WENDRI NALDI EL-MANINJAUI KHATIB BANDARO

WENDRI NALDI EL-MANINJAUI KHATIB BANDARO
WENDRI NALDI EL-MANINJAUI KHATIB BANDARO

Rabu, 07 Mei 2014

Nasehat Ibnu Simak Pada Khalifah (*)

Ibnu Simak pernah masuk ke tempat sebahagian khalifah dan ia memegang kendi air, yang mana ia meminumnya.
Maka khalifah itu berkata kepadanya: ”Berilah saya nasehat.”
Ibnu Simak lalu menjawab: ”Jikalau tidak diberikan minuman ini kepadamu, kecuali ditukar dengan semua hartamu dan jikalau kamu tidak memberikannya, maka kamu tetap haus, maukah kamu memberikannya ?”
Khalifah itu menjawab: ”Ya, kuberikan.”
Ibnu Simak berkata lagi: ”Jikalau tidak diberikan, kecuali dengan kerajaaanmu, maka maukah kamu meninggalkan kerajaan itu?”
Khalifah itu menjawab: ”Ya, mau.”
Maka Ibnu Simak berkata: ”Maka kamu tidak merasa bangga dengan kerajaan itu, yang mana kerajaan itu tidak menyamai dengan seteguk air ini.”(**)

Kita mungkin sering mengeluhkan keadaan hidup kita yang jika dibandingkan dengan orang lain jauh berada dibawah taraf yang menyedihkan. Kemiskinan yang mendera, beban hidup yang berat, sampai-sampai bisikan syetan mungkin sempat membuat kita tergelincir untuk sepakat menyatakan hidup ini tidak adil. Apalagi kala kita menyaksikan kenyataan, kita yang merasa telah berupaya bersungguh-sungguh melaksanakan keta’atan, tapi seakan kenikmatan hidup tidak berpihak pada kita, malah sering didera kesulitan. Sementara begitu banyak kita saksikan orang-orang disekitar kita, yang jangankan berupaya mewujudkan keta’atan, malah mereka langgeng dengan kemaksiatan. Tapi mengapa kehidupan mereka tampak dilimpahi berbagai macam kenikmatan.
Pertanyaan yang harus sering-sering kita tanyakan pada diri kita, sebenarnya kebahagiaan bagaimana yang kita dambakan dalam hidup? Apakah kebahagiaan seperti yang kita lihat dari apa yang dimiliki orang lain? Jika demikian, ketahuilah…., sesungguhnya kita bukan mendambakan kebahagiaan, tapi tidak lebih dari pada kedengkian terhadap sesuatu yang dimiliki oleh orang lain. Kita berharap terhadap kenikmatan yang dimiliki oleh orang lain kita juga memilikinya. Padahal belum tentu kenikmatan tersebut layak untuk kita, dan seandainya diberikan pada kita, belum tentu kita akan merasakannya sebagai kenikmatan, bisa jadi malah menjadi bencana, fitnah ataupun musibah.
Memang agak rumit memahami konsep ini, namun bisa kita pahami melalui permisalan. Sebagai contoh, kala kita melihat orang lain mendapatkan harta warisan yang melimpah, sehingga hidup mereka tampak bahagia, lalu terbersit dihati kita, “Alangkah indahnya jika saya juga memiliki hal yang demikian, tentunya saya akan mendapatkan kebagiaan seperti mereka.” Tapi apakah benar apa yang kita rasakan itu kala benar-benar terjadi pada diri kita akan sama dengan apa yang mereka rasakan? Belum tentu. Mereka mungkin saja diberi anugrah harta warisan yang melimpah dikarenakan punya kemampuan yang memadai untuk mengelolanya. Sementara kita, yang mungkin tidak terbiasa dengan limpahan harta lalu tiba-tiba mendapatkan harta warisan yang melimpah, apakah mungkin bisa mengelolanya? Bukannya kebahagiaan yang kita dapatkan, tapi menjadi bumerang bagi kita karena tidak amanahnya terhadap harta tersebut. Bisa jadi malah harta itu akan membuat kita gelisah dengan keberadaannya, sibuk mengurusnya dan melailaikan keta’atan kita kepada Allah swt. Jika kesadaran kita pada tingkat ini, masihkah kedengkian akan bercokol dalam jiwa? Malah yang akan bersemi perasaan syukur, alhamdulillaah, Allah swt. tidak membebani saya dengan harta yang akan membuat hidup saya menjadi sulit, itulah mungkin perasaan yang muncul dalam diri kita. Kita akan lebih mampu tegar menerima kenyataan. Inilah buah dari kesabaran yang sebenarnya.
Untuk itu pahamilah, sesungguhnya apa yang kita miliki dan apa yang kita dapatkan itulah kenikmatan yang layak untuk kita, terimalah ia dengan hati lapang, dan bersabarlah dengan keadaan tersebut. Hakikatnya kebutuhan  kita hanya sebatas demikian, sementara kelebihannya bukanlah kebutuhan kita. Artinya, Segala sesuatu yang telah mencukupi kita, maka cukupkanlah disana, jangan berambisi untuk mendapatkan yang lebih dari pada itu, sebab yang namanya kebahagiaan berada dalam ranah kecukupan dan merasa cukup lalu berhenti disana. Jika masih memikirkan sesuatu yang lebih dari yang telah ada, maka nikmat kecukupan akan pupus. Hati telah disibukkan oleh sesuatu yang diinginkan, padahal keinginan itu bukan lagi kebutuhan, hanyalah buah dari keserakahan. Lantas kapan kita akan menikmati kebahagiaan jika hati selalu diliputi rasa tidak cukup? Bersabarlah untuk mengendalikan nafsu syahwat agar bertahan dengan rasa cukup dan tidak maju ke depan melintasi garisnya untuk mengejar yang lebih.
Hanya yang menjadi pertanyaan bagaimana menyemai rasa cukup terhadap apa yang dimiliki? Kita harus memahami segala kebutuhan kita. Yang dinamakan kebutuhan kala sesuatu itu harus ada dan jika tidak ada kita tidak bisa melangsungkan hidup dan keta’atan. Maka penuhilah hal tersebut dengan ikhtiar. Kebutuhan ini akan berbeda sekali antara kita dengan orang lain. Kebutuhan keluarga yang hanya memiliki satu anak akan berbeda dengan kebutuhan keluarga yang memiliki tujuh anak. Maka berikhtiarlah sesuai kebutuhan. Jika kebutuhan telah terpenuhi, berhentilah disana, jangan berniat dan bernafsu untuk menambahnya.
Kala kita melihat orang lain berupaya memenuhi kebutuhan yang lebih dari kita sehingga kita melihat pancaran bahagia dari pemenuhan kebutuhan mereka, jangan mengira jika hal itu diberikan kepada kita juga akan melahirkan kebahagiaan pada diri kita. Hal ini seperti sudah dikatakan, intinya kita tidak sama dengan orang lain, kebutuhan kita berbeda. Kebahagiaan bagi orang lain dengan kebutuhan yang banyak, belum tentu kebahagiaan bagi kita dengan kebutuhan yang sedikit. Tapi kebahagiaan yang sesungguhnya adalah, kita yang memiliki kebutuhan sedikit namun terpenuhi.
Hakikatnya adalah, kebahagiaan akan kenikmatan hidup akan terasa kala terpenuhinya kebutuhan mendasar kita dan tercukupinya kekurangan kita dengan hal tersebut. Inilah yang diajarkan dari kisah di atas; bahwa kebahagiaan terletak dari terpenuhinya kebutuhan yang harus dicukupi, sehingga harta dan kekuasaanpun akan digadaikan untuk memenuhi kebahagiaan yang tampak sedikit namun sangat dibutuhkan walaupun dengan perbandingan seteguk air dalam kehausan.
Ibnu Simak menjelaskan dalam kisah tersebut, sebagai pembelajaran berharga, bahwa sesungguhnya kita akan rela melakukan apa saja untuk memenuhi kebutuhan kita yang mendasar yang tanpanya kita tidak bisa melangsungkan kehidupan. Walaupun kebutuhan itu sedikit, tapi fundamental. Maka ia akan dikalahkan oleh kebutuhan yang banyak namun tiada lain bukan dari kebutuhan yang sesungguhnya. Renungkanlah,  keutamaan ini sangat bernilai untuk dipahami !
Kata kuncinya, jangan pandang kebahagiaan dari sisi kebahagiaan orang lain. Tapi pandanglah kebahagiaan dari sisi sejauhmana terpenuhinya kebutuhan kita. Semua itu akan melahirkan kesabaran dalam menerima kenyataan hidup dan dapat mengikis penyakit hati yang menggelisahkan yakni kedengkian, serta menutup jalan-jalan syetan yang membisikkan untuk memvonis hidup ini tidak adil. Karena memang kebutuhan kita berbeda. Yang kita butuhkan hakikatnya itulah yang menjadi milik kita. Selain itu bukanlah milik kita, ia akan terasa kala kebutuhan yang mendesak akan berbenturan dengan sesuatu yang tidak mendesak, disana kita akan menyadari mana yang menjadi kebutuhan kita sesungguhnya. Jika kita telah mampu menentukan sikap mana yang menjadi kebutuhan kita sesungguhnya, ketahuilah …keinginan untuk memenuhi kebutuhan selain itu adalah keserakahan. Menyadari ia berbuah keserakahan apakah masih juga kita tidak bersabar untuk tidak mengejar dan mengejar kebutuhan lain yang membuat rusaknya hati kita dan sia-sianya hidup? Sungguh kesabaran untuk menerima hidup dengan apa adanya adalah buah dari pemahaman bahwa hidup adalah sesuai dengan kebutuhan, dan sesungguhnya Allah swt. telah mencukupkan kebutuhan untuk kita.

Keterangan :

(*) Judul berdasarkan kisah

(**) Lihat kisah ini dalam Imam Al-Ghazali, diterjemahkan dari judul asli Ihya‘ ’Ulumiddin oleh H. Moh. Zuhri. Dipl, TAFL, dkk, dengan judul terjemahan Terjemah Ihya’ ’Ulumiddin Jilid VII (Semarang: Penerbit CV. Asy Syifa’ Semarang, 2003), h. 542-543    

Tidak ada komentar:

Posting Komentar