WENDRI NALDI EL-MANINJAUI KHATIB BANDARO

WENDRI NALDI EL-MANINJAUI KHATIB BANDARO
WENDRI NALDI EL-MANINJAUI KHATIB BANDARO

Senin, 27 Januari 2014

Mozaik Hiking PK Generation MAN Maninjau ( Ash-Haby & Haraki di Dama Gadang


Alhamdulillaah. Akhirnya , tercapai segala asa yang membuncah, asa yang tertanam pada lubuk hati, dengan gelora penuh ukhuwah, ya, suatu pencapaian, kami menyebutnya prestasi. Sebab bagi kami sekecil apapun yang ditanam, kala ia disemai dalam nuansa menuju kebajikan dalam membangun suatu proyek raksasa keluarga besar Program Keagamaan (PK) MAN Maninjau tetap bermakna besar dan begitu dahsyat.

Aduhai …indahnya, serpihan asa yang tertanam, sungguh Allah swt. memiliki rencana yang luar biasa dalam mozaik-mozaik kehidupan kami. Dan ketahuilah, sungguh kami sangat menikmatinya. Perjalanan yang memukau, penuh tantangan, menegangkan, lucuuuuu..., dan tentunya mengesankan. Mungkin tak cukup untuk menuangkan dalam torehan ini, kecuali hanya sedikit yang dapat dipaparkan untuk sekedar berbagi. Itulah yang kami rasakan.  Perjalanan itu, hiking, suatu tradisi turun temurun bagi kami keluarga besar PK MAN Maninjau, dan hari itu Minggu, 22 R. Awwal 1435 H, adalah kegiatan Hiking yang kesekian kalinya dari PK MAN Maninjau. Diprakarasai generasi Ash-Haby (XI PK) sebagai pelopor tahun ini,  dan  bergabung generasi Haraki (XII PK )sebagai bagian dari implementasi ukhuwah.

Ceritapun dimulai ….

Minggu, 22 R. Awwal 1435 H, pagi itu, semburat cahaya mentari begitu sempurna, cerah, secerah hati kami  keluarga besar PK MAN Maninjau tahun pelajaran2013/2014, kala menyusuri jalan berliku mendaki mulai dari Lubuak Sao hingga Dama Gadang. Walau tertatih, peluh mengucur deras, kerongkongan terasa kering, namun semua itu dihiasi dengan riuh canda, semangat membara dan tentunya kebersamaan. Photo ciek luuu….Click …:

Hari itu terasa indah, demikianlah cara kami membahagiakan diri kami. Memberi support pada jiwa-jiwa kami, memberi kekuatan dalam kebersamaan kami. Karena menyadari, berharap pada orang lain untuk bersimpati pada kami bukanlah ajaran Islam yang kami perjuangkan. Berharap orang lain menolong kami jelas bukanlah tipe kami, karena kami yakin pertolongan hanya datang dari Allah swt, dan memang pertolongan Allahswt. yang layak diharapkan.




Next …

Suasana perkampungan yang penuh sensasi, indah memukau, hutan yang masih hijau, dengan aroma suasana damai jauh dari kebisingan membuat perjalanan kami  terasa makin menyenangkan. Hutan yang masih lebat itu, kala kami menysusurinya, seakan-akan hutan itu   melindungi perjalanan kami dari sengatan matahari yang sudah mulai meninggi. Dan Subhaanallaah, sampailah kami pada suguhan alam yang akan membuat berdecak kagum para pencinta seni, karena seni yang disaksikan tersebut adalah sangat alami, sangat asri. Ya, itulah air terjun. Photo Ciek luuu…Click :

Gambar : Diedit melalui Microsoft Office Word 2007 dan Paint : Microsoft Windows Version 6.1 (Build 7601): Service Pack 1), Copyright © 2009 Corporation. All rights reserved

Ternyata, bukan hanya satu air terjun, yang terdapat dalam lebatnya hutan yang hijau itu, ada satu lagi air terjun, dan yang satu inipun bahkan dapat digunakan sebagai tempat mandi-mandi pada air yang  menglir deras menjalankan perannya sebagai sunnatullah.

Memancarlah cahaya-cahaya kegembiraan dalam jiwa-jiwa kami, kala mendapati kenyataan begitu indahnya suguhan alam yang memamerkan keindahannya sebagai bentuk dari ciptaan Allah swt. Yang Maha Gagah.  Keindahan yang dapat menyegarkan urat-urat saraf-saraf kami, keindahan yang dapat membuat kami menyadari bahwa alam telah mengajarkan pada kami, dengan segala keharmoniannya, bahwa kedamaian  akan diperoleh kala kita menunjukkan dalam hidup ini suatu hal apa adanya, tidak ada kedustaan. Demikianlah alam dengan kejujurannya, ia tunjukkan dirinya apa adanya, sangat alami, maka saksikanlah siapa saja akan terpukau kala mendapati kejujurannya. Indah mempesona. Memang hidup penuh kejujuran itu indah.  Sungguh Allah swt. mengajarkan pada kita manusia tentang makna hidup melalu ciptaaannya, yakni alam.

Alhamdulillaah, kami keluarga besar PK MAN Maninjau, dengan cara kami sendiri, mampu membahagiakan diri kami, tanpa harus bergantung dan berharap pada siapapun kecuali hanya pada Allah swt. Karena memang kami belajar, berjuang, hidup, mengambil jurusan, mengejar masa depan, hanya untuk Allah swt. semata. 


Seperti inilah kami belajar tentang hidup, bahwa belajar tidak harus selalu duduk dengan rapi di ruangan kelas, tangan dilipat di atas meja. Tapi belajar bagi kami menggunakan segala potensi di usia muda yang hanya sekejab agar kelak kami mampu menghadapi hidup yang penuh  tantangan, agar kelak bermanfaat bagi diri dan orang lain serta alam, yang tentunya bermuara pada tegaknya kalimatullaah di permukaan. Dan kelak semoga kami termasuk barisan panjang yang berada dalam golongan orang-orang shaleh. Amiin.


(Catatan mozaik kehidupan penuh cinta dan ukhuwah Islamiyah, keluarga besar PK MAN Maninjau, Generasi Ash-Haby dan Haraki dalam memori Hiking di Dama Gadang, 
22 R. Awwal 1435 H ) 


Selasa, 07 Januari 2014

Catatan Generasi Ash-Haby dan Haraki Dalam Prestasi Nan Gemilang

Menanam jejak  merupakan suatu keniscayaan, menanam jejak bukan berarti apa yang dilakukan harus dikenang orang-orang sesudah kita, menanam jejak juga bukan berarti agar kita dipuji dan disanjung. Tapi menanam jejak hakikatnya adalah penanaman akan sebuah prasasti, prasasti yang akan menjadi pembelajaran bagi orang –orang setelah kita.

Gambar : 
XI PK (Generasi Ash-Haby); 
Wilda Sari, Juara Umum Prestasi Tingkat Kelas XI Semester I, T.P. 2013/2014 


Pertanyaannya…


Jejak apa yang telah kita tanam, jejak bagaimana yang telah ditancapkan. Sesungguhnya setiap jejak kebajikan, sekecil apapun, tetap bermakna kebajikan, dan sebaliknya, sekecil apapun jejak kejelekan yang ditanam, tetap bermakna kejelekan.


Gambar :
XII PK (Generasi Haraki) 
Juara Umum Class Meeting Semester I,  T.P. 2013/2014


Disinilah kami dibina …dalam sebuah keluarga besar PK MAN Maninjau, bahwa perjuangan menanam jejak kebajikan dalam bentuk apapun menjadi suatu keniscayaan. Ditengah gelombang hidup yang sepi dari ruh spiritual, ditengah hantaman badai yang selalu kami tepis dengan satu kekuatan, yakni “ukhuwah”, maka hantaman badai itu luluh lantak tak berbekas.

Gambar :
XII PK (Generasi Haraki) 
Juara Umum Class Meeting Semester I, T.P. 2013/2014


Kami adalah jiwa-jiwa Haraki, kami generasi pencinta para shahabat, generasi Ash-Haby yang menggelora dalam satu rumpun Ukhuwah Islamiyah, keluarga besar PK (Program Keagamaan). Bagi kami segala asa adalah jalan-jalan menuju kejayaan. Bagi kami harapan akan kegemilangan akan selalu ada, karena kami diajarkan akan hal itu. Dan ketahuilah …kami punya satu kekuatan, bahwa pertolongan Allah swt. pasti datang. Dan kami meyakini bahwa pertolongan itu datang dengan dijemput, bukan ditunggu.

Maka lihatlah …pandanglah dengan kelembutan hati, tentang makna pertolongan itu, prestasi dalam bingkai keluarga besar ini tertancap. Ini bukan menunjukkan siapa diri kami sesungguhnya, ini bukan menunjukkan eksistensi diri, dan juga bukan berharap akan segala puji. Tapi …ketahuilah …ini makna dari menanam jejak, ini makna bahwa kami harus menanam kebajikan sekecil apapun, dan tetap bermakna kebajikan, dan ini makna bahwa Allah swt. akan  selalu menolong hamba-Nya yang menolong agama-Nya.

(Catatan Generasi Ash-Haby Juara Umum Prestasi tingkat kelas XI, dan Generasi Haraki Juara Umum Class Meeting, 
Semester I, Tahun Pelajaran 2013/2014, MAN Maninjau)

Senin, 02 Desember 2013

Wasiat Untuk Remaja Islam (9) : Jagalah Batasan Pergaulan

Saudaraku …, yang dimaksud mejaga batasan pergaulan adalah batasan antara dirimu dengan lawan jenismu. Jika kau seorang laki-laki, maka jagalah batas pergaulanmu dengan kaum perempuan, demikian sebaliknya.

Ketahuilah …,

Pergaulan yang tidak memiliki batasan merupakan kehidupan binatang, hidup yang didominasi hawa nafsu, sesuatu berdasarkan kelezatan semata. Apakah kau rela kedudukanmu yang mulia terlahir sebagai manusia tapi derajatmu jatuh seperti binatang dikarenakan kau menyepelekan aturan menjaga batas pergaulan ?

Kaum laki-laki itu jelas, dan kaum perempuanpun jelas. Masing-masing terlahir dengan fitrahnya. Maka jika kau terlahir sebagai laki-laki, maka jadilah laki-laki. Bergaullah dengan laki-laki, agar jiwa laki-lakimu tumbuh sesuai fitrahmu. Demikian sebaliknya, jika kau perempuan, maka tumbuhkanlah fitrahmu menjadi perempuan, bergaullah dengan kaummu, agar engkaupun menjadi perempuan yang sesungguhnya.

Kaum lelaki menyukai perempuan itu fitrah, demikian sebaliknya, kaum perempuan menyukai laki-lakipun fitrah, dan demikian seharusnya. Maka Islam mengatur hubungan laki-laki dan perempuan dalam ikatan suci, yakni pernikahan. Jika kau telah sanggup untuk menikah maka menikahlah, jika belum sanggup namun keinginanmu  kuat, maka bersabarlah.
Jangan kau mulai melangkah kejenjang mendekati cara-cara pernikahan sementara kau belum sanggup. Jangan kau pernah berangan-angan hidup dengan cara pernikahan jika kau tidak yakin akan mampu menunaikannya. Apalagi kau melakukan hidup dengan cara pernikahan, sementara kau belum melakukan pernikahan.

Mencari alasan untuk mengenal pasangan hidup, lalu kau mulai mengenal lawan jenismu tanpa melalui jalur proses pernikahan hanya akan mengantarkanmu pada kebinasaan. Yang dimaksud proses pernikahan adalah ta’arufan, ta’arufan yang benar-benar kau telah memiliki nawaitu untuk menikah. Jika belum untuk pernikahan, apapun alasanmu, ketahuilah …itu bathil.


Jika kau mengatakan, kita harus mengenal calon pasangan kita, bagaimana kita bisa hidup dalam satu pasangan jika tidak mengenal pasangan ? Jawabannya benar, namun mengenal bukan berarti kau menjalin hubungan illegal dengan lawan jenismu, kau harus melalui orang ketiga, orang ketiga yang amanah. Cukup kau mengenal calon pasanganmu melalui orang ketiga yang amanah. Jika tidak demikian, itu bathil, apapun alasanmu.

Wasiat Untuk Remaja Islam (8) : Jadilah Shahabat Yang Baik

Jika engkau dituntut untuk mencari shahabat yang dapat menyelamatkanmu, kau juga harus mampu membawa keselamatan bagi shahabatmu, tidak layak jika kau mencari shahabat yang baik, sementara dirimu sendiri tidak menjadi shahabat yang baik bagi orang lain.

Bergaullah sesama manusia dengan akhlak yang baik (H.R. Turmidzi), demikian petuah Rasulullah saw. Berlaku baiklah pada shahabatmu, jangan kau pernah membuat ia tersakiti sekecil apapun, jangan pernah kau membiarkan ia teraniaya dan terzhalimi, walau kau hanya mampu membantu dalam untaian do’a. Jika ia membutuhkan bantuanmu dari segi harta, maka bantulah sebisamu, jika ia sakit jenguklah, jika ia kesulitan maka permudahlah urusannya. Kewajibanmu pada shahabatmu hendaknya seperti kau mencintai dan kewajibamu bagi dirimu sendiri.

Yang dimaksud shahabatmu disinilah tentulah yang seakidah denganmu, orang yang beriman, maka perlakukanlah ia sebagaimana Rasulullah saw. telah mencontohkan bagaimana memperlakukan shahabat beliau. Sebagaiman para shahabat Rasulullah saw. bersikap dalam bershahabat diantara mereka. Tidak saling mencaci, tidak saling menyalahkan dan tidak saling menjatuhkan. Tapi saling mencintai karena Allah swt., saling mengingatkan kala salah, dan saling memperkokoh keimanan.

Jangan kau selalu ingin menjadi yang lebih unggul dibanding shahabatmu hingga kau berupaya menjatuhkannya, berupayalah untuk ber-fastabiqul khairat dalam menuju puncak ketaqwaan. Jika kau berupaya menjadi orang bertaqwa, maka berupayalah membantu shahabatmu agar iapun  menjadi taqwa.

Kala kau mendapatkan kenikmatan hidup, dalam bentuk apapun, berupayalah agar shahabatmu juga mendapatkan kenikmatan yang engkau dapatkan. Paling kurang kau berbagi dengannya dengan kenikmatan yang ada padamu. Satu kenikmatan terbagi lebih baik dari pada kenikmatan yang hanya dimiliki secara penuh tapi dibawah kenikmatan itu shahabatmu menderita.

Terhadap seseorang yang tidak menjadi shahabatmu, karena kejelekan akhlaknya, hingga engkau tidak memilihnya, tetaplah berlaku baik padanya, jangan kau membenci dan memusuhinya. Memang kita harus untuk memilih siapa yang hendak menjadi shahabat, tapi itu bukan berarti kita harus membeda-bedakan antara satu orang dengan lainnya. Ini dalam artian jangan kau jauhi orang yang tidak menjadi shahabatmu karena memang ia tidak layak menjadi shahabatmu, tapi jangan pula kau jadikan shahabat, jadikanlah ia objek yang hendak kau bawa pada jalan yang benar hingga kau kelak berharap dapat merangkulnya menjadi shahabatmu.

Tapi jalan ini berbahaya dan penuh rintangan, kau harus berhati-hati. Sebab, bisa jadi nawaitumu baik, hendak merangkulnya ke jalan yang kamu kehendaki, namun karena kecerobohan malah kau yang terseret dan dirangkulnya. Untuk itu hati-hati, kau harus tahu rambu-rambu yang harus ditempuh dalam pershahabatan, dan rambu-rambu memperlakukan seseorang yang telah jadi shahabat serta rambu-rambu seseorang yang hendak dijadikan shahabat.

Rambu itu jelas, nyata dan telah digariskan. Cukup kau jadikan pemahaman pershahabatan yang telah -perkehidupan Rasulullah saw., dalami Sirah Nabawiyah. Pahamilah kehidupan para shahabat dalam menunaikan hak pershahabatan, bacalah kitab-kitab ulama yang menjelaskan panjang lebar dalam hal ini.

Jangan kau berpegang pada prinsip pershahabatan yang tidak memiliki landasan yang jelas, atau kau berpedoman pada prinsip pershahabatan yang diajarkan dalam dongeng –dongeng penuh mitos, apalagi hanya merujuk pada perilaku yang umum dilakukan manusia. Sebab semua itu tidak menjadi jaminan akan hakikat pershahabatan yang sesungguhnya.

Ketahuilah …, kau punya contoh, kau punya keteladanan, kau punya warisan mutiara yang berharga dalam meniti pershahabatan, cukup kau berpegang padanya. Itulah keteladanan Rasulullah saw., para shahabat beliau, hingga catatan pena dan tintanya ulama.


Disana kau akan temukan, bagaimana cara memperlakukan seorang yang beriman dalam pershabatan. Disana kau akan terkagum-kagum bagaimana hebatnya keutamaan memperlakukan orang beriman dalam pershahabatan.


Wasiat Untuk Remaja Islam (7) : Pilihlah Siapa Yang Akan Menjadi Shahabatmu

Ketahuilah …seseorang sangat dipengaruhi dengan siapa ia bershahabat, shahabat itulah yang akan mewarnainya. Suatu keharusan bagi engkau untuk memilah dan memilih siapa yang layak engkau jadikan shahabat.

Jangan kau terpedaya dengan ucapan-ucapan atau anggapan-anggapan dengan selubung yang menyatakan bahwa dalam hidup ini tidak boleh pilih kasih terhadap manusia, lantas diharuskan bershahahat dengan siapa saja. 

Ooo …tidak, kau harus memilih siapa yang akan menjadi shahabatmu. Kau harus menentukan siapa shahabat yang layak membawamu pada kebaikan, dan itu hanya diperoleh dengan pilihan.

Bershahabatlah dengan orang-orang shaleh, ahli ibadah, dan para penegak amar ma’ruf nahi mungkar. Dengan keshalehannya akan membawa dirimu menjadi orang shaleh, dengan ibadahnya akan menimbulkan kegemaran pada dirimu untuk bersemangat menunaikan ibadah, dan dengan kekuatan azzamnya dan ketangguhan dalam beramar am’ruf nahi mungkar menjadi keteladanan bagimu bahwa perjuangan menegakkan Izzah Islam wal Muslimin suatu keharusan.

Cukup kau jadikan pelajaran, kala kau menyaksikan betapa seseorang semenjak kecilnya kala dibina dan ditempa dengan cara yang baik oleh orang tuanya, namun kala ia menemukan shahabat yang jahat, iapun berubah menjadi jahat. Dan bisa pula kau jadikan i’tibar (pelajaran), kala kau menyaksikan orang yang tidak tampak tanda-tanda kebaikan  dalam perilakunya, namun kala ia bersentuhan dengan orang baik ia berubah menjadi baik.

Shahabat yang baik bukanlah shahabat yang selalu memujimu, atau yang selalu memberi sesuatu padamu. Bukan pula shahabat yang baik adalah shahabat yang selalu membelamu dalam keadaan apapun walaupun kau melakukan kesalahan, namun ia selalu memberi pembenaran akan tindakanmu, dengan alasan karena ia menjaga pershahabatan. Sungguh shahabat yang demikian adalah shahabat yang celaka, hindarilah bershahabat dengan golongan ini.

Ketahuilah …, shahabat yang baik adalah shahabat yang menegurmu kala kau salah, dan ia menjelaskan kesalahan itu padamu walau kau akan marah dengannya. Shahabat yang baik adalah shahabat yang menjaga aibmu dan termasuk keluargamu serta kerabatmu. Shahabat yang baik adalah shahabat yang tidak merasa apa yang dimilikinya itu adalah milik pribadinya, tapi ia berupaya membagi denganmu. Shahabat yang baik tidak bermanis-manisan padamu, caranya bergaul tidak berlebihan dengan dirimu, tapi ia menunjukkan kecintaan padamu. Ia selalu menjaga harga dirimu, ia marah kalau kau dicela, dan iapun marah padamu kala mendapati kau suka mencela saudara se-iman. Itulah golongan orang-orang shaleh, ahli ibadah dan penyeru pada kebaikan.

Maka bergaullah dengan mereka, contohlah apa yang mereka lakukan, ikuti apa yang mereka lakukan, niscaya kau akan merasakan makna bahwa seseorang itu akan dipengaruhi dengan siapa ia bershahabat.


Jika kau tidak menemukan seseorang yang layak dijadikan shahabat, menyendiri bagimu lebih baik dari pada bergaul dengan pelaku keburukan. Kau dicela lebih baik dari pada kau diseret pada kehinaan, kau disingkirkan dalam pergaulan dunia lebih baik dari pada kelak di akhirat kau disingkirkan dari golongan barisan panjang orang-orang shaleh. 
Camkanlah hal ini !

Senin, 18 November 2013

Wasiat Untuk Remaja Islam (6) : Kepada Orang Tuamu Berbaktilah

Ketahuilah …orang tuamu adalah sosok yang paling berjasa dalam hidupmu. Sosok yang paling dekat dan paling banyak tahu tentang dirimu.  Sosok yang tak kau temui cinta yang melebihi dari mereka. Sosok yang rela bersusah payah, banting tulang, hingga hancur luluh diri mereka ditelan beratnya badai kehidupan untuk menghidupimu. Namun mereka tetap tegar dan selalu berupaya untuk tangguh.

Kehadiranmu dalam kehidupan mereka suatu anugrah yang menjadikan mereka merasa hidup ini bermakna. Kecintaan mereka padamu dengan apapun takkan sanggup kau membalasnya. Walau sepanjang umurmu kau gunakan untuk berupaya membalas jasanya katamu, takkan terbalas seperempatpun dari muatan cinta mereka untukmu.

Siapa yang mengandungmu dalam keadaan susah yang bertambah-tambah selama sembilan bulan ? Siapa yang merawatmu semenjak kecil, dari tidak tahu apa-apa hingga kau seperti ini adanya ? Siapa yang mendekapmu kala malam menjelang seiring dinginnya semilir angin malam yang mulai menghembus menusuk pada tulang-tulang ? Siapa yang merasakan kesedihan dan kepiluan hati kala menyaksikan dirimu ditimpa sesuatu yang membuatmu berat ? Itulah ibumu yang selalu merawatmu sejak kecil mulai dari kandungan hingga kau seperti ini. Dialah ayahmu yang tak kenal lelah mencari nafkah walau terkadang harus berurusan dengan hal-hal tersulit yang jika dihadapkan padamu kau tidak akan sanggup.

Berbaktilah pada orang tuamu, posisikanlah kecintaanmu kepada mereka dibawah kecintaanmu kepada Allah swt. rasul-Nya dan berjihad dijalan-Nya. Tinggikanlah ia dalam hatimu di atas insan-insan umumnya di permukaan bumi ini. Selama mereka mengajakmu pada keta’atan, maka kedurhakaan besar bagimu jika kau melanggar perintah mereka. Jangan kau menzhalimi mereka, mengucapkan  kata-kata yang dapat menyinggung mereka saja akan berdampak besar bagi kehidupanmu, dampak yang akan membinasakanmu.

Berharaplah akan ridha orang tuamu, karena  Ridha Allah swt. terletak pada ridha orang tuamu, dan kemurkaan Allah swt. terletak pada kemurkaan orang tuamu (H.R. Tirmidzi dan Hakim).

Jadilah anak shaleh yang selalu mendo’akan mereka, baik kala mereka masih hidup maupun telah meninggal. Kewajibanmu tidak terbatas ruang dan waktu. Hanya tercerabutnya nyawa dari badanmulah yang menjadi batas untuk berbakti kepada orang tuamu. Selama hembusan nafasmu masih ada, kau wajib berbakti pada mereka. Asuh dan berlaku baiklah dihari tua mereka, berdo’alah untuk mereka disetiap untaian do’a-do’amu yang panjang.

Ketahuilah …orang tuamu, semakin bertambah usianya, semakin sensitif jiwanya, kelak kau akan temui hal-hal yang membuat kau tidak menyenangi akan apa yang mereka lakukan, mereka akan kembali pada jiwa kekanak-kanakan, ingatan merekapun tak sempurna, kondisi mereka payah, saat itulah kau akan diuji, apakah kau mampu berbuat kebajikan pada mereka dalam kondisi sulit itu sebagai bukti baktimu pada mereka.

Kala mereka wafat, keharusan bagimu untuk mengurus jenazah mereka, jangan kau serahkan pada orang lain, kecuali jika peran orang lain hanya sebagai pembantumu sebagai manifestasi fardhu kifayah. Jika kau serahkan segala urusan jenzah orang tuamu pada orang lain, sungguh kau anak yang tidak berguna. Apakah kau lupa setiap hari kau dimandikan kala kau kecil, namun  hanya untuk memandikan jenazahnya yang satu kali itu kau menyatakan tidak mampu, sungguh suatu kebodohan jika hal ini menimpamu. Apalagi jika kau tidak mampu menyalatkan jenazah mereka. Apakah kau berharap do’a orang lain untuk orang tuamu. Sementara do’a yang tidak terhijab itu adalah do’a dari anak yang shaleh. Maka kau harus shaleh, kau harus menjadin anak yang mampu mendo’akan kedua orang tuamu, dan kau harus berupaya agar do’amu diijabah oleh Allah swt.

Namun, jika mereka mengajakmu pada kemaksiatan, maka tiada kewajiban bagimu untuk mengikuti dan patuh pada mereka. Tapi hendaklah kau menyadarkan mereka. Dan jika mereka tetap pada pendirian mereka. Kau harus tetap berlaku baik pada mereka. Berlaku baik dalam artian bukan  berarti kau harus patuh pada kemaksiatan mereka.      

Wasiat Untuk Remaja Islam (5) : Menuntut Ilmu Suatu Kewajiban Bagimu

Ketahuilah … takkan kau retas hidup dengan kemuliaan jika kau bodoh, takkan kau dapat keutamaan jika kau golongan orang yang pandir, sesungguhnya Allah swt., telah menjanjikan dalam surat al-Mujadilah ayat 11 bahwa akan ditinggikan  derajat orang yang beriman dan berilmu beberapa derajat. Rasulullah saw., begitu banyak menjelaskan tentang keutamaan berilmu. Dan para shahabatpun telah mencontohkan dalam kepribadian mereka tentang urgensi ilmu.

Para cendekiawan muslimpun telah menunjukkan bahwa dengan ilmulah Islam itu maju, dan dengan ilmu pulalah umat Islam itu mampu berinteraksi dengan alam dan menguasai peradaban.

Apakah tidak cukup bagimu sebagai contoh bagaimana kala umat Islam menguasai ilmu, Islam menjadi pusat peradaban dunia ? Andalusia yang tandus dan  gersang, kala tumbuh dan  besar dalam kekuasaan Islam yang diisi oleh orang-orang berilmu, mampu membawa perubahan besar bagi kemajuan Eropa. Bahkan kalangan yang tidak seakidahpun rela menuntut ilmu dalam lingkaran keilmuan umat Islam. Betapa banyak riwayat yang menyatakan hal ini. Cukup kau menyimak lembaran-lembaran sejarah tentang hal ini.

Untuk itu berilmulah, carilah ilmu itu dimana saja kau berada, tinggalkan kampung halamanmu untuk menuntut ilmu, kelak sebarkan ilmu kembali dikampung yang pernah kau tinggalkan. Jangan biarkan umat buta dengan ilmu, maka dengan keharusanmu menuntut ilmu dengan harapan kau juga mampu membawa ilmu itu kepada saudaramu se-iman yang bisa jadi tidak memiliki kesempatan yang engkau miliki.

Ketahuilah … amal ibadah yang kau tunaikan, rukuk dan sujud disetiap shalatmu, bacaan al-Qur’anmu yang mendayu-dayu, jika tidak dilandasi ilmu, percuma dan hanya menggiringmu pada kepayahan, tapi tidak bernilai apa-apa disisi Allah swt.
Menjadi pelaku taqlid (pengikut) buta adalah kebodohan diatas kebodohan. Kelak di Yaumul Hisab, kala amalmu dipertanyakan, dan kau merasa kau ahli ibadah, ternyata kosong melompong disebabkan taqlid  butamu. Sungguh merugi dan menyesal.

Yang harus kau berhati-hati, ilmu itu dilingkari ketertipuan yang begitu banyak, kau harus mampu memilah dan memilih ilmu mana yang layak untuk kau kuasai. Jangan sampai kau menghabiskan umur dalam menuntut ilmu, tapi yang kau dapat tidak lebih dari pada meninggikan derajatmu di dunia, namun tidak menyelamatkanmu di akhirat. Untuk itu kaupun harus mengetahui rambu-rambu dalam menuntut ilmu. Awasi ketertipuan dalam menuntutnya.

Sesungguhnya ilmu yang menyelamatkanmu adalah ilmu ma’rifatullah (mengenal Allah swt.), ilmu yang akan membersihkan jiwamu, serta ilmu yang dapat mengantarkanmu pada pengabdian yang tulus kepada Allah swt. yang telah menciptakanmu. Maka utamakanlah mengejar ilmu tersebut. Ia tertuang dalam al-Qur’an dan Sunnah. Keilmuan lain yang dapat menjadi penyokong hal tersebut juga tidak boleh kau abaikan, sebab segala sesuatu itu saling bantu membantu untuk sampai pada tujuan.

Sedangkan keilmuan keduniaan semata, hendaklah kau posisikan secara bijak, jangan sampai ia melalaikanmu untuk pencarian ilmu yang lebih utama. Jadikanlah ia pembantu dan pasukanmu untuk mewujudkan keilmuan yang lebih utama kau pelajari.

Sadarilah …menjadi orang berilmu bukanlah perkara yang selesai dengan gelar di depan atau belakang nama, atau perkara yang hanya dituntaskan dengan ijazah atau simbol lembaga kependidikan. Menjadi orang berilmu adalah manifestasi akan pemahaman terhadap ajaran agama yang kau anut, Dinul Islam. Ia mengejewantah dalam kehidupanmu, ia membawa kebaikan bagi dirimu, dan menebar pada orang-orang disekitarmu.

Kelilmuanmu menjadi suluh penerang bagi dirimu dalam melangkah dan bertindak, ia menjadi penunjuk jalan menuju puncak hidayah. Ia menjadi penyemangat akan kegemaranmu dalam menunaikan amal shaleh. Dan ia pun menjadi kebutuhan akan penyelesaian konflik baik lahir atau batin seluruh manusia. Maka ia menjadi solusi akan problematika pernik-pernik kehidupan, baik di dunia maupun di akhirat. Berperanlah engkau dalam hal ini, hendaklah engkau menjadi sosok yang belajar akan ilmu dan mengajarkannya pada manusia.

Ketahuilah …ilmu itu datang dari Allah swt. dan ia milik Allah swt. tidak akan peroleh jika kau tidak menunaikan adab-adabnya. Dan kaupu n harus mengetahui ilmu itu tidak akan menyusup ke dalam hatimu kecuali ada proses yang mengantarkannya. Ia tidak datang dengan sendirinya, ia melalui proses yang panjang, dan panjangnya itu sepanjang usiamu yang ada. Dalam proses itulah dibutuhkan adab, aturan dan akhlak.

Hal yang substansial yang tidak boleh terabaikan, berilmu haruslah berguru, belajar dari seseorang yang dianggap ‘alim (berilmu) dibandingkan dirimu. Disini manifestasi adab itu akan tampak. Kau harus menjaga adabmu terhadap yang mengajarkanmu ilmu, sosok guru yang kau harap darinya memancar cahaya muatan kedahsyatan ilmu tersebut.
Gamblang Rasulullah saw,. mengajarkan tentang adab menuntut ilmu, dan shahabatpun  telah mencontohkan bagaimana adab-adab mereka dalam memahami proses menuntut ilmu. Terutama sekali adab dalam berhadapan dengan orang ‘alim.

Posisikan dirimu sebagai murid, orang yang berkehendak untuk mendapatkan muatan ilmu. Jangan posisikan dirimu sebagai raja yang merasa lebih berkuasa dan behak mengatur segalanya dengan titahnya. Kala kau memposisikan dirimu sebagai murid, saat itu engkau menunjukkan suatu kebutuhan yang mendesak, sementara kebutuhan engkau itu berada pada seseorang, bagaimana sikapmu ? Tentu saja engkau akan melakukan hal-hal yang dapat menarik simpati orang itu dengan cara merendahkan hati agar kebutuhanmu terpenuhi.
Maka jadilah orang yang tawadhu’ dalam menyerap ilmu, dengan hati penuh ketundukan dilingkari perasaan akan kebutuhanmu pada ilmu itu ibarat kebutuhan akan air ditengah padang pasir yang kering kerontang, dalam keadaan tenggorokan sangat kering.


Jagalah adab-adabmu terhadap guru yang mengajarkanmu ilmu. Ini bukan bermakna perendahan harga diri, tapi wujud dari kesungguhan dan penyadaran diri bahwa kau bukan siapa-siapa, kau hanyalah orang lemah dan bodoh yang memang membutuhkan petunjuk untuk sampai pada ketinggian kemuliaan hidup. Kenyataan itu harus kau sadari karena memang demikian kenyataan dirimu.