WENDRI NALDI EL-MANINJAUI KHATIB BANDARO

WENDRI NALDI EL-MANINJAUI KHATIB BANDARO
WENDRI NALDI EL-MANINJAUI KHATIB BANDARO

Selasa, 20 Mei 2014

Pemimpin Mukmin di Surga (*)

Terdapat dalam riwayat Ath-Thabrani dalam Mu’jam-nya. Dari Abu Hurairah r.a., dia bercerita,
Aku mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda, “Sungguh orang miskin kaum Mukminin akan masuk surga setengah hari, yaitu lima ratus tahun lebih dahulu daripada orang-orang kaya mereka.”
Seorang laki-laki bertanya, “Adakah aku termasuk di antara mereka, wahai Rasulullah?”
Beliau bertanya, “Kalau engkau di siang hari makan, kemudian engkau pulang di malam hari untuk makan, adakah makan malam bagimu?”
“Ya,” jawab laki-laki itu.
Beliau bersabda, “Engkau tidak termasuk di antara mereka.”
Laki-laki lainnya bertanya, “Adakah aku termasuk di antara mereka , wahai Rasulullah?”
Beliau balik bertanya, “Apakah aku telah mendengar pertanyaanku kepada orang tadi sebelum engkau?”
“Ya, tapi aku tidak seperti dia,” jawabnya.
Rasulullah s.a.w. pun bertanya, “Apakah  engkau memiliki pakaian lain untuk menutupi tubuhmu selain yang kaukenakan ini?”
“Ya,” jawabnya.
Rasulullah s.a.w. bersabda, “Kalau begitu, engkau tidak termasuk di antara mereka.”
Laki-laki lain bertanya, “Adakah aku termasuk diantara mereka, wahai Rasulullah?”
Rasulullah s.a.w. balik bertanya, “Apakah engkau telah mendengar pertanyaanku kepada kedua orang tadi sebelum engkau?”
Laki-laki itu menjawab, “Ya.”
Beliau bertanya, “Apakah engkau bisa mendapatkan pinjaman ketika hendak berutang?”
“Ya,” jawabnya.
Rasulullah s.a.w. bersabda, “Kalau begitu, engkau tidak termasuk di antara mereka.”
Laki-laki lain bertanya, “Adakah aku termasuk diantara mereka, wahai Rasulullah?”
Rasulullah s.a.w.balik bertanya, “Apakah engkau telah mendengar pertanyaanku kepada mereka tadi sebelum engkau?”
Laki-laki itu menjawab, “Ya.”
Rasulullah s.a.w, bertanya, “Engkau mampu mencari nafkah?”
“Ya,” jawab laki-laki itu.
Rasulullah s.a.w. bersabda, “Engkau tidak termasuk di antara mereka.”
Laki-laki kelima berdiri dan angkat bicara, “Aku termasuk di antara mereka, wahai Rasulullah.”
Beliau bertanya, “Apakah engkau telah mendengar pertanyaanku kepada mereka semua tadi sebelum engkau?”
Laki-laki itu menjawab, “Ya.”
Rasulullah s.a.w. bersabda, “Apakah engkau ridha pada Tuhanmu di sore hari, begitu pula di pagi harinya?”
“Ya,” jawabnya.
Rasulullah s.a.w bersabda, “ Kalau begitu, engkau termasuk di antara mereka.”
Nabi s.a.w. bersabda, “Sungguh para pemimpin mukmin di surga adalah orang-orang yang apabila makan siang maka dia tidak mendapatkan makan malam; sedangkan apabila dia makan malam, dia tidak mendapatkan makan siang. Jika dia hendak berutang, dia tidak mendapatkan pinjaman. Dia juga tidak punya pakaian lebih selain apa yang menutupi bagian anggota tubuh yang harus tertutup. Mereka tidak mampu mencari nafkah untuk menghidupi diri mereka. Namun, ketika sore hari dia ridha pada Allah dan pada pagi harinya dia pun ridha pada-Nya.”
“Dan barangsiapa menaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: nabi-nabi, para shiddîqîn, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.”(Q.S. An-Nisâ’:69)
Ath-Thabarani mengatakan, Hadits ini gharîb dari Sufyan ats-Tsauri dari Muhammad bin Zaid yang disebut-sebut bahwa dia adalah al-Abdi. Abdul Malik meriwayatkannya secara sendirian. (**)

Saudaraku …

Inilah puncak kekayaan hati yang ditanamkan Islam ke dalam hati kita. Kekayaan yang melebihi betapapun tingginya menara kekayaan materi. Kekayaan yang dirasakan jiwa dengan  penuh kenikmatan hingga dunia terasa lapang dan sama sekali tidak mengandung beban di dalamnya. Kekayaan yang mengantarkan kita pada sebuah pengabdian, kepasrahan dan ketundukan yang diluapi rasa ikhlas akan menerima kenyataan hidup. Kekayaan yang menutup celah-celah bisikan iblis sang penggoda untuk menggiring kita pada lembah kesempitan hidup. Kekayaan yang akan membuat para Raja tak bermakna kemegahan kekuasaannya. Kekayaan yang membuat para hartawan sama sekali tidak memiliki kedudukan. Kekayaan yang meruntuhkan ambisi untuk bermegah-megahan. Ya, kekayaan itu adalah ridha. Rela menerima segala ketetapan Allah s.w.t. dan memandang hal tersebut sebagai suatu kemuliaan dengan hati yang lapang.
Kekayaan inilah yang hilang dari hati orang-orang yang dirundung gelisah penuh keluh kesah. Sebab hatinya selalu diliputi rasa tidak cukup. Hati tidak pernah merasakan kenikmatan dari apa yang dia miliki. Hatinya cemas akan keadaan dimasa yang akan datang bagaimana kelak hidup ini jika kebutuhan hidup tidak terpenuhi. Kekayaan ini pulalah yang tidak dimiliki oleh jiwa-jiwa penuh ambisi untuk mencapai kemegahan hidup. Hatinya telah diliputi perasaan bahwa kebahagiaan itu lahir dari terpenuhinya segala keinginan. Ia lupa keinginan hakikatnya lebih banyak diiming-imingi oleh hawa nafsu, berkembang dan menjalar melalui bisikan-bisikan iblis yang memang program mereka hendak mencari pengikut sebanyak-banyaknya. Dan kelupaan yang paling besar kala tidak menyadari bahwa apa yang telah ada dalam diri adalah nikmat yang begitu luar biasa, namun yang tampak dan dirasakan hanyalah segala kekurangan.

Saudaraku …

Tentunya kita ingin mecapai kekayaan  yang mulia tersebut. Rida menerima segala ketentuan dengan hati yang tanpa dibebani nafsu-nafsu keserakahan dan ambisi. Rida menerima kenyataan hidup tanpa berkeluh kesah dengan selalu memunculkan prasangka baik atas segala ketetapan Allah s.w.t.
Hanya saja, bagaimana menumbuhkan dan meraih kekayaan tersebut? Dalam ruang lingkup hidup yang dibebani dengan kebutuhan hidup yang harus dipenuhi? Dalam pertarungan hidup yang keras penuh persaingan? Ketahuilah …! Segala sesuatunya bersumber dari hati, hati yang memiliki kekuatan untuk mengendalikan segala urusan diri kita. Ia bagaikan raja yang mengendalikan seluruh umat dalam aturan dan segala titahnya. Jika hati ini mampu kita kondisikan, insya Allah pencapaian hal tersebut akan mudah.
Maka mulailah dari hati untuk mengetahui dan menerima, lebih penting dari itu harus yakin, bahwa segala proses dan apapun yang terjadi di permukaan bumi ini berada dalam pengaturan Allah s.w.t. Segala sesuatu ditetapkan oleh Allah s.w.t., itulah takdir. Tak satupun manusia yang bisa untuk mengubah takdir. Hanya manusia diberikan pilihan untuk memilih takdir yang diinginkan. Dalam pencapaian pilihan inilah, sangat menentukan kredibilitas kita. Apakah tergolong orang-orang yang memilih takdir kebaikan yang akan menyelamatkan kita di dunia dan akhirat. Atau sebaliknya, memilih takdir keburukan yang kelak mengantarkan kita pada liang-liang neraka yang mengerikan.
Lantas, apa yang membuat kita ragu dalam segala ketetapan Allah s.w.t. untuk kita? Jika Allah s.w.t. telah menetapkan takdir rezki kita sedikit, maka ambillah takdir yang sedikit itu. Nikmatilah, niscaya ia akan terasa menjadi nikmat. Kita harus yakin, Allah s.w.t. lebih tahu tentang mana yang terbaik untuk kita. Ambisi untuk lebih dari itu hayalah pilihan takdir keburukan yang harus kita singkirkan agar jangan mengambilnya. Jika hati kita tetap tergerak dan ingin sekali meraihnya, ketahuilah ! Sungguh hal demikian hanyalah bisikan-bisikan iblis untuk mencelakakan kita agar kita tidak ridha dengan takdir. Ia tampakkan keindahan agar kita meluluskan ambisi tersebut, dengan segala macam tipu daya yang menyesatkan namun tampak indah dalam pandangan mata, hinga kita tergoda dan lupa bahwa kita diciptakan ke dunia bukan untuk itu.
Ambisi mengikuti bujuk rayu iblis hanya akan melelahkan kita dan melalaikan kita untuk menerima apa adanya dengan rida. Sehingga apa yang telah kita peroleh yang seharusnya kita ridha, dan itulah takdir kebaikan bagi kita, tidak terasa lagi nikmatnya dan hilang segala keutamaannya dalam hati kita. Pada saat ini ridha akan semakin jauh dalam jiwa kita. Yang ada hanyalah keluh kesah, mengutuk nasib dan selalu merasa kekurangan. Na’udzubillaah.
Petikan terakhir dari petuah Rasulullah s.a.w. sesungguhnya hentakan yang menghujam pada kedalaman lubuk hati terdalam, “Sungguh para pemimpin mukmin di surga adalah orang-orang yang apabila makan siang maka dia tidak mendapatkan makan malam; sedangkan apabila dia makan malam, dia tidak mendapatkan makan siang. Jika dia hendak berutang, dia tidak mendapatkan pinjaman. Dia juga tidak punya pakaian lebih selain apa yang menutupi bagian anggota tubuh yang harus tertutup. Mereka tidak mampu mencari nafkah untuk menghidupi diri mereka. Namun, ketika sore hari dia ridha pada Allah dan pada pagi harinya dia pun ridha pada-Nya.” Ini bukan masalah apakah kita tidak boleh untuk mengambil kekayaan dunia, atau masalah apakah kita harus hidup miskin. Tapi berada pada ranah sejauhmana kekuatan hati kita untuk menerima takdir hidup dengan kelapangan penuh ikhlas, ridha akan segala apa yang telah ditetapkan untuk kita.
Ketahuilah … ridha itu puncak kekuatan orang mukmin, ia lahir dari kemampuan melihat apa yang menjadi kehendak Allah s.w.t. dan ia yakin kehendak itulah yang terbaik.
Jalan untuk mencapai semua itu tiada lain, dengan cara memandang segala apa yang ada di dunia ini hanyalah bersifat sementara, tidak kekal. Bahkan ia merupakan instrumen penguji sejauhmana pemahaman konsep hidup dalam hati kita. Apakah hidup untuk meraih keuntungan dan bersenang-senang di dunia ini, atau hidup untuk merasakan nikmatnya menjadi sosok hamba yang kelak akan kembali pada Sang Pencipta. Jika yang pertama, maka sungguh kita hanya akan diliputi kegelisahan, kegalauan dan angan-angan kosong kala tidak mendapatkan apa yang diinginkan, sebab keuntungan itu sementara, rasa senang itu relatif. Kala keuntungan dan kesenangan tidak kita dapatkan kita akan menjadi gundah dan terus, terus, dan terus berupaya untuk mencapainya. Dalam pencapaian itu kita diliputi kesusahan yang bertambah-tambah, apalagi jika tidak tercapai, akan menyebabkan hilangnya keseimbangan diri, goncang jiwa kita, maka iblis akan mudah menggelincirkan kita.
Namun jika hidup dipahami sebagai hamba yang kelak akan kembali pada Sang Pencipta, kita akan menyadari bahwa diri ini tiada lain berada dalam sebuah program pengaturan Sang Pencipta yang tidak bisa dirobah. Kita hanya hamba yang diciptakan dan harus bekerja serta berbuat sesuai dengan aturan untuk apa kita diciptakan. Saat kita berjalan pada aturan tersebut niscaya kita akan mudah sampai tujuan. Ibarat seorang ahli teknik membuat sebuah suatu peralatan mesin canggih, disana ia tetapkan aturan-aturan kerja dari mesin tersebut agar berfungsi dengan baik. Maka selama mesin itu bekerja sesuai dengan aturan pembuatnya, niscaya mesin itu akan bekerja dengan baik dan pencapaian hasilnya akan memuaskan. Tapi jika difungsikan dalam kerjanya bukan dengan ketentuan yang telah ditetapkan oleh yang membuat, akibat yang menimpa mesin tersebut akan rusak. Sebab bekerja tidak sesuai dengan prosedur. Bekerjanya mesin dengan prosedur serta dengan kepatuhannya menjalankan aturan sesuai dengan aturan pembuatnya yang lebih tahu bagaimana seharusnya bekerja mesin tersebut, suatu bentuk aplikasi nyata konsep rida. Saat mesin itu ridha menjalankan fungsinya sesuai aturan, maka jalannya lapang, tidak tersendat-sendat, sebab ia berjalan dijalannya.
Begitulah seharusnya kita, kala kita ridha dengan aturan Allah s.w.t. sebagai hamba dari yang menciptakan kita, niscaya jalan hidup kita akan lapang dan lurus. Sebab Allah s.w.t.lah yang memegang kendali dan memiliki aturan tentang kita, dan telah ditetapkan segala aturan itu di Lauh Mahfuzh, jauh sebelum kita menempuh hidup di permukaan bumi ini.
Maka kesimpulannya, apapun bentuk ketetapan Allah s.w.t. untuk kita itulah aturan yang harus kita jalankan, jika berjalan dalam aturan itu niscaya kita akan selamat. Berjalan dalam aturan itulah intisari dari ridha. Untuk itu bangunlah kesadaran diri kita, dengan ridha menempuh hidup ini dalam bentuk menerima dan menjalani apapun ketentuan Allah s.w.t. Tentunya dengan bersabar akan apapun yang menimpa kita, walaupun terasa sulit dan berat. Sesungguhnya sabar dan ridha adalah dua konsep yang saling membutuhkan dan saling tolong menolong. Kita akan ridha menerima kenyataan hidup jika kita bersabar dengan segala ketentuan hidup dari Allah s.w.t. dengan tidak berkeluh kesah. Pupusnya keluh kesah adalah bentuk dari rasa ridha kita. Tanamkanlah ke dalam hati kita, wahai saudaraku ! Semoga kita diberi kekuatan untuk menjadi orang yang bersabar, sabar yang akan mengantarkan kita pada puncak kekayaan hidup, yakni ridha.

Keterangan :

(*) Judul berdasarkan kisah
(**)Lihat kisah tersebut dalam Ibnul Qayyim al-Jauziyyah, diterjemahkan dari ‘Uddah ash-Shâbirîn wa Dzakhîrah asy-Syâkirîn oleh Iman Firdaus, Lc., Q.Dpl dengan judul ‘Uddatush Shâbirîn: Bekal Untuk Orang-Orang yang Sabar (Jakarta: Qisthi Press, 2010), Cet. 1, h. 336-338 

Jumat, 16 Mei 2014

Catatan Kunjungan Generasi Ash-Haby PK MAN Maninjau Ke Museum Rumah Kelahiran Buya Hamka

Assalaamu'alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh
Puji syukur kepada Allah rabbul 'izzati, shalawat buat sang idola kita Rasulullah saw.

Photo : Kebersamaan Generasi Ash-Haby PK MAN Maninjau di Lokasi Sekitar Museum Rumah Kelahiran Buya Hamka

Tak ada kata diam dan berhenti, tak ada kata istirahat kecuali hanya untuk mengumpulkan tenaga, tak ada waktu luang yang membosankan, itulah kami keluarga besar PK MAN Maninjau. Komunitas yang dibangun atas dasar gelora iman yang mengejewantah dalam bentuk ukhuwah.
Hidup adalah berjuang untuk berkarya, hidup harus bermakna, setiap desah nafas adalah suatu pertanggungjawaban kelak di Yaumul Hisab. Untuk itu kami berupaya untuk melakukan apa yang menurut kami bisa untuk menyelamatkan diri dari hal-hal yang membinasakan, baik binasa secara duniawi ataupun binasa secara ukhrawi.
Dan ketahuilah ….ini bukan suatu hal yang narsis, tapi suatu penanaman sebuah asa dan azzam yang bergelora dalam jiwa-jiwa kami sebagai generasi penerus Islam. Dalam rajutan ukhuwah, kami bangun mozaik kehidupan penuh semangat dan kebersamaan. Dalam luapan lautan cinta, kami labuhkan impian kami di dermaga harapan terbangunnya suatu peradaban yang gemilang melalui jejak dan goresan-goresan yang kami tinggalkan dalam prasasti iman.
Kamis, 15 Rajab 1435 H, ukhuwah tersemai, kebersamaan berpendar, membentuk percikan warna-warni indah menawan, bak percikan bunga api  penuh warna ditengah malam nan indah dihiasi purnama keempat belas. Sesungguhnya bagi kami, yang akan mampu melapangkan hati kami hanyalah Allah swt. Maka kami raih kelapangan hidup dengan cara mencari kebahagiaan yang kami pahami. Adakah kebahagiaan dari pada tingginya pemahaman akan ilmu dan tergabungnya dalam sebuah jama’ah yang sama-sama punya nawaitu mengagungkan agama Allah swt. Ya, dihari itu, kami menunaikan suatu nawaitu, menyambangi Museum Rumah Kelahiran Buya Hamka. Pesanggrahan sosok hebat dan dahsyat yang telah mengguncang dunia dengan kearifan dan kedalaman serta keberaniannya yang aduhai. Banyak hal yang dapat kami petik dari kunjungan yang mengandung manfaat menggunung ini. Tentang perihidup Buya Hamka, ulama kebanggaan orang Maninjau, mulai dari kecilnya hingga menjadi ulama besar. Pengetahuan ini bukan mengada-ada, karena kami langsung disambut hangat oleh Pak Hanif (nara sumber) di Museum  dan memberikan informasi-informasi mengenai ulama kharismatik Buya Hamka. Indahnya lagi, kami diberi wejangan, nasehat dan tausyiah sarat makna. Alhamdulillaah, kami juga diberi hadiah tulisan beliau tentang Buya HAMKA Sang Inspirator.

Photo : Pak Hanif (nara sumber) memberikan keterangan tentang sosok Buya Hamka dalam Museum Rumah Kelahiran Buya Hamka, 15 Rajab 1435 H

Photo : Pak Hanif (kiri, baju lengan panjang) memberikan kenang-kenangan berupa buku tulisannya tentang Buya Hamka Sang Inspirator kepada guru pembina Generasi Ash-Haby PK MAN Maninjau (kanan, jaket hitam), 15 Rajab 1435 H

Photo : Generasi Ash-Haby PK MAN Maninjau photo bersama dengan Pak Hanif (nara sumber) di Museum Rumah Kelahiran Buya Hamka, 15 Rajab 1435 H. 

Tak hanya itu, dalam museum tersebut, kami disuguhkan dengan karya-karya Buya Hamka yang begitu bejibun. Masya Allah, sungguh beliau bukan hanya sebagai ulama, tapi ternyata juga sastrawan besar yang luar biasa. Kalau boleh dikatakan Ulama yang sastrawan, dan sastrawan yang ulama. Sebagai bukti pengejewantahan, bahwa ternyata pada dekade zaman modern ini, masih terdapat ulama-ulama yang memiliki kaliber tidak kalah dengan ulama-ulama Islam periode klasik. Pelajaran luhur yang dapat kami ambil. Menjadi seorang muslim, haruslah memiliki cabang keilmuan yang komprehensif, menyatu dalam satu konsep yang dikendalikan ruh agama. Buya Hamka, cukup menjadi sampel akan pembenaran ini. Boleh saja orang mengatakan Buya Hamka sebagai sastrawan, tapi ketahuilah, jiwa sastrawan itu tumbuh dan berkembang terkorelasi dengan pengaruh agama yang begitu bergelora. Maka kesudahannya, karya-karya yang dilahirkan mengandung nilai-nilai luhur kebajikan. Lahir dari hati yang punya nawaitu tulus, bahwa berbuat dan berkarya hakikatnya adalah penanaman akan suatu upaya pembangunan umat. Sebagai pembuktian, silahkan lihat karya-karya Buya Hamka di Museum Rumah Kelahiran Buya Hamka tersebut.

Photo : Kebersamaan Generasi Ash-Haby PK MAN Maninjau di depan Museum Rumah Kelahiran Buya Hamka, 15 Rajab 1435 H

Seperti itulah cara kami membangun mozaik kehidupan kami. Hari kamis itu, hakikatnya hari libur. Mungkin diantara generasi seusia kami saat libur itu adalah saat yang indah untuk bersantai-santai, menghabiskan hari di depan televisi, atau sekedar ngobrol di kamar kos. Bagi kami? Tidak akan. Waktu adalah sunnatullah yang tak dapat ditarik, ia berjalan tanpa dapat dikendalikan, apakah ditarik sejenak, dihentikan, atau dipercepat. Maka karena  kami hidup dalam waktu yang berjalan itu sesuai kehendak-Nya. Alangkah merugi jika tidak digunakan untuk hal-hal yang bermanfaat, positif dan mengandung nilai-nilai luhur kebajikan. Maka kami jadikan waktu libur belajar di lingkungan sekolah dengan belajar pada apa yang ada di alam.
Ini bukan berarti kami menganggap, kami generasi yang keras dalam menyikapi hidup dan selalu serius. Tidak juga, malah apa yang kami lakukan ini bentuk dari apa yang kami pahami bahwa hidup harus dihadapi dengan kesenangan jiwa, ketenangan hati, dan penuh pesona. Walaupun kami terus, terus, dan terus belajar walau dihari libur. Tapi pembelajaran kami adalah pembelajaran yang luar biasa, penuh canda dan tawa, santai dengan tetap menjaga muru’ah. Kami belajar dengan cara yang kami menikmati pembelajaran tersebut tanpa beban. Kami belajar dalam luapan ukhuwah, kami belajar dalam cinta dan kebersamaan, kami belajar tanpa ada satupun yang memaksa dan menekan akal pikiran kami, dan kami belajar tidak melalui doktrin baku yang serampangan.
Maka dalam pembelajaran kami, yang kami dapat adalah kesan, pesan dan nuansa ruhiyah yang memukau. Kami belajar tentang intisari hidup yang sesungguhnya, kami belajar dari ayat baik qauliyah maupun kauniyah. Dan kami belajar dalam integrasi hablumminallaah dan hablumminannaas. Lantas, jika telah begini, apakah mungkin kami merasakan kebosanan dalam belajar? Ooo…tidak, malah kami ingin, ingin, dan ingin selalu belajar. Karena memang dalam Islam, perintah belajar adalah perintah pertama dalam ayat-ayat yang turun sebagai pedoman.
Sungguh, dalam sebuah komunitas PK MAN Maninjau, dan kami sekarang generasi Ash-Haby, suatu kenikmatan terbesar kala Allah swt. telah memilih kami dan menetapkan kami sebagai generasi penerus penegak risalah Islam. Kami akui, para pendahulu kami telah membangun generasi PK MAN Maninjau dengan penuh perjuangan. Akankah ditangan kami tidak mampu dipertahankan? Tidak akan. Kami adalah Generasi Ash-Haby, generasi yang akan meniru dan mencontoh serta menteladani perihidup para shahabat Rasulullah saw. yang telah menoreh dan menanam peradaban Islam pada puncak kejayaannya. Maka kamipun harus mampu untuk berbuat yang terbaik, kami harus yakin, bahwa kami mampu melanjutkan perjuangan pendahulu kami. Kalau bisa, lebih dari itu.
Hingga hari ini, kami begitu merasakan nikmatnya hidup dalam sebuah jama’ah besar PK MAN Maninjau, ukhuwah, cinta dan kebersamaan begitu kuat terbina. Hal inilah yang membuat kami kuat, tegar dan tak ragu dengan rintangan macam apapun. Dan kelak semoga segala apa yang kami tanam, hendaknya menjadi jejak kebaikan, dalam bentuk monumen prasasti sejarah yang begitu menawan bagi generasi kami. Yang semoga kelak menjadi saksi-saksi sejarah penuh keluhuran budi, sebagai ketauladanan yang berarti, hingga perjuangan ini memiliki mata rantai yang panjang dan kokoh.
Mengapa kami yakin akan semua ini. Karena dalam jiwa kami telah terpatri suatu pesan agung yang Allah swt. janjikan dalam kalam-Nya yang mulia : “Siapa yang menolong agama Allah, maka Allah akan menolongnya, dan menguatkan pijakan kakinya.”(Makna Q.s. Muhammad ayat 7). Lantas, jika Allah swt. telah menolong hamba-Nya, lalu siapa yang sanggup hendak menghancurkan? Takbiir !!!

Assalaamu'laikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh


Rabu, 07 Mei 2014

Nasehat Ibnu Simak Pada Khalifah (*)

Ibnu Simak pernah masuk ke tempat sebahagian khalifah dan ia memegang kendi air, yang mana ia meminumnya.
Maka khalifah itu berkata kepadanya: ”Berilah saya nasehat.”
Ibnu Simak lalu menjawab: ”Jikalau tidak diberikan minuman ini kepadamu, kecuali ditukar dengan semua hartamu dan jikalau kamu tidak memberikannya, maka kamu tetap haus, maukah kamu memberikannya ?”
Khalifah itu menjawab: ”Ya, kuberikan.”
Ibnu Simak berkata lagi: ”Jikalau tidak diberikan, kecuali dengan kerajaaanmu, maka maukah kamu meninggalkan kerajaan itu?”
Khalifah itu menjawab: ”Ya, mau.”
Maka Ibnu Simak berkata: ”Maka kamu tidak merasa bangga dengan kerajaan itu, yang mana kerajaan itu tidak menyamai dengan seteguk air ini.”(**)

Kita mungkin sering mengeluhkan keadaan hidup kita yang jika dibandingkan dengan orang lain jauh berada dibawah taraf yang menyedihkan. Kemiskinan yang mendera, beban hidup yang berat, sampai-sampai bisikan syetan mungkin sempat membuat kita tergelincir untuk sepakat menyatakan hidup ini tidak adil. Apalagi kala kita menyaksikan kenyataan, kita yang merasa telah berupaya bersungguh-sungguh melaksanakan keta’atan, tapi seakan kenikmatan hidup tidak berpihak pada kita, malah sering didera kesulitan. Sementara begitu banyak kita saksikan orang-orang disekitar kita, yang jangankan berupaya mewujudkan keta’atan, malah mereka langgeng dengan kemaksiatan. Tapi mengapa kehidupan mereka tampak dilimpahi berbagai macam kenikmatan.
Pertanyaan yang harus sering-sering kita tanyakan pada diri kita, sebenarnya kebahagiaan bagaimana yang kita dambakan dalam hidup? Apakah kebahagiaan seperti yang kita lihat dari apa yang dimiliki orang lain? Jika demikian, ketahuilah…., sesungguhnya kita bukan mendambakan kebahagiaan, tapi tidak lebih dari pada kedengkian terhadap sesuatu yang dimiliki oleh orang lain. Kita berharap terhadap kenikmatan yang dimiliki oleh orang lain kita juga memilikinya. Padahal belum tentu kenikmatan tersebut layak untuk kita, dan seandainya diberikan pada kita, belum tentu kita akan merasakannya sebagai kenikmatan, bisa jadi malah menjadi bencana, fitnah ataupun musibah.
Memang agak rumit memahami konsep ini, namun bisa kita pahami melalui permisalan. Sebagai contoh, kala kita melihat orang lain mendapatkan harta warisan yang melimpah, sehingga hidup mereka tampak bahagia, lalu terbersit dihati kita, “Alangkah indahnya jika saya juga memiliki hal yang demikian, tentunya saya akan mendapatkan kebagiaan seperti mereka.” Tapi apakah benar apa yang kita rasakan itu kala benar-benar terjadi pada diri kita akan sama dengan apa yang mereka rasakan? Belum tentu. Mereka mungkin saja diberi anugrah harta warisan yang melimpah dikarenakan punya kemampuan yang memadai untuk mengelolanya. Sementara kita, yang mungkin tidak terbiasa dengan limpahan harta lalu tiba-tiba mendapatkan harta warisan yang melimpah, apakah mungkin bisa mengelolanya? Bukannya kebahagiaan yang kita dapatkan, tapi menjadi bumerang bagi kita karena tidak amanahnya terhadap harta tersebut. Bisa jadi malah harta itu akan membuat kita gelisah dengan keberadaannya, sibuk mengurusnya dan melailaikan keta’atan kita kepada Allah swt. Jika kesadaran kita pada tingkat ini, masihkah kedengkian akan bercokol dalam jiwa? Malah yang akan bersemi perasaan syukur, alhamdulillaah, Allah swt. tidak membebani saya dengan harta yang akan membuat hidup saya menjadi sulit, itulah mungkin perasaan yang muncul dalam diri kita. Kita akan lebih mampu tegar menerima kenyataan. Inilah buah dari kesabaran yang sebenarnya.
Untuk itu pahamilah, sesungguhnya apa yang kita miliki dan apa yang kita dapatkan itulah kenikmatan yang layak untuk kita, terimalah ia dengan hati lapang, dan bersabarlah dengan keadaan tersebut. Hakikatnya kebutuhan  kita hanya sebatas demikian, sementara kelebihannya bukanlah kebutuhan kita. Artinya, Segala sesuatu yang telah mencukupi kita, maka cukupkanlah disana, jangan berambisi untuk mendapatkan yang lebih dari pada itu, sebab yang namanya kebahagiaan berada dalam ranah kecukupan dan merasa cukup lalu berhenti disana. Jika masih memikirkan sesuatu yang lebih dari yang telah ada, maka nikmat kecukupan akan pupus. Hati telah disibukkan oleh sesuatu yang diinginkan, padahal keinginan itu bukan lagi kebutuhan, hanyalah buah dari keserakahan. Lantas kapan kita akan menikmati kebahagiaan jika hati selalu diliputi rasa tidak cukup? Bersabarlah untuk mengendalikan nafsu syahwat agar bertahan dengan rasa cukup dan tidak maju ke depan melintasi garisnya untuk mengejar yang lebih.
Hanya yang menjadi pertanyaan bagaimana menyemai rasa cukup terhadap apa yang dimiliki? Kita harus memahami segala kebutuhan kita. Yang dinamakan kebutuhan kala sesuatu itu harus ada dan jika tidak ada kita tidak bisa melangsungkan hidup dan keta’atan. Maka penuhilah hal tersebut dengan ikhtiar. Kebutuhan ini akan berbeda sekali antara kita dengan orang lain. Kebutuhan keluarga yang hanya memiliki satu anak akan berbeda dengan kebutuhan keluarga yang memiliki tujuh anak. Maka berikhtiarlah sesuai kebutuhan. Jika kebutuhan telah terpenuhi, berhentilah disana, jangan berniat dan bernafsu untuk menambahnya.
Kala kita melihat orang lain berupaya memenuhi kebutuhan yang lebih dari kita sehingga kita melihat pancaran bahagia dari pemenuhan kebutuhan mereka, jangan mengira jika hal itu diberikan kepada kita juga akan melahirkan kebahagiaan pada diri kita. Hal ini seperti sudah dikatakan, intinya kita tidak sama dengan orang lain, kebutuhan kita berbeda. Kebahagiaan bagi orang lain dengan kebutuhan yang banyak, belum tentu kebahagiaan bagi kita dengan kebutuhan yang sedikit. Tapi kebahagiaan yang sesungguhnya adalah, kita yang memiliki kebutuhan sedikit namun terpenuhi.
Hakikatnya adalah, kebahagiaan akan kenikmatan hidup akan terasa kala terpenuhinya kebutuhan mendasar kita dan tercukupinya kekurangan kita dengan hal tersebut. Inilah yang diajarkan dari kisah di atas; bahwa kebahagiaan terletak dari terpenuhinya kebutuhan yang harus dicukupi, sehingga harta dan kekuasaanpun akan digadaikan untuk memenuhi kebahagiaan yang tampak sedikit namun sangat dibutuhkan walaupun dengan perbandingan seteguk air dalam kehausan.
Ibnu Simak menjelaskan dalam kisah tersebut, sebagai pembelajaran berharga, bahwa sesungguhnya kita akan rela melakukan apa saja untuk memenuhi kebutuhan kita yang mendasar yang tanpanya kita tidak bisa melangsungkan kehidupan. Walaupun kebutuhan itu sedikit, tapi fundamental. Maka ia akan dikalahkan oleh kebutuhan yang banyak namun tiada lain bukan dari kebutuhan yang sesungguhnya. Renungkanlah,  keutamaan ini sangat bernilai untuk dipahami !
Kata kuncinya, jangan pandang kebahagiaan dari sisi kebahagiaan orang lain. Tapi pandanglah kebahagiaan dari sisi sejauhmana terpenuhinya kebutuhan kita. Semua itu akan melahirkan kesabaran dalam menerima kenyataan hidup dan dapat mengikis penyakit hati yang menggelisahkan yakni kedengkian, serta menutup jalan-jalan syetan yang membisikkan untuk memvonis hidup ini tidak adil. Karena memang kebutuhan kita berbeda. Yang kita butuhkan hakikatnya itulah yang menjadi milik kita. Selain itu bukanlah milik kita, ia akan terasa kala kebutuhan yang mendesak akan berbenturan dengan sesuatu yang tidak mendesak, disana kita akan menyadari mana yang menjadi kebutuhan kita sesungguhnya. Jika kita telah mampu menentukan sikap mana yang menjadi kebutuhan kita sesungguhnya, ketahuilah …keinginan untuk memenuhi kebutuhan selain itu adalah keserakahan. Menyadari ia berbuah keserakahan apakah masih juga kita tidak bersabar untuk tidak mengejar dan mengejar kebutuhan lain yang membuat rusaknya hati kita dan sia-sianya hidup? Sungguh kesabaran untuk menerima hidup dengan apa adanya adalah buah dari pemahaman bahwa hidup adalah sesuai dengan kebutuhan, dan sesungguhnya Allah swt. telah mencukupkan kebutuhan untuk kita.

Keterangan :

(*) Judul berdasarkan kisah

(**) Lihat kisah ini dalam Imam Al-Ghazali, diterjemahkan dari judul asli Ihya‘ ’Ulumiddin oleh H. Moh. Zuhri. Dipl, TAFL, dkk, dengan judul terjemahan Terjemah Ihya’ ’Ulumiddin Jilid VII (Semarang: Penerbit CV. Asy Syifa’ Semarang, 2003), h. 542-543    

Selasa, 06 Mei 2014

Kelezatan Pahala Yang Menghilangkan Rasa Sakit (*)


Isteri Fath al Mushili jatuh ke tanah, lalu jarinya terputus, lalu ia tertawa lalu ditanyakan kepadanya: ”Apakah kamu tidak merasakan sakit.” Maka ia menjawab: ”Sesungguhnya kelezatan pahalanya menghilangkan dari hatiku kepahitan sakitnya.” (**)
Inilah kisah orang shaleh yang mampu melihat segala kejadian dengan mata hati, memahami setiap peristiwa dengan bijaksana. Aneh memang kelihatannya, kala ditimpa kesulitan, malah dipahami kesulitan tersebut ladang mendapatkan pahala.
Jika dipahami dari kisah tersebut kiranya pahala kesabaranlah yang dimaksud. Sesuai dengan hakikat sabar menerima atas segala apa yang menimpa dengan kelapangan hati penuh keteguhan tanpa keluh kesah, bagi yang mampu untuk melakukannya ia akan  mendapatkan ganjaran pahala.
Betapa banyak ganjaran dan janji yang diberikan bagi orang-orang yang mampu bersabar atas kesulitan. Tentunya ajaran kesabaran yang memiliki nilai tinggi dari segi pahala, tidak akan bermakna dan bernilai apa-apa seandainya tidak ada yang memicunya. Pemicu itu adalah kesulitan dalam berbagai bentuknya. Jika kesulitan jalan untuk mencapai pahala yang tinggi melalui kesabaran, maka kesulitan adalah kebutuhan agar dapat meraih pahala tersebut. Ini bukan berarti kita berharap kesulitan dalam hidup. Tapi kesulitan merupakan suatu keniscayaan sebagai barometer apakah mampu bertahan untuk selalu menjadi yang terbaik dalam menghadapi segala macam pernak-pernik beban hidup yang terasa berat.
Dari sini, tidak heran jika istri Fath al Mushili mengatakan, “ Sesungguhnya kelezatan pahalanya menghilangkan dari hatiku kepahitan sakitnya.” Yakni kelezatan pahala yang diharapkan dalam bersabar menerima kesulitan perihnya sakit tersebut, telah mengalahkan rasa sakit itu sendiri. Ini bukan berarti rasa sakit itu tidak ada. Namun ia telah dihimpit oleh rasa lezatnya janji pahala, sehingga rasa sakit itu tidak lagi bermakna.
Dalam hidup ini yang membuat kita mampu bertahan dan selalu optimis adalah janji. Janji itu adalah harapan. Karena harapan mendapatkan hidup yang layak, maka kita rela bekerja keras, banting tulang. Karena harapan anak kita menjadi orang berguna, maka kita sekolahkan mereka tinggi-tinggi walaupun harus bercucur keringat mencari biaya pendidikan mereka. Karena harapan mendapatkan keselamatan di yaumul hisablah yang menyebabkan kita banyak menanam amal kebajikan. Karena harapan mendapatkan do’a anak yang shalehlah yang membuat kita bersusah payah mengajarkan anak kita pendidikan agama, agar mereka menjadi shaleh. Semua itu kita gapai melalui jembatan kesulitan, hanya saja rasa beratnya kesulitan itu telah dihembus oleh harapan yang menggelora.  Intinya harapanlah yang membuat kita selalu berbuat dan berkarya serta melakukan apapun untuk mengejarnya, walaupun harus melalui kesulitan.
Demikian pulalah hakikat memaknai kesulitan sebagai kebutuhan. Yakni dengan adanya kesulitan kita diberi peluang harapan untuk meraup pahala. Jika telah sampai pada tahap ini, apakah kita masih berkeluh kesah dengan kesulitan? Ketahuilah…! Kesulitan tidak lebih hanya sebagai alat untuk mencapai tujuan. Kesulitan jalan-jalan untuk meninggikan derajat. Kesulitan batu loncatan untuk mencapai kemuliaan. Kesulitan bagian dari pengantar hidup mencapai kehidupan yang sesungguhnya. Dan sesungguhnya kesulitan adalah harapan untuk mendapatkan pahala.
Lihatlah, adakah yang ditimpa kesulitan yang lebih berat dibandingkan nabi ataupun rasul? Sesungguhnya mereka adalah sosok yang layak mendapatkan kemuliaan. Dengan demikian tidak heran jika kesulitan yang menimpa mereka sangat berat agar kedudukan kemuliaan itu benar-benar menjadi milik mereka. Begitu juga terhadap ulama dan mujahid dakwah, dengan segala kesulitan membuat mereka semakin teguh dan istiqamah. Kesulitan telah membesarkan mereka dan meninggikan derajat mereka pada tingkat kemuliaan. Sehingga kesulitan ataupun kesenangan hidup bagi mereka sama saja. Kala mendapat kesulitan mereka bersabar, dan kala mendapatkan kesenangan mereka bersyukur. Dikarenakan dalam masa-masa ditimpa kesulitan itu, dalam jiwa mereka tertanam harapan kemuliaan.
Konsep ini mengajarkan pada kita suatu hal penting, bahwa kala kita ditimpa oleh kesulitan, jangan pandang beratnya kesulitan tersebut, jangan rasakan perihnya, tapi pandanglah dari sisi kesulitan itu merupakan jalan bagi kita untuk meraih kebaikan. Dengan adanya kesulitan berarti Allah swt. membuka peluang bagi kita untuk merealisasikan nilai-nilai sabar dan merasakan nikmatnya menjadi orang yang sabar. Dengan adanya kesulitan, berarti kita diberikan kesempatan untuk masuk golongan orang-orang yang bersabar. Dan dengan kesabaran itu pulalah kita akan mendapatkan kebersamaan Allah swt., karena sesungguhnya Allah swt. bersama orang-orang yang sabar.
Ini bukan masalah kita dalam hidup hanya berharap pahala. Tapi ini masalah bagaimana cara kita menyikapi sesuatu jangan hanya berdasarkan apa yang kita rasakan. Tapi pengajaran untuk kita agar memandang sesuatu bagaimana Allah swt. menetapkan urusan pada hamba-Nya yang mengandung karunia luar biasa.

Keterangan :

(*) Judul berdasarkan kisah

(**) Lihat kisah ini dalam Imam Al-Ghazali, diterjemahkan dari judul asli Ihya‘ ’Ulumiddin oleh H. Moh. Zuhri, Dipl. TAFL, dkk, dengan judul terjemahan Terjemah Ihya’ ’Ulumiddin jilid VII (Semarang: Penerbit CV. Asy Syifa’ Semarang, 2003), h. 361.

Kesabaran Seorang Ibu Yang Membantah Rasulullah SAW. (*)

Diriwayatkan oleh Sa’id Ibn Zarbi dari Muhammad ibn Sirin, dari Abu Hurairah r.a. yang bercerita,
Nabi s.a.w. melewati seorang wanita sedang bersimpuh di atas kuburan seraya menangis, lalu beliau bersabda kepadanya, ”Wahai ibu, bertakwalah pada Allah dan bersabarlah!”
“Wahai hamba Allah, anakku meninggal dunia,” jawab sang ibu.
Rasulullah s.a.w. bersabda lagi, “Wahai ibu, bertakwalah pada Allah dan bersabarlah!”
“Wahai hamba Allah, seandainya engkau tertimpa musibah sepertiku, niscaya engkau akan memaklumiku,” tukas sang ibu.
Rasulullah s.a.w masih bersabda, “Wahai ibu, bertakwalah pada Allah dan bersabarlah!”
“Wahai hamba Allah, engkau sudah mengatakannya. Maka enyahlah dariku!” seru sang ibu.
Rasulullah s.a.w. pun pergi meninggalkannya. Salah seorang sahabatnya mengikuti beliau, lalu menghampiri sang ibu dan bertanya kepadanya, “Apa yang dikatakan oleh orang yang telah pergi itu?”
Sang ibu menjawab, “Dia berkata kepadaku begini dan begitu, lalu aku menjawabnya begini.”
Laki-laki itu bertanya lagi kepadanya, “Tahukah engkau siapa dia?”
“Tidak, ” jawab sang ibu.
Laki-laki itu berkata, “Dia adalah Rasulullah s.a.w.”
Mendengar itu, sang ibu terperanjat dan langsung pergi menyusul Nabi s.a.w. dan berkata, “Aku bersabar, aku bersabar, wahai Rasulullah.”
Rasullah s.a.w. pun bersabda, “Yang namanya sabar itu hanyalah pada benturan pertama. Yang namanya sabar itu hanyalah pada benturan pertama.” (HR. Abu Ya’la dan Al-Bazzar, lihat Majma’ az-Zawâ’id, Vol. 3, hlm. 2)(**)
Kala kita mendapati musibah, dimanakah posisi kita saat itu? Pada posisi Rasulullah s.a.w. sebagai yang memahami kesabaran berada benturan pertama, atau pada posisi si ibu yang menyatakan,  “Wahai hamba Allah, seandainya engkau tertimpa musibah sepertiku, niscaya engkau akan memaklumiku,”?
Artinya, kala kita berada pada posisi Rasulullah s.a.w. kita mampu untuk bersabar kala kita berbenturan dengan musibah tanpa sedikitpun mengeluh semenjak dari pertama musibah itu menimpa kita, tidak menunggu beberapa waktu atau berjalannya masa. Inilah yang dimaksud sabar pada benturan pertama. Namun kala kita berada pada posisi si ibu, bisa saja kita bersabar, namun kesabaran itu muncul setelah berjalannya waktu, terjadi setelah beberapa saat setelah musibah itu menimpa kita. Pada posisi yang kedua ini, Rasulullah s.a.w. menyatakan secara mafhum mukhalafah-nya (makna sebaliknya) tidak lagi bisa dinamakan sabar, sebab kesabaran itu muncul tidak pada benturan pertama.
Mengapa demikian? Karena musibah hanya terasa berat kala pertama menimpa kita, jika ia telah berjalan beberapa saat dan ditinggalkan oleh waktu, rasa beratnya telah mulai berkurang. Dikarenakan suasana yang mengisi hati dan pikiran kita tidak lagi dipenuhi oleh musibah tersebut, tapi telah bercampur baur dengan suasana lain yang mempengaruhinya, bahkan suasana musibah itu lama kelamaan akan terkikis posisinya oleh suasana baru seiring semakin berjalannya waktu. Sehingga jangan heran kala kita mendengar seseorang memberi nasehat pada orang yang ditimpa musibah,” Tenanglah! Semuanya akan berakhir seiring perjalanan waktu.”
Itulah maknanya mengapa Rasulullah s.a.w. menyatakan bahwa yang dinamakan sabar pada benturan pertama. Bagaimana kita mampu untuk bertahan untuk tidak mengeluh, berputus asa kala ditimpa musibah yang memenuhi pikiran dan hati. Memang berat. Tapi bukankah dalam suatu yang berat itu terkandung keutamaan yang besar? Ibarat perbandingan anak sekolahan yang belajar dengan sungguh-sungguh penuh kelelahan dengan anak yang belajar hanya dengan santai. Tentulah anak yang bersungguh-sungguh tersebut mendapatkan hasil yang gemilang dibandingkan anak yang hanya belajar dengan santai.
Untuk itu, bagi kita, bagaimana menggali keutamaan kesabaran agar mampu mencapai hakikat kesabaran yang sesungguhnya, sabar pada benturan pertama.
Ketahuilah …
Segala hal yang membuat kita gelisah, sempit dan berat hakikatnya berada pada wilayah hati. Dan kesabaran sesungguhnya juga berada pada ranah hati. Bagaimana kita mampu mengkondisikan hati yang diliputi himpitan dengan kesabaran sehingga ia menjadi lapang dan bersedia menerima kenyataan tanpa berkeluh kesah. Yang perlu kita benahi untuk memupuk kesabaran adalah mengkondisikan suasana hati. Disinilah kemampuan kita mengelola hati dituntut, mengkondisikan musibah menjadi kekuatan kesabaran sehingga hati menjadi kokoh bahkan kuat dalam menghadapi hidup.
Hati itu bersih, ia cendrung pada fitrahnya yang bersih. Hati yang bersih akan melihat kepada apapun yang ditetapkan Allah s.w.t. pastilah mengandung kebaikan dan mashlahat. Karena Allah s.w.t. adalah Ilah. Allah s.w.t. pemilik alam semesta. Ia menjaga dan memelihara. Ia menciptakan segalanya, dan Dia pula yang menetapkan segala urusan. Pertanyaannya, apakah mungkin dalam tindakan Allah s.w.t. mengandung keburukan? Tentu saja tidak. Menyadari hakikat ini, yang harus ditanamkan dalam hati adalah tiada satupun yang ditetapkan oleh Allah s.w.t yang mengandung keburukan. Pasti di dalamnya terdapat kebaikan. Inilah kata kunci yang harus terpatri.
Lantas, jika memang segala ketetapan yang diberikan Allah s.w.t mengandung kebaikan, mengapa Allah s.w.t. mendatangkan musibah? Bukankah musibah adalah keburukan dan mendatangkan kesulitan, membuat hidup jadi sempit?
Musibah akan dipahami sebagai keburukan kala ia dipandang secara sekilas dan kasat mata, ia dipahami kesulitan jika hanya dinikmati saja, dan akan terasa menyempitkan kala hanya memandang apa yang terjadi saat itu. Namun kala ia dipahami dengan hikmah bahwa segala sesuatu yang ditetapkan Allah s.w.t pasti mengandung kebaikan, maka dalam keburukan yang tampak, ada kebaikan yang tersembunyi, dalam kesulitan ada kemudahan yang menjanjikan, dan dalam kesempitan ada kelapangan yang begitu luas. Dan ketahuilah …semua itu hanya mampu dibaca oleh hati, hati yang lapang, dan hati yang menyadari fitrahnya suci, cendrung memandang sesuatu dari sisi positif.
Jika kita bawakan memaknai musibah dengan hati, disinilah kesabaran akan bermakna. Hati yang lapang akan dapat menerima musibah bukan sebagai suatu keburukan, bukan suatu kesempitan, dan bukan menyempitkan hidup. Akan tetapi melahirkan puncak kesabaran yang luar biasa. Sedahsyat apapun musibah kita akan mampu bersabar tanpa menunggu waktu. Bersabar pada benturan pertama.
Pertanyaannya, bagaimana mengelola hati untuk bisa menerima musibah hingga menumbuhkan kesabaran tersebut?
Pertama, harus disadari segala yang menimpa kita adalah akibat ulah sendiri. Jika kita menanam sesuatu maka kita akan memanen hasilnya. Kala kita melakukan tindakan, kita yang akan bertanggungjawab dengan apa yang kita lakukan. Tidak terlalu rumit untuk mengambil contoh ini, jika suatu kampung dilanda longsor besar, hal tersebut akibat ulah penebangan hutan secara liar yang menyebabkan hilangnya daya tahan tanah dari tekanan air. Pelakunya bisa jadi orang kampung tersebut, dan bisa juga bukan. Jika orang kampung tersebut pelakunya, telah jelas, akibat ulah mereka sendiri sehingga kampung mereka dilanda longsor. Lalu bagaimana dengan pelaku yang tidak orang kampung tersebut? Tetap saja orang kampung tersebut memiliki andil, sebab, mengapa mereka membiarkan tanpa melakukan pencegahan? Inilah yang dimaksud dengan segala sesuatu yang menimpa kita akibat ulah tangan sendiri.
Pada keadaan ini, jika kita menyadari bahwa segala sesuatu yang menimpa kita adalah akibat dari ulah sendiri, demikian pulalah dengan musibah yang menimpa kita. Sesungguhnya apabila kita ditimpa musibah bisa jadi akibat ulah perbuatan sendiri. Jika kita telah menyadari hal ini, masih layakkah kita berkeluh kesah akan musibah yang menimpa? Selayaknya menyadarkan kita bahwa ternyata kita telah melakukan suatu kesalahan, maka Allah s.w.t. mengingatkan kita melalui akibat perbuatan kita sendiri dengan musibah. Saat kita menyadari hal ini adalah peringatan Allah s.w.t. berupa teguran melalui musibah bahwa kita telah melakukan kesalahan, bukankah ini bentuk kecintaan Allah s.w.t. dan kehendak Allah s.w.t untuk menggiring kita agar kembali pada kebaikan? Lantas apa yang lahir dari hati kita kalau tidak kesyukuran? Jika terhadap musibah saja kita telah bersyukur, apakah tidak mungkin kita untuk mampu bersabar atasnya pada benturan pertama? Sungguh Allah s.w.t sangat tepat perencanaan-Nya dan sama sekali tidak satupun luput dari Kasih Sayang-Nya. Renungkanlah hal ini, semoga kita mendapatkan keutamaan.
Kedua, terkadang apa yang menimpa kita tidak memiliki korelasi dengan tindakan kita. Artinya kala kita ditimpa musibah sama sekali bukan akibat dari ulah sendiri. Sebagai contoh seperti penebangan hutan secara liar yang menyebabkan longsor melanda kampung tadi. Pelakunya bisa saja bukan orang kampung tersebut, dan orang kampung itupun telah berupaya menjaganya dari penebang liar dari manapun, namun tetap saja terjadi penebangan liar tanpa sepengetahuan mereka. Dalam tataran ini tentu saja longsor terjadi bukan ulah orang kampung, tapi akibat dari sesuatu yang sama sekali berada diluar kemampuan mereka.
Keadaan ini berada dalam ranah ketentuan Allah s.w.t. yang berada diluar jangkauan kita. Untuk menyikapi musibah yang semacam ini kita harus mampu mengambil hikmah-hikmah yang tersirat. Yang jelas, yang harus tertanam bahwa segala sesuatu yang terjadi dan menimpa kita adalah ketentuan Allah s.w.t. yang didalamnya mengandung kebaikan. Bisa jadi sesuatu yang baik dalam pandangan kita tapi kenyataannya mengandung keburukan. Maka Allah s.w.t. berupaya menariknya dari kita dalam bentuk musibah. Seperti kisah hamba  Allah swt. dengan Nabi Musa a.s., kala sang hamba membunuh seorang anak, Nabi Musa as. berkata:”Mengapa engkau membunuh jiwa yang bersih, bukan disebabkan ia membunuh orang lain? Sesungguhnya kamu telah melakukan sesuatu yang mungkar.” (T.Q.S. Al-Kahfi : 74). Dijelaskan oleh hamba tersebut:” …anak itu maka kedua orang tuanya adalah orang-orang beriman, dan kami khawatir bahwa dia akan mendorong kedua orang tuanya itu kepada kesesatan dan kekafiran. Dan kami menghendaki, supaya Tuhan mereka mengganti bagi mereka dengan anak lain yang lebih baik kesuciannya dari anaknya itu dan lebih dalam kasih sayangnya (terhadap kedua orang tuanya).”(T.Q.S. Al-Kahfi : 80-81). Nabi Musa a.s. tidak memahami kebaikan yang terkandung terhadap apa yang dilakukan sang hamba, bahkan ia memandang suatu kemungkaran, dan memang secara kasat mata terlihat seperti kemungkaran. Padahal didalamnya mengandung kebaikan.
Untuk itu, kata kunci memahami segala musibah yang menimpa kita tiada lain dengan menanamkan kesadaran penuh dan keyakinan yang kuat bahwa segala sesuatunya berada dalam ruang lingkup kebaikan yang dipancarkan Allah swt. melalui cara-cara yang harus kita sikapi dengan selalu berprsangka baik terhadap ketentuan Allah swt, insya Allah kita akan mendapati makna dan mampu menunaikan kesabaran pada benturan pertama.

Keterangan :

(*) Judul berdasarkan kisah
(**)Lihat Kisah tersebut dalam Ibnul Qayyim al-Jauziyyah, diterjemahkan dari ‘Uddah ash-Shâbirîn wa Dzakhîrah asy-Syâkirîn oleh Iman Firdaus, Lc., Q.Dpl dengan judul ‘Uddatush Shâbirîn: Bekal Untuk Orang-Orang yang Sabar (Jakarta: Qisthi Press, 2010), Cet. 1, h. 117-118

Rabu, 30 April 2014

Catatan Kenangan Study Tour Ke Tanah Siak Jilid II, PK MAN Maninjau - Generasi Ash-Haby

Assalaamu'alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh
Puji syukur kepada Allah swt. Shalawat buat Rasulullah saw.


Sabtu, 26 Jumadil Akhir 1435 H, hingga senin, 28 Jumadil Akhir 1435 H merupakan hari bersejarah bagi kami, keluarga besar PK MAN Maninjau – Generasi Ash-Haby (T.P. 2013-1014). Hari yang menjadi momentum bukan hanya sebatas menunaikan tugas pembelajaran, tapi mengembang dan mekar menjadi hari untuk merekat kekuatan ukhuwah, merajut simpulan kebersamaan dalam bingkai kecintaan keluarga besar Program Keagamaan (PK) MAN Maninjau.
Itulah masa-masa yang insya Allah menjadi kenangan yang begitu indah, sebuah catatan prasasti sejarah dalam memori yang mungkin kelak akan menjadi oase dalam menemori perjalanan hidup yang panjang dan terkadang melelahkan dengan tuntutan beban hidup yang berat. Itulah torehan kenangan yang semoga menjadi pemicu semangat bagi generasi kami selanjutnya bahwa berjuang dalam sebuah barisan panjang kafilah penempuh ilmu agama Islam bukanlah sepi dari keindahan, tapi mengandung pernah pernik yang mengharu biru, dahsyat luar biasa.
Hari bersejarah itu, hakikatnya adalah mata rantai dari apa yang telah ditempuh para pendahulu kami, hanya tempat dan atau waktu saja yang berbeda. Yakni Study Tour untuk mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam (SKI). Memang materi inti Study Tour mata pelajaran SKI, namun dalam perjalanannya penuh dengan nuansa ukhuwah, kebersamaan dan kecintaan yang kami bangun dalam sebuah keluarga besar PK MAN Maninjau.
Tahun ini, Study Tour ke Kesultanan Siak Sri Indrapura Riau, merupakan Study Tour yang kedua dari beberapa generasi sebelumnya untuk lokasi yang sama. Hingga bolehlah kami sebut Study Tour tahun ini Study Tour Ke Tanah Siak Jilid II, Generasi Ash-Haby. Sedangkan yang pertama ditunaikan generasi kami sebelumnya, Generasi Haraki (PK T.P. 2012-2013) atau kalau boleh disebut dengan istilah Study Tour Ke Tanah Siak Jilid I.
Pagi itu, Sabtu, 26 Jumadil Akhir 1435 H, perjalananpun dimulai, ba’da dilepas kepala sekolah dilapangan MAN Maninjau, cuaca menunjukkan jiwa bershahabat, semburat cahaya pagi terasa menyegarkan tubuh seakan mengiringi keberangkatan kami dengan suhunya yang menyejukkan, sesejuk jiwa kami yang diluapi nuansa kebahagiaan. Lajunya kendaraan yang kami tumpangi kala menaiki kelok 44 membawa kami pada suasana yang kelak mengantarkan pada suatu kenyataan bahwa, kami dalam PK MAN Maninjau adalah keluarga besar yang penuh dengan ukhuwah, dilimpahi nikmatnya kebersamaan.
Perjalanan yang membutuhkan waktu cukup panjang itu, menyuguhkan pemandangan lukisan alam memukau, jalan berkelok dan bergelombang, suasana tata cara hidup masyarakat yang beragam, harmonisasi hutan dengan segala asesorisnya membuat kami ta’jub dan mengantarkan pada suatu kesimpulan bahwa alam dengan seisinya berada dalam pengaturan yang tidak serampangan.

Siapa yang tidak mengenal kelok 9? Kelok berliku pendek, mengancam dengan marabahaya itu? Namun dibalik itu terpampang keindahan pemandangan alam memukau. Itulah suguhan diantara jalan-jalan panjang yang kami nikmati. Apalagi kala kami berada di atas ketinggian, jalan bak jembatan panjang berliku disekitar kelok 9 itu menjadi pemandangan penuh sensasi.
Menjelang sore, kami sampai di sebuah prasasti sejarah, Candi Muara Takus. Candi yang masih tampak jauh dari campur tangan orang-orang belakangan itu berdiri kokoh meninggalkan kesan tentang kelihaian orang-orang dahulu dalam membangun peradaban. Karena layaknya candi bukanlah simbol dari Islam yang kami kenal, maka candi hakikatnya bukanlah tujuan utama kami, tapi hanyalah bagian dari perjalanan Study Tour yang tentunya hanya dapat dijadikan pelajaran berharga sebagai pengetahuan belaka. Setidaknya kami mendapat nilai pembelajaran dari hidup orang-orang terdahulu tentang corak mereka.

Perjalanan panjang menuju Siak memang menggiurkan, pada salah satu lintasan jembatan yang cukup panjang, kami mencoba menikmati suasana alam yang begitu indah, kala itu sore, sudah mendekati maghrib. Di atas jembatan panjang itu, kami saksikan semacam danau yang begitu luas, nun jauh di ujung danau, pandangan dibenturkan dengan perbukitan hijau yang tidak begitu tinggi, indah menakjubkan.
Luapan kegembiraan memancar dari wajah-wajah kami yang sudah kelelahan, rasa kebersamaan terasa semakin kuat dan indahnya persaudaraan semakin mempertajam keyakinan kami akan makna pentingnya sebuah ukhuwah dalam sebuah komunitas besar PK MAN Maninjau. Harus dikaui, terkadang kita butuh momen-momen tertentu yang dapat dijadikan sebagai batu loncatan untuk menumbuhkan kebersamaan dan rasa saling mencintai.

Beginilah cara kami membangun mozaik-mozaik kehidupan kami, garis-garis hidup yang harus kami lalui, jalan-jalan panjang yang harus kami semai dengan kekuatan rasa saling menghargai dan saling memahami. Disanalah keegoan akan luntur, disanalah jiwa individualisme terkikis, pupus dan bahkan akan terbang menjadi serbuk, dihembus angin kebajikan yang memancar dari jiwa-jiwa kami.

Tak terasa, perjalanan satu hari itu telah mengantarkan kami pada kesan hidup yang berharga. Malampun menjelang, mentari telah enggan beraktifitas disekitar kami, kembali keperaduannya. Malam bangkit dari tidur, melaksanakan tugas agung, menyelimuti bumi dengan cahaya gemerlap bintang dari langit. Cuacapun beralih, suhu berubah peran. Dan kami menikmati malam dengan segala keindahannya, menunggu esok, melanjutkan perjalanan menuntaskan nawaitu yang telah tertanam, menuju Siak.

Minggu, 27 Jumadil Akhir 1435, dengan kesegaran baru, perjalananpun dilanjutkan, memasuki Siak membawa kami pada suasana lain dari apa yang sering kami temukan, jalan panjang luas sesekali bergelombang seakan tak berujung itu, serta hamparan perkebunan sawit yang menghijau, luasnya bukan main, plus lepasnya jarak pandang kami hingga seakan melihat kaki langit, sekonyong-konyong mengantarkan kami pada suasana alam lain yang begitu menggemparkan. Ya, seakan kami dibawa pada alam padang mashsyar yang luas tak berujung. Tempat dikumpulkannya manusia menunggu pengadilan yang Maha Adil dari pemilik segala apa yang ada dilangit dan di bumi. Jika di dunia saja kita mampu menyaksikan kondisi alam yang luas dan lapang seakan tak berujung itu, lalu apakah yang membuat kita ragu atas keberadaan padang mashyar yang dijanjikan? Sungguh Allah SWT. Maha Bijaksana dalam mengenalkan ajaran-Nya pada umat manusia. Lantas siapa lagi yang masih enggan untuk mengambil pelajaran? Hanya orang-orang bodoh dan tertutup mata hatinya saja yang masih saja engkar kepada Allah swt.

Siak, Masya Allah, begitu indahnya, sunga-sungai yang panjang dan luas, tatanan bangunan yang begitu mempesona dengan segala kekayaannya yang melimpah, merupakan suasana yang bagi siapapun memiliki keinginan untuk menyaksikan akan sebuah tanah yang kaya dan mempesona layak untuk datang ke sana. Lebih dari itu ada hal menarik yang tak terbantahkan, nuansa Islami sangat kental dari peradaban yang dibangun. Goresan-goresan tulisan Arab Melayu menghiasi jalan-jalan yang tertata rapi. Lantunan zikir ba’da shalat berkumandang. Corak bangunan masjid dibangun dengan ukiran tangan-tangan seni tingkat luar biasa. Aduhai…, sungguh sebuah tanah yang syi’ar Islamnya terasa kental dalam sebuah wilayah yang dulunya berada dalam pengaruh kekuasaan Islam Kesultanan Siak Sri Indrapura, RIAU.

Akhirnya, kami sampai pada tujuan yang dijanjikan, Lokasi istana Kesultanan Siak Sri Indrapura, Riau. Sesampainya di sana, kami disuguhi taman-taman indah semerbak, tertata rapi dihiasi jalan-jalan yang terjaga kebersihannnya. Istana Kesultanan Siak Sri Indrapura berdiri kokoh, tidak jauh dari sana, terdapat kumpulan makam-makam yang dulunya memilki pengaruh besar pada Kesultanan Siak Sri Indrapura, dan sebuah masjid megah dengan sarana yang aduhai.

Kondisi ini mengingatkan akan masa-masa`kejayaan Islam periode klasik, terutama dalam bidang arsitektur dan taman-tamannya. Baik dari corak istana, masjid, taman-taman dan pengairan, seakan membawa kami pada sejarah silam kegemilangan Islam masa Dinasti Umayyah, Abbasiyah dan kegemilangan Islam Andalusia. Ternyata dinegri kami, tak kalah dahsyatnya kemegahan arsitektur tersebut.
Kemegahan Istana Siak Sri Indrapura tersebut diselingi dengan pesona hamparan sungai yang begitu luas dan panjang, di sana melintas kapal-kapal. Sungguh kami sangat menikmati keadaan alam diseputaran Istana.


Dalam pelaksanaan Study Tour, Generasi Ash-Haby, mencoba untuk menggali informasi hal-hal yang berkaitan dengan Kesultanan Siak Sri Indrapura, baik melalui wawancara dengan nara sumber, maupun melalui prasasti-prasasti yang terdapat dalam istana ataupun pada makam yang mana di sana terdapat keterangan-keterangan tentang keberadaan prasasti masing-masing. Antusiasme  dalam melaksanakan kegiatan ini sangat tinggi, apalagi nara sumber yang memberi keterangan bersikap ramah dan kooperatif terhadap Generasi Ash-Haby. Mereka, para nara sumber, tampaknya sangat bersemangat sekali memberikan informasi-informasi berharga bagi Generasi Ash-Haby, sehingga proses pelaksanaan Study Tour dalam menggali hal-hal yang berkaitan dengan Kesultanan Siak Sri Indrapura berjalan dengan lancar, tentunya menyenangkan.







Sulit, rasanya untuk menggambarkan keindahan-keindahan yang kami dapatkan dalam kegiatan berkaitan erat dengan Study Tour ini, keindahan sepanjang jalan, kenikmatan melaksanakan shalat dari masjid ke masjid sepanjang perjalanan, keramahan nara sumber di Kesultanan Siak Sri Indrapura, Riau, serta kondisi alam yang mempesona, dan kondisi masyarakat yang bershahabat menjadi suatu hal yang harus kami akui, bahwa perjalanan dan kegiatan Study Tour Ke Siak, MENYENANGKAN, INDAH DAN BERKESAN. Alhamdulillaahirabbil’aalamiin.



Assalaamu'alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh

(Ash-Haby Generation - PK MAN Maninjau - Dalam memori terindah penuh kenangan ukhuwah - Study Tour Ke Tanah Siak - 1435 H )

Jumat, 25 April 2014

Mozaik Generasi Haraki PK MAN Maninjau

Assalaamu'alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh
Puji syukur kepada Allah swt., shalawat buat Rasulullah saw.



Seiring perputaran waktu, harus diakui bagaimanapun  kita dalam jejak-jejak hidup selalu mencoba untuk bersatu, suatu saat perpisahan akan menyambangi, namun ini bukan berarti putusnya mata rantai ukhuwah Islamiyah, sebab dalam Ukhuwah Islamiyah yang menyatukan kita adalah hati. Memang terasa berat kala kita harus dicerai beraikan oleh jarak yang tak penting untuk diukur. Kita dibatasi tembok yang tak perlu dibayangkan bentuknya. Sekali lagi itu hanyalah kondisi yang sama sekali tidak merusak tatanan Ukhuwah Islamiyah, karena lagi-lagi hati tak bisa dipisahkan.



Bermula dari suatu harapan besar, agar menjadi generasi penggerak dan  terlibat dalam gerakan Islam, sehingga dalam rentang waktu yang relatif singkat masa-masa pendidikan di MAN Maninjau, tahun pejaran 2012-2013 disemai sebuah harapan dahsyat, hebat dan menggetarkan, yakni menjadi  Generasi Haraki. Berbagai kenangan indah tertanam bak mutiara indah yang memancarkan cahaya berpendar dalam etelase agung kebajikan jiwa. Dan semoga kelak ….apa yang dirasakan dalam jiwa selama dalam kebersamaan ukhuwah akan menjadi prasasti keluhuran budi, membawa kebaikan dan menebar semerbak keseantero jagad raya dalam bingkai peradaban yang menjulang tinggi.

Jika selama ini baru menanam dan menempuh jalan cita-cita, sekarang… adalah langkah untuk berkarya dalam menorehkan pesan-pesan dan peta kosnsep mengikuti mozaik-mozaik takdir kehidupan masing-masing. Tapi …ada satu hal yang harus dipancangkan, dan ini suatu pemahaman yang hendaknya menjadi pemahaman bersama, bahwa segala karya yang dicoba untuk melukiskan dalam mengambil andil membangun kegemilangan peradaban Islam, berupayalah untuk saling menguatkan dan saling berbagi hingga kelak dipertemukan lagi dalam suatu muara cita-cita besar seluruh keluarga besar PK MAN Maninjau.

Assalaamu'alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh