WENDRI NALDI EL-MANINJAUI KHATIB BANDARO

WENDRI NALDI EL-MANINJAUI KHATIB BANDARO
WENDRI NALDI EL-MANINJAUI KHATIB BANDARO

Selasa, 20 Mei 2014

Pemimpin Mukmin di Surga (*)

Terdapat dalam riwayat Ath-Thabrani dalam Mu’jam-nya. Dari Abu Hurairah r.a., dia bercerita,
Aku mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda, “Sungguh orang miskin kaum Mukminin akan masuk surga setengah hari, yaitu lima ratus tahun lebih dahulu daripada orang-orang kaya mereka.”
Seorang laki-laki bertanya, “Adakah aku termasuk di antara mereka, wahai Rasulullah?”
Beliau bertanya, “Kalau engkau di siang hari makan, kemudian engkau pulang di malam hari untuk makan, adakah makan malam bagimu?”
“Ya,” jawab laki-laki itu.
Beliau bersabda, “Engkau tidak termasuk di antara mereka.”
Laki-laki lainnya bertanya, “Adakah aku termasuk di antara mereka , wahai Rasulullah?”
Beliau balik bertanya, “Apakah aku telah mendengar pertanyaanku kepada orang tadi sebelum engkau?”
“Ya, tapi aku tidak seperti dia,” jawabnya.
Rasulullah s.a.w. pun bertanya, “Apakah  engkau memiliki pakaian lain untuk menutupi tubuhmu selain yang kaukenakan ini?”
“Ya,” jawabnya.
Rasulullah s.a.w. bersabda, “Kalau begitu, engkau tidak termasuk di antara mereka.”
Laki-laki lain bertanya, “Adakah aku termasuk diantara mereka, wahai Rasulullah?”
Rasulullah s.a.w. balik bertanya, “Apakah engkau telah mendengar pertanyaanku kepada kedua orang tadi sebelum engkau?”
Laki-laki itu menjawab, “Ya.”
Beliau bertanya, “Apakah engkau bisa mendapatkan pinjaman ketika hendak berutang?”
“Ya,” jawabnya.
Rasulullah s.a.w. bersabda, “Kalau begitu, engkau tidak termasuk di antara mereka.”
Laki-laki lain bertanya, “Adakah aku termasuk diantara mereka, wahai Rasulullah?”
Rasulullah s.a.w.balik bertanya, “Apakah engkau telah mendengar pertanyaanku kepada mereka tadi sebelum engkau?”
Laki-laki itu menjawab, “Ya.”
Rasulullah s.a.w, bertanya, “Engkau mampu mencari nafkah?”
“Ya,” jawab laki-laki itu.
Rasulullah s.a.w. bersabda, “Engkau tidak termasuk di antara mereka.”
Laki-laki kelima berdiri dan angkat bicara, “Aku termasuk di antara mereka, wahai Rasulullah.”
Beliau bertanya, “Apakah engkau telah mendengar pertanyaanku kepada mereka semua tadi sebelum engkau?”
Laki-laki itu menjawab, “Ya.”
Rasulullah s.a.w. bersabda, “Apakah engkau ridha pada Tuhanmu di sore hari, begitu pula di pagi harinya?”
“Ya,” jawabnya.
Rasulullah s.a.w bersabda, “ Kalau begitu, engkau termasuk di antara mereka.”
Nabi s.a.w. bersabda, “Sungguh para pemimpin mukmin di surga adalah orang-orang yang apabila makan siang maka dia tidak mendapatkan makan malam; sedangkan apabila dia makan malam, dia tidak mendapatkan makan siang. Jika dia hendak berutang, dia tidak mendapatkan pinjaman. Dia juga tidak punya pakaian lebih selain apa yang menutupi bagian anggota tubuh yang harus tertutup. Mereka tidak mampu mencari nafkah untuk menghidupi diri mereka. Namun, ketika sore hari dia ridha pada Allah dan pada pagi harinya dia pun ridha pada-Nya.”
“Dan barangsiapa menaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: nabi-nabi, para shiddîqîn, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.”(Q.S. An-Nisâ’:69)
Ath-Thabarani mengatakan, Hadits ini gharîb dari Sufyan ats-Tsauri dari Muhammad bin Zaid yang disebut-sebut bahwa dia adalah al-Abdi. Abdul Malik meriwayatkannya secara sendirian. (**)

Saudaraku …

Inilah puncak kekayaan hati yang ditanamkan Islam ke dalam hati kita. Kekayaan yang melebihi betapapun tingginya menara kekayaan materi. Kekayaan yang dirasakan jiwa dengan  penuh kenikmatan hingga dunia terasa lapang dan sama sekali tidak mengandung beban di dalamnya. Kekayaan yang mengantarkan kita pada sebuah pengabdian, kepasrahan dan ketundukan yang diluapi rasa ikhlas akan menerima kenyataan hidup. Kekayaan yang menutup celah-celah bisikan iblis sang penggoda untuk menggiring kita pada lembah kesempitan hidup. Kekayaan yang akan membuat para Raja tak bermakna kemegahan kekuasaannya. Kekayaan yang membuat para hartawan sama sekali tidak memiliki kedudukan. Kekayaan yang meruntuhkan ambisi untuk bermegah-megahan. Ya, kekayaan itu adalah ridha. Rela menerima segala ketetapan Allah s.w.t. dan memandang hal tersebut sebagai suatu kemuliaan dengan hati yang lapang.
Kekayaan inilah yang hilang dari hati orang-orang yang dirundung gelisah penuh keluh kesah. Sebab hatinya selalu diliputi rasa tidak cukup. Hati tidak pernah merasakan kenikmatan dari apa yang dia miliki. Hatinya cemas akan keadaan dimasa yang akan datang bagaimana kelak hidup ini jika kebutuhan hidup tidak terpenuhi. Kekayaan ini pulalah yang tidak dimiliki oleh jiwa-jiwa penuh ambisi untuk mencapai kemegahan hidup. Hatinya telah diliputi perasaan bahwa kebahagiaan itu lahir dari terpenuhinya segala keinginan. Ia lupa keinginan hakikatnya lebih banyak diiming-imingi oleh hawa nafsu, berkembang dan menjalar melalui bisikan-bisikan iblis yang memang program mereka hendak mencari pengikut sebanyak-banyaknya. Dan kelupaan yang paling besar kala tidak menyadari bahwa apa yang telah ada dalam diri adalah nikmat yang begitu luar biasa, namun yang tampak dan dirasakan hanyalah segala kekurangan.

Saudaraku …

Tentunya kita ingin mecapai kekayaan  yang mulia tersebut. Rida menerima segala ketentuan dengan hati yang tanpa dibebani nafsu-nafsu keserakahan dan ambisi. Rida menerima kenyataan hidup tanpa berkeluh kesah dengan selalu memunculkan prasangka baik atas segala ketetapan Allah s.w.t.
Hanya saja, bagaimana menumbuhkan dan meraih kekayaan tersebut? Dalam ruang lingkup hidup yang dibebani dengan kebutuhan hidup yang harus dipenuhi? Dalam pertarungan hidup yang keras penuh persaingan? Ketahuilah …! Segala sesuatunya bersumber dari hati, hati yang memiliki kekuatan untuk mengendalikan segala urusan diri kita. Ia bagaikan raja yang mengendalikan seluruh umat dalam aturan dan segala titahnya. Jika hati ini mampu kita kondisikan, insya Allah pencapaian hal tersebut akan mudah.
Maka mulailah dari hati untuk mengetahui dan menerima, lebih penting dari itu harus yakin, bahwa segala proses dan apapun yang terjadi di permukaan bumi ini berada dalam pengaturan Allah s.w.t. Segala sesuatu ditetapkan oleh Allah s.w.t., itulah takdir. Tak satupun manusia yang bisa untuk mengubah takdir. Hanya manusia diberikan pilihan untuk memilih takdir yang diinginkan. Dalam pencapaian pilihan inilah, sangat menentukan kredibilitas kita. Apakah tergolong orang-orang yang memilih takdir kebaikan yang akan menyelamatkan kita di dunia dan akhirat. Atau sebaliknya, memilih takdir keburukan yang kelak mengantarkan kita pada liang-liang neraka yang mengerikan.
Lantas, apa yang membuat kita ragu dalam segala ketetapan Allah s.w.t. untuk kita? Jika Allah s.w.t. telah menetapkan takdir rezki kita sedikit, maka ambillah takdir yang sedikit itu. Nikmatilah, niscaya ia akan terasa menjadi nikmat. Kita harus yakin, Allah s.w.t. lebih tahu tentang mana yang terbaik untuk kita. Ambisi untuk lebih dari itu hayalah pilihan takdir keburukan yang harus kita singkirkan agar jangan mengambilnya. Jika hati kita tetap tergerak dan ingin sekali meraihnya, ketahuilah ! Sungguh hal demikian hanyalah bisikan-bisikan iblis untuk mencelakakan kita agar kita tidak ridha dengan takdir. Ia tampakkan keindahan agar kita meluluskan ambisi tersebut, dengan segala macam tipu daya yang menyesatkan namun tampak indah dalam pandangan mata, hinga kita tergoda dan lupa bahwa kita diciptakan ke dunia bukan untuk itu.
Ambisi mengikuti bujuk rayu iblis hanya akan melelahkan kita dan melalaikan kita untuk menerima apa adanya dengan rida. Sehingga apa yang telah kita peroleh yang seharusnya kita ridha, dan itulah takdir kebaikan bagi kita, tidak terasa lagi nikmatnya dan hilang segala keutamaannya dalam hati kita. Pada saat ini ridha akan semakin jauh dalam jiwa kita. Yang ada hanyalah keluh kesah, mengutuk nasib dan selalu merasa kekurangan. Na’udzubillaah.
Petikan terakhir dari petuah Rasulullah s.a.w. sesungguhnya hentakan yang menghujam pada kedalaman lubuk hati terdalam, “Sungguh para pemimpin mukmin di surga adalah orang-orang yang apabila makan siang maka dia tidak mendapatkan makan malam; sedangkan apabila dia makan malam, dia tidak mendapatkan makan siang. Jika dia hendak berutang, dia tidak mendapatkan pinjaman. Dia juga tidak punya pakaian lebih selain apa yang menutupi bagian anggota tubuh yang harus tertutup. Mereka tidak mampu mencari nafkah untuk menghidupi diri mereka. Namun, ketika sore hari dia ridha pada Allah dan pada pagi harinya dia pun ridha pada-Nya.” Ini bukan masalah apakah kita tidak boleh untuk mengambil kekayaan dunia, atau masalah apakah kita harus hidup miskin. Tapi berada pada ranah sejauhmana kekuatan hati kita untuk menerima takdir hidup dengan kelapangan penuh ikhlas, ridha akan segala apa yang telah ditetapkan untuk kita.
Ketahuilah … ridha itu puncak kekuatan orang mukmin, ia lahir dari kemampuan melihat apa yang menjadi kehendak Allah s.w.t. dan ia yakin kehendak itulah yang terbaik.
Jalan untuk mencapai semua itu tiada lain, dengan cara memandang segala apa yang ada di dunia ini hanyalah bersifat sementara, tidak kekal. Bahkan ia merupakan instrumen penguji sejauhmana pemahaman konsep hidup dalam hati kita. Apakah hidup untuk meraih keuntungan dan bersenang-senang di dunia ini, atau hidup untuk merasakan nikmatnya menjadi sosok hamba yang kelak akan kembali pada Sang Pencipta. Jika yang pertama, maka sungguh kita hanya akan diliputi kegelisahan, kegalauan dan angan-angan kosong kala tidak mendapatkan apa yang diinginkan, sebab keuntungan itu sementara, rasa senang itu relatif. Kala keuntungan dan kesenangan tidak kita dapatkan kita akan menjadi gundah dan terus, terus, dan terus berupaya untuk mencapainya. Dalam pencapaian itu kita diliputi kesusahan yang bertambah-tambah, apalagi jika tidak tercapai, akan menyebabkan hilangnya keseimbangan diri, goncang jiwa kita, maka iblis akan mudah menggelincirkan kita.
Namun jika hidup dipahami sebagai hamba yang kelak akan kembali pada Sang Pencipta, kita akan menyadari bahwa diri ini tiada lain berada dalam sebuah program pengaturan Sang Pencipta yang tidak bisa dirobah. Kita hanya hamba yang diciptakan dan harus bekerja serta berbuat sesuai dengan aturan untuk apa kita diciptakan. Saat kita berjalan pada aturan tersebut niscaya kita akan mudah sampai tujuan. Ibarat seorang ahli teknik membuat sebuah suatu peralatan mesin canggih, disana ia tetapkan aturan-aturan kerja dari mesin tersebut agar berfungsi dengan baik. Maka selama mesin itu bekerja sesuai dengan aturan pembuatnya, niscaya mesin itu akan bekerja dengan baik dan pencapaian hasilnya akan memuaskan. Tapi jika difungsikan dalam kerjanya bukan dengan ketentuan yang telah ditetapkan oleh yang membuat, akibat yang menimpa mesin tersebut akan rusak. Sebab bekerja tidak sesuai dengan prosedur. Bekerjanya mesin dengan prosedur serta dengan kepatuhannya menjalankan aturan sesuai dengan aturan pembuatnya yang lebih tahu bagaimana seharusnya bekerja mesin tersebut, suatu bentuk aplikasi nyata konsep rida. Saat mesin itu ridha menjalankan fungsinya sesuai aturan, maka jalannya lapang, tidak tersendat-sendat, sebab ia berjalan dijalannya.
Begitulah seharusnya kita, kala kita ridha dengan aturan Allah s.w.t. sebagai hamba dari yang menciptakan kita, niscaya jalan hidup kita akan lapang dan lurus. Sebab Allah s.w.t.lah yang memegang kendali dan memiliki aturan tentang kita, dan telah ditetapkan segala aturan itu di Lauh Mahfuzh, jauh sebelum kita menempuh hidup di permukaan bumi ini.
Maka kesimpulannya, apapun bentuk ketetapan Allah s.w.t. untuk kita itulah aturan yang harus kita jalankan, jika berjalan dalam aturan itu niscaya kita akan selamat. Berjalan dalam aturan itulah intisari dari ridha. Untuk itu bangunlah kesadaran diri kita, dengan ridha menempuh hidup ini dalam bentuk menerima dan menjalani apapun ketentuan Allah s.w.t. Tentunya dengan bersabar akan apapun yang menimpa kita, walaupun terasa sulit dan berat. Sesungguhnya sabar dan ridha adalah dua konsep yang saling membutuhkan dan saling tolong menolong. Kita akan ridha menerima kenyataan hidup jika kita bersabar dengan segala ketentuan hidup dari Allah s.w.t. dengan tidak berkeluh kesah. Pupusnya keluh kesah adalah bentuk dari rasa ridha kita. Tanamkanlah ke dalam hati kita, wahai saudaraku ! Semoga kita diberi kekuatan untuk menjadi orang yang bersabar, sabar yang akan mengantarkan kita pada puncak kekayaan hidup, yakni ridha.

Keterangan :

(*) Judul berdasarkan kisah
(**)Lihat kisah tersebut dalam Ibnul Qayyim al-Jauziyyah, diterjemahkan dari ‘Uddah ash-Shâbirîn wa Dzakhîrah asy-Syâkirîn oleh Iman Firdaus, Lc., Q.Dpl dengan judul ‘Uddatush Shâbirîn: Bekal Untuk Orang-Orang yang Sabar (Jakarta: Qisthi Press, 2010), Cet. 1, h. 336-338 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar