan, sederhana analoginya, seperti kita ingin menebang
kayu jika menggunakan alat pemotong yang tajam, maka kayu akan mudah
ditumbangkan, namun jika sebaliknya maka kayu tidak akan bergeming. Jadi dunia
itu tetap penting, dengan dua alasan tadi, namun dunia itu hanya sebagai
jembatan, ladang untuk menanam amal shaleh agar kelak diakhirat nanti kita
panen hasilnya. Inilah yang diistilahkan secara sederhana dari definisi zuhud
yang diajarkan kaum sufi.
Dalam perspektif Utsman bin Affan dengan jawaban
filosofisnya, “ Sedekahkan saja kebun itu, fisabilillah.”
Mengandung makna yang begitu luar biasa. Sedekahkan duniamu di jalan Allah swt,
atau dalam kata lain jadikan dunia ini sebagai tempat untuk menanam kebaikan,
dunia sebagai tempat fisabilillah.
Untuk rambu-rambu dakwah kita, hal ini patut dijadikan
pegangan yang fundamental, dunia dakwah bukan berarti terlepas dari godaan dan
rayuan, hanya saja kebun kurma dakwah itu terkadang lebih liat dan tidak
terasa, tapi secara perlahan telah
melalaikan para pejuang di dalamnya hingga tidak menyadari ternyata kita telah
jauh terperosok pada jurang yang begitu dalam hingga sulit untuk keluar dari
padanya.
Apakah gerangan kebun kurma dakwah ini ? Sangat
banyak, namun cukup kita ambil satu contoh sebagai sampel. Kita mungkin sering
berbicara dan memahami dengan sungguh-sungguh bagaimana para orang-orang shaleh
terdahulu sangat jauh hati mereka dari pandangan manusia. Ibadah, ketaatan,
perjuangan semata-mata ikhlas karena Allah swt, bukan karena ingin mendapatkan
kedudukan dihati manusia. Sehingga tidak heran kala kita sering menemukan dalam
lembaran sejarah, mereka orang-orang shaleh sangat jauh dari kekuasaan, karena
kekuasaan adalah kedudukan, kedudukan membuat orang merasa besar hingga
melupakan Yang Maha Besar. Dalam dakwah ini, kekuasaan itulah yang sangat
rentan merayu dan memberikan iming-iming, dengan berbagai macam alasan akan
kita lontarkan untuk melegalkan bahwa dakwah butuh kekuasaan, tanpa kekuasaan
dakwah tidak akan berjalan dengan baik, karena kekuasaan itu adalah kekuatan,
kekuatan merupakan amunisi dakwah agar dakwah tidak mudah dihancurkan. Bukankah
Rasulullah saw pernah berdo’a memohon pada Allah swt agar diantara salah satu
Umar diantara dua Umar di Makkah masuk Islam, agar Islam memiliki kekuatan,
disebabkan dua Umar di Makkah sosok yang memiliki kekuatan pengaruh luar biasa
kala itu. Ternyata takdir Allah swt memancar pada Umar bin Khattab r.a, hingga
percikan hidayah merayap dalam dadanya. Lihatlah setelah itu, Islam betul-betul
memiliki kekuatan yang luar biasa semenjak Islamnya Umar bin Khattab
r.a. Tidak main-main, pada masa pemerintahannya kelak, masa Khulafaurrasyidin,
dua imperium besar yang mengguncang Jazirah Arab sebelumnya harus tunduk pada
masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab r.a.
Kita tidak menyangkal alasan tersebut, dan bahkan
kitapun mungkin sepakat bahwa memang dakwah itu butuh kekuatan, namun
pertanyaannya bukan disana. Tapi mampukah kita bertahan di jalan dakwah yang
telah digariskan dikala kekuasaan itu telah kita pegang dan kita memiliki
kekuatan penuh untuk mengendalikannya ? Inilah yang dimaksud dengan kebun kurma
dakwah itu, betapa banyak kita sering menemukan segelintir orang-orang yang
berbicara tentang dakwah, memberikan nasehat pada penguasa, memberikan kritikan
atas suatu kekuasaan yang dianggap melanggar syari’at, namun ternyata dikala
kekuasaan itu diberikan kepada mereka, malah mereka menyeleweng dari ucapan,
dan bahkan apa yang mereka perbuat lebih hina dari orang-orang yang pernah
mereka persalahkan.
Disinilah kita mengambil sebuah korelasi dari
pelajaran kisah di atas, dengan menyadari kekuasaan begitu penting sebagai
sarana untuk melanggengkan urusan dakwah ini, namun rujuklah bagaimana Utsman bin Affan memberikan
solusi, sedekahkan di jalan Allah. Silahkan raih kekuasaan untuk membangun
kekuatan dakwah, tapi betul-betul fungsikan dengan menyedekahkan di jalan Allah
swt.
Kata kuncinya, sedekahkah duniamu untuk dakwah. Tentunya
pahami sedekah disini dalam arti yang luas.
Assalaamu’alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh
Tidak ada komentar:
Posting Komentar