Assalaamu'alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh
Puji syukur kepada Allah swt, shalawat buat Rasulullah saw.
Kata,
alat komunikasi penyampai pesan dalam bentuk apapun, dengan kata seseorang
mampu menjalin silaturrahim, dengan kata seseorang mampu menanam amal
kebajikan, namun juga dengan kata segala kemungkaran akan bertebaran secara
berantai. Bukankah dengan kata, nasehat akan berbekas dalam hati, namun juga
dengan kata dua orang bersaudara akan dapat bermusuhan. Dakwah disampaikan
dengan kata, ghibah juga dengan kata, dusta juga berhubungan erat dengan kata.
Intinya kata merupakan media untuk mencapai apa yang diinginkan, ia akan
membawa kebaikan, jika mengandung kebaikan, dan akan membawa malapetaka jika
mengandung marabahaya.
Menempatkan
kata dalam hidup begitu penting, seseorang bisa diukur hatinya dari
perkataannya, selihai apapun orang merangkai kata, tapi dari rangkaian kata
yang keluar dari katanya, menunjukkan siapa dia sesungguhnya. Seseorang yang
berdusta tetap akan diketahui kedustaannya dari cara ia berkata-kata, walau hal
ini sulit dideteksi. Seseorang yang jujur dalam berkata-kata juga akan dapat
diketahui kejujurannya, juga walau hal ini sulit dipahami. Tapi tetap kata
adalah bentuk lahir dari apa yang ada dihati.
Namun
ada kata yang tidak sesuai dengan apa yang dihati, lain apa yang keluar dari
mulut, lain pula dari apa yang sesungguhnya dalam hati, agama kita menyebutnya,
inilah yang dimaksud dengan munafik. Ancaman Allah swt tidak main-main dalam
urusan munafik ini. Hal ini mengindikasikan tetap apa yang dikatakan
menunjukkan siapa dia sesungguhnya, yakni munafik.
Pernahkah
kita mencoba mengintropeksi kata-kata yang keluar dari lisan kita dalam satu
hari ? Dari rangkaian kata yang bertebaran kepada banyak orang sudahkah mengandung kebaikan? Atau
malah menebar malapetaka bagi orang yang mendengarnya, apalagi jika sampai
kata-kata yang mengandung malapetaka itu disampaikan orang pula secara
berantai, na’udzubillah, mengalir
dosanya kepada kita, walau jasad kita telah hancur dikandung tanah.
Saudaraku
…
Kita
mungkin pernah melontarkan kata-kata yang membuat orang lain sakit hati, namun
kita abaikan begitu saja, dengan alasan lidah tidak bertulang, biasalah kalau
lidah keseleo, setelah itu kita lupa. Kelupaan kita tersebut merupakan awal
dari rusaknya hubungan kita dengan orang yang pernah kita sakiti dengan
kata-kata, dan tahukah antum setelah itu … jika hal ini lama-lama dan bertambah
banyak kita semai, lambat laun orang-orang akan menjauh dari kita, bahkan
orang-orang yang kita cintai sekalipun, muaranya adalah putusnya hubungan
silaturrahim. Duhai … sadarilah … besar kemurkaan Allah swt bagi orang-orang
yang memutuskan hubungan silaturrahim, tidak akan masuk sorga, ancam Rasulullah
saw.
Namun
terkadang, kesadaran kita bebal akan hal ini, malah dikala orang-orang menjauh
dari kita, karena ulah kata yang tidak pada tempatnya namun telah kita lupakan,
dan dikala orang-orang menjauh dari kita akibat dari kata-kata tersebut, kita
malah melontarkan tuduhan orang tersebut yang memutuskan hubungan silaturrahim
dengan kita karena menjaga jarak dengan kita. Pertanyaannya, mengapa hal
tersebut bisa terjadi ? Ya … karena itu tadi, berawal dari kata yang keluar,
namun dianggap sepele.
Untuk
itu saudaraku …
Sebelum
tidur, cobalah merenung agak sejenak, tentang perbendaharaan kata-kata yang
pernah terucap oleh kita dalam satu hari, dikala hati sedang tenang, jiwa dalam
keadaan stabil menerima kebenaran, disana akan terpancar kebenaran hakiki yang
akan mengoreksi segala tindakan kita, termasuk kata-kata kita. Insya Allah,
jika kita bersedia merenung kata-kata yang pernah kita ucapkan dalam satu hari,
mengoreksinya, ternyata banyak kesalahan dan kekhilafahan yang bukan main-main
dan berdampak buruk terhadap orang-orang yang pernah kita lontarkan kata-kata.
Perenungan
ini akan mengasah jiwa kita untuk lebih berhati-hati dalam mengeluarkan
kata-kata, berpikir sebelum melontarkannya, dan menganalisa dampaknya. Takutlah
… jika kata-kata telah terlontar …maka tidak akan mampu ditarik kembali … ia
mengalir deras bagaikan air, menghantam apa saja yang ada didepannya. Alangkah
ngerinya dikala kata-kata yang kita ucapkan membinasakan banyak orang, bahkan
menjadi pegangan dan rujukan orang lain dalam mengeluarkan kata-kata.
Na’udzubillah.
Sesungguhnya
setiap kata yang diucapkan akan dicatat oleh malaikat dan akan menjadi
persaksian kelak diakhirat kelak tentang apa yang kita ucapkan, tak ada satupun
yang luput dari pantauan Allah swt, berhati-hatilah wahai saudaraku seiman.
Assalaamu'alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh
Tidak ada komentar:
Posting Komentar