WENDRI NALDI EL-MANINJAUI KHATIB BANDARO

WENDRI NALDI EL-MANINJAUI KHATIB BANDARO
WENDRI NALDI EL-MANINJAUI KHATIB BANDARO

Kamis, 26 Januari 2012

Dikala Ibadah Terasa Hambar


Assalaamu'alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh

Puji syukur hanya kepada Allah swt, shalawat buat Rasulullah saw.

Mungkin kita pernah merasakan, mengapa ibadah yang kita tunaikan terasa hambar, rutinitas shalat yang kita lakukan tak lebih dari gerakan rukuk dan sujud tanpa pengaruh, percikan air wudhu’  seakan tak terasa menyentuh relung hati yang terdalam, bacaan tilawah al-Qur’an yang kita lantunkan seperti tak berkesan dalam kalbu, mengapa demikian … ??? Pernahkah kita mempertanyakan ??? Atau mungkin memang kita enggan untuk mempertanyakan ???

Sebagai bahan intropeksi bagi diri kita, layak kiranya kita mempertanyakan hal demikian, sebab jika hal ini dibiarkan berlarut-larut akan menimbulkan kesan bahwa ibadah hanya sebatas ritual belaka, ibadah hanya sebatas tiket untuk masuk ke dalam surga, ibadah hanya sebatas karena kita tak ingin dicap kafir.

Padahal, hakekat pensyari’atan ibadah kepada kita oleh Allah swt memiliki tujuan agung agar kita mampu mengarungi kehidupan ini dengan penuh ketenangan.  Pensyari’atan ibadah selalu melahirkan hikmah yang luar biasa, seperti pensyari’atan shalat yang dapat mencegah perbuatan keji dan mungkar sebagaimana Allah swt gariskan yang tercantum dalam al-Qur’an surat al-Ankabut ayat 45. Puasa yang menumbuhkan rasa kepedulian sosial, dan haji yang membangkitkan rasa kebersamaan, semuanya bermuara pada ketenangan kalbu dan melahirkan pengaruh begitu dahsyat akan kelangsungan hidup.
Namun seperti pertanyaan tadi, entah mengapa ibadah yang kita tunaikan seakan tak mewujudkan kesan seperti di atas, dalam tahap ini kita coba untuk menganalisis ibadah kita, semoga hal ini menjadi pemicu dan membangkitkan kesadaran kita akan pentingnya ibadah dan menumbuhkan semangat beribadah yang mengarah pada hakikat ibadah yang sesungguhnya :

Pertama, Yang harus dipahami ibadah adalah manifestasi ketundukan, dikala kita hendak melakukan ibadah dalam level apapun, maka resapilah bahwa ibadah yang kita lakukan bentuk kesadaran kita selaku hamba yang  telah digariskan untuk beribadah kepada-Nya, jelas hal tersebut termaktub dalam al-Qur’an surat Adz-Dzariyat ayat 56. Pertanyaannya bagaimana menumbuhkan kesadaran akan pentingnya ibadah sebagai bentuk ketundukan ? Ya, kita harus menyadari, kehidupan yang diberikan oleh Allah swt kepada kita untuk apa ?

Hakikat yang kita butuhkan dalam hidup ini sebenarnya adalah ibadah, hanya saja karena dalam perjalanannya terdapat banyak godaan, maka makna hakikat itu menjadi buram sampai kabur, bahkan sampai menghitam. Mengapa ibadah yang kita butuhkan hakikatnya ? Sederhana jawabnya, kalau bukan untuk ibadah untuk apa kita hidup ? Apakah untuk mencari makan, binatang juga mencari makan, untuk mencari harta yang banyak ? Toh, harta tersebut akan kita tinggalkan. Untuk mendapatkan kesenangan ? Bukankah lebih baik kita tidak dilahirkan kedunia ini yang mengandung berbagai macam problema ? Yang namanya hidup, kesenangan tidak akan selalu berpihak pada kita.
Menyadari hal tersebut, jelas yang kita butuhkan hakikatnya adalah ibadah, sekarang bentuk ibadah itu telah diberikan oleh Allah swt, telah diberikan kita petunjuk jalan untuk melakukannya tanpa meraba-raba, yakni al-Qur’an dan Sunnah. Tidak mampu kita membayangkan jikalau kita membutuhkan ibadah, sementara kita tidak diberikan petunjuk dan tata cara pelaksanannya, meraba-raba sesuatu yang kita harapkan merupakan suatu hal yang menggelisahkan dan menyakitkan.

Bagi Allah swt skenario tersebut telah tertata rapi, melalui rasul-Nya, Allah swt tuntun kita mencapai kebutuhan yang kita butuhkan, Allah swt penuhi kebutuhan kita akan ibadah, tinggal kita lagi bagaimana menunaikan kebutuhan yang telah diberikan tersebut.
Pada tahap ini, dapatlah kita pahami, dikala kebutuhan kita terpenuhi, apakah kita akan meremehkan kebutuhan tersebut ? Tak masuk akal jika jawabannya ya, sebab tidak termasuk dalam logika orang-orang yang berakal, disaat seseorang membutuhkan sesuatu, lalu saat kebutuhan yang dibutuhkan tergapai malah ia campakkan. Logisnya kebutuhan itu ia jaga sepenuh jiwa, bahkan dengan darah dan nyawanya.

Dari sinilah hendaknya langkah kita mengambil pemahaman akan kesadaran ibadah, bahwa ibadah adalah kebutuhan yang telah diberikan oleh Allah swt, akankah kita sia-siakan hal ini, tentu tidak, malah kita akan mempertahankan dengan sepenuh jiwa. Jika hal ini telah terpatri dalam jiwa kita, yakinlah ibadah tidak akan bermakna beban ritual yang memberatkan, tapi malah menjadi kebutuhan yang membuat kita rindu untuk selalu melakukannya.

Kedua, Suatu makanan akan terasa hambar jika tidak dicukupi dengan bumbu yang membuatnya menjadi lezat, maka disaat kesadaran akan pentingnya ibadah itu telah tertancap dalam jiwa, maka bumbuilah ibadah itu agar bermakna. Apakah gerangan bumbu tersebut ? Nawaitu ikhlas mengharap keridhaan yang memberikan syari’at ibadah,  Allah swt. Karena arah dan tujuan kebutuhan akan ibadah itu hanya untuk Allah swt. Allah swt mencukupi kebutuhan kita akan  ibadah, maka tempat muara ibadah itu harus ditujukan kepada sang pemberi kecukupan.

Kembali kepada tadi, kesadaran akan tumbuh dikala kita merasa butuh, sekarang kebutuhan itu telah terpenuhi, namu pemenuhan kebutuhan ini tidak akan cukup dirasakan oleh jiwa, dalam artian kebutuhan tersebut belum merasa tercukupi dikala tidak dibumbui dengan porsi bumbunya.  Kita tidak akan merasakan nikmatnya memakan suatu makanan yang kurang bumbunya, hambar. Maka ibadah tidak akan mendapatkan kenikmatan dikala bumbunya tidak terpenuhi, itulah ikhlas. Nikmat ibadah akan terasa dikala ditunaikan dengan ikhlas, bukan karena sesuatu hal lain, murni karena memang kita selayaknya mengibadahkan diri dengan tulus kepada Allah swt.
Apabila hal ini telah tercapai, insya Allah, ibadah yang kita tunaikan selama ini, akan menimbulkan bekas dalam kehidupan kita, bekas yang akan semakin memicu semangat kiat untuk terus dan terus menanam keinginan untuk beribadah.
Renungkanlah … semoga bahan intropeksi bagi kita semua …

Assalaamu'alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh

Tidak ada komentar:

Posting Komentar