WENDRI NALDI EL-MANINJAUI KHATIB BANDARO

WENDRI NALDI EL-MANINJAUI KHATIB BANDARO
WENDRI NALDI EL-MANINJAUI KHATIB BANDARO

Jumat, 16 Mei 2014

Catatan Kunjungan Generasi Ash-Haby PK MAN Maninjau Ke Museum Rumah Kelahiran Buya Hamka

Assalaamu'alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh
Puji syukur kepada Allah rabbul 'izzati, shalawat buat sang idola kita Rasulullah saw.

Photo : Kebersamaan Generasi Ash-Haby PK MAN Maninjau di Lokasi Sekitar Museum Rumah Kelahiran Buya Hamka

Tak ada kata diam dan berhenti, tak ada kata istirahat kecuali hanya untuk mengumpulkan tenaga, tak ada waktu luang yang membosankan, itulah kami keluarga besar PK MAN Maninjau. Komunitas yang dibangun atas dasar gelora iman yang mengejewantah dalam bentuk ukhuwah.
Hidup adalah berjuang untuk berkarya, hidup harus bermakna, setiap desah nafas adalah suatu pertanggungjawaban kelak di Yaumul Hisab. Untuk itu kami berupaya untuk melakukan apa yang menurut kami bisa untuk menyelamatkan diri dari hal-hal yang membinasakan, baik binasa secara duniawi ataupun binasa secara ukhrawi.
Dan ketahuilah ….ini bukan suatu hal yang narsis, tapi suatu penanaman sebuah asa dan azzam yang bergelora dalam jiwa-jiwa kami sebagai generasi penerus Islam. Dalam rajutan ukhuwah, kami bangun mozaik kehidupan penuh semangat dan kebersamaan. Dalam luapan lautan cinta, kami labuhkan impian kami di dermaga harapan terbangunnya suatu peradaban yang gemilang melalui jejak dan goresan-goresan yang kami tinggalkan dalam prasasti iman.
Kamis, 15 Rajab 1435 H, ukhuwah tersemai, kebersamaan berpendar, membentuk percikan warna-warni indah menawan, bak percikan bunga api  penuh warna ditengah malam nan indah dihiasi purnama keempat belas. Sesungguhnya bagi kami, yang akan mampu melapangkan hati kami hanyalah Allah swt. Maka kami raih kelapangan hidup dengan cara mencari kebahagiaan yang kami pahami. Adakah kebahagiaan dari pada tingginya pemahaman akan ilmu dan tergabungnya dalam sebuah jama’ah yang sama-sama punya nawaitu mengagungkan agama Allah swt. Ya, dihari itu, kami menunaikan suatu nawaitu, menyambangi Museum Rumah Kelahiran Buya Hamka. Pesanggrahan sosok hebat dan dahsyat yang telah mengguncang dunia dengan kearifan dan kedalaman serta keberaniannya yang aduhai. Banyak hal yang dapat kami petik dari kunjungan yang mengandung manfaat menggunung ini. Tentang perihidup Buya Hamka, ulama kebanggaan orang Maninjau, mulai dari kecilnya hingga menjadi ulama besar. Pengetahuan ini bukan mengada-ada, karena kami langsung disambut hangat oleh Pak Hanif (nara sumber) di Museum  dan memberikan informasi-informasi mengenai ulama kharismatik Buya Hamka. Indahnya lagi, kami diberi wejangan, nasehat dan tausyiah sarat makna. Alhamdulillaah, kami juga diberi hadiah tulisan beliau tentang Buya HAMKA Sang Inspirator.

Photo : Pak Hanif (nara sumber) memberikan keterangan tentang sosok Buya Hamka dalam Museum Rumah Kelahiran Buya Hamka, 15 Rajab 1435 H

Photo : Pak Hanif (kiri, baju lengan panjang) memberikan kenang-kenangan berupa buku tulisannya tentang Buya Hamka Sang Inspirator kepada guru pembina Generasi Ash-Haby PK MAN Maninjau (kanan, jaket hitam), 15 Rajab 1435 H

Photo : Generasi Ash-Haby PK MAN Maninjau photo bersama dengan Pak Hanif (nara sumber) di Museum Rumah Kelahiran Buya Hamka, 15 Rajab 1435 H. 

Tak hanya itu, dalam museum tersebut, kami disuguhkan dengan karya-karya Buya Hamka yang begitu bejibun. Masya Allah, sungguh beliau bukan hanya sebagai ulama, tapi ternyata juga sastrawan besar yang luar biasa. Kalau boleh dikatakan Ulama yang sastrawan, dan sastrawan yang ulama. Sebagai bukti pengejewantahan, bahwa ternyata pada dekade zaman modern ini, masih terdapat ulama-ulama yang memiliki kaliber tidak kalah dengan ulama-ulama Islam periode klasik. Pelajaran luhur yang dapat kami ambil. Menjadi seorang muslim, haruslah memiliki cabang keilmuan yang komprehensif, menyatu dalam satu konsep yang dikendalikan ruh agama. Buya Hamka, cukup menjadi sampel akan pembenaran ini. Boleh saja orang mengatakan Buya Hamka sebagai sastrawan, tapi ketahuilah, jiwa sastrawan itu tumbuh dan berkembang terkorelasi dengan pengaruh agama yang begitu bergelora. Maka kesudahannya, karya-karya yang dilahirkan mengandung nilai-nilai luhur kebajikan. Lahir dari hati yang punya nawaitu tulus, bahwa berbuat dan berkarya hakikatnya adalah penanaman akan suatu upaya pembangunan umat. Sebagai pembuktian, silahkan lihat karya-karya Buya Hamka di Museum Rumah Kelahiran Buya Hamka tersebut.

Photo : Kebersamaan Generasi Ash-Haby PK MAN Maninjau di depan Museum Rumah Kelahiran Buya Hamka, 15 Rajab 1435 H

Seperti itulah cara kami membangun mozaik kehidupan kami. Hari kamis itu, hakikatnya hari libur. Mungkin diantara generasi seusia kami saat libur itu adalah saat yang indah untuk bersantai-santai, menghabiskan hari di depan televisi, atau sekedar ngobrol di kamar kos. Bagi kami? Tidak akan. Waktu adalah sunnatullah yang tak dapat ditarik, ia berjalan tanpa dapat dikendalikan, apakah ditarik sejenak, dihentikan, atau dipercepat. Maka karena  kami hidup dalam waktu yang berjalan itu sesuai kehendak-Nya. Alangkah merugi jika tidak digunakan untuk hal-hal yang bermanfaat, positif dan mengandung nilai-nilai luhur kebajikan. Maka kami jadikan waktu libur belajar di lingkungan sekolah dengan belajar pada apa yang ada di alam.
Ini bukan berarti kami menganggap, kami generasi yang keras dalam menyikapi hidup dan selalu serius. Tidak juga, malah apa yang kami lakukan ini bentuk dari apa yang kami pahami bahwa hidup harus dihadapi dengan kesenangan jiwa, ketenangan hati, dan penuh pesona. Walaupun kami terus, terus, dan terus belajar walau dihari libur. Tapi pembelajaran kami adalah pembelajaran yang luar biasa, penuh canda dan tawa, santai dengan tetap menjaga muru’ah. Kami belajar dengan cara yang kami menikmati pembelajaran tersebut tanpa beban. Kami belajar dalam luapan ukhuwah, kami belajar dalam cinta dan kebersamaan, kami belajar tanpa ada satupun yang memaksa dan menekan akal pikiran kami, dan kami belajar tidak melalui doktrin baku yang serampangan.
Maka dalam pembelajaran kami, yang kami dapat adalah kesan, pesan dan nuansa ruhiyah yang memukau. Kami belajar tentang intisari hidup yang sesungguhnya, kami belajar dari ayat baik qauliyah maupun kauniyah. Dan kami belajar dalam integrasi hablumminallaah dan hablumminannaas. Lantas, jika telah begini, apakah mungkin kami merasakan kebosanan dalam belajar? Ooo…tidak, malah kami ingin, ingin, dan ingin selalu belajar. Karena memang dalam Islam, perintah belajar adalah perintah pertama dalam ayat-ayat yang turun sebagai pedoman.
Sungguh, dalam sebuah komunitas PK MAN Maninjau, dan kami sekarang generasi Ash-Haby, suatu kenikmatan terbesar kala Allah swt. telah memilih kami dan menetapkan kami sebagai generasi penerus penegak risalah Islam. Kami akui, para pendahulu kami telah membangun generasi PK MAN Maninjau dengan penuh perjuangan. Akankah ditangan kami tidak mampu dipertahankan? Tidak akan. Kami adalah Generasi Ash-Haby, generasi yang akan meniru dan mencontoh serta menteladani perihidup para shahabat Rasulullah saw. yang telah menoreh dan menanam peradaban Islam pada puncak kejayaannya. Maka kamipun harus mampu untuk berbuat yang terbaik, kami harus yakin, bahwa kami mampu melanjutkan perjuangan pendahulu kami. Kalau bisa, lebih dari itu.
Hingga hari ini, kami begitu merasakan nikmatnya hidup dalam sebuah jama’ah besar PK MAN Maninjau, ukhuwah, cinta dan kebersamaan begitu kuat terbina. Hal inilah yang membuat kami kuat, tegar dan tak ragu dengan rintangan macam apapun. Dan kelak semoga segala apa yang kami tanam, hendaknya menjadi jejak kebaikan, dalam bentuk monumen prasasti sejarah yang begitu menawan bagi generasi kami. Yang semoga kelak menjadi saksi-saksi sejarah penuh keluhuran budi, sebagai ketauladanan yang berarti, hingga perjuangan ini memiliki mata rantai yang panjang dan kokoh.
Mengapa kami yakin akan semua ini. Karena dalam jiwa kami telah terpatri suatu pesan agung yang Allah swt. janjikan dalam kalam-Nya yang mulia : “Siapa yang menolong agama Allah, maka Allah akan menolongnya, dan menguatkan pijakan kakinya.”(Makna Q.s. Muhammad ayat 7). Lantas, jika Allah swt. telah menolong hamba-Nya, lalu siapa yang sanggup hendak menghancurkan? Takbiir !!!

Assalaamu'laikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh


Tidak ada komentar:

Posting Komentar