WENDRI NALDI EL-MANINJAUI KHATIB BANDARO

WENDRI NALDI EL-MANINJAUI KHATIB BANDARO
WENDRI NALDI EL-MANINJAUI KHATIB BANDARO

Selasa, 25 Juni 2013

Wasiat Untuk Remaja Islam (1) : Berimanlah Kepada Allah s.w.t.

Iman kepada Allah s.w.t adalah pondasi hidup, tancapkan dalam hatimu, jangan biarkan ia lepas walaupun engkau diancam dengan pedang.

Saudaraku …

Iman yang dimaksud disini engkau meyakini bahwa tiada tuhan yang haq kecuali hanya Allah, terbuhul dalam simpul “ Laailaahaillallaah ”, maka tugas engkau pelajari kandungan makna ini sepanjang hidupmu, pelajari tujuan-tujuannya, pelajari tuntutan amal-amal yang harus dikerjakan pada simpul tersebut, pelajari dengan berjenjang, jangan menapak jenjang sesudahnya jika engkau belum memahami jenjang yang pertama, sebab jika engkau melanggarnya sungguh engkau akan binasa.

Ketahuilah, mempelajari ini sangat berat, istiqamahlah, jangan pernah menyerah, hapus hal-hal yang membebani pikiranmu untuk merasa berat mempelajari ini.  Karena ini adalah pokok agama, jika pokok agama engkau tidak paham, bagaimana engkau akan beramal dengan agama ini, sangat mustahil.

Pelajari hakikat ini secara keseluruhan, mulai dari makna kalimat, kaedah bahasa Arabnya, makna yang dituju, dan apa yang dituntut simpul ini, hingga engkau benar-benar merasakan simpul ini mengalir dalam jiwamu, dalam desah nafasmu, dalam tingkah lakumu. Bukti engkau telah berhasil dalam mempelajari ini akan tampak dalam perilakumu bahwa hatimu hanya terikat kepada Allah s.w.t, engkau tidak takut dengan celaan manusia, engkau tidak takut ancaman manusia, engkau tidak cemas apa yang menimpamu kelak. Segala apa yang engkau lakukan hanya untuk Allah s.w.t, hingga hatimu hanya tergerak untuk melakukan yang mengikatkan hatimu kepada Allah s.w.t, hinga engkau tidak peduli lagi dengan perbuatan yang tiada kaitannya dengan Allah s.w.t. Inilah muara semua itu, renungkan, pikirkan, dan bertekadlah untuk memahami ini. Lalu lakukan, jangan ditunda.

Jika engkau menemukan kesulitan memahami hakikat ini, hingga hati engkau bingung, resah dan tidak mendapatkan ketenangan, jangan engkau berputus asa, tancapkan dalam hatimu “ Amantubillah ” ( Saya beriman kepada Allah )

XI PK MAN Maninjau Raih Juara Umum Prestasi Akademik dan Class Meeting

Assalaamu’alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh
Puji syukur hanya kepada Allah s.w.t
Shalawat buat Rasulullah s.a.w.


Masa-masa indah itu akan selalu ada jika kita mampu mecoba meretas dengan kesungguhan nawaitu penuh gelora keikhlasan. Masa-masa sulit itu akan sirna dan pupus bak debu ditiup angin kala kita mampu memahaminya sebagai bagian dari lika-liku dan pernak-pernik kehidupan, asalkan disikapi dengan jiwa-jiwa besar penuh ketawadhu’an.
Subhaanallaah ! Adakah gelora jiwa melebihi yang dapat mengatasinya dari pada keindahan ukhuwah, ukhuwah dalam bingkai kecintaan dilandasi Iman hanya kepada Allah s.w.t. Ukhuwah yang terpatri dan lahir dari sebuah kekuatan ruh akan kecintaaan pembangunan peradaban Islam yang gemilang.

Tertaut hati dalam dalam sebuah persaudaraan, PK sebagai wadah bagi kami untuk melahirkan semua itu sekarang telah mengejewantah dalam sebuah komunitas besar : KELUARGA BESAR PROGRAM KEAGAMAAN (PK). Walau harus berhadapan dengan kengerian medan perjuangan, beratnya beban rintangan yang menghadang, tingginya tembok penghalang, tapi keyakinan akan sebuah janji bahwa Allah s.w.t akan menolong siapa saja yang menolong agama-Nya (Q.s Muhammad : 7) telah menguatkan hati kami yang mungkin saja terombang ambing ditengah perjalanan, namun lihatlah kesudahannnya. Ya, kesudahan dari nawaitu yang dipancang, PK telah menoreh catatan sejarah yang sulit kenikmatan itu ditulis dengan kata-kata, kelu lidah ini hanya untuk berucap, karena mungkin ucapan tidak akan mewakilinya, maka biarlah kenyataan dan sejarah yang menguraikannnya.


Telah berlalu para pendahulu PK dengan torehan-torehan pretasi, dan hari ini T.P. 2012/2013, PK kembali membuktikan eksistensi diri. PK yang kami sebut sebagai generasi Haraki, telah dengan amanah melanjutkan tongkat estafet perjuangan tersebut. Sebagaimana tahun lalu, juara umum Class Meeting semester II dan Juara Umum prestasi akademik dipegang XI PK yang kami sebut generasi Rabbani, kini Generasi Haraki sebagai pelanjut tongkat estafet tersebut, telah membuktikan bahwa mereka mampu menjaga dan mempertahankan tradisi akan sebuah perjuangan, lagi-lagi PK memperoleh juaran umum Class Meeting dan Juara Umum prestasi akademik semester II, Subhaanallaah !

Maka, beruntunglah orang-orang yang tergabung dalam sebuah komunitas perjuangan, dan merugilah orang-orang yang hanya menjadi tukang sorak, dan celakalah orang-orang yang menjadi penista, karena sesungguhnya ia akan mendapatkan kenistaan yang membinasakan.

Assalaamu’alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh

Untuk Video boleh lihat disini :


Rabu, 05 Juni 2013

Sidang Karya Ilmiah PK MAN Maninjau

Assalaamu’alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh
Puji syukur hanya kepada Allah s.w.t, shalawat buat Rasulullah s.a.w


Hallo …hallo … tepatnya 26 Rajab 1434 H kelas XI Program Keagamaan (PK) MAN Maninjau gelar Sidang Karya Ilmiah tahun pelajaran 2012/2013, dahsyat bukan ? Kegiatan ini merupakan agenda kedua setelah tahun pelajaran lalu sukses menggelar kegiatan yang sama. Merupakan ajang latihan bagi siswa untuk berfikir kritis, inovatif dan tentunya kreatif dong, dalam upaya pemecahan suatu masalah tentunya (tentu saja karena dalam masih belajar jika terdapat kesalahan, biasalah, yang penting mau berbuat, Oke ?). Karena tergabung dalam jurusan berupa Program Keagamaan (PK), tentu aja tema-tema yang diangkat hal-hal yang berkaitan dengan ke-Islaman. Iya dong, kan generasi Islam, promosi yeee …,nggak lah, cuma ngasih informasi doang, he…he…!



Nih, judul-judul Karya Ilmiah anah PK (maaf yee untuk yang punya karya Ilmiahnya kalo terdapat kesalahan dalam penulisan judul) :

1. Shalat Sebagai Tiang Agama oleh Afni Mailida Salmi

2. Hikmah dah Hakikat Ibadah Oleh Dila Afrini

3. Pandangan Islam Terhadap Miras oleh Febri Ramadhani

4. Membangun Masji Dengan Hasil Perjudian oleh Fitri Yanti

5. Ajaran Tasawuf Falsafi Serta Tokohnya oleh Hendriko

6. Peristiwa Isra’ Mi’raj oleh Insan Irma Yuni

7. Tata Cara Penyelenggaraan Jenazah oleh Ismael Masriandi

8. Akhlak Mulia Dalam Pergaulan Remaja oleh Mariyani

9. Indahnya Ikatan Ukhuwah oleh Meri Elvina

10. Hubungan Akhlak Dalam Ilmu Tasawuf oleh Minah Susanti

11. Sedekah Bagi Orang Yang Meninggal oleh M. Ridwan

12. Keistemawaan Shalat oleh Novia Amrina

13. Bahaya Narkoba  Dalam Pandangan Islam oleh Novrizal Amirul Mukminin

14. Akhlak Bertamu oleh Rahmita

15. Ancaman Bagi Wanita Yang Membuka Aurat oleh Rika Anggraini

16. Pentingnya Berjilbab Bagi Wanita Muslim oleh Serli Agnes

17. Akhlak Berpakaian Dalam Islam oleh Sherli Mulyanti

18. Sistem Politik Pada Masa Khalifah Abu Bakar oleh Sri Lestari

19. Hukum Bertaubat Terhadap Dosa Syirik oleh Vera Salistiani

20. Dajjal oleh Winda Yani

21. Daulah Umaiyah, Abbasiyah dan Turki Utsmani oleh Yuali Umar

22. Hakikat Manusia Menurut Islam oleh Yuriska Putri



Karya ilmiah ini merupakan bagian dari pembelajaran Bahasa Indonesia yang dikawal oleh Bapak Zulfiyandri, S.Pd. selaku pemegang tampuk mata pelajaran Bahasa Indonesia. Bagaimana hasilnya ? Apakah karya yang telah diujikan ini layak disebut karya ilmiah ? Tak pentinglah akan hal itu, yang terpenting kemauan, kerja keras, berani berbuat, dan tentunya menampakkan semangat dan berjuang untuk menggali nilai-nilai Islam (karena toh dalam masih tahap belajar).

Semoga kelak mampu menjadi penulis hebat, menjadi lahan dakwah, dan mampu menyebarkan Ilmu yang diraup dalam PK melalui tajamnya tinta. Dakwah melalui tulisan, demikianlah hendaknya.

Assalaamu’alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh


Sabtu, 30 Maret 2013

Tarbiyah Ruhiyah : MABIT Rohis MAN Maninjau


Assalaamu’alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh
Puji syukur kepada Allah s.w.t. Shalawat buat Rasulullah s.a.w.


Ehtahlah …sulit untuk dilukiskan dalam rangkaian kata-kata … suatu kenikmatan yang seakan jiwa ini merasakan limpahan karunia yang begitu luas atas karunia Allah swt, menyaksikan generasi dakwah yang tergabung dalam Rohis Bina Remaja Islam MAN Maninjau dalam kegiatan MABIT (Malam Bina Iman dan Taqwa)  yang baru saja usai ditunaikan (16-17 Jumadil Awwal 1434 H). Sungguh Allah s.w.t berkuasa penuh terhadap hati manusia, yang telah memancarkan cahaya hidayah terhadap mereka peserta MABIT walau dalam kondisi suasana malam liburan, tapi malam itu mereka relakan tubuh dan jiwa mereka untuk agama Allah s.w.t.
Maka saksikanlah, wahai para generasi Islam, lihatlah wahai pelanjut risalah Islam. Tidakkah diantara kalian jika ada yang lalai merasa iri kala melihat dan kenyataan yang menunjukkan bahwa diantara kalian ternyata ada sosok-sosok hebat dan penuh dedikasi yang tidak memiliki pemikiran yang sama dengan kalian. Mereka mungkin seumur dengan kalian, juga mungkin punya keinginan yang sama dengan kalian, punya kecendrungan nafsu seperti kalian, tapi ada yang membedakan mereka dengan kalian, kalian terlena dengan kelalaian kalian, tapi mereka terlena dengan ketundukan mereka pada Sang Khalik. Kalian yang lalai mungkin merasa damai dan bahagia dengan kelalaian kalian, mereka  mungkin dalam keadaan yang sulit dalam berjuang, tapi kelak kalian akan menyaksikan kala mereka tertawa dengan kemenangan mereka, kemenangan hakiki, saat itu kalian dalam keadaan menangis dan menyesali diri, maka bergunakah perkataan kalian : “ Seandainya …seandainya … dan seandainya saya mengikuti jalan mereka dahulu, niscaya saya tidak akan menjadi orang menyesal seperti ini ”. Oooo… malang sekali nasib kalian, kemalangan yang kalian pilih sendiri, kemalangan yang ingin  kalian menebus dengan sesulit apapun, tapi ketahuilah …sungguh itu tinggal angan-angan kalian, dan kalian tetap dalam kondisi menerima balasan atas kelalaian kalian.
Subhaanallaah !!!

Mereka peserta MABIT, terdiri dari beberapa orang siswa-siswi MAN Maninjau itu, sungguh indahnya gema lantunan tadarus mereka pada malam-malam terakhir menjelang shubuh. Sungguh dahsyatnya jiwa mereka yang rukuk dan sujud dalam tahajud yang mempesona. Duhai …lihatlah, inilah generasi Islam yang sesungguhnya, generasi yang tidak hanya lahir dari keturunan Muslim, tapi memang punya komitmen akan kemusliman mereka dan berupaya tetap istiqamah menjadi muslim. Bagi kalian yang mengaku muslim, mengaku sebagai umat Islam namun jika tidak mampu menunaikan ajaran kemusliman kalian, lantas apa makna kalian mengatakan kalian sebagai seorang muslim ? Apa alasan kalian mengaku sebagai muslim ? Mengapa kalian mengatakan kalian seorang muslim ? Tidakkah kalian tahu, jika hanya sekedar mengaku-ngaku semua orang juga bisa, tapi bermaknakah jika hanya sekedar pengakuan ? Apakah syarat seorang muslim cukup hanya dengan mengaku muslim ?
“ Ya Allah, sungguh Engkau berkuasa membolak-balikkan hati manusia, sungguh Engkau punya keputusan yang tidak akan mampu makhluk dipermukaan bumi ini untuk merubahnya, untuk itu ya Allah, berilah kekuatan Iman pada kami dan generasi kami, kekuatan  yang terhunjam dalam sebuah keyakinan yang kuat, bahwa hidup hanya untuk mengabdi pada-Mu. Amiin.”

Assalaamu’alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh

Rabu, 27 Maret 2013

Memmori Generasi Haraki : Hiking in Dama Gadang 1434 H


Assalaamu’alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh
Puji syukur kepada Allah s.w.t, shalawat buat Rasullah s.a.w.

Ketahuilah … Islam agama yang membawa keselamatan dalam segala aspek kehidupan, dengan ber-Islam maka tertanam kewajiban untuk menunaikan segala kebajikan dalam bentuk apapun, jika ada yang mengatakan urusan Islam hanya urusan di Surau/Masjid, atau hanya untuk orang-orang tertentu, ooo… tidak. Ada tiga aspek yang harus dimiliki umat Islam, apabila ketiga aspek itu dapat dicover dengan cara yang bijak, maka nilai-nilai ke-Islaman seseorang akan nampak dalam kehidupannya, niscaya ia akan merasakan nikmatnya hidup dalam Islam, kala itu ia akan merasakan Islam benar-benar agama keselamatan.
Aspek tersebut berkolaborasi secara komprehensif dan tidak boleh mengambil satu aspek lalu mengabaikan aspek yang lain, dan semua itu akan diperoleh dengan upaya yang sungguh-sungguh dan berkesinambungan, yakni :


Pertama : Tarbiyah Fikriyah, bagaimana membentuk pola pikir yang matang dalam hidup, berfikir positif akan hal-hal kebajikan dan muatannya adalah ilmu. Maka umat Islam harus memiliki ilmu, baik ilmu yang berupa fardhu ‘ain maupun ilmu yang berupa fardhu kifayah. Ilmu yang tidak hanya bermanfaat untuk diri namun juga bermanfaat untuk orang lain. Selaku muslim, menuntut ilmu syari’at (agama) merupakan  fardhu ‘ain, berdosa jika ada yang mengabaikan, sementara untuk ilmu yang sifatnya fardhu kifayah juga jangan sampai diabaikan, agar mampu berinteraksi dengan segala kondisi dengan syarat nawaitu juga harus dikembalikan untuk membangun nilai-nilai ke-Islaman itu sendiri.

Kedua, Tarbiyah Ruhiyah, penanaman nilai-nilai kejiwaan mental spiritual yang matang, hati yang ikhlas, tawadhu’ dan tunduk serta patuh akan aturan syari’at hingga mampu merealisasikan dengan penuh kesungguhan. Ruh umat Islam haruslah selalu dibangun dengan selalu berupaya mensucikan diri, dengan mempelajari Islam dengan benar, mengamalkan sehingga nampak pengaruhnya dalam kehidupan, membentuk akhlakul karimah.

Ketiga, Tarbiyah Jasadiyah, yakni membina jasad yang kuat dan tangguh. Para ulama shalafusshaleh telah memberikan keteladanan dalam hal ini, pejuang-pejuang Islam yang telah menoreh catatan-catatan gemilang dalam berbagai penegakkan izzah Islam wal muslimin cukup menjadi contoh tak terbantahkan. Umat Islam harus kuat secara fisik, sehat dan tangguh dalam segala kondisi.

Dalam mewujudkan  upaya inilah, keluarga besar PK (Program Keagamaan) MAN Maninjau mencoba mewujudkannya. PK bagi kami merupakan ladang bagi segala kebajikan yang dituntut Islam, belajar Islam dengan benar (tarbiyah fikriyah),  hal tersebut telah kami coba mewujudkannya, dengan selalu berupaya mempelajari Islam : Tafsir, Hadits, Akhlak Tasawuf, Fiqh/Usuhul Fiqh, Ilmu Kalam, Sejarah Kebudayaan Islam, dan Bahasa Arab serta Tahfizh, tanpa mengabaikan kelimuan lainnya, seperti ilmu kebahasaan dan ilmu pasti, serta ilmu sosial.
Sedangkan tarbiyah ruhiyah, kami mencoba membina diri selain memahami ilmu-ilmu ke-Islaman, kami perkaya dengan kegiatan yang menurut kami dapat lebih menguatkan ruh ke-Islaman, seperti MABIT (Malam Bina Iman dan Taqwa) dan Rohis.


Dan tepatnya 12 Jumadil Awwal 1434 H, Alhamdulillaah, kami telah menunaikan sebuah proses tarbiyah jasadiyah, menelusuri semak belukar, menaiki dan menuruni lembah hutan belantara, dalam sebuah kegiatan Hiking, berlokasi di seputaran Dama Gadang, Kecamatan Tanjung Raya Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Banyak hikmah yang dapat dijadikan i’tibar, selain dapat membentuk fisik yang kuat, juga dapat menumbuhkan rasa kebersamaan, memang demikianlah Islam mengajarkan kepada kami bahwa orang mukmin itu bersaudara (Lihat Q.s. Al0Hujurat : 10), kebersamaan yang membentuk persaudaraan dalam perjalanan Hiking yang cukup melelahkan telah mampu mengikat dan mengokohkan kami. Aduhai … sungguh ukhuwah yang lahir dari nuansa Aqidah yang kokoh, itulah kenikmatan yang sulit untuk menggoreskannya dengan tinta.


Semoga apa yang kami tanam, menjadi saksi kelak bahwa kami tidak salah memilih jalan, bahwa kami tidak salah dalam menentukan pilihan hidup, walau terkadang kami tahu, berjuang atas nama Islam, bukanlah perkara mudah dan  akan selalu menghadapi rintangan dan cobaan, apakah cemoohan, kedengkian para pendengki, namun semua itu semoga menjadi pernak pernik dan lebih menguatkan kami. Satu hal ada sebuah keyakinan yang terhunjam dalam jiwa kami, dan kami diajarkan untuk itu, selama sesuatu dibangun dengan kebersamaan, kokoh dalam satu jama’ah, saling menguatkan, terajut kuat dalam simpul Ukhuwah Islamiyah, takkan surut langkah ini, takkan tumbang dihantam badai, karena semua itu adalah sunnah dari perjuangan, jika memang berharap sebuah keberuntungan. Takbiir !!!
Gambar dibuat dengan : Micosoft Office Word 2007 © 2006 Microsoft Corporation. All rights reserved, Paint, Microsoft Windows Version 6.1 (Build 7600) Copyright © 2009 Microsoft Corporation. All rights reserved, JPEG picture

Assalaamu’alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh   

Kamis, 21 Maret 2013

Cinta di Atas Cinta ( Bagian 7 )


Ooooh … jiwa-jiwa yang masih saja dirundung keraguan … mengapa kau masih mencoba untuk tidak mengerti ... kala telah kuurai dengan cukup panjang lebar bahwa kau harus menggapai ilmu ma’rifat untuk meraih cinta hakiki dengan mengenali keadaan sekitarmu. Alasanmu malah :

“ Kalaku coba untuk memahami siapa yang mengatur segalanya, siapa yang pertama itu, yang membuat terpesona itu, yakni Allah s.w.t itu, tapi aku tidak bisa mengenalnya, tidak mampu memahami keberadaannya, sebab tidak kutemukan dimana keberadaannya, bagaimana aku bisa percaya dengan sesuatu yang tidak tampak ? ”

Ketahuilah … jiwamu dirundung keraguan, bukan keraguan sepantasnya, hanya saja kau mungkin belum terlalu memahaminya. Tapi biarlah, untuk tahap awal pencarianmu, jika terdapat keraguan ini pertanda kau mulai berupaya untuk menempuh jalan ini, walau jalanmu malah menimbulkan kegundahan.

Maka kan kuurai lebih lanjut perihal ini, agar kau setelah ini memiliki sebuah keyakinan yang kuat. Kukutipkan sebuah anekdot:

Di sebuah sekolah dasar, ada seorang guru mengajukan pertanyaan kepada anak murid-murid kelas enam sekolah dasar,
“Apakah kalian melihat saya ?”
Mereka menjawab, “Ya”
“ Kalau begitu, berarti saya ada.” Kata sang guru.
“Apakah kalian melihat papan tulis?”
Mereka menjawab,”Ya”
“Kalau begitu, berarti papan tulis itu ada. “ Kata sang guru.
“Apakah kalian melihat meja?”
Mereka menjawab,”Ya”
“Kalau begitu, berarti meja itu ada.” Kata sang guru.
Nah sekarang, ”Apakah kalian melihat Tuhan?”
Mereka menjawab, “Tidak”
“Jika demikian, berarti Tuhan itu tidak ada.”
Melihat kejadian seperti itu, salah seorang murid yang cerdas berdiri dan bertanya, “Apakah kalian melihat akal guru kita?”
Mereka menjawab, “Tidak”
“Kalau begitu, akal guru kita tidak ada!.” (*)

Duhai hati … apa yang terbersit dalam pikiranmu dari anekdot tersebut ? Ya, sesuatu yang tidak tampak bukan berarti tidak ada. Walaupun kau tidak melihat Allah s.w.t dengan mata kepalamu, bukan berarti keberadaan-Nya tidak ada. Tapi apakah kau tidak merasakan keberadaannya dari hasil pencarianmu ? Dengan meyaksikan keberadaan yang ada disekitarmu termasuk dalam dirimu bahwa segala yang ada ini pasti ada yang mengaturnya, tidak mungkin ada dengan sendiri, dan yang mengatur itu adalah yang pertama, Al-Awwal.

