Assalaamu'alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh
Puji syukur kepada Allah rabbul 'izzati, shalawat buat sang idola kita Rasulullah saw.
Photo : Kebersamaan Generasi Ash-Haby PK MAN Maninjau di Lokasi Sekitar Museum Rumah Kelahiran Buya Hamka
Tak ada kata diam dan berhenti, tak ada
kata istirahat kecuali hanya untuk mengumpulkan tenaga, tak ada waktu luang
yang membosankan, itulah kami keluarga besar PK MAN Maninjau. Komunitas yang
dibangun atas dasar gelora iman yang mengejewantah dalam bentuk ukhuwah.
Hidup adalah berjuang untuk berkarya, hidup
harus bermakna, setiap desah nafas adalah suatu pertanggungjawaban kelak di Yaumul
Hisab. Untuk itu kami berupaya untuk melakukan apa yang menurut kami bisa untuk
menyelamatkan diri dari hal-hal yang membinasakan, baik binasa secara duniawi
ataupun binasa secara ukhrawi.
Dan ketahuilah ….ini bukan suatu hal yang
narsis, tapi suatu penanaman sebuah asa dan azzam yang bergelora dalam
jiwa-jiwa kami sebagai generasi penerus Islam. Dalam rajutan ukhuwah, kami
bangun mozaik kehidupan penuh semangat dan kebersamaan. Dalam luapan lautan
cinta, kami labuhkan impian kami di dermaga harapan terbangunnya suatu
peradaban yang gemilang melalui jejak dan goresan-goresan yang kami tinggalkan
dalam prasasti iman.
Kamis, 15 Rajab 1435 H, ukhuwah tersemai,
kebersamaan berpendar, membentuk percikan warna-warni indah menawan, bak
percikan bunga api penuh warna ditengah
malam nan indah dihiasi purnama keempat belas. Sesungguhnya bagi kami, yang
akan mampu melapangkan hati kami hanyalah Allah swt. Maka kami raih kelapangan
hidup dengan cara mencari kebahagiaan yang kami pahami. Adakah kebahagiaan dari
pada tingginya pemahaman akan ilmu dan tergabungnya dalam sebuah jama’ah yang
sama-sama punya nawaitu mengagungkan agama Allah swt. Ya, dihari itu, kami
menunaikan suatu nawaitu, menyambangi Museum Rumah Kelahiran Buya Hamka. Pesanggrahan sosok
hebat dan dahsyat yang telah mengguncang dunia dengan kearifan dan kedalaman
serta keberaniannya yang aduhai. Banyak hal yang dapat kami petik dari kunjungan
yang mengandung manfaat menggunung ini. Tentang perihidup Buya Hamka, ulama
kebanggaan orang Maninjau, mulai dari kecilnya hingga menjadi ulama besar.
Pengetahuan ini bukan mengada-ada, karena kami langsung disambut hangat oleh
Pak Hanif (nara sumber) di Museum dan memberikan informasi-informasi mengenai ulama kharismatik Buya Hamka. Indahnya lagi, kami diberi wejangan, nasehat dan tausyiah sarat makna. Alhamdulillaah, kami juga diberi
hadiah tulisan beliau tentang Buya HAMKA Sang Inspirator.
Photo : Pak Hanif (nara sumber) memberikan keterangan tentang sosok Buya Hamka dalam Museum Rumah Kelahiran Buya Hamka, 15 Rajab 1435 H
Photo : Pak Hanif (kiri, baju lengan panjang) memberikan kenang-kenangan berupa buku tulisannya tentang Buya Hamka Sang Inspirator kepada guru pembina Generasi Ash-Haby PK MAN Maninjau (kanan, jaket hitam), 15 Rajab 1435 H
Photo : Generasi Ash-Haby PK MAN Maninjau photo bersama dengan Pak Hanif (nara sumber) di Museum Rumah Kelahiran Buya Hamka, 15 Rajab 1435 H.
Tak hanya itu, dalam museum tersebut, kami
disuguhkan dengan karya-karya Buya Hamka yang begitu bejibun. Masya Allah,
sungguh beliau bukan hanya sebagai ulama, tapi ternyata juga sastrawan besar
yang luar biasa. Kalau boleh dikatakan Ulama yang sastrawan, dan sastrawan yang
ulama. Sebagai bukti pengejewantahan, bahwa ternyata pada dekade zaman modern
ini, masih terdapat ulama-ulama yang memiliki kaliber tidak kalah dengan
ulama-ulama Islam periode klasik. Pelajaran luhur yang dapat kami ambil.
Menjadi seorang muslim, haruslah memiliki cabang keilmuan yang komprehensif,
menyatu dalam satu konsep yang dikendalikan ruh agama. Buya Hamka, cukup
menjadi sampel akan pembenaran ini. Boleh saja orang mengatakan Buya Hamka
sebagai sastrawan, tapi ketahuilah, jiwa sastrawan itu tumbuh dan berkembang terkorelasi
dengan pengaruh agama yang begitu bergelora. Maka kesudahannya, karya-karya
yang dilahirkan mengandung nilai-nilai luhur kebajikan. Lahir dari hati yang
punya nawaitu tulus, bahwa berbuat dan berkarya hakikatnya adalah penanaman
akan suatu upaya pembangunan umat. Sebagai pembuktian, silahkan lihat
karya-karya Buya Hamka di Museum Rumah Kelahiran Buya Hamka tersebut.
Photo : Kebersamaan Generasi Ash-Haby PK MAN Maninjau di depan Museum Rumah Kelahiran Buya Hamka, 15 Rajab 1435 H
Seperti itulah cara kami membangun mozaik
kehidupan kami. Hari kamis itu, hakikatnya hari libur. Mungkin diantara generasi
seusia kami saat libur itu adalah saat yang indah untuk bersantai-santai,
menghabiskan hari di depan televisi, atau sekedar ngobrol di kamar kos. Bagi
kami? Tidak akan. Waktu adalah sunnatullah yang tak dapat ditarik, ia berjalan
tanpa dapat dikendalikan, apakah ditarik sejenak, dihentikan, atau dipercepat.
Maka karena kami hidup dalam waktu yang
berjalan itu sesuai kehendak-Nya. Alangkah merugi jika tidak digunakan untuk
hal-hal yang bermanfaat, positif dan mengandung nilai-nilai luhur kebajikan.
Maka kami jadikan waktu libur belajar di lingkungan sekolah dengan belajar pada
apa yang ada di alam.
Ini bukan berarti kami menganggap, kami
generasi yang keras dalam menyikapi hidup dan selalu serius. Tidak juga, malah
apa yang kami lakukan ini bentuk dari apa yang kami pahami bahwa hidup harus
dihadapi dengan kesenangan jiwa, ketenangan hati, dan penuh pesona. Walaupun
kami terus, terus, dan terus belajar walau dihari libur. Tapi pembelajaran kami
adalah pembelajaran yang luar biasa, penuh canda dan tawa, santai dengan tetap
menjaga muru’ah. Kami belajar dengan cara yang kami menikmati pembelajaran
tersebut tanpa beban. Kami belajar dalam luapan ukhuwah, kami belajar dalam
cinta dan kebersamaan, kami belajar tanpa ada satupun yang memaksa dan menekan
akal pikiran kami, dan kami belajar tidak melalui doktrin baku yang
serampangan.
Maka dalam pembelajaran kami, yang kami
dapat adalah kesan, pesan dan nuansa ruhiyah yang memukau. Kami belajar tentang
intisari hidup yang sesungguhnya, kami belajar dari ayat baik qauliyah maupun
kauniyah. Dan kami belajar dalam integrasi hablumminallaah dan hablumminannaas.
Lantas, jika telah begini, apakah mungkin kami merasakan kebosanan dalam
belajar? Ooo…tidak, malah kami ingin, ingin, dan ingin selalu belajar. Karena
memang dalam Islam, perintah belajar adalah perintah pertama dalam ayat-ayat
yang turun sebagai pedoman.
Sungguh, dalam sebuah komunitas PK MAN
Maninjau, dan kami sekarang generasi Ash-Haby, suatu kenikmatan terbesar kala
Allah swt. telah memilih kami dan menetapkan kami sebagai generasi penerus
penegak risalah Islam. Kami akui, para pendahulu kami telah membangun generasi
PK MAN Maninjau dengan penuh perjuangan. Akankah ditangan kami tidak mampu
dipertahankan? Tidak akan. Kami adalah Generasi Ash-Haby, generasi yang akan
meniru dan mencontoh serta menteladani perihidup para shahabat Rasulullah saw.
yang telah menoreh dan menanam peradaban Islam pada puncak kejayaannya. Maka
kamipun harus mampu untuk berbuat yang terbaik, kami harus yakin, bahwa kami
mampu melanjutkan perjuangan pendahulu kami. Kalau bisa, lebih dari itu.
Hingga hari ini, kami begitu merasakan
nikmatnya hidup dalam sebuah jama’ah besar PK MAN Maninjau, ukhuwah, cinta dan
kebersamaan begitu kuat terbina. Hal inilah yang membuat kami kuat, tegar dan tak
ragu dengan rintangan macam apapun. Dan kelak semoga segala apa yang kami
tanam, hendaknya menjadi jejak kebaikan, dalam bentuk monumen prasasti sejarah
yang begitu menawan bagi generasi kami. Yang semoga kelak menjadi saksi-saksi
sejarah penuh keluhuran budi, sebagai ketauladanan yang berarti, hingga
perjuangan ini memiliki mata rantai yang panjang dan kokoh.
Mengapa kami yakin akan semua ini. Karena
dalam jiwa kami telah terpatri suatu pesan agung yang Allah swt. janjikan dalam
kalam-Nya yang mulia : “Siapa yang menolong agama Allah, maka Allah akan
menolongnya, dan menguatkan pijakan kakinya.”(Makna Q.s. Muhammad ayat 7).
Lantas, jika Allah swt. telah menolong hamba-Nya, lalu siapa yang sanggup
hendak menghancurkan? Takbiir !!!
Assalaamu'laikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh
Tidak ada komentar:
Posting Komentar