WENDRI NALDI EL-MANINJAUI KHATIB BANDARO

WENDRI NALDI EL-MANINJAUI KHATIB BANDARO
WENDRI NALDI EL-MANINJAUI KHATIB BANDARO

Kamis, 21 Maret 2013

Cinta di Atas Cinta ( Bagian 7 )


Ooooh … jiwa-jiwa yang masih saja dirundung keraguan … mengapa kau masih mencoba untuk tidak mengerti ... kala telah kuurai dengan cukup panjang lebar bahwa kau harus menggapai ilmu ma’rifat untuk meraih cinta hakiki dengan mengenali keadaan sekitarmu. Alasanmu malah :

“ Kalaku coba untuk memahami siapa yang mengatur segalanya, siapa yang pertama itu, yang membuat terpesona itu, yakni Allah s.w.t itu, tapi aku tidak bisa mengenalnya, tidak mampu memahami keberadaannya, sebab tidak kutemukan dimana keberadaannya, bagaimana aku bisa percaya dengan sesuatu yang tidak tampak ? ”

Ketahuilah … jiwamu dirundung keraguan, bukan keraguan sepantasnya, hanya saja kau mungkin belum terlalu memahaminya. Tapi biarlah, untuk tahap awal pencarianmu, jika terdapat keraguan ini pertanda kau mulai berupaya untuk menempuh jalan ini, walau jalanmu malah menimbulkan kegundahan.

Maka kan kuurai lebih lanjut perihal ini, agar kau setelah ini memiliki sebuah keyakinan yang kuat. Kukutipkan sebuah anekdot:

Di sebuah sekolah dasar, ada seorang guru mengajukan pertanyaan kepada anak murid-murid kelas enam sekolah dasar,
“Apakah kalian melihat saya ?”
Mereka menjawab, “Ya”
“ Kalau begitu, berarti saya ada.” Kata sang guru.
“Apakah kalian melihat papan tulis?”
Mereka menjawab,”Ya”
“Kalau begitu, berarti papan tulis itu ada. “ Kata sang guru.
“Apakah kalian melihat meja?”
Mereka menjawab,”Ya”
“Kalau begitu, berarti meja itu ada.” Kata sang guru.
Nah sekarang, ”Apakah kalian melihat Tuhan?”
Mereka menjawab, “Tidak”
“Jika demikian, berarti Tuhan itu tidak ada.”
Melihat kejadian seperti itu, salah seorang murid yang cerdas berdiri dan bertanya, “Apakah kalian melihat akal guru kita?”
Mereka menjawab, “Tidak”
“Kalau begitu, akal guru kita tidak ada!.” (*)

Duhai hati … apa yang terbersit dalam pikiranmu dari anekdot tersebut ? Ya, sesuatu yang tidak tampak bukan berarti tidak ada. Walaupun kau tidak melihat Allah s.w.t dengan mata kepalamu, bukan berarti keberadaan-Nya tidak ada. Tapi apakah kau tidak merasakan keberadaannya dari hasil pencarianmu ? Dengan meyaksikan keberadaan yang ada disekitarmu termasuk dalam dirimu bahwa segala yang ada ini pasti ada yang mengaturnya, tidak mungkin ada dengan sendiri, dan yang mengatur itu adalah yang pertama, Al-Awwal.

Biar kuurai lagi agar kau paham, kala hatimu gelisah, terasa perih rasanya, keperihan itu sampai-sampai membuat tubuhmu terasa tidak nyaman, fisikmu terasa lemah. Coba kau renungkan mengapa ada keperihan ? Tanya pada dokter, dimana keperihan yang ada pada tubuhmu itu ? Apakah dokter dengan alat-alat kedokterannya mampu mencari dalam tubuhmu keperihan akibat kegelisahan yang mendera ? Oooo …tidak duhai hati, jangankan para dokter itu mampu menemukannya, pahampun tidak. Hanya kau sendiri yang merasakannya, rasanya tak tertahankan, kalaupun ada perasaan kasihan dari seseorang karena telah kau ceritakan padanya, belum tentu ia akan merasakan seperti kau merasakannya. Lalu karena tidak ditemukan bentuk keperihan itu dalam dirimu, lantas kau menganggap keperihan itu tidak ada ? Sementara kau merasakannya.
Perhatikanlah perkataan Rumi dalam kitabnya Matsnawi-i-Manawi :

“ Orang yang menolak kebenaran tetap saja berpegang pada dalil ini: “Jika ‘alam’ yang lain itu benar-benar ada, aku pasti melihatnya.”
“Jika karena seorang anak kecil tidak mengetahui dimana akal, apakah orang akan membuangnya?”
“Mata Musa melihat kayu, namun mata Yang Tak Terlihat melihat ular dan tongkat …”
“ Meski orang tidak mengetahui dimana cinta bersemayam, namun ia tidak akan pernah berkurang.”(**)

Oooh …hati, untuk itu, ketahuilah … ini memang rumit dan berat, namun kau harus menempuhnya, jika tidak, kau tidak akan mencapai pencarianmu dalam menggapai cinta hakiki. Cinta hakiki yang diperoleh memang bukan perkara mudah, makanya telah panjang lebar kuulas bahwa jalan ini memang bukan jalan mudah. Tapi jangan pernah menyerah, jika cinta itu ada, maka kau harus yakin untuk mampu menggapainya, dan memang cinta itu ada.

---------------------------

Keterangan :
(*) Said Hawwa, Diterjemahkann dari judul asli Allah Jalla Jalaalahu oleh Tim Sholahuddin Press dengan judul terjemahan Allah Jalla Jalaalahu Telaah Ilmiah Tentang Eksistensi Allah, (Jakarta Timur: Sholahuddin Press, 2003), Cet.1, Halaman 8

(**) Iqbal M. Ambara, Jalaludin Rumi Sang Sufi Humanis, (Yogyakarta: Lukita, 2010), Cet. 1, halaman : 64

     

Tidak ada komentar:

Posting Komentar