Assalaamu'alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh
Puji syukur hanya kepada Allah swt, shalawat buat Rasulullah saw.
Mungkin kita
pernah merasakan, mengapa ibadah yang kita tunaikan terasa hambar, rutinitas
shalat yang kita lakukan tak lebih dari gerakan rukuk dan sujud tanpa pengaruh,
percikan air wudhu’ seakan tak terasa
menyentuh relung hati yang terdalam, bacaan tilawah al-Qur’an yang kita
lantunkan seperti tak berkesan dalam kalbu, mengapa demikian … ??? Pernahkah
kita mempertanyakan ??? Atau mungkin memang kita enggan untuk mempertanyakan
???
Sebagai
bahan intropeksi bagi diri kita, layak kiranya kita mempertanyakan hal
demikian, sebab jika hal ini dibiarkan berlarut-larut akan menimbulkan kesan
bahwa ibadah hanya sebatas ritual belaka, ibadah hanya sebatas tiket untuk
masuk ke dalam surga, ibadah hanya sebatas karena kita tak ingin dicap kafir.
Padahal,
hakekat pensyari’atan ibadah kepada kita oleh Allah swt memiliki tujuan agung
agar kita mampu mengarungi kehidupan ini dengan penuh ketenangan. Pensyari’atan ibadah selalu melahirkan hikmah
yang luar biasa, seperti pensyari’atan shalat yang dapat mencegah perbuatan
keji dan mungkar sebagaimana Allah swt gariskan yang tercantum dalam al-Qur’an
surat al-Ankabut ayat 45. Puasa yang menumbuhkan rasa kepedulian sosial, dan
haji yang membangkitkan rasa kebersamaan, semuanya bermuara pada ketenangan
kalbu dan melahirkan pengaruh begitu dahsyat akan kelangsungan hidup.
Namun
seperti pertanyaan tadi, entah mengapa ibadah yang kita tunaikan seakan tak
mewujudkan kesan seperti di atas, dalam tahap ini kita coba untuk menganalisis
ibadah kita, semoga hal ini menjadi pemicu dan membangkitkan kesadaran kita
akan pentingnya ibadah dan menumbuhkan semangat beribadah yang mengarah pada
hakikat ibadah yang sesungguhnya :
Pertama, Yang harus dipahami ibadah adalah
manifestasi ketundukan, dikala kita hendak melakukan ibadah dalam level apapun,
maka resapilah bahwa ibadah yang kita lakukan bentuk kesadaran kita selaku
hamba yang telah digariskan untuk
beribadah kepada-Nya, jelas hal tersebut termaktub dalam al-Qur’an surat
Adz-Dzariyat ayat 56. Pertanyaannya bagaimana menumbuhkan kesadaran akan
pentingnya ibadah sebagai bentuk ketundukan ? Ya, kita harus menyadari,
kehidupan yang diberikan oleh Allah swt kepada kita untuk apa ?
Hakikat yang
kita butuhkan dalam hidup ini sebenarnya adalah ibadah, hanya saja karena dalam
perjalanannya terdapat banyak godaan, maka makna hakikat itu menjadi buram
sampai kabur, bahkan sampai menghitam. Mengapa ibadah yang kita butuhkan
hakikatnya ? Sederhana jawabnya, kalau bukan untuk ibadah untuk apa kita hidup
? Apakah untuk mencari makan, binatang juga mencari makan, untuk mencari harta
yang banyak ? Toh, harta tersebut akan kita tinggalkan. Untuk mendapatkan
kesenangan ? Bukankah lebih baik kita tidak dilahirkan kedunia ini yang
mengandung berbagai macam problema ? Yang namanya hidup, kesenangan tidak akan
selalu berpihak pada kita.
Menyadari
hal tersebut, jelas yang kita butuhkan hakikatnya adalah ibadah, sekarang
bentuk ibadah itu telah diberikan oleh Allah swt, telah diberikan kita petunjuk
jalan untuk melakukannya tanpa meraba-raba, yakni al-Qur’an dan Sunnah. Tidak
mampu kita membayangkan jikalau kita membutuhkan ibadah, sementara kita tidak
diberikan petunjuk dan tata cara pelaksanannya, meraba-raba sesuatu yang kita
harapkan merupakan suatu hal yang menggelisahkan dan menyakitkan.
Bagi Allah
swt skenario tersebut telah tertata rapi, melalui rasul-Nya, Allah swt tuntun
kita mencapai kebutuhan yang kita butuhkan, Allah swt penuhi kebutuhan kita
akan ibadah, tinggal kita lagi bagaimana menunaikan kebutuhan yang telah
diberikan tersebut.
Pada tahap
ini, dapatlah kita pahami, dikala kebutuhan kita terpenuhi, apakah kita akan
meremehkan kebutuhan tersebut ? Tak masuk akal jika jawabannya ya, sebab tidak
termasuk dalam logika orang-orang yang berakal, disaat seseorang membutuhkan
sesuatu, lalu saat kebutuhan yang dibutuhkan tergapai malah ia campakkan.
Logisnya kebutuhan itu ia jaga sepenuh jiwa, bahkan dengan darah dan nyawanya.
Dari sinilah
hendaknya langkah kita mengambil pemahaman akan kesadaran ibadah, bahwa ibadah
adalah kebutuhan yang telah diberikan oleh Allah swt, akankah kita sia-siakan
hal ini, tentu tidak, malah kita akan mempertahankan dengan sepenuh jiwa. Jika
hal ini telah terpatri dalam jiwa kita, yakinlah ibadah tidak akan bermakna
beban ritual yang memberatkan, tapi malah menjadi kebutuhan yang membuat kita
rindu untuk selalu melakukannya.
Kedua, Suatu makanan akan terasa hambar
jika tidak dicukupi dengan bumbu yang membuatnya menjadi lezat, maka disaat
kesadaran akan pentingnya ibadah itu telah tertancap dalam jiwa, maka bumbuilah
ibadah itu agar bermakna. Apakah gerangan bumbu tersebut ? Nawaitu ikhlas
mengharap keridhaan yang memberikan syari’at ibadah, Allah swt. Karena arah dan tujuan kebutuhan
akan ibadah itu hanya untuk Allah swt. Allah swt mencukupi kebutuhan kita
akan ibadah, maka tempat muara ibadah
itu harus ditujukan kepada sang pemberi kecukupan.
Kembali
kepada tadi, kesadaran akan tumbuh dikala kita merasa butuh, sekarang kebutuhan
itu telah terpenuhi, namu pemenuhan kebutuhan ini tidak akan cukup dirasakan
oleh jiwa, dalam artian kebutuhan tersebut belum merasa tercukupi dikala tidak
dibumbui dengan porsi bumbunya. Kita
tidak akan merasakan nikmatnya memakan suatu makanan yang kurang bumbunya,
hambar. Maka ibadah tidak akan mendapatkan kenikmatan dikala bumbunya tidak
terpenuhi, itulah ikhlas. Nikmat ibadah akan terasa dikala ditunaikan dengan
ikhlas, bukan karena sesuatu hal lain, murni karena memang kita selayaknya
mengibadahkan diri dengan tulus kepada Allah swt.
Apabila hal
ini telah tercapai, insya Allah, ibadah yang kita tunaikan selama ini, akan
menimbulkan bekas dalam kehidupan kita, bekas yang akan semakin memicu semangat
kiat untuk terus dan terus menanam keinginan untuk beribadah.
Renungkanlah
… semoga bahan intropeksi bagi kita semua …
Assalaamu'alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh
Tidak ada komentar:
Posting Komentar