WENDRI NALDI EL-MANINJAUI KHATIB BANDARO

WENDRI NALDI EL-MANINJAUI KHATIB BANDARO
WENDRI NALDI EL-MANINJAUI KHATIB BANDARO

Senin, 30 Januari 2012

" Setiap Kata Yang Terucap Tak Satupun Luput Dari Pantauan Allah swt "


Assalaamu'alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh

Puji syukur kepada Allah swt, shalawat buat Rasulullah saw.

Kata, alat komunikasi penyampai pesan dalam bentuk apapun, dengan kata seseorang mampu menjalin silaturrahim, dengan kata seseorang mampu menanam amal kebajikan, namun juga dengan kata segala kemungkaran akan bertebaran secara berantai. Bukankah dengan kata, nasehat akan berbekas dalam hati, namun juga dengan kata dua orang bersaudara akan dapat bermusuhan. Dakwah disampaikan dengan kata, ghibah juga dengan kata, dusta juga berhubungan erat dengan kata. Intinya kata merupakan media untuk mencapai apa yang diinginkan, ia akan membawa kebaikan, jika mengandung kebaikan, dan akan membawa malapetaka jika mengandung marabahaya.

Menempatkan kata dalam hidup begitu penting, seseorang bisa diukur hatinya dari perkataannya, selihai apapun orang merangkai kata, tapi dari rangkaian kata yang keluar dari katanya, menunjukkan siapa dia sesungguhnya. Seseorang yang berdusta tetap akan diketahui kedustaannya dari cara ia berkata-kata, walau hal ini sulit dideteksi. Seseorang yang jujur dalam berkata-kata juga akan dapat diketahui kejujurannya, juga walau hal ini sulit dipahami. Tapi tetap kata adalah bentuk lahir dari apa yang ada dihati.

Namun ada kata yang tidak sesuai dengan apa yang dihati, lain apa yang keluar dari mulut, lain pula dari apa yang sesungguhnya dalam hati, agama kita menyebutnya, inilah yang dimaksud dengan munafik. Ancaman Allah swt tidak main-main dalam urusan munafik ini. Hal ini mengindikasikan tetap apa yang dikatakan menunjukkan siapa dia sesungguhnya, yakni munafik.

Pernahkah kita mencoba mengintropeksi kata-kata yang keluar dari lisan kita dalam satu hari ? Dari rangkaian kata yang bertebaran kepada banyak  orang sudahkah mengandung kebaikan? Atau malah menebar malapetaka bagi orang yang mendengarnya, apalagi jika sampai kata-kata yang mengandung malapetaka itu disampaikan orang pula secara berantai, na’udzubillah, mengalir dosanya kepada kita, walau jasad kita telah hancur dikandung tanah.

Saudaraku …

Kita mungkin pernah melontarkan kata-kata yang membuat orang lain sakit hati, namun kita abaikan begitu saja, dengan alasan lidah tidak bertulang, biasalah kalau lidah keseleo, setelah itu kita lupa. Kelupaan kita tersebut merupakan awal dari rusaknya hubungan kita dengan orang yang pernah kita sakiti dengan kata-kata, dan tahukah antum setelah itu … jika hal ini lama-lama dan bertambah banyak kita semai, lambat laun orang-orang akan menjauh dari kita, bahkan orang-orang yang kita cintai sekalipun, muaranya adalah putusnya hubungan silaturrahim. Duhai … sadarilah … besar kemurkaan Allah swt bagi orang-orang yang memutuskan hubungan silaturrahim, tidak akan masuk sorga, ancam Rasulullah saw.

Namun terkadang, kesadaran kita bebal akan hal ini, malah dikala orang-orang menjauh dari kita, karena ulah kata yang tidak pada tempatnya namun telah kita lupakan, dan dikala orang-orang menjauh dari kita akibat dari kata-kata tersebut, kita malah melontarkan tuduhan orang tersebut yang memutuskan hubungan silaturrahim dengan kita karena menjaga jarak dengan kita. Pertanyaannya, mengapa hal tersebut bisa terjadi ? Ya … karena itu tadi, berawal dari kata yang keluar, namun dianggap sepele.

Untuk itu saudaraku …

Sebelum tidur, cobalah merenung agak sejenak, tentang perbendaharaan kata-kata yang pernah terucap oleh kita dalam satu hari, dikala hati sedang tenang, jiwa dalam keadaan stabil menerima kebenaran, disana akan terpancar kebenaran hakiki yang akan mengoreksi segala tindakan kita, termasuk kata-kata kita. Insya Allah, jika kita bersedia merenung kata-kata yang pernah kita ucapkan dalam satu hari, mengoreksinya, ternyata banyak kesalahan dan kekhilafahan yang bukan main-main dan berdampak buruk terhadap orang-orang yang pernah kita lontarkan kata-kata.

Perenungan ini akan mengasah jiwa kita untuk lebih berhati-hati dalam mengeluarkan kata-kata, berpikir sebelum melontarkannya, dan menganalisa dampaknya. Takutlah … jika kata-kata telah terlontar …maka tidak akan mampu ditarik kembali … ia mengalir deras bagaikan air, menghantam apa saja yang ada didepannya. Alangkah ngerinya dikala kata-kata yang kita ucapkan membinasakan banyak orang, bahkan menjadi pegangan dan rujukan orang lain dalam mengeluarkan kata-kata. Na’udzubillah.

Sesungguhnya setiap kata yang diucapkan akan dicatat oleh malaikat dan akan menjadi persaksian kelak diakhirat kelak tentang apa yang kita ucapkan, tak ada satupun yang luput dari pantauan Allah swt, berhati-hatilah wahai saudaraku seiman.

Assalaamu'alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh

Tidak ada komentar:

Posting Komentar