WENDRI NALDI EL-MANINJAUI KHATIB BANDARO

WENDRI NALDI EL-MANINJAUI KHATIB BANDARO
WENDRI NALDI EL-MANINJAUI KHATIB BANDARO

Selasa, 21 April 2015

Catatan Untuk Istriku Yang Tercinta (Laila Nisa) : Peristiwa di Malam Jum'at Itu

Istriku…,

Thuesday, Malam Jum’at, 13 Jumadil Akhir 1436 H, adalah hari yang begitu membuat aku terpesona dengan dirimu. Mengapa tidak? Itulah hari yang membuat aku semakin yakin bahwa aku tidak salah memilihmu sebagai pendamping hidupku. Hari yang menjadi bukti bahwa penantianku bertahun-tahun untuk mendapatkan sosok penyejuk jiwa bukanlah penantian yang sia-sia dan hampa, tapi penantian berbuah kemanisan dalam puncak mahligai keindahan yang sulit dilukiskan dengan ungkapan apapun.

Mungkin kala itu engkau tidak menyadari bagaimana hatiku begitu berbunga, indah mekar ditaman-taman cinta penuh pesona. Sungguh aku terpesona, terpesona akan dirimu kala menyaksikan bagaimana engkau membimbing para generasi sebagai anak didikmu untuk melaksanakan shalat fardhu, dalam ruangan yang tidak begitu lapang, mushalla yang berada diantara persawahan dan rumah penduduk. Ya, malam itu, aku menyaksikannya karena aku hadir disana. Kau begitu piawai mendidik dan membimbing mereka, kau begitu mengagumkan, dalam upayamu mewujudkan cita-cita agar generasi kita kelak menjadi generasi yang shaleh.

Hati laki-laki muslim mana yang tidak merasa bahagia kala menyaksikan istrinya menjadi pejuang agama Allah swt., menjadi pelopor lahirnya generasi-generasi yang shaleh dengan ketenangan serta kelemahlembutannya? Dan aku …Alhamdulilllaah aku berada dalam lingkaran kebahagiaan itu. Sungguh …engkau telah mempersembahkan sesuatu yang terbaik untukku, engkau telah membuat hatiku sangat bahagia, bahagia, sungguh aku bahagia, tak cukup rasanya kata-kata ini untuk bisa mengungkapkan kebahagiaan yang begitu memuncak.

Tahukah engkau, duhai Laila-ku …,

Sesungguhnya kebahagiaan dari seorang suami sejati adalah ketika ia menyaksikan bagaimana istrinya mampu mempersembahkan keinginan dari hatinya. Dan hari itu …engkau telah mempersembahkan itu kepadaku. Engkau telah membuat hatiku merasakan sebuah kesempurnaan. Karena itulah keinginan hatiku. Ya, keinginan memiliki pendamping hidup yang dapat menguatkanku di jalan dakwah. Jika ada yang mengatakan suatu utopia untuk zaman ini jika berharap mendapatkan sosok perempuan yang shalehah untuk dijadikan istri, maka cukup aku yang akan membuktikannya, bahwa perempuan shalehah itu ada, ia ada bersamaku, pendamping hidupku, Ia telah menunjukkan keshalehan itu untukku, dialah Laila-ku, istriku yang tercinta.

Laila-ku …

Kebahagiaan yang selalu ingin kukejar dalam hidup adalah kala aku bisa mempersembahkan yang terbaik untuk agama kita ini, agama yang diturunkan sebagai rahmatallil’aalamiin dan ia harus diperjuangkan. Dalam memaknai perjuangan inilah maka aku mencoba untuk selalu berjuang dalam urusan agama ini. Walau harus pulang malam, bahkan pulang pagi untuk urusan agama ini, atau disibukkan dengan  aktifitas-aktifitas terwujudnya perjuangan ini, kucoba untuk menempuhnya. Jika selama ini aku berjuang dengan kesendirianku, tapi kala aku mendapati dirimu, dan mengetahui engkau adalah bagian dari pejuang agama ini sungguh aku seakan mendapat amunisi dan kekuatan yang berlipat ganda yang membuat aku semakin teguh serta semakin memperoleh hikmah-hikmah yang mendalam akan makna memperjuangkan agama Allah swt..

Padahal jujuuu….r aku sampaikan padamu, dulu, sebelum aku menikahimu, sebelum kita saling kenal mengenal, yang aku cemaskan dari sebuah pernikahan adalah kala mendapati istri yang akan menjadi penghalang dari tujuan perjuanganku. Tapi sungguh Allah swt. punya rencana untukku, dan rencana itu adalah rencana terbaik yang tak terukur. Allah swt. pertemukan aku dengan dirimu, dengan cara yang sesuai dengan syari’at kita, tak ada pacaran berlabel islami, tak ada khalwat dengan alasan ta’arufan, tak ada berdua-duaan untuk memenuhi kebutuhan resepsi pernikahan, akhirnya sampailah kita pada jenjang menyempurnakan separoh agama ini. Kitapun menikah. Kala kudapati engkau telah menjadi istriku, dengan apa yang kau persembahkan untukku,  maka pupuslah kecemasanku akan pernikahan yang dulunya kucemaskan akan menghalangiku dalam berjuang, malah sebaliknya, aku semakin teguh, aku semakin kuat, dan aku semakin kokoh dengan perjuanganku. Mengapa? Sebab dengan apa yang kusaksikan dari dirimu, dan apa yang telah engkau berikan padaku, engkau yang ternyata juga berada pada panji-panji perjuangan yang sama denganku walau caranya berbeda, sebagai pembuktian tak ada yang harus aku cemaskan dalam pernikahan. Sungguh Allah swt. itu Maha Mengetahui apa yang ada dalam hati insan. Allah swt. tidak sia-sia dalam menetapkan urusan. Dan…Allah swt. telah memberikan imbalan dari kecemasanku itu dengan buah yang begitu memukau, indah dan mempesona, engkau Laila-ku, penyejuk jiwaku, yang kurindu dan kucintai, insya Allah sepenuh jiwaku.

Ooo…Laila-ku penyejuk jiwa
Jiwamu laksana purnama
Dalam keindahan malam yang merona
Aku terpedaya hingga tergila-gila

Kerinduanku padamu boleh kau tanya
Menyentak dada luluhkan rasa
Berada didekatmu laksana di surga
Apakah ini surga di dunia ?

Ya Allah Rabbul ‘Izzati
Pemilik dan pemenggam semua hati
Biarkanlah cinta kami ini tetap bersemi
Hingga ajal menjemput mati bahkan kelak dibangkitkan lagi
         


   

Tidak ada komentar:

Posting Komentar