Istriku…,
Thuesday, Malam Jum’at, 13 Jumadil Akhir 1436 H, adalah
hari yang begitu membuat aku terpesona dengan dirimu. Mengapa tidak? Itulah
hari yang membuat aku semakin yakin bahwa aku tidak salah memilihmu sebagai
pendamping hidupku. Hari yang menjadi bukti bahwa penantianku bertahun-tahun
untuk mendapatkan sosok penyejuk jiwa bukanlah penantian yang sia-sia dan
hampa, tapi penantian berbuah kemanisan dalam puncak mahligai keindahan yang
sulit dilukiskan dengan ungkapan apapun.
Mungkin kala itu engkau tidak menyadari bagaimana
hatiku begitu berbunga, indah mekar ditaman-taman cinta penuh pesona. Sungguh
aku terpesona, terpesona akan dirimu kala menyaksikan bagaimana engkau
membimbing para generasi sebagai anak didikmu untuk melaksanakan shalat fardhu,
dalam ruangan yang tidak begitu lapang, mushalla yang berada diantara
persawahan dan rumah penduduk. Ya, malam itu, aku menyaksikannya karena aku
hadir disana. Kau begitu piawai mendidik dan membimbing mereka, kau begitu
mengagumkan, dalam upayamu mewujudkan cita-cita agar generasi kita kelak
menjadi generasi yang shaleh.
Hati laki-laki muslim mana yang tidak merasa bahagia
kala menyaksikan istrinya menjadi pejuang agama Allah swt., menjadi pelopor
lahirnya generasi-generasi yang shaleh dengan ketenangan serta
kelemahlembutannya? Dan aku …Alhamdulilllaah aku berada dalam lingkaran
kebahagiaan itu. Sungguh …engkau telah mempersembahkan sesuatu yang terbaik
untukku, engkau telah membuat hatiku sangat bahagia, bahagia, sungguh aku bahagia,
tak cukup rasanya kata-kata ini untuk bisa mengungkapkan kebahagiaan yang
begitu memuncak.
Tahukah engkau, duhai Laila-ku …,
Sesungguhnya kebahagiaan dari seorang suami sejati
adalah ketika ia menyaksikan bagaimana istrinya mampu mempersembahkan keinginan
dari hatinya. Dan hari itu …engkau telah mempersembahkan itu kepadaku. Engkau
telah membuat hatiku merasakan sebuah kesempurnaan. Karena itulah keinginan
hatiku. Ya, keinginan memiliki pendamping hidup yang dapat menguatkanku di
jalan dakwah. Jika ada yang mengatakan suatu utopia untuk zaman ini jika
berharap mendapatkan sosok perempuan yang shalehah untuk dijadikan istri, maka
cukup aku yang akan membuktikannya, bahwa perempuan shalehah itu ada, ia ada
bersamaku, pendamping hidupku, Ia telah menunjukkan keshalehan itu untukku, dialah
Laila-ku, istriku yang tercinta.
Laila-ku …
Kebahagiaan yang selalu ingin kukejar dalam hidup
adalah kala aku bisa mempersembahkan yang terbaik untuk agama kita ini, agama
yang diturunkan sebagai rahmatallil’aalamiin
dan ia harus diperjuangkan. Dalam memaknai perjuangan inilah maka aku
mencoba untuk selalu berjuang dalam urusan agama ini. Walau harus pulang malam,
bahkan pulang pagi untuk urusan agama ini, atau disibukkan dengan aktifitas-aktifitas terwujudnya perjuangan
ini, kucoba untuk menempuhnya. Jika selama ini aku berjuang dengan
kesendirianku, tapi kala aku mendapati dirimu, dan mengetahui engkau adalah
bagian dari pejuang agama ini sungguh aku seakan mendapat amunisi dan kekuatan
yang berlipat ganda yang membuat aku semakin teguh serta semakin memperoleh hikmah-hikmah
yang mendalam akan makna memperjuangkan agama Allah swt..
Padahal jujuuu….r aku sampaikan padamu, dulu, sebelum
aku menikahimu, sebelum kita saling kenal mengenal, yang aku cemaskan dari
sebuah pernikahan adalah kala mendapati istri yang akan menjadi penghalang dari
tujuan perjuanganku. Tapi sungguh Allah swt. punya rencana untukku, dan rencana
itu adalah rencana terbaik yang tak terukur. Allah swt. pertemukan aku dengan
dirimu, dengan cara yang sesuai dengan syari’at kita, tak ada pacaran berlabel
islami, tak ada khalwat dengan alasan ta’arufan, tak ada berdua-duaan untuk
memenuhi kebutuhan resepsi pernikahan, akhirnya sampailah kita pada jenjang
menyempurnakan separoh agama ini. Kitapun menikah. Kala kudapati engkau telah
menjadi istriku, dengan apa yang kau persembahkan untukku, maka pupuslah kecemasanku akan pernikahan
yang dulunya kucemaskan akan menghalangiku dalam berjuang, malah sebaliknya,
aku semakin teguh, aku semakin kuat, dan aku semakin kokoh dengan perjuanganku.
Mengapa? Sebab dengan apa yang kusaksikan dari dirimu, dan apa yang telah
engkau berikan padaku, engkau yang ternyata juga berada pada panji-panji
perjuangan yang sama denganku walau caranya berbeda, sebagai pembuktian tak ada
yang harus aku cemaskan dalam pernikahan. Sungguh Allah swt. itu Maha
Mengetahui apa yang ada dalam hati insan. Allah swt. tidak sia-sia dalam
menetapkan urusan. Dan…Allah swt. telah memberikan imbalan dari kecemasanku itu
dengan buah yang begitu memukau, indah dan mempesona, engkau Laila-ku, penyejuk
jiwaku, yang kurindu dan kucintai, insya Allah sepenuh jiwaku.
Ooo…Laila-ku penyejuk jiwa
Jiwamu laksana purnama
Dalam keindahan malam yang merona
Aku terpedaya hingga tergila-gila
Kerinduanku padamu boleh kau tanya
Menyentak dada luluhkan rasa
Berada didekatmu laksana di surga
Apakah ini surga di dunia ?
Ya Allah Rabbul ‘Izzati
Pemilik dan pemenggam semua hati
Biarkanlah cinta kami ini tetap bersemi
Hingga ajal menjemput mati bahkan kelak dibangkitkan
lagi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar