WENDRI NALDI EL-MANINJAUI KHATIB BANDARO

WENDRI NALDI EL-MANINJAUI KHATIB BANDARO
WENDRI NALDI EL-MANINJAUI KHATIB BANDARO

Kamis, 21 Maret 2013

Cinta di Atas Cinta ( Bagian 6 )


Wahai jiwa yang terasa gersang dan penuh keraguan …duhai jiwa yang semakin dihimpit kerinduan akan cinta hakiki …kau mungkin sudah tak sabar lagi untuk mengetahui …apa langkah-langkah yang harus kau tempuh untuk menggapai cinta yang telah membuat kau tak mampu melelapkan mata, walau sekilas telah kusampaikan harus dengan ilmu, tapi ilmu yang bagaimana ? Walau sudah kukatakan ilmu ma’rifat ? Tapi ma’rifat dalam bentuk apa ? Bagaimana memulainya ? Itulah mungkin pertanyaan yang bergulat dalam rongga pikiranmu, sementara dadamu sesak dengan penasaran yang membuncah.

Ketahuilah … duhai hati …kuingatkan kepadamu … takkan dapat sesuatu yang diinginkan kecuali dengan modal yang sungguh-sungguh, pemahaman yang kuat. Apalagi jika kau ingin meggapainya dengan cara instan, takkan pernah kau menggapainya. Namun untuk melepaskan dahagamu, biar biar kurangkai jalan-jalan ini dengan hati-hati, perlahan dan tidak tergesa, resapi maknanya dengan hati-hati dan jangan lanjutkan jika kau tak mengerti. Langkah awal yang hendak kau gapai dalam ilmu ma’rifat mencari cinta hakiki adalah :

Cobalah kau kembali mematut-matut kembali, mengingat-ngingat kembali, kala kau melihat seseorang, lalu muncul desiran halus dalam jiwamu, betapa cantiknya orang itu, sehingga kau terpesona, terucapkan kata rasanya kelu lidah ini, matamu enggan untuk beralih dan desiran gelora jiwamu terasa berat, hatimu dirundung rasa lain yang bahkan mampu mempengaruhi suhu tubuhmu, sampai-sampai mengalir peluh walau dalam cuaca dingin. Itulah cinta, kata mereka yang berfikiran dangkal, cinta yang lahir dari pandangan mata. Apa yang terserap oleh matamu kau alirkan dalam pikiran jiwamu, hingga melahirkan gelora yang tak terungkap, tapi kau merasakannya sangat hebat.
Ketahuilah, itu sebenarnya bukan cinta hakiki, tapi itu tanda-tanda dari sebuah cinta, ya, itu hanyalah tanda-tanda cinta, bukan cinta hakiki, jika boleh dikatakan salah satu jalan menggapai cinta hakiki,  sebab tak semua orang akan  dapat menikmatinya, apakah orang buta dalam hal ini akan mendapatkan kenikmatan tersebut ? Tentu tidak, padahal cinta hakiki itu meilik semua.

Namun jika ia menjadi anganmu, menjadi tumpuan harapan hatimu, dan sulit bahkan tidak mampu lagi kau memalingkan pikiranmu, sungguh kau telah terpesona. “KETERPESONAANMU “ itulah cinta hakiki. Jika kau telah terpesona, maka jiwa dan ragamu kau serahkan pada keterpesonaan tersebut, alam kasarmu akan hancur dan akan larut pada keterpesonaan itu, yang nampak bagimu hanyalah yang membuat kau terpesona tersebut, perkataanmu tidak keluar dari keterpesonaan tersebut, langkah dan tindakanmu mengiringi keterpesonaan tersebut, yang lain tidak. Dalam hal ini siapapun akan dapat merasakannya walau orang itu buta sekalipun, tuli sekalipun, bahkan tidak bisa bergerak sekalipun, kecuali jika memang ruh tidak lagi berada pada jasad.
Maka yang harus kau cari dalam hal ini adalah menggapai “ KETERPESONAAN ”. Mulailah melihat sekitarmu, dengan mata kepala dan mata batinmu, niscaya kau akan menemukan keterpesonaan tersebut. Tak perlu jauh-jauh, lihat dirimu sendiri, mengacalah, mengapa dirimu begitu indah, menarik dan menawan, tersusun dengan organ-organ yang saling memiliki sinergi antara yang satu dengan lain. Mampu digerakkan dan diperintahkan, jika satu sakit yang lain merasakan penderitaannya, refleks saling menjaga dan bantu membantu, kala debu berupaya menusuk matamu, kelopaknya langsung menghadang, kala kakimu tersandung batu kala dalam perjalanan, tubuhmu langsung menahan laju kakimu yang lain untuk meneruskan perjalanan, tanganmu refleks mengelus kaki yang sakit, mencoba memberi bantuan, saat matamu menyaksikan kakimu itu bengkak, pikiranmu langsung mengusulkan agar dibawa pada tukang urut, ia memberi analisa jika tidak cepat diobati maka akan berakibat fatal, maka hatimu menyetujuinya, sehingga sepakatlah tubuhmu untuk menuju tukang urut agar kakimu segera diobati, dengan harapan pulihnya kakimu, memang kakimu yang pulih, tapi seluruh jasadmu akan merasakan imbas kepulihan itu. Demikianlah sebuah kerajaan dalam dirimu yang saling bersinergi dan saling membutuhkan, ia tidak berdiri sendiri, ibarat satu bangunan yang tersusun dari berbagai macam elemen sehingga berdiri kokoh. Jika ada satu saja yang tidak berfungsi maka kau akan merasakan kekurangan, orang menyebutnya cacat, kebahagiaan hidup terasa kurang.

Renungkanlah, mengapa hal tersebut bisa terjadi ? Apakah terjadi secara kebetulan ? Apakah dirimu yang mengatur semua itu ? Jika memang dirimu yang mengatur mengapa harus ada gerakan ketidaksengajaan, refleks, namun bermanfaat untuk dirimu, apakah kau mampu mengatur secara sempurna segala perbuatan-perbuatan tubuhmu, Oooo… tidak wahai hati, ia telah dirancang oleh Sang Maha Agung, Sang Maha Agung tersebut dengan Kemaha Agungan dan Segala Kemaha Kuasaannya ia lakukan hanya dalam “kun fayakun “ , Jadilah, maka jadilah ia. Maka hadapkanlah hatimu  kepada yang mengagumkan itu, siapakah ia ?
Kau mungkin  memulai untuk memikirkan, bahwa engkau bisa lahir, berdiri tegak, karena ada yang melahirkanmu, lalu mungkin kau akan mengira, yang melahirkanmu itulah yang mengagumkan, karena tanpa ada yang melahirkanmu niscaya kau tidak akan lahir, namun apakah sampai disana ? Bukankah yang melahirkanmu juga terlahir, dan yang terlahir itu juga terlahir ? Lantas dimana ujungnya ? Ya pada perhentian dari siapa yang melahirkan pertama, dan Ia telah ada tanpa ada yang mengadakan-Nya. Ialah Yang Pertama, Al-Awwal, Ia lah yang telah membuat segalanya, dan Ialah yang menetapkan urusan segalanya.
Jika pertama tentu satu, tidak berbilang. Mungkin hatimu terusik, lalu yang pertama itu siapa yang membuatnya ? Oooh … duhai hati, tidakkah kau tahu tidak ada sebelum yang pertama. Kalaupun dalam kajian angka-angka, disebut nol, kosong, tidak bernilai. Lalu muncul lagi pertanyaanmu , apakah yang pertama itu dari kekosongan ? Dangkal sekali cara berfikirmu, apakah mungkin kosong itu lebih tinggi dari yang pertama ? Kosong itu sesuatu yang sangat rendah dan tidak bernilai, hampa. Maka yang tertinggi adalah yang pertama.

Siapa yang pertama itu ? Tentunya Yang Memiliki Segala Kekuasaan, Memiliki Segala Kemampuan, Memiliki Segala Yang Tidak Dimiliki Yang Lain. Jika masih ada yang lain menandinginya, itu bukan  pertama namanya. Jadi yang pertama itu adalah Yang Tidak bisa ditandingi. Dialah Allah s.w.t., yang disebut namanya dalam al-Qur’an, lancar dalam lisan utusan-Nya.

Jika kau sudah sampai pada pemahamanmu, kau sudah memahaminya, bahwa ada yang mengatur urusanmu, dan membuat dirimu sedahsyat itu, tidakkah kau “TERPESONA” dengan yang mengatur dirimu itu ?
Renungkan kembali, kala kau melihat seseorang, lalu muncul desiran halus dalam jiwamu, betapa cantiknya orang itu, sehingga kau terpesona, terucapkan kata rasanya kelu lidah ini, matamu enggan untuk beralih dan desiran gelora jiwamu terasa berat, hatimu dirundung rasa lain yang bahkan mampu mempengaruhi suhu tubuhmu, sampai-sampai mengalir peluh walau dalam cuaca dingin. Maka kau harus melanjutkan pencarianmu, siapa yang telah membuat semua itu ? Jika hasil buatannya saja sudah membuat kau terpesona namun belum hakiki, lantas apakah kau tidak akan mencapai pesona di atas pesona kala kau menyadari Sang Pembuat pesona itu, yakni pesona hakiki ?

Pada tahap ini, keterpesonaanmu meyaksikan seseorang tidak akan lagi membuat kau terikat dengannya, karena kau telah melambung jauh tinggi pada keterpesonaan yang membuatnya. Orang tersebut hanyalah alat dan media bagimu untuk mencapai keterpesonaanmu yang sesungguhnya. Mana yang hendak kau pilih alat atau media tersebut atau Sang Pemiliknya ? Jawablah dengan nurani yang jujur dan hati-hati, niscaya engkau akan merasakan kenikmatan tersendiri dengan jawabannya, tak dapat disangkal orang yang berpikiran jernih akan memilih Sang Pemiliknya, yang tentu memiliki Segala Kemaha Pesonaan.
Maka kesanalah hendaknya keterpesonaanmu berlabuh, kesanalah angan dan citamu, kesanalah tumpuan hidupmu, dan kesanalah tempatmu menghambakan diri, ya, disanalah cintamu kau labuhkan,  Dialah Allah s.w. yang mempesona, pesona di atas pesona.

Sungguh jika kau mampu menggapainya, kau telah meraih cinta hakiki. Kau takkan kecewa, sebab urusan ada pada-Nya, Ia Maha Gagah, Maha Pengasih, Maha Penyayang, Memiliki Asma’ul Husna, nama-nama yang hanya kebaikan yang ada pada-Nya. Segala apa yang Ia tetapkan adalah kebaikan, segala keputusan-Nya berlandaskan cinta. Jika kau menemukan dalam hidupmu suatu urusan yang membebanimu dan membuat kau kecewa yang didatangkan-Nya. Itu hanya menurutmu, tapi hakikatnya terbaik menurut Ia, memahami terbaik menurut Ia itulah yang perlu kau gali lebih lanjut. Tak masuk dalam logika apapun,jika  Sang Pemilik Urusan mencelakakan urusannya sendiri.

Untuk tahap ini, cukup kau memahami sampai disini dulu, sebelum lebih jauh kau melangkah, jangan tergesa-gesa, pahami dengan hati-hati dan mawas diri. Kukira kau cukup paham, bahwa agar kau memperoleh cinta hakiki, sering-seringlah menyaksikan sekitarmu dengan mata kepala dan mata hati, tentang keindahan-keindahan dan segala ciptaaan yang telah ada, lalu kau cari jalan untuk memahami mengapa semua itu ada dan terjadi, hingga kau sampai pada putusan, segalanya berawal dari pemilik utama, sungguh mempesona pemilik utama itu. Dialah Allah s.w.t.
Ilmu ma’rifat itu adalah kenali, pelajari, gali dan pahami ilmu tentang penciptaan, segala apa yang ada dengan segala keteraturannya, niscaya kau akan mencapai hakikat dari semua itu, yakni ada sesuatu yang mengaturnya, hingga membuat kau “ TERPESONA”, hingga kau mencintainya.

Sesungguhnya dalam setiap penciptaan langit dan bumi, pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal.” (T.Q.S. Ali Imran : 190)




Tidak ada komentar:

Posting Komentar