Ibnu Simak pernah masuk ke tempat
sebahagian khalifah dan ia memegang kendi air, yang mana ia meminumnya.
Maka khalifah itu berkata kepadanya:
”Berilah saya nasehat.”
Ibnu Simak lalu menjawab: ”Jikalau
tidak diberikan minuman ini kepadamu, kecuali ditukar dengan semua hartamu dan
jikalau kamu tidak memberikannya, maka kamu tetap haus, maukah kamu
memberikannya ?”
Khalifah itu menjawab: ”Ya,
kuberikan.”
Ibnu Simak berkata lagi: ”Jikalau
tidak diberikan, kecuali dengan kerajaaanmu, maka maukah kamu meninggalkan
kerajaan itu?”
Khalifah itu menjawab: ”Ya, mau.”
Maka Ibnu Simak berkata: ”Maka kamu
tidak merasa bangga dengan kerajaan itu, yang mana kerajaan itu tidak menyamai
dengan seteguk air ini.”(**)
Kita mungkin sering mengeluhkan
keadaan hidup kita yang jika dibandingkan dengan orang lain jauh berada dibawah
taraf yang menyedihkan. Kemiskinan yang mendera, beban hidup yang berat,
sampai-sampai bisikan syetan mungkin sempat membuat kita tergelincir untuk
sepakat menyatakan hidup ini tidak adil. Apalagi kala kita menyaksikan
kenyataan, kita yang merasa telah berupaya bersungguh-sungguh melaksanakan
keta’atan, tapi seakan kenikmatan hidup tidak berpihak pada kita, malah sering
didera kesulitan. Sementara begitu banyak kita saksikan orang-orang disekitar
kita, yang jangankan berupaya mewujudkan keta’atan, malah mereka langgeng
dengan kemaksiatan. Tapi mengapa kehidupan mereka tampak dilimpahi berbagai
macam kenikmatan.
Pertanyaan yang harus sering-sering
kita tanyakan pada diri kita, sebenarnya kebahagiaan bagaimana yang kita
dambakan dalam hidup? Apakah kebahagiaan seperti yang kita lihat dari apa yang
dimiliki orang lain? Jika demikian, ketahuilah…., sesungguhnya kita bukan
mendambakan kebahagiaan, tapi tidak lebih dari pada kedengkian terhadap sesuatu
yang dimiliki oleh orang lain. Kita berharap terhadap kenikmatan yang dimiliki
oleh orang lain kita juga memilikinya. Padahal belum tentu kenikmatan tersebut
layak untuk kita, dan seandainya diberikan pada kita, belum tentu kita akan
merasakannya sebagai kenikmatan, bisa jadi malah menjadi bencana, fitnah
ataupun musibah.
Memang agak rumit memahami konsep
ini, namun bisa kita pahami melalui permisalan. Sebagai contoh, kala kita
melihat orang lain mendapatkan harta warisan yang melimpah, sehingga hidup
mereka tampak bahagia, lalu terbersit dihati kita, “Alangkah indahnya jika saya
juga memiliki hal yang demikian, tentunya saya akan mendapatkan kebagiaan
seperti mereka.” Tapi apakah benar apa yang kita rasakan itu kala benar-benar
terjadi pada diri kita akan sama dengan apa yang mereka rasakan? Belum tentu.
Mereka mungkin saja diberi anugrah harta warisan yang melimpah dikarenakan
punya kemampuan yang memadai untuk mengelolanya. Sementara kita, yang mungkin tidak
terbiasa dengan limpahan harta lalu tiba-tiba mendapatkan harta warisan yang
melimpah, apakah mungkin bisa mengelolanya? Bukannya kebahagiaan yang kita
dapatkan, tapi menjadi bumerang bagi kita karena tidak amanahnya terhadap harta
tersebut. Bisa jadi malah harta itu akan membuat kita gelisah dengan
keberadaannya, sibuk mengurusnya dan melailaikan keta’atan kita kepada Allah
swt. Jika kesadaran kita pada tingkat ini, masihkah kedengkian akan bercokol
dalam jiwa? Malah yang akan bersemi perasaan syukur, alhamdulillaah, Allah swt.
tidak membebani saya dengan harta yang akan membuat hidup saya menjadi sulit, itulah
mungkin perasaan yang muncul dalam diri kita. Kita akan lebih mampu tegar
menerima kenyataan. Inilah buah dari kesabaran yang sebenarnya.
Untuk itu pahamilah, sesungguhnya
apa yang kita miliki dan apa yang kita dapatkan itulah kenikmatan yang layak
untuk kita, terimalah ia dengan hati lapang, dan bersabarlah dengan keadaan
tersebut. Hakikatnya kebutuhan kita
hanya sebatas demikian, sementara kelebihannya bukanlah kebutuhan kita.
Artinya, Segala sesuatu yang telah mencukupi kita, maka cukupkanlah disana,
jangan berambisi untuk mendapatkan yang lebih dari pada itu, sebab yang namanya
kebahagiaan berada dalam ranah kecukupan dan merasa cukup lalu berhenti disana.
Jika masih memikirkan sesuatu yang lebih dari yang telah ada, maka nikmat
kecukupan akan pupus. Hati telah disibukkan oleh sesuatu yang diinginkan,
padahal keinginan itu bukan lagi kebutuhan, hanyalah buah dari keserakahan.
Lantas kapan kita akan menikmati kebahagiaan jika hati selalu diliputi rasa
tidak cukup? Bersabarlah untuk mengendalikan nafsu syahwat agar bertahan dengan
rasa cukup dan tidak maju ke depan melintasi garisnya untuk mengejar yang
lebih.
Hanya yang menjadi pertanyaan bagaimana
menyemai rasa cukup terhadap apa yang dimiliki? Kita harus memahami segala
kebutuhan kita. Yang dinamakan kebutuhan kala sesuatu itu harus ada dan jika
tidak ada kita tidak bisa melangsungkan hidup dan keta’atan. Maka penuhilah hal
tersebut dengan ikhtiar. Kebutuhan ini akan berbeda sekali antara kita
dengan orang lain. Kebutuhan keluarga yang hanya memiliki satu anak akan
berbeda dengan kebutuhan keluarga yang memiliki tujuh anak. Maka berikhtiarlah
sesuai kebutuhan. Jika kebutuhan telah terpenuhi, berhentilah disana, jangan
berniat dan bernafsu untuk menambahnya.
Kala kita melihat orang lain
berupaya memenuhi kebutuhan yang lebih dari kita sehingga kita melihat pancaran
bahagia dari pemenuhan kebutuhan mereka, jangan mengira jika hal itu diberikan
kepada kita juga akan melahirkan kebahagiaan pada diri kita. Hal ini seperti
sudah dikatakan, intinya kita tidak sama dengan orang lain, kebutuhan kita
berbeda. Kebahagiaan bagi orang lain dengan kebutuhan yang banyak, belum tentu
kebahagiaan bagi kita dengan kebutuhan yang sedikit. Tapi kebahagiaan yang
sesungguhnya adalah, kita yang memiliki kebutuhan sedikit namun terpenuhi.
Hakikatnya adalah, kebahagiaan akan
kenikmatan hidup akan terasa kala terpenuhinya kebutuhan mendasar kita dan
tercukupinya kekurangan kita dengan hal tersebut. Inilah yang diajarkan dari
kisah di atas; bahwa kebahagiaan terletak dari terpenuhinya kebutuhan yang
harus dicukupi, sehingga harta dan kekuasaanpun akan digadaikan untuk memenuhi
kebahagiaan yang tampak sedikit namun sangat dibutuhkan walaupun dengan
perbandingan seteguk air dalam kehausan.
Ibnu Simak menjelaskan dalam kisah
tersebut, sebagai pembelajaran berharga, bahwa sesungguhnya kita akan rela
melakukan apa saja untuk memenuhi kebutuhan kita yang mendasar yang tanpanya
kita tidak bisa melangsungkan kehidupan. Walaupun kebutuhan itu sedikit, tapi
fundamental. Maka ia akan dikalahkan oleh kebutuhan yang banyak namun tiada
lain bukan dari kebutuhan yang sesungguhnya. Renungkanlah, keutamaan ini sangat bernilai untuk dipahami
!
Kata kuncinya, jangan pandang
kebahagiaan dari sisi kebahagiaan orang lain. Tapi pandanglah kebahagiaan dari
sisi sejauhmana terpenuhinya kebutuhan kita. Semua itu akan melahirkan
kesabaran dalam menerima kenyataan hidup dan dapat mengikis penyakit hati yang
menggelisahkan yakni kedengkian, serta menutup jalan-jalan syetan yang
membisikkan untuk memvonis hidup ini tidak adil. Karena memang kebutuhan kita
berbeda. Yang kita butuhkan hakikatnya itulah yang menjadi milik kita. Selain
itu bukanlah milik kita, ia akan terasa kala kebutuhan yang mendesak akan
berbenturan dengan sesuatu yang tidak mendesak, disana kita akan menyadari mana
yang menjadi kebutuhan kita sesungguhnya. Jika kita telah mampu menentukan
sikap mana yang menjadi kebutuhan kita sesungguhnya, ketahuilah …keinginan
untuk memenuhi kebutuhan selain itu adalah keserakahan. Menyadari ia berbuah
keserakahan apakah masih juga kita tidak bersabar untuk tidak mengejar dan mengejar
kebutuhan lain yang membuat rusaknya hati kita dan sia-sianya hidup? Sungguh
kesabaran untuk menerima hidup dengan apa adanya adalah buah dari pemahaman
bahwa hidup adalah sesuai dengan kebutuhan, dan sesungguhnya Allah swt. telah
mencukupkan kebutuhan untuk kita.
Keterangan
:
(*)
Judul berdasarkan kisah
(**)
Lihat kisah ini dalam Imam Al-Ghazali, diterjemahkan dari judul asli Ihya‘ ’Ulumiddin
oleh H. Moh. Zuhri. Dipl, TAFL, dkk, dengan judul terjemahan Terjemah Ihya’ ’Ulumiddin
Jilid VII (Semarang: Penerbit CV. Asy Syifa’ Semarang, 2003), h. 542-543
Tidak ada komentar:
Posting Komentar