Ooooh … jiwa-jiwa yang masih saja dirundung
keraguan … mengapa kau masih mencoba untuk tidak mengerti ... kala telah kuurai
dengan cukup panjang lebar bahwa kau harus menggapai ilmu ma’rifat untuk meraih
cinta hakiki dengan mengenali keadaan sekitarmu. Alasanmu malah :
“ Kalaku coba untuk memahami siapa yang mengatur
segalanya, siapa yang pertama itu, yang membuat terpesona itu, yakni Allah
s.w.t itu, tapi aku tidak bisa mengenalnya, tidak mampu memahami keberadaannya,
sebab tidak kutemukan dimana keberadaannya, bagaimana aku bisa percaya dengan
sesuatu yang tidak tampak ? ”
Ketahuilah … jiwamu dirundung keraguan, bukan
keraguan sepantasnya, hanya saja kau mungkin belum terlalu memahaminya. Tapi
biarlah, untuk tahap awal pencarianmu, jika terdapat keraguan ini pertanda kau
mulai berupaya untuk menempuh jalan ini, walau jalanmu malah menimbulkan
kegundahan.
Maka kan kuurai lebih lanjut perihal ini, agar
kau setelah ini memiliki sebuah keyakinan yang kuat. Kukutipkan sebuah anekdot:
Di sebuah sekolah dasar, ada seorang
guru mengajukan pertanyaan kepada anak murid-murid kelas enam sekolah dasar,
“Apakah kalian melihat saya ?”
Mereka menjawab, “Ya”
“ Kalau begitu, berarti saya ada.”
Kata sang guru.
“Apakah kalian melihat papan tulis?”
Mereka menjawab,”Ya”
“Kalau begitu, berarti papan tulis
itu ada. “ Kata sang guru.
“Apakah kalian melihat meja?”
Mereka menjawab,”Ya”
“Kalau begitu, berarti meja itu ada.”
Kata sang guru.
Nah sekarang, ”Apakah kalian melihat
Tuhan?”
Mereka menjawab, “Tidak”
“Jika demikian, berarti Tuhan itu
tidak ada.”
Melihat kejadian seperti itu, salah
seorang murid yang cerdas berdiri dan bertanya, “Apakah kalian melihat akal
guru kita?”
Mereka menjawab, “Tidak”
“Kalau begitu, akal guru kita tidak
ada!.” (*)
Duhai hati … apa yang terbersit dalam pikiranmu
dari anekdot tersebut ? Ya, sesuatu yang tidak tampak bukan berarti tidak ada.
Walaupun kau tidak melihat Allah s.w.t dengan mata kepalamu, bukan berarti keberadaan-Nya
tidak ada. Tapi apakah kau tidak merasakan keberadaannya dari hasil pencarianmu
? Dengan meyaksikan keberadaan yang ada disekitarmu termasuk dalam dirimu bahwa
segala yang ada ini pasti ada yang mengaturnya, tidak mungkin ada dengan
sendiri, dan yang mengatur itu adalah yang pertama, Al-Awwal.
Biar kuurai lagi agar kau paham, kala hatimu
gelisah, terasa perih rasanya, keperihan itu sampai-sampai membuat tubuhmu
terasa tidak nyaman, fisikmu terasa lemah. Coba kau renungkan mengapa ada
keperihan ? Tanya pada dokter, dimana keperihan yang ada pada tubuhmu itu ?
Apakah dokter dengan alat-alat kedokterannya mampu mencari dalam tubuhmu
keperihan akibat kegelisahan yang mendera ? Oooo …tidak duhai hati, jangankan
para dokter itu mampu menemukannya, pahampun tidak. Hanya kau sendiri yang
merasakannya, rasanya tak tertahankan, kalaupun ada perasaan kasihan dari
seseorang karena telah kau ceritakan padanya, belum tentu ia akan merasakan
seperti kau merasakannya. Lalu karena tidak ditemukan bentuk keperihan itu
dalam dirimu, lantas kau menganggap keperihan itu tidak ada ? Sementara kau
merasakannya.
Perhatikanlah perkataan Rumi dalam kitabnya
Matsnawi-i-Manawi :
“ Orang yang menolak kebenaran tetap
saja berpegang pada dalil ini: “Jika ‘alam’ yang lain itu benar-benar ada, aku
pasti melihatnya.”
“Jika karena seorang anak kecil
tidak mengetahui dimana akal, apakah orang akan membuangnya?”
“Mata Musa melihat kayu, namun mata
Yang Tak Terlihat melihat ular dan tongkat …”
“ Meski orang tidak mengetahui
dimana cinta bersemayam, namun ia tidak akan pernah berkurang.”(**)
Oooh …hati, untuk itu, ketahuilah … ini memang
rumit dan berat, namun kau harus menempuhnya, jika tidak, kau tidak akan mencapai
pencarianmu dalam menggapai cinta hakiki. Cinta hakiki yang diperoleh memang
bukan perkara mudah, makanya telah panjang lebar kuulas bahwa jalan ini memang
bukan jalan mudah. Tapi jangan pernah menyerah, jika cinta itu ada, maka kau
harus yakin untuk mampu menggapainya, dan memang cinta itu ada.
---------------------------
Keterangan :
(*) Said Hawwa, Diterjemahkann dari judul asli
Allah Jalla Jalaalahu oleh Tim Sholahuddin Press dengan judul terjemahan Allah
Jalla Jalaalahu Telaah Ilmiah Tentang Eksistensi Allah, (Jakarta Timur: Sholahuddin
Press, 2003), Cet.1, Halaman 8
(**) Iqbal M. Ambara, Jalaludin Rumi Sang Sufi
Humanis, (Yogyakarta: Lukita, 2010), Cet. 1, halaman : 64
Tidak ada komentar:
Posting Komentar