Biar kuurai lagi agar kau paham, kala hatimu gelisah, terasa perih rasanya, keperihan itu sampai-sampai membuat tubuhmu terasa tidak nyaman, fisikmu terasa lemah. Coba kau renungkan mengapa ada keperihan ? Tanya pada dokter, dimana keperihan yang ada pada tubuhmu itu ? Apakah dokter dengan alat-alat kedokterannya mampu mencari dalam tubuhmu keperihan akibat kegelisahan yang mendera ? Oooo …tidak duhai hati, jangankan para dokter itu mampu menemukannya, pahampun tidak. Hanya kau sendiri yang merasakannya, rasanya tak tertahankan, kalaupun ada perasaan kasihan dari seseorang karena telah kau ceritakan padanya, belum tentu ia akan merasakan seperti kau merasakannya. Lalu karena tidak ditemukan bentuk keperihan itu dalam dirimu, lantas kau menganggap keperihan itu tidak ada ? Sementara kau merasakannya.
Perhatikanlah perkataan Rumi dalam kitabnya Matsnawi-i-Manawi :

“ Orang yang menolak kebenaran tetap saja berpegang pada dalil ini: “Jika ‘alam’ yang lain itu benar-benar ada, aku pasti melihatnya.”
“Jika karena seorang anak kecil tidak mengetahui dimana akal, apakah orang akan membuangnya?”
“Mata Musa melihat kayu, namun mata Yang Tak Terlihat melihat ular dan tongkat …”
“ Meski orang tidak mengetahui dimana cinta bersemayam, namun ia tidak akan pernah berkurang.”(**)

Oooh …hati, untuk itu, ketahuilah … ini memang rumit dan berat, namun kau harus menempuhnya, jika tidak, kau tidak akan mencapai pencarianmu dalam menggapai cinta hakiki. Cinta hakiki yang diperoleh memang bukan perkara mudah, makanya telah panjang lebar kuulas bahwa jalan ini memang bukan jalan mudah. Tapi jangan pernah menyerah, jika cinta itu ada, maka kau harus yakin untuk mampu menggapainya, dan memang cinta itu ada.

---------------------------

Keterangan :
(*) Said Hawwa, Diterjemahkann dari judul asli Allah Jalla Jalaalahu oleh Tim Sholahuddin Press dengan judul terjemahan Allah Jalla Jalaalahu Telaah Ilmiah Tentang Eksistensi Allah, (Jakarta Timur: Sholahuddin Press, 2003), Cet.1, Halaman 8

(**) Iqbal M. Ambara, Jalaludin Rumi Sang Sufi Humanis, (Yogyakarta: Lukita, 2010), Cet. 1, halaman : 64

     

Cinta di Atas Cinta ( Bagian 6 )


Wahai jiwa yang terasa gersang dan penuh keraguan …duhai jiwa yang semakin dihimpit kerinduan akan cinta hakiki …kau mungkin sudah tak sabar lagi untuk mengetahui …apa langkah-langkah yang harus kau tempuh untuk menggapai cinta yang telah membuat kau tak mampu melelapkan mata, walau sekilas telah kusampaikan harus dengan ilmu, tapi ilmu yang bagaimana ? Walau sudah kukatakan ilmu ma’rifat ? Tapi ma’rifat dalam bentuk apa ? Bagaimana memulainya ? Itulah mungkin pertanyaan yang bergulat dalam rongga pikiranmu, sementara dadamu sesak dengan penasaran yang membuncah.

Ketahuilah … duhai hati …kuingatkan kepadamu … takkan dapat sesuatu yang diinginkan kecuali dengan modal yang sungguh-sungguh, pemahaman yang kuat. Apalagi jika kau ingin meggapainya dengan cara instan, takkan pernah kau menggapainya. Namun untuk melepaskan dahagamu, biar biar kurangkai jalan-jalan ini dengan hati-hati, perlahan dan tidak tergesa, resapi maknanya dengan hati-hati dan jangan lanjutkan jika kau tak mengerti. Langkah awal yang hendak kau gapai dalam ilmu ma’rifat mencari cinta hakiki adalah :

Cobalah kau kembali mematut-matut kembali, mengingat-ngingat kembali, kala kau melihat seseorang, lalu muncul desiran halus dalam jiwamu, betapa cantiknya orang itu, sehingga kau terpesona, terucapkan kata rasanya kelu lidah ini, matamu enggan untuk beralih dan desiran gelora jiwamu terasa berat, hatimu dirundung rasa lain yang bahkan mampu mempengaruhi suhu tubuhmu, sampai-sampai mengalir peluh walau dalam cuaca dingin. Itulah cinta, kata mereka yang berfikiran dangkal, cinta yang lahir dari pandangan mata. Apa yang terserap oleh matamu kau alirkan dalam pikiran jiwamu, hingga melahirkan gelora yang tak terungkap, tapi kau merasakannya sangat hebat.
Ketahuilah, itu sebenarnya bukan cinta hakiki, tapi itu tanda-tanda dari sebuah cinta, ya, itu hanyalah tanda-tanda cinta, bukan cinta hakiki, jika boleh dikatakan salah satu jalan menggapai cinta hakiki,  sebab tak semua orang akan  dapat menikmatinya, apakah orang buta dalam hal ini akan mendapatkan kenikmatan tersebut ? Tentu tidak, padahal cinta hakiki itu meilik semua.

Namun jika ia menjadi anganmu, menjadi tumpuan harapan hatimu, dan sulit bahkan tidak mampu lagi kau memalingkan pikiranmu, sungguh kau telah terpesona. “KETERPESONAANMU “ itulah cinta hakiki. Jika kau telah terpesona, maka jiwa dan ragamu kau serahkan pada keterpesonaan tersebut, alam kasarmu akan hancur dan akan larut pada keterpesonaan itu, yang nampak bagimu hanyalah yang membuat kau terpesona tersebut, perkataanmu tidak keluar dari keterpesonaan tersebut, langkah dan tindakanmu mengiringi keterpesonaan tersebut, yang lain tidak. Dalam hal ini siapapun akan dapat merasakannya walau orang itu buta sekalipun, tuli sekalipun, bahkan tidak bisa bergerak sekalipun, kecuali jika memang ruh tidak lagi berada pada jasad.
Maka yang harus kau cari dalam hal ini adalah menggapai “ KETERPESONAAN ”. Mulailah melihat sekitarmu, dengan mata kepala dan mata batinmu, niscaya kau akan menemukan keterpesonaan tersebut. Tak perlu jauh-jauh, lihat dirimu sendiri, mengacalah, mengapa dirimu begitu indah, menarik dan menawan, tersusun dengan organ-organ yang saling memiliki sinergi antara yang satu dengan lain. Mampu digerakkan dan diperintahkan, jika satu sakit yang lain merasakan penderitaannya, refleks saling menjaga dan bantu membantu, kala debu berupaya menusuk matamu, kelopaknya langsung menghadang, kala kakimu tersandung batu kala dalam perjalanan, tubuhmu langsung menahan laju kakimu yang lain untuk meneruskan perjalanan, tanganmu refleks mengelus kaki yang sakit, mencoba memberi bantuan, saat matamu menyaksikan kakimu itu bengkak, pikiranmu langsung mengusulkan agar dibawa pada tukang urut, ia memberi analisa jika tidak cepat diobati maka akan berakibat fatal, maka hatimu menyetujuinya, sehingga sepakatlah tubuhmu untuk menuju tukang urut agar kakimu segera diobati, dengan harapan pulihnya kakimu, memang kakimu yang pulih, tapi seluruh jasadmu akan merasakan imbas kepulihan itu. Demikianlah sebuah kerajaan dalam dirimu yang saling bersinergi dan saling membutuhkan, ia tidak berdiri sendiri, ibarat satu bangunan yang tersusun dari berbagai macam elemen sehingga berdiri kokoh. Jika ada satu saja yang tidak berfungsi maka kau akan merasakan kekurangan, orang menyebutnya cacat, kebahagiaan hidup terasa kurang.

Renungkanlah, mengapa hal tersebut bisa terjadi ? Apakah terjadi secara kebetulan ? Apakah dirimu yang mengatur semua itu ? Jika memang dirimu yang mengatur mengapa harus ada gerakan ketidaksengajaan, refleks, namun bermanfaat untuk dirimu, apakah kau mampu mengatur secara sempurna segala perbuatan-perbuatan tubuhmu, Oooo… tidak wahai hati, ia telah dirancang oleh Sang Maha Agung, Sang Maha Agung tersebut dengan Kemaha Agungan dan Segala Kemaha Kuasaannya ia lakukan hanya dalam “kun fayakun “ , Jadilah, maka jadilah ia. Maka hadapkanlah hatimu  kepada yang mengagumkan itu, siapakah ia ?
Kau mungkin  memulai untuk memikirkan, bahwa engkau bisa lahir, berdiri tegak, karena ada yang melahirkanmu, lalu mungkin kau akan mengira, yang melahirkanmu itulah yang mengagumkan, karena tanpa ada yang melahirkanmu niscaya kau tidak akan lahir, namun apakah sampai disana ? Bukankah yang melahirkanmu juga terlahir, dan yang terlahir itu juga terlahir ? Lantas dimana ujungnya ? Ya pada perhentian dari siapa yang melahirkan pertama, dan Ia telah ada tanpa ada yang mengadakan-Nya. Ialah Yang Pertama, Al-Awwal, Ia lah yang telah membuat segalanya, dan Ialah yang menetapkan urusan segalanya.
Jika pertama tentu satu, tidak berbilang. Mungkin hatimu terusik, lalu yang pertama itu siapa yang membuatnya ? Oooh … duhai hati, tidakkah kau tahu tidak ada sebelum yang pertama. Kalaupun dalam kajian angka-angka, disebut nol, kosong, tidak bernilai. Lalu muncul lagi pertanyaanmu , apakah yang pertama itu dari kekosongan ? Dangkal sekali cara berfikirmu, apakah mungkin kosong itu lebih tinggi dari yang pertama ? Kosong itu sesuatu yang sangat rendah dan tidak bernilai, hampa. Maka yang tertinggi adalah yang pertama.

Siapa yang pertama itu ? Tentunya Yang Memiliki Segala Kekuasaan, Memiliki Segala Kemampuan, Memiliki Segala Yang Tidak Dimiliki Yang Lain. Jika masih ada yang lain menandinginya, itu bukan  pertama namanya. Jadi yang pertama itu adalah Yang Tidak bisa ditandingi. Dialah Allah s.w.t., yang disebut namanya dalam al-Qur’an, lancar dalam lisan utusan-Nya.

Jika kau sudah sampai pada pemahamanmu, kau sudah memahaminya, bahwa ada yang mengatur urusanmu, dan membuat dirimu sedahsyat itu, tidakkah kau “TERPESONA” dengan yang mengatur dirimu itu ?
Renungkan kembali, kala kau melihat seseorang, lalu muncul desiran halus dalam jiwamu, betapa cantiknya orang itu, sehingga kau terpesona, terucapkan kata rasanya kelu lidah ini, matamu enggan untuk beralih dan desiran gelora jiwamu terasa berat, hatimu dirundung rasa lain yang bahkan mampu mempengaruhi suhu tubuhmu, sampai-sampai mengalir peluh walau dalam cuaca dingin. Maka kau harus melanjutkan pencarianmu, siapa yang telah membuat semua itu ? Jika hasil buatannya saja sudah membuat kau terpesona namun belum hakiki, lantas apakah kau tidak akan mencapai pesona di atas pesona kala kau menyadari Sang Pembuat pesona itu, yakni pesona hakiki ?

Pada tahap ini, keterpesonaanmu meyaksikan seseorang tidak akan lagi membuat kau terikat dengannya, karena kau telah melambung jauh tinggi pada keterpesonaan yang membuatnya. Orang tersebut hanyalah alat dan media bagimu untuk mencapai keterpesonaanmu yang sesungguhnya. Mana yang hendak kau pilih alat atau media tersebut atau Sang Pemiliknya ? Jawablah dengan nurani yang jujur dan hati-hati, niscaya engkau akan merasakan kenikmatan tersendiri dengan jawabannya, tak dapat disangkal orang yang berpikiran jernih akan memilih Sang Pemiliknya, yang tentu memiliki Segala Kemaha Pesonaan.
Maka kesanalah hendaknya keterpesonaanmu berlabuh, kesanalah angan dan citamu, kesanalah tumpuan hidupmu, dan kesanalah tempatmu menghambakan diri, ya, disanalah cintamu kau labuhkan,  Dialah Allah s.w. yang mempesona, pesona di atas pesona.

Sungguh jika kau mampu menggapainya, kau telah meraih cinta hakiki. Kau takkan kecewa, sebab urusan ada pada-Nya, Ia Maha Gagah, Maha Pengasih, Maha Penyayang, Memiliki Asma’ul Husna, nama-nama yang hanya kebaikan yang ada pada-Nya. Segala apa yang Ia tetapkan adalah kebaikan, segala keputusan-Nya berlandaskan cinta. Jika kau menemukan dalam hidupmu suatu urusan yang membebanimu dan membuat kau kecewa yang didatangkan-Nya. Itu hanya menurutmu, tapi hakikatnya terbaik menurut Ia, memahami terbaik menurut Ia itulah yang perlu kau gali lebih lanjut. Tak masuk dalam logika apapun,jika  Sang Pemilik Urusan mencelakakan urusannya sendiri.

Untuk tahap ini, cukup kau memahami sampai disini dulu, sebelum lebih jauh kau melangkah, jangan tergesa-gesa, pahami dengan hati-hati dan mawas diri. Kukira kau cukup paham, bahwa agar kau memperoleh cinta hakiki, sering-seringlah menyaksikan sekitarmu dengan mata kepala dan mata hati, tentang keindahan-keindahan dan segala ciptaaan yang telah ada, lalu kau cari jalan untuk memahami mengapa semua itu ada dan terjadi, hingga kau sampai pada putusan, segalanya berawal dari pemilik utama, sungguh mempesona pemilik utama itu. Dialah Allah s.w.t.
Ilmu ma’rifat itu adalah kenali, pelajari, gali dan pahami ilmu tentang penciptaan, segala apa yang ada dengan segala keteraturannya, niscaya kau akan mencapai hakikat dari semua itu, yakni ada sesuatu yang mengaturnya, hingga membuat kau “ TERPESONA”, hingga kau mencintainya.

“ Sesungguhnya dalam setiap penciptaan langit dan bumi, pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal.” (T.Q.S. Ali Imran : 190)