Isteri Fath al Mushili jatuh ke
tanah, lalu jarinya terputus, lalu ia tertawa lalu ditanyakan kepadanya:
”Apakah kamu tidak merasakan sakit.” Maka ia menjawab: ”Sesungguhnya kelezatan
pahalanya menghilangkan dari hatiku kepahitan sakitnya.” (**)
Inilah kisah orang shaleh yang mampu
melihat segala kejadian dengan mata hati, memahami setiap peristiwa dengan
bijaksana. Aneh memang kelihatannya, kala ditimpa kesulitan, malah dipahami kesulitan
tersebut ladang mendapatkan pahala.
Jika dipahami dari kisah tersebut kiranya
pahala kesabaranlah yang dimaksud. Sesuai dengan hakikat sabar menerima atas
segala apa yang menimpa dengan kelapangan hati penuh keteguhan tanpa keluh
kesah, bagi yang mampu untuk melakukannya ia akan mendapatkan ganjaran pahala.
Betapa banyak ganjaran dan janji
yang diberikan bagi orang-orang yang mampu bersabar atas kesulitan. Tentunya
ajaran kesabaran yang memiliki nilai tinggi dari segi pahala, tidak akan
bermakna dan bernilai apa-apa seandainya tidak ada yang memicunya. Pemicu itu
adalah kesulitan dalam berbagai bentuknya. Jika kesulitan jalan untuk mencapai
pahala yang tinggi melalui kesabaran, maka kesulitan adalah kebutuhan agar
dapat meraih pahala tersebut. Ini bukan berarti kita berharap kesulitan dalam
hidup. Tapi kesulitan merupakan suatu keniscayaan sebagai barometer apakah
mampu bertahan untuk selalu menjadi yang terbaik dalam menghadapi segala macam
pernak-pernik beban hidup yang terasa berat.
Dari sini, tidak heran jika istri
Fath al Mushili mengatakan, “ Sesungguhnya kelezatan pahalanya menghilangkan
dari hatiku kepahitan sakitnya.” Yakni kelezatan pahala yang diharapkan dalam
bersabar menerima kesulitan perihnya sakit tersebut, telah mengalahkan rasa
sakit itu sendiri. Ini bukan berarti rasa sakit itu tidak ada. Namun ia telah
dihimpit oleh rasa lezatnya janji pahala, sehingga rasa sakit itu tidak lagi
bermakna.
Dalam hidup ini yang membuat kita
mampu bertahan dan selalu optimis adalah janji. Janji itu adalah harapan. Karena
harapan mendapatkan hidup yang layak, maka kita rela bekerja keras, banting
tulang. Karena harapan anak kita menjadi orang berguna, maka kita sekolahkan
mereka tinggi-tinggi walaupun harus bercucur keringat mencari biaya pendidikan
mereka. Karena harapan mendapatkan keselamatan di yaumul hisablah yang
menyebabkan kita banyak menanam amal kebajikan. Karena harapan mendapatkan do’a
anak yang shalehlah yang membuat kita bersusah payah mengajarkan anak kita pendidikan
agama, agar mereka menjadi shaleh. Semua itu kita gapai melalui jembatan
kesulitan, hanya saja rasa beratnya kesulitan itu telah dihembus oleh harapan
yang menggelora. Intinya harapanlah yang
membuat kita selalu berbuat dan berkarya serta melakukan apapun untuk
mengejarnya, walaupun harus melalui kesulitan.
Demikian pulalah hakikat memaknai
kesulitan sebagai kebutuhan. Yakni dengan adanya kesulitan kita diberi peluang
harapan untuk meraup pahala. Jika telah sampai pada tahap ini, apakah kita
masih berkeluh kesah dengan kesulitan? Ketahuilah…! Kesulitan tidak lebih hanya
sebagai alat untuk mencapai tujuan. Kesulitan jalan-jalan untuk meninggikan
derajat. Kesulitan batu loncatan untuk mencapai kemuliaan. Kesulitan bagian
dari pengantar hidup mencapai kehidupan yang sesungguhnya. Dan sesungguhnya
kesulitan adalah harapan untuk mendapatkan pahala.
Lihatlah, adakah yang ditimpa
kesulitan yang lebih berat dibandingkan nabi ataupun rasul? Sesungguhnya mereka
adalah sosok yang layak mendapatkan kemuliaan. Dengan demikian tidak heran jika
kesulitan yang menimpa mereka sangat berat agar kedudukan kemuliaan itu
benar-benar menjadi milik mereka. Begitu juga terhadap ulama dan mujahid
dakwah, dengan segala kesulitan membuat mereka semakin teguh dan istiqamah.
Kesulitan telah membesarkan mereka dan meninggikan derajat mereka pada tingkat
kemuliaan. Sehingga kesulitan ataupun kesenangan hidup bagi mereka sama saja.
Kala mendapat kesulitan mereka bersabar, dan kala mendapatkan kesenangan mereka
bersyukur. Dikarenakan dalam masa-masa ditimpa kesulitan itu, dalam jiwa mereka
tertanam harapan kemuliaan.
Konsep ini mengajarkan pada kita
suatu hal penting, bahwa kala kita ditimpa oleh kesulitan, jangan pandang
beratnya kesulitan tersebut, jangan rasakan perihnya, tapi pandanglah dari sisi
kesulitan itu merupakan jalan bagi kita untuk meraih kebaikan. Dengan adanya
kesulitan berarti Allah swt. membuka peluang bagi kita untuk merealisasikan
nilai-nilai sabar dan merasakan nikmatnya menjadi orang yang sabar. Dengan
adanya kesulitan, berarti kita diberikan kesempatan untuk masuk golongan
orang-orang yang bersabar. Dan dengan kesabaran itu pulalah kita akan
mendapatkan kebersamaan Allah swt., karena sesungguhnya Allah swt. bersama
orang-orang yang sabar.
Ini bukan masalah kita dalam hidup hanya
berharap pahala. Tapi ini masalah bagaimana cara kita menyikapi sesuatu jangan
hanya berdasarkan apa yang kita rasakan. Tapi pengajaran untuk kita agar
memandang sesuatu bagaimana Allah swt. menetapkan urusan pada hamba-Nya yang
mengandung karunia luar biasa.
Keterangan
:
(*)
Judul berdasarkan kisah
(**)
Lihat kisah ini dalam Imam Al-Ghazali, diterjemahkan dari judul asli Ihya‘ ’Ulumiddin
oleh H. Moh. Zuhri, Dipl. TAFL, dkk, dengan judul terjemahan Terjemah Ihya’ ’Ulumiddin
jilid VII (Semarang: Penerbit CV. Asy Syifa’ Semarang, 2003), h. 361.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar