Assalaamu’alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh
Alhamdulillaahirabbil’aalamiin, Curahan shalawat
teruntuk Rasulullah saw.
Yahya ibn Ja’far menuturkan kepada kami : Aku pernah
mendengar Abu Hanifah bercerita seperti ini :
Suatu hari aku pergi ke sebuah sumber air yang berada
di sebuah desa pedalaman. Sesampainya di tempat yang kutuju, seorang badui
menghampiriku dengan membawa satu kantong air. Aku bermaksud membeli airnya,
tetapi ia hanya mau menjualnya kepadaku dengan harga lima dirham. Akhirnya, aku
pun membeli sekantong air itu dengan harga lima dirham.
Setelah menerima sekantong air itu darinya, aku
berkata kepadanya, “ Wahai orang badui, apakah kamu suka roti ?”
“ Bila kau punya, berikan kepadaku ! ” Pintanya.
Maka akupun memberinya sepotong roti tepung yang sudah
berlumuran dengan minyak. Namun, ia menyantap roti itu dengan lahapnya. Setelah
itu, dia kehausan dan berkata kepadaku, “ Berilah aku seteguk air saja. ”
“ Tapi, kamu harus membayar lima dirham,” Jawabku.
Ternyata, ia menyetujui tawaranku dan aku memberinya
seteguk air minum dengan harga lima dirham. Demikianlah, akhirnya aku bisa
memiliki kembali uang lima dirhamku dan juga sekantong air yang hanya berkurang
satu teguk saja. ( Ibnu al-Jauzi, Qisthi Press : Jakarta, 2007, halaman : 108-109
)
Saudaraku se-Iman …
Kisah ini merupakan kutipan dari karya Ibnu al-Jauzi “
Ahla al-Hikayat min Kitabi al-Adzkiya ” , yang diterjemahkan oleh Abdurrahim
Ahmad dengan judul “ Humor Cerdas ala Orang-orang Cerdik ”. Namun dalam
perspektif bagaimana cara kita memandang kisah hidup orang-orang shaleh, sarat makna kehidupan yang dapat kita jadikan
referensi walaupun hanya dalam peristiwa yanag kejadiannya kelihatan biasa.
Ketahuilah … tiada satupun peristiwa yang diciptakan oleh Allah SWT melalui
hamba-Nya kecuali di dalamnya terdapat nilai-nilai yang dapat dijadikan
pelajaran.
Secara analogis kisah tersebut suatu isyarat dalam
menyikapi fenomena permasalahan yang kita rasakan dalam meniti jalan dakwah.
Relefansinya terletak pada kata kunci bagaimana kita mampu menerapkan konsep “
Mundur satu langkah untuk maju seribu langkah ”.
Jalan dakwah adalah jalan panjang yang berliku, sarat
cobaan dan rintangan, sehingga tidak jarang kita menemukan banyak
sauadara-saudara kita yang gugur dalam meniti jalan ini, hanya keikhlasan dan
kekuatan azzam yang terpatri dengan iman yang akan menguatkannya. Untuk itu
kita dituntut untuk jeli dan mampu menempatkan sesuatu agar roda perputaran
dakwah ini tetap berjalan walaupun diatas jalan berlobang dan bertanjak.
Menempatkan sesuatu dalam artian, disaat kita
merasakan saat-saat sulit dalam dakwah, rintangan dan cobaan terasa semakin
berat, disaat itu kita harus menerapkan konsep “ sedikit mengalah”. Sedikit
mengalah untuk menerima keadaan, sedikit mengalah untuk tidak memaksakan
kebenaran yang kita usung, walaupun hakikatnya yang kita perjuangkan suatu
kebenaran.Tentunya mengalah dalam tatanan
tetap pada garis-garis yang telah ditetapkan. Kongkritnya seperti ini, cobalah
untuk sedikit cair dalam menyikapi permasalahan dakwah, misalnya, disaat kita
mencoba untuk mengajak sekelompok orang kepada jalan kebaikan, ternyata mereka
menolaknya mentah-mentah dengan alasan tidak satu pemikiran dengan kita, hal
ini menuntut kita untuk sedikit mengalah dan mengikuti pemikiran apa sebenarnya
yang mereka tuntut. Seperti kita mencoba mengajak para remaja dalam urusan
dakwah. Kita akan menemukan dari golongan mereka penolakan serius karena upaya
yang kita usung bagi mereka terasa bersebrangan dengan keinginan mereka. Hal
yang mendominasi mereka adalah kehidupan yang sesuai dengan tuntutan dunia
mereka, seperti hiburan, apakah itu musik, pertunjukan olah raga ataupun
tamasya. Sementara yang kita tuntut bagi
mereka adalah keseriusan dalam meniti hidup dengan penuh ketundukan dalam
pengabdian kepada Allah SWT. Untuk kalangan remaja, secara psikologis masa
remaja merupakan masa-masa pubertas yang menuntut keinginan mereka tercapai,
bahkan mereka berani melakukan apa saja asalkan yang mereka inginkan terwujud.
Dalam kondisi tersebut apakah mungkin tuntutan kita
akan bisa diterima oleh mereka ? Tuntutan untuk serius dalam menuntut ilmu,
tuntutan untuk banyak-banyak menanam amal shaleh, tuntutan untuk berjuang,
bergerak dan menggunakan seluruh waktu untuk menebar kebaikan, tuntutan meredan
keinginan hawa nafsu, tuntutan menahan gejolak jiwa melakukan hal-hal yang
mengarah pada hal yang sia-sia. Kembali secara psikologis, hal tersebut berat
bagi mereka, dan kita merasa ragu akan penerimaan mereka terhadap tuntutan
tersebut. Lantas apakah akah kita tunggu pemikiran mereka matang baru kita
masuki dunia mereka dan mengajak pada jalan dakwah ? Tentu saja tidak. Maka
disinilah urgensi kisah di atas dapat kita jadikan i’tibar untuk mengambil
sikap.
Cobalah untuk sedikit mengalah dengan keadaan, ikuti
cara hidup mereka, mengikuti cara hidup mereka inilah yang dimaksud mundur satu
langkah, mengalah. Tapi selama dalam koridor tidak keluar dari rel-rel
syari’at, dan perlahan-lahan sekali melalui gaya hidup mereka itu kita mulai
menyusun strategi dakwah bagaimana gaya hidup mereka itu dialihkan secara
perlahan dan bijak sehingga mengarah pada situasi dan suasana yang kita
inginkan. Silahkan kita menjadi diri mereka, namun kita tidak menjadi mereka,
ibarat kata bijak : “ Jika kita ingin membawa ayam keluar dari kandangnya, maka
kita harus mampu menirukan suara ayam untuk memanggilnya, namun jangan kita
menjadi ayam.” Maka, masuklah ke dalam kehidupan objek dakwah, warnai mereka, tapi
jangan sampai kita yang terwarnai.
Secara naluri dakwah kita mungkin akan merasa berat
melakukan hal ini, mengalah untuk urusan dakwah suatu hal yang berat, apakah
kita harus mengalah untuk menegakkan suatu kebenaran ? Bahkan kita rela
berpisah nyawa dari badan untuk kebenaran ini. Tapi ketahuilah … mengalah
adalah bagian dari strategi dakwah, hal itu merupakan fase untuk melangkah
lebih jauh ke depan. Mengalah bukan berarti kalah, tapi membentuk strategi baru
agar dakwah lebih mudah dan dapat diterima. Sekali lagi yang harus ditanamkan
adalah kata kuncinya, mengalah dalam koridor tidak keluar dari jalan syari’at.
Bukankah Hijrahnya Rasulullah SAW dari Makkah ke
Yastrib hingga bernama Madinah adalah upaya “ mengalah ” dalam makna lain ? Yakni
mengalah dalam merancang strategi. Mengapa ? Jika Rasulullah SAW dan kaum
muslimin tetap bertahan di Makkah dan mengadakan perlawanan, sementara suasana
dan kondisi tidak berpotensi untuk mendapatkan kemenangan maka yang
dicita-citakan tidak akan tercapai . Namun dengan konsep mengalahnya Rasulullah
SAW dan kaum muslimin dengan berhijrah ke Yastrib,maka lihatlah, lihatlah hasil
tersebut, Jaziratul Arabia tunduk dibawah pengaruh Islam.
Jadi,sekali lagi, mengalah bukan berarti kalah, tapi
untuk menyusun strategi dan mendapatkan hasil yang lebih. Inilah yang dimaksud
dengan “ Mundur satu langkah untuk maju seribu langkah.” Seperti mengalahnya
Imam Ahmad terhadap orang Badui di atas,
tapi akhirnya malah ia mendapat keuntungan dengan upaya “ mengalahnya”.
Ketahuilah… semua itu hanya mampu dilakukan oleh orang-orang yang berpikiran
dengan bijak. Tidak hanya menggunakan kecerdasan otak, tapi naluri kebijaksaan
yang mengendalikan.
Assalaamu’alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh
Tidak ada komentar:
Posting Komentar