WENDRI NALDI EL-MANINJAUI KHATIB BANDARO

WENDRI NALDI EL-MANINJAUI KHATIB BANDARO
WENDRI NALDI EL-MANINJAUI KHATIB BANDARO

Rabu, 23 November 2011

Mengalah dalam Urusan Dakwah


Assalaamu’alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh

Alhamdulillaahirabbil’aalamiin, Curahan shalawat teruntuk Rasulullah saw.

Yahya ibn Ja’far menuturkan kepada kami : Aku pernah mendengar Abu Hanifah bercerita seperti ini :

Suatu hari aku pergi ke sebuah sumber air yang berada di sebuah desa pedalaman. Sesampainya di tempat yang kutuju, seorang badui menghampiriku dengan membawa satu kantong air. Aku bermaksud membeli airnya, tetapi ia hanya mau menjualnya kepadaku dengan harga lima dirham. Akhirnya, aku pun membeli sekantong air itu dengan harga lima dirham.
Setelah menerima sekantong air itu darinya, aku berkata kepadanya, “ Wahai orang badui, apakah kamu suka roti ?”
“ Bila kau punya, berikan kepadaku ! ”  Pintanya.
Maka akupun memberinya sepotong roti tepung yang sudah berlumuran dengan minyak. Namun, ia menyantap roti itu dengan lahapnya. Setelah itu, dia kehausan dan berkata kepadaku, “ Berilah aku seteguk air saja. ”
“ Tapi, kamu harus membayar lima dirham,” Jawabku.
Ternyata, ia menyetujui tawaranku dan aku memberinya seteguk air minum dengan harga lima dirham. Demikianlah, akhirnya aku bisa memiliki kembali uang lima dirhamku dan juga sekantong air yang hanya berkurang satu teguk saja. ( Ibnu al-Jauzi, Qisthi Press : Jakarta, 2007, halaman : 108-109 )

Saudaraku se-Iman …

Kisah ini merupakan kutipan dari karya Ibnu al-Jauzi “ Ahla al-Hikayat min Kitabi al-Adzkiya ” , yang diterjemahkan oleh Abdurrahim Ahmad dengan judul “ Humor Cerdas ala Orang-orang Cerdik ”. Namun dalam perspektif bagaimana cara kita memandang kisah hidup orang-orang shaleh,  sarat makna kehidupan yang dapat kita jadikan referensi walaupun hanya dalam peristiwa yanag kejadiannya kelihatan biasa. Ketahuilah … tiada satupun peristiwa yang diciptakan oleh Allah SWT melalui hamba-Nya kecuali di dalamnya terdapat nilai-nilai yang dapat dijadikan pelajaran.

Secara analogis kisah tersebut suatu isyarat dalam menyikapi fenomena permasalahan yang kita rasakan dalam meniti jalan dakwah. Relefansinya terletak pada kata kunci bagaimana kita mampu menerapkan konsep “ Mundur satu langkah untuk maju seribu langkah ”.
Jalan dakwah adalah jalan panjang yang berliku, sarat cobaan dan rintangan, sehingga tidak jarang kita menemukan banyak sauadara-saudara kita yang gugur dalam meniti jalan ini, hanya keikhlasan dan kekuatan azzam yang terpatri dengan iman yang akan menguatkannya. Untuk itu kita dituntut untuk jeli dan mampu menempatkan sesuatu agar roda perputaran dakwah ini tetap berjalan walaupun diatas jalan berlobang dan bertanjak.

Menempatkan sesuatu dalam artian, disaat kita merasakan saat-saat sulit dalam dakwah, rintangan dan cobaan terasa semakin berat, disaat itu kita harus menerapkan konsep “ sedikit mengalah”. Sedikit mengalah untuk menerima keadaan, sedikit mengalah untuk tidak memaksakan kebenaran yang kita usung, walaupun hakikatnya yang kita perjuangkan suatu kebenaran.Tentunya  mengalah dalam tatanan tetap pada garis-garis yang telah ditetapkan. Kongkritnya seperti ini, cobalah untuk sedikit cair dalam menyikapi permasalahan dakwah, misalnya, disaat kita mencoba untuk mengajak sekelompok orang kepada jalan kebaikan, ternyata mereka menolaknya mentah-mentah dengan alasan tidak satu pemikiran dengan kita, hal ini menuntut kita untuk sedikit mengalah dan mengikuti pemikiran apa sebenarnya yang mereka tuntut. Seperti kita mencoba mengajak para remaja dalam urusan dakwah. Kita akan menemukan dari golongan mereka penolakan serius karena upaya yang kita usung bagi mereka terasa bersebrangan dengan keinginan mereka. Hal yang mendominasi mereka adalah kehidupan yang sesuai dengan tuntutan dunia mereka, seperti hiburan, apakah itu musik, pertunjukan olah raga ataupun tamasya.  Sementara yang kita tuntut bagi mereka adalah keseriusan dalam meniti hidup dengan penuh ketundukan dalam pengabdian kepada Allah SWT. Untuk kalangan remaja, secara psikologis masa remaja merupakan masa-masa pubertas yang menuntut keinginan mereka tercapai, bahkan mereka berani melakukan apa saja asalkan yang mereka inginkan terwujud.
Dalam kondisi tersebut apakah mungkin tuntutan kita akan bisa diterima oleh mereka ? Tuntutan untuk serius dalam menuntut ilmu, tuntutan untuk banyak-banyak menanam amal shaleh, tuntutan untuk berjuang, bergerak dan menggunakan seluruh waktu untuk menebar kebaikan, tuntutan meredan keinginan hawa nafsu, tuntutan menahan gejolak jiwa melakukan hal-hal yang mengarah pada hal yang sia-sia. Kembali secara psikologis, hal tersebut berat bagi mereka, dan kita merasa ragu akan penerimaan mereka terhadap tuntutan tersebut. Lantas apakah akah kita tunggu pemikiran mereka matang baru kita masuki dunia mereka dan mengajak pada jalan dakwah ? Tentu saja tidak. Maka disinilah urgensi kisah di atas dapat kita jadikan i’tibar untuk mengambil sikap.

Cobalah untuk sedikit mengalah dengan keadaan, ikuti cara hidup mereka, mengikuti cara hidup mereka inilah yang dimaksud mundur satu langkah, mengalah. Tapi selama dalam koridor tidak keluar dari rel-rel syari’at, dan perlahan-lahan sekali melalui gaya hidup mereka itu kita mulai menyusun strategi dakwah bagaimana gaya hidup mereka itu dialihkan secara perlahan dan bijak sehingga mengarah pada situasi dan suasana yang kita inginkan. Silahkan kita menjadi diri mereka, namun kita tidak menjadi mereka, ibarat kata bijak : “ Jika kita ingin membawa ayam keluar dari kandangnya, maka kita harus mampu menirukan suara ayam untuk memanggilnya, namun jangan kita menjadi ayam.” Maka, masuklah ke dalam kehidupan objek dakwah, warnai mereka, tapi jangan sampai kita yang terwarnai.
Secara naluri dakwah kita mungkin akan merasa berat melakukan hal ini, mengalah untuk urusan dakwah suatu hal yang berat, apakah kita harus mengalah untuk menegakkan suatu kebenaran ? Bahkan kita rela berpisah nyawa dari badan untuk kebenaran ini. Tapi ketahuilah … mengalah adalah bagian dari strategi dakwah, hal itu merupakan fase untuk melangkah lebih jauh ke depan. Mengalah bukan berarti kalah, tapi membentuk strategi baru agar dakwah lebih mudah dan dapat diterima. Sekali lagi yang harus ditanamkan adalah kata kuncinya, mengalah dalam koridor tidak keluar dari jalan syari’at.

Bukankah Hijrahnya Rasulullah SAW dari Makkah ke Yastrib hingga bernama Madinah adalah upaya “ mengalah ” dalam makna lain ? Yakni mengalah dalam merancang strategi. Mengapa ? Jika Rasulullah SAW dan kaum muslimin tetap bertahan di Makkah dan mengadakan perlawanan, sementara suasana dan kondisi tidak berpotensi untuk mendapatkan kemenangan maka yang dicita-citakan tidak akan tercapai . Namun dengan konsep mengalahnya Rasulullah SAW dan kaum muslimin dengan berhijrah ke Yastrib,maka lihatlah, lihatlah hasil tersebut, Jaziratul Arabia tunduk dibawah pengaruh Islam.

Jadi,sekali lagi, mengalah bukan berarti kalah, tapi untuk menyusun strategi dan mendapatkan hasil yang lebih. Inilah yang dimaksud dengan “ Mundur satu langkah untuk maju seribu langkah.” Seperti mengalahnya Imam Ahmad terhadap orang Badui  di atas, tapi akhirnya malah ia mendapat keuntungan dengan upaya “ mengalahnya”. Ketahuilah… semua itu hanya mampu dilakukan oleh orang-orang yang berpikiran dengan bijak. Tidak hanya menggunakan kecerdasan otak, tapi naluri kebijaksaan yang mengendalikan.

Assalaamu’alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar