WENDRI NALDI EL-MANINJAUI KHATIB BANDARO

WENDRI NALDI EL-MANINJAUI KHATIB BANDARO
WENDRI NALDI EL-MANINJAUI KHATIB BANDARO

Selasa, 06 Mei 2014

Kelezatan Pahala Yang Menghilangkan Rasa Sakit (*)


Isteri Fath al Mushili jatuh ke tanah, lalu jarinya terputus, lalu ia tertawa lalu ditanyakan kepadanya: ”Apakah kamu tidak merasakan sakit.” Maka ia menjawab: ”Sesungguhnya kelezatan pahalanya menghilangkan dari hatiku kepahitan sakitnya.” (**)
Inilah kisah orang shaleh yang mampu melihat segala kejadian dengan mata hati, memahami setiap peristiwa dengan bijaksana. Aneh memang kelihatannya, kala ditimpa kesulitan, malah dipahami kesulitan tersebut ladang mendapatkan pahala.
Jika dipahami dari kisah tersebut kiranya pahala kesabaranlah yang dimaksud. Sesuai dengan hakikat sabar menerima atas segala apa yang menimpa dengan kelapangan hati penuh keteguhan tanpa keluh kesah, bagi yang mampu untuk melakukannya ia akan  mendapatkan ganjaran pahala.
Betapa banyak ganjaran dan janji yang diberikan bagi orang-orang yang mampu bersabar atas kesulitan. Tentunya ajaran kesabaran yang memiliki nilai tinggi dari segi pahala, tidak akan bermakna dan bernilai apa-apa seandainya tidak ada yang memicunya. Pemicu itu adalah kesulitan dalam berbagai bentuknya. Jika kesulitan jalan untuk mencapai pahala yang tinggi melalui kesabaran, maka kesulitan adalah kebutuhan agar dapat meraih pahala tersebut. Ini bukan berarti kita berharap kesulitan dalam hidup. Tapi kesulitan merupakan suatu keniscayaan sebagai barometer apakah mampu bertahan untuk selalu menjadi yang terbaik dalam menghadapi segala macam pernak-pernik beban hidup yang terasa berat.
Dari sini, tidak heran jika istri Fath al Mushili mengatakan, “ Sesungguhnya kelezatan pahalanya menghilangkan dari hatiku kepahitan sakitnya.” Yakni kelezatan pahala yang diharapkan dalam bersabar menerima kesulitan perihnya sakit tersebut, telah mengalahkan rasa sakit itu sendiri. Ini bukan berarti rasa sakit itu tidak ada. Namun ia telah dihimpit oleh rasa lezatnya janji pahala, sehingga rasa sakit itu tidak lagi bermakna.
Dalam hidup ini yang membuat kita mampu bertahan dan selalu optimis adalah janji. Janji itu adalah harapan. Karena harapan mendapatkan hidup yang layak, maka kita rela bekerja keras, banting tulang. Karena harapan anak kita menjadi orang berguna, maka kita sekolahkan mereka tinggi-tinggi walaupun harus bercucur keringat mencari biaya pendidikan mereka. Karena harapan mendapatkan keselamatan di yaumul hisablah yang menyebabkan kita banyak menanam amal kebajikan. Karena harapan mendapatkan do’a anak yang shalehlah yang membuat kita bersusah payah mengajarkan anak kita pendidikan agama, agar mereka menjadi shaleh. Semua itu kita gapai melalui jembatan kesulitan, hanya saja rasa beratnya kesulitan itu telah dihembus oleh harapan yang menggelora.  Intinya harapanlah yang membuat kita selalu berbuat dan berkarya serta melakukan apapun untuk mengejarnya, walaupun harus melalui kesulitan.
Demikian pulalah hakikat memaknai kesulitan sebagai kebutuhan. Yakni dengan adanya kesulitan kita diberi peluang harapan untuk meraup pahala. Jika telah sampai pada tahap ini, apakah kita masih berkeluh kesah dengan kesulitan? Ketahuilah…! Kesulitan tidak lebih hanya sebagai alat untuk mencapai tujuan. Kesulitan jalan-jalan untuk meninggikan derajat. Kesulitan batu loncatan untuk mencapai kemuliaan. Kesulitan bagian dari pengantar hidup mencapai kehidupan yang sesungguhnya. Dan sesungguhnya kesulitan adalah harapan untuk mendapatkan pahala.
Lihatlah, adakah yang ditimpa kesulitan yang lebih berat dibandingkan nabi ataupun rasul? Sesungguhnya mereka adalah sosok yang layak mendapatkan kemuliaan. Dengan demikian tidak heran jika kesulitan yang menimpa mereka sangat berat agar kedudukan kemuliaan itu benar-benar menjadi milik mereka. Begitu juga terhadap ulama dan mujahid dakwah, dengan segala kesulitan membuat mereka semakin teguh dan istiqamah. Kesulitan telah membesarkan mereka dan meninggikan derajat mereka pada tingkat kemuliaan. Sehingga kesulitan ataupun kesenangan hidup bagi mereka sama saja. Kala mendapat kesulitan mereka bersabar, dan kala mendapatkan kesenangan mereka bersyukur. Dikarenakan dalam masa-masa ditimpa kesulitan itu, dalam jiwa mereka tertanam harapan kemuliaan.
Konsep ini mengajarkan pada kita suatu hal penting, bahwa kala kita ditimpa oleh kesulitan, jangan pandang beratnya kesulitan tersebut, jangan rasakan perihnya, tapi pandanglah dari sisi kesulitan itu merupakan jalan bagi kita untuk meraih kebaikan. Dengan adanya kesulitan berarti Allah swt. membuka peluang bagi kita untuk merealisasikan nilai-nilai sabar dan merasakan nikmatnya menjadi orang yang sabar. Dengan adanya kesulitan, berarti kita diberikan kesempatan untuk masuk golongan orang-orang yang bersabar. Dan dengan kesabaran itu pulalah kita akan mendapatkan kebersamaan Allah swt., karena sesungguhnya Allah swt. bersama orang-orang yang sabar.
Ini bukan masalah kita dalam hidup hanya berharap pahala. Tapi ini masalah bagaimana cara kita menyikapi sesuatu jangan hanya berdasarkan apa yang kita rasakan. Tapi pengajaran untuk kita agar memandang sesuatu bagaimana Allah swt. menetapkan urusan pada hamba-Nya yang mengandung karunia luar biasa.

Keterangan :

(*) Judul berdasarkan kisah

(**) Lihat kisah ini dalam Imam Al-Ghazali, diterjemahkan dari judul asli Ihya‘ ’Ulumiddin oleh H. Moh. Zuhri, Dipl. TAFL, dkk, dengan judul terjemahan Terjemah Ihya’ ’Ulumiddin jilid VII (Semarang: Penerbit CV. Asy Syifa’ Semarang, 2003), h. 361.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar